- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#85
Chapter 12
“ ya udah lah dok....kalau dokter memang enggak sanggup, mungkin siang nanti saya akan mengajak adik saya ini ke rumah sakit....” ucap gue dan berbalas dengan anggukan kepala dokter ihsan
“ bagaimana mah, apa ada yang mamah mau tanyakan lagi kepada dokter ihsan...?”
“ sepertinya enggak ada dar...mungkin memang sebaiknya kita mengajak imas ke rumah sakit aja, ya udah...lebih baik sekarang ini kamu mengantarkan dokter ihsan dulu ke tempat prakteknya....”
“ biar nanti mang kohar aja mah yang mengantarkan dokter ihsan, karena darma enggak mau meninggalkan mamah dan imas dalam kondisi seperti ini....” ucap gue dan berbalas dengan senyum kecil di wajah nenden
“ gayamu tuh dar, seperti menempatkan keluarga ini dalam bahaya besar aja....”
“ terserah lu mau ngomong apa deh teh, yang pasti gue lebih perduli dengan keluarga ini, dibanding gue harus mendengar omongan lu yang gak ada artinya itu...” ujar gue dengan rasa geram, dan kini tanpa berkeinginan untuk meladeni perkataan nenden tersebut, gue segera mengajak dokter ihsan untuk turun ke lantai bawah guna mengantarkannya ke mobil, tapi kini keteringatan gue akan uang jasa yang belum gue berikan kepada dokter ihsan, telah membuat gue memutuskan untuk terlebih dahulu kembali ke lantai atas guna meminta uang kepada mamah
“ ya udah dok...dokter duluan aja ke mobil, nanti saya akan menyusul ke mobil...” pinta gue lalu berlalu pergi untuk menuju ke lantai atas, tapi kini baru saja gue hendak melangkahkan kaki di anak tangga, gue mendengar suara jeritan dokter ihsan yang terdengar dari arah pintu rumah, mendapati hal tersebut, gue segera berlari guna menghampiri keberadaan dari dokter ihsan, dan kini diantara pintu rumah yang terbuka lebar, nampak terlihat keberadaan dokter ihsan yang tengah ditemani oleh mang kohar
“ ada apa mang....?” tanya gue dengan nada panik begitu melihat dokter ihsan yang tengah memegangi jari tangannya yang terlihat mengeluarkan darah
“ enggak tau nih kang, tapi sepertinya sih terjepit pintu rumah....”
“ terjepit oleh pintu rumah, kok bisa sih....” tanya gue dalam rasa tidak percaya, kini begitu mendapati pertanyaan gue tersebut, terlihat dokter ihsan mengeluarkan botol kecil yang berisikan cairan alkohol serta sehelai kain kasa yang biasa dipergunakannya untuk membalut luka
“ sebaiknya kalian segera pindah dari rumah ini...saya merasa ada sesuatu yang enggak baik dengan rumah ini....” ujar dokter ihsan seraya menyiramkan larutan alkohol pada kain kasa lalu membalutkannya pada jari tangannya yang berdarah, dan kini seiring dengan kain kasa yang telah membalut jari tangannya, bisa gue lihat ekspresi kesakitan di wajah dokter ihsan
“ rumah saya ini enggak baik bagaimana dok....?” mendengar pertanyaan gue ini, dokter ihsan pun segera menceritakan tentang kejadian tidak wajar yang baru saja menimpanya, dan menurut cerita dokter ihsan, disaat dokter ihsan baru saja keluar dari dalam rumah dan hendak menutup kembali pintu rumah, dokter ihsan merasakan seperti ada sesutu yang menarik tangannya, dan disaat yang bersamaan, disaat jari tangan dokter ihsan berada tepat di kusen pintu, entah karena adanya hembusan angin yang cukup kuat dari dalam rumah, daun pintu rumah terhempas menutup dengan keras, dan menghimpit keberadaan dari jari tangan dokter ihsan yang berada di kusen pintu rumah
“ tapi saya yakin, yang mendorong pintu rumah itu bukanlah angin...pasti ada sesuatu yang telah mendorong pintu rumah ini, dan sesuatu yang maksud disini adalah sesuatu yang tadi telah menarik tangan saya ini....” ujar dokter ihsan seraya menahan rasa sakit yang kini tengah dirasakannya
“ ada apa dar....!” teriak mamah dari lantai atas, hingga akhirnya setelah selang beberapa saat dari suara teriakannya tersebut, nampak terlihat keberadaan mamah dan nenden yang tengah berjalan menuju ke pintu rumah
