- Beranda
- Stories from the Heart
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape
...
TS
yohanaekky
[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape
![[TRUE STORY] Dating Mr. Bule : A Short Escape](https://s.kaskus.id/images/2019/05/06/7898289_20190506065624.png)
Index:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
[PART 1]
"Ya udah, mendingan kamu putus dari aku, biar kamu bisa pacaran sama bule."
Aku masih teringat ucapan sarkastiknya saat aku menceritakan mimpi masa kecilku yang menjadi latar belakang lagu yang aku ciptakan sewaktu kecil.
Dengan tawa garing aku pun menanggapi kembali ucapannya, "Makasih loh ya. Amin."
Tidak kusangka bahwa memang pada akhirnya hubungan kami berakhir tak lama setelah itu. Itu semua karena aku menangkapnya basah membohongiku selama hampir satu tahun bersama. Nyatanya ia tidak pernah putus dari pacarnya yang ada di kampung halamannya, dan aku dijadikannya 'backup plan'. Semua ucapan dan tindakan manisnya hanyalah kotoran kerbau belaka.
Ingin ku berkata kasar padanya, tetapi daripada hanya berkata kasar, aku melemparkan bom atom padanya di hari ulang tahunnya. Aku mencampakkannya sambil membuka semua kebohongannya selama ini padaku sampai ia tidak dapat mengelak. Ia hanya meminta maaf dengan tangisan buayanya. Tapi cih, basi. Aku tidak peduli lagi.
Sudahlah. Ini bukan kisah tentangnya. Ini kisah tentang, Mr. Bule.
~~~~~~~~~~~~
April 2018 adalah awal aku memutuskan untuk berkarir menjadi tutor online pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dari semua pekerjaan yang pernah aku jalani, inilah pekerjaan yang paling aku nikmati. Aku tak perlu keluar rumah dan berdandan ala kadarnya (terkadang aku juga tidak berdandan dan memakai celana pendek), tetapi aku bisa meraup penghasilan yang lebih dari saat aku bekerja di lembaga.
Masih dalam bulan pertama dalam karir baru ini, aku menerima permintaan kursus dari seorang pria berkewarganegaraan Australia. Ia bercerita bahwa belum lama ia kembali dari Jakarta menjalani kegiatan dari sekolah bahasanya, dan alasan mengapa ia mengambil kursus online adalah untuk memperlancar Bahasa Indonesianya.
Di awal kami berkomunikasi ia masih terdengar kaku dengan Bahasa Indonesia yang terlalu formal dan masih sedikit kesulitan menangkap kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Tetapi sedikit demi sedikit aku mengajarinya untuk berbahasa Indonesia sehari-hari sehingga lebih terdengar santai. Ia pun semakin lama menjadi semakin baik.
Beberapa bulan setelah itu ia memberitahukan rencananya untuk pergi ke Jakarta lagi karena sekolah bahasanya mengadakan kegiatan lainnya lagi disana selama dua minggu. Karena jadwal yang begitu padat disana, ia pun tidak mengambil kursus denganku. Tetapi, ia masih berkomunikasi denganku melalui Whatsapp.
“Sayangnya kamu tidak tinggal di Jakarta, ya,” katanya padaku. “Kalau ada kesempatan, aku ingin bertemu dengan kamu.”
Entah kenapa pesannya membuatku tersenyum sendiri.
“Oh ya. Nanti ada waktunya,” aku memberi tanggapan balik.
“Ah! Kenapa kamu tidak ke Jakarta saja?” Ia mencetuskan sebuah ide.
Dalam hati, aku merasakan keinginan untuk bertemu dengannya secara langsung. Tapi pada saat itu aku sedang ingin banyak menabung demi suatu alasan sehingga aku tak ingin terlalu banyak memakai uangku.
Tetapi belum sempat aku ungkapkan padanya, ia berkata lagi, “Aku akan memenuhi semua keperluanmu disini. Tiket pesawat, penginapan, makan dan semuanya. Pemerintah Australia memberiku uang saku terlalu banyak. Ini bisa dipakai untuk kedatanganmu kesini.”
Seketika ia juga hatiku meluap kegirangan. Ini serius?pikirku dalam hati. Tetapi aku berusaha untuk berpikir dengan akal sehatku. Aku tidak akan terlena begitu saja.
Saat itu juga aku berdiskusi dengan kedua orang tuaku, meminta pendapat mereka tentang hal ini. Selama ini aku sudah menceritakan tentangnya pada papa dan mama, karena aku tidak ingin asal mengambil keputusan yang beresiko. Pada awalnya mereka cemas akan keamananku sebagai wanita disana.
Namun kemudian ia mengirim pesan padaku yang berisi bahwa ia menjamin keselamatanku saat di Jakarta dan menghormatiku. Ia menyadari bahwa aku bukan wanita kebanyakan yang bisa dengan mudah diajak pergi seolah harga diriku begitu murah.
Yang aku lakukan setelah itu hanya berdoa dan keesokan harinya kedua orang tuaku mengijinkanku dengan catatan setiap gerak gerikku akan dipantau dari jarak jauh. Lalu aku pun memberitahukan padanya bahwa aku menerima tawarannya untuk datang akhir pekan ini ke Jakarta.
Ia pun memesankan tiket pesawat pulang pergi untukku dan memesankan sebuah kamar lain di hotel yang sama dengannya. Aku berangkat dari Semarang sekitar pukul 6 dan sesampainya di Jakarta, ia menjemputku dari bandara dengan taksi online dan kami makan bersama pukul 9 malam itu sebelum akhirnya ke hotel dan beristirahat.
Keesokan harinya, kami berdua sarapan di restoran hotel sebelum berangkat ke Bogor untuk mengunjungi kebun raya. Dengan taksi online kami menuju kesana dan menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol sambil menyusuri indahnya pemandangan disana.
Sedikit lelah, kami duduk di sebuah ayunan kayu. Kami mengambil foto, mengobrol dan bercanda. Di tengah-tengah obrolan kami, ia tiba-tiba mengubah topik menjadi sedikit lebih serius.
“Dari semua wanita yang aku kenal, kamu adalah wanita yang berbeda. Kamu dewasa dan memiliki karakter kuat. Kamu juga cantik dengan warna kulitmu dan mata sipit indahmu. Aku merasa, aku suka kamu.”
Apa ini? Dia nyatain cinta ke aku? Hatiku berdebar-debar, tetapi aku berusaha untuk tetap tampak santai. Aku hanya tertawa dan kemudian berkata, “Makasih ya.” Itu semua karena aku tak tahu harus berkata apa.
“Do you mind if I kiss you?”
Sontak aku terkejut. Memang benar yang kudengar selama ini bahwa orang bule itu tidak suka basa-basi. Tidak kusangka bahwa ini kudengar di telingaku secara langsung. Tetapi akal sehatku masih berjalan sehingga aku berkata, “Yes, I mind. Not now, please.”
Awalnya ia ragu apakah aku mengerti maksudnya dengan benar, sehingga ia bertanya untuk mengonfirmasi, “Maksudmu iya, kamu tidak keberatan aku mencium atau kamu keberatan?”
“Aku keberatan. Bagiku, ciuman itu sakral. Dan aku mau itu terjadi saat aku ada di altar, di pernikahanku.” Aku pun menjelaskan padanya.
Bukannya marah atau tersinggung, ia tersenyum. “Oke. Aku menghargaimu. Aku bisa menunggu.”
Sekali lagi jantungku serasa dihujam batu besar. Apa katanya? Menunggu? Maksudnya dia… “Makasih,” itu saja yang aku bisa ucapkan.
Demi menghilangkan rasa canggung, aku pun berusaha mengganti topik. Kami kemudian berdiskusi tentang hal lainnya sambil berjalan menuju ke tempat lain.
Saat kami berjalan, kami melewati taman anggrek dan itu membuatnya sangat tertarik. Ia mengajakku untuk mampir dan melihat bunga-bunga anggrek disana. Ia bertanya padaku apakah aku suka bunga dan aku menjawab tidak. Ia pun tertawa karenanya.
Belum lama kami disana, hujan turun seketika. Kami buru-buru untuk mencari tempat untuk berteduh dan satu-satunya tempat adalah pondok yang kotor di dekat pintu gerbang masuk.
Hanya berdua. Tidak ada siapapun disana. Ini sungguh seperti film atau sinetron, dimana seorang pria dan wanita terjebak dalam hujan dan kemudian mereka jatuh cinta. Aduh, tetapi ini dunia nyata, jadi ceritanya tidak begitu.
Kami menunggu beberapa lama sambil mengobrol sampai kami bosan dan mengantuk. Hujan itu memang tidak berhenti sampai beberapa jam. Ia sempat tertidur sementara aku berusaha untuk tetap terjaga demi menjaga diriku sendiri.
Hanya setengah jam kemudian ia terbangun dan kemudian duduk di sampingku. Dalam situasi seperti ini, ia sekali lagi membuatku begitu berdebar.
“I seriously want to kiss you right now but I can wait. I WILL wait.*”
(Aku benar-benar ingin menciummu sekarang tetapi aku bisa menunggu. Aku AKAN menunggu.)
Aku hanya tersenyum sambil berpikir dalam hati, dia bener-bener serius nih.
Beberapa waktu kemudian pada akhirnya hujan reda dan kami dijemput kembali oleh supir taksi online yang mengantar kami tadi. Dengan keadaan sedikit basah kami masuk ke dalam mobil dan meneruskan rencana kami untuk menghadiri konser orkestra di Jakarta Pusat.
Pasca hujan keadaan jalanan menjadi sangat padat sehingga kami menghabiskan 2 jam lebih dari Bogor ke Jakarta Pusat. Sebenarnya kami hampir putus asa karena ketinggalan konser, tetapi syukurlah kami masih bisa menikmati sesi kedua konser yang baik ia dan aku benar-benar sukai.
Seusai menonton konser, kami begitu capek dan kembali ke hotel. Ia mengantarku ke kamar dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya.
Esoknya kami berdua bersama-sama pergi beribadah di Minggu pagi selama beberapa jam lalu makan siang. Disana aku mempertemukannya dengan teman laki-laki yang juga baru beberapa bulan kukenal di Semarang. Seusai mengobrol kami pun kembali ke hotel untuk bersiap-siap kembali ke Semarang.
Rencana awal adalah ia mengantarku ke bandara lagi, tetapi secara mendadak ia diminta untuk melakukan presentasi untuk sekolah bahasanya di hadapan wakil aparat Indonesia sehingga ia memerlukan waktu untuk mempersiapkannya. Aku membantunya sedikit untuk memperbaiki Bahasa Indonesianya, lalu meninggalkannya di hotel dengan taksi online yang ia pesankan untukku.
Memang rasanya itu bukan perpisahan yang aku harapkan, tetapi setidaknya ia benar-benar bertanggung jawab selama aku disana sehingga hampir tidak sepeser pun aku keluarkan untuk liburan singkat ini.
[TO BE CONTINUED]
Diubah oleh yohanaekky 24-05-2019 23:40
Cloney72 dan 7 lainnya memberi reputasi
6
6.4K
46
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#24

[PART 4]
Sembari menunggu, dia mengirimiku sepaket makanan ringan dan obat tetes mata yang tidak bisa didapatkan di Indonesia karena saking bagusnya. Dia tahu bahwa aku cukup sering mengeluh dengan mata kering akibat polusi udara. Butuh waktu sebulan untuk paket itu sampai karena dia lupa untuk mengirim dengan jasa ekspres. Kami sempat was-was jika paket itu datang setelah aku pergi ke Australia. Tetapi beruntung, paket itu datang di minggu terakhir bulan Februari.
Beberapa hari setelahnya pula, dia memberiku kejutan yang sedikit terlambat dalam rangka hari Valentine. Ini adalah sebuah kartu ucapan berisikan kata-kata yang manis dan lagu ‘Fly Me to The Moon’ oleh Frank Sinatra yang pernah aku nyanyikan di Instagram dan kebetulan dia juga sangat sukai. Memang sepertinya kartu ucapan fisik sudah tidak umum dikirimkan di era globalisasi ini. Tetapi bagiku, itu justru lebih berarti ketimbang kartu ucapan elektronik yang bahkan sudah tersedia default template-nya dan tinggal dipilih. Kalau dengan cara begini, jelas terlihat niat dan perhatian yang diberikan.
Semua barang sudah siap. Papa, mama dan adikku mengantarku ke bandara. Mereka menemaniku sebentar sampai satu jam sebelum keberangkatan. Setelah itu aku check in dan memasukkan sebuah koper besar dan tas yang sedikit lebih kecil ke dalam bagasi.
Penerbangan berjalan sesuai dengan jadwal. Aku tiba di Bali dua jam berikutnya. Aku segera check in kembali karena penerbanganku kali ini dengan airline yang berbeda. Setelah itu aku menunggu beberapa jam malam itu sebelum akhirnya naik ke dalam pesawat dan resmi meninggalkan Indonesia sendirian, untuk yang pertama kalinya.
Sejak kecil aku memang dikenal mandiri dan pemberani. Tetapi karena aku seorang perempuan, keinginanku untuk melakukan perjalanan kemana saja sendirian tidak bisa kulakukan begitu saja semauku. Orang tuaku begitu protektif terhadapku maupun adikku. Jika kali ini aku diijinkan pergi sendirian ke negeri orang, mungkin memang karena ada maksud dari perjalananku kali ini. Mungkin ini memang…jalanku?
Pukul enam di Sabtu pagi itu, aku menginjakkan kaki di Sydney. Jeda untuk transit di kota itu memakan waktu sekitar lima jam. Aku berdoa agar aku tidak bosan, dan itulah yang terjadi. Aku kelimpungan mencari WiFi karena entah bagaimana aku berada di lokasi yang koneksi WiFi-nya begitu lemah dan aku juga lupa untuk memasang data roaming. Aku mencoba menghubungi Mr. Bule tetapi selalu gagal. Karena itu aku merelakan pulsaku untuk mengiriminya SMS.
Setelah begitu lama mencoba mendapat WiFi tapi gagal, pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli simcard sendiri dengan bekal ‘pernah melihat’ salah satu teman memakai provider itu. Dengan uang 32 dolar Australia, atau sekitar 320.000 rupiah, aku mendapat simcard baru beserta 30 GB data untuk satu bulan. I think it’s worth it. Di Indonesia 30 GB dari provider yang ‘itu’ juga tarifnya tidak jauh beda.
Aku begitu lega karena aku bisa menghubungi dia. Sedih sekali ketika aku mendengar darinya bahwa simcard yang aku pilih itu adalah yang terburuk dan dia sama sekali tidak merekomendasikannya. Tetapi aku hanya beriman saja bahwa semua akan baik-baik saja dengan simcard ini. Jika tidak, bulan depan aku akan mengganti simcard.
Hujan turun ketika aku hampir naik ke pesawat berikutnya ke Canberra. Itu adalah pesawat yang kecil, dan suaranya lebih berisik daripada pesawat besar. Tetapi tentu saja aku tidak mengeluh karena semua ini anugrah jika aku bisa sampai di negara yang sudah lama ingin aku datangi.
Dataran dan bukit berwarna kekuningan aku lihat saat pesawat hampir mendarat. Kupikir Canberra, ibu kota Australia, adalah tempat yang sangat hijau. Rupanya ini justru lebih gersang dari yang kupikirkan. Tetapi mungkin saja karena aku belum melihat tempat-tempat yang lainnya.
Turun dari pesawat, aku segera menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tepat saat aku turun dengan eskalator, disitulah aku kembali melihat dan menyentuhnya secara langsung.
“Apa kabar? Bagaimana dengan penerbangan barusan?” Tentu saja itulah yang dia tanyakan karena aku sudah menceritakan padanya perjalananku dari Bali ke Sydney.
Aku mengangguk sembari berkata, “Ya, semua baik. Tidak ada delay, dan walaupun pesawat kecil dan sedikit bising, semua baik.”
“Baguslah. Ayo kita kesana dan menunggu bagasimu.” Dia menunjuk ke suatu area di dekat jalan keluar, dimana bagasi mulai dikeluarkan.
Syukurlah hanya sekitar lima sampai sepuluh menit kami menunggu untuk bagasiku datang. Tanpa instruksi, dia segera mengambil semua barangku dan membawakannya tanpa terlihat keberatan.
Sedan BMW silver miliknya sudah terparkir dekat pintu masuk parkiran dan dia memasukkan semua barangku ke dalam bagasi mobil. Aku pun masuk ke dalam mobil dan hal pertama yang kuingat adalah memasang seat belt. Inilah satu hal yang membuatku bersyukur karena aku suka memakai seat belt, sehingga ini merupakan suatu keuntungan bagiku di negara yang sangat ketat aturannya berkendara.
Saat kami siap keluar dari parkiran, dia teringat bahwa dia belum membayar tiket parkir sehingga kami harus berputar ke tempat parkir sebelumnya. Aku sedikit tertawa geli, begitu pula dia yang menertawakan kelalaiannya. Kemungkinan dia sedikit grogi karena akhirnya bertemu denganku lagi.
Dia menawarkan padaku apakah aku ingin makan siang karena jam makan siang sudah terlewat. Tetapi karena aku belum merasa lapar setelah mendapatkan banyak makanan di pesawat, kubilang padanya nanti saja. Karena itu dia mengajakku untuk berdiri di salat satu puncak tertinggi di Canberra yang lokasinya mengharuskan kami untuk melewati tempat kerjanya. Beberapa saat lamanya ia juga menunjukkan lokasi-lokasi dimana ia bekerja dan secara rutin pergi ke gym milik tempat ia bekerja.
Mobil berhenti dan kami menemukan bahwa hanya ada kami disana. Matahari sedang panas-panasnya, tetapi udara yang sejuk dan dingin menutupinya sehingga tetap saja suasana seperti ini masih bisa dinikmati.
Aku berdiri memandang kota Canberra yang terhampar begitu luas di depanku. Kuhela nafas dalam-dalam dan terselip di hatiku ucapan syukur karena aku akhirnya sampai di tempat ini dengan selamat.
Puas dengan pemandangan indah itu, dia mengajakku ke beberapa tempat lainnya seraya memperkenalkanku dengan lingkungan baru ini. Karena itu aku bergurau bahwa aku bersyukur memiliki seorang pacar pemandu wisata. Setelah itu, kami menuju ke apartemen dimana aku tinggal.
Disana, pemilik apartemen yang merupakan orang India menyambutku dengan sangat baik; ia, bayi laki-laki kecilnya serta saudara laki-lakinya yang kebetulan sedang mengunjunginya juga. Aku berkenalan dengannya dan meletakkan semua barangku disana.
Kami tidak terlalu lama berada di apartemen karena setelah itu dia mengajakku untuk pergi ke rumahnya yang hanya berjarak dua menit. Inilah rumah yang selama ini ia perlihatkan padaku selama kami melakukan video call. Aku hanya melihatnya di dunia maya, dan sekarang aku melihat dan berada di dalamnya.
Lagi-lagi aku menghela nafas. Dua bulan lamanya kami berpisah dan akhirnya bertemu lagi. Aku tidak bisa berkata-kata apapun kecuali bersyukur dalam hati.
Tapi dasar perut, tiba-tiba saja berbunyi meminta makan. Dia pun segera membuka lemari es dan bertanya apa yang ingin kumakan.
“Hmm, sandwich?” terlontar begitu saja ucapan itu ketika melihat roti dan selada.
Dia tersenyum. “Ide yang bagus.” Dengan sigap dan tampak seperti ahli, dia mengambil semua bahan yang diperlukan dan mulai membuat sandwich. Dalam waktu lima menit, sandwich ala pacar pun jadi.
“Hebat sekali.” Aku bertepuk tangan atas ‘kerja keras’-nya sambil tertawa.
Dia pun bertingkah seperti seorang bangsawan atau konduktor konser yang melepaskan topinya dan membungkuk saat mengucapkan terima kasih. “Saat kamu hidup sendirian tanpa satu pun keluarga, kamu harus bisa melakukan hampir semua hal,” dia menjelaskan.
Aku tersenyum. Memang luar biasa karena dia mampu bertahan dengan baik hidup tanpa keluarganya yang nun jauh di Selandia Baru. Sementara saudara-saudaranya tetap di tanah kelahiran mereka, ia memilih untuk merantau dan akhirnya mendapatkan karir yang mantap.
Kami banyak bercerita dan melepas rindu sampai jam 10 malam. Ya, itulah batas malam kami karena sedari awal kami memang telah bersepakat dan berkomitmen begitu. Sekali lagi, ini hal yang kuno bagi manusia modern, tetapi inilah hal yang membuatku mengatakan ‘ya’ untuk menjalani hubungan ini. Dia begitu menghargai komitmen yang sudah aku lakukan selama ini.
Esoknya, di hari Minggu, kami pergi bersama ke gereja dan dia memperkenalkan aku dengan pendeta, istri dan anak-anak mereka serta seluruh jemaat yang ada. Rupanya ia memang telah banyak bercerita tentang aku dan mereka pun menyambutku dengan baik. Rasanya bahagia sekali karena aku langsung menemukan sebuah keluarga di tempat yang benar-benar baru bagiku.
Setelah dari gereja, dia kembali mengajakku berjalan-jalan di tempat lainnya. Bahkan tiga hari setelahnya dia sengaja mengambil cuti khusus untukku demi mengajakku berwisata di kota Canberra. Benar-benar puas rasanya aku mengenal kota ini dalam waktu yang singkat.
Namun, saatnya tiba ketika dia harus kembali bekerja. Pada awalnya aku pikir akan sedikit kesepian karena aku sudah terbiasa untuk menghabiskan waktu sepanjang hari dengannya lima hari ini. Tetapi ide demi ide muncul di otakku sehingga aku banyak menghabiskan waktu pada siang hari, selain menjalankan karirku sebagai guru online, dengan mengeksplorasi tempat-tempat di sekitarku. Pada sore harinya dia akan menjemputku dan kami menghabiskan sisa hari dengan makan malam lalu menonton atau hanya mengobrol.
[TO BE CONTINUED]
Diubah oleh yohanaekky 14-05-2019 21:42
0