- Beranda
- Stories from the Heart
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
...
TS
tabernacle69
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Quote:

Jurnal ini dapat membuat orang yang membacanya merasa BOSAN, tidak tertarik lebih lanjut dan kehilangan SELERA untuk membacanya, mereka akan merasa bahwa membaca jurnal serta kisah ini hanyalah membuang buang waktu mereka saja. Membencinya, mengkritiknya, membuangnya, dan melupakannya.
Tetapi bagi mereka yang bertahan, berjiwa santai dan pandai mencicil dalam membacanya.
Sebuah keajaiban akan terjadi.
Dan mereka akan mengingatnya.
..... Jurnal yang bakal saya bagikan ini mostly atau kebanyakan, bakalan bercerita tentang gimana cara untuk survive / bertahan di lingkungan sekolahan yang ekstrim dan berantakan, berandalan, dengan siswa cewek dan cowok yang nakal-nakal banget didalamnya, serta yang kebanyakan senang dan hobi banget mojok plus mesum di kantin belakang sekolah. Hehehe.
Dan nakal disini tuh sebutlah, pakai narkoba, nggak nurut sama guru, tawuran dan lain lain nya... betul betul nggak ada yang bisa dibanggain, apalagi kalau nakalnya masih dari duit orang tua. Tapi jangan emosi duluuu, karena ada pelajaran yang bisa diambil dari kenakalan-kenakalan itu.
* * *
PROLOG
"Bang, kau jangan lupa sama janjimu ya, kau kan anak lelaki, terus kau kan sudah lulus SD juga. Nah sekarang, merantau lah kau ke tempat orang."
Ucapan diatas adalah pesan dari bokap buat saya, karena ditagih janji, dan harus menepati janjinya, keputusan itu pun membuat saya harus memberanikan diri saya untuk pergi merantau ke tempat orang, sebuah tempat yang jauh dari kota kesayangan saya, kota yang saya tinggali.
..... nah waktu ituuu saya lagi ngobrol ngobrol santai sambil menikmati perjalanan sama sopir pesanan bokap di pertengahan malam, waktu itu kalau saya coba ingat ingat lagi secara persisnya..., perjalanan saya ini terjadi di bulan Februari, tahun 2007. Pak Amin namanya.
Sekitar jam setengah dua belas malam, dengan menaiki Range Rover Vogue warna hitam yang saya tumpangi, sopir pesanan bokap saya ini membawa kami melaju secara ekstra hati hati tepat didalam rerimbunan serta gelapnya taman hutan raya Bukit Soeharto.
Di Borneo, Kalimantan Timur.
Bukan karena apa apa, tapi karena kabarnya tempat ini adalah tempat yang super duper keramat.. jadi ya saya nggak bisa sembarangan bertingkah laku di tempat ini. Sompral atau belagu sedikit aja, saya yakin kalau saya bisa hilang di bukit yang menyeramkan ini.
.....
"Mas, kalau kita lagi lewat bukit Soeharto ini saya harap mas banyak banyak berdoa ya, jadi biar nanti kita bisa keluar dengan selamat." obrol si pak Amin kepada saya di saat itu, sambil dia tetap fokus dengan kendali setir yang berada didepannya.
Saya yang nggak tahu apa apa, cuma bisa merasakan bahwa bulu kuduk saya agak merinding. Sebab hanya ada kami berdua di tengah malam itu, dan persis seperti yang supir saya bilang, suasana di bukit Soeharto ini terkenal mencekam dan mengerikan.
Gosip gosipnya sih tempat ini adalah tempat rahasia, dulunya, yang dipakai untuk membuang mayat para preman yang dibunuh serta dikarungi selama pada masa pemerintahan yang terhormat... bapak presiden Soeharto. Tapi ini semua masih katanya ya...
Luar biasa...
Cuman, sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang kisah saya di tahun 2007 sampai dengan 2008 pertengahan itu.., saya pengen omongin satu hal yang bakalan bikin semuanya jadi jelas, bahwa, hidup saya nggak akan dimulai sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri dengan merantau seperti ini...
Ini adalah sebuah perjuangan yang sudah saya lewati di masa lalu saya, yang ternyata memberikan banyak kesan dan kenangan bahkan sampai hari ini.
Jadi waktu itu saya masih kelas 6 SD, baru lulus banget dari SD, kemudian merantau lah saya untuk cari sekolahan baru dan duduk di bangku SMP.
Hidup dan tinggal di keluarga Soematra memang begini, betul-betul keras didikan nya, meski saya tahu mungkin diluar sana ada yang sudah ditempa meski dari umur yang lebih muda, kayak waktu masih di bangku taman kanak kanak, mungkin? saya nggak hafal gimana persisnya.
