- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#99
PART 10
Quote:
IRAMA musik lembut mengalun dengan nuansa romantis. Malam itu, Sky Garden Resto dihibur oleh permainan piano tunggal yang dimainkan oleh seorang pianis wanita berwajah oriental. Para tamu menikmatinya sambil menikmati hidangan dan diselingi perbincangan pelan.
Mia masuk ke resto itu dengan tenang. Sekalipun hatinya diliputi keresahan karena kejadian ganjil yang ia alami tadi malam, namun ia bisa menutupi dengan penampilan yang kalem. Ia langsung menuju ke sebuah meja kosong yang terletak di pojok ruangan. Seorang pelayan lelaki berusia sekitar dua puluhan tahun mengenakan kemeja putih dengan setelan celana panjang hitam mendekatinya. Senyum sang pelayan adalah senyum keramahan penyambutan tamu dan langganan.
"Bisa saya bantu ?”, sembari mengangsurkan buku menu yang dipegangnya.
Mia menyambut buku itu, sembari berkata : “ Saya minta orange juice saja dan sementara biar saya lihat dan baca dulu menu di resto ini “
“ Dan satu lagi saya sedang menunggu seorang kerabat jauh di resto ini “
“ Oh, baiklah. Tunggu sebentar lagi pesanan akan datang dan kalau boleh tahu siapa nama saudara jauh anda? Karena biasanya kalau ada acara pertemuan disini ada agenda yang sudah kami catat di buku “
“ Parman”, Mia menjawab pendek sembari matanya menjelajahi buku menu yang ada di tangannya.
“ Sebentar akan kami cek di daftar buku agenda “
Pelayan itu membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan dan sebentar kemudian berlalu dari hadapan Mia. Bartender itu segera pergi ke meja aiphone. Ia bicara sebentar, entah apa yang dibicarakan. Mia menunggu sambil memandangi wajah-wajah tamu yang hadir malam itu. Buku menu yang tadi di bolak – balik sudah ia geletakkan di atas meja. Tampaknya tidak ada satu menu pun yang menggugah selera. Pandangannya menyapu para tamu yang hadir rata -rata didominasi oleh anak –anak muda dengan para pasangannya masing –masing.
Tidak berapa lama pelayan tadi datang lagi mendekatinya dan bicara dengan sopan.
"Maaf, apakah anda yang bernama Mia?"
"Ya, benar. Saya Mia!"
"Ooh, kalau begitu.... Anda ditunggu Pak Parman di ruangan VIP IV."
"Di mana ruang VIP IV itu?"
"Anda bisa melewati jalanan menuju toilet itu. Sebelum sampai pojok, ada pintu berkaca buram. Masuk saja. Itu ruangan VIP VI resto kami ."
"Oo, jadi Pak Parman sudah datang kesini?".
"Benar. Baru sekitar lima belas menit yang lalu “
Mia manggut-manggut dengan gumam lirihnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Mia pun melangkah mengikuti petunjuk pelayan tadi. Hatinya sempat bertanya –tanya, tidak biasanya Parman bersikap seformal ini. Sangat aneh. Tapi perasaan seperti itu berhasil ditenangkan sebelum ia mengetuk pintu sebuah ruangan berkaca buram.
Mia masuk ke resto itu dengan tenang. Sekalipun hatinya diliputi keresahan karena kejadian ganjil yang ia alami tadi malam, namun ia bisa menutupi dengan penampilan yang kalem. Ia langsung menuju ke sebuah meja kosong yang terletak di pojok ruangan. Seorang pelayan lelaki berusia sekitar dua puluhan tahun mengenakan kemeja putih dengan setelan celana panjang hitam mendekatinya. Senyum sang pelayan adalah senyum keramahan penyambutan tamu dan langganan.
"Bisa saya bantu ?”, sembari mengangsurkan buku menu yang dipegangnya.
Mia menyambut buku itu, sembari berkata : “ Saya minta orange juice saja dan sementara biar saya lihat dan baca dulu menu di resto ini “
“ Dan satu lagi saya sedang menunggu seorang kerabat jauh di resto ini “
“ Oh, baiklah. Tunggu sebentar lagi pesanan akan datang dan kalau boleh tahu siapa nama saudara jauh anda? Karena biasanya kalau ada acara pertemuan disini ada agenda yang sudah kami catat di buku “
“ Parman”, Mia menjawab pendek sembari matanya menjelajahi buku menu yang ada di tangannya.
“ Sebentar akan kami cek di daftar buku agenda “
Pelayan itu membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan dan sebentar kemudian berlalu dari hadapan Mia. Bartender itu segera pergi ke meja aiphone. Ia bicara sebentar, entah apa yang dibicarakan. Mia menunggu sambil memandangi wajah-wajah tamu yang hadir malam itu. Buku menu yang tadi di bolak – balik sudah ia geletakkan di atas meja. Tampaknya tidak ada satu menu pun yang menggugah selera. Pandangannya menyapu para tamu yang hadir rata -rata didominasi oleh anak –anak muda dengan para pasangannya masing –masing.
Tidak berapa lama pelayan tadi datang lagi mendekatinya dan bicara dengan sopan.
"Maaf, apakah anda yang bernama Mia?"
"Ya, benar. Saya Mia!"
"Ooh, kalau begitu.... Anda ditunggu Pak Parman di ruangan VIP IV."
"Di mana ruang VIP IV itu?"
"Anda bisa melewati jalanan menuju toilet itu. Sebelum sampai pojok, ada pintu berkaca buram. Masuk saja. Itu ruangan VIP VI resto kami ."
"Oo, jadi Pak Parman sudah datang kesini?".
"Benar. Baru sekitar lima belas menit yang lalu “
Mia manggut-manggut dengan gumam lirihnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Mia pun melangkah mengikuti petunjuk pelayan tadi. Hatinya sempat bertanya –tanya, tidak biasanya Parman bersikap seformal ini. Sangat aneh. Tapi perasaan seperti itu berhasil ditenangkan sebelum ia mengetuk pintu sebuah ruangan berkaca buram.
Quote:
Hampir saja Mia terhenyak ketika seorang pemuda membukakan pintu itu dengan senyum menawan. Pemuda yang baru berusia sekitar 27 tahun itu bertubuh tinggi, berbadan tegap dengan rambut panjang sebahu yang dibiarkan tergerai.
"Masuklah jangan bengong saja di situ!" tegur seorang lelaki dari dalam ruangan. Dan suara itu sangat ia kenali. Suara Parman.
Seorang lelaki dengan jaket kulit berwarna hitam melebarkan senyumannya ketika melihat Mia mulai berjalan masuk melalui ambang pintu. Sementara pemuda yang tadi membukakan pintu segera menyisi untuk memberikan jalan.
“ Silahkan duduk Sum “
Seperti biasa Parman lah satu –satunya orang selain ibunya yang memanggil dengan panggilan “ Sum “
Parman mempersilakan Mia untuk duduk. Mia pun duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan tersebut.
“ Bagaimana kabar mu Sum? “
Parman beringsut dari duduknya mendekati Mia lalu mengangsurkan tangan untuk berjabat tangan. Mia menyambut dengan seuntai senyum di sudut bibirnya.
“Omong-omong, kapan kita terakhir bertemu, Sum?”
“Kalau tidak salah, pada waktu ibu dimakamkan, Mas.”
“Ah ya, betul. Hem, bila kuingat mengenai kecelakaan tragis itu... eh, astaga! Aku jadi melantur begini ya?” Parman menepuk-nepuk jidat sendiri. Dengan wajah menyesal. Lalu, “Beginilah kalau laki-laki sudah mulai ubanan, Sum “
Sumiati hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Parman pada kalimat terakhirnya.
“Ah ya, betul. Ternyata sudah lumayan lama juga. Tampaknya kau sudah jadi wartawan vokal juga Sum, aku pernah baca beberapa tulisan dan liputan mu “
Mia hanya tersenyum simpul sembari berkata, “ Mas Parman pun juga sebentar lagi aku pastikan naik pangkat. Sepak terjang Mas Parman belakangan ini selalu di perbincangkan. Beberapa kasus besar mampu di kuak dan ditangani dengan baik “
“ Kasus pembunuhan berantai di salah satu desa di Gunung Kidul, belum lagi kasus mutilasi beberapa bulan yang silam. Kasus kelas kakap itu “
Parman tersenyum sembari berkelakar, “ Kau sepertinya mengikuti semua kasus – kasus yang aku tangani. Itu terlalu dibesar –besarkan oleh media, kasus itu bisa terselesaikan juga karena atasan ku Pak Jatmiko. Beliau orang yang cerdas, nalurinya tajam. Nanti akan ku kenalkan kau kepadanya, kebetulan ia sedang tidak bertugas. Katanya sedang di Jogja untuk mencari seorang kawan baiknya “
“ Lebih penting lagi beliau belum menikah, kau aku lihat sangat cocok dengan Pak Jatmiko “
Keduanya lalu tertawa lepas.
“ Ya , ampun aku lupa. Perkenalkan ini Dito junior ku di sekolah menengah atas. Profesinya sama dengan mu, seorang jurnalis. Tentu kalian akan mudah sekali untuk akrab “.
Pemuda bernama Dito yang tadi membukakan pintu Sumiati melempar tersenyum.
“ Dito, gadis ini Sumiati, saudara sepupuku. Jangan kau main –main dengannya “
Parman berpura –pura menggertak. Perbincangan itu terhenti sejenak manakala pintu di ketuk dan tidak berapa lama seorang pelayan datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
“ Sambil dinikmati hidangannya, aku ingin membahas keinginan mu tempo hari melalui telpon. Terus terang kalau bertindak sendiri tanpa melalui prosedur intitusi ku itu sangat tidak mungkin. Apalagi dengan melibatkan sipil. Tentu kau sudah sangat tahu beritanya tentang kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya beberapa kawan kami dari tim reserse “
“ Kasus itu terus terang sejak lama tidak pernah bisa diungkap, seperti menemui jalan buntu “
“ Sebenarnya sudah terdengar desas –desus kalau misteri orang - orang yang menghilang secara tiba –tiba itu erat kaitannya dengan pemilik pabrik pengolahan kayu lapis peninggalan kolonial itu “
Mia menghentikan kunyahan makanannya, gadis itu tampak menyimak perkataan Parman dengan seksama.
“ Tolong Mas Parman, ijinkan aku ikut andil dalam menguak kasus ini. Ada sesuatu yang bergolak dan memancing naluri ku. Entah mengapa naluri ku mengatakan kalau aku bisa membuka selubung misterius kasus usang ini. Itu lah mengapa sampai aku rela berjauh –jauh dari Jogja ke Gunungkidul untuk menemui mu “
Parman menaruh sendok di piring, lalu menarik nafas panjang.