“ ini mah...dokter ihsan jari tangannya terjepit oleh pintu rumah....” teriak gue memberikan informasi kepada mamah diantara langkah kakinya yang masih berjalan menuju ke pintu rumah, hingga akhirnya disaat kini langkah kaki mamah dan nenden tinggal menyisakan beberapa langkah lagi dari keberadaan pintu rumah, tiba tiba saja daun pintu rumah bergerak menutup dengan hempasannya yang keras
“ hahhhhh....” ujar gue dalam rasa tidak percaya atas apa yang telah gue lihat, dan kini diantara ekspresi ketidakpercayaan yang terlihat di wajah dokter ihsan dan mang kohar, gue segera beranjak membuka pintu rumah, dan kini seiring dengan pintu rumah yang telah terbuka, nampak terlihat keberadaan mamah dan nenden yang tengah berdiri terpaku menatap ke arah pintu rumah
“ kang darma....sebaiknya saya pamit sekarang....?” ujar dokter ihsan dan berbalas dengan pergerakan mang kohar yang mengajak dokter ihsan untuk menaiki mobil, dan kini tanpa sempat terpikirkan atas uang jasa yang belum gue bayar, laju mobil yang dikendarai oleh mang kohar terlihat mulai berjalan meninggalkan rumah
Detik waktu yang terus berjalan, kini telah mengantarkan perputaran jarum jam mulai menunjukan pukul setengah lima sore hari, dan diantara rentang waktu yang berjalan tersebut, beberapa kejadian aneh kembali terjadi, keinginan mamah yang ingin membawa imas ke rumah sakit pada saat siang hari tadi, terpaksa harus dibatalkan karena adanya kejadian dimana pada saat imas hendak dibawa berobat ke rumah sakit, tanpa adanya sebuah alasan yang jelas, imas menolak, keinginan mamah tersebut dengan cara menjerit dan meronta, hingga akhirnya disaat papah memutuskan untuk membawa paksa imas dari tempat tidurnya, imas terlihat kesulitan untuk bernafas, hal inilah yang akhirnya menyebabkan papah memutuskan untuk tidak jadi membawa imas ke rumah sakit, entah apa yang sekarang ada dipikiran papah setelah mengalami kejadian yang janggal ini, tapi seiring dengan pembicaraan papah dan mamah yang tanpa sengaja gue curi dengar, papah mengatakan bahwa yang dialami oleh imas itu adalah bagian dari kelabilan mental imas akibat dari kelahirannya yang prematur, dan papah juga yakin kalau saat ini imas sebenarnya membutuhkan seseorang yang ahli dalam menangani mental yang labil bukan seorang dokter umum biasa
“ jadi bagaimana pah, apa papah jadi akan memanggil ahli mental itu....?” tanya mamah diantara keasikan papah yang tengah menikmati rokok yang ada di dalam cangklong rokoknya
“ besok papah akan mencarinya mah, kalau memang papah terpaksa harus mencarinya di jakarta, papah akan mengusahakan untuk membawanya hari itu juga...”
“ memangnya papah yakin kalau apa yang dialami oleh imas itu adalah bagian dari kelabilan mentalnya...?” tanya mamah yang sepertinya mulai ragu dengan keputusan papah ini
“ sangat yakin mah, karena papah percaya kalau apa yang tengah dialami oleh imas itu adalah arahan dari alam bawa sadarnya yang terkadang bisa melukai dirinya sendiri....” terang papah dan berbalas dengan keterdiaman mamah, kini diantara keterdiaman mereka tersebut, gue memutuskan untuk meminta izin keluar dari rumah guna menuntaskan keinginan gue dalam mencari tahu akan makna dari simbol yang terdapat pada kain lusuh
“ memangnya kamu mau kemana dar.....?” tanya papah diantara gumpalan asap rokok yang berterbangan di udara
“ mau jalan jalan aja pah, darma bosan kalau harus di rumah terus....”
“ kamu akan pergi dengan mang kohar juga dar...?” tanya mamah tanpa adanya kecurigaan atas tujuan utama dari kepergian gue ini
“ iya mah, biar enggak sepi....”
“ ya udah kalau begitu....pulangnya jangan terlalu malam dar, karena besok mang kohar harus mengantarkan papah pergi, lagi pula bukannya nanti malam kamu harus menjaga nenek...”
“ iya mah tenang aja, pasti darma pulangnya enggak malam malam kok...”
Selepas kini gue mendapatkan izin dari papah dan mamah, gue segera berjalan menuju ke mobil, dimana mang kohar telah menanti kedatangan gue, tapi kini baru saja gue hendak menaiki mobil, terdengar suara panggilan angga yang memanggil nama gue
“ ada apa ga....?” tanya gue dan berbalas dengan pergerakan angga yang berjalan menghampiri gue
“ bang....sebenarnya ada yang angga ingin ceritakan sama abang...tapi...”