Yang jelas waktu kelas dua SD saya pernah diguyur air dingin tepat tengah malam dan disuruh tidur di luar rumah, sama bokap saya, nyokap nangis-nangis dan nggak mampu ngelawan bokap, sampai akhirnya saya pun hampir kena hipotermia, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Itu belum seberapa friends, waktu kelas lima SD saya pernah dijebloskan ke dalam penjara setempat sama bokap saya.
Penyebabnya?
Saya membuat skema ponzi (investasi bodong) di sekolah saya yang menyebabkan teman-teman saya kehilangan uang liburan mereka. Total dana yang saya gelapkan itu senilai puluhan juta rupiah. Under tiga puluh juta waktu itu kalau nggak salah.
Karena hal ini lah, saya dijebloskan kedalam sebuah tempat untuk menterapi anak-anak yang memiliki kecenderungan aneh aneh. Termasuk penjara itu tadi.
Seorang Philargyrist. Adalah orang yang suka dengan uang, bentuknya, gambarnya, teksturnya. Ngomong ngomong, under 30 juta, adalah nominal uang yang kecil dan sedikit sih memang, kalau bisa lebih banyak, saya pengen nya 50 juta atau lebih, tetapi untuk ukuran anak SD di tahun 2005, menurut orang-orang itu adalah hal yang agak tidak wajar.
Selain itu saya punya tendensi sebagai seseorang yang mengidap obssesive compulsive disorder, yang menyebabkan saya melakukan suatu kebiasaan secara repetitif, berulang ulang kali secara terus menerus, disini kasusnya saya punya kecenderungan untuk kembali menyedot uang uang itu lagi, buat saya, koin seratus perak yang sudah lecek dan kumal itu adalah sesuatu yang amat sangat mengundang.
Kalau buat kamu situasi seperti itu adalah angin selewat saja, ya mending buat saya aja duitnya, kenapa? karena setelahnya saya akan mencuci koin itu lalu memasukannya kedalam celengan saya.
Suara dentingan dari koin ituloh.... indah. Dan esensinya buat saya, every coins, matter.
Nah, jadi hukuman yang tepat bagi orang seperti saya adalah mencuci otak serta mental nya secara menyeluruh. Salah satunya adalah dengan men-terapi dan menjebloskan saya ke dalam penjara anak serta tempat praktik psikiater dan psikolog, untuk disatukan dengan kriminil-kriminil cilik atau anak-anak 'special needs' yang lainnya.
Hahahahaha, ya nggak sebegitu juga horornya, karena banyak kok yang pintar-pintar juga, di terapi disini, ada yang savant, ada yang synesthesia, ada yang prodigy, haha, mau apa lo? yang imbecile juga ada kok. Dan duit orang tua mereka nggak tanggung-tanggung kalau udah main ke psikiater dan psikolog. Hahahahaha.
Being a criminal mind, hukuman selanjutnya yang dilimpahkan kepada saya—masih yang kayak begitu juga, akhirnya saya pun pernah terpaksa ikutan tidur dirumah sebuah komunitas pemulung yang tinggal di sekitar komplek perumahan kami, ini waktu di Sumatra selatan kalau nggak salah, (saya kenal sama ketua komunitas pemulungnya, dan saya tidak membatasi diri sih.. asyik-asyik aja) Nah, disanalah saya belajar tentang gimana caranya jadi anak laki laki yang tahan banting. Itu semua belum termasuk bogem mentah dan ikat pinggang bokap.
Makanya saya sering ngebayangin, apa jadinya ya kalau teman teman saya yang dimanja itu, diperlakukan begitu sama Bapak mereka, wah sudah bunuh diri kali mereka. Walaupun anak aparat atau anak pejabat, tapi kalau pola asuh nya kayak pola asuh bokap saya, alamat selesai itu anak-anak manja.
.... juga kalau seandainya saya tidak memutuskan untuk merantau di tahun 2007 silam, saya bakalan tetap diusir juga sama bokap saya, nggak diakui sebagai anaknya, karena lembek, lemah, dan nggak mau berjuang. Bokap emang kejam kalau udah soal yang beginian.
Yang membuat saya mampu bertahan hingga hari ini ya adalah karena diri saya sendiri, karena nggak ada yang bisa menyemangati diri selain kita sendiri.
Alasan kedua, saya orangnya rasional, kalau dipukul itu artinya sakit, ya jangan suka mukul orang lain. Ketiga, saya orangnya senang gagal, karena dari gagal saya bisa belajar.
Keempat, saya anak bandel, nggak sempurna, dan suka belajar dari kesalahan yang dibuat oleh diri sendiri.
Kelima? nggak ada, jangan banyak banyak hehe, nanti pusing coy.
* * *
Dan juga... saya nggak akan tulis kisah saya ini kalau motivasinya kurang kuat.. saya sengaja tulis jurnal saya ini untuk mengingat masa masa itu, juga untuk mengenang perempuan terbaik, yang pernah hadir ke dalam hidup saya, selain nyokap saya sendiri tentunya...
Dan ini rasanya sungguh klise (biasa aja) memang... kalau dipikir pikir lagi, tapi ya, saya paham lah resikonya sedikit mengorek masa lalu itu kayak gimana. Makanya saya beranikan untuk menulis ini.
Jurnal dan kisah ini... juga saya tulis dan ceritakan ulang untuk menghormati orang orang didalam kehidupan saya. Harapan saya, semoga saya lancar menulisnya sampai akhir, karena ini bisa dibilang enggak banyak juga.
Jadi ya semoga saya bisa bawa alur cerita saya ini secara ringkas, padat dan jelas. Biar nggak ada yang pusing apalagi sampai sakit jiwa waktu ngebacanya.
So, nama saya Arang (Ara), sering dipanggil begitu karena kadangkala sifat saya yang menyengat kayak bau belerang, dan ini, adalah balada kisah hidup saya.
* * * * *
Indeks
Part 1 — Lagi enak-enaknya, saya ditendang.
Part 2 — Bokap saya yang kamu tidak sukai.
Part 3 — Life is normal.. kalau kamu lagi boker.
Part 4 — Seperti Arang, seperti belerang.
Part 5 — Jangan sampai, berpisah...
Part 6 — Saya yakin, diatas langit, masih ada langit.
Part 7 — Saya yang bawa pesta nya ke tempat kamu.
Part 8 — Masa lalu saya yang terancam punah.
Part 9 — We live in a world full of danger.
Part 10 — The GIANT remains incognito.
Part 11 — Shiz's Laik Dat Maighti Soerawizeza.
Part 12 — Teori sandal jepit Swallow hitam punya saya.
Part 12.2
Part 13 — Waktunya-kamu-ikut-saya-main.
Part 13.2
Part 14. — Mengupas tuntas, menyingkap tabir..
Part 15 — Kita tanding ulang, lo berani?
Part 15.2 — Every hotel is waving.
Part 16 — Saya harus mengingat kembali beberapa aturan lama...
Part 17. — One Level Above
Part 18. — Saya, Gog Magog, kamu, dan kabar yang mengejutkan.
Part 19. — Perdebatan diantara kamu dan saya.

Part 20. — Saya kembali ke tahun 2006.
Part 21. — Jalan Van de Venter.
Part 22. — Saya, moving to Borneo.
Part 23. — Saya dalam dunia perantauan.
Part 24 — Saya, kehidupan baru, dan bencong di masa lalu.
Part 25 — Borneo, saya dan kehidupan yang gokil abis!
Quote:
House of the suspects.
Ilustrasi tokoh.
Ilustrasi tokoh.
Quote:

Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Siapa tokoh yang paling kamu benci?
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
0%
Diubah oleh tabernacle69 29-11-2020 17:52
makgendhis dan 50 lainnya memberi reputasi
49
50K
Kutip
632
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tabernacle69
#81
Part 9. — We live in a world full of danger.
Quote:
Jangan khawatir, (ini apa pula...? hahahaha), gue masih bersama dengan si Freya di siang hari itu, di living room rumahnya dia, tepat saat gue (dan Freya juga) sedang menemukan bokap gue lagi asyik berceloteh dalam ponsel genggam nya...
Tapi sebelum gue lanjut, gue ingin bercerita sedikit lebih jauh mengenai bokap gue, boleh ya? Gue mohon maaf banget kalau ternyata ini malah bikin lapar teman-teman yang masih berpuasa semakin menjadi jadi :-D atau nanti kalau sudah boleh makan, boleh deh dilanjut baca sedikit sedikit... he he.
***
We live in a world full of danger. Adalah frasa yang gue ucapkan ketika gue masih berumur 8 tahun, ketika kami semua dikumpulkan di sebuah tempat, sebuah rumah, tapi mungkin lebih cocok lagi kalau dikatakan sebagai sebuah asrama kali ya? karena disini juga banyak kamar-kamar yang bisa dipakai tidur.
Sebuah rumah yang isinya adalah anak-anak kecil yang duduk bersama dengan gue, kami semua mengangkat tangan kami dan berdoa kepada Tuhan, kami—yang saat itu masih kecil kecil, hanya punya satu harapan saja sebetulnya, yaitu agar bokap gue yang sedang disekap dan ditawan oleh orang orang Dayak Kenyah dan Dayak Tunjung di sebuah hutan pedalaman, di daerah Pampang, Kalimantan Timur, agar dia bisa dibebaskan sesegera mungkin.
Sebuah kejadian yang telah berlalu di masa lalu kami. Tapi masih teringat bahkan sampai hari ini. Semua ini disebabkan oleh konflik eksternal antara perusahaan dimana bokap bekerja dan masyarakat sekitar yang merasa diragukan karena pengoperasian tambang pada perusahaan yang bersangkutan.
Pagi hari itu, saat cahaya matahari pagi yang cerah masuk menembus kedalam beranda ruangan di asrama, juga awan membiru yang tampil diatas langit, dengan kami semua yang berdoa bersama demi keselamatan bokap gue. Gue ingat, beberapa pengurus disini pun ada dan ikut hadir untuk turut mendoakan bokap gue.
Kami adalah anak-anak mungil yang merupakan bagian dari bala keselamatan bantuan, eventhough we were a small part of the salvation army, alias bala keselamatan bantuan, untuk kasus bokap gue ini, kami semua nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain hanya berdoa dan memohon kepada Tuhan agar bokap gue segera dibebaskan oleh orang orang yang menyekap dirinya itu.
Waktu itu momen nya bisa dibilang cukup menegangkan, karena gue, dengan ponsel gue yang selalu berada dalam genggaman tangan gue, tetap mewanti-wanti kabar dari nyokap yang tetap terhubung dengan pihak kantor dimana bokap gue bekerja didalamnya.
Waktu itu, bokap pernah ngomong begini sama gue, "Posisi bekerja Bapak di kantor itu namanya kursi panas, Bang, jadi jangan heran ya kau kalau bapak ada masalah." ucap bokap, sambil tertawa renyah. Kursi panas itu adalah bahan bercandaan bokap gue sewaktu gue masih kecil juga, gue sebetulnya sering nelangsa kalau sudah ditakut-takuti bahwa gue bakalan nggak punya Bapak lagi, karena Bapaknya mati, dibunuh orang.
Gimana enggak takut.., tahun 98 aja dia diminta pasang badan untuk menangani aksi demo brutal para mahasiswa dari sebuah universitas di Sumatra, penyebabnya gara gara rezim Soeharto yang nggak mau turun turun. Agak gila dan ekstrim sih ya karena relevansinya kurang, (demo untuk presiden, namun yang diserang malah kantor BUMN? agak nggak masuk akal juga sih, karena kan bisa langsung demo didepan istana negara sebetulnya) tapi karena waktu itu kerusuhan nya sudah berskala nasional, jadi ya apa boleh buat, semua bisa menyebar, semua bisa saja terjadi.
Jajaran direksi (termasuk paman gue) yang harusnya ikut membantu mendamaikan aksi demo tersebut, justru malah ngumpet dibawah meja dan didalam ruangan ber-AC punya mereka, ya gue tahu, memang kantor nya nyaman sih... tapi ya jangan ngumpet banget gitu... kan jadi kelihatan nggak ada nyali nya tuh...
Di sisi lain, bokap ngomong begini sama para mahasiswa yang sedang asyik berdemo di kala itu "Adik adik mahasiswa, panggilan ibadah sudah terdengar, bagi yang belum melaksanakan ibadah, mari kita beristirahat sejenak, untuk beribadah dan mendinginkan kepala kita." kata bokap kepada para mahasiswa yang lagi rusuh berdemo.
Setelah bokap ngomong begitu, mahasiswa-mahasiswa itu balas berbicara, "Baru kali ini gue liat ada kepala divisi ini kantor nyuruh kita pergi ke masjid, unik nian boy... langka." ucap para mahasiswa itu.
***
Kembali pada saat berdoa di waktu itu, karena kami datang dari sebuah biro yang ber-aliansi dengan TSA di kota kami, di daerah dokter Cipto di kota Bandung, kalau kesana kami suka bawa-bawa busana dan permen permen lezat untuk kawan-kawan kami di asrama, ini sebetulnya memang sebuah kegiatan amal dan kunjungan rutin untuk menjaga persahabatan kami dengan mereka.
Dalam ingatan gue, waktu itu gue bersebelahan dengan dengan seorang Burnay, Guruminda alias Ominda dan teman-teman gue yang lainnya, anyway, si Freya ada lho di momen itu, karena kami semua kan satu rumpun dan satu atap, satu biro maksudnya, yang menaungi dan mengasuh kami semua di masa kecil dulu.
Kisah kami dibentuk karena sebuah tradisi, sebuah tradisi bagi keluarga lama yang tinggal di kota ini, biasanya suka menitipkan anak anaknya untuk belajar dan diasuh disini.
Tapi ya begini deh, waktu itu gue masih musuhan banget sama si kecil Freya, jadi ya walaupun dia ada disitu, paling banter ya dia cuma ikut mingkem dan manggut manggut doang. Dasar Ireng, untungnya sekarang kami sudah bersahabat. Nggak kebayang gimana lucunya dan betapa kekanak kanakannya waktu kami musuhan sama dia, karena si Freya suka ngomong begini, "Hey kalian para Irjadinata, ayo lawan aku!" begitu ucap dia.
Dilanjut dengan Burnay yang langsung membalas omongan si Freya, "Dasar Batak gila, nggak dikasih jadi Ranger Pink begitu lah kumatnya."
Nah... sekitar seminggu setelah mendoakan bokap, akhirnya bokap pun dikabarkan bebas dari tragedi penyanderaan itu dan kembali pulang ke kota Bandung, pas bokap tiba di rumah, gue senang banget, yah tahulah senangnya anak kecil kayak gimana kalau ketemu sama Bapaknya, saking senangnya gue, gue sampai bertanya begini sama dia, "Pak, kok bapak bisa bebas?" kemudian bokap berpikir sebentar, lalu mulai menjawab.
"Bapak bilang... Bapak nggak takut mati, mati itu urusan Tuhan." begitu, kata bokap kepada gue. Gue kok bergetar ya sewaktu mendengarnya? ngeri-ngeri sedap gimana gitu. Nah, setelah berkata demikian kepada orang Dayak yang menyandera dia, bokap malah diajak untuk bertemu dengan ketua suku (ketua sukunya ini ada yang perempuan) dan akhirnya diberikan semacam topi penghormatan seperti itu buat dirinya.
Bokap juga dikasih bulu perindu, sebuah benda yang katanya punya kekuatan mistis. Nggak akan gue bahas lebih lanjut karena gue nggak tahu apa apa soal ini...
Mungkin... karena kekuatan ucapan dan kejujuran bokap di kala itu, dia akhirnya bisa selamat, lagipula... kadang kalau sudah ada Tuhan didalamnya, kita suka bergidik dan takut karena kuasanya. Gimana enggak, setelah gue beranjak dewasa, gue baru paham, bahwa posisi kursi panas yang jadi bahan bercandaan bokap di masa lalu itu ternyata adalah...
Land Acquisition.
Akusisi lahan. Yang identik dengan sengketa dan segala macam permasalahan nya.
Jadi ya pantaslah kalau teryata bokap gemar sekali dihampiri masalah dan harus menjadi mediator (penengah yang menengarai) atas perselisihan diantara dua buah pihak, yaitu pihak perusahaan yang ingin menambang dan pihak masyarakat yang ingin tanah leluhur mereka tidak diapa apakan samasekali, kalau bisa, tinggalkan saja kami, toh kami masih bisa makan tanpa hadirnya perusahan tambang sekelas triliunan rupiah di sini sekalipun.
Konflik kepentingan yang benar benar konflik banget, agan sista. Yang satu kepengin menambang dan dari hasil penjualan tambangnya, bisa dipakai untuk membeli Lamborghini Veneno untuk anaknya yang lagi kuliah di Singapur... ehhh yang satunya lagi kepengin sarkofagus nenek moyang serta para pendahulunya tetap keramat dan tidak diapa apakan sama sekali. Tapi... kenapa yang disekapnya kok malah bokap gue ya?
Gimana atuh... kok jadi pusing begini ya teman-teman...? he he.
Bahkan ketika bokap gue disekap didalam rumah terbengkalai itupun, dia sempat melobi karena memang perusahaan nya punya juga... untuk menawarkan dana CSR yang berjumlah puluhan miliar, namun suku pedalaman itu berkata seperti ini kepada bokap gue, "Hey, kami tidak mau uang anda, perusahaan anda yang cari bahaya dengan kami, kami mau lahan itu tidak disentuh sama sekali." sambil menyodorkan sebuah mandau (sebuah pisau asli buatan suku dayak) tepat didekat leher bokap gue.
Membuat bokap ngomong begini sama gue, "Kau perhatikan, Bang, kalau orang sudah tersulut kemarahannya, kadang dia tidak peduli lagi, mau itu uang, mau itu wanita, mau itu iblis, dia sudah nggak peduli, yang terpenting adalah jangan menodai kehormatan orang. Makanya, kita harus pay respect sama orang." begitu, ucap bokap kepada gue.
Di sisi lain, pemerintah daerah setempat justru sangat antusias ketika mereka disuap oleh perusahaan tambang yang akan mulai beroperasi di daerah rural atau pedesaan kayak begitu, benar benar seperti yang sudah mereka rencanakan matang-matang.
Anggaplah begini, ada anggaran suap untuk PEMDA sebesar 30 miliar Rupiah. Dengan estimasi keuntungan yang didapat dari hasil penambangan lahan nantinya akan sebesar 300 milliar, kalau otak kapitalisnya lancar, ya tentu saja tidak akan ada hambatan samasekali untuk tetap melanjutkan kegiatan dagang seperti ini.
* * *
Anyhow, semua peristiwa dan tragedi itu sudah berlalu dalam hidup kami. Biarlah menjadi pelajaran untuk gue, untuk bokap gue, dan untuk teman-teman yang mungkin tertarik juga untuk sedikit mempelajarinya.
Bahwa, we live in a world full of danger. Senggol dikit, bacok! Lantas, bagaimana bentuk bentuk dari kekerasan itu...?
Pertama, kekerasan terhadap anak... (ini agak sedikit ironis sifatnya, mengingat bahwa bokap gue pun memang kasar terhadap gue, namun ya gue maklumi karena kasarnya adalah kasar yang bisa mendidik mental gue...)
Kedua, kekerasan terhadap kaum perempuan, ini yang gue amat sangat perhatikan... gue ingat, dulu ada anggota keluarga gue (dia adalah paman gue, tapi gue manggil dia o'om aja) yang kasar sama istrinya, sejam kemudian, itu satu keluarga besar langsung mengadakan rapat keluarga di Sunda Kepatihan.
Di komandoi langsung oleh Ibu jendral dari pusat, isi rapatnya kira-kira begini, "Kei... kalau kamu masih berani berani lagi menampar istrimu, besok Oma coret kamu dari daftar keluarga ini, Oma nggak main-main ya." merinding sewaktu mendengarnya, gue, Burnay, dan yang masih sebaya dengan kami, yang lainnya, maksud gue, masih mikir-mikir lagi kalau kami mau kasar sama yang namanya perempuan.
We live in a world full of danger. Senggol dikit, bacok! Jadi, ada baiknya memang kalau kita tetap berhati hati dan mengendalikan diri... sekarang, kejadian menyeramkan itu sudah hampir jarang terjadi, karena bokap sudah nggak lagi-lagi, bekerja di perusahaan untuk posisi itu lagi... hati gue rasanya jadi jauh lebih dalam urusan ketika itu bersangkutan dengan bokap gue...
Eh, gue hampir lupaaa, selamat berbuka puasa juragan-juragan semuanya, selamat menyantap hidangan yang sejak tadi siang sudah di idam idamkan...
Tapi sebelum gue lanjut, gue ingin bercerita sedikit lebih jauh mengenai bokap gue, boleh ya? Gue mohon maaf banget kalau ternyata ini malah bikin lapar teman-teman yang masih berpuasa semakin menjadi jadi :-D atau nanti kalau sudah boleh makan, boleh deh dilanjut baca sedikit sedikit... he he.
***
We live in a world full of danger. Adalah frasa yang gue ucapkan ketika gue masih berumur 8 tahun, ketika kami semua dikumpulkan di sebuah tempat, sebuah rumah, tapi mungkin lebih cocok lagi kalau dikatakan sebagai sebuah asrama kali ya? karena disini juga banyak kamar-kamar yang bisa dipakai tidur.
Sebuah rumah yang isinya adalah anak-anak kecil yang duduk bersama dengan gue, kami semua mengangkat tangan kami dan berdoa kepada Tuhan, kami—yang saat itu masih kecil kecil, hanya punya satu harapan saja sebetulnya, yaitu agar bokap gue yang sedang disekap dan ditawan oleh orang orang Dayak Kenyah dan Dayak Tunjung di sebuah hutan pedalaman, di daerah Pampang, Kalimantan Timur, agar dia bisa dibebaskan sesegera mungkin.
Sebuah kejadian yang telah berlalu di masa lalu kami. Tapi masih teringat bahkan sampai hari ini. Semua ini disebabkan oleh konflik eksternal antara perusahaan dimana bokap bekerja dan masyarakat sekitar yang merasa diragukan karena pengoperasian tambang pada perusahaan yang bersangkutan.
Pagi hari itu, saat cahaya matahari pagi yang cerah masuk menembus kedalam beranda ruangan di asrama, juga awan membiru yang tampil diatas langit, dengan kami semua yang berdoa bersama demi keselamatan bokap gue. Gue ingat, beberapa pengurus disini pun ada dan ikut hadir untuk turut mendoakan bokap gue.
Kami adalah anak-anak mungil yang merupakan bagian dari bala keselamatan bantuan, eventhough we were a small part of the salvation army, alias bala keselamatan bantuan, untuk kasus bokap gue ini, kami semua nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain hanya berdoa dan memohon kepada Tuhan agar bokap gue segera dibebaskan oleh orang orang yang menyekap dirinya itu.
Waktu itu momen nya bisa dibilang cukup menegangkan, karena gue, dengan ponsel gue yang selalu berada dalam genggaman tangan gue, tetap mewanti-wanti kabar dari nyokap yang tetap terhubung dengan pihak kantor dimana bokap gue bekerja didalamnya.
Waktu itu, bokap pernah ngomong begini sama gue, "Posisi bekerja Bapak di kantor itu namanya kursi panas, Bang, jadi jangan heran ya kau kalau bapak ada masalah." ucap bokap, sambil tertawa renyah. Kursi panas itu adalah bahan bercandaan bokap gue sewaktu gue masih kecil juga, gue sebetulnya sering nelangsa kalau sudah ditakut-takuti bahwa gue bakalan nggak punya Bapak lagi, karena Bapaknya mati, dibunuh orang.
Gimana enggak takut.., tahun 98 aja dia diminta pasang badan untuk menangani aksi demo brutal para mahasiswa dari sebuah universitas di Sumatra, penyebabnya gara gara rezim Soeharto yang nggak mau turun turun. Agak gila dan ekstrim sih ya karena relevansinya kurang, (demo untuk presiden, namun yang diserang malah kantor BUMN? agak nggak masuk akal juga sih, karena kan bisa langsung demo didepan istana negara sebetulnya) tapi karena waktu itu kerusuhan nya sudah berskala nasional, jadi ya apa boleh buat, semua bisa menyebar, semua bisa saja terjadi.
Jajaran direksi (termasuk paman gue) yang harusnya ikut membantu mendamaikan aksi demo tersebut, justru malah ngumpet dibawah meja dan didalam ruangan ber-AC punya mereka, ya gue tahu, memang kantor nya nyaman sih... tapi ya jangan ngumpet banget gitu... kan jadi kelihatan nggak ada nyali nya tuh...
Di sisi lain, bokap ngomong begini sama para mahasiswa yang sedang asyik berdemo di kala itu "Adik adik mahasiswa, panggilan ibadah sudah terdengar, bagi yang belum melaksanakan ibadah, mari kita beristirahat sejenak, untuk beribadah dan mendinginkan kepala kita." kata bokap kepada para mahasiswa yang lagi rusuh berdemo.
Setelah bokap ngomong begitu, mahasiswa-mahasiswa itu balas berbicara, "Baru kali ini gue liat ada kepala divisi ini kantor nyuruh kita pergi ke masjid, unik nian boy... langka." ucap para mahasiswa itu.
***
Kembali pada saat berdoa di waktu itu, karena kami datang dari sebuah biro yang ber-aliansi dengan TSA di kota kami, di daerah dokter Cipto di kota Bandung, kalau kesana kami suka bawa-bawa busana dan permen permen lezat untuk kawan-kawan kami di asrama, ini sebetulnya memang sebuah kegiatan amal dan kunjungan rutin untuk menjaga persahabatan kami dengan mereka.
Dalam ingatan gue, waktu itu gue bersebelahan dengan dengan seorang Burnay, Guruminda alias Ominda dan teman-teman gue yang lainnya, anyway, si Freya ada lho di momen itu, karena kami semua kan satu rumpun dan satu atap, satu biro maksudnya, yang menaungi dan mengasuh kami semua di masa kecil dulu.
Kisah kami dibentuk karena sebuah tradisi, sebuah tradisi bagi keluarga lama yang tinggal di kota ini, biasanya suka menitipkan anak anaknya untuk belajar dan diasuh disini.
Tapi ya begini deh, waktu itu gue masih musuhan banget sama si kecil Freya, jadi ya walaupun dia ada disitu, paling banter ya dia cuma ikut mingkem dan manggut manggut doang. Dasar Ireng, untungnya sekarang kami sudah bersahabat. Nggak kebayang gimana lucunya dan betapa kekanak kanakannya waktu kami musuhan sama dia, karena si Freya suka ngomong begini, "Hey kalian para Irjadinata, ayo lawan aku!" begitu ucap dia.
Dilanjut dengan Burnay yang langsung membalas omongan si Freya, "Dasar Batak gila, nggak dikasih jadi Ranger Pink begitu lah kumatnya."
Nah... sekitar seminggu setelah mendoakan bokap, akhirnya bokap pun dikabarkan bebas dari tragedi penyanderaan itu dan kembali pulang ke kota Bandung, pas bokap tiba di rumah, gue senang banget, yah tahulah senangnya anak kecil kayak gimana kalau ketemu sama Bapaknya, saking senangnya gue, gue sampai bertanya begini sama dia, "Pak, kok bapak bisa bebas?" kemudian bokap berpikir sebentar, lalu mulai menjawab.
"Bapak bilang... Bapak nggak takut mati, mati itu urusan Tuhan." begitu, kata bokap kepada gue. Gue kok bergetar ya sewaktu mendengarnya? ngeri-ngeri sedap gimana gitu. Nah, setelah berkata demikian kepada orang Dayak yang menyandera dia, bokap malah diajak untuk bertemu dengan ketua suku (ketua sukunya ini ada yang perempuan) dan akhirnya diberikan semacam topi penghormatan seperti itu buat dirinya.
Bokap juga dikasih bulu perindu, sebuah benda yang katanya punya kekuatan mistis. Nggak akan gue bahas lebih lanjut karena gue nggak tahu apa apa soal ini...
Mungkin... karena kekuatan ucapan dan kejujuran bokap di kala itu, dia akhirnya bisa selamat, lagipula... kadang kalau sudah ada Tuhan didalamnya, kita suka bergidik dan takut karena kuasanya. Gimana enggak, setelah gue beranjak dewasa, gue baru paham, bahwa posisi kursi panas yang jadi bahan bercandaan bokap di masa lalu itu ternyata adalah...
Land Acquisition.
Akusisi lahan. Yang identik dengan sengketa dan segala macam permasalahan nya.
Jadi ya pantaslah kalau teryata bokap gemar sekali dihampiri masalah dan harus menjadi mediator (penengah yang menengarai) atas perselisihan diantara dua buah pihak, yaitu pihak perusahaan yang ingin menambang dan pihak masyarakat yang ingin tanah leluhur mereka tidak diapa apakan samasekali, kalau bisa, tinggalkan saja kami, toh kami masih bisa makan tanpa hadirnya perusahan tambang sekelas triliunan rupiah di sini sekalipun.
Konflik kepentingan yang benar benar konflik banget, agan sista. Yang satu kepengin menambang dan dari hasil penjualan tambangnya, bisa dipakai untuk membeli Lamborghini Veneno untuk anaknya yang lagi kuliah di Singapur... ehhh yang satunya lagi kepengin sarkofagus nenek moyang serta para pendahulunya tetap keramat dan tidak diapa apakan sama sekali. Tapi... kenapa yang disekapnya kok malah bokap gue ya?
Gimana atuh... kok jadi pusing begini ya teman-teman...? he he.
Bahkan ketika bokap gue disekap didalam rumah terbengkalai itupun, dia sempat melobi karena memang perusahaan nya punya juga... untuk menawarkan dana CSR yang berjumlah puluhan miliar, namun suku pedalaman itu berkata seperti ini kepada bokap gue, "Hey, kami tidak mau uang anda, perusahaan anda yang cari bahaya dengan kami, kami mau lahan itu tidak disentuh sama sekali." sambil menyodorkan sebuah mandau (sebuah pisau asli buatan suku dayak) tepat didekat leher bokap gue.
Membuat bokap ngomong begini sama gue, "Kau perhatikan, Bang, kalau orang sudah tersulut kemarahannya, kadang dia tidak peduli lagi, mau itu uang, mau itu wanita, mau itu iblis, dia sudah nggak peduli, yang terpenting adalah jangan menodai kehormatan orang. Makanya, kita harus pay respect sama orang." begitu, ucap bokap kepada gue.
Di sisi lain, pemerintah daerah setempat justru sangat antusias ketika mereka disuap oleh perusahaan tambang yang akan mulai beroperasi di daerah rural atau pedesaan kayak begitu, benar benar seperti yang sudah mereka rencanakan matang-matang.
Anggaplah begini, ada anggaran suap untuk PEMDA sebesar 30 miliar Rupiah. Dengan estimasi keuntungan yang didapat dari hasil penambangan lahan nantinya akan sebesar 300 milliar, kalau otak kapitalisnya lancar, ya tentu saja tidak akan ada hambatan samasekali untuk tetap melanjutkan kegiatan dagang seperti ini.
* * *
Anyhow, semua peristiwa dan tragedi itu sudah berlalu dalam hidup kami. Biarlah menjadi pelajaran untuk gue, untuk bokap gue, dan untuk teman-teman yang mungkin tertarik juga untuk sedikit mempelajarinya.
Bahwa, we live in a world full of danger. Senggol dikit, bacok! Lantas, bagaimana bentuk bentuk dari kekerasan itu...?
Pertama, kekerasan terhadap anak... (ini agak sedikit ironis sifatnya, mengingat bahwa bokap gue pun memang kasar terhadap gue, namun ya gue maklumi karena kasarnya adalah kasar yang bisa mendidik mental gue...)
Kedua, kekerasan terhadap kaum perempuan, ini yang gue amat sangat perhatikan... gue ingat, dulu ada anggota keluarga gue (dia adalah paman gue, tapi gue manggil dia o'om aja) yang kasar sama istrinya, sejam kemudian, itu satu keluarga besar langsung mengadakan rapat keluarga di Sunda Kepatihan.
Di komandoi langsung oleh Ibu jendral dari pusat, isi rapatnya kira-kira begini, "Kei... kalau kamu masih berani berani lagi menampar istrimu, besok Oma coret kamu dari daftar keluarga ini, Oma nggak main-main ya." merinding sewaktu mendengarnya, gue, Burnay, dan yang masih sebaya dengan kami, yang lainnya, maksud gue, masih mikir-mikir lagi kalau kami mau kasar sama yang namanya perempuan.
We live in a world full of danger. Senggol dikit, bacok! Jadi, ada baiknya memang kalau kita tetap berhati hati dan mengendalikan diri... sekarang, kejadian menyeramkan itu sudah hampir jarang terjadi, karena bokap sudah nggak lagi-lagi, bekerja di perusahaan untuk posisi itu lagi... hati gue rasanya jadi jauh lebih dalam urusan ketika itu bersangkutan dengan bokap gue...
Eh, gue hampir lupaaa, selamat berbuka puasa juragan-juragan semuanya, selamat menyantap hidangan yang sejak tadi siang sudah di idam idamkan...
Diubah oleh tabernacle69 28-05-2019 15:44
njek.leh dan yusufchauza memberi reputasi
2
Kutip
Balas