- Beranda
- Stories from the Heart
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )
...
TS
.nona.
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )

Cerita ini berdasarkan pengalaman teman-teman dan TS yang biasa mendaki gunung, nama semua yang ada di cerita ini disamarkan. Begitu juga dengan tokoh utamanya.
Walau cerita ini akan ditambahi bumbu-bumbu penyedap biar lebih seru, tapi based cerita ini adalah kejadian nyata walau hanya kerangka ceritanya saja, jadi anggap saja cerita ini fiktif. Mau percaya atau tidak yang jelas kehidupan tak kasat mata itu memang nyata.
Semoga cerita ini menghibur rekan-rekan pembaca semua, untuk yang tidak suka dengan cerita mistis lebih baik jangan diteruskan membacanya ditakutkan kecanduan.
Prolog
Cerahnya mentari membakar kulit di daerah Solo ini, entah sudah berapa kali kuminum air putih yang kubawa menunggu datangnya kedua kawanku. Nampak 3 tas caril yang kugunakan dan punya kawanku tergeletak di ujung pos entah sepertinya tempat ini adalah pos satpam yang ditinggalkan dekat stasiun Solo Jembres.
Terdengar suara kawanku Joko dan Endri melangkah menuju pos tempatku berteduh, entah sudah berapa kali asap putih mengepul dari mulutku. Waktu yang terasa lambat menunggu kawanku membeli logistik di sekitar pasar agar pendakian ke lawu tidak menjadi teror di kala perut lapar.
"Lama amat" ujarku
Joko dan Endri mesam mesem persis kaya petruk dan gareng lagi nyari bau kentut nya semar.
"Ahh... Elahh Don, nih lihat bawaan lumayan banyak" ujar Joko, sambil menenteng beberapa belanjaan logistik yang sudah dibeli.
"Tau lo Don, lo mah enak cuman bengong sambil ngebul jagain tas doank" Endri pun tak kalah sengit membela Joko.
Aku pun tersenyum kepada mereka, " janc*kk, malah marah-marah ya aku yang salah...puas dah lo.. "
Mereka pun tertawa secara bersamaan, tak banyak yang diceritakan di daerah Solo Jebres ini namun perjalanan masih panjang. Joko pun menelepon seseorang untuk menjemput kami, karena yang lebih paham daerah ini dan Lawu adalah Joko. Jadi aku dan Endri tinggal duduk manis menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan pendakian kali ini.
"Waduhh... kita harus nunggu setengah jam lagi, yo wes kalian istirahat dolo dah. Cari tempat ngopi yuk " ujar Joko.
Kami berdua pun mengangguk, rasanya menunggu sambil ngopi dan makan gorengan lebih nikmat dibandingkan harus menunggu di tempat yang mulai panas ini.
Kami pun berjalan, hingga terlihat warung kopi di pinggir jalan. Barang bawaan pun ditumpuk jadi satu, logistik pun sudah dibagi masuk ke dalam caril masing-masing.
Kami pun memesan mie rebus, lumayan untuk ganjalan perut yang sudah mulai teriak lapar. Sembari memakan mie yang sudah terhidang, rasanya air putih di depanku tak sanggup menahan rasa dahaga yang sedang kuderita.
"Bu De aku es teh manisnya satu ?" ujarku, lalu disambut dengan ucapan kedua temanku.
"Aku es Jeruk Bu de, Aku kopi Bu De"
Pemilik kedai yang sudah berumur setengah baya itu pun mengangguk, ia pun mulai membuat pesanan minuman dengan terampil. Mie rebus punyaku pun habis lebih dulu, sedangkan kedua temanku masih asik mengunyah mie yang menjadi idola para pemuda yang sering ngekost.
Sedang asik bersenda gurau datanglah seorang laki-laki paruh baya disamping kedai kopi itu, pandangannya kosong nampak menatap jauh tanpa arah. Aku pun melihatnya dan merasa iba, aku segera beranjak mendekatinya.
"Maaf Pak, ini bangkunya biar enak duduknya"
Ia menoleh kepadaku ada senyum yang terasa berat.
"Makasih Le... "
"Mau minum kopi pak..? "
Ia pun menggeleng, menolak pemberianku.
"Rokok.. "
Ia kembali tersenyum diambil nya satu batang dari bungkus rokok yang kuberikan. Kepulan asap pun mulai keluar dari mulut kami berdua, kulihat tatapannya tidak ada perubahan masih kosong dan tak tentu arah.
"Sampean ini mau kemana, ke Lawu ya.. " ucap si bapak.
"Iya pak.. "
"Ohhh... Hati-hati ya, kalau ke sana. Saat ini banyak aura negatif di gunung lawu" ucapnya.
Aku hanya diam, tanpa bermaksud bertanya lebih jauh. Hanya anggukan kecil yang ku isyaratkan.
Kembali ia mengepulkan rokoknya terlihat olehku dari tampilan tangannya yang menggambarkan ia seorang pekerja keras, terlihat dengan jelas di lengan tangan kanan sebuah tato dengan motif bunga dan di lengan tangan kiri bertato motif naga dan wanita. Nampak masih mudanya bapak ini sosok orang yang di segani oleh orang sekitarnya.
"Ohh iya bapak asli dari sini....??"
"Bukan, Le aku dari Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Kamu tahu..?? "
"Tidak pak, aku ga ngerti daerah sini asalku dari Jakarta"
"Ohhh... Terima kasih ini Le, Rokokmu... " ucapnya dengan nada berat.
Kemudian temanku memanggil, "Woyy Don, itu bayar makananmu masak lo gw traktir terus bisa bangkrut aku" Joko teriak.
"Ehhh... Iya, bentar ya pak"
Aku pun segera membayar makanan yang sudah kupesan, "Ini bude, lalu memberikan sejumlah uang" setelah selesai pembayaran, aku pun menoleh ke arah tempat bapak tadi duduk ia sudah tidak ada.
"Loh Ndri... Tadi lo liat bapak yang duduk disini ngobrol ma gw pergi kemana ??"
"Bapak-bapak, ngaco lo... Dari tadi juga lo bengong ngerokok sendiri, di panggil juga diam aja makanya si Joko tadi teriak manggil lo... "
"Ahhh yang benerr....tadi aku ngasih... " ucapanku terhenti. Kulihat sebatang rokok yang masih utuh di bangku tempat si bapak itu duduk.
"Ealahhh.. udah ahh ngelindurnya yuk berangkat, tuh mobil kawanku sudah sampai di seberang" Joko pun mengambil carilnya.
Kuambil rokok tadi, masih utuh tanpa terbakar sedikitpun. Bulu kudukku berdiri seakan ada yang janggal, aku pun berdo'a semoga saja itu hanya halusinasi karena beban stress yang menggelayuti kepalaku.
Atau apakah benar dia "Hantu"
#Bersambung
Quote:
Quote:
🙏 terima kasih untuk agan mantab93 yang sudah repot-repot buatin index.. 👍
Tambahan Cerita Mistis Dari Kaskuser
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh .nona. 08-07-2021 11:16
camiakiersty715 dan 120 lainnya memberi reputasi
117
218.8K
895
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.nona.
#209
Part 12
"Jlegerrr.. "
Kilat menyambar tepat satu garis lurus, lalu setelah guntur itu menghujam bumi disertai suara yang menggelegar perlahan cuaca pun kembali tenang, rintik hujan pun berhenti, sinar mentari kembali datang hanya 5 menit cuaca pun berubah kembali seakan alam sedang memberikan tanda.

Burung jalak gading yang mengikuti kami sedari tadi pun kembali hinggap di pundakku lalu mematuk-matuk punggung, setelah itu seakan mengucapkan salam perpisahan ia pun terbang jauh diantara kerindangan pepohonan. Sudah lebih dari 2 jam ternyata kami mendengar cerita Fajar, tak terasa waktu begitu cepat ketika kami sedang menunggu kedatangan kawan-kawan mereka.
Wajah Fajar seakan ada kelegaan ketika ia sudah selesai cerita. Tak lama setelah habis rokok di tangan, perut kami seakan minta di isi. Bunyi cacing di dalam perut saling bersahutan hingga perut Mas Joko pun mengeluarkan suara.
"Sepertinya kita makan dulu yuk.." ucap Mas Joko.
"Sebentar mas aku ambil uang dulu.. " Fajar menimpali.
Dibukanya tenda yang dari tadi belum sempat kami masuki, dan Fajar tercenggang ternyata tenda itu tak ada barang-barang kawannya dan juga tas dirinya pun menghilang.
"Loh kok tas ku ga ada.. ?" Fajar semakin bingung.
"Mungkin kawanmu sengaja membawa tasmu agar tak ada yang iseng dengan barangmu Jar, buktinya mereka tinggalkan tendanya di sini. Mereka yakin kalau sewaktu-waktu kamu bisa kembali kesini" ujarku.
"Yo wes sampean tak talangi dolo.. " ujar Mas Joko.
"Yuk lah aku juga sudah lapar nih.. " ujar Endri.
Kami pun segera beranjak dari tempat kami duduk, kemudian kembali menuju jalan yang kami lewati tadi menuju warung tertinggi di Indonesia. Warung yang buka 24 jam, warung legenda yang di tuju para pendaki.

Siapa lagi kalau bukan mbok Yem, yang bernama asli Wakiyem, bahkan sudah tinggal menetap di Gunung Lawu sejak tahun 1980-an. Tak terasa umurnya pun sudah semakin senja beliau tetap setia dengan melayani para pendaki dan juga para penziarah di ketinggian diatas 3000 kaki.
Akhirnya tibalah kami di warung mbok Yem yang terkenal dengan jutek dan ketusnya, langsung kami memesan makanan khas mbok Yem "Sego Pecel plus Telor Ceplok". Mas Joko pun membayar semua pesanannya, maklumlah aku tak bisa bahasa Jawa sedangkan untuk berinteraksi dengan Mbok Yem harus memakai bahasa Jawa, beliau tak bisa memakai bahasa Indonesia.
Akhirnya setelah kami selesai menyantap masakan Mbok Yem sebagai icon Gunung Lawu, kami tetap berada di bedeng yang di dirikan Mbok Yem di samping warung, tujuannya memang untuk menampung pendaki yang mau menginap disitu dan tak dikenai tarif, namun terkadang pendaki memberikan uang secara sukarela kepada Mbok Yem.
Kebetulan ada anak kedua Mbok Yem sedang santai, iseng kami pun duduk-duduk bersamanya.
"Maaf nih pak numpang duduk disini.. "
"Nama Bapak siapa..? " tanyaku.
"Saelan... Saya anak kedua Mbok Yem"
"Ohhh... Emang bapak berapa saudara? " Endri pun tak mau kalah dalam bertanya.
"Kami semuanya empat saudara mas."
"Rokok.. Pak." ujar Mas Joko.
Pak Saelan pun mengambil rokok yang di tawarkan, lantas asap nikotin pun mulai mengepul di udara asri pegunungan.
"Disini penuh terus ya pak...? "
“Di sini nggak pernah sepi pendaki, Mas,” timpal Pak Saelan, pria berkumis itu.
“Apalagi kalau malam minggu, pendaki bisa mencapai 200-an orang. Ya mereka ada yang menginap di sini, dan lebih banyak mereka memilih mendirikan tenda,” sambung Pak Saelan.
"Nganu pak.. Itu gimana bawa stok bahan makanan dari bawah, kayanya ada terus ?"
“Ada orang yang mengirim bahan makanan ke sini, tiga kali dalam seminggu,” lanjut Pak Saelan sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
"Itu Si Mbok emang tinggal di sini terus pak? "
"Ya sehari-hari memang disini, mungkin dalam setahun, si mbok hanya turun gunung tiga kali. Saat Idul Fitri dan jika ada keluarga yang sedang punya hajat atau hari-hari besar. Biasanya kalau turun gunung paling lama cuma sepuluh hari mas.. ”
"Emang si mbok ga punya rumah lagi pak selain disini..?"
"Ada, cuma kan nyari rezekinya disini" kembali asap rokok di hembuskannya dan ia melanjutkan perkataannya "Banyak orang mengira si mbok hanya punya gubuk reyot ini. Tapi di bawah (Kecamatan Poncol) si mbok punya rumah mewah, Mas. Semua itu ya dari hasil jualan di sini, ya kami-kami ini yang nempati kalau lagi tak membantu si mbok, tapi sekarang saya saja yang menemani si mbok”
"Loh kenapa pak"
"Yang lain sudah sibuk mas, ada yang jadi lurah di Gresik, dua lagi dah jadi orang sugih mas pengusaha di Boyolali dan Solo"
"Wahh, sepertinya pada sukses ya mas kok si mbok ga berhenti saja jualan disini mas" tanya mas Joko kembali.
"Si mbok nya yang ga mau..!! Padahal anakku cucunya si mbok dah ada yang jadi sarjana" ucapnya datar.
"Kok aku salut ya pak sama si mbok, di kota banyak orang kere malah ngaku kaya..kadang rumah aja ngontrak gayanya sudah seperti bos minyak... .beda pak sama di desa"
"Biasalah mas, kota itu memang keras makanya aku ndak mau disana lebih nyaman disini mas, berteman dengan alam"

"Lah ini kalau mau ambil air buat minum para pendaki yang makan darimana si mbok sumber airnya ya Pak? "
"Ohhh.. Itu diambil dari mata air Sendang Drajat mas, yang letaknya di Basecamp Pos 5, dari arah Cemoro sewu jauhnya dari pondok si Mbok kira-kira selama 10 menitlah, biasanya sih saya yang ambil mas.. "
"Kalau si mbok ada pengalaman mistis ga ya pak.. "
"“Kalau soal pengalaman mistis, selama ini kami tidak mengalami yang aneh-aneh, mungkin karena sudah biasa disini mungkin ya mas”
"Itu si mbok masaknya cuma sego pecel tok ya pak ? "
"Ga juga mas, Kalau saat Suro, si mbok masak soto, Mas"
"Ohhh gitu.."
"Duhh, maaf nih pak jadi banyak tanya..!! "Mas Joko nampak tak enak.
"Ahh.. Santai aja mas, ohh..iya makasih rokoknya kayanya saya tinggal dulu ya, kalian santai aja disini terkadang cuaca juga ga bisa di prediksi"
"Ohh.. Iya pak terima kasih.. "
Aku pun menarawang masuk ke alam pikiranku, terkadang mata kita itu dapat menipu, kita selalu memandang rendah orang-orang desa seakan mereka miskin, tidak mampu bahkan hidup dalam susah tapi fakta sebenarnya terbalik orang kota lebih miskin terutama mereka yang berada di gang-gang sempit yang seringkali kebanjiran bila turun hujan, hidup mereka berpacu dengan waktu tingkat stress mereka tinggi hingga terkadang lupa untuk "Bahagia"
Kami pun berempat kini saling bercerita, entah itu masalah politik yang sedang tak menentu, entah itu masalah wanita karena Endri jomblo abadi bahkan bercerita tentang hal yang tak penting.

Sedang asiknya bercerita sambil menatap alam di atas lawu ini, Fajar meminta kami kembali ke arah tenda. Tapi belum sempat kami berjalan,
"Fajar... "
Ada lima orang yang berjalan ke arah kami. Kami menoleh kepada mereka sambil memberikan senyum, ini sepertinya teman-teman Fajar terlihat wajah senang mereka yang menemukan fajar sudah kembali.
Mereka langsung memeluk Fajar, nampak rona ceria ketiga kawan Fajar.
"Syukurlah kowe selamat Jar.. "
"Iya ini yang nolongin aku" Fajar menunjuk pada kami bertiga
"Andre, Iwan, Anto... " ucap mereka kala berkenalan dengan kami.
"Pak Sugeng, Mas Danu" Itulah dua orang terakhir yang bisa dikatakan bukan bagian dari teman Fajar, kami juga tak tahu siapa mereka.
Setelah mereka berpelukan, aku dan kedua temanku pun akhirnya duduk di pelataran warung Mbok Yem dengan ketiga teman Fajar untuk menceritakan bagaimana kisah hilangnya Fajar.
Salah satu dari mereka pun bercerita, sebuah kisah yang bisa terjadi pada siapa saja.
Andre pun mulai membuka suara, kami pun menyimak dari penjelasan Andre. Wajahnya seakan mengingat kejadian tersebut, aku seperti tersentak nampaknya hilangnya Fajar terkesan bukan hari ini namun kami tak ingin menyela apa yang di ceritakan Andre.
"Sebenarnya kamu dah hilang selama 3 hari Jar.. "
Fajar tersentak, kami pun juga kaget dengan apa yang di katakan Andre.
"Lalu, mengapa tenda masih berdiri di sana ?"
"Sengaja kami tinggalkan siapa tahu kamu kembali.."
Andre pun melanjutkan ceritanya,
"Kamu ingat setelah habis makan kita tertidur, dan rencana summit pagi maka aku sudah menyetel jam untuk alarm. Sekitar jam 4 pagi alarm menyala namun baru aku saja yang bangun, kumatikan alarm lalu kulihat kamu ga ada Jar.
Aku pikir kamu di luar namun, ketika aku keluar hanya suara angin yang cukup kencang menderu di telinga. Sedangkan tak ada tanda-tanda orang atau pendaki di sekitar sini, tenda pendaki lain pun tidak menampakkan kehidupan aku sempat berteriak namun sia-sia suaraku seperti larut dibawa angin. Aku mulai panik lalu membangunkan teman-teman yang masih tertidur.
"Andre, Iwan, Anto bangun-bangun"
"Ada apa sih Ndre, kan pagi masih lama" jawab Iwan malas
"Fajar ga ada Wan" jawabku
"Apa????" hampir serentak mereka menjawab
Akhirnya ditengah kegelapan subuh hari kami bertiga sibuk dan bingung mencari keberadaan kamu Jar. Bahkan beberapa warung dan kemah-kemah kami sudah datangi. Namun lagi-lagi kamu tak kunjung kami temukan. Bahkan sampai pagi menjelang, kamu belum juga bisa ditemukan. Kami memberitahukan pendaki lain bila teman kami hilang akhirnya saat itu pesan dari mulut ke mulut, dan berita adanya orang hilang santer terdengar diantara para pendaki tapi itu 3 hari yang lalu.
Saat itu kami panik dan bingung, karena untuk melapor ke tim pengawas kita ini pendaki ilegal karena naik dari tengah jalur Jogorogo-Ngawi, sudah pasti tim sar pun tak akan memperdulikan orang hilang yang tak ada catatannya di pos mereka. Kami tahu itu resiko pendakian secara ilegal, maka kami segera meluncur kembali ke bawah dari tempat kami naik dan mencari bantuan penduduk desa yang bisa menerawang dimana kamu berada, dan kami pun di bantu oleh Pak sugeng dan Mas Danu"
"Iya kami menerawang bahwa hari ini kamu akan kembali ke Hargo Dalem" ujar Pak Sugeng.
"Terima kasih pak.." ucap Fajar.
"Kami kemarin harusnya sudah naik kembali, tapi mas Danu melarang karena jika kamu tidak mau makan atau minum yang mereka suguhkan, pasti kamu bisa kembali kalau tidak maka bisa di pastikan kamu akan berada di alam lain selamanya"
Dengan agak terbatuk Mas Danu menjelaskan, "Hee..emm, benar kata kawanmu sebab, di sini ini tempat kamu mendengar suara riuh seperti orang transaksi namanya Pasar Dieng nak Fajar" ujar mas Danu
"Pasar Dieng ini disebut juga pasar setan, karena di sini memang terdapat sebuah pasar bagi para lelembut mungkin nak Fajar lebih tahu karena sudah merasakannya"
"Makanya kalau kalian disini tiba-tiba mendengar ada suara yang menanyakan mau beli apa?, segera saja lemparkan beberapa uang dan petiklah beberapa daun atau rumput yang ada" tambah mas Danu.
Hampir seluruh dari kami yang berada disana manggut-manggut mendengar penjelasan mas Danu.
"Dan terima kasih kepada kalian karena sudah menyelamatkan Fajar, terutama kamu.. " mas Danu menunjukku.
"Aku tahu dari auramu kau bukan orang biasa ada sesuatu dalam dirimu, tapi aku tak bisa mengatakannya karena orang yang menjagamu melarang agar aku mengatakannya semoga kamu bisa menghadapinya nanti.. "
Kedua kawanku pun nampak kaget ada apa dengan diriku, tapi mereka sudah tahu dengan informasi dari mas Jati bahwa kundaliniku telah bangkit.
Setelah pembicaraan usai, kami dan rombongan Fajar berpisah dan mereka pun memberikan tenda yang ditinggalkannya kepada kami. Namun sebelum mereka pergi Fajar menarikku ada yang ingin ia sampaikan.
"Ada apa Jar.. "
"Kau kenal Jatayu..? "
"Ya, aku ingat tapi baru kenal sekilas"
"Sebenarnya ceritaku tadi belum tuntas, aku tak enak menceritakan di depan kawanmu"
"Memangnya ada apa Jar? "
"Sebelum melewati pohon sejajar itu, saya kembali bertemu dengan gadis yang melarangku makan. Dia menitipkan sesuatu untukmu.. " Fajarpun merogoh kantongnya.
"Apa maksudnya Jar..? "
"Jujur saya juga ga tahu, yang jelas ia berkata nanti ada orang yang akan menemuimu setelah aku pulang namanya "Doni", ia langsung memberikan benda ini"
Fajar memberikan sebuah benda di tanganku."Simpanlah...Don dan terima kasih aku pulang dulu ya"
Belum sempat aku berkata, ia sudah memelukku dan pamit rombongan teman-teman Fajar dan kedua penduduk desa yang bisa menerawang pun menghilang dari jalan-jalan kecil di Hargo Dalem.
Kubuka kembali tanganku, "Apa Ini"
#Bersambung
"Jlegerrr.. "
Kilat menyambar tepat satu garis lurus, lalu setelah guntur itu menghujam bumi disertai suara yang menggelegar perlahan cuaca pun kembali tenang, rintik hujan pun berhenti, sinar mentari kembali datang hanya 5 menit cuaca pun berubah kembali seakan alam sedang memberikan tanda.

Burung jalak gading yang mengikuti kami sedari tadi pun kembali hinggap di pundakku lalu mematuk-matuk punggung, setelah itu seakan mengucapkan salam perpisahan ia pun terbang jauh diantara kerindangan pepohonan. Sudah lebih dari 2 jam ternyata kami mendengar cerita Fajar, tak terasa waktu begitu cepat ketika kami sedang menunggu kedatangan kawan-kawan mereka.
Wajah Fajar seakan ada kelegaan ketika ia sudah selesai cerita. Tak lama setelah habis rokok di tangan, perut kami seakan minta di isi. Bunyi cacing di dalam perut saling bersahutan hingga perut Mas Joko pun mengeluarkan suara.
"Sepertinya kita makan dulu yuk.." ucap Mas Joko.
"Sebentar mas aku ambil uang dulu.. " Fajar menimpali.
Dibukanya tenda yang dari tadi belum sempat kami masuki, dan Fajar tercenggang ternyata tenda itu tak ada barang-barang kawannya dan juga tas dirinya pun menghilang.
"Loh kok tas ku ga ada.. ?" Fajar semakin bingung.
"Mungkin kawanmu sengaja membawa tasmu agar tak ada yang iseng dengan barangmu Jar, buktinya mereka tinggalkan tendanya di sini. Mereka yakin kalau sewaktu-waktu kamu bisa kembali kesini" ujarku.
"Yo wes sampean tak talangi dolo.. " ujar Mas Joko.
"Yuk lah aku juga sudah lapar nih.. " ujar Endri.
Kami pun segera beranjak dari tempat kami duduk, kemudian kembali menuju jalan yang kami lewati tadi menuju warung tertinggi di Indonesia. Warung yang buka 24 jam, warung legenda yang di tuju para pendaki.

Siapa lagi kalau bukan mbok Yem, yang bernama asli Wakiyem, bahkan sudah tinggal menetap di Gunung Lawu sejak tahun 1980-an. Tak terasa umurnya pun sudah semakin senja beliau tetap setia dengan melayani para pendaki dan juga para penziarah di ketinggian diatas 3000 kaki.
Akhirnya tibalah kami di warung mbok Yem yang terkenal dengan jutek dan ketusnya, langsung kami memesan makanan khas mbok Yem "Sego Pecel plus Telor Ceplok". Mas Joko pun membayar semua pesanannya, maklumlah aku tak bisa bahasa Jawa sedangkan untuk berinteraksi dengan Mbok Yem harus memakai bahasa Jawa, beliau tak bisa memakai bahasa Indonesia.
Akhirnya setelah kami selesai menyantap masakan Mbok Yem sebagai icon Gunung Lawu, kami tetap berada di bedeng yang di dirikan Mbok Yem di samping warung, tujuannya memang untuk menampung pendaki yang mau menginap disitu dan tak dikenai tarif, namun terkadang pendaki memberikan uang secara sukarela kepada Mbok Yem.
Kebetulan ada anak kedua Mbok Yem sedang santai, iseng kami pun duduk-duduk bersamanya.
"Maaf nih pak numpang duduk disini.. "
"Nama Bapak siapa..? " tanyaku.
"Saelan... Saya anak kedua Mbok Yem"
"Ohhh... Emang bapak berapa saudara? " Endri pun tak mau kalah dalam bertanya.
"Kami semuanya empat saudara mas."
"Rokok.. Pak." ujar Mas Joko.
Pak Saelan pun mengambil rokok yang di tawarkan, lantas asap nikotin pun mulai mengepul di udara asri pegunungan.
"Disini penuh terus ya pak...? "
“Di sini nggak pernah sepi pendaki, Mas,” timpal Pak Saelan, pria berkumis itu.
“Apalagi kalau malam minggu, pendaki bisa mencapai 200-an orang. Ya mereka ada yang menginap di sini, dan lebih banyak mereka memilih mendirikan tenda,” sambung Pak Saelan.
"Nganu pak.. Itu gimana bawa stok bahan makanan dari bawah, kayanya ada terus ?"
“Ada orang yang mengirim bahan makanan ke sini, tiga kali dalam seminggu,” lanjut Pak Saelan sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
"Itu Si Mbok emang tinggal di sini terus pak? "
"Ya sehari-hari memang disini, mungkin dalam setahun, si mbok hanya turun gunung tiga kali. Saat Idul Fitri dan jika ada keluarga yang sedang punya hajat atau hari-hari besar. Biasanya kalau turun gunung paling lama cuma sepuluh hari mas.. ”
"Emang si mbok ga punya rumah lagi pak selain disini..?"
"Ada, cuma kan nyari rezekinya disini" kembali asap rokok di hembuskannya dan ia melanjutkan perkataannya "Banyak orang mengira si mbok hanya punya gubuk reyot ini. Tapi di bawah (Kecamatan Poncol) si mbok punya rumah mewah, Mas. Semua itu ya dari hasil jualan di sini, ya kami-kami ini yang nempati kalau lagi tak membantu si mbok, tapi sekarang saya saja yang menemani si mbok”
"Loh kenapa pak"
"Yang lain sudah sibuk mas, ada yang jadi lurah di Gresik, dua lagi dah jadi orang sugih mas pengusaha di Boyolali dan Solo"
"Wahh, sepertinya pada sukses ya mas kok si mbok ga berhenti saja jualan disini mas" tanya mas Joko kembali.
"Si mbok nya yang ga mau..!! Padahal anakku cucunya si mbok dah ada yang jadi sarjana" ucapnya datar.
"Kok aku salut ya pak sama si mbok, di kota banyak orang kere malah ngaku kaya..kadang rumah aja ngontrak gayanya sudah seperti bos minyak... .beda pak sama di desa"
"Biasalah mas, kota itu memang keras makanya aku ndak mau disana lebih nyaman disini mas, berteman dengan alam"

"Lah ini kalau mau ambil air buat minum para pendaki yang makan darimana si mbok sumber airnya ya Pak? "
"Ohhh.. Itu diambil dari mata air Sendang Drajat mas, yang letaknya di Basecamp Pos 5, dari arah Cemoro sewu jauhnya dari pondok si Mbok kira-kira selama 10 menitlah, biasanya sih saya yang ambil mas.. "
"Kalau si mbok ada pengalaman mistis ga ya pak.. "
"“Kalau soal pengalaman mistis, selama ini kami tidak mengalami yang aneh-aneh, mungkin karena sudah biasa disini mungkin ya mas”
"Itu si mbok masaknya cuma sego pecel tok ya pak ? "
"Ga juga mas, Kalau saat Suro, si mbok masak soto, Mas"
"Ohhh gitu.."
"Duhh, maaf nih pak jadi banyak tanya..!! "Mas Joko nampak tak enak.
"Ahh.. Santai aja mas, ohh..iya makasih rokoknya kayanya saya tinggal dulu ya, kalian santai aja disini terkadang cuaca juga ga bisa di prediksi"
"Ohh.. Iya pak terima kasih.. "
Aku pun menarawang masuk ke alam pikiranku, terkadang mata kita itu dapat menipu, kita selalu memandang rendah orang-orang desa seakan mereka miskin, tidak mampu bahkan hidup dalam susah tapi fakta sebenarnya terbalik orang kota lebih miskin terutama mereka yang berada di gang-gang sempit yang seringkali kebanjiran bila turun hujan, hidup mereka berpacu dengan waktu tingkat stress mereka tinggi hingga terkadang lupa untuk "Bahagia"
Kami pun berempat kini saling bercerita, entah itu masalah politik yang sedang tak menentu, entah itu masalah wanita karena Endri jomblo abadi bahkan bercerita tentang hal yang tak penting.

Sedang asiknya bercerita sambil menatap alam di atas lawu ini, Fajar meminta kami kembali ke arah tenda. Tapi belum sempat kami berjalan,
"Fajar... "
Ada lima orang yang berjalan ke arah kami. Kami menoleh kepada mereka sambil memberikan senyum, ini sepertinya teman-teman Fajar terlihat wajah senang mereka yang menemukan fajar sudah kembali.
Mereka langsung memeluk Fajar, nampak rona ceria ketiga kawan Fajar.
"Syukurlah kowe selamat Jar.. "
"Iya ini yang nolongin aku" Fajar menunjuk pada kami bertiga
"Andre, Iwan, Anto... " ucap mereka kala berkenalan dengan kami.
"Pak Sugeng, Mas Danu" Itulah dua orang terakhir yang bisa dikatakan bukan bagian dari teman Fajar, kami juga tak tahu siapa mereka.
Setelah mereka berpelukan, aku dan kedua temanku pun akhirnya duduk di pelataran warung Mbok Yem dengan ketiga teman Fajar untuk menceritakan bagaimana kisah hilangnya Fajar.
Salah satu dari mereka pun bercerita, sebuah kisah yang bisa terjadi pada siapa saja.
Andre pun mulai membuka suara, kami pun menyimak dari penjelasan Andre. Wajahnya seakan mengingat kejadian tersebut, aku seperti tersentak nampaknya hilangnya Fajar terkesan bukan hari ini namun kami tak ingin menyela apa yang di ceritakan Andre.
"Sebenarnya kamu dah hilang selama 3 hari Jar.. "
Fajar tersentak, kami pun juga kaget dengan apa yang di katakan Andre.
"Lalu, mengapa tenda masih berdiri di sana ?"
"Sengaja kami tinggalkan siapa tahu kamu kembali.."
Andre pun melanjutkan ceritanya,
"Kamu ingat setelah habis makan kita tertidur, dan rencana summit pagi maka aku sudah menyetel jam untuk alarm. Sekitar jam 4 pagi alarm menyala namun baru aku saja yang bangun, kumatikan alarm lalu kulihat kamu ga ada Jar.
Aku pikir kamu di luar namun, ketika aku keluar hanya suara angin yang cukup kencang menderu di telinga. Sedangkan tak ada tanda-tanda orang atau pendaki di sekitar sini, tenda pendaki lain pun tidak menampakkan kehidupan aku sempat berteriak namun sia-sia suaraku seperti larut dibawa angin. Aku mulai panik lalu membangunkan teman-teman yang masih tertidur.
"Andre, Iwan, Anto bangun-bangun"
"Ada apa sih Ndre, kan pagi masih lama" jawab Iwan malas
"Fajar ga ada Wan" jawabku
"Apa????" hampir serentak mereka menjawab
Akhirnya ditengah kegelapan subuh hari kami bertiga sibuk dan bingung mencari keberadaan kamu Jar. Bahkan beberapa warung dan kemah-kemah kami sudah datangi. Namun lagi-lagi kamu tak kunjung kami temukan. Bahkan sampai pagi menjelang, kamu belum juga bisa ditemukan. Kami memberitahukan pendaki lain bila teman kami hilang akhirnya saat itu pesan dari mulut ke mulut, dan berita adanya orang hilang santer terdengar diantara para pendaki tapi itu 3 hari yang lalu.
Saat itu kami panik dan bingung, karena untuk melapor ke tim pengawas kita ini pendaki ilegal karena naik dari tengah jalur Jogorogo-Ngawi, sudah pasti tim sar pun tak akan memperdulikan orang hilang yang tak ada catatannya di pos mereka. Kami tahu itu resiko pendakian secara ilegal, maka kami segera meluncur kembali ke bawah dari tempat kami naik dan mencari bantuan penduduk desa yang bisa menerawang dimana kamu berada, dan kami pun di bantu oleh Pak sugeng dan Mas Danu"
"Iya kami menerawang bahwa hari ini kamu akan kembali ke Hargo Dalem" ujar Pak Sugeng.
"Terima kasih pak.." ucap Fajar.
"Kami kemarin harusnya sudah naik kembali, tapi mas Danu melarang karena jika kamu tidak mau makan atau minum yang mereka suguhkan, pasti kamu bisa kembali kalau tidak maka bisa di pastikan kamu akan berada di alam lain selamanya"
Dengan agak terbatuk Mas Danu menjelaskan, "Hee..emm, benar kata kawanmu sebab, di sini ini tempat kamu mendengar suara riuh seperti orang transaksi namanya Pasar Dieng nak Fajar" ujar mas Danu
"Pasar Dieng ini disebut juga pasar setan, karena di sini memang terdapat sebuah pasar bagi para lelembut mungkin nak Fajar lebih tahu karena sudah merasakannya"
"Makanya kalau kalian disini tiba-tiba mendengar ada suara yang menanyakan mau beli apa?, segera saja lemparkan beberapa uang dan petiklah beberapa daun atau rumput yang ada" tambah mas Danu.
Hampir seluruh dari kami yang berada disana manggut-manggut mendengar penjelasan mas Danu.
"Dan terima kasih kepada kalian karena sudah menyelamatkan Fajar, terutama kamu.. " mas Danu menunjukku.
"Aku tahu dari auramu kau bukan orang biasa ada sesuatu dalam dirimu, tapi aku tak bisa mengatakannya karena orang yang menjagamu melarang agar aku mengatakannya semoga kamu bisa menghadapinya nanti.. "
Kedua kawanku pun nampak kaget ada apa dengan diriku, tapi mereka sudah tahu dengan informasi dari mas Jati bahwa kundaliniku telah bangkit.
Setelah pembicaraan usai, kami dan rombongan Fajar berpisah dan mereka pun memberikan tenda yang ditinggalkannya kepada kami. Namun sebelum mereka pergi Fajar menarikku ada yang ingin ia sampaikan.
"Ada apa Jar.. "
"Kau kenal Jatayu..? "
"Ya, aku ingat tapi baru kenal sekilas"
"Sebenarnya ceritaku tadi belum tuntas, aku tak enak menceritakan di depan kawanmu"
"Memangnya ada apa Jar? "
"Sebelum melewati pohon sejajar itu, saya kembali bertemu dengan gadis yang melarangku makan. Dia menitipkan sesuatu untukmu.. " Fajarpun merogoh kantongnya.
"Apa maksudnya Jar..? "
"Jujur saya juga ga tahu, yang jelas ia berkata nanti ada orang yang akan menemuimu setelah aku pulang namanya "Doni", ia langsung memberikan benda ini"
Fajar memberikan sebuah benda di tanganku."Simpanlah...Don dan terima kasih aku pulang dulu ya"
Belum sempat aku berkata, ia sudah memelukku dan pamit rombongan teman-teman Fajar dan kedua penduduk desa yang bisa menerawang pun menghilang dari jalan-jalan kecil di Hargo Dalem.
Kubuka kembali tanganku, "Apa Ini"
#Bersambung
Diubah oleh .nona. 22-05-2019 10:26
regmekujo dan 26 lainnya memberi reputasi
27