“ tapi apa....?” tanya gue kembali dengan rasa penasaran, tapi kini belum sempat gue mendengarkan jawaban dari angga, gue seperti merasakan adanya seseorang yang tengah mengamati pembicaraan gue saat ini, mendapati hal tersebut, gue segera mengarahkan pandangan ke arah jendela kamar nenden
“ kok perasaan gue jadi enggak tenang gini ya....” gumam gue begitu melihat tidak ada seorangpun yang berada di jendela kamar nenden, yang kini terlihat hanyalah keberadaan dari gorden jendela kamar yang terlihat bergoyang goyang
“ ya udah ga, sebaiknya nanti kamu menceritakannya disaat abang udah pulang, karena sekarang abang harus pergi dulu....”
“ tapi bang....”
“ enggak ada tapi tapian ga, abang janji sepulangnya abang nanti, abang pasti akan mendengarkan cerita kamu itu....” selepas dari perkataan gue tersebut, terlihat angga hanya terdiam, hingga akhirnya setelah keterdiamannya tersebut, angga pun beranjak pergi meninggalkan gue
“ bagaimana kang darma, apa kita jadi ke rumah ki panca itu...?” tanya mang kohar seraya menyalakan mesin mobil
“ ya ampun mang kohar...ya jadilah, ya udah sebaiknya sekarang kita berangkat ke warung makan dulu untuk menjemput penjaga warung itu....”
Hampir disepanjang perjalanan menuju ke warung makan, gue kini hanya bisa terdiam dalam lamunan, sejujurnya saat ini gue merasa bingung dengan rangkaian kejadian aneh yang telah terjadi secara berturut turut pada hari ini, dan diantara kejadian aneh yang telah terjadi itu, gue sama sekali belum menemukan adanya kepastian akan penyebab dari semua kejadian aneh itu
“ brengsek....” maki gue dalam rasa kesal seraya memukulkan tangan pada dashboard mobil
“ sabar kang....semuanya itu pasti akan ada jawabannya....”
Selepas dari perkataan mang kohar tersebut, kini dalam selang waktu yang tidak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh mang kohar nampak menepi di warung makan yang menjadi tujuan kami, keberadaan dari warung makan yang terlihat tutup, kini menimbulkan sedikit tanda tanya di hati gue ini akan keberadaan dari bapak penjaga warung makan
“ brengsek...kok warungnya tutup sih, bukannya penjaga warung itu tadi udah berjanji mengantarkan kita....” gerutu gue begitu keluar dari dalam mobil, dan kini diantara pandangan gue yang tengah mencari keberadaan dari bapak penjaga warung, nampak terlihat mang kohar tengah mengamati sesuatu di tempat sampah
“ lagi lihat apa mang...?” tanya gue seraya berjalan menghampiri mang kohar, dan setibanya kini gue ditempat sampah, nampak terlihat keberadaan dari pecahan piring serta beberapa sampah makanan
“ wahh ada apa ini mang....?”
“ mamang juga enggak tau kang, sepertinya sesuatu telah terjadi di warung makan ini....”
Baru saja mang kohar mengucapkan perkataannya itu, firasat gue yang mengatakan akan adanya keberadaan seseorang yang tengah mengawasi kami saat ini, kini telah menjadi kenyataan seiring dengan tatapan mata gue yang menoleh ke arah belakang
“ ya ampun pak...saya kirain siapa....” ujar gue seraya membalikan tubuh ini lalu berjalan menghampiri bapak penjaga warung, mendapati apa yang gue lakukan tersebut, terlihat mang kohar ikut berjalan menghampiri bapak penjaga warung
“ ada apa pak...?” tanya gue begitu melihat ekspresi wajah penjaga warung yang terlihat tegang
“ apa sebenarnya yang sedang kalian hadapi saat ini....?” tanya penjaga warung dan berbalas dengan kebingungan gue dan mang kohar
“ maksud bapak apa, sumpah pak...saya enggak mengerti dengan maksud dari pertanyaan bapak itu....”
Mendapati bahwa penjaga warung kini hanya terdiam begitu mendengar perkataan gue itu, mang kohar terlihat mengambil inisiati dengan cara mengajak bapak penjaga warung untuk duduk di bangku panjang yang berada di depan warung makan
“ apa sebenarnya yang telah terjadi pak...?” tanya mang kohar setelah melihat ketenangan yang diperlihatkan oleh bapak penjaga warung, dan kini setelah terdiam beberapa saat, akhirnya penjaga warung itu mulai menceritakan tentang sebuah kejadian aneh yang telah dialaminya, dan kejadian aneh yang telah dialaminya itu adalah peristiwa berhamburannya piring piring yang menyajikan menu makanan tanpa adanya sebuah alasan yang jelas
“ sepertinya apa yang telah saya alami itu adalah firasat yang kurang yang baik....”