“ Kau masih saja tidak sabaran seperti dulu Sum, dengarkan dulu penjelasan ku. Kemarin setelah ada telpon dari kamu tiba –tiba aku ada ide bagus. Sebenarnya penuh resiko hanya saja aku yakin kau tidak akan mundur setindakpun jika sesuatu itu telah menjadi tekad mu “
Mia terdiam, Dito yang duduk di seberang meja sekejap melirik ke arahnya lal kemudian melanjutkan lagi menyumpalkan sendok ke dalam mulut.
“ Maksud Mas Parman bagaimana? Aku belum paham dengan semua yang Mas sampaikan “
Parman hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mia. Lelaki itu hanya tersenyum sambil melirik ke arah Dito. Lalu kedua lelaki itu tersenyum penuh arti.
"Masuklah jangan bengong saja di situ!" tegur seorang lelaki dari dalam ruangan. Dan suara itu sangat ia kenali. Suara Parman.
Seorang lelaki dengan jaket kulit berwarna hitam melebarkan senyumannya ketika melihat Mia mulai berjalan masuk melalui ambang pintu. Sementara pemuda yang tadi membukakan pintu segera menyisi untuk memberikan jalan.
“ Silahkan duduk Sum “
Seperti biasa Parman lah satu –satunya orang selain ibunya yang memanggil dengan panggilan “ Sum “
Parman mempersilakan Mia untuk duduk. Mia pun duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan tersebut.
“ Bagaimana kabar mu Sum? “
Parman beringsut dari duduknya mendekati Mia lalu mengangsurkan tangan untuk berjabat tangan. Mia menyambut dengan seuntai senyum di sudut bibirnya.
“Omong-omong, kapan kita terakhir bertemu, Sum?”
“Kalau tidak salah, pada waktu ibu dimakamkan, Mas.”
“Ah ya, betul. Hem, bila kuingat mengenai kecelakaan tragis itu... eh, astaga! Aku jadi melantur begini ya?” Parman menepuk-nepuk jidat sendiri. Dengan wajah menyesal. Lalu, “Beginilah kalau laki-laki sudah mulai ubanan, Sum “
Sumiati hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Parman pada kalimat terakhirnya.
“Ah ya, betul. Ternyata sudah lumayan lama juga. Tampaknya kau sudah jadi wartawan vokal juga Sum, aku pernah baca beberapa tulisan dan liputan mu “
Mia hanya tersenyum simpul sembari berkata, “ Mas Parman pun juga sebentar lagi aku pastikan naik pangkat. Sepak terjang Mas Parman belakangan ini selalu di perbincangkan. Beberapa kasus besar mampu di kuak dan ditangani dengan baik “
“ Kasus pembunuhan berantai di salah satu desa di Gunung Kidul, belum lagi kasus mutilasi beberapa bulan yang silam. Kasus kelas kakap itu “
Parman tersenyum sembari berkelakar, “ Kau sepertinya mengikuti semua kasus – kasus yang aku tangani. Itu terlalu dibesar –besarkan oleh media, kasus itu bisa terselesaikan juga karena atasan ku Pak Jatmiko. Beliau orang yang cerdas, nalurinya tajam. Nanti akan ku kenalkan kau kepadanya, kebetulan ia sedang tidak bertugas. Katanya sedang di Jogja untuk mencari seorang kawan baiknya “
“ Lebih penting lagi beliau belum menikah, kau aku lihat sangat cocok dengan Pak Jatmiko “
Keduanya lalu tertawa lepas.
“ Ya , ampun aku lupa. Perkenalkan ini Dito junior ku di sekolah menengah atas. Profesinya sama dengan mu, seorang jurnalis. Tentu kalian akan mudah sekali untuk akrab “.
Pemuda bernama Dito yang tadi membukakan pintu Sumiati melempar tersenyum.
“ Dito, gadis ini Sumiati, saudara sepupuku. Jangan kau main –main dengannya “
Parman berpura –pura menggertak. Perbincangan itu terhenti sejenak manakala pintu di ketuk dan tidak berapa lama seorang pelayan datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
“ Sambil dinikmati hidangannya, aku ingin membahas keinginan mu tempo hari melalui telpon. Terus terang kalau bertindak sendiri tanpa melalui prosedur intitusi ku itu sangat tidak mungkin. Apalagi dengan melibatkan sipil. Tentu kau sudah sangat tahu beritanya tentang kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya beberapa kawan kami dari tim reserse “
“ Kasus itu terus terang sejak lama tidak pernah bisa diungkap, seperti menemui jalan buntu “
“ Sebenarnya sudah terdengar desas –desus kalau misteri orang - orang yang menghilang secara tiba –tiba itu erat kaitannya dengan pemilik pabrik pengolahan kayu lapis peninggalan kolonial itu “
Mia menghentikan kunyahan makanannya, gadis itu tampak menyimak perkataan Parman dengan seksama.
“ Tolong Mas Parman, ijinkan aku ikut andil dalam menguak kasus ini. Ada sesuatu yang bergolak dan memancing naluri ku. Entah mengapa naluri ku mengatakan kalau aku bisa membuka selubung misterius kasus usang ini. Itu lah mengapa sampai aku rela berjauh –jauh dari Jogja ke Gunungkidul untuk menemui mu “
Parman menaruh sendok di piring, lalu menarik nafas panjang.
“ Kau masih saja tidak sabaran seperti dulu Sum, dengarkan dulu penjelasan ku. Kemarin setelah ada telpon dari kamu tiba –tiba aku ada ide bagus. Sebenarnya penuh resiko hanya saja aku yakin kau tidak akan mundur setindakpun jika sesuatu itu telah menjadi tekad mu “
Mia terdiam, Dito yang duduk di seberang meja sekejap melirik ke arahnya lal kemudian melanjutkan lagi menyumpalkan sendok ke dalam mulut.
“ Maksud Mas Parman bagaimana? Aku belum paham dengan semua yang Mas sampaikan “
Parman hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mia. Lelaki itu hanya tersenyum sambil melirik ke arah Dito. Lalu kedua lelaki itu tersenyum penuh arti.
Quote:
Mia selesai dengan bacaannya melipat surat kabar lalu meletakkannya di pangkuan seraya menghela nalas panjang. Namun matanya tidak juga beralih dari foto yang terpampang di halaman depan surat kabar itu.
“ Perempuan yang benar - benar cantik! Sungguh malang nasibnya berakhir di dasar jurang terbakar habis di dalam mobil”, akhirnya ia bergumam.
" Bagiku lebih cantik kau “, kata Dito yang duduk di belakang setir memuji sembari tersenyum simpul.
Mia hanya tersenyum tipis, “ Kau konsentrasilah pada kemudi mu Tuan Dito, tidak ingatkah kau pesan kakak sepupu ku..eh.. “
Mia teringat dengan kejadian tadi malam, Parman mengijinkan Mia untuk mencari info mengenai pemilik pabrik pengolahan kayu itu. Akan tetapi, Parman menugaskan Dito seorang wartawan untuk menjaga dan melindungi Mia jika nantinya ada bahaya yang mengancam. Setelah ditemukan hal yang kuat sebagai bukti, tim kepolisian akan datang membantu dengan kekuatan penuh tentunya. Parman sangat kenal baik dengan Dito, mengenai sepak terjangnya sebagai salah seorang jurnalis lokal yang kredibilitasnya patut diperhitungkan. Itu alasan kuat mengapa Parman menyerahkan Mia kepada Dito.
Dito melirik sekilas ke surat kabar yang terletak di pangkuan Mia. Ia melanjutkan, “ Nova seorang yang terkenal di Wonosari ini “
"Sebagai?"
“ Model “
"Ooo “, Mia manggut - manggut mengerti.
Kembali melirik ke surat kabar. Ia perhatikan baik - baik foto seorang laki laki yang tertelak pada kolom yang lain. Sedikit di atas foto Nova, seorang lelaki yang masih muda mungkin masih berusia di bawah tiga puluh tahunan.
“ Aku heran mengapa kasus yang berulang –ulang dengan modus yang sama ini, sekian tahun lamanya tidak mampu terpecahkan. Penyelidikan selalu berakhir di jalan buntu dan kasus menguap begitu saja “
“ Sebenarnya kasus ini juga aneh, karena kejadian itu beberapa bulan yang lalu beberapa anggota serse sengaja disusupkan ke pabrik kayu lapis itu. Hanya saja beberapa hari yang lalu saat dini hari ketiganya ditemukan meninggal karena mengalami kecelakaan. Makanya, kasus ini diangkat lagi sekalian kasus terbunuhnya tiga anggota kepolisian. Menurut penyelidikan mereka terbunuh bukan karena kecelakaan akan tetapi memang sengaja disingkirkan “
Dito membelokkan mobil memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, yang di kiri-kanannya berdempetan rumah rumah penduduk yang penuh sesak. Seekor anjing berlari menyeberangi jalan dan sekelompok anak kecil mengorek - ngorek sesuatu dari dalam selokan yang mampet.
“ Kau tahu Mia, misi kita kali ini mungkin sangat berbahaya. Bisa juga nyawa kita yang akan jadi taruhannya. Kita menghadapi sebuah kekuatan yang besar, orang yang memiliki kekuasan dan juga kekuatan gaib“
Dito berbicara tanpa menoleh ke arah Mia yang duduk di sebelahnya.
“ Aku sudah siap untuk itu. Profesi wartawan bagiku juga sebagai panggilan hidup, kadang kala ada kasus yang buntu di tangan polisi tapi akhirnya bisa terkuak karena seorang wartawan. Akan tetapi, apakah masih ada di jaman sekarang ini tentang ilmu gaib. Aku sangat tidak yakin kalau ada aura mistis yang ikut menyelimuti kasus ini “
“ Entahlah Mia, hanya saja aku merasa ada yang tidak beres. Satu lagi perlu aku ingatkan kepadamu. Mas Parman telah menitipkan mu kepadaku, kau menjadi tanggung jawabku sekarang. Jadi tolong ikuti instruktur dari ku dan jangan membantah. Kau paham peran kita ?! “
Mia hanya mengangguk perlahan.
Mobil yang dikendarai Dito dan Mia mulai memasuki daerah yang kiri kanannya ditumbuhi pepohonan yang rindang dan kebun - kebun subur. Seperti berlari -larian ke arah berlawanan dengan mobil mereka yang mulai memasuki jalan mendaki.
