- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.7K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#802
Suara Dean - Part 2
Alarm pagi membangunkanku dari tidur yang hanya 5 jam. Kepalaku cukup berat hari ini. Mataku masih beler, sebulan ini tidurku belum normal. Aku menyiapkan diri untuk kuliah hari ini.
‘Pagi, Dean. Semangat ya, lancar hari ini segala urusannya’, sederhana memang kalimat itu semua orang bisa merangkainya. Yang membuat spesial adalah yang menyampaikannya. Ya, tentu Angga. Ku balas senada dengan pesannya.
Ku kunci kamar kos setelah ku pakai sepatu. Aku pamit kuliah ke Bu Kos, sudah jadi kebiasaan bagi kami yang tinggal di kos-kosan beliau untuk pamit pergi kuliah. Sepele memang, tapi menjadi peraturan yang saklek. Aku tidak masalah, toh jika di rumah aku pamit pada orang tuaku, ya di kos Bu Kos lah yang jadi orang tuaku.
Mentari menyinari sepanjang langkah kaki ku berjalan di atas trotoar. Aku terbiasa berjalan kaki. Alasannya dua, yang pertama agar berolahraga yang kedua karena untuk mengirit keuangan. Tanggung sebenarnya bila naik andong, tidak terlalu jauh. Ya karena kedua alasan itu aku sering jalan kaki. Selain untuk sehat, kantongku juga aman. Kadang bila teman memberi tumpangan motor, aku sering mengiyakan.
‘Mbak sudah saya transfer ya’, ku buka aplikasi mobile banking. Setelah aku cek ternyata sudah masuk.
‘Makasih ya, ditunggu order-an selanjutnya. Boleh juga di-upload di instastory tag ke akun instagram saya.’
Tidak seberapa memang dari jasa gambar yang aku kerjakan. Cukup untuk makan satu sampai dua hari atau membeli kuota untuk satu minggu ke depan. Ya, itung-itung hobi yang dibayar. Dulu awalnya aku ragu, tapi temanku menyarankan. Dengan beberapa sampel yang ku buat lumayan menjadi awal bagi rezekiku.
Ku ikat rambutku, aku duduk membuka modul dan lembaran kertas dari tas. Takut bila tugas yang dikerjakan semalam tertinggal di kosan. Ku cek, ternyata ada. Syukurlah. Seluruh dosen yang mengajar kelasku tidak pernah memberi keringanan jika tidak mengumpulkan tugas sesuai dengan waktunya. Jika tidak mengumpulkan, maka tidak akan diberi nilai. Satu nilai tugas bisa berpengaruh pada satu nilai akhir di IPK. Dan yang paling menyeramkan adalah apabila mengulang mata kuliah hanya karena kurang nilai tugas.
Kuliah dari awal masuk hingga sekarang sama-sama saja. Dosen membuka laptop, menampilkan PowerPoint, dibaca, sudah selesai. Membayar mahal hanya untuk menonton PowerPoint. Belum aku dapati dosen yang menjelaskan begitu rinci dengan bahasa ‘mahasiswa’. Ada yang menjabarkan sebegitu jelasnya tapi tidak sampai ke otak ku. Terlalu tinggi bahasa yang disampaikan oleh dosen. Entah aku yang begitu jauh levelnya
‘Besok ngajar di tempat les pagi ya’, aduh hampir saja aku lupa jika besok hari Sabtu. Apalagi aku belum menyiapkan materi yang besok harus ku sampaikan.
‘Iya, Mas Arie. Makasih’, balasku di kolom chat.
‘Pagi, Dean. Semangat ya, lancar hari ini segala urusannya’, sederhana memang kalimat itu semua orang bisa merangkainya. Yang membuat spesial adalah yang menyampaikannya. Ya, tentu Angga. Ku balas senada dengan pesannya.
Ku kunci kamar kos setelah ku pakai sepatu. Aku pamit kuliah ke Bu Kos, sudah jadi kebiasaan bagi kami yang tinggal di kos-kosan beliau untuk pamit pergi kuliah. Sepele memang, tapi menjadi peraturan yang saklek. Aku tidak masalah, toh jika di rumah aku pamit pada orang tuaku, ya di kos Bu Kos lah yang jadi orang tuaku.
Mentari menyinari sepanjang langkah kaki ku berjalan di atas trotoar. Aku terbiasa berjalan kaki. Alasannya dua, yang pertama agar berolahraga yang kedua karena untuk mengirit keuangan. Tanggung sebenarnya bila naik andong, tidak terlalu jauh. Ya karena kedua alasan itu aku sering jalan kaki. Selain untuk sehat, kantongku juga aman. Kadang bila teman memberi tumpangan motor, aku sering mengiyakan.
‘Mbak sudah saya transfer ya’, ku buka aplikasi mobile banking. Setelah aku cek ternyata sudah masuk.
‘Makasih ya, ditunggu order-an selanjutnya. Boleh juga di-upload di instastory tag ke akun instagram saya.’
Tidak seberapa memang dari jasa gambar yang aku kerjakan. Cukup untuk makan satu sampai dua hari atau membeli kuota untuk satu minggu ke depan. Ya, itung-itung hobi yang dibayar. Dulu awalnya aku ragu, tapi temanku menyarankan. Dengan beberapa sampel yang ku buat lumayan menjadi awal bagi rezekiku.
Ku ikat rambutku, aku duduk membuka modul dan lembaran kertas dari tas. Takut bila tugas yang dikerjakan semalam tertinggal di kosan. Ku cek, ternyata ada. Syukurlah. Seluruh dosen yang mengajar kelasku tidak pernah memberi keringanan jika tidak mengumpulkan tugas sesuai dengan waktunya. Jika tidak mengumpulkan, maka tidak akan diberi nilai. Satu nilai tugas bisa berpengaruh pada satu nilai akhir di IPK. Dan yang paling menyeramkan adalah apabila mengulang mata kuliah hanya karena kurang nilai tugas.
Kuliah dari awal masuk hingga sekarang sama-sama saja. Dosen membuka laptop, menampilkan PowerPoint, dibaca, sudah selesai. Membayar mahal hanya untuk menonton PowerPoint. Belum aku dapati dosen yang menjelaskan begitu rinci dengan bahasa ‘mahasiswa’. Ada yang menjabarkan sebegitu jelasnya tapi tidak sampai ke otak ku. Terlalu tinggi bahasa yang disampaikan oleh dosen. Entah aku yang begitu jauh levelnya
‘Besok ngajar di tempat les pagi ya’, aduh hampir saja aku lupa jika besok hari Sabtu. Apalagi aku belum menyiapkan materi yang besok harus ku sampaikan.
‘Iya, Mas Arie. Makasih’, balasku di kolom chat.
delet3 dan jimmi2008 memberi reputasi
2