- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#17
Chapter 8 : Crossing Over
Spoiler for :
"Ini sungguh gila." Kata salah satu dari enam orang yang sedang duduk di cabang sebuah pohon mahoni tua.
"Aku tidak pernah mendengar kau mengeluarkan gagasan yang lebih baik dari ini." Ucap salah seorang wanita muda, yang mengenakan kacamata night vission.
"Ayolah, Joe. Maddie tidak pernah mencelakakan kita selama ini." Kata orang ketiga, yang bernama Eric. "Dia tahu apa yang harus dilakukannya."
Orang pertama yang berbicara, adalah seorang pemain rugby, yang juga dikenal oleh teman-temannya sebagai 'blockade'. Joe berkata sambil memutar matanya, "bisakah aku mendapatkan gagasan dari seseorang yang bukan anggota Maddie-Fan-Club?"
"Bisakah kau menutup mulutmu?" Balas Tyler, seorang perwira polisi yang juga adalah kekasih Maddie. "Dan Eric, berhentilah menjadi seorang cheerleaderuntuk pacarku. Atau aku akan menendang bokongmu itu dibawah sana."
Tyler menunjuk ke tanah hutan di bawah sana, yang anehnya dijauhi oleh kelinci, tupai, rakun, dan juga hewan hutan lain. Daerah yang ditunjuk oleh Tyler dipenuhi oleh lusinan zombie.
Lalu dimanakah makhluk-makhluk penghuni hutan yang dipenuhi Pinus dan oak ini? Kalian mungkin sudah tahu jawabannya.
Selama berhari-hari, kelompok kecil itu tengah dalam pelarian, akhirnya tiba di tepi hutan di Maine. Ketika kota kecil tempat tinggal mereka diserbu kawanan zombie, banyak dari penduduk dari negara yang kini dinamakan 'Pemakaman', mengungsi ke arah utara, dalam keadaan yang putus asa, untuk menemukan daerah yang lebih aman. Kabur dari negara ini menggunakan pesawat atau perahu tampaknya mustahil. Terima kasih kepada negara lain yang telah membentuk barikade di perbatasan, mencegah mereka untuk masuk. Dan kini tampaknya melewati perbatasan Mexico atau Kanada, dirasa lebih memungkinkan.
Memungkinkan bukan berarti dapat dilalui dengan mudah.
Pemerintah Mexico dan Kanada tetap bersikukuh untuk menjauhkan para Undead diluar perbatasan mereka, seperti negara-negara yang lain lakukan. Meskipun tidak ada untungnya dikelilingi oleh lautan sejauh ratusan mil sebagai penahan. Pada akhirnya, mereka menugaskan hampir setengah dari total keseluruhan pasukan untuk menjaga perbatasan, menempatkan ribuan meriam, dan juga menambatkan kawat berduri di pagar perbatasan. Ketika semuanya telah selesai dilakukan, melewati negara tetangga mereka ini--yang sebelumnya sangat mudah, kini menjadi sangat berbahaya, seperti menembus perbatasan Normandy, Circa 1944. Siapapun yang dengan berani dan cukup bodoh untuk mencoba melewati perbatasan ini, akan segera diberikan tembakan peringatan. Dan tentu saja, tidak akan ada dua kali tembakan peringatan.
Jangan lupakan para penembak jitu yang ditempatkan untuk menembak mati siapapun yang mencoba lewat dengan cara sembunyi-sembunyi.
Pada awalnya, para pengungsi dari 'Pemakaman' mencoba untuk melewati perbatasan dengan cara yang klasik, menggunakan mobil. Ratusan mobil, bis, SUV, yang terlihat diledakkan di dekat perbatasan, menjadi peringatan tak tertulis yang ampuh bagi siapa saja.
Mereka yang akhirnya dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan menghindari serangan zombie, telah belajar bagaimana caranya untuk bertahan hidup. Mereka harus menggunakan taktik militer untuk dapat berjalan melintasi perbatasan tanpa diketahui. Kelompok-kelompok kecil harus dibentuk untuk dapat melewati perbatasan pada saat malam tiba.
Sayangnya, nasib mereka tidak terlalu beruntung.
Sebagaimana Maddie, seorang polisi seperti Tyler, memeriksa barikade yang telah dipasangi kawat berduri. Tubuhnya bergidik ngeri ketika melihat ada potongan tubuh yang tersangkut kawat duri. Setengah tubuh bagian bawah telah habis dimangsa oleh zombie, hingga hanya terlihat tulangnya saja. Tidak salah lagi, Totem mengerikan ini sengaja dibuat untuk menakut-nakuti para penyusup yang nekat mencoba menerobos masuk ke wilayah Kanada.
Pemandangan yang mengerikan ini sudah pasti bukan dibuat untuk menakut-nakuti Maddie. Karena dia telah bersumpah pada dirinya sendiri--setelah menembak mati adik dan ibunya yang terkena infeksi, bahwa ia akan bertahan hidup, bagaimanapun caranya.
Di kejauhan, Maddie melihat ada ratusan tentara, yang mengenakan semacam baju pelindung dari kepala hingga kaki. Kadang-kadang terdengar suara tembakan yang memecah kesunyian malam. Satu atau lebih zombie akan roboh ke tanah, entah karena peluru yang bersarang di kepala, atau karena hancur ditembak oleh peluru berkaliber besar. Diantara para tentara, ia melihat ada lusinan senjata darat otomatis di atas tanah. Beberapa memang dipasang untuk menghancurkan pesawat terbang. Walaupun tidak ada yang cukup bodoh untuk melintasi perbatasan melalui udara akhir-akhir ini, karena para petugas berpatroli lebih sering di udara daripada di lautan. Sangat jarang ada pesawat yang berhasil mendarat dengan selamat.
Tiba-tiba wajah Maddie tersenyum senang. Ada sebuah celah diantara barikade kawat berduri, yang baru saja tertimpa oleh sebuah pohon besar. Tentara terlihat berkumpul di titik itu, saat para pekerja menyingkirkan pohon yang baru saja tumbang. Dengan cepat zombie-zombie itu berkerumun. Suara tembakan menggema ke seluruh hutan, diiringi dengan suara teriakan yang kadang terdengar.
Maddie menurunkan kacamata night-visionnya, lalu merangkak perlahan kembali menuju kearah anggota timnya. "Oke, kita baru saja mendapatkan jalan masuknya." Bisik Maddie, lalu menjelaskan kepada seluruh anggota tim, apa yang baru saja ia lihat tadi.
"Dan kau mau kita menerobos masuk lewat sana?" Tanya Joe. "Melewati kawanan zombie dan para pasukan itu? Dan siapa orang idiot yang menyuruhmu untuk mengatur kita?"
"Ayahku, setelah ia terinfeksi dan aku yang harus menembaknya tepat di kepala." Jawab Maddie, seolah tanpa ekspresi.
Joe lalu menundukkan kepalanya, tidak dapat menemukan kata-kata untuk membalas. Hanya gumaman permohonan maaf yang keluar dari mulutnya. Polisi wanita itu lalu berbalik dan menatap kearah kedua anggota kelompok acak-acakan yang tersisa, Sean dan Jessica. Keduanya mengenakan jaket kulit berwarna hitam, lengkap dengan make-up hitam, dan muka yang penuh tindikan dimana-mana. Meskipun berpenampilan demikian, mereka berdua adalah orang yang cukup berani. Maddie dan Tyler menemukan mereka saat sedang menuju ke Utara, terperangkap di dalam mobil Van yang dikerumuni zombie. Pada awalnya, kedua polisi itu akan membiarkan takdir yang menentukan nasib mereka, namun sesuatu di dalam jiwa Maddie mengganggunya saat ia memutuskan untuk pergi. Dan pada akhirnya, sumpah yang ia ucapkan saat menerima lencana itulah yang mengambil alih.
Eric dan Joe adalah mahasiswa salah satu kampus di negara bagian yang diyakini merupakan awal dimana wabah mematikan ini berasal. Merupakan sebuah keajaiban kecil saat mereka dikepung oleh kawanan zombie, lalu Tyler datang menyelamatkan mereka saat sedang mencari makanan dalam sebuah cafe pinggir jalan. Tidak ada yang saling mempercayai dalam grup ini. Hanya janji untuk dapat melintasi perbatasan yang membuat mereka tetap berada di dalam grup.
Sean mengangguk kepada Maddie, "Apapun rencanamu, kami akan tetap ikut." Ucapnya. Matanya tak lepas memandangi ke arah hutan, dimana para zombie berada. "Cukup bawa kami keluar dari sini. Aku ingin tidur. Mataku ingin sekali terpejam."
Raut wajah Maddie melembut sejenak. Dua anak-punk yang keduanya berusia tidak lebih dari tujuh belas tahun. Mereka lebih takut pada zombie daripada tidak tidur selama beberapa hari. Pil kafein dapat membuat mereka tetap terjaga, namun kantung mata tebal disertai gerakan mereka yang terhuyung menandakan mereka tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. "Baiklah, ini yang aku rencanakan. Dengan adanya pagar berduri yang rusak, akan memudahkan kita berjalan melewatinya. Setelah kita berhasil melewati pagar itu, kita akan mengunjungi kenalanku yang ada di Kanada. Dia dapat memberikan kita beberapa identitas palsu."
"Apakah orang ini dapat kita percaya?" Tanya Tyler.
"Tidak. Tapi tidak ada satupun dari kita yang akan bertahan disini." Jawab Maddie sambil memegang perutnya.
Bersama-sama, mereka meluncur menuruni dahan pohon. Dengan cepat mereka berjalan menembus hutan. Menghindari zombie yang ada sembari menghajar zombie yang mendekat menggunakan palu dan kapak. Ketika mereka sudah tiba di pagar berduri, mereka segera menunduk. Dengan mengintip dari balik pagar, Maddie dan Tyler melihat hanya ada beberapa lusin tentara, yang hanya menjaga pagar yang rusak tertimpa pohon, daripada berpatroli.
------
"Apakah menurutmu pagar ini akan segera diperbaiki oleh mereka?" Tanya salah seorang prajurit muda.
"Tenanglah nak, mereka tahu apa yang mereka kerjakan. Orang-orang Amerika itu tidak akan berani menembusnya. Zombie-zombie itu apalagi."
Tentara yang lain tertawa mendengarnya, merasa percaya diri atas kekuatan mereka. Semenjak mereka menutup perbatasan dan memutus hubungan mereka dengan pemerintah Amerika, tidak ada seorangpun yang pernah berhasil menginjakkan kakinya di tanah Kanada.
Tapi Maddie dan yang lainnya telah memutuskan. Kalaupun ia gagal untuk melewatinya, beberapa batang dinamit yang berada di pinggangnya akan membuat sedikit berantakan pagar kawat berduri yang mereka banggakan.
Maddie merogoh ke dalam tasnya, lalu menarik keluar sebuah tikus besar yang telah dibuat pingsan oleh obat bius. Obat biusnya sengaja dibuat agar tikus itu tidak menderita, sehingga dagingnya masih segar. Yang lain pun mengikutinya, lalu melemparkan tikus-tikus itu sejauh mungkin, tapi tetap jatuh dekat dari pagar.
Dalam dua puluh detik, para zombie berkerumun, lalu menyantap binatang malang itu. Suara geraman dan kunyahan, seketika terdengar menggema melalui pepohonan. Maddie memanjatkan doa untuk para tikus. Ia dapat dengan mudah membunuh seorang tentara, tapi membunuh tikus? Tikus-tikus itu tidak pernah berbuat salah, tapi disinilah mereka berakhir, dilemparkan menjadi sebuah hewan tumbal. Terasa tidak adil memang, menggunakan makhluk hidup lain, untuk bertahan hidup. Tetapi Maddie harus tetap hidup, jika bukan demi dirinya sendiri, maka demi kehidupan lain yang ada dalam tubuhnya.
Suara tawa para tentara seketika berhenti. Makian dan suara tembakan mengganti suara para zombie yang sedang berpesta, dan satu demi satu zombie-zombie itu roboh ke tanah. Gunting kawat dan pemotong besi bergerak cepat memotong pagar kawat berduri, dan dengan cekatan keenam anggota kelompok itu berhasil masuk melewati pagar perbatasan.
"Kau berhasil Maddie! Kau berhasil melakukannya!" Bisik Eric dengan antusias.
"Aku takkan dapat melakukannya tanpamu," balasnya. Maddie lalu mengeluarkan granat flashbang dan melemparkannya. Membutakan Eric, Sean, dan Jessica. Maddie dan sisanya segera bersembunyi di balik sesemakan, tepat ketika para tentara berdatangan.
Tiga orang itu menyaksikan kawan-kawannya sedang dipukuli tanpa ampun dari balik semak-semak. Eric menggenggam dompetnya, tangannya gemetar seperti daun, dan tetap gemetar setelah tubuhnya meregang nyawa ditembaki puluhan peluru panas.
Sean dan Jessica berlutut sambil memohon tiada henti. Air mata yang bercampur eyeliner menciptakan sungai hitam kesedihan di wajah mereka. Dan akhirnya mereka ditembak mati tepat di kepala.
Tiga orang yang tersisa bergerak masuk ke dalam hutan. Rencana ini dibuat dua hari yang lalu. Mereka tahu akan segera diburu ketika para tentara mengetahui barikade mereka telah dirusak dengan sengaja. Tapi dengan kematian anggota yang lain, mereka tidak akan membentuk tim pencari. Para tentara akan berpikir bahwa para penyelundup telah mereka dapatkan.
Setelah mereka berada jauh di dalam wilayah Kanada, Tyler menarik tangan Joe, "dengar bung. Bukan berarti kau setuju dengan rencana ini lantas aku dapat mempercayaimu. Sekali saja kali melakukan hal yang mencurigakan, akan kupatahkan lehermu dengan tanganku sendiri, mengerti?"
Joe menampik ancaman yang baru saja ia diterima. "Hey, yang memutuskan untuk meninggalkan mereka itu adalah ideku. Lagipula mereka hanya akan menjadi beban."
Maddie menengahi mereka berdua. "Sudah cukup, kalian berdua. Joe, aku mengerti bahwa tidak mudah melihat Eric mati seperti itu. Aku hanya ingin hatimu tidak akan berubah setelahnya."
Joe tersenyum menyeringai. "Hati? Maaf, sayang. Tapi aku bukanlah pria seperti itu. Memiliki hati dan perasaan dapat membuatmu terbunuh di hari dan jaman ini. Jadi, cepatlah kita pergi menemui kenalanmu untuk mendapatkan identitas palsu."
Tyler hanya dapat menatap mantan pemain rugby itu dengan pandangan tidak nyaman. "Orang ini sudah gila. Kita tak seharusnya mengajak dia pergi bersama kita."
"Tidak usah berdebat, temannya lah yang telah membuat kita bisa memulai hidup yang baru disini. Pikirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka." Maddie membalas.
Tyler menjawab dengan anggukan, tepat saat ia menyadari bahwa dinamitnya telah hilang. "Hey, dimana dinamitnya?" Tanya Tyler sambil mencari di sekitar.
"Kutinggalkan disana." Jawab Maddie sambil menunjuk ke arah di belakangnya.
Tyler melihat kearah yang ditunjuk oleh Maddie. "Mengapa kau melakukannya?"
Suara ledakan di kejauhan diiringi suara teriakan kepanikan menjadi jawabannya. "Untuk membuka pagar sialan itu menjadi pagar prasmanan. Ucap Maddie. "Para zombie itu ingin menguasai sebuah negara? Maka biarkan mereka melakukannya."
Maddie memeriksa hutan hijau di sekitarnya, lalu mendapati cahaya kemerlap kota di kejauhan. "Kita baru saja menemukan kota baru untuk bisa kita panggil rumah. Ayo, kita pergi."
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas