- Beranda
- Stories from the Heart
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )
...
TS
.nona.
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )

Cerita ini berdasarkan pengalaman teman-teman dan TS yang biasa mendaki gunung, nama semua yang ada di cerita ini disamarkan. Begitu juga dengan tokoh utamanya.
Walau cerita ini akan ditambahi bumbu-bumbu penyedap biar lebih seru, tapi based cerita ini adalah kejadian nyata walau hanya kerangka ceritanya saja, jadi anggap saja cerita ini fiktif. Mau percaya atau tidak yang jelas kehidupan tak kasat mata itu memang nyata.
Semoga cerita ini menghibur rekan-rekan pembaca semua, untuk yang tidak suka dengan cerita mistis lebih baik jangan diteruskan membacanya ditakutkan kecanduan.
Prolog
Cerahnya mentari membakar kulit di daerah Solo ini, entah sudah berapa kali kuminum air putih yang kubawa menunggu datangnya kedua kawanku. Nampak 3 tas caril yang kugunakan dan punya kawanku tergeletak di ujung pos entah sepertinya tempat ini adalah pos satpam yang ditinggalkan dekat stasiun Solo Jembres.
Terdengar suara kawanku Joko dan Endri melangkah menuju pos tempatku berteduh, entah sudah berapa kali asap putih mengepul dari mulutku. Waktu yang terasa lambat menunggu kawanku membeli logistik di sekitar pasar agar pendakian ke lawu tidak menjadi teror di kala perut lapar.
"Lama amat" ujarku
Joko dan Endri mesam mesem persis kaya petruk dan gareng lagi nyari bau kentut nya semar.
"Ahh... Elahh Don, nih lihat bawaan lumayan banyak" ujar Joko, sambil menenteng beberapa belanjaan logistik yang sudah dibeli.
"Tau lo Don, lo mah enak cuman bengong sambil ngebul jagain tas doank" Endri pun tak kalah sengit membela Joko.
Aku pun tersenyum kepada mereka, " janc*kk, malah marah-marah ya aku yang salah...puas dah lo.. "
Mereka pun tertawa secara bersamaan, tak banyak yang diceritakan di daerah Solo Jebres ini namun perjalanan masih panjang. Joko pun menelepon seseorang untuk menjemput kami, karena yang lebih paham daerah ini dan Lawu adalah Joko. Jadi aku dan Endri tinggal duduk manis menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan pendakian kali ini.
"Waduhh... kita harus nunggu setengah jam lagi, yo wes kalian istirahat dolo dah. Cari tempat ngopi yuk " ujar Joko.
Kami berdua pun mengangguk, rasanya menunggu sambil ngopi dan makan gorengan lebih nikmat dibandingkan harus menunggu di tempat yang mulai panas ini.
Kami pun berjalan, hingga terlihat warung kopi di pinggir jalan. Barang bawaan pun ditumpuk jadi satu, logistik pun sudah dibagi masuk ke dalam caril masing-masing.
Kami pun memesan mie rebus, lumayan untuk ganjalan perut yang sudah mulai teriak lapar. Sembari memakan mie yang sudah terhidang, rasanya air putih di depanku tak sanggup menahan rasa dahaga yang sedang kuderita.
"Bu De aku es teh manisnya satu ?" ujarku, lalu disambut dengan ucapan kedua temanku.
"Aku es Jeruk Bu de, Aku kopi Bu De"
Pemilik kedai yang sudah berumur setengah baya itu pun mengangguk, ia pun mulai membuat pesanan minuman dengan terampil. Mie rebus punyaku pun habis lebih dulu, sedangkan kedua temanku masih asik mengunyah mie yang menjadi idola para pemuda yang sering ngekost.
Sedang asik bersenda gurau datanglah seorang laki-laki paruh baya disamping kedai kopi itu, pandangannya kosong nampak menatap jauh tanpa arah. Aku pun melihatnya dan merasa iba, aku segera beranjak mendekatinya.
"Maaf Pak, ini bangkunya biar enak duduknya"
Ia menoleh kepadaku ada senyum yang terasa berat.
"Makasih Le... "
"Mau minum kopi pak..? "
Ia pun menggeleng, menolak pemberianku.
"Rokok.. "
Ia kembali tersenyum diambil nya satu batang dari bungkus rokok yang kuberikan. Kepulan asap pun mulai keluar dari mulut kami berdua, kulihat tatapannya tidak ada perubahan masih kosong dan tak tentu arah.
"Sampean ini mau kemana, ke Lawu ya.. " ucap si bapak.
"Iya pak.. "
"Ohhh... Hati-hati ya, kalau ke sana. Saat ini banyak aura negatif di gunung lawu" ucapnya.
Aku hanya diam, tanpa bermaksud bertanya lebih jauh. Hanya anggukan kecil yang ku isyaratkan.
Kembali ia mengepulkan rokoknya terlihat olehku dari tampilan tangannya yang menggambarkan ia seorang pekerja keras, terlihat dengan jelas di lengan tangan kanan sebuah tato dengan motif bunga dan di lengan tangan kiri bertato motif naga dan wanita. Nampak masih mudanya bapak ini sosok orang yang di segani oleh orang sekitarnya.
"Ohh iya bapak asli dari sini....??"
"Bukan, Le aku dari Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Kamu tahu..?? "
"Tidak pak, aku ga ngerti daerah sini asalku dari Jakarta"
"Ohhh... Terima kasih ini Le, Rokokmu... " ucapnya dengan nada berat.
Kemudian temanku memanggil, "Woyy Don, itu bayar makananmu masak lo gw traktir terus bisa bangkrut aku" Joko teriak.
"Ehhh... Iya, bentar ya pak"
Aku pun segera membayar makanan yang sudah kupesan, "Ini bude, lalu memberikan sejumlah uang" setelah selesai pembayaran, aku pun menoleh ke arah tempat bapak tadi duduk ia sudah tidak ada.
"Loh Ndri... Tadi lo liat bapak yang duduk disini ngobrol ma gw pergi kemana ??"
"Bapak-bapak, ngaco lo... Dari tadi juga lo bengong ngerokok sendiri, di panggil juga diam aja makanya si Joko tadi teriak manggil lo... "
"Ahhh yang benerr....tadi aku ngasih... " ucapanku terhenti. Kulihat sebatang rokok yang masih utuh di bangku tempat si bapak itu duduk.
"Ealahhh.. udah ahh ngelindurnya yuk berangkat, tuh mobil kawanku sudah sampai di seberang" Joko pun mengambil carilnya.
Kuambil rokok tadi, masih utuh tanpa terbakar sedikitpun. Bulu kudukku berdiri seakan ada yang janggal, aku pun berdo'a semoga saja itu hanya halusinasi karena beban stress yang menggelayuti kepalaku.
Atau apakah benar dia "Hantu"
#Bersambung
Quote:
Quote:
🙏 terima kasih untuk agan mantab93 yang sudah repot-repot buatin index.. 👍
Tambahan Cerita Mistis Dari Kaskuser
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh .nona. 08-07-2021 11:16
camiakiersty715 dan 120 lainnya memberi reputasi
117
220.8K
895
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.nona.
#244
Part 13
Terlihat cincin sepertinya terbuat dari emas dengan lambang burung di tengahnya, cincin itu begitu mengkilat dan sungguh cantik bila di pandang. Namun sayang karena pria tak bisa memakai cincin itu, karena benda yang terbuat dari emas bila di pakai pria menurut agama Islam itu adalah haram maka kumasukkan saja ke dalam kantong celana.

Akupun kembali bersama kedua rekanku, hari sudah menjelang sore mau summit ke Hargo Dummilah memang agak tanggung.
"Gimana mas summit atau nanti aja.. "
"Udah pada kenyang toh, ya udah yuk summit.. " ujar mas Joko.
"Sebentar mas... Kalau tempat itu apaan sih kok macam tempat pemujaan ujarku"
"Ohhh.. Itu yg namanya hargo dalem tempat moksanya prabu Brawijaya"
"Ohh gitu.. Yo wes yuk kita jalan lagi mas.. "
Perjalanan pun dilanjut memang sudah tak begitu jauh puncak Hargo Dumillah dari tempat ini, dengan mengambil jalan lurus arah puncak dan kemudian ada arah ke kanan maka kita ambil jalur itu. Kemudian setelah itu jalanan akan menanjak terus hingga sampai di Puncak Hargo Dumilah, memerlukan waktu 30 menit dari Hargo Dalem untuk mencapai ke Puncak.
Nafas kami sudah tersenggal namun penampakan puncak memberikan ketenangan batin, negeri di atas awan itulah yang tersaji di depan kami. Berhubung sudah sore pijar mentari terasa sejuk.
"Mas Joko makasih ya dah ajak aku kesini.."
"Gimana kowe seneng Don.. "
"Seneng lah mas.. "
Kembali aku disapa lembut oleh angin puncak yang menggetarkan hati, seperti para pendaki pada umumnya inilah yang kita rasakan ketika sukses mencapai tempat yang tinggi dari sebuah gunung.
Terkadang banyak orang merasa heran, apa sih enaknya naik gunung, cuma dapet capek dan pastinya jalannya jauh belum lagi kalau ada bahaya. Pertanyaan itu sering hadir di antara kawan-kawan yang tak pernah mendaki, mungkin saja memang tak hobi melihat alam.

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang – orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.
Mendaki itu memang bukan untuk sok jagoan, bahkan untuk pamer, mendaki itu untuk kepuasan diri bahwasanya ada alam yang bisa kita nikmati. Bila sudah menjadi hobi terkadang mendaki itu bisa menjadi candu, yang jelas ada perasaan lega bisa berada di tanah tertinggi dari sebuah gunung.

Mengingat mendaki walaupun setiap pendaki memiliki niatan berbeda beda,ada yang ingin menikmati keindahan alam,ada yang berziarah mengembleng jiwa raga atau hanya sekedar gaya gayaan,namun keselamatan adalah utama,oleh sebab itulah kesadaran,persiapan perbekalan dan kewaspadaan harus diutamakan untuk keselamatan.
"Mas ini kata-kata Hargo Dumillah itu maksudnya apa sih.. " aku memang belum mengerti bahasa tersebut.
"Ohhh... Itu sebenarnya dalam bahasa Jawa, Hargo/Argo itu berarti Gunung sedangkan Dumilah berarti Bercahaya. Jadi Hargo Dumilah bisa diartikan Gunung yang Bercahaya. Jika mendaki gunung itu kita bisa mendapatkan cahaya atau Nur. Cahaya yang membuat mata kepala dan mata hati kita terbuka. Bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang begitu indah"
"Wah.. Artinya bagus ya mas.. "
Apa yang dikatakan mas Joko tepat sekali, sore ini Engkau mengizinkan ku masih bisa menghirup udara segar dengan puas. Engkau mengizinkan ku melihat lautan awan lepas, melihat ribuan burung terlepas dari sarangnya, melihat kebesaran alam ciptaan-Mu. Saat ini ragaku masih kuat berpijak di puncak untuk menghadap panggilan sholat-Mu. Engkau Maha Segalanya Ya Rabb. Engkau memberikanku sahabat yang begitu baik dan perhatian terhadapku. Engkau beri kedua orang tua yang selalu letih membesarkan ku dengan cinta dan kasih sayang. Engkau Maha Sempurna Ya Rabb. Engkau sempurnakan segala nikmatku dengan ilmu dan hidayah-Mu.
Lalu, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Disinilah aku bisa melihat indahnya ciptaan Tuhan dari tempat tertinggi di Lawu.
Aku berjalan ke arah pinggir jurang tanpa batas. Jika dilihat lurus ke barat akan terlihat gumpalan awan menyelimuti Gunung Merbabu, Merapi, Ungaran. Di sebelah selatannya terdapat telaga Roro Kuning di kelilingi lembah. Jika berbalik arah ke barat, akan di temui Puncak Lawu yang lainnya, tentunya lebih rendah dari tempat kami berpijak. Dan dari arah timur terlihat Gunung Wilis, Gunung Penanggungan dengan puncaknya yang lancip, Gunung Arjuna-Welirang, serta atap jawa si Puncak Mahameru.

Memang puncak Gunung Lawu atau wukir Mahendra yang terletak diantara jawa tengah dan jawa timur ini mempunyai tiga puncak yaitu Argo Tiling atau puncak dumiling,Argo Puruso atau puncak tower dan Argo dumilah yang merupakan puncak tertinggi yang menjadi tujuan utama kebanyakan para pendaki dan puncak inilah yang sedang aku nikmati keindahannya.
Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang menurutku paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan. Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam sebuah hati.
"Puas kamu Don" Endri mendekatiku.
"Puas Sekali Ndri... "
"Yah inilah yang menjadi tujuan kita, sebuah puncak yang akan terus berdiri walau kita mungkin nanti sudah punah.. "
"Bisa aja kamu Ndri.. "ujar mas Joko.
"Lah iya mas, Setidaknya mencapai puncak seperti menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu mungkin masih sah ya toh... "
"Halahhh itu mah lo jadi sombong" Mas Joko terkekeh.
"Ya jangan juga terus – terusan mengangkat dagu, lah mas karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup. Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup. Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya"
"Sok puitis sampean Ndri... " kami pun tertawa bahagia...ya kebahagiaan persahabatan dengan menaklukkan sebuah puncak gunung.

Setelah mentari nampak mulai sendu, disinilah kami merasa harus kembali turun dari puncak kebahagiaan yang telah kami raih dan rasanya kami malas membuat tenda, maka diputuskan untuk kembali ke warung mbok Yem saja mumpung sedang sepi.
Di tengah hari yang sebentar lagi gelap, aku melihat sesosok bayangan.
"Eitsss apa itu.. "ucapku
"Apaan sih Don..? "
"Itu... Itu.. Mas.. "
#Bersambung
Note :
Kisah dari perjalanan Lawu berakhir di puncak ini, bila kamu yang suka dengan cerita fiksi boleh nanti saya lanjut tapi kalau tidak suka dengan hal yang berbau fantasy maka kisah perjalanan ke Lawu tamat hingga di sini
Terlihat cincin sepertinya terbuat dari emas dengan lambang burung di tengahnya, cincin itu begitu mengkilat dan sungguh cantik bila di pandang. Namun sayang karena pria tak bisa memakai cincin itu, karena benda yang terbuat dari emas bila di pakai pria menurut agama Islam itu adalah haram maka kumasukkan saja ke dalam kantong celana.

Akupun kembali bersama kedua rekanku, hari sudah menjelang sore mau summit ke Hargo Dummilah memang agak tanggung.
"Gimana mas summit atau nanti aja.. "
"Udah pada kenyang toh, ya udah yuk summit.. " ujar mas Joko.
"Sebentar mas... Kalau tempat itu apaan sih kok macam tempat pemujaan ujarku"
"Ohhh.. Itu yg namanya hargo dalem tempat moksanya prabu Brawijaya"
"Ohh gitu.. Yo wes yuk kita jalan lagi mas.. "
Perjalanan pun dilanjut memang sudah tak begitu jauh puncak Hargo Dumillah dari tempat ini, dengan mengambil jalan lurus arah puncak dan kemudian ada arah ke kanan maka kita ambil jalur itu. Kemudian setelah itu jalanan akan menanjak terus hingga sampai di Puncak Hargo Dumilah, memerlukan waktu 30 menit dari Hargo Dalem untuk mencapai ke Puncak.
Nafas kami sudah tersenggal namun penampakan puncak memberikan ketenangan batin, negeri di atas awan itulah yang tersaji di depan kami. Berhubung sudah sore pijar mentari terasa sejuk.
"Mas Joko makasih ya dah ajak aku kesini.."
"Gimana kowe seneng Don.. "
"Seneng lah mas.. "
Kembali aku disapa lembut oleh angin puncak yang menggetarkan hati, seperti para pendaki pada umumnya inilah yang kita rasakan ketika sukses mencapai tempat yang tinggi dari sebuah gunung.
Terkadang banyak orang merasa heran, apa sih enaknya naik gunung, cuma dapet capek dan pastinya jalannya jauh belum lagi kalau ada bahaya. Pertanyaan itu sering hadir di antara kawan-kawan yang tak pernah mendaki, mungkin saja memang tak hobi melihat alam.

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang – orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.
Mendaki itu memang bukan untuk sok jagoan, bahkan untuk pamer, mendaki itu untuk kepuasan diri bahwasanya ada alam yang bisa kita nikmati. Bila sudah menjadi hobi terkadang mendaki itu bisa menjadi candu, yang jelas ada perasaan lega bisa berada di tanah tertinggi dari sebuah gunung.

Mengingat mendaki walaupun setiap pendaki memiliki niatan berbeda beda,ada yang ingin menikmati keindahan alam,ada yang berziarah mengembleng jiwa raga atau hanya sekedar gaya gayaan,namun keselamatan adalah utama,oleh sebab itulah kesadaran,persiapan perbekalan dan kewaspadaan harus diutamakan untuk keselamatan.
"Mas ini kata-kata Hargo Dumillah itu maksudnya apa sih.. " aku memang belum mengerti bahasa tersebut.
"Ohhh... Itu sebenarnya dalam bahasa Jawa, Hargo/Argo itu berarti Gunung sedangkan Dumilah berarti Bercahaya. Jadi Hargo Dumilah bisa diartikan Gunung yang Bercahaya. Jika mendaki gunung itu kita bisa mendapatkan cahaya atau Nur. Cahaya yang membuat mata kepala dan mata hati kita terbuka. Bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang begitu indah"
"Wah.. Artinya bagus ya mas.. "
Apa yang dikatakan mas Joko tepat sekali, sore ini Engkau mengizinkan ku masih bisa menghirup udara segar dengan puas. Engkau mengizinkan ku melihat lautan awan lepas, melihat ribuan burung terlepas dari sarangnya, melihat kebesaran alam ciptaan-Mu. Saat ini ragaku masih kuat berpijak di puncak untuk menghadap panggilan sholat-Mu. Engkau Maha Segalanya Ya Rabb. Engkau memberikanku sahabat yang begitu baik dan perhatian terhadapku. Engkau beri kedua orang tua yang selalu letih membesarkan ku dengan cinta dan kasih sayang. Engkau Maha Sempurna Ya Rabb. Engkau sempurnakan segala nikmatku dengan ilmu dan hidayah-Mu.
Lalu, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Disinilah aku bisa melihat indahnya ciptaan Tuhan dari tempat tertinggi di Lawu.
Aku berjalan ke arah pinggir jurang tanpa batas. Jika dilihat lurus ke barat akan terlihat gumpalan awan menyelimuti Gunung Merbabu, Merapi, Ungaran. Di sebelah selatannya terdapat telaga Roro Kuning di kelilingi lembah. Jika berbalik arah ke barat, akan di temui Puncak Lawu yang lainnya, tentunya lebih rendah dari tempat kami berpijak. Dan dari arah timur terlihat Gunung Wilis, Gunung Penanggungan dengan puncaknya yang lancip, Gunung Arjuna-Welirang, serta atap jawa si Puncak Mahameru.

Memang puncak Gunung Lawu atau wukir Mahendra yang terletak diantara jawa tengah dan jawa timur ini mempunyai tiga puncak yaitu Argo Tiling atau puncak dumiling,Argo Puruso atau puncak tower dan Argo dumilah yang merupakan puncak tertinggi yang menjadi tujuan utama kebanyakan para pendaki dan puncak inilah yang sedang aku nikmati keindahannya.
Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang menurutku paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan. Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam sebuah hati.
"Puas kamu Don" Endri mendekatiku.
"Puas Sekali Ndri... "
"Yah inilah yang menjadi tujuan kita, sebuah puncak yang akan terus berdiri walau kita mungkin nanti sudah punah.. "
"Bisa aja kamu Ndri.. "ujar mas Joko.
"Lah iya mas, Setidaknya mencapai puncak seperti menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu mungkin masih sah ya toh... "
"Halahhh itu mah lo jadi sombong" Mas Joko terkekeh.
"Ya jangan juga terus – terusan mengangkat dagu, lah mas karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup. Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup. Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya"
"Sok puitis sampean Ndri... " kami pun tertawa bahagia...ya kebahagiaan persahabatan dengan menaklukkan sebuah puncak gunung.

Setelah mentari nampak mulai sendu, disinilah kami merasa harus kembali turun dari puncak kebahagiaan yang telah kami raih dan rasanya kami malas membuat tenda, maka diputuskan untuk kembali ke warung mbok Yem saja mumpung sedang sepi.
Di tengah hari yang sebentar lagi gelap, aku melihat sesosok bayangan.
"Eitsss apa itu.. "ucapku
"Apaan sih Don..? "
"Itu... Itu.. Mas.. "
#Bersambung
Note :
Kisah dari perjalanan Lawu berakhir di puncak ini, bila kamu yang suka dengan cerita fiksi boleh nanti saya lanjut tapi kalau tidak suka dengan hal yang berbau fantasy maka kisah perjalanan ke Lawu tamat hingga di sini
🙏Terima kasih, Selamat Membaca
Diubah oleh .nona. 23-05-2019 15:42
regmekujo dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup

