- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.8K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#14
Chapter 7 : See No Evil
Spoiler for :
Jin Higa berlari.
Buka karena dia ingin melakukannya, hanya sekedar mengingatkan. Ayahnya selalu mengajarkan padanya untuk selalu menghadapi semua masalah dengan kepala tegak, tak peduli apapun resikonya, dan untuk selama sembilan belas tahun hidupnya, ia selalu berpegang teguh menuruti kata-kata ayahnya itu. Ketika ia mendapatkan nilai rendah pada pelajaran matematika, ia lalu melipat gandakan waktu belajarnya, sudah cukup sering ia tertidur sambil memegang buku belajarnya. Ketika tiba saat dimana ia butuh untuk memiliki kendaraan sendiri, maka ia berkerja di dua tempat sekaligus agar dapat memilikinya, tanpa harus meminta uang kepada orang tuanya.
Sepanjang hidupnya, Jin selalu berjuang keras atas apa yang telah ia miliki. Tidak pernah menyerah.
Jadi, saat ia tengah berlari di hutan dekat dari rumah orang tuanya di wilayah pesisir pantai di Jepang, Jin berusaha untuk tidak membayangkan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya atas tindakan pengecut yang telah Ia lakukan.
Kejadiannya tejadi dua hari lalu. Seorang pria terdampar di pantai di dekat rumah Jin. Pria berkebangsaan Amerika, dan semua orang tahu bahwa penduduk yang berkebangsaan Amerika dilarang memasuki wilayah Jepang, juga dari seluruh negara yang ada di bumi. Semenjak pembantaian besar-besaran ini dimulai, semua negara, baik yang bersekutu atau tidak, kawan atau lawan, telah menutup semua perbatasan, melarang seluruh penduduk Amerika untuk dapat memasukinya. Mereka semua telah menyaksikan bagaimana cepatnya negara U.S diserbu, wajah-wajah kengerian meliputi penduduknya, saat kematian memangsa mereka hidup-hidup. Banyak dari siaran berita yang memfilter tayangan sadis ketika para Undead memangsa penduduk dengan buas.
Berterima kasihlah kepada internet. Kejadian mengerikan saat Undead beraksi bertebaran di dunia maya dengan super cepat. Menyebar secepat virus itu sendiri.
Pemerintah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan negara manapun. Resiko akan terjangkiti penyakit dan terkontaminasi amatlah besar. Setiap orang yang berhasil melewati patroli barikade laut maupun udara, ditangkap atas dasar penyelundup ilegal, dan mereka akan ditempatkan di sebuah gedung "karantina".
Jin tahu apa maksudnya 'dikarantina'. Sebuah peluru di kepala, lalu menuju incinerator. Terdengar sadis dan kejam memang, memperlakukan orang-orang itu hanya karena mereka ingin pergi menjauh dari serangan Undead. Tapi demi menyelamatkan sebuah negara, apakah hal itu dapat dimaklumi?
Ia terus berlari saat sebuah batu yang tajam merobek sol sepatunya, baju yang dikenakannya lepek oleh keringat. Jin Higa telah berharap ribuan kali bahwa harusnya ia telah mengikuti saran pemerintah daripada mencoba menolong pria yang terdampar di pantai itu.
Meskipun pria itu berbaring tengkurap, namun orang Amerika itu sudah jelas terkena infeksi. Kulitnya pucat, sepucat abu, luka di lengannya mengeluarkan nanah, jelas sebuah tanda bahwa ia bukan lagi seorang manusia. Reaksi Jin pada saat itu adalah untuk mengikuti anjuran pemerintah, memberitahukan kepada otoritas setempat, dan membiarkan pria itu diurus oleh mereka. Tapi dibalik semua itu, Jin adalah orang yang baik. Dia tidak akan mudah berpaling dari seorang pria yang sangat membutuhkan pertolongan.
Seperti sebuah pepatah lama yang mengatakan, setiap perbuatan sekecil apapun akan mendapatkan balasan.
Jin mendekati pria itu dengan hati-hati, lalu mencoba memanggilnya. Ketika tidak ada respon dan jawaban apapun dari pria itu, Jin akhirnya memutuskan untuk membalik badan pria malang itu. Pria berkebangsaan Amerika itu dengan cepat membuka matanya, dengan pupil mata yang seputih susu, menatap Jin dengan tajam. Darah kering terlihat melapisi bibirnya. Kulit wajahnya pun mulai terlihat mengelupas di sana-sini.
Pria itu dikenal sebagai Jacob Mayer, seorang dokter hewan, ayah dari dua gadis kembar yang lucu. Jacob dirasuki oleh nafsu lapar zombie yang tak ada habisnya, dan dengan kegesitan seperti ular, ia membenamkan giginya pada betis kanan Jin dengan buas.