“ jadi maksud bapak, apa yang telah bapak alami itu terhubung dengan masalah yang tengah kami hadapi ini....?”
“ sepertinya begitu kang, karena kejadian ini terjadi setelah saya menyanggupi untuk mengantar akang ke rumah ki panca....”
“ waduhh...lantas bagaimana kang tentang rencana kita yang akan berkunjung ke rumah ki panca...?”
“ saya enggak bisa ikut kang, saya enggak mau terlibat terlalu dalam dengan masalah akang....”
“ tapi pak...jika bapak memang tidak berkenan untuk mengantarkan kami, saya mohon agar bapak bisa memberikan informasi tentang keberadaan dari rumah ki panca itu, biar nanti kami yang akan mencarinya sendiri....”
Mendengar perkataan gue tersebut, untuk beberapa saat nampak bapak penjaga warung tersebut hanya bisa terdiam dalam keraguan, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, bapak penjaga warung tersebut memutuskan untuk memberikan kami denah alamat dari rumah ki panca
“ terima kasih pak....saya enggak akan melupakan jasa baik bapak ini....” ujar gue seraya menyerahkan uang ala kadarnya kepada bapak penjaga warung sebagai pengganti atas kerugian yang telah dialaminya, dan kini setelah tidak ada lagi pembicaraan yang kami lakukan dengan bapak penjaga warung, gue mengajak mang kohar untuk segera pergi menuju ke rumah ki panca, dan kini dengan berpandu pada denah alamat yang telah diberikan oleh bapak penjaga warung, gue dan mang kohar mulai mencari keberadaan dari rumah ki panca, hingga akhirnya seiring dengan gelap yang telah turun menyelimuti bumi, kami pun berhasil menemukan keberadaan dari rumah ki panca yang berada jauh dari pemukiman warga bahkan bisa dikatakan rumah ki panca tersebut terlihat menyendiri dan berada pada ujung jalan yang hampir berbatasan dengan kawasan hutan
“ sepertinya itu rumahnya kang....” tunjuk mang kohar pada sebuah rumah begitu menepikan mobilnya di sisi jalan, dan kini nampak di pandangan gue keberadaan dari sebuah rumah sederhana yang berada pada posisi menjorok ke dalam dari sisi jalan
“ iya...sepertinya ini rumahnya, tapi kenapa di lokasi ini masih belum ada penerangan ya mang...?” tanya gue begitu melihat rumah tersebut hanya di terangi oleh cahaya yang sepertinya berasal dari cahaya patromak
“ ya iya lah kang...rumah terpencil seperti ini mana ada penerangannya...” jawab mang kohar seraya mengarahkan laju mobil untuk memasuki halaman rumah,dan kini seiring dengan laju mobil yang telah memasuki halaman rumah yang tidak berpagar, keberadaan dari beberapa pohon besar nampak menghiasi halaman rumah tersebut
“ sepertinya orangnya sedang ada di rumah....” ujar mang kohar begitu melihat sinar cahaya patromak di dalam rumah, mendapati perkataan mang kohar tersebut, gue pun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke pintu rumah, kini diantara pergerakan yang gue lakukan itu, nampak terlihat mang kohar mengambil kantong kresek yang tersimpan di dalam bagasi mobil
“ assalamualaikum....” salam gue dan berbalas dengan keheningan, hingga akhirnya setelah beberapa kali gue mengulangi salam tersebut, sebuah jawaban salam terdengar dari dalam rumah, dan kini seiring dengan pintu rumah yang telah terbuka, terlihat kehadiran dari seorang lelaki tua dengan rambutnya yang telah berwarna putih
“ kalian siapa ya...?, ada keperluan apa...?” tanya lelaki tua tersebut tanpa mempersilahkan kami untuk memasuki rumahnya, tapi kini setelah gue mencoba untuk memperkenalkan diri dan mengutarakan akan maksud serta latar belakang dari kedatangan gue ke rumah ini, lelaki tua tersebut meminta kami untuk memasuki rumahnya
“ ohh jadi kalian ini tau rumah aki dari bapak penjaga warung itu....?” ujar ki panca seraya mempersilahkan kami duduk pada sebuah kursi panjang yang terbuat dari rangkaian bambu
“ iya ki, kebetulan pada saat itu kami sedang mampir ke warung makan itu untuk makan pagi, dan disaat kami membicarakan tentang simbol yang terdapat pada kain lusuh yang telah kami temukan ini, bapak penjaga warung tersebut menyarankan agar kami berkunjung ke rumah aki....tapi sayang...bapak penjaga warung itu sekarang enggak bisa ikut karena mengalami sesuatu....”
“ mengalami sesuatu....?”
meizhaa dan 5 lainnya memberi reputasi
6