“ Perempuan yang benar - benar cantik! Sungguh malang nasibnya berakhir di dasar jurang terbakar habis di dalam mobil”, akhirnya ia bergumam.
" Bagiku lebih cantik kau “, kata Dito yang duduk di belakang setir memuji sembari tersenyum simpul.
Mia hanya tersenyum tipis, “ Kau konsentrasilah pada kemudi mu Tuan Dito, tidak ingatkah kau pesan kakak sepupu ku..eh.. “
Mia teringat dengan kejadian tadi malam, Parman mengijinkan Mia untuk mencari info mengenai pemilik pabrik pengolahan kayu itu. Akan tetapi, Parman menugaskan Dito seorang wartawan untuk menjaga dan melindungi Mia jika nantinya ada bahaya yang mengancam. Setelah ditemukan hal yang kuat sebagai bukti, tim kepolisian akan datang membantu dengan kekuatan penuh tentunya. Parman sangat kenal baik dengan Dito, mengenai sepak terjangnya sebagai salah seorang jurnalis lokal yang kredibilitasnya patut diperhitungkan. Itu alasan kuat mengapa Parman menyerahkan Mia kepada Dito.
Dito melirik sekilas ke surat kabar yang terletak di pangkuan Mia. Ia melanjutkan, “ Nova seorang yang terkenal di Wonosari ini “
"Sebagai?"
“ Model “
"Ooo “, Mia manggut - manggut mengerti.
Kembali melirik ke surat kabar. Ia perhatikan baik - baik foto seorang laki laki yang tertelak pada kolom yang lain. Sedikit di atas foto Nova, seorang lelaki yang masih muda mungkin masih berusia di bawah tiga puluh tahunan.
“ Aku heran mengapa kasus yang berulang –ulang dengan modus yang sama ini, sekian tahun lamanya tidak mampu terpecahkan. Penyelidikan selalu berakhir di jalan buntu dan kasus menguap begitu saja “
“ Sebenarnya kasus ini juga aneh, karena kejadian itu beberapa bulan yang lalu beberapa anggota serse sengaja disusupkan ke pabrik kayu lapis itu. Hanya saja beberapa hari yang lalu saat dini hari ketiganya ditemukan meninggal karena mengalami kecelakaan. Makanya, kasus ini diangkat lagi sekalian kasus terbunuhnya tiga anggota kepolisian. Menurut penyelidikan mereka terbunuh bukan karena kecelakaan akan tetapi memang sengaja disingkirkan “
Dito membelokkan mobil memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, yang di kiri-kanannya berdempetan rumah rumah penduduk yang penuh sesak. Seekor anjing berlari menyeberangi jalan dan sekelompok anak kecil mengorek - ngorek sesuatu dari dalam selokan yang mampet.
“ Kau tahu Mia, misi kita kali ini mungkin sangat berbahaya. Bisa juga nyawa kita yang akan jadi taruhannya. Kita menghadapi sebuah kekuatan yang besar, orang yang memiliki kekuasan dan juga kekuatan gaib“
Dito berbicara tanpa menoleh ke arah Mia yang duduk di sebelahnya.
“ Aku sudah siap untuk itu. Profesi wartawan bagiku juga sebagai panggilan hidup, kadang kala ada kasus yang buntu di tangan polisi tapi akhirnya bisa terkuak karena seorang wartawan. Akan tetapi, apakah masih ada di jaman sekarang ini tentang ilmu gaib. Aku sangat tidak yakin kalau ada aura mistis yang ikut menyelimuti kasus ini “
“ Entahlah Mia, hanya saja aku merasa ada yang tidak beres. Satu lagi perlu aku ingatkan kepadamu. Mas Parman telah menitipkan mu kepadaku, kau menjadi tanggung jawabku sekarang. Jadi tolong ikuti instruktur dari ku dan jangan membantah. Kau paham peran kita ?! “
Mia hanya mengangguk perlahan.
Mobil yang dikendarai Dito dan Mia mulai memasuki daerah yang kiri kanannya ditumbuhi pepohonan yang rindang dan kebun - kebun subur. Seperti berlari -larian ke arah berlawanan dengan mobil mereka yang mulai memasuki jalan mendaki.
Quote:
Setelah sekian lamanya di dalam mobil, Hardtop berwarna biru donker itu memasuki halaman sebuah rumah besar berpekarangan luas dengan pemandangan yang nyaman di sekelilingnya. Matahari senja menggeliat di balik bukit ketika mereka turun dan berjalan ke beranda. Langit di ufuk barat memerah darah, dan bayangan pegunungan seribu yang membentang nun di kejauhan berselimut warna biru, coklat dan jingga dengan lingkaran pelangi menggapai ke langit tinggi untuk kemudian tenggelan di balik bayangan bukit.
Seorang pelayan laki - laki yang sudah setengah umur berpakaian rapi dan berwajah jernih menyambut mereka dengan senyuman bersahabatan. Pelayan itu mengangkat koper kecil milik Mia dari mobil. Kemudian menolong pula memasukkan mobil itu ke garasi. Setelah sebelumnya membuka pintu dan mempersilahkan Mia dan Dito untuk masuk.
“ Silahkan Tuan dan Nyonya masuk “
Dito mengangguk seraya tersenyum ramah, Mia menyeringai lebar lalu melangkah masuk dengan kaki – kaki yang ringan dan bebas. Ruang tamu tidak begitu besar namun perabotannya antik dan disusun oleh orang yang berselera tinggi. Lampu gantung kristal memberikan warna redup pada tembok berlapis karpet wool merah jambu. Sebuah pigura terpaku manis di salah satu sisi menggambarkan Rahwana yang berwajah seram berusaha merenggut Shinta yang cantik jelita dari perlindungan Jatayu. Burung raksasa yang mengepakkan sayapnya yang lebar sebagai senjata pembelaan diri. Lukisan cat minyak itu tampak jelas di sengaja memberi warna warna hitam serta merah tua yang sangat mencolok. Mata Rahwana melotot lebih merah bersinar - sinar buas, sementara Shinta tampak demikian lemah dan tidak berdaya di dalam cengkramannya.
" Ah, aku sungguh gembira melihat kalian akhirnya datang juga. Aku pikir kalian tidak jadi menyewa rumah kami karena hampir tiga hari melewati batas yang telah di sepakati. Nasib mu sungguh mujur Nak, belum ada orang lain lagi yang melakukan penawaran "
Suara yang menyenangkan tadi menyadarkan Mia dari pesona aneh yang mempengaruhi perasaannya selagi mengawasi pigura. Seorang laki - laki berusia lanjut menyongsong mereka dari ruang dalam. Semua rambutnya sudah berubah putih namun sinar matanya yang sejuk itu pasti masih tidak membutuhkan kaca mata. Manakala ia tersenyum dua baris giginya yang masih utuh.
"Kau ternyata tampan dan gagah Nak Dito. Aku sudah menduganya dari suara mu sewaktu kau telpon dan menghubungi kami beberapa hari yang lalu “, ia mengguncang-guncang tangan Dito dengan gaya seorang ayah yang merindukan anaknya yang telah lama pergi tanpa kabar berita.
"Perkenalkan pak, ini istriku"
Dito sembari merangkul bahu Mia dengan mesra, Mia sekejap setengah terkejut dengan perlakuan Dito kepadanya.
" Sumiati Kuswandari ", gumam Mia sambil menerima uluran tangan orangtua itu.
"Panggil saja Mia "
"Nama yang cantik. Orangnya lebih cantik lagi "
Laki – laki berusia lanjut itu mengamat-amati perempuan di hadapannya dengan mata seorang pemuda belasan tahun yang baru saja memutuskan untuk menaksir salah seorang gadis untuk temannya berkencan.
"Namaku Barda"
“ Aku menyukai mu Mia " ,ujarnya.
“ Hanya, mendadak saja aku melihat mu seperti melihat anak tunggal kami yang semata wayang itu. Ia meninggal ketika masih berusia tujuh tahun. Kalau masih hidup tentulah akan sebesar dirimu ini"
“ Oooh...” Dito dan Mia membuka mulut serempak. Serempak pula wajah mereka dikomando menampakkan simpati.
Pak Barda tarik nafas lalu kembali tersenyum.
“ Biarlah masa lalu pergi. Tak usah dikenang lagi."
Katanya dengan suara lembut Lalu menambahkan dengan riang :
"Lagipula, aku masih punya isteriku yang masih sangat perhatian dan sayang kepadaku “
“ Mari Kuperkenalkan kau pada isteriku yang lebih cantik dari kau Mia."
Mereka bertiga masuk ke ruang dalam. Ruangan itu megah dan luas serta nyaman. Perabotannya masih tetap antik, masih tetap bercita rasa tinggi. Demikian pula rak-rak hias. Televisi berwarna dua puluh satu inch tengah memancarkan siaran berita sore tidak jauh dari sebuah lemari pendingin.
Seorang perempuan yang lebih muda beberapa tahun dari Pak Barda begitu asyiknya melihat liputan bencana tanang longsor di televisi, sehingga ia tidak mengetahui kehadiran mereka. Perempuan itu baru menoleh setelah pundaknya ditepuk Pak Barda yang berkata dengan bernafsu:
“ Hentikan melihat bencana, bu. Berputarlah Dan lihatlah anak - anakmu telah datang “
Tidak mau menyusahkan perempuan tua itu, Dito dan Mia bergerak cepat ke samping kursinya. Sedikit lebih ke depan. Mia melihat seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan. Rambut seluruhnya masih hitam. Sepasang mata yang teduh di balik kelopak yang mulai mengeriput. Pipinya juga sebagian sudah berkeriput. Ditambah gurat bibirnya yang lembut tipis. Mia melihat kecantikan masa muda perempuan tua itu belum sepenuhnya memudar.
“ Oh, jadi ini anak –anak kita yang akan menyewa rumah kita Pak? Sangat cantik dan gagah, pasangan yang cocok sekali “, ia mendesah lembut seraya mengulurkan tangan kepada Mia sambil tersipu dalam hati.
Mia menerima uluran tangan kecil dan kurus itu dan mencium punggung tangan yang tinggal tulang berbalut kulit dengan hormat.
“ Kau benar pak”, ia setengah bersorak saking suka cita.
"Nak Mira berlaku seolah ia anak kandungku sendiri!"
"Saya senang dapat diterima di sini, bu," tukas Mia, sendu.
"Ibu kandungku sendiri telah berpulang beberapa tahun yang silam. Dan ayahku...sampai saat ini entah pergi kemana. Semenjak kematian ibu ayah tidak pernah muncul lagi ...."
“ Dan di mana kamu tinggal setelah itu?" tanya ibu Barda dengan prihatin .
“ Dengan seorang nenek Bu. Itupun nenek jauh."
“ Hem... Hem... Hem... Pilihan yang cocok “ , wajah perempuan tua itu bersinar-sinar tajam.
“ Cocok untuk apa bu?" tanya Mia ingin tahu.
Bu Barda menatap suaminya. Si suami balas menatap. Lalu keduanya beralih tatap ke mata Dito. Seolah tidak mengandung rahasia apa - apa.
Ibu Barda lalu menjawab dengan polos disertai senyuman manis: "Cocok untuk Dito yang tampan, tentu!"
Mia tersipu. Sementara Dito mukanya bersemu merah. Sandiwara yang sempurna batin Mia bersorak dalam hati.
Setelah berbasa basi beberapa menit perempuan tua itu mengajak Mia meninggalkan Dito dan pemuda itu berbincang bincang tentang beberapa rencana selama mereka menetap di rumah itu untuk sementara waktu.
Melalui pintu penghubung dari ruang yang sama mereka berdua kemudian pergi ke paviliun. Kepada Mia ditunjukkan kamar tamu tersendiri di paviliun itu. Perabotannya sudah ada ,demikian pula kamar tidur yang luas dengan ranjang berkaki rendah yang lebar diberi sprei bersulam warna merah jambu. Tak ada lukisan dinding sama sekali. Hanya sekedar wallpaper halus yang melapisi tembok.
Warnanya hijau lumut. Kontras dengan lantai yang krem. Ada lemari pakaian berpintu tiga. Sebuah lemari kecil untuk perlengkapan laki-laki, toilet yang kaca bagian atasnya cukup lebar menerima seperangkat kosmetik. Cermin bersatu dengan dinding berbentuknya oval telur. Seakan tidak mengetahui kepuasan yang terpancar di wajah anak semangnya, Bu Barda menarik tangan Mia ke belakang .
“ Mari kutunjukkan kamar mandi, kamar cuci dan dapur kalian “, katanya. Sementara Mia semakin menyatu hati dengan seisi rumah. Seperti tinggal di rumah sendiri bersama keluarga lengkap yang selama ini hanya berupa angan –angan saja dan kini sekejap jadi kenyataan. Meskipun itu semua bukan ibu atau ayah kandungnya.
Seorang pelayan laki - laki yang sudah setengah umur berpakaian rapi dan berwajah jernih menyambut mereka dengan senyuman bersahabatan. Pelayan itu mengangkat koper kecil milik Mia dari mobil. Kemudian menolong pula memasukkan mobil itu ke garasi. Setelah sebelumnya membuka pintu dan mempersilahkan Mia dan Dito untuk masuk.
“ Silahkan Tuan dan Nyonya masuk “
Dito mengangguk seraya tersenyum ramah, Mia menyeringai lebar lalu melangkah masuk dengan kaki – kaki yang ringan dan bebas. Ruang tamu tidak begitu besar namun perabotannya antik dan disusun oleh orang yang berselera tinggi. Lampu gantung kristal memberikan warna redup pada tembok berlapis karpet wool merah jambu. Sebuah pigura terpaku manis di salah satu sisi menggambarkan Rahwana yang berwajah seram berusaha merenggut Shinta yang cantik jelita dari perlindungan Jatayu. Burung raksasa yang mengepakkan sayapnya yang lebar sebagai senjata pembelaan diri. Lukisan cat minyak itu tampak jelas di sengaja memberi warna warna hitam serta merah tua yang sangat mencolok. Mata Rahwana melotot lebih merah bersinar - sinar buas, sementara Shinta tampak demikian lemah dan tidak berdaya di dalam cengkramannya.
" Ah, aku sungguh gembira melihat kalian akhirnya datang juga. Aku pikir kalian tidak jadi menyewa rumah kami karena hampir tiga hari melewati batas yang telah di sepakati. Nasib mu sungguh mujur Nak, belum ada orang lain lagi yang melakukan penawaran "
Suara yang menyenangkan tadi menyadarkan Mia dari pesona aneh yang mempengaruhi perasaannya selagi mengawasi pigura. Seorang laki - laki berusia lanjut menyongsong mereka dari ruang dalam. Semua rambutnya sudah berubah putih namun sinar matanya yang sejuk itu pasti masih tidak membutuhkan kaca mata. Manakala ia tersenyum dua baris giginya yang masih utuh.
"Kau ternyata tampan dan gagah Nak Dito. Aku sudah menduganya dari suara mu sewaktu kau telpon dan menghubungi kami beberapa hari yang lalu “, ia mengguncang-guncang tangan Dito dengan gaya seorang ayah yang merindukan anaknya yang telah lama pergi tanpa kabar berita.
"Perkenalkan pak, ini istriku"
Dito sembari merangkul bahu Mia dengan mesra, Mia sekejap setengah terkejut dengan perlakuan Dito kepadanya.
" Sumiati Kuswandari ", gumam Mia sambil menerima uluran tangan orangtua itu.
"Panggil saja Mia "
"Nama yang cantik. Orangnya lebih cantik lagi "
Laki – laki berusia lanjut itu mengamat-amati perempuan di hadapannya dengan mata seorang pemuda belasan tahun yang baru saja memutuskan untuk menaksir salah seorang gadis untuk temannya berkencan.
"Namaku Barda"
“ Aku menyukai mu Mia " ,ujarnya.
“ Hanya, mendadak saja aku melihat mu seperti melihat anak tunggal kami yang semata wayang itu. Ia meninggal ketika masih berusia tujuh tahun. Kalau masih hidup tentulah akan sebesar dirimu ini"
“ Oooh...” Dito dan Mia membuka mulut serempak. Serempak pula wajah mereka dikomando menampakkan simpati.
Pak Barda tarik nafas lalu kembali tersenyum.
“ Biarlah masa lalu pergi. Tak usah dikenang lagi."
Katanya dengan suara lembut Lalu menambahkan dengan riang :
"Lagipula, aku masih punya isteriku yang masih sangat perhatian dan sayang kepadaku “
“ Mari Kuperkenalkan kau pada isteriku yang lebih cantik dari kau Mia."
Mereka bertiga masuk ke ruang dalam. Ruangan itu megah dan luas serta nyaman. Perabotannya masih tetap antik, masih tetap bercita rasa tinggi. Demikian pula rak-rak hias. Televisi berwarna dua puluh satu inch tengah memancarkan siaran berita sore tidak jauh dari sebuah lemari pendingin.
Seorang perempuan yang lebih muda beberapa tahun dari Pak Barda begitu asyiknya melihat liputan bencana tanang longsor di televisi, sehingga ia tidak mengetahui kehadiran mereka. Perempuan itu baru menoleh setelah pundaknya ditepuk Pak Barda yang berkata dengan bernafsu:
“ Hentikan melihat bencana, bu. Berputarlah Dan lihatlah anak - anakmu telah datang “
Tidak mau menyusahkan perempuan tua itu, Dito dan Mia bergerak cepat ke samping kursinya. Sedikit lebih ke depan. Mia melihat seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan. Rambut seluruhnya masih hitam. Sepasang mata yang teduh di balik kelopak yang mulai mengeriput. Pipinya juga sebagian sudah berkeriput. Ditambah gurat bibirnya yang lembut tipis. Mia melihat kecantikan masa muda perempuan tua itu belum sepenuhnya memudar.
“ Oh, jadi ini anak –anak kita yang akan menyewa rumah kita Pak? Sangat cantik dan gagah, pasangan yang cocok sekali “, ia mendesah lembut seraya mengulurkan tangan kepada Mia sambil tersipu dalam hati.
Mia menerima uluran tangan kecil dan kurus itu dan mencium punggung tangan yang tinggal tulang berbalut kulit dengan hormat.
“ Kau benar pak”, ia setengah bersorak saking suka cita.
"Nak Mira berlaku seolah ia anak kandungku sendiri!"
"Saya senang dapat diterima di sini, bu," tukas Mia, sendu.
"Ibu kandungku sendiri telah berpulang beberapa tahun yang silam. Dan ayahku...sampai saat ini entah pergi kemana. Semenjak kematian ibu ayah tidak pernah muncul lagi ...."
“ Dan di mana kamu tinggal setelah itu?" tanya ibu Barda dengan prihatin .
“ Dengan seorang nenek Bu. Itupun nenek jauh."
“ Hem... Hem... Hem... Pilihan yang cocok “ , wajah perempuan tua itu bersinar-sinar tajam.
“ Cocok untuk apa bu?" tanya Mia ingin tahu.
Bu Barda menatap suaminya. Si suami balas menatap. Lalu keduanya beralih tatap ke mata Dito. Seolah tidak mengandung rahasia apa - apa.
Ibu Barda lalu menjawab dengan polos disertai senyuman manis: "Cocok untuk Dito yang tampan, tentu!"
Mia tersipu. Sementara Dito mukanya bersemu merah. Sandiwara yang sempurna batin Mia bersorak dalam hati.
Setelah berbasa basi beberapa menit perempuan tua itu mengajak Mia meninggalkan Dito dan pemuda itu berbincang bincang tentang beberapa rencana selama mereka menetap di rumah itu untuk sementara waktu.
Melalui pintu penghubung dari ruang yang sama mereka berdua kemudian pergi ke paviliun. Kepada Mia ditunjukkan kamar tamu tersendiri di paviliun itu. Perabotannya sudah ada ,demikian pula kamar tidur yang luas dengan ranjang berkaki rendah yang lebar diberi sprei bersulam warna merah jambu. Tak ada lukisan dinding sama sekali. Hanya sekedar wallpaper halus yang melapisi tembok.
Warnanya hijau lumut. Kontras dengan lantai yang krem. Ada lemari pakaian berpintu tiga. Sebuah lemari kecil untuk perlengkapan laki-laki, toilet yang kaca bagian atasnya cukup lebar menerima seperangkat kosmetik. Cermin bersatu dengan dinding berbentuknya oval telur. Seakan tidak mengetahui kepuasan yang terpancar di wajah anak semangnya, Bu Barda menarik tangan Mia ke belakang .
“ Mari kutunjukkan kamar mandi, kamar cuci dan dapur kalian “, katanya. Sementara Mia semakin menyatu hati dengan seisi rumah. Seperti tinggal di rumah sendiri bersama keluarga lengkap yang selama ini hanya berupa angan –angan saja dan kini sekejap jadi kenyataan. Meskipun itu semua bukan ibu atau ayah kandungnya.
Diubah oleh breaking182 27-05-2019 22:34
1980decade dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas