- Beranda
- Stories from the Heart
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
...
TS
tabernacle69
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Quote:

Jurnal ini dapat membuat orang yang membacanya merasa BOSAN, tidak tertarik lebih lanjut dan kehilangan SELERA untuk membacanya, mereka akan merasa bahwa membaca jurnal serta kisah ini hanyalah membuang buang waktu mereka saja. Membencinya, mengkritiknya, membuangnya, dan melupakannya.
Tetapi bagi mereka yang bertahan, berjiwa santai dan pandai mencicil dalam membacanya.
Sebuah keajaiban akan terjadi.
Dan mereka akan mengingatnya.
..... Jurnal yang bakal saya bagikan ini mostly atau kebanyakan, bakalan bercerita tentang gimana cara untuk survive / bertahan di lingkungan sekolahan yang ekstrim dan berantakan, berandalan, dengan siswa cewek dan cowok yang nakal-nakal banget didalamnya, serta yang kebanyakan senang dan hobi banget mojok plus mesum di kantin belakang sekolah. Hehehe.
Dan nakal disini tuh sebutlah, pakai narkoba, nggak nurut sama guru, tawuran dan lain lain nya... betul betul nggak ada yang bisa dibanggain, apalagi kalau nakalnya masih dari duit orang tua. Tapi jangan emosi duluuu, karena ada pelajaran yang bisa diambil dari kenakalan-kenakalan itu.
* * *
PROLOG
"Bang, kau jangan lupa sama janjimu ya, kau kan anak lelaki, terus kau kan sudah lulus SD juga. Nah sekarang, merantau lah kau ke tempat orang."
Ucapan diatas adalah pesan dari bokap buat saya, karena ditagih janji, dan harus menepati janjinya, keputusan itu pun membuat saya harus memberanikan diri saya untuk pergi merantau ke tempat orang, sebuah tempat yang jauh dari kota kesayangan saya, kota yang saya tinggali.
..... nah waktu ituuu saya lagi ngobrol ngobrol santai sambil menikmati perjalanan sama sopir pesanan bokap di pertengahan malam, waktu itu kalau saya coba ingat ingat lagi secara persisnya..., perjalanan saya ini terjadi di bulan Februari, tahun 2007. Pak Amin namanya.
Sekitar jam setengah dua belas malam, dengan menaiki Range Rover Vogue warna hitam yang saya tumpangi, sopir pesanan bokap saya ini membawa kami melaju secara ekstra hati hati tepat didalam rerimbunan serta gelapnya taman hutan raya Bukit Soeharto.
Di Borneo, Kalimantan Timur.
Bukan karena apa apa, tapi karena kabarnya tempat ini adalah tempat yang super duper keramat.. jadi ya saya nggak bisa sembarangan bertingkah laku di tempat ini. Sompral atau belagu sedikit aja, saya yakin kalau saya bisa hilang di bukit yang menyeramkan ini.
.....
"Mas, kalau kita lagi lewat bukit Soeharto ini saya harap mas banyak banyak berdoa ya, jadi biar nanti kita bisa keluar dengan selamat." obrol si pak Amin kepada saya di saat itu, sambil dia tetap fokus dengan kendali setir yang berada didepannya.
Saya yang nggak tahu apa apa, cuma bisa merasakan bahwa bulu kuduk saya agak merinding. Sebab hanya ada kami berdua di tengah malam itu, dan persis seperti yang supir saya bilang, suasana di bukit Soeharto ini terkenal mencekam dan mengerikan.
Gosip gosipnya sih tempat ini adalah tempat rahasia, dulunya, yang dipakai untuk membuang mayat para preman yang dibunuh serta dikarungi selama pada masa pemerintahan yang terhormat... bapak presiden Soeharto. Tapi ini semua masih katanya ya...
Luar biasa...
Cuman, sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang kisah saya di tahun 2007 sampai dengan 2008 pertengahan itu.., saya pengen omongin satu hal yang bakalan bikin semuanya jadi jelas, bahwa, hidup saya nggak akan dimulai sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri dengan merantau seperti ini...
Ini adalah sebuah perjuangan yang sudah saya lewati di masa lalu saya, yang ternyata memberikan banyak kesan dan kenangan bahkan sampai hari ini.
Jadi waktu itu saya masih kelas 6 SD, baru lulus banget dari SD, kemudian merantau lah saya untuk cari sekolahan baru dan duduk di bangku SMP.
Hidup dan tinggal di keluarga Soematra memang begini, betul-betul keras didikan nya, meski saya tahu mungkin diluar sana ada yang sudah ditempa meski dari umur yang lebih muda, kayak waktu masih di bangku taman kanak kanak, mungkin? saya nggak hafal gimana persisnya.
Yang jelas waktu kelas dua SD saya pernah diguyur air dingin tepat tengah malam dan disuruh tidur di luar rumah, sama bokap saya, nyokap nangis-nangis dan nggak mampu ngelawan bokap, sampai akhirnya saya pun hampir kena hipotermia, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Itu belum seberapa friends, waktu kelas lima SD saya pernah dijebloskan ke dalam penjara setempat sama bokap saya.
Penyebabnya?
Saya membuat skema ponzi (investasi bodong) di sekolah saya yang menyebabkan teman-teman saya kehilangan uang liburan mereka. Total dana yang saya gelapkan itu senilai puluhan juta rupiah. Under tiga puluh juta waktu itu kalau nggak salah.
Karena hal ini lah, saya dijebloskan kedalam sebuah tempat untuk menterapi anak-anak yang memiliki kecenderungan aneh aneh. Termasuk penjara itu tadi.
Seorang Philargyrist. Adalah orang yang suka dengan uang, bentuknya, gambarnya, teksturnya. Ngomong ngomong, under 30 juta, adalah nominal uang yang kecil dan sedikit sih memang, kalau bisa lebih banyak, saya pengen nya 50 juta atau lebih, tetapi untuk ukuran anak SD di tahun 2005, menurut orang-orang itu adalah hal yang agak tidak wajar.
Selain itu saya punya tendensi sebagai seseorang yang mengidap obssesive compulsive disorder, yang menyebabkan saya melakukan suatu kebiasaan secara repetitif, berulang ulang kali secara terus menerus, disini kasusnya saya punya kecenderungan untuk kembali menyedot uang uang itu lagi, buat saya, koin seratus perak yang sudah lecek dan kumal itu adalah sesuatu yang amat sangat mengundang.
Kalau buat kamu situasi seperti itu adalah angin selewat saja, ya mending buat saya aja duitnya, kenapa? karena setelahnya saya akan mencuci koin itu lalu memasukannya kedalam celengan saya.
Suara dentingan dari koin ituloh.... indah. Dan esensinya buat saya, every coins, matter.
Nah, jadi hukuman yang tepat bagi orang seperti saya adalah mencuci otak serta mental nya secara menyeluruh. Salah satunya adalah dengan men-terapi dan menjebloskan saya ke dalam penjara anak serta tempat praktik psikiater dan psikolog, untuk disatukan dengan kriminil-kriminil cilik atau anak-anak 'special needs' yang lainnya.
Hahahahaha, ya nggak sebegitu juga horornya, karena banyak kok yang pintar-pintar juga, di terapi disini, ada yang savant, ada yang synesthesia, ada yang prodigy, haha, mau apa lo? yang imbecile juga ada kok. Dan duit orang tua mereka nggak tanggung-tanggung kalau udah main ke psikiater dan psikolog. Hahahahaha.
Being a criminal mind, hukuman selanjutnya yang dilimpahkan kepada saya—masih yang kayak begitu juga, akhirnya saya pun pernah terpaksa ikutan tidur dirumah sebuah komunitas pemulung yang tinggal di sekitar komplek perumahan kami, ini waktu di Sumatra selatan kalau nggak salah, (saya kenal sama ketua komunitas pemulungnya, dan saya tidak membatasi diri sih.. asyik-asyik aja) Nah, disanalah saya belajar tentang gimana caranya jadi anak laki laki yang tahan banting. Itu semua belum termasuk bogem mentah dan ikat pinggang bokap.
Makanya saya sering ngebayangin, apa jadinya ya kalau teman teman saya yang dimanja itu, diperlakukan begitu sama Bapak mereka, wah sudah bunuh diri kali mereka. Walaupun anak aparat atau anak pejabat, tapi kalau pola asuh nya kayak pola asuh bokap saya, alamat selesai itu anak-anak manja.
.... juga kalau seandainya saya tidak memutuskan untuk merantau di tahun 2007 silam, saya bakalan tetap diusir juga sama bokap saya, nggak diakui sebagai anaknya, karena lembek, lemah, dan nggak mau berjuang. Bokap emang kejam kalau udah soal yang beginian.
Yang membuat saya mampu bertahan hingga hari ini ya adalah karena diri saya sendiri, karena nggak ada yang bisa menyemangati diri selain kita sendiri.
Alasan kedua, saya orangnya rasional, kalau dipukul itu artinya sakit, ya jangan suka mukul orang lain. Ketiga, saya orangnya senang gagal, karena dari gagal saya bisa belajar.
Keempat, saya anak bandel, nggak sempurna, dan suka belajar dari kesalahan yang dibuat oleh diri sendiri.
Kelima? nggak ada, jangan banyak banyak hehe, nanti pusing coy.
* * *
Dan juga... saya nggak akan tulis kisah saya ini kalau motivasinya kurang kuat.. saya sengaja tulis jurnal saya ini untuk mengingat masa masa itu, juga untuk mengenang perempuan terbaik, yang pernah hadir ke dalam hidup saya, selain nyokap saya sendiri tentunya...
Dan ini rasanya sungguh klise (biasa aja) memang... kalau dipikir pikir lagi, tapi ya, saya paham lah resikonya sedikit mengorek masa lalu itu kayak gimana. Makanya saya beranikan untuk menulis ini.
Jurnal dan kisah ini... juga saya tulis dan ceritakan ulang untuk menghormati orang orang didalam kehidupan saya. Harapan saya, semoga saya lancar menulisnya sampai akhir, karena ini bisa dibilang enggak banyak juga.
Jadi ya semoga saya bisa bawa alur cerita saya ini secara ringkas, padat dan jelas. Biar nggak ada yang pusing apalagi sampai sakit jiwa waktu ngebacanya.
So, nama saya Arang (Ara), sering dipanggil begitu karena kadangkala sifat saya yang menyengat kayak bau belerang, dan ini, adalah balada kisah hidup saya.
* * * * *
Indeks
Part 1 — Lagi enak-enaknya, saya ditendang.
Part 2 — Bokap saya yang kamu tidak sukai.
Part 3 — Life is normal.. kalau kamu lagi boker.
Part 4 — Seperti Arang, seperti belerang.
Part 5 — Jangan sampai, berpisah...
Part 6 — Saya yakin, diatas langit, masih ada langit.
Part 7 — Saya yang bawa pesta nya ke tempat kamu.
Part 8 — Masa lalu saya yang terancam punah.
Part 9 — We live in a world full of danger.
Part 10 — The GIANT remains incognito.
Part 11 — Shiz's Laik Dat Maighti Soerawizeza.
Part 12 — Teori sandal jepit Swallow hitam punya saya.
Part 12.2
Part 13 — Waktunya-kamu-ikut-saya-main.
Part 13.2
Part 14. — Mengupas tuntas, menyingkap tabir..
Part 15 — Kita tanding ulang, lo berani?
Part 15.2 — Every hotel is waving.
Part 16 — Saya harus mengingat kembali beberapa aturan lama...
Part 17. — One Level Above
Part 18. — Saya, Gog Magog, kamu, dan kabar yang mengejutkan.
Part 19. — Perdebatan diantara kamu dan saya.

Part 20. — Saya kembali ke tahun 2006.
Part 21. — Jalan Van de Venter.
Part 22. — Saya, moving to Borneo.
Part 23. — Saya dalam dunia perantauan.
Part 24 — Saya, kehidupan baru, dan bencong di masa lalu.
Part 25 — Borneo, saya dan kehidupan yang gokil abis!
Quote:
House of the suspects.
Ilustrasi tokoh.
Ilustrasi tokoh.
Quote:

Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Siapa tokoh yang paling kamu benci?
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
0%
Diubah oleh tabernacle69 29-11-2020 17:52
makgendhis dan 50 lainnya memberi reputasi
49
50K
Kutip
632
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tabernacle69
#260
Part 15.2 — Semua hotel melambai.
Quote:
Masih teringat dengan begitu jelas di dalam benak gue momen momen ketika kami sedang rematch alias tanding ulang diantara si Freya dan Burnay pada malam hari itu, di Bandung, sekitar tahun 2006.
Vienna, tempat billiard langganan Freya,(karena kalau langganan gue dan Burnay ada di Dago Plaza, Barcode Pool & Table namanya.) Vienna, punya suasana yang sederhana dan khas, jadi tempat ini tidak seperti tempat nyodok kebanyakan.
Yang ramai pengunjung dan banyak atribut yang memang menunjukkan bahwa itu adalah tempat yang diperuntukkan khusus untuk santai sambil bermain billiard.
Vienna tidak punya itu semua, seperti jukebox, pinball, bar, serta bartender nya, karena kalau mau pesan liquor atau miras pun harus request terlebih dahulu kepada para waiter nya, barulah nanti mereka bawakan dari restoran Vienna, tetangga sebelahnya tempat nyodok ini. Begitupula dengan menu menu makanan dan minuman yang lain nya.
Di Vienna suasana nya memang lebih casual, remang remang, disini paling cuma ada meja billiard, lampu diatas mejanya, air conditioner serta beberapa sofa dan minibar di sudut sudut ruangan. Musik pun diputar bukan dari jukebox, melainkan dari audio system yang dipasang di ceiling / plafon ruangan nyodok ini.
The nine ball. Bola sembilan.
"Yang inning (duluan nyodok) elo apa gue?" omong Freya kearah si Burnay.
Inning tuh biasanya yang nyodok bola putihnya itu.. buat menghancurkan formasi bola target yang sudah disusun secara rapih dalam bentuk segitiga.
"Lu aja dulu." gue melirik saat itu dan mendapati bahwa si Burnay sedang tersenyum menyeringai.
Gue agak ngeri kalau ngelihat dua orang ini udah sepakat buat main billiard... kenapa...
Karena biasanya... pertandingan nya berlangsung sengit, friends.
"Okey, gue Inning." lalu setelah itu Freya merogoh kantung jeans di pantat bagian kiri nya dan memasangkan snooker glove (sarung tangan buat main billiard) di tangan kanan nya.
"Kenapa gugup lu? pake bridge (glove) lu lagi?" tanya Burnay ke arah si Freya.
"Nggak, malem ini kepalang tanggung lo siapin aja Paribas (bank account) lo itu buat gue." kata Freya.
"Buset dah lu, kalo kalah gua minta superfour ya." kata Burnay lagi.
"Okey." kata Freya lalu segera menunduk, bersiap siap untuk menyodok bola putih saat inning shot pertamanya.
"4 set ya." kata Burnay lagi.
"Jangan, 5 set aja, kasih ganjilnya." kata Freya lalu dia kembali fokus pada meja billiard.
"Rang, maneh tingali yeuh, ciri amatiran, lamun inning manehna pasti nyokot sudut lurus, lamun aing moal siga kitu... tapi balik deui kana gaya masing-masing jelema na sih..." bisik Burnay di sebelah kuping gue.
(Rang, kamu lihat ini, ciri amatiran adalah, kalau dia lagi melakukan tembakan inning pasti dia mengambil sudut lurus, kalau gue sih nggak bakalan kayak begitu, tapi kembali lagi ke gaya orangnya masing-masing sih...)
Gue mendengarkan, sambil menunggu makanan datang, gue kembali menikmati permainan billiard yang dilangsungkan sama nona Freya.
Nggak lama, Freya sudah berhasil melakukan Inning shot, formasi bola pun akhirnya terpecah, gue lihat beberapa bola masuk kedalam pocket pada shot pertamanya. Ini yang gue coba ingat.
Kemudian giliran Burnay...
Gue masih memperhatikan, dari sisi meja, kami berdua (gue dan Freya) mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang kepada Burnay.
Kala itu, gue mendengar Freya ngomong begini, "Here we go, the left-handed Burnay."
Betul, Burnay itu kidal, jadi kalau normalnya, atau umumnya orang main billiard itu cue (tongkat nyodoknya) berada di tangan kanan, sedangkan tangan kiri ada diatas meja, nah si Burnay ini adalah oposisinya dari keadaan itu.
Yang bikin merinding adalah, dari pertandingan ini, yang satu bisa hilang mobil, yang satu lagi besar kemungkinan nya harus membelikan mobil.
Jangan salah, Freya bukannya tidak pernah menang dari Burnay, tetapi perbandingan nya diantara Freya dan Burnay adalah satu berbanding tiga.
Freya dapat satu, yang artinya bagaimanapun juga dia masih punya kesempatan untuk menang dari Burnay karena nyebrang dari angka satu ke angka tiga tidaklah sesulit itu.
***
Masih menikmati permainan biliar yang terjadi diantara si Freya sama si Burnay, makanan yang gue pesan pun akhirnya datang diantar oleh pelayan, begitupula dengan rokok yang Burnay pesan, walaupun tidak berkode EF 27, melainkan yang lain aja...
Set atau ronde pertama yang menang adalah Burnay.. nothing suprisingly happens, si Burnay memang biasa menang. Freya nggak dikasih kendor atau nggak kesempatan untuk menang sama sekali, malah waktu itu dia cuma mentok sampai di bola empat aja. Sisanya clean shot Burnay yang habisin.
Gue juga akhirnya mulai makan dan menikmati hidangan yang sudah gue pesan, itupun makanan gue sambil dicomotin sama mereka berdua sembari bermain biliar, jadi agak cepat habis. Tapi gue inget banget, waktu lagi nyodok itu, pas gue lagi ngunyah makanan, pantat nya Freya yang semlohai itu emang udah mulai ada bentukan nya, jadi ya enak dipandang aja gitu.
Bukan montok gempal gitu sih, tapi ya langsing dan bagus aja, nggak tepos juga. Ah, seksi, mungkin itu kata tepatnya.
Anyway, gue mau ngebahas sedikit lebih jauh lagi soal Burnay, dia itu kalau nggak salah sekolah alias SD nya di jaringan sekolah Isl*m yang ada logo kubah hijau nya, jujur, gue kadang suka males ngegambarin tentang sosok dia karena kami hampir nggak pernah jauh, atau berjauhan... bosen juga karena jatuhnya kami sering bertemu.
Jadi ya sekilas aja mungkin ya, karena nanti jadi missing parts alias pada nggak ngerti, friends, dan akhirnya kalian mencoba menebak nebak sendiri dan jadi mispersepsi.
Burnay tuh... a lot of his ability, kayak kemampuan akademis, sosial, selalu berada diatas gue, kalau gue kayak juventus, dia itu mungkin barcelona nya, hahahaha, kok pakai klub sepak bola, iya, hahahaha, sengaja gue bandingkan nya begitu karena banyak yang cepat ngerti.
Appearance alias kenampakan nya mirip sama Admiral General Aladeennnnnn hahahahaha bercanda Burn. Nggak, dia tuh mirip sama salah satu mulustrasi yang udah gue sediakan di halaman awal, yang agak ketimur timuran begitu wajahnya. Silakan di cek ricek lagi aja dan tebak yang mana.
Gue juga nemu itu orang kok mirip pas TV lagi nyala, gue lihat eh kok mirip, hahaha.
Waktu terus berlanjut.. di set kedua Freya pecah telur. Gue inget raut wajah si Burnay mulai berubah jadi agak serius, set ketiga dia menang lagi, set keempat Freya yang menang lagi. Brengsek, kembar kacang ini kompetisi...
Gue nggak mau berlama lama lagi ngejelasin nya karena malam itu Burnay harus rela melepaskan Aprilia yang tersimpan rapi di dalam garasi rumahnya dibawa pulang sama Freya.
Ada tambahan dua set lagi, jadi totalnya enam set, Burnay minta tambah, Yang gila di malam itu adalah dunia kami bertiga, begini... Freya menang telak, set kelima Freya menang, Burnay minta satu set lagi, set keenam, Freya menang, lagiii... susah hidup emang si Burnay malam itu, ha ha ha.
As a form of 'feeling pity' nya Freya ke si Burnay, sehabis ngomong, "Burn, maaf ya, mau custom cue lo apapun, lo jangan dibiasain ngeremehin gue." kata Freya belagak.
Anjing, fucking mediocre itu orang.
"OJ yuk, gue traktir ya." lanjut Freya lagi. Burnay yang emang harus menelan ludah di malam itu, raut mukanya kayak yang kalem, tapi aslinya dia sedih.
Gimana enggak... Burn harus merelakan kuda besi kesayangan dia, hasil menang betting playoffs sama Axel, namun sedih itu nggak berlarut, karena dia dibelikan kuda besi yang lain sama Babap (bokap) nya. Hadiah caturwulan itu nggak pernah absen dia sabet karena selalu ranking 1.
Dulu sistem nya masih ranking, ini jadi prestige tersendiri buat orang tua yang anaknya bandel tapi juga rajin belajar. Cuma sekarang sistem begini kabarnya sudah ditiadakan dari sekolah sekolah...
***
Selesainya kami semua bermain billiard. Tepat pukul 12 malam. Freya pergi melangkahkan kakinya ke arah counter kasir dan melakukan pembayaran disana, dibawah meja kasir yang ada lampunya dan ada kasir yang nongol dari balik kaca tebal dengan lubang di tengahnya itu, untuk berbicara, kayak di penjara gitu deh pokoknya kalau kita lagi mengunjungi inmate kesayangan kita.
Ha ha ha ha ha gue jadi harus buka kartu nih. Yang gue kunjungi di penjara ya nggak lain dan nggak bukan adalah teman teman gue yang bejat-bejat ini, beberapanya adalah abang abang gue. Gue udah fasih masuk penjara, udah bosan, makanya kalau terbiasa ngendon semalam singkat di balik jeruji di waktu kecil, anda bakalan merasa bosan kalau harus tidur lagi di tempat yang memberi efek jera begitu.
Di luar pintu masuk Vienna, setelah kami semua selesai tentunya, Burnay sempat ngomong begini sama Freya, "Apa gara gara glove elu kali?" tanya Burnay sambil melingkarkan lengan di dadanya, di jadi agak sedikit mikir.
Langsung dijawab sama Freya. "Nggak, Burn, santai aja." secara sopan nya Freya mencoba mengajak Burnay dalam menyadari kekalahan mya di malam itu.
"Yoweslah." jawab Burnay lagi.
Kami pun kembali memasuki mobil, dan mobil yang kami naiki kami pun mulai berjalan dan meninggalkan areal parkir Vienna, what a memorable venue, karena sekarang Vienna sudah out of business, tapi gue yakin tempat itu tetap punya ruang di hati gue.
***
Gue ingat ini rada gila di malam hari itu.
Setelah berhasil meninggalkan Vienna, Freya ngasih arahan kepada driver nya, "Yon, bawa kita ke OJ ya. Dari sindang sirna lanjut aja ke sutami ambil jalan nya." omong dia. Kemudian disambut baik oleh Yondra, sopir pribadinya.
"Siap, non."
Akhirnya mobil berjalan melalui Puri Bambu, lanjut terus melewati kantor penanggulangan apaaa gitu agak lupa gue soalnya, kemudian di daerah jalan Wilayah, namanya, orang orang disini sering sebut ini tempat dengan julukan ini.
Lanjut lagi ke Sutami, berikut hunian dari Setraria, Setrasari Kulon dan lain lain. Wajah dari jalanan ini nggak banyak berubah.
Anyway, bicara tentang tempat billiard, setelah Vienna gulung tikar tempat nyodok, yang publik ya, yang enak itu kalau di kota ini di Barcode pool & table... lumayan lah, karena yang dicari biasanya bukan permainan nya, tapi buat mempraktikkan kegiatan modus yang dijuluki dengan nama pick up artist.
Ini kayaknya terkenal sekali, jaman tahun 2008 itu, banyak sobat gue mulai alay dan coba coba buat memikat cewek di tempat tempat kongkow, entah itu klub malam, tempat nyodok, kafe, toko kopi, restoran, bahkan sampai ke studio yoga yang notabene anggota nya adalah wanita-wanita berusia paruh baya.
Tipikal gaya hidup di kota lah ya... gue ingat Burnay sempat suka main disana, sama gue juga, sesekali, dan teman teman nya yang lain, tapi tidak dengan Freya karena kalau Freya sudah beralih ke tempat Billiard nya sendiri di sebuah tempat, sebuah restoran, di jalanan dago bawah, dekat smansa...
Kalau mau main billiard di tempatnya Freya harus calling-calling dulu sama yang punya tempatnya, nggak bisa langsung buka meja on the spot. Eksklusif dan sekali begitu harus bawa debit dari bank of america. Kalau bawa permat* aja nanti kartunya suka ditolak... mesin nya rusak, saldonya kurang.... ha ha ha ha ha ha.
Sesampainya kami di daerah Setrasari mall, dulu ada patung kuda nya, tapi sekarang entah masih ada atau nggak, mobil kami pun masuk melalui portal sekuriti, ada banyak rumah toko gitu... dan akhirnya tiba lah kami didepan OJ... sebuah tempat yang cocok untuk melepas nyawa kami semua... huahahahahaha.
***
P.s: Ini nggak ada hubungan nya sama cerita, tapi hanya sebuah kenangan aja. Semua hotel melambai atau every hotel is waving itu adalah ungkapan yang disematkan kepada Babap (bokap) nya Burnay yang kalau menginap di hotel, beliau suka memberi gratuity kepada para hotel worker nya.
Sehingga setiap hotel yang beliau kunjungi ditinggalkan, dia memberikan bekas serta kesan yang baik terhadap dirinya.
Diubah oleh tabernacle69 12-06-2019 23:11
0
Kutip
Balas