- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#21
Quote:
Catatan : Di part ini gw mencoba bereksperimen. Jadi gak terus-terusan tentang para survivor (Sama kayak beberapa part sebelumnya). Tapi tetep nyambung kok sama chapter selanjutnya. Kalo dirasa agak bullshit, yah, namanya juga fiksi.

Chapter 12 : Mindless Over Matter
Spoiler for :
William Haskner tidak pernah menyangka bahwa masa jabatannya akan berakhir seperti ini.
Sebagai seorang gubernur di negara bagian Nebraska, ia dikenal sebagai sosok yang selalu menepati janji, apapun resikonya. Saat anggaran untuk memperbanyak pasukan kepolisian akan gagal karena kurangnya dana, maka Haskner berkerja tiada henti selama tiga hari berturut-turut untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan. Ketika sebuah sekolah akan ditutup karena kurangnya dana operasional, maka ia menyumbangkan setengah dari total penghasilannya, agar sekolah itu tetap dapat dibuka. Dan ketika rumor tentang hubungan gelapnya dengan sekertaris akan muncul ke permukaan, maka ia akan membuat pengakuan dan menyangkalnya, agar namanya tetap bersih, sebelum awak media mempublikasikannya lebih dulu, dan mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari para pendukungnya.
Setelah selama tiga belas tahun ia berjuang sebagai seorang gubernur, ia merasa putus asa, dan merasa bahwa semua yang telah ia miliki adalah kesia-siaan belaka, saat melihat daerah yang dulu menjadi wilayah kekuasaannya, harus hancur berantakan karena wabah mematikan ini.
Dari dalam bangunan beton yang dinamakan Safe Haven, Haskner dan beberapa kawan politiknya memandangi zombie yang berkerumun di sebuah hutan yang dulu lebat dan rimbun pepohonan, namun kini telah rusak setelah dilalap api. Ketika keadaan menjadi jelas bahwa polisi, prajurit keamanan nasional, dan bahkan pasukan tentara tidak dapat menghentikan serangan dari para Undead ini, para politikus di terbangkan keluar dari wilayah yang mereka tinggali. Menjalankan kembali pemerintahan adalah tujuan utama pemerintah U.S, yang kini dikenal sebagai tanah pemakaman, jika suatu saat keadaan sudah mulai membaik.
Sebuah benteng telah di desain untuk dapat menciptakan komunitas yang mandiri. Dengan sebuah barak besar yang dapat menampung kurang lebih lima ratus pasukan, dan terdapat pula ruangan tempat latihan agar para prajurit dapat mempertajam keahlian mereka. Pada akhirnya, semua itu diciptakan untuk melindungi pimpinan mereka. Pusat komunikasi membolehkan staf untuk dapat saling berhubungan antar kota dan desa, namun untuk saat ini, hanya saluran analog statis yang masih dapat bekerja dengan baik.
Warga sipil dilayani di dalam sebuah area yang sangat luas, yang membuat pelayanan di kapal pesiar terlihat menyedihkan. Safe Haven memang dirancang agar dapat menampung seluruh anggota keluarga jika dibutuhkan, dan didalamnya terdapat sekolah. Juga ada berbagai macam kegiatan lain didalamnya, seperti kelas membuat barang tembikar, kelas menulis, kelas membaca puisi, dan lain sebagainya. Walaupun sebenarnya kegiatan seperti itu amat sia-sia saat dimana dunia sedang dikuasai oleh makhluk zombie.
Sebenarnya, Safe Haven adalah tempat persinggahan sementara. Tujuan akhir mereka yaitu menampung dan menyelamatkan semua anggota pemerintahan, lalu menempatkan mereka di dalam sebuah ruangan rahasia yang terdapat di pegunungan rocky. Tempat itu dijaga ketat oleh pasukan tentara dari serangan zombie, membuatnya sebagai tempat teraman untuk saat ini. Haskner dan anggota dewan yang lain menunggu datangnya helikopter yang akan menjemput mereka semua, menuju ruangan besar di dalam pegunungan yang dinamakan New Washington.
Sayangnya, Helikopter yang ditunggu tidak pernah datang.
