- Beranda
- Stories from the Heart
Langit dan Bulan
...
TS
aldiansyahdzs
Langit dan Bulan
Bisakah kita satu hari bersama, tanpa tumpukan kertas yang memenuhi meja kita?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?
Bisakah kau rasakan jika perasaan ini bukan hanya sekedar rekan kerja?
Bisakah kau raih tanganku, berjalan beriringan dibawah sinar senja?
Wahai Langit, kau begitu luas. Adakah satu tempat disana untuk diriku bersinar di kala kau gelap?

Daftar Isi
Quote:
Saran dan masukan sangat membantu dalam penggarapan. Kiranya berkenan untuk mengingatkan jika ada kekeliruan dalam menulis.
Sosial media
Instagram : aldisabihat
Twitter: aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 10-06-2019 09:11
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
8
6.2K
37
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#30
#18
Himpunan mahasiswa jurusan teknik komputer sedang disibukan dengan persiapan inagurasi. Bulan sudah mendapatkan persetujuan dari proposal yang sempat tertinggal. Kini ia sedang fokus mendata peserta yang lolos seleksi audisi band untuk pengisi kegiatan inaugurasi. Selain mendata Bulan bertugas menjadi narahubung.
Ada salah satu personil band yang modus dengan kedok bertanya-tanya seputar acara nanti. Mulai dari acaranya dari jam berapa hingga ‘kamu pulang nanti sama siapa?’ Bulan sudah tahu maksud dari pertanyaan itu. Ia tidak membalas pertanyaan, hanya membacanya saja.
Bulan memberanikan diri bercerita kepada ibunya. Takut bila ibu marah karena hubungannya berakhir. Apalagi Rizky sudah melamarnya. Diluar dugaan ibu menjadi pendengar yang baik dari apa yang Bulan ceritakan.
“Sabar ya nak, mungkin memang bukan jodohnya” ucap Ibunda Bulan menasehatisetelah mendengar cerita bahwa hubungannya sudah kandas.
Bulan tersenyum
“Ibu tau jika kemarin-kemarin kamu lagi ada masalah, apalagi di jari kamu udah ngga ada cincin tunangan”
“Kamu seperti ibu memang, pandai menyembunyikan apa yang terjadi”
“Untung saja gagal menikah, bukan gagal berumah tangga” ucap Ibu memeluk Bulan yang menangis tersedu-sedu.
Persiapan inagurasi sudah matang. Esok acara akan dilaksanakan. Bersama kedua juniornya Bulan masuk ke aula memeriksa kembali dekorasi panggung yang sudah dikerjakan hingga larut malam. Sudah sesuai posisi. Setelah dirasa sudah bagus. Bulan lalu berisitirahat di atas panggung beralaskan spanduk bekas acara-acara seminar. Merebahkan punggung yang sudah pegal.
Tenggelam dalam kesibukan membuat lupa sejenak tentang Rizky. Dirinya mulai ikhlas menerima apa yang sudah terjadi. Rasa sesal perlahan pergi. Hatinya kini mulai menerima bahwa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sudah lelah terpenjara dengan hati yang terus berharap suasana kembali seperti dahulu. Kantuk sudah hinggap mengantarkan Bulan ke alam mimpi.
Bulan bangun jam lima pagi. Tertidur hanya empat jam. Matanya masih mengantuk, rambutnya berantakan. Setelah sebagian nyawanya terkumpul, ia bergegas menuju toilet untuk mandi serta menyiapkan diri untuk acara inagurasi.
Bulan menerima tanda pengenal, langsung dikalungkan ke leher. Bersama juniornya ia menata meja di pintu utama aula untuk penerimaan tiket. Bulan mengarahkan beberapa hal kepada juniornya mulai dari memeriksa keaslian tiket, memeriksa isi tas pengunjung yang datang, hingga berkordinasi dengan divisi keamanan. Setelah dirasa cukup. Bulan merogoh ponsel lalu mengirimi pesan pada narahubung setiap band agar datang tidak terlambat.
Segala persiapan sudah dirasa matang. Para panitia berkumpul membentuk lingkaran. Ketua pelaksana memberikan arahan agar kegiatan berjalan lancar. Lalu ditutup dengan doa bersama.
Pertujunkan band demi band meramaikan acara inagurasi. Para pengunjung bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang sedang dibawakan. Tenggelam dalam alunan musik. Hingga tidak terasa acara inagurasi selesai.
Ada salah satu personil band yang modus dengan kedok bertanya-tanya seputar acara nanti. Mulai dari acaranya dari jam berapa hingga ‘kamu pulang nanti sama siapa?’ Bulan sudah tahu maksud dari pertanyaan itu. Ia tidak membalas pertanyaan, hanya membacanya saja.
***
Bulan memberanikan diri bercerita kepada ibunya. Takut bila ibu marah karena hubungannya berakhir. Apalagi Rizky sudah melamarnya. Diluar dugaan ibu menjadi pendengar yang baik dari apa yang Bulan ceritakan.
“Sabar ya nak, mungkin memang bukan jodohnya” ucap Ibunda Bulan menasehatisetelah mendengar cerita bahwa hubungannya sudah kandas.
Bulan tersenyum
“Ibu tau jika kemarin-kemarin kamu lagi ada masalah, apalagi di jari kamu udah ngga ada cincin tunangan”
“Kamu seperti ibu memang, pandai menyembunyikan apa yang terjadi”
“Untung saja gagal menikah, bukan gagal berumah tangga” ucap Ibu memeluk Bulan yang menangis tersedu-sedu.
***
Persiapan inagurasi sudah matang. Esok acara akan dilaksanakan. Bersama kedua juniornya Bulan masuk ke aula memeriksa kembali dekorasi panggung yang sudah dikerjakan hingga larut malam. Sudah sesuai posisi. Setelah dirasa sudah bagus. Bulan lalu berisitirahat di atas panggung beralaskan spanduk bekas acara-acara seminar. Merebahkan punggung yang sudah pegal.
Tenggelam dalam kesibukan membuat lupa sejenak tentang Rizky. Dirinya mulai ikhlas menerima apa yang sudah terjadi. Rasa sesal perlahan pergi. Hatinya kini mulai menerima bahwa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sudah lelah terpenjara dengan hati yang terus berharap suasana kembali seperti dahulu. Kantuk sudah hinggap mengantarkan Bulan ke alam mimpi.
***
Bulan bangun jam lima pagi. Tertidur hanya empat jam. Matanya masih mengantuk, rambutnya berantakan. Setelah sebagian nyawanya terkumpul, ia bergegas menuju toilet untuk mandi serta menyiapkan diri untuk acara inagurasi.
Bulan menerima tanda pengenal, langsung dikalungkan ke leher. Bersama juniornya ia menata meja di pintu utama aula untuk penerimaan tiket. Bulan mengarahkan beberapa hal kepada juniornya mulai dari memeriksa keaslian tiket, memeriksa isi tas pengunjung yang datang, hingga berkordinasi dengan divisi keamanan. Setelah dirasa cukup. Bulan merogoh ponsel lalu mengirimi pesan pada narahubung setiap band agar datang tidak terlambat.
Segala persiapan sudah dirasa matang. Para panitia berkumpul membentuk lingkaran. Ketua pelaksana memberikan arahan agar kegiatan berjalan lancar. Lalu ditutup dengan doa bersama.
Pertujunkan band demi band meramaikan acara inagurasi. Para pengunjung bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang sedang dibawakan. Tenggelam dalam alunan musik. Hingga tidak terasa acara inagurasi selesai.
0