- Beranda
- Stories from the Heart
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
...
TS
tabernacle69
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Quote:

Jurnal ini dapat membuat orang yang membacanya merasa BOSAN, tidak tertarik lebih lanjut dan kehilangan SELERA untuk membacanya, mereka akan merasa bahwa membaca jurnal serta kisah ini hanyalah membuang buang waktu mereka saja. Membencinya, mengkritiknya, membuangnya, dan melupakannya.
Tetapi bagi mereka yang bertahan, berjiwa santai dan pandai mencicil dalam membacanya.
Sebuah keajaiban akan terjadi.
Dan mereka akan mengingatnya.
..... Jurnal yang bakal saya bagikan ini mostly atau kebanyakan, bakalan bercerita tentang gimana cara untuk survive / bertahan di lingkungan sekolahan yang ekstrim dan berantakan, berandalan, dengan siswa cewek dan cowok yang nakal-nakal banget didalamnya, serta yang kebanyakan senang dan hobi banget mojok plus mesum di kantin belakang sekolah. Hehehe.
Dan nakal disini tuh sebutlah, pakai narkoba, nggak nurut sama guru, tawuran dan lain lain nya... betul betul nggak ada yang bisa dibanggain, apalagi kalau nakalnya masih dari duit orang tua. Tapi jangan emosi duluuu, karena ada pelajaran yang bisa diambil dari kenakalan-kenakalan itu.
* * *
PROLOG
"Bang, kau jangan lupa sama janjimu ya, kau kan anak lelaki, terus kau kan sudah lulus SD juga. Nah sekarang, merantau lah kau ke tempat orang."
Ucapan diatas adalah pesan dari bokap buat saya, karena ditagih janji, dan harus menepati janjinya, keputusan itu pun membuat saya harus memberanikan diri saya untuk pergi merantau ke tempat orang, sebuah tempat yang jauh dari kota kesayangan saya, kota yang saya tinggali.
..... nah waktu ituuu saya lagi ngobrol ngobrol santai sambil menikmati perjalanan sama sopir pesanan bokap di pertengahan malam, waktu itu kalau saya coba ingat ingat lagi secara persisnya..., perjalanan saya ini terjadi di bulan Februari, tahun 2007. Pak Amin namanya.
Sekitar jam setengah dua belas malam, dengan menaiki Range Rover Vogue warna hitam yang saya tumpangi, sopir pesanan bokap saya ini membawa kami melaju secara ekstra hati hati tepat didalam rerimbunan serta gelapnya taman hutan raya Bukit Soeharto.
Di Borneo, Kalimantan Timur.
Bukan karena apa apa, tapi karena kabarnya tempat ini adalah tempat yang super duper keramat.. jadi ya saya nggak bisa sembarangan bertingkah laku di tempat ini. Sompral atau belagu sedikit aja, saya yakin kalau saya bisa hilang di bukit yang menyeramkan ini.
.....
"Mas, kalau kita lagi lewat bukit Soeharto ini saya harap mas banyak banyak berdoa ya, jadi biar nanti kita bisa keluar dengan selamat." obrol si pak Amin kepada saya di saat itu, sambil dia tetap fokus dengan kendali setir yang berada didepannya.
Saya yang nggak tahu apa apa, cuma bisa merasakan bahwa bulu kuduk saya agak merinding. Sebab hanya ada kami berdua di tengah malam itu, dan persis seperti yang supir saya bilang, suasana di bukit Soeharto ini terkenal mencekam dan mengerikan.
Gosip gosipnya sih tempat ini adalah tempat rahasia, dulunya, yang dipakai untuk membuang mayat para preman yang dibunuh serta dikarungi selama pada masa pemerintahan yang terhormat... bapak presiden Soeharto. Tapi ini semua masih katanya ya...
Luar biasa...
Cuman, sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang kisah saya di tahun 2007 sampai dengan 2008 pertengahan itu.., saya pengen omongin satu hal yang bakalan bikin semuanya jadi jelas, bahwa, hidup saya nggak akan dimulai sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri dengan merantau seperti ini...
Ini adalah sebuah perjuangan yang sudah saya lewati di masa lalu saya, yang ternyata memberikan banyak kesan dan kenangan bahkan sampai hari ini.
Jadi waktu itu saya masih kelas 6 SD, baru lulus banget dari SD, kemudian merantau lah saya untuk cari sekolahan baru dan duduk di bangku SMP.
Hidup dan tinggal di keluarga Soematra memang begini, betul-betul keras didikan nya, meski saya tahu mungkin diluar sana ada yang sudah ditempa meski dari umur yang lebih muda, kayak waktu masih di bangku taman kanak kanak, mungkin? saya nggak hafal gimana persisnya.
Yang jelas waktu kelas dua SD saya pernah diguyur air dingin tepat tengah malam dan disuruh tidur di luar rumah, sama bokap saya, nyokap nangis-nangis dan nggak mampu ngelawan bokap, sampai akhirnya saya pun hampir kena hipotermia, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Itu belum seberapa friends, waktu kelas lima SD saya pernah dijebloskan ke dalam penjara setempat sama bokap saya.
Penyebabnya?
Saya membuat skema ponzi (investasi bodong) di sekolah saya yang menyebabkan teman-teman saya kehilangan uang liburan mereka. Total dana yang saya gelapkan itu senilai puluhan juta rupiah. Under tiga puluh juta waktu itu kalau nggak salah.
Karena hal ini lah, saya dijebloskan kedalam sebuah tempat untuk menterapi anak-anak yang memiliki kecenderungan aneh aneh. Termasuk penjara itu tadi.
Seorang Philargyrist. Adalah orang yang suka dengan uang, bentuknya, gambarnya, teksturnya. Ngomong ngomong, under 30 juta, adalah nominal uang yang kecil dan sedikit sih memang, kalau bisa lebih banyak, saya pengen nya 50 juta atau lebih, tetapi untuk ukuran anak SD di tahun 2005, menurut orang-orang itu adalah hal yang agak tidak wajar.
Selain itu saya punya tendensi sebagai seseorang yang mengidap obssesive compulsive disorder, yang menyebabkan saya melakukan suatu kebiasaan secara repetitif, berulang ulang kali secara terus menerus, disini kasusnya saya punya kecenderungan untuk kembali menyedot uang uang itu lagi, buat saya, koin seratus perak yang sudah lecek dan kumal itu adalah sesuatu yang amat sangat mengundang.
Kalau buat kamu situasi seperti itu adalah angin selewat saja, ya mending buat saya aja duitnya, kenapa? karena setelahnya saya akan mencuci koin itu lalu memasukannya kedalam celengan saya.
Suara dentingan dari koin ituloh.... indah. Dan esensinya buat saya, every coins, matter.
Nah, jadi hukuman yang tepat bagi orang seperti saya adalah mencuci otak serta mental nya secara menyeluruh. Salah satunya adalah dengan men-terapi dan menjebloskan saya ke dalam penjara anak serta tempat praktik psikiater dan psikolog, untuk disatukan dengan kriminil-kriminil cilik atau anak-anak 'special needs' yang lainnya.
Hahahahaha, ya nggak sebegitu juga horornya, karena banyak kok yang pintar-pintar juga, di terapi disini, ada yang savant, ada yang synesthesia, ada yang prodigy, haha, mau apa lo? yang imbecile juga ada kok. Dan duit orang tua mereka nggak tanggung-tanggung kalau udah main ke psikiater dan psikolog. Hahahahaha.
Being a criminal mind, hukuman selanjutnya yang dilimpahkan kepada saya—masih yang kayak begitu juga, akhirnya saya pun pernah terpaksa ikutan tidur dirumah sebuah komunitas pemulung yang tinggal di sekitar komplek perumahan kami, ini waktu di Sumatra selatan kalau nggak salah, (saya kenal sama ketua komunitas pemulungnya, dan saya tidak membatasi diri sih.. asyik-asyik aja) Nah, disanalah saya belajar tentang gimana caranya jadi anak laki laki yang tahan banting. Itu semua belum termasuk bogem mentah dan ikat pinggang bokap.
Makanya saya sering ngebayangin, apa jadinya ya kalau teman teman saya yang dimanja itu, diperlakukan begitu sama Bapak mereka, wah sudah bunuh diri kali mereka. Walaupun anak aparat atau anak pejabat, tapi kalau pola asuh nya kayak pola asuh bokap saya, alamat selesai itu anak-anak manja.
.... juga kalau seandainya saya tidak memutuskan untuk merantau di tahun 2007 silam, saya bakalan tetap diusir juga sama bokap saya, nggak diakui sebagai anaknya, karena lembek, lemah, dan nggak mau berjuang. Bokap emang kejam kalau udah soal yang beginian.
Yang membuat saya mampu bertahan hingga hari ini ya adalah karena diri saya sendiri, karena nggak ada yang bisa menyemangati diri selain kita sendiri.
Alasan kedua, saya orangnya rasional, kalau dipukul itu artinya sakit, ya jangan suka mukul orang lain. Ketiga, saya orangnya senang gagal, karena dari gagal saya bisa belajar.
Keempat, saya anak bandel, nggak sempurna, dan suka belajar dari kesalahan yang dibuat oleh diri sendiri.
Kelima? nggak ada, jangan banyak banyak hehe, nanti pusing coy.
* * *
Dan juga... saya nggak akan tulis kisah saya ini kalau motivasinya kurang kuat.. saya sengaja tulis jurnal saya ini untuk mengingat masa masa itu, juga untuk mengenang perempuan terbaik, yang pernah hadir ke dalam hidup saya, selain nyokap saya sendiri tentunya...
Dan ini rasanya sungguh klise (biasa aja) memang... kalau dipikir pikir lagi, tapi ya, saya paham lah resikonya sedikit mengorek masa lalu itu kayak gimana. Makanya saya beranikan untuk menulis ini.
Jurnal dan kisah ini... juga saya tulis dan ceritakan ulang untuk menghormati orang orang didalam kehidupan saya. Harapan saya, semoga saya lancar menulisnya sampai akhir, karena ini bisa dibilang enggak banyak juga.
Jadi ya semoga saya bisa bawa alur cerita saya ini secara ringkas, padat dan jelas. Biar nggak ada yang pusing apalagi sampai sakit jiwa waktu ngebacanya.
So, nama saya Arang (Ara), sering dipanggil begitu karena kadangkala sifat saya yang menyengat kayak bau belerang, dan ini, adalah balada kisah hidup saya.
* * * * *
Indeks
Part 1 — Lagi enak-enaknya, saya ditendang.
Part 2 — Bokap saya yang kamu tidak sukai.
Part 3 — Life is normal.. kalau kamu lagi boker.
Part 4 — Seperti Arang, seperti belerang.
Part 5 — Jangan sampai, berpisah...
Part 6 — Saya yakin, diatas langit, masih ada langit.
Part 7 — Saya yang bawa pesta nya ke tempat kamu.
Part 8 — Masa lalu saya yang terancam punah.
Part 9 — We live in a world full of danger.
Part 10 — The GIANT remains incognito.
Part 11 — Shiz's Laik Dat Maighti Soerawizeza.
Part 12 — Teori sandal jepit Swallow hitam punya saya.
Part 12.2
Part 13 — Waktunya-kamu-ikut-saya-main.
Part 13.2
Part 14. — Mengupas tuntas, menyingkap tabir..
Part 15 — Kita tanding ulang, lo berani?
Part 15.2 — Every hotel is waving.
Part 16 — Saya harus mengingat kembali beberapa aturan lama...
Part 17. — One Level Above
Part 18. — Saya, Gog Magog, kamu, dan kabar yang mengejutkan.
Part 19. — Perdebatan diantara kamu dan saya.

Part 20. — Saya kembali ke tahun 2006.
Part 21. — Jalan Van de Venter.
Part 22. — Saya, moving to Borneo.
Part 23. — Saya dalam dunia perantauan.
Part 24 — Saya, kehidupan baru, dan bencong di masa lalu.
Part 25 — Borneo, saya dan kehidupan yang gokil abis!
Quote:
House of the suspects.
Ilustrasi tokoh.
Ilustrasi tokoh.
Quote:

Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Siapa tokoh yang paling kamu benci?
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
0%
Diubah oleh tabernacle69 29-11-2020 17:52
makgendhis dan 50 lainnya memberi reputasi
49
49.5K
Kutip
632
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tabernacle69
#94
Part 11. — Shiz's Laik Dat Maighti Soerawizeza.
Quote:
Bandung dan tetek bengeknya. Satu kalimat. "Ah... betapa nyaman nya." itu dulu, dan kini semakin terkikis karena jumlah populasi penduduknya yang kian bertambah dari setiap tahun demi tahun nya.
Dari mulai tahun 99... gue sudah menginjakkan kaki gue disini, di kota ini. Konon katanya, kalau ada orang yang baru datang kesini, merasa senang, dan nekat untuk keluyuran sendirian di kota ini, nanti nasibnya bisa dipastikan akan berakhir di pasar Caringin, dicopet, dirampok dan dilukai secara tidak pantas.
Ini kok gue nulis malah jadi nakut-nakutin orang ya...? heran. Maka hayuk deh, mari kita berhenti aja kalau gitu...
Tapi kebanyakan gue memang tahu soal Bandung dan seluknya dari keluarga gue yang sudah tinggal disini sejak tahun 1800 an... lumayan lama karena memang keluarga besar dari pihak nyokap adalah keturunan Sunda asli.
Iyaa, jadi... Bandung.
Adalah sebuah kota yang walaupun nggak besar sebesar Palangkaraya, atau Jakarta, kota ini lebih kecil, bahkan, tapi tetap saja, belasan atau bahkan sekarang masuknya sudah puluhan tahun gue tinggal di kota ini, masih adaaa aja, hal-hal yang bisa membuat gue merasa terkejoed, eh salah, terkejut, maksudnya. Ini kenapa juga tiba tiba jadi ejaan Soewandiman ya.
Bandung, beda jauh lah kalau mau dibandingkan dengan Little Dumai nya kepulauan Riau atau Beverly Hills nya perusahaan tambang itu yang saban hari masih senada dan satu konsep saja; Little America, dimana disana, dengan mudahnya kita bisa menemukan anak ekspatriat yang lagi ngendon dan mimik cucu Nutrilon sambil menyaksikan tayangan dari Cartoon Network. (Waduhhh, kok bahasa gue jadi mendadak norak begini sih?! hahahahaha, just kidding, guys)
Main billiard di mess hall perusahaan dan berenang berenang manja di kolam renang yang diperuntukkan khusus hanya untuk bokap nyokap mereka yang status kepegawaiannya di perusahaan ini adalah VIP; senior manager hingga direktur perusahaan keatas saja. Ya pokoknya, mudah sekali saat kita ingin menemukan denah-denah serta lokasi favorit kegemaran orang-orang ini dalam melangsungkan gaya hidup mereka.
Namun di Bandung, tidak semudah itu, Fergusso.
Hal ini tidak terjadi se-ringan saat kita ingin membalikkan telapak tangan kita. Di Bandung..., ada sesuatu yang bersifat misterius, mendalam, seperti labirin, mungkin begitulah gambaran tepatnya. Yang selalu mengecoh gue dan berhasil membuat gue selalu bertanya tanya. Seperti saat pertama kali gue tiba di Bandung—gue pernah cukup nekat untuk menjelajahi beberapa bagian dari kota ini berdua bersama dengan si Burnay.
Petualangan kami dimulai dari jalanan dokter Otten, lanjut naik ke daerah Ciumbuleuit, kemudian lanjut lagi naik ke daerah Punclut. Hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk beristirahat sebentar dan mencari tempat makan di sekitaran daerah itu...
Nah, setelah selesai makan dan beristirahat, kami berdua (gue dan Burnay) yang waktu itu baru dapat izin untuk menaiki motor, memilih menggunakan motor untuk mengeksplorasi beberapa bagian dari kota ini. Sederhana saja, yang penting adalah menggunakan jaket kulit yang cukup tebal karena kata banyak orang, ketika berkendara menggunakan motor dengan angin yang langsung menerpa ke bagian dada itu, lumayan berbahaya.
So dari daerah Punclut itu kami pun akhirnya putar-putar sekitaran daerah tersebut lebih jauh lagi, banyak yang kami saksikan disana, utamanya sih adalah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, rimbun dan tebal dedaunan nya, semuanya menghiasi daerah Ciumbuleuit ini, pengalaman kami ini berlangsung pada tahun 2009, dan berhasil dilancarkan dengan satu syarat, 'Jangan lapor sama Pun Biang.' ujar gue kepada si Burnay.
Sebagai mitra kriminil gue yang sangat bisa diandalkan, Burnay pun langsung merapatkan bibirnya, tidak tanggung tanggung, dia bahkan langsung menyuap semua ajudan Pun Biang dengan beberapa buah Cigarillos agar kami bisa dibebaskan dari Esenler de Veranda, yaitu rumah keluarga besar kami. Rumah yang mengekang, yang isinya hanyalah holland-holland people (Belanda belanda maksud gue, ehehe) sebagai kolega Pun Biang yang gemar makan Oliebollen (semacam kue) dengan teh yang campur dengan susu, apalagi kalau bukan Frisien Vlag. Biasanya para Belanda itu mampir berkunjung di hari Minggu sekitar pukul 9 pagi.
Ngomong ngomong tentang Pun Biang, apa itu makna dari Pun Biang, Pun Biang itu mungkin semacam emak-emak tua yang bisa segala macam kuasa. Salah satu macam kuasanya adalah, kami tidak boleh naik motor, tidak boleh keluar dari daerah Wastukencana, tidak boleh ini, tidak boleh itu, bahkan waktu itu gue ingat, kalaupun boleh, kami hanya diizinkan untuk melewati jalanan Louis Pasteur, tapi semua orang sekarang tahunya itu jalan Pasteur saja...
Pernah waktu itu di tahun 2002, kami diperbolehkan untuk berjalan jalan ke daerah-daerah besar di kota Bandung, setelah izin diturunkan langsung oleh Amih Ageung (nenek kami) alias Pun Biang, dengan mobil rakyat, ini coba diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, pasti nanti jadi sebuah nama dari merek mobil yang lumayan lama telah melanglang buana dalam kancah per-otomotif-an di Indonesia.
(Di titik ini, entah mengapa gue jadi agak sedikit 'kangen' sama mendiang.)
Nah, saat itu, gue dan Burnay, sepulangnya kami dari sebuah acara pernikahan anggota keluarga kami di daerah Asia Afrika, memohon mohon kepada Amih agar dapat diantarkan dan berjalan jalan di sekitaran kota Bandung. Karena kami kan tidak lahir di kota ini, dan kami waktu itu jatuhnya adalah pendatang baru di kota ini.
Kami yang waktu itu masih kecil-kecil, dengan menggunakan baju batik, bendo (mungkin kalau di jawa ini namanya adalah blangkon) dan celana bahan warna hitam, begitu rapi dan duduk manis di kursi penumpang, tepat di samping Amih Ageung yang duduk di dekat kami, yang kemudian segera diajak ngobrol oleh beliau, "Kalian mau jalan jalan kemana?" tanya Amih kepada kami.
"Tirang uninga, Amih..." (kurang tahu, nek..) jawab kami berdua kepada beliau, sambil menunduk-nunduk karena malu. Wajah kami memerah karena kami kan nggak pernah diajak begini sama dirinya... yang jelas, gambaran orang-orang terhadap Amih kami adalah beliau sosok yang otoriter, galak, dan tidak suka terhadap anak kecil.
Bahkan waktu itupun Ibu nya Burnay sempat memperingatkan kami akan sosok Amih kami itu.. beginilah kira kira, "Kalian awas ya... hati hati... jangan bikin malu Ibu didepan Amih, nanti nggak akan di kasih jajan selama seminggu..." begitu, kata Ibu nya Burnay. Segitu horornya kah sosok Amih kami, sampai kami hari itu harus keceplosan dan akhirnya berjalan jalan di kota Bandung bersama dengan dirinya.
Sejenak kemudian, Amih kembali berbicara.. "Parantos Pak Dayat... kita jalan saja dulu..." kata Amih lagi, kemudian mobil pun berjalan menjauhi jalan Asia Afrika di siang hari itu... dan akhirnya, kami pun berjalan jalan di kota Bandung, untuk pertama kalinya dalam hidup kami...
***
Dari mulai jalanan Asia Afrika, Volkswagen Sharan yang kami naiki melaju lurus hingga alun-alun kota Bandung, kemudian berbelok ke kiri lalu memasuki wilayah dari jalanan Dalem Kaum, saat kami sedang melaju perlahan didaerah tersebut, Amih banyak bercerita mengenai masa lalunya, beberapanya ia ucapkan dengan Holand spreken, artinya dalam bahasa Belanda..., saat itu, gue menyimak dan mendengarkan setiap kalimat yang Amih ucapkan dengan amat sangat teliti...
Sedangkan si Burnay, karena bosan, akhirnya dia sibuk merogoh kantung celana nya dan lebih memilih untuk memainkan Noki-a 6800 nya, serta mulai asyik membuka AOL (american online) di siang hari itu. Yang gue tangkap di kala itu dari obrolan diantara Amih dengan gue ya kira-kira seperti ini lah...
"Dulu... waktu masih gadis, Amih tinggal disini Rang..." lalu dia menunjukkan tangannya ke sekitar jalanan Dalem Kaum, yang saat itu sudah mulai berubah menjadi beberapa pusat perbelanjaan umum...
"Oh... gitu ya Mih..." sambut gue antusias dalam menanggapi obrolannya.
Kemudian gue memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau, yang gue ingat dulu, gue bertanya seperti ini sama dia, "Amih, dulu waktu Bandung masih dijajah sama Belanda, Amih kok bisa selamat..." ucap gue penasaran.
Langsung lah nenek gue itu ngomong kayak begini, "Wah, Pak Dayat, (dia adalah sopir pribadinya Amih Ageung) saya suka sama anak ini, kritis dia rupanya." ucap Amih dengan rambut konde, batik dan Cartier yang menutupi matanya itu.
"Oh ya.. dulu waktu Bandung dijajah sama Belanda... Amih nggak diapa apakan... Amih malah sarapan pagi bareng sama mereka..." begitulah jawabannya.
Gue yang masih kecil waktu itu cuma bisa manggut manggut doang, lalu lanjut bertanya lagi kepada Amih, "Sarapan pagi nya makan apa, Amih?" tanya gue menyambung percakapan diantara kami berdua.
"Makan roti dan keju... hihihi." jawab Amih Ageung sambil agak ter 'hihi' dalam menjawab pertanyaan yang gue lontarkan untuk dia. Rupanya, setelah beranjak dewasa, gue baru sadar, ternyata Amih gue adalah seorang pro-Belanda.. makanya sarapan pagi beliau adalah roti dan keju.. nggak kayak gue dan bokap, yang kalau setiap pagi, kami membiasakan diri untuk makan singkong dan nasi bekas kemarin hari.
Disini gue paham, bahwa ternyata bokap gue sampai segitu 'anti' nya sama nyokap dia yang lebih pro terhadap Belanda, sampai sampai gue, putra kecilnya, diajarkan untuk tidak menjadi seperti itu... walah, betul-betul gue ini hidup di dalam lingkungan berkeluarga yang diam-diam terduga sejuk dan damai, namun ternyata malah terdapat perang dingin didalamnya....
***
Waktu demi waktu berlalu.., jadi masih dalam ingatan gue, dari jalanan Dalem Kaum, sopir nya Amih Ageung banting setir ke daerah Maskumambang, lanjut ke Soekarno Hatta, kemudian Gatot Subroto dan akhirnya masuk kembali ke daerah dalam kota, di Van De Venter, masuk ke jalan R.E Martadinata, lalu dari jalan itu mobil kami pun berhenti di daerah Merdeka. Kami pun keluar dari mobil, masuk ke dalam rumah Amih, dan segera mencari es krim di kulkas rumah Amih.
***
Hingga akhirnya beberapa tahun berlalu setelahnya, demi mengingat masa-masa itu lagi, gue dan Burnay akhirnya memilih untuk menjelajahi Bandung—berdua saja, makanya beberapa waktu silam kan kami sempat ke Punclut, selanjutnya kami memacu kuda besi kami ke daerah yang nyaris mirip kenampakannya dengan daerah Punclut, sehingga hal ini membuat gue bertanya tanya lagi.
"Eh, Burn, ini bukannya yang kemarin kita datengin yah? ini Ciumbuleuit bukan sih?" tanya gue disaat kami akhirnya berhasil memberhentikan motor kami di tepi jalanan, di depan sebuah warung yang sedang buka usaha di daerah yang bernama Cikole itu.
"Kampung maneh mah anying. Iyeu mah Cikole, lamun nu kamari mah ngarana Kiputih, enya, etamah di Ciumbuleuit." (elo tuh kampungan ya anjing, ini tuh Cikole, kalau yang kemarin itu namanya Kiputih, iya, di Ciumbuleuit.) jawab Burnay sambil membakar satu batang Marlboro di atas Norton tua milik kakak pertamanya. Disana lumayan dingin, dan agak agak mendung cuacanya, hal itu terjadi karena rupanya kami sudah memasuki wilayah dataran tinggi di kota tersebut.
Ternyata oh ternyata, Punclut dan Cikole itu adalah dua buah tempat yang berbeda, meski sama sama mirip dan berada didalam satu kota. Gue yang waktu itu tahunya cuma dusun rimba semasa tinggal di dekat Lahat, kota Palembang, sekarang harus jadi anak kota yang luar biasa, sampai juling mata gue ketika memperhatikan setiap sudut di dalam kota ini...
Nah, inilah alasan dari mengapa gue sebut bahwa Bandung adalah kota yang cukup 'membingungkan' bagi seorang gue... meskipun demikian ribetnya, gue tetap menikmati setiap proses ketika sedang menjelajahinya.
Dari mulai tahun 99... gue sudah menginjakkan kaki gue disini, di kota ini. Konon katanya, kalau ada orang yang baru datang kesini, merasa senang, dan nekat untuk keluyuran sendirian di kota ini, nanti nasibnya bisa dipastikan akan berakhir di pasar Caringin, dicopet, dirampok dan dilukai secara tidak pantas.
Ini kok gue nulis malah jadi nakut-nakutin orang ya...? heran. Maka hayuk deh, mari kita berhenti aja kalau gitu...
Tapi kebanyakan gue memang tahu soal Bandung dan seluknya dari keluarga gue yang sudah tinggal disini sejak tahun 1800 an... lumayan lama karena memang keluarga besar dari pihak nyokap adalah keturunan Sunda asli.
Iyaa, jadi... Bandung.
Adalah sebuah kota yang walaupun nggak besar sebesar Palangkaraya, atau Jakarta, kota ini lebih kecil, bahkan, tapi tetap saja, belasan atau bahkan sekarang masuknya sudah puluhan tahun gue tinggal di kota ini, masih adaaa aja, hal-hal yang bisa membuat gue merasa terkejoed, eh salah, terkejut, maksudnya. Ini kenapa juga tiba tiba jadi ejaan Soewandiman ya.
Bandung, beda jauh lah kalau mau dibandingkan dengan Little Dumai nya kepulauan Riau atau Beverly Hills nya perusahaan tambang itu yang saban hari masih senada dan satu konsep saja; Little America, dimana disana, dengan mudahnya kita bisa menemukan anak ekspatriat yang lagi ngendon dan mimik cucu Nutrilon sambil menyaksikan tayangan dari Cartoon Network. (Waduhhh, kok bahasa gue jadi mendadak norak begini sih?! hahahahaha, just kidding, guys)
Main billiard di mess hall perusahaan dan berenang berenang manja di kolam renang yang diperuntukkan khusus hanya untuk bokap nyokap mereka yang status kepegawaiannya di perusahaan ini adalah VIP; senior manager hingga direktur perusahaan keatas saja. Ya pokoknya, mudah sekali saat kita ingin menemukan denah-denah serta lokasi favorit kegemaran orang-orang ini dalam melangsungkan gaya hidup mereka.
Namun di Bandung, tidak semudah itu, Fergusso.
Hal ini tidak terjadi se-ringan saat kita ingin membalikkan telapak tangan kita. Di Bandung..., ada sesuatu yang bersifat misterius, mendalam, seperti labirin, mungkin begitulah gambaran tepatnya. Yang selalu mengecoh gue dan berhasil membuat gue selalu bertanya tanya. Seperti saat pertama kali gue tiba di Bandung—gue pernah cukup nekat untuk menjelajahi beberapa bagian dari kota ini berdua bersama dengan si Burnay.
Petualangan kami dimulai dari jalanan dokter Otten, lanjut naik ke daerah Ciumbuleuit, kemudian lanjut lagi naik ke daerah Punclut. Hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk beristirahat sebentar dan mencari tempat makan di sekitaran daerah itu...
Nah, setelah selesai makan dan beristirahat, kami berdua (gue dan Burnay) yang waktu itu baru dapat izin untuk menaiki motor, memilih menggunakan motor untuk mengeksplorasi beberapa bagian dari kota ini. Sederhana saja, yang penting adalah menggunakan jaket kulit yang cukup tebal karena kata banyak orang, ketika berkendara menggunakan motor dengan angin yang langsung menerpa ke bagian dada itu, lumayan berbahaya.
So dari daerah Punclut itu kami pun akhirnya putar-putar sekitaran daerah tersebut lebih jauh lagi, banyak yang kami saksikan disana, utamanya sih adalah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, rimbun dan tebal dedaunan nya, semuanya menghiasi daerah Ciumbuleuit ini, pengalaman kami ini berlangsung pada tahun 2009, dan berhasil dilancarkan dengan satu syarat, 'Jangan lapor sama Pun Biang.' ujar gue kepada si Burnay.
Sebagai mitra kriminil gue yang sangat bisa diandalkan, Burnay pun langsung merapatkan bibirnya, tidak tanggung tanggung, dia bahkan langsung menyuap semua ajudan Pun Biang dengan beberapa buah Cigarillos agar kami bisa dibebaskan dari Esenler de Veranda, yaitu rumah keluarga besar kami. Rumah yang mengekang, yang isinya hanyalah holland-holland people (Belanda belanda maksud gue, ehehe) sebagai kolega Pun Biang yang gemar makan Oliebollen (semacam kue) dengan teh yang campur dengan susu, apalagi kalau bukan Frisien Vlag. Biasanya para Belanda itu mampir berkunjung di hari Minggu sekitar pukul 9 pagi.
Ngomong ngomong tentang Pun Biang, apa itu makna dari Pun Biang, Pun Biang itu mungkin semacam emak-emak tua yang bisa segala macam kuasa. Salah satu macam kuasanya adalah, kami tidak boleh naik motor, tidak boleh keluar dari daerah Wastukencana, tidak boleh ini, tidak boleh itu, bahkan waktu itu gue ingat, kalaupun boleh, kami hanya diizinkan untuk melewati jalanan Louis Pasteur, tapi semua orang sekarang tahunya itu jalan Pasteur saja...
Pernah waktu itu di tahun 2002, kami diperbolehkan untuk berjalan jalan ke daerah-daerah besar di kota Bandung, setelah izin diturunkan langsung oleh Amih Ageung (nenek kami) alias Pun Biang, dengan mobil rakyat, ini coba diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, pasti nanti jadi sebuah nama dari merek mobil yang lumayan lama telah melanglang buana dalam kancah per-otomotif-an di Indonesia.
(Di titik ini, entah mengapa gue jadi agak sedikit 'kangen' sama mendiang.)
Nah, saat itu, gue dan Burnay, sepulangnya kami dari sebuah acara pernikahan anggota keluarga kami di daerah Asia Afrika, memohon mohon kepada Amih agar dapat diantarkan dan berjalan jalan di sekitaran kota Bandung. Karena kami kan tidak lahir di kota ini, dan kami waktu itu jatuhnya adalah pendatang baru di kota ini.
Kami yang waktu itu masih kecil-kecil, dengan menggunakan baju batik, bendo (mungkin kalau di jawa ini namanya adalah blangkon) dan celana bahan warna hitam, begitu rapi dan duduk manis di kursi penumpang, tepat di samping Amih Ageung yang duduk di dekat kami, yang kemudian segera diajak ngobrol oleh beliau, "Kalian mau jalan jalan kemana?" tanya Amih kepada kami.
"Tirang uninga, Amih..." (kurang tahu, nek..) jawab kami berdua kepada beliau, sambil menunduk-nunduk karena malu. Wajah kami memerah karena kami kan nggak pernah diajak begini sama dirinya... yang jelas, gambaran orang-orang terhadap Amih kami adalah beliau sosok yang otoriter, galak, dan tidak suka terhadap anak kecil.
Bahkan waktu itupun Ibu nya Burnay sempat memperingatkan kami akan sosok Amih kami itu.. beginilah kira kira, "Kalian awas ya... hati hati... jangan bikin malu Ibu didepan Amih, nanti nggak akan di kasih jajan selama seminggu..." begitu, kata Ibu nya Burnay. Segitu horornya kah sosok Amih kami, sampai kami hari itu harus keceplosan dan akhirnya berjalan jalan di kota Bandung bersama dengan dirinya.
Sejenak kemudian, Amih kembali berbicara.. "Parantos Pak Dayat... kita jalan saja dulu..." kata Amih lagi, kemudian mobil pun berjalan menjauhi jalan Asia Afrika di siang hari itu... dan akhirnya, kami pun berjalan jalan di kota Bandung, untuk pertama kalinya dalam hidup kami...
***
Dari mulai jalanan Asia Afrika, Volkswagen Sharan yang kami naiki melaju lurus hingga alun-alun kota Bandung, kemudian berbelok ke kiri lalu memasuki wilayah dari jalanan Dalem Kaum, saat kami sedang melaju perlahan didaerah tersebut, Amih banyak bercerita mengenai masa lalunya, beberapanya ia ucapkan dengan Holand spreken, artinya dalam bahasa Belanda..., saat itu, gue menyimak dan mendengarkan setiap kalimat yang Amih ucapkan dengan amat sangat teliti...
Sedangkan si Burnay, karena bosan, akhirnya dia sibuk merogoh kantung celana nya dan lebih memilih untuk memainkan Noki-a 6800 nya, serta mulai asyik membuka AOL (american online) di siang hari itu. Yang gue tangkap di kala itu dari obrolan diantara Amih dengan gue ya kira-kira seperti ini lah...
