- Beranda
- Stories from the Heart
CloudLove (TeenFiction)
...
TS
ayahnyabinbun
CloudLove (TeenFiction)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua beranak dua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis tentang cinta.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus aja ya.
Ini cerita kedua ayahBinBun, sempat dilirik penerbit indie … namun, yah gitulah, hanya berujung PHP, daripada galau enggak jelas mending ayahBinBun gelar disini, enggak usah lama-lama mending langsung aja dibaca.
Spoiler for Index:
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
[URL=]
CHAPTER 6
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 7
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 8
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 9
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 10
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 11
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 12
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 13
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 14
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 15
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 16
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 17
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 18
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 19
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 20
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 21
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 22
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 23
[/URL]
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
Spoiler for prolog:
Hari senin di SMA Sinar jaya para murid mulai bersiap melakukan upacara pagi, di luar gerbang riuh anak murid yang terlambat datang.
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
Diubah oleh ayahnyabinbun 13-05-2019 21:02
iamzero dan 8 lainnya memberi reputasi
9
15.3K
Kutip
131
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#51
Chapter 27
Spoiler for menjauh:
"Andai ku bisa memutar waktu, akan ku jadikan waktu bersamamu yang paling berharga di hidupku."
Renvil perlahan membuka matanya, bau obat-obatan tercium di hidung mancung miliknya, kepalanya berkunang-kunang dan terasa teramat sakit, ia menggenggam kepalanya perlahan.
"Perban!? Kepala aku kok diperban? Argh sakit." rintih Renvil kala itu dengan banyak pertanyaan menggantung di atas kepalanya.
Matanya berpendar mencari tahu dimana gerangan ia berada hingga sorot mata miliknya tertuju pada seorang gadis yang tengah tidur di depannya, kepalanya bersender di pangkuan Renvil, dengkuran halus terdengar di tiap helaan nafasnya.
"Cantik," gumam Renvil tatkala melihat paras sang gadis.
"Engggh! Hoam! Aduh aku ketiduran," seru Bening dengan suara serak khas seseorang setelah bangun tidur.
Bening mengerjapkan matanya, ia melihat Renvil yang tengah memperhatikan dirinya, tatapan mata mereka beradu saling bertukar pandang.
"Renvil! Kamu sudah sadar! Alhamdulillah!!" pekik Bening sembari memeluk Renvil yang kaget dan masih terlihat kebingungan.
"Aduh maaf-maaf, terlalu kencang ya aku meluknya, sebentar ya aku telepon tante Ratna dulu, dia pasti senang tau kamu sud..."
"Kamu siapa? Dimana ibu saya? Saya kenapa bisa ada disini? Saya sakit apa?" tanya Renvil bertubi-tubi pada gadis didepannya.
Bening terdiam menatap Renvil, tatapannya kosong dengan perasaan bercampur aduk menghadapi situasi ini.
"Jangan bercanda ah kamu Ren, ini aku Bening," jelas Bening.
"Bening, Bening siapa ya? Ibu dimana? Saya mau ketemu ibu," seru Renvil.
"Ibu … ibu sedang di jalan menuju kesini, kamu beneran enggak ingat aku siapa?" tanya Bening kembali.
Renvil menggelengkan kepalanya perlahan mencoba mengingat kembali siapa gerangan perempuan manis di depannya.
"Bening lalundra, ini aku Lun-lun Ren, teman masa kecil kamu!" jelas Bening.
"Hah! Kok kamu bisa ada disini? Bagaimana kamu bisa ada disini? Argh sakit," tanya Renvil yang terhenti ketika kepalanya mulai sakit kembali.
"Kamu senderan aja Ren, jangan terlalu banyak bergerak, kamu istirahat dulu," seru Bening sambil langsung mendekap Renvil.
"Aku kenapa Lun?" tanya Renvil.
"Kamu kecelakaan, seseorang nendang motor kamu sepulang dari rumah kak Agni, kepala kamu terbentur trotoar sampai harus di operasi," jelas Bening.
"Kamu pasti bohong! Ibu enggak mungkin ngebolehin aku naik motor."
"Kenapa memangnya?" tanya Bening bingung.
"A-aku masih SMP Lun," jelas Renvil dengan rona wajah kebingungan.
"K-kamu SMP?! Kamu sudah SMA Ren sekarang!!" jelas Bening.
"Hah?! SMA? Enggak mungkin, aku masih kelas 3 SMP Lun, terus Agni? Siapa dia? Kenapa aku dari rumah dia?" tanya Renvil kembali.
"Engh, dia bukan siapa-siapa kamu kok," jelas Bening berbohong.
"Terus kamu siapanya aku Lun? Kita teman sekelas? Atau..." tanya Renvil tertahan.
"Kamu benar tidak ingat semuanya?" tanya Bening kembali memastikan.
Renvil hanya menggeleng-geleng kepalanya secara perlahan kemudian kembali menatap Bening.
"K-kita … kita pacaran Ren, kamu tuh pacar aku sekarang," seru Bening berbohong.
"Enggak mungkin, masa kita pacaran sih Lun, kamu kan cantik masa mau sama aku yang jelek gini."
"Kamu ganteng kok Ren, jangan underestimate diri sendiri gitu, kamu enggak percaya kita pacaran?" tanya Bening.
"B-bukan gitu maksud aku, ya aku seneng kalau aku jadi pacar kamu, aku kan lu..hmmpph."
-cup-
Tanpa aba-aba Bening menempelkan bibir mungilnya dibibir tipis milik Renvil, Renvil terdiam dicium Bening secara spontan seperti itu, Bening menutup matanya mencoba meresapi bibir lembut Renvil, perlahan Bening dan Renvil larut didalam tiap pagutan bibir mereka.
"Muah … S-sekarang kamu percaya kan?"
"I-iya … mungkin … aku enggak tau untuk sekarang Lun," jawab Renvil sembari menganggukkan kepalanya dengan rona merah di pipinya.
"Eeeemmmmhhh, Bening sayang Renvil," seru Bening sembari memeluk Renvil erat tanpa mengetahui sepasang mata memperhatikan mereka berdua sedsri tadi.
Diluar kamar Agni berlari meninggalkan daun pintu kamar rawat Renvil, ia meninggalkan koper dan tas miliknya di depan pintu setelah ia melihat dan mendengar apa yang Bening katakan dan nyatakan kepada Renvil, ia terus berlari sampai terhenti di sebuah ujung lorong kosong rumah sakit.
"Hiks, Ren..."
-Bugh-
Agni memukul keras tembok di lorong itu hingga bergema, ia bersender sembari menutup wajah cantik miliknya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku … aku harus merelakan kamu Ren … dia … lebih bisa menjaga kamu dibandingkan aku yang hanya selalu menyusahkan kamu, Agni kamu harus kuat! Kamu bukan perempuan yang lemah!" runtuk Agni dalam hati.
Tak selang beberapa lama Agni melangkah gontai kearah kamar Renvil, tangis suka cita terdengar dari dalam kamar.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, hiks, duh ibu khawatir banget! Maafin ibu ya enggak bisa jaga kamu nak," seru ibu sembari terisak menangis tersedu-sedu.
"Udah ibu, Renvil udah enggak kenapa-napa kok, ibu jangan nangis lagi ya," pinta Renvil.
"Hiks, kamu alasan ibu masih semangat buat hidup Ren, kalau kamu enggak ada ibu enggak mau hidup lagi!" rengek ibu.
"Hush … ibu ngomongnya, Renvil sudah enggak kenapa-napa sekarang, ibu senyum ya sekarang, Renvil sedih kalau ibu nangis terus," pinta Renvil dengan senyum mereka dibibirnya.
"Hiks … iya sayang, muah muah muah," seru ibu sembari memberendel ciuman ke wajah anak semata wayangnya tersebut.
Bening keluar dari balik pintu dan berpapasan dengan Agni di lorong.
"Eh kak, Renvil sudah sad..."
"Tolong penuhi janji kamu," seru Agni memotong kata-kata Bening.
Bening terdiam seraya berkata, "maksud kakak?" tanya Bening.
"Aku tadi dengar dan lihat semuanya," jelas Agni.
"Kakak lihat!" tanya Bening.
Agni mengangguk kemudian berseru, "jadilah pacar yang sempurna buat Renvil, aku akan perlahan menjauh dari dia, aku hanya enggak mau dia terluka kalau dia terus dekat aku," jelas Agni kemudian melangkah memasuki ruangan rawat Renvil.
Agni berdiri terdiam di depan daun pintu sembari tersenyum melihat keromantisan ibu dan anaknya tersebut.
"Kamu beruntung memiliki seorang ibu seperti tante Ratna Ren," gumam Agni di dalam hati.
"Agni sini, Renvil sudah sadar sayang," panggil ibu.
Agni berjalan perlahan menuju kearah ibu dan Renvil, mata mereka saling bertemu pandang, rona merah menghiasi kedua pipi mereka.
"Cantik banget," gumam Renvil di dalam hati.
"Hai Ren," seru Agni.
"Engh … hai … kamu pasti Agni ya?" tanya Renvil.
"Iya … aku Agni," jawab Agni.
"Kamu lagi bercanda kan nak? Masa kamu enggak ingat Agni," timpal ibu.
"Enggak ibu, kata Bening Renvil sudah SMA, Renvil hanya ingat kalau sekarang Renvil masih SMP ibu."
Bening memasuki ruangan rawat Renvil di ikuti seorang lelaki berjas putih.
"Tante ini dokter Teguh," seru Bening.
"Selamat sore semua, bagaimana mas Renvil ada keluhan?" tanya sang dokter.
"Dok anak saya dok, dia tidak bisa mengingat dengan jelas."
"Hmm, kalau begitu kita CT scan dulu ya kepalanya," jelas sang dokter.
"Renvil enggak kenapa-napa kan dok?" tanya ibu khawatir.
"Kita lihat dulu ya bu," jelas sang dokter.
Tak lama para perawat memasuki ruangan, mereka membantu Renvil menaiki kursi roda untuk menuju ruang pemeriksaan.
Selang setengah jam dokter Teguh berada di ruangan miliknya dengan ibu dan Agni yang menemaninya, sedangkan Bening tengah menemani Renvil di ruang rawat.
"Partial memory loss, bisa di bilang amnesia ringan bu Ratna, itu yang sedang di alami Renvil sekarang," jelas dokter Teguh.
"Apakah itu parah dok? Bagaimana kita menyembuhkannya?" tanya ibu.
"Secara perlahan kita akan lakukan terapi otak untuk Renvil guna mengembalikan ingatannya dan kedepannya kita akan pantau perkembangan dari mas Renvil, untuk sekarang kita hanya bisa menunggu."
Kata-kata dokter Teguh selalu terngiang difikiran Agni, ia menunduk kemudian menekuk wajahnya di atas kursi sementara ibu tengah tertidur di sofabed sedangkan Agni duduk di sebelah Renvil yang sedang tertidur.
"Dia tidak ingat aku siapa … semua yang terjadi selama ini … dia tidak ingat, rasa sayang yang selama ini dia kasih ke aku … dia enggak ingat," gumam Agni dalam hati sembari melihat Renvil yang terlihat tertidur pulas.
Agni perlahan berdiri, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Renvil.
"Ganteng … jika aku lihat kamu sedekat ini kamu semakin ganteng Ren, apalagi pas kemarin kamu peluk aku, kamu ganteeeeeng banget … kamu lelaki kedua yang meluk aku setelah ayah Ren, akan tetapi yang bikin hati aku berderu sekencang ini hanya kamu." gumam Agni dalam hati.
-cup-
Agni mencium lembut kening Renvil seraya berbisik pelan, "sekarang adalah waktu yang tepat bagiku untuk menjauh darimu, selamat tinggal Ren, terima kasih sudah sudi menjadi sahabat aku selama ini."
Agni berdiri kemudian berjalan perlahan menjauhi Renvil, Agni menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum ia hendak tidur.
-ceklek-
Pintu kamar mandi tertutup, di tempat tidur Renvil perlahan membuka kedua kelopak matanya, karena selama ini dia sedang pura-pura tertidur.
"Selamat tinggal? Siapa sebenarnya kamu Agni, siapa gerangan kamu di hati ini, mengapa jantung ini lebih cepat berdetak disaat ada kamu."
Bersambung..
Renvil perlahan membuka matanya, bau obat-obatan tercium di hidung mancung miliknya, kepalanya berkunang-kunang dan terasa teramat sakit, ia menggenggam kepalanya perlahan.
"Perban!? Kepala aku kok diperban? Argh sakit." rintih Renvil kala itu dengan banyak pertanyaan menggantung di atas kepalanya.
Matanya berpendar mencari tahu dimana gerangan ia berada hingga sorot mata miliknya tertuju pada seorang gadis yang tengah tidur di depannya, kepalanya bersender di pangkuan Renvil, dengkuran halus terdengar di tiap helaan nafasnya.
"Cantik," gumam Renvil tatkala melihat paras sang gadis.
"Engggh! Hoam! Aduh aku ketiduran," seru Bening dengan suara serak khas seseorang setelah bangun tidur.
Bening mengerjapkan matanya, ia melihat Renvil yang tengah memperhatikan dirinya, tatapan mata mereka beradu saling bertukar pandang.
"Renvil! Kamu sudah sadar! Alhamdulillah!!" pekik Bening sembari memeluk Renvil yang kaget dan masih terlihat kebingungan.
"Aduh maaf-maaf, terlalu kencang ya aku meluknya, sebentar ya aku telepon tante Ratna dulu, dia pasti senang tau kamu sud..."
"Kamu siapa? Dimana ibu saya? Saya kenapa bisa ada disini? Saya sakit apa?" tanya Renvil bertubi-tubi pada gadis didepannya.
Bening terdiam menatap Renvil, tatapannya kosong dengan perasaan bercampur aduk menghadapi situasi ini.
"Jangan bercanda ah kamu Ren, ini aku Bening," jelas Bening.
"Bening, Bening siapa ya? Ibu dimana? Saya mau ketemu ibu," seru Renvil.
"Ibu … ibu sedang di jalan menuju kesini, kamu beneran enggak ingat aku siapa?" tanya Bening kembali.
Renvil menggelengkan kepalanya perlahan mencoba mengingat kembali siapa gerangan perempuan manis di depannya.
"Bening lalundra, ini aku Lun-lun Ren, teman masa kecil kamu!" jelas Bening.
"Hah! Kok kamu bisa ada disini? Bagaimana kamu bisa ada disini? Argh sakit," tanya Renvil yang terhenti ketika kepalanya mulai sakit kembali.
"Kamu senderan aja Ren, jangan terlalu banyak bergerak, kamu istirahat dulu," seru Bening sambil langsung mendekap Renvil.
"Aku kenapa Lun?" tanya Renvil.
"Kamu kecelakaan, seseorang nendang motor kamu sepulang dari rumah kak Agni, kepala kamu terbentur trotoar sampai harus di operasi," jelas Bening.
"Kamu pasti bohong! Ibu enggak mungkin ngebolehin aku naik motor."
"Kenapa memangnya?" tanya Bening bingung.
"A-aku masih SMP Lun," jelas Renvil dengan rona wajah kebingungan.
"K-kamu SMP?! Kamu sudah SMA Ren sekarang!!" jelas Bening.
"Hah?! SMA? Enggak mungkin, aku masih kelas 3 SMP Lun, terus Agni? Siapa dia? Kenapa aku dari rumah dia?" tanya Renvil kembali.
"Engh, dia bukan siapa-siapa kamu kok," jelas Bening berbohong.
"Terus kamu siapanya aku Lun? Kita teman sekelas? Atau..." tanya Renvil tertahan.
"Kamu benar tidak ingat semuanya?" tanya Bening kembali memastikan.
Renvil hanya menggeleng-geleng kepalanya secara perlahan kemudian kembali menatap Bening.
"K-kita … kita pacaran Ren, kamu tuh pacar aku sekarang," seru Bening berbohong.
"Enggak mungkin, masa kita pacaran sih Lun, kamu kan cantik masa mau sama aku yang jelek gini."
"Kamu ganteng kok Ren, jangan underestimate diri sendiri gitu, kamu enggak percaya kita pacaran?" tanya Bening.
"B-bukan gitu maksud aku, ya aku seneng kalau aku jadi pacar kamu, aku kan lu..hmmpph."
-cup-
Tanpa aba-aba Bening menempelkan bibir mungilnya dibibir tipis milik Renvil, Renvil terdiam dicium Bening secara spontan seperti itu, Bening menutup matanya mencoba meresapi bibir lembut Renvil, perlahan Bening dan Renvil larut didalam tiap pagutan bibir mereka.
"Muah … S-sekarang kamu percaya kan?"
"I-iya … mungkin … aku enggak tau untuk sekarang Lun," jawab Renvil sembari menganggukkan kepalanya dengan rona merah di pipinya.
"Eeeemmmmhhh, Bening sayang Renvil," seru Bening sembari memeluk Renvil erat tanpa mengetahui sepasang mata memperhatikan mereka berdua sedsri tadi.
Diluar kamar Agni berlari meninggalkan daun pintu kamar rawat Renvil, ia meninggalkan koper dan tas miliknya di depan pintu setelah ia melihat dan mendengar apa yang Bening katakan dan nyatakan kepada Renvil, ia terus berlari sampai terhenti di sebuah ujung lorong kosong rumah sakit.
"Hiks, Ren..."
-Bugh-
Agni memukul keras tembok di lorong itu hingga bergema, ia bersender sembari menutup wajah cantik miliknya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku … aku harus merelakan kamu Ren … dia … lebih bisa menjaga kamu dibandingkan aku yang hanya selalu menyusahkan kamu, Agni kamu harus kuat! Kamu bukan perempuan yang lemah!" runtuk Agni dalam hati.
Tak selang beberapa lama Agni melangkah gontai kearah kamar Renvil, tangis suka cita terdengar dari dalam kamar.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, hiks, duh ibu khawatir banget! Maafin ibu ya enggak bisa jaga kamu nak," seru ibu sembari terisak menangis tersedu-sedu.
"Udah ibu, Renvil udah enggak kenapa-napa kok, ibu jangan nangis lagi ya," pinta Renvil.
"Hiks, kamu alasan ibu masih semangat buat hidup Ren, kalau kamu enggak ada ibu enggak mau hidup lagi!" rengek ibu.
"Hush … ibu ngomongnya, Renvil sudah enggak kenapa-napa sekarang, ibu senyum ya sekarang, Renvil sedih kalau ibu nangis terus," pinta Renvil dengan senyum mereka dibibirnya.
"Hiks … iya sayang, muah muah muah," seru ibu sembari memberendel ciuman ke wajah anak semata wayangnya tersebut.
Bening keluar dari balik pintu dan berpapasan dengan Agni di lorong.
"Eh kak, Renvil sudah sad..."
"Tolong penuhi janji kamu," seru Agni memotong kata-kata Bening.
Bening terdiam seraya berkata, "maksud kakak?" tanya Bening.
"Aku tadi dengar dan lihat semuanya," jelas Agni.
"Kakak lihat!" tanya Bening.
Agni mengangguk kemudian berseru, "jadilah pacar yang sempurna buat Renvil, aku akan perlahan menjauh dari dia, aku hanya enggak mau dia terluka kalau dia terus dekat aku," jelas Agni kemudian melangkah memasuki ruangan rawat Renvil.
Agni berdiri terdiam di depan daun pintu sembari tersenyum melihat keromantisan ibu dan anaknya tersebut.
"Kamu beruntung memiliki seorang ibu seperti tante Ratna Ren," gumam Agni di dalam hati.
"Agni sini, Renvil sudah sadar sayang," panggil ibu.
Agni berjalan perlahan menuju kearah ibu dan Renvil, mata mereka saling bertemu pandang, rona merah menghiasi kedua pipi mereka.
"Cantik banget," gumam Renvil di dalam hati.
"Hai Ren," seru Agni.
"Engh … hai … kamu pasti Agni ya?" tanya Renvil.
"Iya … aku Agni," jawab Agni.
"Kamu lagi bercanda kan nak? Masa kamu enggak ingat Agni," timpal ibu.
"Enggak ibu, kata Bening Renvil sudah SMA, Renvil hanya ingat kalau sekarang Renvil masih SMP ibu."
Bening memasuki ruangan rawat Renvil di ikuti seorang lelaki berjas putih.
"Tante ini dokter Teguh," seru Bening.
"Selamat sore semua, bagaimana mas Renvil ada keluhan?" tanya sang dokter.
"Dok anak saya dok, dia tidak bisa mengingat dengan jelas."
"Hmm, kalau begitu kita CT scan dulu ya kepalanya," jelas sang dokter.
"Renvil enggak kenapa-napa kan dok?" tanya ibu khawatir.
"Kita lihat dulu ya bu," jelas sang dokter.
Tak lama para perawat memasuki ruangan, mereka membantu Renvil menaiki kursi roda untuk menuju ruang pemeriksaan.
Selang setengah jam dokter Teguh berada di ruangan miliknya dengan ibu dan Agni yang menemaninya, sedangkan Bening tengah menemani Renvil di ruang rawat.
"Partial memory loss, bisa di bilang amnesia ringan bu Ratna, itu yang sedang di alami Renvil sekarang," jelas dokter Teguh.
"Apakah itu parah dok? Bagaimana kita menyembuhkannya?" tanya ibu.
"Secara perlahan kita akan lakukan terapi otak untuk Renvil guna mengembalikan ingatannya dan kedepannya kita akan pantau perkembangan dari mas Renvil, untuk sekarang kita hanya bisa menunggu."
Kata-kata dokter Teguh selalu terngiang difikiran Agni, ia menunduk kemudian menekuk wajahnya di atas kursi sementara ibu tengah tertidur di sofabed sedangkan Agni duduk di sebelah Renvil yang sedang tertidur.
"Dia tidak ingat aku siapa … semua yang terjadi selama ini … dia tidak ingat, rasa sayang yang selama ini dia kasih ke aku … dia enggak ingat," gumam Agni dalam hati sembari melihat Renvil yang terlihat tertidur pulas.
Agni perlahan berdiri, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Renvil.
"Ganteng … jika aku lihat kamu sedekat ini kamu semakin ganteng Ren, apalagi pas kemarin kamu peluk aku, kamu ganteeeeeng banget … kamu lelaki kedua yang meluk aku setelah ayah Ren, akan tetapi yang bikin hati aku berderu sekencang ini hanya kamu." gumam Agni dalam hati.
-cup-
Agni mencium lembut kening Renvil seraya berbisik pelan, "sekarang adalah waktu yang tepat bagiku untuk menjauh darimu, selamat tinggal Ren, terima kasih sudah sudi menjadi sahabat aku selama ini."
Agni berdiri kemudian berjalan perlahan menjauhi Renvil, Agni menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum ia hendak tidur.
-ceklek-
Pintu kamar mandi tertutup, di tempat tidur Renvil perlahan membuka kedua kelopak matanya, karena selama ini dia sedang pura-pura tertidur.
"Selamat tinggal? Siapa sebenarnya kamu Agni, siapa gerangan kamu di hati ini, mengapa jantung ini lebih cepat berdetak disaat ada kamu."
Bersambung..
Diubah oleh ayahnyabinbun 13-05-2019 16:39
Alea2212 memberi reputasi
1
Kutip
Balas