- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.6K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#84
Chapter 11
Dengan diiringi oleh senyum kemenangan yang mengembang di wajah nenden, gue segera melangkah pergi meninggalkan kamar, hal yang terpikirkan oleh gue saat ini adalah gue harus secepatnya menemukan tempat praktek dokter yang telah melakukan kegiatan pengobatannya pagi ini, dan kini dengan ditemani oleh mang kohar, gue mulai menjelajah sudut demi sudut jalan kampung guna mencari keberadaan dari tempat praktek dokter yang telah buka
“ ehhh mang kohar membawa kantong kresek itu kan....?” tanya gue dan berbalas dengan anggukan kepala mang kohar
“ mamang bawa kok kang, itu mamang simpan di dalam bagasi....” jawab mang kohar diantara pandangannya yang menatap ke arah jalan
“ bagaimana nih kang darma....sampai sejauh ini kita masih belum bisa menemukan tempat praktek dokter yang buka...” ujar mang kohar begitu kini kami tiba di luar jalan kampung
“ iya mang, mungkin ada baiknya jika kita menepi dulu...ya siapa tau kita akan mendapatkan informasi tentang keberadaan praktek dokter yang telah buka pagi ini...” mendapati perkataan gue itu, mang kohar kini terlihat memperlambat laju kendaraannya, hingga akhirnya ketika mang kohar melihat keberadaan sebuah warung makan kecil yang berada di sisi jalan, mang kohar segera menghentikan laju mobil tepat di depan warung makan tersebut
“ sebaiknya kita sarapan dulu mang, kebetulan dari tadi pagi kita belum sempat sarapan...” saran gue dan berbalas dengan persetujuan mang kohar, dan kini seiring dengan pergerakan kami yang telah keluar dari dalam mobil, gue terlebih dahulu mengambil kantong kresek yang tersimpan di bagasi, lalu segera berjalan menyusul mang kohar yang telah memasuki warung makan, kini diantara langkah kaki gue yang telah berjalan memasuki warung makan, nampak keberadaan dari seorang penjaga warung yang menyambut kedatangan gue dengan senyumannya yang ramah, tapi sepertinya keramahan yang ditunjukannya itu tidaklah berlangsung lama, seiring dengan keberadaan penjaga warung yang kini menawarkan menu makanannya kepada kami, bisa gue lihat perubahan ekspresi wajah dari penjaga warung, seperti penjaga warung tersebut merasa tidak nyaman dengan kehadiran kami di warung ini
“ ada apa pak, sepertinya bapak enggak suka dengan kehadiran kami di warung ini ya....?” tanya gue dengan agak ketus kepada penjaga warung
“ duh bukan begitu kang...maaf ya kang kalau saya membuat akang jadi enggak nyaman, sebenarnya saya hanya ingin memberitahukan sesuatu, kalau akang akang memerlukan kamar mandi, kamar mandinya ada di belakang warung ini.....” ujar penjaga warung dengan menunjukan ekspresi penyesalannya, dan kini setelah penjaga warung menerima orderan makanan dari kami, penjaga warung tersebut terlihat berjalan pergi meninggalkan kami dengan sesekali memperlihatkan rasa mualnya
“ sialan tuh orang...kesannya kita ini bau banget ya mang....” gerutu gue dan berbalas dengan gelak tawa mang kohar
“ bukannya kesannya lagi kang, tapi memang kita ini bau kang....” ujar mang kohar seraya mengarahkan pandangannya ke kantong kresek yang yang gue bawa
“ astagfirullah mang...saya beneran lupa....”
Selepas dari perkataan gue itu, gue langsung membuat simpul ikatan pada kantong kresek guna mengurangi bau busuk yang tercium ini
“ mamang mau bertanya sesuatu kang, kenapa sih kang darma tertarik sekali dengan kain lusuh dan cangkang telur itu...?”
Entah kini gue harus merespon dengan jawaban apa atas pertanyaan yang terucap dari mulut mang kohar, tapi sepertinya diantara ketiadaan seorang pun yang mempercayai adanya sesuatu yang janggal dengan rumah yang gue tempati sekarang ini, sepertinya tidak ada salahnya jika gue menaruh kepercayaan kepada mang kohar untuk berbagi dengan apa yang kini tengah gue rasakan saat ini
“ sebaiknya kita sarapan dulu mang, nanti saya akan menceritakan semuanya....”
Baru saja gue menyelesaikan perkataan gue itu, keberadaan dari penjaga warung yang telah menyajikan orderan makanan yang telah kami pesan, kini mulai mengantarkan kesibukan kami dalam menghabiskan makanan yang tersaji, hingga akhirnya diantara ketiadaan makanan yang dapat kami makan lagi, gue mulai menceritakan kepada mang kohar tentang apa yang telah gue alami dalam beberapa hari belakangan ini, termasuk juga kejadian aneh yang telah dialami oleh imas dan bi idah
“ waduhhhh....hampir aja kemarin itu mamang percaya dengan perkataan kang darma yang mengatakan kalau pengalaman aneh yang telah mamang alami itu adalah efek dari rasa lelah mamang....”
“ saya minta maaf mang, saya enggak bermaksud untuk membohongi mamang seperti itu, semua yang saya lakukan itu semata mata hanya untuk menenangkan mamang aja.....” ujar gue dan berbalas dengan anggukan kepala mang kohar
“ jadi kang darma mencurigai kalau bayangan hitam yang telah kang darma lihat itu adalah sosok hantu dari kakaknya papah kang darma yang telah meninggal itu....?”
“ entahlah mang, tapi kecurigaan saya sepertinya tertuju ke arah situ.....” jawab gue dengan memandang ke arah penjaga warung yang sepertinya telah sedari tadi ikut mendengarkan pembicaraan kami ini
“ dan mengenai hancurnya patung angsa itu, sebenarnya saya telah mencurigai seseorang yang mungkin telah menjadi dalang dari hancurnya patung angsa itu....”
“ hahh...siapa kang...?” tanya mang kohar dengan nada terkejut
“ teh nenden....yaa saya mencurigai teh nenden mang sebagai tersangka utama atas hancurnya patung angsa itu.....”
“ neng nenden....” ujar mang kohar dengan setengah berteriak
“ haduh kang darma....hati hati kang dalam mengatakan hal seperti ini kepada papah ataupun kepada mamah kang darma, karena mang kohar yakin...pasti papah dan mamah kang darma akan marah besar jika mendengar cerita kang darma ini, bukan apa apa kang...neng nenden itu kan kakaknya kang darma...”
“ iya mang saya mengerti, makanya saya menceritakan semuanya ini kepada mang kohar....”
“ kalau mamang boleh tau, atas dasar apa kang darma mencurigai neng nenden sebagai pelaku dari peristiwa hancurnya patung angsa itu.....?” tanya mang kohar dan berbalas dengan keteringatan gue atas keanehan yang gue temukan di kamar mandi
“ kecurigaan saya yang pertama mang, andaikan memang peristiwa hancurnya patung angsa itu adalah ulah dari orang luar, seharusnya orang luar tersebut telah mempersiapkan peralatan terlebih dahulu guna menghancurkan patung itu, yang mamang temukan justru bukan seperti itu kan mang...”
“ iya kang...mamang menemukan cangkul milik kita ada di dalam area kandang angsa, jujur aja mamang jadi bingung kang, bagaimana mungkin pelaku itu bisa mengetahui keberadaan cangkul yang mamang simpan di halaman belakang....”
“ sedangkan untuk kecurigaan saya yang kedua mang, tadi pagi itu saat saya ke kamar mandi yang ada di lantai atas, saya menemukan adanya kotoran tanah merah di lantai kamar mandi, selain itu saya juga menemukan adanya sebuah silet di dalam lubang toilet, dengan kata lain dari semua yang telah saya temukan itu, seharusnya mengarah pada pelaku yang kemungkinannya adalah keluarga saya sendiri, karena sangatlah tidak mungkin jika seseorang yang telah melakukan perbuatan konyol di kamar mandi adalah orang luar....” ujar gue seraya menghela nafas panjang
“ tapi kang...kenapa kang darma mencurigai neng nenden, apa alasannya...?”
“ saya menemukan pagi ini teh nenden udah berubah mang, dia bukan lagi teh nenden yang saya kenal...”
“ wahhhhh....ini benar benar sesuatu yang serius kang, tapi mamang harap, kang darma jangan menceritakan kejadian ini kepada papah dan mamah kang darma, karena kang darma sama sekali enggak mempunyai bukti untuk meyakinkan semuanya ini kepada papah dan mamah kang darma....” ucap mang kohar dengan bijaknya
“ tapi jujur aja mang...saya juga masih bingung dengan kecurigaan saya itu....”
“ bingung bagaimana kang....?”
“ kalau memang teh nenden adalah pelaku dari hancurnya patung angsa yang ada di kandang angsa itu, dengan maksud dan tujuan apa teh nenden menghancurkan patung angsa itu....” jawab gue dan berbalas dengan ekspresi kebingungan di wajah mang kohar, dan seiring dengan ekspresi kebingungan yang diperlihatkan oleh mang kohar, sepertinya keberadaan penjaga warung yang mulai terbuai dalam alur pembicaraan ini, kini sudah bisa melupakan akan aroma bau busuk yang tadi dirasakannya
“ dan sepertinya jawaban dari kebingungan saya itu ada di lembaran kain lusuh yang ada di kantong kresek ini.....” selepas dari perkataan gue tersebut, gue segera mengeluarkan kain lusuh dan cangkang telur dari dalam kantong kresek, lalu meletakannya di meja
“ seharusnya ada sesuatu yang tersimpan di dalam lembaran kain lusuh ini mang....” ujar gue seraya menunjuk pada helaian kain lusuh yang telah ditemukan oleh mang kohar di area kandang angsa
“ seharusnya memang seperti itu ya kang, karena di helaian kain yang lain, kain tersebut menyimpan telur ini.....” ucap mang kohar menunjuk pada helaian kain lusuh yang berisikan cangkang telur
“ lantas untuk mengenai simbol yang ada di kain ini, jujur aja saya enggak sependapat dengan perkataan papah yang mengatakan bahwa simbol yang ada di kain ini adalah motif kain pada masa itu...”
“ ahh kang darma...sebenarnya saya juga enggak setuju dengan perkataan papah kang darma, justru saya lebih yakin kalau simbol yang ada di kain ini adalah salah satu bentuk dari rajah, tapi mamang juga enggak tau fungsi rajah yang ada di kain ini untuk apa.......” seiring dengan perkataan mang kohar tersebut, nampak terlihat keberadaan dari penjaga warung yang telah sedari tadi mengikuti pembicaraan kami ini, kini mulai berjalan menghampiri kami
“ ada apa pak....?” tanya gue dengan rasa heran begitu penjaga warung tersebut kini mulai memperhatikan keberadaan simbol yang terdapat dalam helaian kain lusuh
“ sepertinya itu memang rajah kang, tapi saya kurang begitu mengerti....kalau akang memang ingin mengetahui lebih lanjut tentang rajah ini, saya mengetahui seseorang yang bisa menerangkan semuanya ini....yaa setidaknya orang tersebut bisa memberikan gambaran sedikit akan fungsi dari rajah ini....”
“ wahh boleh tuh pak....kalau bisa saya ingin bertemu dengan orang itu....” ujar gue dengan nada meninggi dan penuh dengan keantusiasan
“ namanya ki panca, dia adalah orang pintar yang banyak mengerti tentang hal hal yang berhubungan dengan dunia supranatural...”
“ apa bapak bisa mengantarkan kami ke rumah ki panca....?”
“ kang darma....sabar kang, ingat kita harus mencari dokter terlebih dahulu.....” tegur mang kohar mencoba mengingatkan gue akan tujuan awal dari perjalanan kami ini
“ astagfirullah....saya hampir lupa mang, ya udah sebaiknya kita mencari dokter dulu, dan mengenai keinginan saya untuk berkunjung ke rumah ki panca, kalau bisa sore nanti bapak mengantarkan kami kesana....”
“ insha allah bisa kang....yaa hitung hitung saya membantu akang....” selepas dari perkataan penjaga warung tersebut, gue segera membayar atas apa yang telah kami makan, dan kini dengan bermodalkan sebuah informasi dari penjaga warung akan keberadaan dari tempat praktek dokter yang pagi ini telah buka, akhirnya gue pun menemukan keberadaan dari tempat praktek dokter tersebut, dan keberadaannya itu tidaklah terlalu jauh dari warung tempat kami makan
“ jangan lupa untuk menyimpan kantong kresek itu di dalam bagasi kang....” ucap mang kohar begitu menepikan mobil di sisi jalan, dan kini tanpa merespon perkataan dari mang kohar, gue segera keluar dari dalam mobil guna menyimpan kantong kresek di dalam bagasi
Dokter Ihsan....yaa itulah sebuah nama yang tertera pada sebuah papan reklame kecil yang terpasang dan berada tepat di sebuah rumah kecil yang berada di sisi kanan jalan, ketiadaan pasien yang berkunjung pagi ini, kini telah mengantarkan langkah kami terasa begitu mudah dalam bertemu dengan dokter ihsan, dan kini dengan diantarakan oleh seorang lelaki tua yang bertugas sebagai penerima pasien, gue dan mang kohar pun mengutarakan akan maksud dan tujuan dari kedatangan kami kepada dokter ihsan
“ ohh jadi begitu, jadi sekarang ini kondisi adik kamu dalam keadaan tubuh yang dingin dan enggak bisa membuka pejaman matanya...”
“ iya dok...entahlah, antara enggak bisa atau enggak mau membuka pejaman matanya...”
Mendengar perkataan gue tersebut, terlihat ekspresi kebingungan di wajah dokter ihsan, entah dokter ihsan mengerti atau tidak dengan maksud dari perkataan gue tadi, tapi sepertinya kini dokter ihsan merasa tidak nyaman dengan perkataan gue tersebut
“ yang kamu maksud enggak mau membuka pejamannya itu apa....?” tanya dokter ihsan dengan nada kecurigaan, mendapati hal tersebut, kini gue bisa merasakan, adanya sentuhan tangan mang kohar yang mencoba mengingatkan gue untuk tidak berbicara sembarangan
“ maksud saya itu dok...adik saya enggak mau membuka pejaman mata karena mungkin matanya itu mengalami suatu masalah....”
Entah kini dokter ihsan mempercayai atau tidak alasan gue itu, tapi yang pasti selepas dari perkataan gue itu, dokter ihsan terlihat memasukan peralatan kedokterannya ke dalam tas kerjanya
“ baiklah kalau begitu, sebaiknya kita berangkat sekarang...” ujar dokter ihsan dan berbalas dengan anggukan kepala gue dan mang kohar
Kini dengan membawa sedikit harapan atas kesembuhan imas, laju kendaraan yang dikendarai oleh mang kohar akhirnya mulai berjalan memasuki halaman rumah, untuk sesekali nampak pandangan dokter ihsan mengamati beberapa sudut dari halaman rumah, dan sepertinya kini gue bisa melihat dengan lebih jelas akan ekspresi ketidaknyamanan yang tergambar di wajah dokter ihsan
“ sepertinya ini rumah tua peninggalan belanda ya....?” tanya dokter ihsan begitu kami telah keluar dari dalam mobil
“ iya dok, memangnya kenapa dok....?” jawab gue dan balik bertanya
“ ohhh enggak...enggak kenapa napa....”
“ rumah ini...rumah peninggalan kakek saya dok....” ujar gue dan berbalas dengan anggukan kepala dokter ihsan, dan seiring dengan langkah kaki kami yang telah berjalan ke pintu rumah, nampak terlihat keberadaan bi idah yang telah membuka pintu rumah
“ silahkan masuk dok....” pinta gue dan berbalas dengan pergerakan dokter ihsan yang memasuki rumah
“ mamah dimana bi....?” tanya gue begitu memasuki rumah
“ ada di kamar atas kang bersama dengan neng nenden......”
Mendapati jawaban bi idah tersebut, gue segera mengajak dokter ihsan untuk menuju ke kamar nenden, dan setibanya kami dikamar, terlihat keberadaan mamah dan nenden yang tengah duduk di sisi kanan dan kiri tempat tidur, sedangkan imas terlihat masih terbaring dengan kedua kelopak matanya yang terpejam, dan kini seakan tidak ingin berlama lama untuk mendapatkan kepastian akan kondisi imas saat ini, gue meminta kepada dokter ihsan untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap imas
“ tolong anak saya dok, sebenarnya dia sakit apa....” ucap mamah diantara pergerakan tangan dokter ihsan yang terlihat mengeluarkan alat kedokterannya dari dalam tas kerjanya, dan kini dengan senyum yang mengembang di wajahnya, terlihat dokter ihsan mencoba untuk mengadakan komunikasi awal dengan imas sebelum melakukan pemeriksaannya, tapi kini begitu mendapati keterdiaman imas dalam merespon perkataan dokter ihsan, dokter ihsan terlihat segera melakukan pemeriksaan pada bagian tubuh dan mata imas
“ sepertinya anak ibu demam, mungkin ini ada hubungannya dengan sakit yang dialami pada bagian mata anak ibu....” ujar dokter ihsan begitu menyentuh tubuh imas, dan kini dengan memegang sebuah senter kecil di tangannya, dokter ihsan meminta kepada imas agar membuka pejaman matanya
“ tolong dibuka dulu dik, biar saya periksa dulu matanya....”
“ engakkkkk...!!! imas enggak mauu...!!!” teriak imas seraya menepiskan tangan dokter ihsan yang memegang kelopak matanya, mendapati hal tersebut, nampak sekali ekspresi keterkejutan di wajah dokter ihsan karena tidak menyangka akan mendapat respon yang seperti itu dari imas, dan kini seakan tidak ingin mengalah dengan situasi yang ada, dokter ihsan pun terlihat untuk mencoba kembali memegang kelopak mata imas dengan kedua tangannya, keberadaan senter kecil yang kini terlihat terapit diantara kedua bibir dokter ihsan nampak mulai bergetar, hal ini seperti menunjukan bahwa dokter ihsan tengah berusaha dengan keras untuk membuka pejaman kelopak mata imas
“ imas...tolong buka pejaman matanya sebentar, biar dokter memeriksanya dulu...” pinta mamah seraya membelai rambut imas, tapi kini bukannya sebuah respon baik yang diterima oleh mamah, nampak terlihat imas mencoba kembali untuk menepiskan tangan dokter ihsan dari kelopak matanya, mendapati hal tersebut, kini diantara keterdiaman nenden dalam menyikapi situasi yang ada, gue memutuskan untuk membantu dokter ihsan dengan cara memegangi kedua tangan imas
“ tolong jangan melawan ims...dokter ihsan hanya ingin memeriksa mata kamu...” bujuk gue diantara pergerakan tubuh imas yang mencoba meronta dari pegangan tangan gue, hingga akhirnya seiring dengan ekspresi kelelahan yang terlihat di wajah dokter ihsan, dokter ihsan nampak menghentikan pergerakan tangannya dalam usaha membuka pejaman kelopak mata imas
“ ini enggak mungkin...sepertinya kekuatan alam bawah sadar anak ini telah membuat kelopak mata ini sulit untuk dibuka....” gumam dokter ihsan dengan peluh yang mengucur di wajahnya, tapi kini baru saja beberapa saat dokter ihsan melontarkan gumamannya tersebut, nampak dokter ihsan mengarahkan pandangannya ke langit kamar seraya mengusap bagian tengkuk lehernya
“ ada apa dok....?” tanya gue yang merasa bingung dengan apa yang tengah diperlihatkan oleh dokter ihsan, tapi kini bukannya menjawab pertanyaan gue tersebut, terlihat dokter ihsan memandangi telapak tangannya dan setelah itu kembali memandang ke arah langit kamar
“ dok....ada apa...!” tegur gue dengan nada yang meninggi
“ enggak...enggak ada apa apa kang, tadi saya mengira seperti ada cairan yang jatuh di tengkuk leher saya ini....” terang dokter ihsan masih dalam pandangan yang menatap ke langit kamar, hingga akhirnya diantara ketidakpastian dengan apa yang telah dialami oleh dokter ihsan, nampak dokter ihsan menghentikan kegiatan pemeriksaannya
“ dok...adik saya kenapa....?” tanya gue begitu melihat dokter ihsan memasukan peralatan kedokterannya ke dalam tas kerjanya
“ saya enggak tau kang, sepertinya saya enggak sanggup untuk memeriksanya...ada baiknya jika adik kamu ini dibawa ke rumah sakit aja, yaa siapa tau dengan bantuan perlatan kedokteran yang ada disana, penyakit adik kamu ini akan bisa diketahui...” jawab dokter ihsan masih dengan menunjukan ekspresi ketidaknyamanannya, kini setelah berbasa basi sebentar, akhirnya dokter ihsan pun meminta izin untuk meninggalkan rumah
meizhaa dan 6 lainnya memberi reputasi
7