Jin berteriak kesakitan, ia pun membalasnya dengan menghantamkan sebuah batu pada kepala pria itu bertubi-tubi hingga kepala pria itu hancur. Dengan cekatan dan tanpa memperdulikan rasa sakit, Jin membasuh lukanya dengan air laut, mencoba membersihkan lukanya sebelum terlambat.
Jin mendorong mayat itu ke laut, berharap kepada ombak dilautan agar menghancurkan mayat itu dan menyembunyikan kesalahan yang telah ia lakukan. Dengan segera ia berlari menuju rumah, mengabaikan rasa penyesalan dalam setiap langkah. Sudah berlembar-lembar handuk yang ia gunakan untuk membersihkan darah dari luka di kakinya hingga pendarahannya berhenti, lalu membakar semua barang bukti di halaman belakang. Sudah terlalu banyak doa yang ia ucapkan agar kejadian ini akan berakhir cukup sampai disini.
Tapi semuanya sudah terlambat. Patroli laut mengawasi seluruh wilayah pantai seperti elang yang sedang berburu, dan kegiatan yang dilakukan Jin saat itu sudah diketahui oleh tim patroli. Pada malam harinya, tentara datang ke kediaman Jin lalu menendang pintu depan hingga jebol, tanpa suara, dan tanpa penjelasan apapun. Kedua orangtua Jin yang saat itu muncul dari dalam kamar, langsung ditembak mati di tempat saat itu juga. Adik laki-lakinya, yang juga mengikuti jalan hidup ayahnya, menolak untuk menyerah dalam diam. Salah satu tentara dipukul lengannya hingga patah menggunakan tongkat baseball, dan untuk keberaniannya, para tentara menghadiahinya ratusan butir timah panas hingga menembus tubuhnya. Adik perempuan yang baru berusia tujuh tahun pun tak luput dari serangan para tentara. Gadis itu dibunuh saat ia sedang terlelap tidur di dalam kamarnya.
Tindakan itu dilakukan semata-mata untuk kebaikan semua orang.
Jin bersembunyi di dalam lemari pada saat pembantaian itu berlangsung, dan setelah para tentara penjagal itu pergi, ia lari masuk ke dalam hutan, berusaha kabur dari para tentara yang memburunya. Tak butuh waktu lama hingga para tentara menemukan jejaknya. Para tentara terus memburunya hingga empat puluh delapan jam kedepan, setelah berkali-kali ia hampir berhasil ditangkap.
Dalam dua hari terakhir, Jin bersembunyi di sebuah gang sempit, memakan apapun yang ia bisa temukan dari dalam tempat sampah. Ia tidak berani untuk pergi ke rumah sakit. Tidak ada satupun pengobatan yang dapat menyembuhkan luka di kakinya. Orang-orang yang kini sedang mencarinya pun sudah jelas tidak akan menawarkan bantuan apapun padanya.
Jin hanya dapat tidur dalam sekejap saja, disaat dia dapat lolos dari kejaran para tentara. Dalam tidurnya, ia selalu bermimpi tentang pembantaian seluruh anggota keluarganya berulang-ulang kali, tetapi tidak kali ini. Ia lah yang sekarang membunuh kedua orangtuanya, serta adik laki-laki dan adik perempuannya. Jin terbangun dengan bermandikan keringat, entah karena mimpi buruk, atau karena demam bersuhu tinggi yang dideranya, ia sendiri tidak tahu.
Jauh di dalam pikirannya, Jin merasa bahwa seluruh kejadian ini adalah kesalahannya, Kematian seluruh anggota keluarganya, wabah penyakit yang dibawa pria asing itu di pantai, semuanya.
Jin terus berlari.
Sebuah peluru berdesing persis di dekat telinganya, dengan refleks ia menunduk dan segera berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar. Dengan tersengal-sengal ia mencoba bernafas. Meskipun infeksi di dalam tubuhnya menyebar secara perlahan, namun ia dapat merasakan perubahan d dalam dirinya. Pada hari kedua dalam hidupnya sebagai buronan, ia sempat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Kulitnya mulai berubah menjadi keabuan, mirip seperti kulit pria asing yang ia coba tolong waktu itu. Kedua matanya, yang sekarang terlihat sangat jelas, mulai kehilangan warna. Ketika ia menyentuh wajahnya, ia kaget karena ia dapat merasakan kulitnya mulai mengelupas, seperti daun yang berguguran di musim gugur.
Para tentara mulai mendekatinya dengan perlahan. Hanya tiga belas tentara yang tersisa dari total dua puluh tentara yang ditugaskan untuk membunuh Jin dan seluruh anggota keluarganya. Kebanyakan dari mereka masih sangat muda, mungkin baru menyentuh usia dua puluh. Beberapa dari mereka memutuskan untuk menembak kepala mereka sendiri dalam misi yang sekarang mereka kerjakan. Sementara sisa pasukan yang lain merasa kelelahan dan ketakutan. Meskipun mereka mengenakan pakaian pelindung yang menjamin mereka terhindar dari gigitan, mereka mengawasi keadaan sekitar dengan tetap waspada.
Mereka juga saling melindungi satu sama lain. Kabar burung yang beredar mulai menjadi kenyataan. Ada yang bilang bahwa virus yang telah meluluh-lantahkan Amerika mulai menjangkiti negeri ini, dan usaha yang dilakukan pemerintah pun terhitung sia-sia. Bahkan ada juga yang bilang bahwa hanya berada di sekitar zombie dapat membuat seseorang berubah menjadi makhluk mengerikan tersebut.
"Ini tidak masuk akal," kata salah seorang tentara, yang sebenarnya penakut. "Aku tidak percaya kita sedang memburu orang ini seperti anjing rabies."
"Kita tidak akan menyakitinya." Ucap salah satu tentara, yang bahkan lebih muda daripada dirinya. "Kita hanya akan menolongnya, orang ini sedang sakit."
"Sebenarnya, pertolongan macam apa yang akan kita berikan padanya?" Tanyanya. "Apa kau pikir pemerintah berkata jujur saat mereka bilang sedang mencari obat untuk virus ini?"
"Hanya ini yang mereka pedulikan. Mencari obat penyembuhnya."
"Sudah cukup, kalian berdua!" Bentak komandan pasukan, seorang veteran perang yang menyangsikan dirinya sedang melakukan tugas memburu zombie. "Simpan pikiran kalian masing-masing, dan fokus melakukan tugas!"
"Siap, Pak!" Jawab kedua prajurit itu patuh, tanpa bisa membantah.
"Jin Higa!" Panggil salah satu petugas melalui pengeras suara. "Keluar dan menyerahlah! Pengejaran ini sudah berlangsung terlalu lama. Kau harus dikarantina, demi kebaikan semua orang!"
Saat Jin sedang mendatangi sebuah kota kecil untuk mencuri makanan, seorang pria yang kira-kira seusia dengan ayahnya, telah menyudutkannya, dengan sepucuk pistol di tangannya. Tangan pria itu bergetar saat ia mengatakan bahwa ia tidak akan tinggal diam, dan membiarkan wabah ini masuk kedalam rumahnya. Suara pria itu terdengar panik saat ia memanggil seseorang untuk membantunya. Jin megambil sebongkah batu di dekatnya, dan seperti yang telah ia lakukan di pantai dekat rumahnya, memukul kepala pria itu bertubi-tubi hingga tewas. Ia berdiri terhenyak saat melihat tubuh tak bernyawa di depannya, lalu memungut pistol di tanah, dan melanjutkan pelariannya.
Sebuah revolversederhana, yang akan terlihat konyol dibandingkan dengan senjata otomatis yang para tentara itu gunakan. Jika berdoa dalam nafasnya yang terengah-engah, memohon pengampunan pada ayahnya, bahwa yang telah ia lakukan ini hanya semata-mata untuk bertahan hidup. Ia pun segera berlari dari balik pohon dan menghindar dari sasaran tembakan.
Keberuntungan sepertinya berada pada satu-satunya keluarga Higa yang masih bertahan hidup. Salah satu tentara roboh ke tanah dan berteriak kesakitan saat Jin menembakkan pistolnya ke sembarang arah. Ia berlari lebih jauh masuk ke dalam hutan, dan tembakan para tentara lebih banyak mengenai pepohonan yang rapat daripada mengenai dirinya.
Saat tengah berlari, Jin melihat setitik cahaya dari kejauhan. Ternyata sebuah rumah, dan tanpa ragu ia berbelok arah dan berlari menuju rumah itu. Dalam benaknya, menghampiri rumah itu adalah tindakan bodoh. Karena rumah itulah yang pasti akan disambangi tentara-tentara itu untuk menemukan dirinya. Namun Jin tidak perduli lagi, ia tetap akan menuju ke sana.
Otaknya tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Benaknya kini seolah terbuka seperti sebuah jaket kumal yang tersingkap, menjadi tidak logis dan lebih primitif. Di dalam otaknya, yang kini diserang oleh demam tinggi, cahaya itu terlihat seperti sebuah tempat suci. Kedua orangtuanya ada di sana, Ibunya sedang menyiapkan makan malam, ayahnya terlihat sedang bekerja di ruang kerja seperti yang selalu dilakukannya. Adik laki-lakinya sedang bermain video game baru di dalam kamar, memohon pada Jin untuk ikut bermain bersama. Sedangkan adik perempuannya, Aina, bernyanyi dengan berisik, mengikuti irama lagu yang sedang trend saat ini, seperti yang sering dilakukan bersama teman-temannya di dalam kamar.
Jin membuka pintu depan dengan santai, seolah pintu itu adalah benar-benar pintu rumahnya. Bagaimanapun, wanita yang sedang duduk di ruang keluarga, yang bukanlah ibunya, seketika berteriak histeris saat melihat dirinya muncul dari balik pintu depan. Jin hanya tersenyum, lalu perlahan menghampiri wanita itu, dengan tangan terbuka-seolah menanti sebuah pelukan.
Suami wanita itu bergegas menghampiri, dengan tongkat baseball dalam genggaman. Menatap tajam Jin, ke arah kulitnya yang mengelupas, senyumnya yang memperlihatkan gigi-gigi yang telah membusuk, dan bekas luka disana-sini yang mulai mengeluarkan nanah berbau menyengat. Ia menatap pada pria tua itu, lalu berkata, "Ayah, aku pulang."
Tapi pria itu, yang jelas bukanlah ayahnya, mulai meneriaki Jin dengan makian, mengatakan bahwa dirinya adalah monster, lalu berteriak kepada istrinya untuk segera menghubungi polisi. Jin terdiam sejenak, dan dengan geraman, melemparkan tubuhnya ke arah pria tua itu, untuk menancapkan giginya pada leher pria itu, yang kini mulai terlihat hangat dan segar.
Merekapun bergulingan di lantai, lalu pria itu berteriak kesakitan saat Jin menggigit bahu kanannya. Darah mengalir dengan seketika seperti sungai. Seorang pria muda muncul memasuki ruangan, yang usianya kurang lebih sama seperti adik lelaki Jin, menariknya dengan keras. Ayahnya berteriak lebih histeris saat Jin terlempar ke belakang-dengan potongan daging terlihat menggantung di mulutnya.
Jin terdiam, menatap pria muda itu, dengan alis mengerut penuh konsentrasi. Ia membuka mulutnya, bukan untuk memangsa, tapi kali ini untuk berkomunikasi. "Hiro?" Dengan suara berat dan parau, mencoba memanggil sebuah nama dari dalam ingatannya.
Pria muda itu hanya bisa menatap makhluk yang ada di depannya tanpa mampu bergerak. Jin, bagaimanapun, tidak bisa melawan keinginannya, mulai mendekati pria muda itu dengan perlahan, yang ia anggap adalah adiknya. Dengan air mata berlinang, sepasang mata yang masih menunjukkan bahwa ia masih manusia. Ingatannya, yang kini lemah dan memudar karena dirusak oleh infeksi yang mulai memperlambat denyut jantungnya. Ingatan-ingatan yang mulai mengalir di dalam benaknya. Jin dan Hiro mengunjungi kakeknya. Keduanya duduk terpesona saat kakeknya mengisahkan pada mereka pengalaman saat muda. Jin dan Hiro bermain video games, dan ia selalu menekan tombol reset saat dia akan kalah dalam permainan. Jin sedang berdiri membela adiknya, saat Hiro diganggu oleh teman-temannya. Serta ingatan-ingatan lain saat ayahnya mengajarkan tentang kehidupan.
Dengan cepat para tentara memasuki rumah saat Jin masih terlena dalam pikirannya. Mereka dengan mudah mengikuti jejak Jin dari dalam hutan. Geraman makhluk buas terdengar dari mulutnya saat ia memandangi para penjahat ini yang tega membantai seluruh keluarganya. Tanpa sempat bergerak, para tentara ini menghujani Jin dengan ratusan butir peluru.
Hanya sedikit yang tersisa dari tubuhnya, terlihat onggokan daging tak berbentuk diatas lantai kayu yang kini ternoda oleh darah.
Para tentara itu, tanpa komando-mulai menembaki pria tua yang tadi sempat diserang oleh gigitan Jin. Mereka menembaki pria tua malang itu tanpa belas kasihan sedikitpun. Istri dan anaknya juga menjadi sasaran tembakan setelahnya. Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Mereka lalu membakar haus rumah itu hingga rata dengan tanah. Hal yang sama juga mereka lakukan pada kediaman keluarga Higa.
Para tentara itu dibebastugaskan segera setelah misi ini selesai, dan disumpah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Polisi lokal tidak akan bertanya apapun terkait peristiwa ini, dan tidak akan ada satupun media yang meliput tentang pembunuhan ketiga orang ini, dan rumah mereka yang telah dibakar habis.
Seluruh kejadian ini, bagaimanapun, adalah untuk kebaikan semua orang.
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas