Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape

Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5

[PART 1]
 
"Ya udah, mendingan kamu putus dari aku, biar kamu bisa pacaran sama bule."
 
Aku masih teringat ucapan sarkastiknya saat aku menceritakan mimpi masa kecilku yang menjadi latar belakang lagu yang aku ciptakan sewaktu kecil.
 
Dengan tawa garing aku pun menanggapi kembali ucapannya, "Makasih loh ya. Amin."
 
Tidak kusangka bahwa memang pada akhirnya hubungan kami berakhir tak lama setelah itu. Itu semua karena aku menangkapnya basah membohongiku selama hampir satu tahun bersama. Nyatanya ia tidak pernah putus dari pacarnya yang ada di kampung halamannya, dan aku dijadikannya 'backup plan'. Semua ucapan dan tindakan manisnya hanyalah kotoran kerbau belaka.
 
Ingin ku berkata kasar padanya, tetapi daripada hanya berkata kasar, aku melemparkan bom atom padanya di hari ulang tahunnya. Aku mencampakkannya sambil membuka semua kebohongannya selama ini padaku sampai ia tidak dapat mengelak. Ia hanya meminta maaf dengan tangisan buayanya. Tapi cih, basi. Aku tidak peduli lagi.
 
Sudahlah. Ini bukan kisah tentangnya. Ini kisah tentang, Mr. Bule.
 
~~~~~~~~~~~~

 

April 2018 adalah awal aku memutuskan untuk berkarir menjadi tutor online pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dari semua pekerjaan yang pernah aku jalani, inilah pekerjaan yang paling aku nikmati. Aku tak perlu keluar rumah dan berdandan ala kadarnya (terkadang aku juga tidak berdandan dan memakai celana pendek), tetapi aku bisa meraup penghasilan yang lebih dari saat aku bekerja di lembaga.
 
Masih dalam bulan pertama dalam karir baru ini, aku menerima permintaan kursus dari seorang pria berkewarganegaraan Australia. Ia bercerita bahwa belum lama ia kembali dari Jakarta menjalani kegiatan dari sekolah bahasanya, dan alasan mengapa ia mengambil kursus online adalah untuk memperlancar Bahasa Indonesianya.
 
Di awal kami berkomunikasi ia masih terdengar kaku dengan Bahasa Indonesia yang terlalu formal dan masih sedikit kesulitan menangkap kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Tetapi sedikit demi sedikit aku mengajarinya untuk berbahasa Indonesia sehari-hari sehingga lebih terdengar santai. Ia pun semakin lama menjadi semakin baik.
 
Beberapa bulan setelah itu ia memberitahukan rencananya untuk pergi ke Jakarta lagi karena sekolah bahasanya mengadakan kegiatan lainnya lagi disana selama dua minggu. Karena jadwal yang begitu padat disana, ia pun tidak mengambil kursus denganku. Tetapi, ia masih berkomunikasi denganku melalui Whatsapp.
 
“Sayangnya kamu tidak tinggal di Jakarta, ya,” katanya padaku. “Kalau ada kesempatan, aku ingin bertemu dengan kamu.”
 
Entah kenapa pesannya membuatku tersenyum sendiri.
 
“Oh ya. Nanti ada waktunya,” aku memberi tanggapan balik.
 
“Ah! Kenapa kamu tidak ke Jakarta saja?” Ia mencetuskan sebuah ide.
 
Dalam hati, aku merasakan keinginan untuk bertemu dengannya secara langsung. Tapi pada saat itu aku sedang ingin banyak menabung demi suatu alasan sehingga aku tak ingin terlalu banyak memakai uangku.
 
Tetapi belum sempat aku ungkapkan padanya, ia berkata lagi, “Aku akan memenuhi semua keperluanmu disini. Tiket pesawat, penginapan, makan dan semuanya. Pemerintah Australia memberiku uang saku terlalu banyak. Ini bisa dipakai untuk kedatanganmu kesini.”
 
Seketika ia juga hatiku meluap kegirangan. Ini serius?pikirku dalam hati. Tetapi aku berusaha untuk berpikir dengan akal sehatku. Aku tidak akan terlena begitu saja.
 
Saat itu juga aku berdiskusi dengan kedua orang tuaku, meminta pendapat mereka tentang hal ini. Selama ini aku sudah menceritakan tentangnya pada papa dan mama, karena aku tidak ingin asal mengambil keputusan yang beresiko. Pada awalnya mereka cemas akan keamananku sebagai wanita disana.
 
Namun kemudian ia mengirim pesan padaku yang berisi bahwa ia menjamin keselamatanku saat di Jakarta dan menghormatiku. Ia menyadari bahwa aku bukan wanita kebanyakan yang bisa dengan mudah diajak pergi seolah harga diriku begitu murah.
 
Yang aku lakukan setelah itu hanya berdoa dan keesokan harinya kedua orang tuaku mengijinkanku dengan catatan setiap gerak gerikku akan dipantau dari jarak jauh. Lalu aku pun memberitahukan padanya bahwa aku menerima tawarannya untuk datang akhir pekan ini ke Jakarta.
 
Ia pun memesankan tiket pesawat pulang pergi untukku dan memesankan sebuah kamar lain di hotel yang sama dengannya. Aku berangkat dari Semarang sekitar pukul 6 dan sesampainya di Jakarta, ia menjemputku dari bandara dengan taksi online dan kami makan bersama pukul 9 malam itu sebelum akhirnya ke hotel dan beristirahat.
 
Keesokan harinya, kami berdua sarapan di restoran hotel sebelum berangkat ke Bogor untuk mengunjungi kebun raya. Dengan taksi online kami menuju kesana dan menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol sambil menyusuri indahnya pemandangan disana.
 
Sedikit lelah, kami duduk di sebuah ayunan kayu. Kami mengambil foto, mengobrol dan bercanda. Di tengah-tengah obrolan kami, ia tiba-tiba mengubah topik menjadi sedikit lebih serius.
 
“Dari semua wanita yang aku kenal, kamu adalah wanita yang berbeda. Kamu dewasa dan memiliki karakter kuat. Kamu juga cantik dengan warna kulitmu dan mata sipit indahmu. Aku merasa, aku suka kamu.”
 
Apa ini? Dia nyatain cinta ke aku? Hatiku berdebar-debar, tetapi aku berusaha untuk tetap tampak santai. Aku hanya tertawa dan kemudian berkata, “Makasih ya.” Itu semua karena aku tak tahu harus berkata apa.
 
Do you mind if I kiss you?
 
Sontak aku terkejut. Memang benar yang kudengar selama ini bahwa orang bule itu tidak suka basa-basi. Tidak kusangka bahwa ini kudengar di telingaku secara langsung. Tetapi akal sehatku masih berjalan sehingga aku berkata, “Yes, I mind. Not now, please.”
 
Awalnya ia ragu apakah aku mengerti maksudnya dengan benar, sehingga ia bertanya untuk mengonfirmasi, “Maksudmu iya, kamu tidak keberatan aku mencium atau kamu keberatan?”
 
“Aku keberatan. Bagiku, ciuman itu sakral. Dan aku mau itu terjadi saat aku ada di altar, di pernikahanku.” Aku pun menjelaskan padanya.
 
Bukannya marah atau tersinggung, ia tersenyum. “Oke. Aku menghargaimu. Aku bisa menunggu.”
 
Sekali lagi jantungku serasa dihujam batu besar. Apa katanya? Menunggu? Maksudnya dia… “Makasih,” itu saja yang aku bisa ucapkan.
 
Demi menghilangkan rasa canggung, aku pun berusaha mengganti topik. Kami kemudian berdiskusi tentang hal lainnya sambil berjalan menuju ke tempat lain.
 
Saat kami berjalan, kami melewati taman anggrek dan itu membuatnya sangat tertarik. Ia mengajakku untuk mampir dan melihat bunga-bunga anggrek disana. Ia bertanya padaku apakah aku suka bunga dan aku menjawab tidak. Ia pun tertawa karenanya.
 
Belum lama kami disana, hujan turun seketika. Kami buru-buru untuk mencari tempat untuk berteduh dan satu-satunya tempat adalah pondok yang kotor di dekat pintu gerbang masuk.
 
Hanya berdua. Tidak ada siapapun disana. Ini sungguh seperti film atau sinetron, dimana seorang pria dan wanita terjebak dalam hujan dan kemudian mereka jatuh cinta. Aduh, tetapi ini dunia nyata, jadi ceritanya tidak begitu.
 
Kami menunggu beberapa lama sambil mengobrol sampai kami bosan dan mengantuk. Hujan itu memang tidak berhenti sampai beberapa jam. Ia sempat tertidur sementara aku berusaha untuk tetap terjaga demi menjaga diriku sendiri.
 
Hanya setengah jam kemudian ia terbangun dan kemudian duduk di sampingku. Dalam situasi seperti ini, ia sekali lagi membuatku begitu berdebar.
 
I seriously want to kiss you right now but I can wait. I WILL wait.*
(Aku benar-benar ingin menciummu sekarang tetapi aku bisa menunggu. Aku AKAN menunggu.)
 
Aku hanya tersenyum sambil berpikir dalam hati, dia bener-bener serius nih.
 
Beberapa waktu kemudian pada akhirnya hujan reda dan kami dijemput kembali oleh supir taksi online yang mengantar kami tadi. Dengan keadaan sedikit basah kami masuk ke dalam mobil dan meneruskan rencana kami untuk menghadiri konser orkestra di Jakarta Pusat.
 
Pasca hujan keadaan jalanan menjadi sangat padat sehingga kami menghabiskan 2 jam lebih dari Bogor ke Jakarta Pusat. Sebenarnya kami hampir putus asa karena ketinggalan konser, tetapi syukurlah kami masih bisa menikmati sesi kedua konser yang baik ia dan aku benar-benar sukai.
 
Seusai menonton konser, kami begitu capek dan kembali ke hotel. Ia mengantarku ke kamar dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya.
 
Esoknya kami berdua bersama-sama pergi beribadah di Minggu pagi selama beberapa jam lalu makan siang. Disana aku mempertemukannya dengan teman laki-laki yang juga baru beberapa bulan kukenal di Semarang. Seusai mengobrol kami pun kembali ke hotel untuk bersiap-siap kembali ke Semarang.
 
Rencana awal adalah ia mengantarku ke bandara lagi, tetapi secara mendadak ia diminta untuk melakukan presentasi untuk sekolah bahasanya di hadapan wakil aparat Indonesia sehingga ia memerlukan waktu untuk mempersiapkannya. Aku membantunya sedikit untuk memperbaiki Bahasa Indonesianya, lalu meninggalkannya di hotel dengan taksi online yang ia pesankan untukku.
 
Memang rasanya itu bukan perpisahan yang aku harapkan, tetapi setidaknya ia benar-benar bertanggung jawab selama aku disana sehingga hampir tidak sepeser pun aku keluarkan untuk liburan singkat ini.

[TO BE CONTINUED]
Diubah oleh yohanaekky 24-05-2019 23:40
wanitatangguh93Avatar border
jiyanqAvatar border
Cloney72Avatar border
Cloney72 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
6.4K
46
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#25
kaskus-image

[PART 5]

Hari demi hari kulewati seolah aku memang dilahirkan disana. Aku menjadi sangat terbiasa dengan ritme dan gaya hidup disana sehingga mesin otomatis di hampir setiap tempat, aturan di jalan, etika antar sesama. Bagiku tidak ada yang namanya ‘tersesat’ selama masih ada orang di sekitarku yang bisa kuajak mengobrol.

Aku pun terbiasa memasak makan malam atau terkadang makan siang saat dia pulang lebih awal di hari Jumat sebelum mengikuti les piano beberapa jam setelahnya. Bukan hanya di apartemenku, aku juga membantu berberes jika kulihat ada yang berantakan. Meskipun dia bisa dikategorikan orang yang sangat rapi di antara laki-laki kebanyakan, tentu saja wajar jika dia terkadang tidak rapi. Karena itu, jika dia tidak rapi, mungkin karena terburu-buru bekerja, aku membantu membersihkan rumahnya. Rasanya seolah-olah aku sudah menjadi seorang istri.

Tanpa terasa hampir sebulan lamanya aku berada di Australia. Kami sudah banyak mencurahkan hati, mengenal satu sama lain, bukan hanya kepribadian masing-masing tetapi juga latar belakang keluarga. Dia menerimaku apa adanya, begitu pula aku menerima dia apa adanya setelah kami mempelajari bahwa masing-masing kami memiliki kelemahan tersendiri.

Namun, satu hal ini terus mengganjal. Satu hal yang selalu aku coba tepis selama ini. Aku adalah orang yang mandiri dan suka melakukan banyak tantangan. Selama ini banyak orang menilaiku sebagai sosok pemimpin di antara teman-temanku karena gesit melakukan banyak hal. Sementara itu, aku tahu bahwa dia merindukan seorang istri yang mau tinggal di rumah dan bersedia menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak dan suami. Itu adalah sebuah dilema yang begitu mengusik pikiranku.

Sempat selama kami berdiskusi, ada saat dimana kami sedikit bersitegang. Aku berusaha untuk menyesuaikan konsep satu sama lain, yaitu menjadi ibu rumah tangga karena pada kodratnya aku adalah seorang wanita, tetapi pada saat yang sama juga sedikit kebebasan untuk aku agar bisa bekerja di rumah sebagai guru online. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja.

Aku hanya berdoa, berdoa dan berdoa agar Tuhan menunjukkan kami berdua jalan yang baik, solusi dari semuanya ini. Namun kali ini aku tidak berdoa memaksa seperti aku pernah berdoa untuk hubungan yang sebelumnya. Aku mengutarakan doa, yang mungkin terdengar aneh.

“Tuhan, kalau kami berdua memang ditentukan untuk bersama, tunjukkan jalan untuk kami. Tetapi kalau tidak, biarlah ‘pernyataan’ itu keluar dari mulutnya. Dengan begitu aku akan tahu bahwa itu adalah jawaban dariMu.”

Meskipun dalam satu hal itu kami memiliki konsep yang berbeda, semua tetap berjalan baik-baik saja di antara kami. Tetapi pada malam itu, 26 Maret 2019, kami berbicara di lantai dua di rumahnya, dimana suasana sedikit berbeda dari biasanya.

Sebenarnya akulah yang meminta untuk berbicara dengannya mengenai pernikahan adikku dan kepulanganku ke Indonesia, serta tawaran yang aku dapatkan dari seorang teman untuk berlibur ke Perth. Aku ingin meminta ijin padanya jika boleh aku pergi lebih awal dan kembali lagi ke Canberra sesegera mungkin.

“Mungkin ini jawaban dari doaku. Doamu. Sepertinya kita memang tidak bisa bersama.” Ucapan itu menusuk tepat di jantungku.

Namun aku tidak bisa membiarkan air mataku mengalir. Sebaliknya, aku menghela nafas dalam diam-diam dan kemudian tersenyum padanya. “Kamu pikir begitu?” aku mengusahakan untuk menanggapinya semaksimal mungkin, dan hanya itulah yang keluar dari mulutku.

“Aku benar-benar merindukan seorang istri sepertimu yang aku pikir sesuai dengan harapanku. Tetapi mungkin Tuhan berkata lain. Satu konsep yang berbeda itu juga mungkin sepertinya tidak akan masalah di awal, tetapi itu bisa jadi memicu pertengkaran dan aku tidak ingin kita tidak bahagia. Tetapi tentu saja kita akan terus menjadi teman.”

“Ya, teman yang baik,” timpalku. Lagi-lagi aku tidak bisa berbicara lebih banyak.

“Pertemuan kita tidak sia-sia. Sederhananya, mungkin Tuhan memakai aku untuk membawamu traveling ke Australia.”

Aku menggeleng. “Lebih dari itu. Tuhan memakaimu untuk menyembuhkan luka masa laluku juga,” ucapku sedikit terbata-bata dan air mataku pada akhirnya keluar sedikit tetapi cepat-cepat aku menyekanya.

Seperti biasanya dia sangat peka karena kemudian dia mengambilkanku beberapa helai tisu untuk menyeka air mata yang tersisa di pipiku dan juga hidungku yang mulai berair.

“Aku menjadi seseorang yang baru setelah aku mengenalmu. Aku tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai pada waktu yang sama. Terima kasih untuk itu. Semua kebaikan hatimu padaku sangat berarti. Aku tidak akan melupakannya.”

Dia tersenyum, seolah tidak merasa kehilangan atau sakit hati dengan keputusan kami bersama malam ini. Namun setelah beberapa waktu mengenalnya, aku tahu bahwa ia merasa kecewa juga karena hubungan kami harus berakhir.

“Hei, aku punya sebuah lagu. Kuciptakan di tahun 2017. Coba dengarkan.” Aku membalik badanku menghadap piano elektrik yang berada di belakangku. Aku memainkannya dan mulai bernyanyi.

//////////////////////////////

Who holds the key to my heart?
God, please direct my way
‘Cause I don’t wanna fall for someone else’s spouse
Open my eyes and let me see
The one for me

I’m trusting You to write my life
‘Cause You’re the best Author I’ve ever known
Here is my life, an open book for You to write
A love story of mine


Siapakah yang memiliki kunci hatiku?
Tuhan, tolong arahkan jalanku
Karena aku tak mau jatuh cinta
Pada pasangan orang lain
Buka mataku dan biarkan ku melihat
Seseorang yang memang untukku

Kupercayakan Kau untuk menulis hidupku
Karena Kau lah Penulis terbaik yang pernah kutahu
Inilah hidupku, buku terbuka untuk Kau tulisi
Kisah cintaku

//////////////////////////////

“Itu adalah lagu yang indah. Kamu memang pantas mendapatkan orang yang lebih baik dari aku. Kamu orang yang sangat enerjik, kamu memiliki wawasan yang luas dan masa depanmu cemerlang. Aku percaya ada seseorang yang akan mendampingimu untuk menggapai semuanya itu.”

Hancur. Hatiku hancur mendengarnya. Tetapi ini bukan saatnya aku menangis. Aku menegakkan kepalaku, tersenyum lebar dan mengangguk menyetujuinya.

Hubungan kami berakhir malam itu dengan baik. Bukan sesuatu yang kubayangkan sejak pertama kali menyetujui untuk datang ke Australia, tetapi sejak itu juga aku sudah mempersiapkan diri untuk malam ini. Bahkan segala yang telah kami rencanakan di sepanjang perjalanannku di Australia seperti menikmati indahnya pantai bersama di Gold Coast, pergi ke rumah investasinya di Brisbane yang mungkin menjadi rumah masa depan, dan pergi ke gunung salju di daerah Sydney untuk bermain ski lagi pada hari ulang tahunku telah kurelakan.

Sampai di kamarku, aku tidak dapat tidur. Kali ini aku benar-benar tidak tahan sama sekali. Air mataku jatuh tanpa henti, dan aku mencurahkan seluruh perasaanku ke dalam pesan di WA padanya, seolah itu surat ‘terakhir’-ku. Isinya mengatakan agar menunggu sampai aku siap untuk menghapus jejak keromantisan yang kami pasang di sosial media, yang mana aku akui terburu-buru, dan menyisakan hanya kenangan yang menunjukkan pertemanan kami.

Sebagai tanda hubungan baru di antara kami berdua, pada Jumat malam minggu itu juga, kami berdua pergi menonton pertandingan olahraga terbesar di Australia yang kebetulan diadakan di Canberra. Tidak lagi bergandengan tangan atau saling merangkul seperti dulu, kami berjalan berdampingan layaknya teman. Kami berteriak menyoraki tim mana saja yang menang dan bercanda mengenai hal itu layaknya teman. Kami sekarang adalah teman.

Tibalah waktunya aku harus meninggalkan Canberra, di hari Rabu minggu depan. Pemilik apartemen pun meminta ijin untuk pulang lebih awal dari rumah sakit tempat ia bekerja demi melihatku terakhir kali dan mengucapkan perpisahan. Selama ini kami sudah merasakan ikatan satu sama lain layaknya saudara.

Aku bersyukur lebih lagi karena awalnya Mr. Bule tidak yakin apakah bisa mengantarku ke bandara berkaitan dengan jam kerjanya yang terlalu ketat. Namun beruntung sekali, itu adalah minggu dimana hari Rabu merupakan hari singkat kantornya. Dia pun bisa mengantarkan aku ke bandara.

Tidak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan menuju bandara. Rasanya sangat canggung seolah kami baru pertama kali bertemu.

“Aku tidak tahu apakah keputusan kita tepat atau tidak—“

“Jangan khawatir.” Aku memotong ucapannya cepat. “Kalau kita ditakdirkan bersama, kita akan bertemu lagi dan bersatu bagaimanapun caranya.”

Tidak ingin aku menoleh ke belakang. Saat ini aku ingin berjalan maju. Di satu sisi aku tidak ingin perasaanku dipermainkan dengan situasi ini, tetapi di sisi lain aku juga ingin menegarkan diri karena aku tahu aku bisa sakit saat aku berada dalam situasi yang buruk.

Dia menyetir ke arah parkiran bawah, tetapi tanpa berpikir aku mengatakan padanya agar dia berbelok ke kiri dan naik ke jalan atas dimana area pemberhentian untuk keberangkatan berada. Itu adalah hal yang aku sedikit sesali karena mungkin dia bermaksud untuk menghabiskan sedikit waktu bersamaku, karena dia berkata bahwa dia tidak bisa memarkirkannya berlama-lama jika berada di area ini.

Karena itu, setelah menurunkan barang-barangku dan meletakkannya ke atas troli, kami berdua berpisah. Benar-benar berpisah dengan kemungkinan bertemu lagi yang sangat kecil. Rasanya sangat canggung sekali ketika kami cipika cipiki seperti yang normal dilakukan oleh orang-orang disana.

Aku berjalan mendorong troli dan menoleh ke belakang saat aku berada di dalam bangunan untuk melihatnya terakhir kali. Mobilnya masih disana, entah apa yang dia lakukan atau pikirkan. Yang pasti, aku jelas mengerti rasa kehilangannya atas diriku yang sempat dia utarakan di malam kami memulai hubungan baru.

Ya, hubungan kami tidak berakhir. Aku lebih suka mengatakan bahwa kami hanya memulai hubungan baru: Pertemanan. Aku sudah sangat bersyukur Tuhan mengijinkan aku mengenalnya, karena melalui dialah aku menjadi seseorang yang jauh lebih dewasa dalam segala aspek.

Kini, aku menikmati kesendirianku lagi. Bukan dengan kesedihan tetapi dengan rasa syukur. Aku pun mempergunakan masa ini sebaik-baiknya karena tidak akan lama lagi aku akan merindukan masa-masa seperti ini ketika pada akhirnya aku harus bersatu dengan ‘nya’, dia yang ada disana.


~THE END~

~~~~~~~~~~

Terima kasih untuk semua yang sudah membaca yaaa! Maaf ini memang cerita singkat, semoga menikmati kisah ini dan ada hal positif yang bisa diambil. Saya harap saya bisa kembali dengan cerita-cerita lainnya disini.

Klik disini untuk mendengarkan lagu.
Diubah oleh yohanaekky 14-05-2019 21:53
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.