- Beranda
- Stories from the Heart
Suara tak bersua [True Story Indigo Bontot]
...
TS
ributbinribet
Suara tak bersua [True Story Indigo Bontot]
![Suara tak bersua [True Story Indigo Bontot]](https://s.kaskus.id/images/2019/06/06/10354666_201906060853090075.jpg)
Quote:
Note : untuk part indigo ditunggu aja gan, karena ceritanya ane buat seyambung mungkin biar gk lompat lompat.
"Sedikit info, semua nama tokoh ane samarkan ya gan. Kemudian untuk TKP mungkin ada beberapa yang ane tulis tapi ada juga yang enggak. Jadi mohon maaf kalo ada kesamaan. Niat ane hanya ingin berbagi cerita tak ada maksud lain". Cekidot gan......
Spoiler for Intro Season 1:
Oh iya, karena ini thread pertama ane, ane terbuka kalau ada agan-agan yang mau kasih saran untuk penulisan yang baik dan benar...

INDEX Season 1
Spoiler for Season 1:
Diubah oleh ributbinribet 14-02-2020 13:57
sampeuk dan 30 lainnya memberi reputasi
31
14.4K
78
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ributbinribet
#17
Part 12 : Kisah hidup ibuku part 3
Sorry agan-agan baru sempet update. Karena baru mudik dari dua tempat, hari ini baru sampe rumah kontrakan. Oke langsung saja cerita lanjutan Nora....
Janur Untuk Nora
Setelah lepas dari ibu tiri dan pergi menyusul ibunya, kehidupan nora lebih baik. Meskipun sudah memiliki beberapa adik tiri, tak ada kesenjangan yang dirasakannya ketika bersama mereka. Kehidupannya juga mulai normal layaknya gadis yang beranjak dewasa. Bahkan setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, mulai ada beberapa pemuda yang tertarik kepadanya.
Dari beberapa pemuda tersebut, terdapat seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikan militer. Beberapa hari sekali dia menunggu di depan gank kampung ketika nora dalam perjalanan dari pulang tempatnya bekerja. Tujuannya hanya satu, untuk menyampaikan sepucuk surat berupa isi hati pemuda itu. Nora yang bertemu dengannya setiap sore selalu menerima surat tersebut. Tak jarang di dalam surat tersebut diselipkan beberapa lembaran rupiah. Bukannya nora meminta, tetapi setiap kali nora diajak pergi keluar nora selalu menolaknya. Saat itu keinginan nora hanya satu, yaitu bekerja semaksimal mungkin untuk membantu ibunya.
Karena sungkan diberi uang, nora sempat membalas suratnya dan mengembalikan uang tersebut. Tapi keinginan pemuda itu sudah bulat untuk membantu nora. Selain itu, meskipun nora selalu menolak ajakan pemuda tersebut itu untuk pergi bersama, nora memberi tanggapan positif dari isi surat yang ditulis oleh pemuda itu. Entah sejak kapan, mereka mulai saling menulis surat satu sama lain untuk bertanya dan memberi kabar masing-masing.
Sampai suatu saat.....
Kabar tentang adanya nora sudah beredar luas di kampung ibunya. Hingga suatu saat, terdapat seorang pemuda bernama Adi datang untuk berkunjung ke temannya yang merupakan tetannga nora. Saat itu Adi hanya bertujuan mengunjungi teman sebayanya di cempaka putih. Namun ketika akan pulang, dia berpapasan dengan nora.
Hanya dalam hitungan minggu, Adi datang ke rumah nora untuk bertemu dengan ayah (tiri) nora. Dengan perawakan gagah dan latar belakang sebagai pedagang di salah satu pasar besar di Jakarta, Adi langsung menanyakan (read:melamar) nora melalui ayahnya. Ayahnya nora yang terkesan dengan latar belakang Adi, sedikit memaksa nora untuk menerima lamarannya. Nora yang keinginannya berbakti kepada orang tua, akhirnya menerima lamaran tersebut. Dan beberapa bulan kemudian pernikahan dilaksanakan.
Namun setelah menikah, Adi suami nora memaksa untuk kembali ke kampung di salah satu kota yang terkenal sebagai "Kota Wali". Nora sebetulnya keberatan dengan keputusan ini, karena tak pernah ada diskusi sebelumnya. Apa lagi nora sebelumnya akan dibuatkan kios sendiri oleh enci sebagai toko jahit cabang yang baru. Tapi apalah daya, apa yang di luar belum tentu sama di dalam. Ada yang tampil gagah dan santun ketika melamar, ternyata memiliki sisi yang kasar dan pemaksa. Tak ada tawar-menawar untuk pulang ke kampung halaman Adi.
Kala itu nora mengiyakan keputusan untuk pindah, tapi dengan satu permintaan untuk berpamitan kepada enci. Enci merupakan bos pertama nora dan juga guru pertama nora yang mengajari berbagai hal tentang menjahit. Sebelumnya keahliannya hanya sekedar bisa menjahit bahan. Kini setelah hampir setahun bekerja dengan enci, nora bisa menjahit berbagai macam baju wanita sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa enci ingin membuka cabang baru untuk nora.
Sejak saat itu, nora tinggal di kampung suaminya. Namun nora juga membawa mesin jahit miliknya. Nora tetap menjahit, meskipun di rumah mertuanya.
Selesai...
Cerita di atas, merupakan cerita yang ibu ane sering ceritain ke ane gan. Seringnya ketika ibu ane lagi sebel sama ayah karena gk pernah dikasih uang bulanan. FYI gan.... dari zaman ibu ane masih gadis, umur sekitar 17 tahun sampe punya 2 cucu masih buka jahitan sendiri.
Pepatah di atas, merupakan salah satu pepatah dari jepang yang dikenal banyak orang. Dan ane mengalami sendiri hal ini dengan ayah ane sendiri.
Oh iya gan, diantara anak-anak yang lain, ibu memang sering curhat sama ane sama kak mila, kakak ketiga ane. Karena kondisi ekonomi di rumah yang mulai collapse saat ane SMP, kakak petama ane kuliah di Solo dan kakak kedua kerja di Jakarta.
Pernah suatu ketika, ibu cekcok sama ayah karena masalah ekonomi. Sampe suata saat ayah ane berkata
Indonesia : Semisal aku punya uang, aku mau nyekolahin kamu! Mau tak sekolahin di sekolah kepribadian. Dasar wanita seenaknya sendiri gk mau nurut sama suami.
Memang sebelumnya ada beberapa kasus dimana ibu punya keinginan yang ditentang oleh ayah. Yang pertama setahu ane adalah beli rumah sendiri. Sebelumnya setelah di kampung ayah, keluarga ane pindah ke kota tetangga "Kota Kretek". Di sini keluarga ane sebelumnya cuman kontrak rumah. Ibu ane minta pindah kesini karena ayah ane kerja di sini sebagai kondektur, jadi biar lebih gampang pulang.
Setelah ngontrak beberapa tahun, ibu ane ngotot pengen beli rumah sendiri. Dari mulai beli tanah dan batu bata, semuanya inisiatif ibu ane sendiri. Setelah rumah sendiri udah punya, hal yang sama kejadian lagi. Waktu itu ibu ane pernah berantem sama ayah gara-gara ibu ane beli (kredit) TV dan Kulkas sendiri. Yang ane maksud sendiri adalah duitnya dari hasil jahit ibu ane sendiri, tanpa minta sepeser pun sama ayah ane. Tapi anehnya, ayah ane justru marah-marah ketika pulang dan tahu terdapat barang-barang baru.
Kemudian masalah kuliah. Seperti yang ane tulis di part sebelumnya, ayah ane paling enggang masalah pendidikan buat anak-anaknya. Yang mengiyakan kakak pertama dan kedua ane kuliah adalah ibu. Menurut ane, gara-gara masalah itu, terlontar statment pedas itu. Selain itu ane juga pernah denger ancaman ibu ane untuk pergi dari rumah beberapa kali. Tapi bukannya ayah ane mereda, malah menantang ibu ane untuk pergi dari rumah.
Menurut ane, masa-masa ane SMP adalah masa paling berat buat ibu. Di mana dia harus kerja sendiri. Ditambah lagi saat itu masa kakak pertama ane kuliah pada semester-semester akhir. Maklum gan karena kuliah di Univ Swasta, banyak biayanya saat mau lulus seperti uang ujian, uang buat sidang, sampe uang buat wisuda. Kemudian pas ane kelas 2 Smp, kakak pertama ane baru lulus kuliah. Akan tetapi, kak mila, kakak ketiga ane baru lulus sma dan akan melanjutkan kuliah.
Ib : "Mbak, setelah lulus SMA kuliah ya?"
Ma : "Kerja aja bu, biar ibu gk berat-berat cari biaya kuliah."
Ib : "Tapi kan mas-mas mu pada kuliah mbak. Gk adil nanti kalo mbak mila gk kuliah. Mau ya kuliah?"
Ma : "Iya bu, manut ibu."
Ib : "Mau kuliah di mana? Di semarang?"
Ma : "Engga bu, di U*K aja di sini biar deket sama ibu."
Itulah sedikit percakapan yang sempet ane denger ketika ibu ane ngrayu kak mila buat kuliah. Di antara kami berempat, menurut ane cuman kak mila yang paling perhatian dan peka dengan kondisi ibu ane. Dia awalnya gk mau kuliah karena tau gimana kerasnya ibu ane buat cari biaya kuliah kakak pertama ane. Bahkan sejak SMA, kak mila selalu bantu ibu ane buat baju seperti pasang kancing dan jahit bahan sedikit-sedikit. Mungkin karena kak mila anak perempuan satu-satunya, jadi paling sensitif dengan kondisi di rumah. Kak mila juga milih universitas di kota ini karena masih terbilang baru. Meskipun swasta, yayasannya bukanlah yayasan besar seperti universitas kakak pertama ane. Jadi tujuan lain agar deket sama ibu ane adalah biar gk terlalu mahal biaya kuliahnnya.
Janur Untuk Nora
Setelah lepas dari ibu tiri dan pergi menyusul ibunya, kehidupan nora lebih baik. Meskipun sudah memiliki beberapa adik tiri, tak ada kesenjangan yang dirasakannya ketika bersama mereka. Kehidupannya juga mulai normal layaknya gadis yang beranjak dewasa. Bahkan setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, mulai ada beberapa pemuda yang tertarik kepadanya.
Dari beberapa pemuda tersebut, terdapat seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikan militer. Beberapa hari sekali dia menunggu di depan gank kampung ketika nora dalam perjalanan dari pulang tempatnya bekerja. Tujuannya hanya satu, untuk menyampaikan sepucuk surat berupa isi hati pemuda itu. Nora yang bertemu dengannya setiap sore selalu menerima surat tersebut. Tak jarang di dalam surat tersebut diselipkan beberapa lembaran rupiah. Bukannya nora meminta, tetapi setiap kali nora diajak pergi keluar nora selalu menolaknya. Saat itu keinginan nora hanya satu, yaitu bekerja semaksimal mungkin untuk membantu ibunya.
Karena sungkan diberi uang, nora sempat membalas suratnya dan mengembalikan uang tersebut. Tapi keinginan pemuda itu sudah bulat untuk membantu nora. Selain itu, meskipun nora selalu menolak ajakan pemuda tersebut itu untuk pergi bersama, nora memberi tanggapan positif dari isi surat yang ditulis oleh pemuda itu. Entah sejak kapan, mereka mulai saling menulis surat satu sama lain untuk bertanya dan memberi kabar masing-masing.
Sampai suatu saat.....
Kabar tentang adanya nora sudah beredar luas di kampung ibunya. Hingga suatu saat, terdapat seorang pemuda bernama Adi datang untuk berkunjung ke temannya yang merupakan tetannga nora. Saat itu Adi hanya bertujuan mengunjungi teman sebayanya di cempaka putih. Namun ketika akan pulang, dia berpapasan dengan nora.
Hanya dalam hitungan minggu, Adi datang ke rumah nora untuk bertemu dengan ayah (tiri) nora. Dengan perawakan gagah dan latar belakang sebagai pedagang di salah satu pasar besar di Jakarta, Adi langsung menanyakan (read:melamar) nora melalui ayahnya. Ayahnya nora yang terkesan dengan latar belakang Adi, sedikit memaksa nora untuk menerima lamarannya. Nora yang keinginannya berbakti kepada orang tua, akhirnya menerima lamaran tersebut. Dan beberapa bulan kemudian pernikahan dilaksanakan.
Namun setelah menikah, Adi suami nora memaksa untuk kembali ke kampung di salah satu kota yang terkenal sebagai "Kota Wali". Nora sebetulnya keberatan dengan keputusan ini, karena tak pernah ada diskusi sebelumnya. Apa lagi nora sebelumnya akan dibuatkan kios sendiri oleh enci sebagai toko jahit cabang yang baru. Tapi apalah daya, apa yang di luar belum tentu sama di dalam. Ada yang tampil gagah dan santun ketika melamar, ternyata memiliki sisi yang kasar dan pemaksa. Tak ada tawar-menawar untuk pulang ke kampung halaman Adi.
Kala itu nora mengiyakan keputusan untuk pindah, tapi dengan satu permintaan untuk berpamitan kepada enci. Enci merupakan bos pertama nora dan juga guru pertama nora yang mengajari berbagai hal tentang menjahit. Sebelumnya keahliannya hanya sekedar bisa menjahit bahan. Kini setelah hampir setahun bekerja dengan enci, nora bisa menjahit berbagai macam baju wanita sendiri. Inilah salah satu alasan mengapa enci ingin membuka cabang baru untuk nora.
Sejak saat itu, nora tinggal di kampung suaminya. Namun nora juga membawa mesin jahit miliknya. Nora tetap menjahit, meskipun di rumah mertuanya.
Selesai...
Cerita di atas, merupakan cerita yang ibu ane sering ceritain ke ane gan. Seringnya ketika ibu ane lagi sebel sama ayah karena gk pernah dikasih uang bulanan. FYI gan.... dari zaman ibu ane masih gadis, umur sekitar 17 tahun sampe punya 2 cucu masih buka jahitan sendiri.
Quote:
Pepatah di atas, merupakan salah satu pepatah dari jepang yang dikenal banyak orang. Dan ane mengalami sendiri hal ini dengan ayah ane sendiri.
Oh iya gan, diantara anak-anak yang lain, ibu memang sering curhat sama ane sama kak mila, kakak ketiga ane. Karena kondisi ekonomi di rumah yang mulai collapse saat ane SMP, kakak petama ane kuliah di Solo dan kakak kedua kerja di Jakarta.
Pernah suatu ketika, ibu cekcok sama ayah karena masalah ekonomi. Sampe suata saat ayah ane berkata
Quote:
Indonesia : Semisal aku punya uang, aku mau nyekolahin kamu! Mau tak sekolahin di sekolah kepribadian. Dasar wanita seenaknya sendiri gk mau nurut sama suami.
Memang sebelumnya ada beberapa kasus dimana ibu punya keinginan yang ditentang oleh ayah. Yang pertama setahu ane adalah beli rumah sendiri. Sebelumnya setelah di kampung ayah, keluarga ane pindah ke kota tetangga "Kota Kretek". Di sini keluarga ane sebelumnya cuman kontrak rumah. Ibu ane minta pindah kesini karena ayah ane kerja di sini sebagai kondektur, jadi biar lebih gampang pulang.
Setelah ngontrak beberapa tahun, ibu ane ngotot pengen beli rumah sendiri. Dari mulai beli tanah dan batu bata, semuanya inisiatif ibu ane sendiri. Setelah rumah sendiri udah punya, hal yang sama kejadian lagi. Waktu itu ibu ane pernah berantem sama ayah gara-gara ibu ane beli (kredit) TV dan Kulkas sendiri. Yang ane maksud sendiri adalah duitnya dari hasil jahit ibu ane sendiri, tanpa minta sepeser pun sama ayah ane. Tapi anehnya, ayah ane justru marah-marah ketika pulang dan tahu terdapat barang-barang baru.
Kemudian masalah kuliah. Seperti yang ane tulis di part sebelumnya, ayah ane paling enggang masalah pendidikan buat anak-anaknya. Yang mengiyakan kakak pertama dan kedua ane kuliah adalah ibu. Menurut ane, gara-gara masalah itu, terlontar statment pedas itu. Selain itu ane juga pernah denger ancaman ibu ane untuk pergi dari rumah beberapa kali. Tapi bukannya ayah ane mereda, malah menantang ibu ane untuk pergi dari rumah.
Menurut ane, masa-masa ane SMP adalah masa paling berat buat ibu. Di mana dia harus kerja sendiri. Ditambah lagi saat itu masa kakak pertama ane kuliah pada semester-semester akhir. Maklum gan karena kuliah di Univ Swasta, banyak biayanya saat mau lulus seperti uang ujian, uang buat sidang, sampe uang buat wisuda. Kemudian pas ane kelas 2 Smp, kakak pertama ane baru lulus kuliah. Akan tetapi, kak mila, kakak ketiga ane baru lulus sma dan akan melanjutkan kuliah.
Ib : "Mbak, setelah lulus SMA kuliah ya?"
Ma : "Kerja aja bu, biar ibu gk berat-berat cari biaya kuliah."
Ib : "Tapi kan mas-mas mu pada kuliah mbak. Gk adil nanti kalo mbak mila gk kuliah. Mau ya kuliah?"
Ma : "Iya bu, manut ibu."
Ib : "Mau kuliah di mana? Di semarang?"
Ma : "Engga bu, di U*K aja di sini biar deket sama ibu."
Itulah sedikit percakapan yang sempet ane denger ketika ibu ane ngrayu kak mila buat kuliah. Di antara kami berempat, menurut ane cuman kak mila yang paling perhatian dan peka dengan kondisi ibu ane. Dia awalnya gk mau kuliah karena tau gimana kerasnya ibu ane buat cari biaya kuliah kakak pertama ane. Bahkan sejak SMA, kak mila selalu bantu ibu ane buat baju seperti pasang kancing dan jahit bahan sedikit-sedikit. Mungkin karena kak mila anak perempuan satu-satunya, jadi paling sensitif dengan kondisi di rumah. Kak mila juga milih universitas di kota ini karena masih terbilang baru. Meskipun swasta, yayasannya bukanlah yayasan besar seperti universitas kakak pertama ane. Jadi tujuan lain agar deket sama ibu ane adalah biar gk terlalu mahal biaya kuliahnnya.
Diubah oleh ributbinribet 09-06-2019 18:53
sampeuk dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Setelah sekian lama jadi silent reader, ane mau berbagi cerita tentang pengalaman ane jadi anak terakhir. Crita ini ane tulis karena keresahan ane yang selalu dianggap sebagai anak yang selalu diistimewakan hanya karena ane anak terakhir. Ane mau berbagi juga cerita ane, karena ane banyak dapet motivasi dari beberapa cerita di sini.
Nantinya ane mau tulis semua penggalan pengalaman hidup ane yang masih inget. Salah satunya adalah rahasia kelam keluarga ane yang ternyata hanya ane yang gk tau. Baru setelah ane menikah, ane baru tahu bahwa ada yang salah dengan keluarga ane selama ini. Selamat membaca buat agan-agan, semoga cerita ini nantinya bisa bermanfaat.