Pada beberapa hari awal, semua mata menatap ke langit, meyakinkan diri mereka bahwa helikopter akan datang menjemput sewaktu-waktu. Semua orang merasa tenang dan tidak panik. Membayangkan mereka akan menjalani pemerintahan yang benar-benar baru di New Washington.
Satu bulan kemudian, semua mata menatap ke bawah. Menatap lantai batu tempat persembunyian mereka saat ini. Tempat yang mereka anggap rumah. Atau lebih buruk, tempat kematian mereka.
Melarikan diri melalui jalan darat sepertinya mustahil, meskipun terdapat beberapa kendaraan di dalam garasi. Hanya Tuhan yang tahu alasannya mengapa mereka, pasukan mayat hidup, berkerumun di sekitar Safe Haven. Membuat bangunan itu lebih mirip seperti penjara.
Tapi penjara itu merupakan bangunan yang terlindungi dengan baik. Dinding batu dengan lilitan kawat berduri di atasnya, cukup untuk menahan zombie agar tetap berada diluar, tak peduli seberapa kuat mereka memukul-mukul temboknya. Sebuah senjata turret kecil digunakan untuk melindungi bangunan, dengan menggunakan zombie sebagai sasaran tembak untuk latihan. Beberapa mayat yang tergeletak di sekitar bangunan, membuat latihan 'sasaran tembak' menjadi cukup berhasil. Ranjau darat juga dipasang hampir di semua penjuru dalam radius satu kilometer. Menjadikan hal yang cukup konyol jika kau mencoba untuk menyerang Safe Haven melalui jalur darat. Lubang-lubang besar di sekitar wilayah Nebraska menjadi buktinya.
Ya, penjara ini memang terlindungi dengan baik. Tapi penjara tetaplah penjara.
Terdengar suara ledakan dari kejauhan di dalam tembok beton. Sebuah kepulan asap tebal menjadi pertanda bahwa ada yang telah mengaktifkan ranjau daratnya. Haskner terlihat nyengir, lalu menulis sesuatu di atas tumpukan kertas. Salah satu cara orang-orang menghabiskan waktu di Safe Haven adalah dengan cara bertaruh, seberapa banyak zombie yang meledak dalam sehari. Uang bukanlah yang terpenting, namun hal itu cukup menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi menonton film secara berulang-ulang malah membuat orang-orang menjadi depresi, mengingat para pemain film mungkin sudah mati semuanya.
Letnan Jack Wilson menaiki tangga tak lama setelah gema ledakan terdengar di kejauhan. Ia berjalan menuju tempat haskner berada, lalu berkata, "Jadi, sudah sampai hitungan keberapa sekarang?"
"Dua puluh tiga." jawabnya singkat.
Wilson menjentikkan jarinya. "Ya ampun, aku kalah lagi. Aku bertaruh pada angka tujuh belas. Rasanya hutangku pada kapten makin banyak tiap harinya."
"Sepertinya jumlah mereka semakin bertambah saja beberapa hari ini." Ucap Haskner.
Wilson mengangkat bahu. Safe Haven akan cukup sulit untuk ditembus pasukan manusia. Namun melawan makhluk yang tidak memiliki akal, dan berjalan dengan lambat, serta terhuyung-huyung, membuatnya terlihat tampak tidak adil. "Biasanya tidak butuh waktu lama bagi makhluk itu untuk menyadari bahwa ada makanan di sekitar mereka. Sebuah hal yang penting. Saat mereka telah meledakkan semua ranjau darat, mereka akan segera mengepung tempat ini, dan kami akan menjadikan mereka latihan sasaran tembak."
Saat dua orang itu tengah berbicara, ada lebih banyak lagi zombie yang mendatangi benteng. Seperti yang senator telah katakan, ada lebih banyak zombie dari biasanya. Nyatanya Wilson juga mengetahui hal ini, namun ia memilih untuk tidak memperdulikannya.
Zombie-zombie itu berjalan mendekati benteng dengan menginjak ranjau darat yang telah ditanam, sehingga menghasilkan ledakan yang disusul dengan ledakan yang lainnya, dan setiap ledakan dapat dipastikan telah menghancurkan beberapa buah zombie. Kebanyakan dari makhluk-makhluk itu hancur berkeping-keping, seperti semangka yang dipukul di pantai saat musim panas. Sebagian ledakan hanya menghancurkan tangan atau kaki, dan makhluk itu tetap dapat terus merangkak mendekati benteng seolah tidak terjadi apa-apa. Haskner menyaksikan sendiri ketika ada sebuah zombie dengan kedua kakinya yang telah hancur, merangkak di atas tanah, meninggalkan jejak terseret berwarna merah dari ususnya yang terburai keluar. Organ dalamnya yang terjulur keluar menyangkut pada sebuah tulang mayat yang makhluk itu langkahi, lalu seperti orang bingung, menengok kesana-kemari, mengira-ngira apa yang tengah mengganggu perjalanannya.
Banyak ranjau yang ditanam secara asal-asalan saat para tentara membuat garis pertahanan, dan bagi manusia, sebuah undukan tanah akan dapat mudah terlihat. Tapi bagi makhluk Undead, bagaimanapun, detail semacam itu tidaklah ada, dan pada banyak kasus, ranjau darat itu tidak ditanam dalam tanah, melainkan hanya diletakkan begitu saja. Sebuah ironi, ranjau itu menghancurkan zombie, dan zombie menghancurkan manusia.
Wilson melihat sesuatu yang membuat darahnya mengalir dingin. Selama lebih dari beberapa minggu, ia telah menganggap zombie hanya sebuah bagian dari kehidupan, dan rasa takut pada mereka telah lenyap. Tapi teror itu telah kembali, lebih seram, lebih mengerikan, dan lebih berkembang.
Pada lapangan 'latihan sasaran tembak', sebuah zombie terdiam di depan ranjau, seolah-olah sedang mengamati benda asing yang ada di hadapannya. Seperti manusia purba yang baru pertama kali melihat api. Makhluk itu tampak mengamati sekitarnya, lalu melihat ke arah ledakan di kejauhan, dan melihat kembali pada ranjau darat di bawahnya.
Dengan diiringi suara raungan, makhluk itu, yang semasa hidupnya adalah seorang pegawai kantor pos bernama Chris Powell, berjalan mengitari ranjau darat di depannya, lalu menghindari ranjau lainnya, lagi, dan lagi.
Tenggorokan Wilson seketika mengering saat menyaksikan pemandangan yang dilihatnya. Ia melihat ke arah Haskner, gubernur itu juga sama pucatnya. Namun Haskner bukan melihat hal yang sama dengan apa yang Wilson lihat barusan.
Adalah sebuah mayat hidup dari Kathy Lutz, seorang pegawai cafetaria di sebuah sekolah dasar. Makhluk itu juga berjalan mengitari ranjau, bahkan terlihat sempat menghentikan zombie lain yang hendak menginjak ranjau darat di bawahnya.
"Ya Tuhan, bencana apalagi ini." Nafas Wilson tercekat, namun ia berhasil bersuara.
"Mereka... Mereka belum pernah melakukan hal ini sebelumnya... Benar kan?" Tanya Haskner. Berharap pada harapan bahwa hal itu bukanlah hal biasa yang dilakukan oleh mayat hidup.
Namun Wilson hanya menggeleng mendengar pertanyaan itu. "Tidak. Belum pernah aku melihat mereka melakukan tindakan sepintar itu. Belum pernah sama sekali."
Mereka berdua hanya bisa menatap tertegun saat lebih banyak lagi zombie yang berjalan mengitari ranjau darat. Sekelompok mayat hidup terlihat berjalan dan menginjak ranjau, yang membuat ledakan terjadi. Haskner dan Wilson menghembuskan nafas lega, melihat zombie-zombie itu bertindak sebagaimana mestinya.
Tapi harapan ini lenyap seketika, saat mengetahui tujuan dan strategi yang sedang dilakukan oleh makhluk yang dikenal tidak memiliki keduanya.
"Mereka membersihkan jalannya. MEREKA SEDANG MEMBERSIHKAN JALANNYA!!!" Sahut Wilson. Ia melihat makhluk itu membentuk sebuah barisan panjang, mengaktifkan setiap ranjau darat pada jalan selebar lima belas meter menuju Safe Haven. Jalur yang segera dilewati oleh ratusan zombie di belakangnya.
"Ap-apa... Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Haskner dengan gugup.
"Aku tidak mengundang mereka datang." Hanya itu jawaban Wilson saat ia berlari membunyikan alarm, membawa lebih banyak lagi pasukan datang berkumpul.
Banyak yang hanya melihat dengan ngeri saat zombie berjalan mengitari ranjau, saat yang lain sedang membuat jalan untuk makhluk-makhluk ini lewati. Beberapa orang tentara yang tak memiliki rasa takut mulai menembakkan senjatanya, menyadarkan anggota pasukan lainnya untuk segera melakukan hal yang sama.
Butiran peluru dengan cepat memenuhi udara, menembaki zombie yang tengah berusaha mendekati Safe Haven. Senjata artileri segera digunakan, dan membuat tanah di Nebraska seperti permukaan bulan. Haskner menyaksikan saat potongan tubuh zombie terlempar ke udara, lalu jatuh ke tanah seperti sedang terjadi badai hujan.
Salah seorang prajurit berhenti menembak saat ia melihat beberapa zombie berjalan mendekati tembok Safe Haven. Tas hitam besar menggantung di leher, dan zombie itu terlihat sedang melindungi tas itu dengan kedua tangannya. Sang prajurit lalu mendekati letnan Wilson, lalu menunjuk ke arah zombie yang saat ini telah berada dekat dengan tembok Safe Haven. Mata sang letnan seketika melebar saat mengetahui tanda ini sebagai sebuah taktik serangan kamikaze.
"TEMBAK MEREKA!!!" Teriak sang letnan. Tepat saat tembakan pertama dimulai, suara gemuruh pun terdengar, menghancurkan tembok dinding seluas lima belas meter beserta beberapa orang pasukan di baliknya.
Pandangan Haskner menjadi kabur karena efek ledakan, dan membuatnya terpental kebelakang sejauh lima meter, menghantamkannya ke lantai, dan mengosongkan paru-parunya. Untuk sesaat, hanya terdengar suara berdenging di telinganya, dan ia takut akan menjadi tuli. Sebuah cacat yang menyedihkan, karena suara menjadi satu-satunya tanda bahwa ada zombie di sekitarmu.
Haskner menyaksikan kejadian di depannya dengan gerakan lambat, sesuatu berjalan dengan langkah gontai, dengan mulut yang menganga, air liur bercampur darah terlihat menetes.
Dengan pandangan yang mengabur karena rasa sakit, Haskner menyadari ada sebuah kalung metal di leher salah satu mayat hidup, yang berkedip-kedip cahaya merah, seperti sebuah alat penerima sinyal. Sebagai seorang ahli listrik pada waktu muda dulu, ia dapat mengenali alat itu. Ia lalu menghitung luas jangkauannya, dan menebak apa maksud tujuan dipasangnya alat itu. Haskner pun tak sadarkan diri sebelum ia mendapatkan jawabannya, dan memberi kesempatan pada zombie itu untuk dapat memangsanya.
Ratusan mayat hidup membanjiri bangunan itu dengan cepat. Sisa tentara yang tidak mati terkena ledakan segera membentuk barisan pertahanan dengan gagah berani, namun akhirnya dapat ditembus juga, dan mereka pun akhirnya menjadi santapan para zombie. Jack Wilson, tergeletak di tanah dengan tubuh hancur akibat ledakan. Matanya yang melotot menatap ke surga, yang kini hanya dipercayai oleh sedikit orang, dan semua prajurit yang berada di bawah komandonya pun mati secara mengenaskan.
Teriakan kematian memenuhi udara, memanggil-manggil nama ibu atau istri mereka, atau memohon ampunan pada Tuhan, atau memohon pada kematian agar segera mencabut nyawa mereka, semuanya itu hanyalah agar mereka segera mati dan tidak lagi merasakan sakit.
Daging segar dikoyak dari tulang seperti di restoran barbeque. Usus yang terburai ditelan seperti pasta yang paling enak. Kulit di lepas dari tubuh seperti sedang mengupas buah anggur. Saat makanan sudah hampir habis, zombie-zombie itu segera berebut makanan, mencari sisa-sisa daging, kulit, atau bola mata yang terjatuh.
Diluar benteng, zombie-zombie dapat mencium adanya makanan, membuat suara geraman berubah menjadi raungan putus asa yang menggema, seakan-akan mereka meminta bagian dari apa yang kawan-kawan mereka makan.
Warga sipil yang berada di dalam tidak berpikir apapun saat mendengar suara alarm, yang memang sering dibunyikan untuk latihan evakuasi, dan tanda berkumpulnya pasukan keamanan. Anak-anak yang berada di kelas bagian dasar gedung menjadi sasaran yang pertama, dibantai saat mereka sedang sibuk menghapal tabel perkalian. Seorang anak dibelah menjadi dua oleh sepasang zombie. Hebatnya, sang anak masih dapat hidup beberapa saat kemudian, hingga akhirnya ia merasakan hati ditarik dari dalam tubuhnya, dan paru-parunya dibelah menjadi dua.
Pasukan keamanan menyelamatkan sebanyak mungkin yang mereka mampu, namun kepanikan adalah pembunuh alami dalam sebuah perintah evakuasi. Barisan warga sipil yang tenang, seketika berubah menjadi kumpulan orang-orang yang berteriak histeris, menerjang apapun dan siapapun yang berusaha menghalangi mereka melarikan diri.
Saat warga sipil berlarian menuju garasi dan gereja untuk mencari keselamatan, mereka tiba-tiba berhenti saat melihat ruangan yang penuh dengan mobil itu ternyata sudah dipenuhi oleh kerumunan zombie. Wajah-wajah pucat seketika terlihat manakala pintu menuju garasi telah hilang, hancur berkeping-keping bersamaan dengan ledakan yang juga menghancurkan dinding Safe Haven menjadi debu.
Kapten Mark Salenski, komandan pasukan di Safe Haven, mengunci dirinya sendiri di dalam kantornya, menugaskan beberapa orang tentara untuk berjaga di pintu masuk dan melindungi dirinya, yang sekarang sedang terkencing-kencing di celana. Dari bawah meja kerjanya, sang komandan dapat mendengar jeritan pengawalnya yang setia, yang mati saat mayat hidup menyerang mereka tanpa ampun, bagaikan tumpukan kartu yang tersapu angin tornado. Dengan suara retakan di pintu yang terbuat dari kayu oak tua, pintu kantor itu akhirnya roboh. Sang komandan pun berdiri untuk menemui musuh yang datang, namun bukan untuk bertarung. Kapten Mark Salenski malah menembak kepalanya sendiri, dan menghiasi ruangan kantornya dengan serpihan otak dan lumuran darah.
---
Sekitar ratusan meter dikejauhan, tiga orang sosok yang mengenakan jubah putih laboratorium, berdiri di atas sebuah bukit, sambil menyaksikan ledakan yang menghancurkan Safe Haven, membuat tembok dan benteng itu roboh. Meskipun seorang manusia, namun tiga orang itu tidak takut dengan adanya mayat hidup di dekat mereka. Tentu saja, karena berkat merekalah zombie dapat menang hari ini. Tiga orang itu saling bersalaman dan saling memberi selamat atas berhasilnya pekerjaan hari ini.
"Dr. Sachin, sepertinya eksperimen yang kita lakukan berjalan dengan sangat baik." Kata salah satu dari mereka, saat wanita itu mengambil foto seolah mereka sedang tamasya.
"Tentu saja, Dr. Yarin." Jawab Dr. Sachin, seorang pria berkacamata berusia lima puluh tahun. Ia hanya tertawa saat terdengar suara jeritan dari kejauhan. "Kita telah melampaui kemampuan kita sendiri. Benar begitu, Dr. Larson?"
Frank Larson menoleh dari balik catatan yang sedang ia tulis secara cepat. Sebuah bekas luka panjang dari sudut wajah menuju sudut wajah yang lain terlihat, ia pun mengenakan sebuah penutup mata seperti bajak laut, sebuah efek samping yang harus diterima dengan bekerja sebagai peneliti mayat hidup. Dengan bekas luka seperti itu, membuatnya terlihat mengerikan saat ia menyunggingkan senyum.
"Tepat sekali, kawanku. Kita telah berhasil melakukannya." Jawab Larson yang sambil menuliskan beberapa catatan lagi sebelum menutup bukunya. Ia lalu menyulut sebatang rokok. "Kurasa kita sudah siap untuk melakukan fase kedua. Tapi biarkan anak-anak makan terlebih dahulu, bagaimana? Mereka pantas untuk mendapatkannya."
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas