Kaskus

Story

aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
Langit dan Bulan
Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?


Langit dan Bulan

Daftar Isi


Quote:



Saran dan masukan sangat membantu dalam penggarapan. Kiranya berkenan untuk mengingatkan jika ada kekeliruan dalam menulis.

Sosial media
Instagram : aldisabihat
Twitter: aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 10-06-2019 09:11
farrazaididAvatar border
bang.armenAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
6.2K
37
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
aldiansyahdzsAvatar border
TS
aldiansyahdzs
#31
#19
Langit menunggu Zafira selesai mengikuti perkuliahan. Diliriknya jam tangan, lima belas menit lagi. Langit menggantungkan headset di lubang telinga, memutar lagu sambil menunggu Zafira tiba.

“Langitttttttttt” Zafira melepas headset dari kuping Langit.
“Eh zaf, sebentar ya sop buahnya ada di tas” Langit merogoh tas, memberikan sop buah.

Zafira duduk di sebelah Langit menyantap sop buah buatan Langit. Rasanya tetap sama seperti pertama kali Langit membuat untuknya.

“Enak aku suka.” Zafira memberi acungan dua jempol. Langit balas tersenyum.
“Nanti aku buat banyak ya biar di rumah bisa dimakan juga.”
“Langit, aku udah lumayan sembuh, katanya mau ajak aku jalan-jalan”

Langit mengecek jam, 14:30. Cukup untuk mengajak Zafira jalan-jalan.
“Bebas, terserah kamu kemana saja”
Langit mengangguk menandakan jika siap. Cuaca cerah, udara sejuk cocok sekali untuk berjalan-jalan santai mengitari kota Bandung. Dibawanya Zafira menuju suatu tempat. Langit tidak memberi tahu akan kemana. Zafira tidak bawel bertanya. Kalaupun diculik, tidak mengapa. Bersama-sama dengan orang yang membuatnya bahagia tidak akan membosankan.
Rentetan bangunan tinggi megah mulai menjauh berganti dengan barisan pohon pinus. Udara dingin mulai mengusap tubuh mereka. Mentari mulai tergelincir diarah barat. Sayup-sayup terdengar suara tonggeret. Langit masih memacu sepeda motor yang ia tunggangi.

“Langit kemana sih kita?” tanya Zafira.
“Sebentar lagi sampai” balas Langit.

Langit memarkirkan motor. Menyuruh Zafira turun. Dipintanya Zafira untuk memejamkan mata, ia menurutinya. Langit memegang tangan Zafira menuntun langkah menyusuri jalan setapak diantara ribuan pepopohonan.

“Sekarang duduk” Zafira mengikuti perintah Langit.
“Buka mata kamu.” Pinta Langit.

Dilihatnya lukisan alam yang belum pernah sekalipun dilihat. Jingga berpadu dengan samudra awan kelabu diatas biru angkasa. Tanpa ada penghalang, bias sinar kuning menyinari wajah Zafira. Sinar matahari perlahan hilang dilahap oleh petang yang akan berganti menjadi malam. Bersama hamparan gunung yang berdiri gagah mentari kembali keperaduannya. Hembusan angin kerap meniup poni Zafira. Zafira enggan beranjak hingga mentari benar-benar hilang ditelan petang di ufuk timur. Terkesan dengan apa yang telah ia saksikan.

“Langit, tadi itu senja yang sering orang katakan?” tanya Zafira
“Iya, tapi kali ini lebih”
“Kenapa?”
“Karena aku menyaksikannya denganmu”

Wajah Zafira memerah. Hatinya menghangat, seolah sedang dipeluk. Getaran cinta tumbuh di dadanya. Rona bahagia terpancar dari bola matanya. Langit, laki-laki yang biasa saja kini membuat cair hatinya yang sudah lama membeku.

Lampu kota menemani perjalanan mereka pulang. Cahaya bintang menjadi saksi kebersamaan mereka. Jalanan senggang. Langit mencuri pandang melalui spion. Memandang Zafira yang tidak henti tersenyum. Langit bersyukur telah mengembalikan kebahagiaan Zafira. Caranya yang sederhana mampu memikat hati Zafira. Mengisi hati yang sudah lama tanpa penghuni. Bibirnya ingin berkata namun masih tertahan di tenggorokan. Ia tidak ingin rasa dalam hatinya hanya terpendam begitu saja.

Zafira mencoba memberanikan diri diantara rasa takut jika setelah mengutarakan Langit tidak mau lagi kenal dengannya. Setelah menimang-nimang, lebih baik menyampaikan dari pada hanya memendamnya.

“Langit”
“Iya Zaf?”
“Aku”
“Kamu kenapa Zaf?”
“Terimakasih untuk segala hal yang kau beri untukku.”
“Terimakasih juga Zaf, senang rasanya membuatmu senyum kembali”

Kini bukan hanya hatinya saja yang hangat. Zafira melingkarkan tangan pada pinggang Langit, mendekap lelaki yang kini sudah mengisi hatinya. Mengusir dingin dari kedua raga anak manusia yang belajar mengenai arti perasaan.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.