"Dulu... waktu masih gadis, Amih tinggal disini Rang..." lalu dia menunjukkan tangannya ke sekitar jalanan Dalem Kaum, yang saat itu sudah mulai berubah menjadi beberapa pusat perbelanjaan umum...
"Oh... gitu ya Mih..." sambut gue antusias dalam menanggapi obrolannya.
Kemudian gue memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau, yang gue ingat dulu, gue bertanya seperti ini sama dia, "Amih, dulu waktu Bandung masih dijajah sama Belanda, Amih kok bisa selamat..." ucap gue penasaran.
Langsung lah nenek gue itu ngomong kayak begini, "Wah, Pak Dayat, (dia adalah sopir pribadinya Amih Ageung) saya suka sama anak ini, kritis dia rupanya." ucap Amih dengan rambut konde, batik dan Cartier yang menutupi matanya itu.
"Oh ya.. dulu waktu Bandung dijajah sama Belanda... Amih nggak diapa apakan... Amih malah sarapan pagi bareng sama mereka..." begitulah jawabannya.
Gue yang masih kecil waktu itu cuma bisa manggut manggut doang, lalu lanjut bertanya lagi kepada Amih, "Sarapan pagi nya makan apa, Amih?" tanya gue menyambung percakapan diantara kami berdua.
"Makan roti dan keju... hihihi." jawab Amih Ageung sambil agak ter 'hihi' dalam menjawab pertanyaan yang gue lontarkan untuk dia. Rupanya, setelah beranjak dewasa, gue baru sadar, ternyata Amih gue adalah seorang pro-Belanda.. makanya sarapan pagi beliau adalah roti dan keju.. nggak kayak gue dan bokap, yang kalau setiap pagi, kami membiasakan diri untuk makan singkong dan nasi bekas kemarin hari.
Disini gue paham, bahwa ternyata bokap gue sampai segitu 'anti' nya sama nyokap dia yang lebih pro terhadap Belanda, sampai sampai gue, putra kecilnya, diajarkan untuk tidak menjadi seperti itu... walah, betul-betul gue ini hidup di dalam lingkungan berkeluarga yang diam-diam terduga sejuk dan damai, namun ternyata malah terdapat perang dingin didalamnya....
***
Waktu demi waktu berlalu.., jadi masih dalam ingatan gue, dari jalanan Dalem Kaum, sopir nya Amih Ageung banting setir ke daerah Maskumambang, lanjut ke Soekarno Hatta, kemudian Gatot Subroto dan akhirnya masuk kembali ke daerah dalam kota, di Van De Venter, masuk ke jalan R.E Martadinata, lalu dari jalan itu mobil kami pun berhenti di daerah Merdeka. Kami pun keluar dari mobil, masuk ke dalam rumah Amih, dan segera mencari es krim di kulkas rumah Amih.
***
Hingga akhirnya beberapa tahun berlalu setelahnya, demi mengingat masa-masa itu lagi, gue dan Burnay akhirnya memilih untuk menjelajahi Bandung—berdua saja, makanya beberapa waktu silam kan kami sempat ke Punclut, selanjutnya kami memacu kuda besi kami ke daerah yang nyaris mirip kenampakannya dengan daerah Punclut, sehingga hal ini membuat gue bertanya tanya lagi.
"Eh, Burn, ini bukannya yang kemarin kita datengin yah? ini Ciumbuleuit bukan sih?" tanya gue disaat kami akhirnya berhasil memberhentikan motor kami di tepi jalanan, di depan sebuah warung yang sedang buka usaha di daerah yang bernama Cikole itu.
"Kampung maneh mah anying. Iyeu mah Cikole, lamun nu kamari mah ngarana Kiputih, enya, etamah di Ciumbuleuit." (elo tuh kampungan ya anjing, ini tuh Cikole, kalau yang kemarin itu namanya Kiputih, iya, di Ciumbuleuit.) jawab Burnay sambil membakar satu batang Marlboro di atas Norton tua milik kakak pertamanya. Disana lumayan dingin, dan agak agak mendung cuacanya, hal itu terjadi karena rupanya kami sudah memasuki wilayah dataran tinggi di kota tersebut.
Ternyata oh ternyata, Punclut dan Cikole itu adalah dua buah tempat yang berbeda, meski sama sama mirip dan berada didalam satu kota. Gue yang waktu itu tahunya cuma dusun rimba semasa tinggal di dekat Lahat, kota Palembang, sekarang harus jadi anak kota yang luar biasa, sampai juling mata gue ketika memperhatikan setiap sudut di dalam kota ini...
Nah, inilah alasan dari mengapa gue sebut bahwa Bandung adalah kota yang cukup 'membingungkan' bagi seorang gue... meskipun demikian ribetnya, gue tetap menikmati setiap proses ketika sedang menjelajahinya.
Diubah oleh tabernacle69 21-05-2019 04:50
njek.leh dan yusufchauza memberi reputasi
2
Kutip
Balas