- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bercadar Itu
...
TS
cwhiskeytango
Gadis Bercadar Itu

SEKUAT mana kita setia...
SEHEBAT mana kita merancang...
SELAMA mana kita menunggu...
SEKERAS mana kita bersabar...
SEJUJUR mana kita menerima kekasih kita...
SELAMA mana kita bertahan bersamanya...
Jika ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA tidak menulis jodoh kita bersama orang yang kita sukai, Kita tetap tidak akan Bersama dengannya walau engkau bersusah payah mendapatkannya. Maka cintailah orang sewajarnya .... kerana orang yang kita cintai belum pasti jodoh kita nanti, kadang yang engkau nilai baik untuk mu belum tentu baik untuk ALLAH.
Saat hati berkata "INGIN", namun ALLAH berkata "TUNGGU".
Saat AIR MATA harus menitis, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH"
Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH".
~Kita merancang Allah juga merancang tetapi perancangan Allah lebih baik.~
Jodoh itu kan Rahasia Allah. Sweet kan? Allah itu maha LUAR BIASA. Dia mau memberi kejutan untuk kita. Dan kita pula akan senantiasa menanti, siapakah jodoh kita. Tapi, sebelum tiba masanya, selagi itulah Dia akan rahasiakan daripada kita. Allah buat seperti itu bukan sia-sia, tidak ada sia-sia dalam perancanganNya. Dia ingin kita persiapkan diri secukupnya sebelum jodoh itu sampai. Selagi ada masa yang disediakan Allah untuk kita ini, mari kita tambahkan ilmu di dada secukupnya untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa.
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang, Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan seorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Ketika kau merasa bahawa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu
SEHEBAT mana kita merancang...
SELAMA mana kita menunggu...
SEKERAS mana kita bersabar...
SEJUJUR mana kita menerima kekasih kita...
SELAMA mana kita bertahan bersamanya...
Jika ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA tidak menulis jodoh kita bersama orang yang kita sukai, Kita tetap tidak akan Bersama dengannya walau engkau bersusah payah mendapatkannya. Maka cintailah orang sewajarnya .... kerana orang yang kita cintai belum pasti jodoh kita nanti, kadang yang engkau nilai baik untuk mu belum tentu baik untuk ALLAH.
Saat hati berkata "INGIN", namun ALLAH berkata "TUNGGU".
Saat AIR MATA harus menitis, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH"
Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH".
~Kita merancang Allah juga merancang tetapi perancangan Allah lebih baik.~
Jodoh itu kan Rahasia Allah. Sweet kan? Allah itu maha LUAR BIASA. Dia mau memberi kejutan untuk kita. Dan kita pula akan senantiasa menanti, siapakah jodoh kita. Tapi, sebelum tiba masanya, selagi itulah Dia akan rahasiakan daripada kita. Allah buat seperti itu bukan sia-sia, tidak ada sia-sia dalam perancanganNya. Dia ingin kita persiapkan diri secukupnya sebelum jodoh itu sampai. Selagi ada masa yang disediakan Allah untuk kita ini, mari kita tambahkan ilmu di dada secukupnya untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa.
Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang, Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan seorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Ketika kau merasa bahawa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu
I N D E X
Spoiler for EPISODE 1:
Diubah oleh cwhiskeytango 09-10-2019 18:57
husnamutia dan 22 lainnya memberi reputasi
19
26.8K
155
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cwhiskeytango
#49
Part 9 - Mencari Setangkai Bunga
Kami melanjutkan perjalanan ke kampus. Kuliahpun kujalani seperti biasa. Dengan penuh semangat. Pada jam istirahat aku ke masjid untuk shalat dzuhur bersama temanku Zahra. Zahra adalah sahabat terdekatku dikampus. Saat bertemu Danar aku sedang bersama Fany. Dan Fany adalah temanku di organisasi. Aku melihat dia. Seorang lelaki yang selalu kulihat selepas shalat dzuhur.
Kami berjalan ke kelas. Apa tadi aku melihat Danar? Atau lebih tepatnya, apakah aku berhalusinasi tentang Danar? Kenapa sekarang pikiranku tertuju pada Danar? Aku berusaha berfikir positif dan kembali menenangkan pikiranku. Sepulang kuliah aku menuju kelas Andin untuk pulang bersama. Setibanya aku di kelas Andin, kulihat ia sedang berdiri didepan pintu
Aku dan Andin berangkat menuju rumah Danar. Selama perjalanan kulihat Andin terlihat seperti terfikirkan sesuatu. Entah itu Danar, ataupun yang lainnya. Setibanya kami dirumah Danar, kami kembali mencoba mengetuk pintu rumahnya. Tapi hasil yang kami dapatkan tetap sama. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri kami.
Terlihat beliau seperti berfikir tak tahu harus bagaimana. Tapi jika kulihat, beliau sepertinya orang baik
Sejujurnya aku tak mempermasalahkan hal tadi. Aku hanya ingin membantu meringankan beban Danar. Tapi sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah, keberadaan Danar. Sedari tadi tak ada jawaban dari dalam. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk keliling daerah sini mencari Danar. Kami bertanya dan bertanya tetapi banya yang tidak tahu. Mereka mengatalan semenjak ibunya meninggal, rumah Danar terlihat sepi.
Andin mengiyakan ajakanku. Nanti malam, aku akan menghadiri kajian yang diselenggarakan oleh madrasah yang merupakan tempat mengajarku. Pesertanya kebanyakan mahasiswi dan ada juga yang usianya mungkin diatasku. Setidaknya itulah info yang aku dapatkan dari kak Hana. Setelah shalat isya aku bersiap-siap ditemani kak Hana dengan panitia lainnya. Aku benar-benar bingung apakah aku akan bisa menyampaikan amanah yang diberikan padaku untuk mereka. Memang bukanlah kajian yang besar seperti pada umumnya, namun tanggung jawab tetaplah besar.
Aku teringat ucapan abiku sebelum aku mulai masuk kuliah dan kami terpisah jarak. Abi berkata 'jika berdakwah, sampaikan dari hati, bukan dari ucapan'. Tapi apakah aku bisa menjalani ini? Aku harus bisa.
Menikah dan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah (QS. Ar-Rum: 21) adalah dambaan semua orang. Siapapun yang menikah dan membentuk bahtera rumah tangga, berharap akan bisa memiliki keluarga yang harmonis. Kata harmonis memiliki makna keselarasan dan keserasian antara suami, istri dan seluruh anggota keluarga. Selaras dan serasi, menunjukkan suatu kesamaan tujuan dan cita-cita atau visi, walaupun kondisinya tidak selalu sama. Mungkin saja ada hal yang berbeda, namun perbedaan terbingkai dalam keselarasan dan keserasian.
Allah menciptakan manusia dalam wujud yang indah (QS. At-Tin: 4), dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya (QS. An-Nisa: 1). Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada pasangan jenisnya. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan terhadap laki-laki (QS. Ali Imran: 14).
Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Tuhan memberikan tuntunan pernikahan (QS. An-Nisa’: 3). Pernikahanlah yang menyebabkan keserasian laki-laki dan perempuan tersusun dalam kerangka yang bijak dan manusiawi. Tanpa melalui pernikahan, hubungan dan ketertarikan antara lelaki dan perempuan tidak akan mendapatkan penyaluran secara bermartabat. Ekspresi dari kecenderungan hubungan lelaki dan perempuan akan menjadi liar dan destruktif.
Mencari pasangan hidup hendaklah berdasarkan pertimbangan keagamaan. Bukan semata kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedudukan, dan lain sebagainya. Pondasi agama harus sangat kuat melandasi pemilihan calon suami maupun calon istri, agar tidak terjebak dalam kubangan pilihan syahwat dan nafsu sesaat.
Di atas landasan kriteria agama ini, bisa dibangun kriteria lainnya yang bercorak fisik. Tentu saja boleh memilih suami tampan dan kaya, tentu saja boleh memilih istri yang cantik dan seksi, namun itu bukan pertimbangan utama. Kriteria fisik dan materi hanyalah tambahan nilai, dari nilai dasar yang sudah ditetapkan, yaitu kebaikan agama. Maka laki-laki dan perempuan harus memperbaiki kualitas keagamaan masing-masing, agar mereka layak mendapatkan jodoh yang baik pula kualitas agamanya.
Mengenal calon pasangan bisa dilakukan melalui sebuah proses ta’aruf (saling mengenal) antara laki-laki dan perempuan yang berproses menuju jenjang pernikahan. Ta’aruf dimaksudkan dalam rangka saling mengenali dan menjajagi kecocokan untuk meneruskan proses berikutnya. Hendaknya ta’aruf dilakukan dengan cara yang baik dan benar, menghindarkan diri dari jebakan syahwat, menghindarkan diri dari berbagai aktivitas yang terlarang menurut ketentuan agama.
Dalam proses ta’aruf, laki-laki dan perempuan bisa mendiskusikan visi kehidupan berumah tangga, agar keduanya bisa mendapatkan kesesuaian. Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan bukanlah halangan, karena hal itu tidak bisa dihindarkan, sebab mereka memiliki kejiwaan dan struktur otak yang tidak sama. Perbedaan latar belakang keluarga juga bukan halangan. Demikian pula perbedaan kultur dan suku atau etnis, bukanlah penghalang kebahagiaan berumah tangga.
Yang paling utama adalah kesediaan untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling memberikan yang terbaik, saling menerima apa adanya, saling berkomunikasi dengan nyaman, saling mendialogkan permasalahan, saling mengalah, saling mencintai dan menyayangi dalam segala kondisi dan situasi.
Selesai aku mengisi materi, aku kembali keruangan briefing. Aku menghela nafas seraya aku duduk dikursi. Tiba-tiba ada seorang akhwat yang juga bercadar menghampiriku. Tetapi aku tak mengenalnya.
Sepulangnya aju mengisi kajian, aku teringat kembali tentang apa yang aku sampaikan tadi. Bagaimana jika aku menikah? Ah tetapi aku merasa belum bisa membahagiakan abi sama ummi. Mungkin untuk sekarang aku hanya akan fokus pada kuliahku. Namun tetap akan butuh persiapan untuk menuju kearah sana. Aku tiba dirumah. Kulihat Andin sedang duduk disofa sambil membaca buku.
Aku duduk disamping Andin seraya aku membuka cadarku. Andin melihat kearahku ketika aku membuka tali cadarku.
Kebetulan Andin belum melepas hijabnya, aku memakaikannya niqab yang dipakai tanpa perlu melepas khimarnya. Setelah memakaikannya cadar, ia melihat cermin kecil yang selalu ia bawa. Aku tersenyum pada Andin. Andin melihat kearahku dan langsung memelukku.
"Beli kue yuk" ajakku
"Kue? Dimana?" tanya Zahra
"Disana" ucapku sambil menunjuk
Tapi.... Dia tidak disana. Tidak ada lelaki penjual kue disana. Tidak ada Danar disana. Dan tidak ada siapa-siapa
"Dimana Ca?" tanya Zahra
"Emm engga kok. Nanti aja di fakultas" ucapku
"Iya deh" katanya singkat
"Kue? Dimana?" tanya Zahra
"Disana" ucapku sambil menunjuk
Tapi.... Dia tidak disana. Tidak ada lelaki penjual kue disana. Tidak ada Danar disana. Dan tidak ada siapa-siapa
"Dimana Ca?" tanya Zahra
"Emm engga kok. Nanti aja di fakultas" ucapku
"Iya deh" katanya singkat
Kami berjalan ke kelas. Apa tadi aku melihat Danar? Atau lebih tepatnya, apakah aku berhalusinasi tentang Danar? Kenapa sekarang pikiranku tertuju pada Danar? Aku berusaha berfikir positif dan kembali menenangkan pikiranku. Sepulang kuliah aku menuju kelas Andin untuk pulang bersama. Setibanya aku di kelas Andin, kulihat ia sedang berdiri didepan pintu
"Assalamualaikum" ucapku
"Waalaikumussalam" jawab Andin dan temannya
"Ada apa?" kulihat wajah Andin bingung
"Danar ga masuk" katanya
"Oh ya? Mungkin dia lagi sakit, atau saat kita samper rumahnya tadi pagi dia ga dengar" ucapku
"Entahlah, dia anaknya cukup tertutup" ucap teman Andin
"Yaudah kita kerumahnya ya" ajak Andin padaku
"Iya iya" jawabku menyiakan ajakannya
"Waalaikumussalam" jawab Andin dan temannya
"Ada apa?" kulihat wajah Andin bingung
"Danar ga masuk" katanya
"Oh ya? Mungkin dia lagi sakit, atau saat kita samper rumahnya tadi pagi dia ga dengar" ucapku
"Entahlah, dia anaknya cukup tertutup" ucap teman Andin
"Yaudah kita kerumahnya ya" ajak Andin padaku
"Iya iya" jawabku menyiakan ajakannya
Aku dan Andin berangkat menuju rumah Danar. Selama perjalanan kulihat Andin terlihat seperti terfikirkan sesuatu. Entah itu Danar, ataupun yang lainnya. Setibanya kami dirumah Danar, kami kembali mencoba mengetuk pintu rumahnya. Tapi hasil yang kami dapatkan tetap sama. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri kami.
"Maaf anda siapa?" tanya orang itu
"Kami teman Dana, bapak siapa ya?r" kata Andin
"Saya dari kampung sebelah. Saya cuma mau menagih hutang orang tuanya Danar" katanya
"Hutang pak?" tanyaku
"Iya, seminggu lalu, ibunya pinjam uang sama saya untuk modal
berjualan" katanya
"Bapak tau ibunya Danar meninggal dua hari yang lalu?" tanya Andin
"Inalillahi, engga, saya malah baru tahu sekarang" ucap beliau
"Kami teman Dana, bapak siapa ya?r" kata Andin
"Saya dari kampung sebelah. Saya cuma mau menagih hutang orang tuanya Danar" katanya
"Hutang pak?" tanyaku
"Iya, seminggu lalu, ibunya pinjam uang sama saya untuk modal
berjualan" katanya
"Bapak tau ibunya Danar meninggal dua hari yang lalu?" tanya Andin
"Inalillahi, engga, saya malah baru tahu sekarang" ucap beliau
Terlihat beliau seperti berfikir tak tahu harus bagaimana. Tapi jika kulihat, beliau sepertinya orang baik
"Kalau boleh saya tahu berapa ya hutangnya?" tanyaku
"Lima ratus ribu" jawab beliau
"Emm kalau begitu, emm ini saya ada uang meski belum semua tapi boleh kan pak?" tanyaku
"Gimana yah, saya ga enak sebenarnya. Kalau tahu, saya ga akan menagih. Tapi ya..." ucap beliau terbata
"Yasudah ini bapak ambil saja. Biar nanti sisanya saya yang bayar" ucapku sambil memberikan uang dua ratus limapuluh ribu
"Begini saja. Karena saya memang sedang butuh, dan saya ga enak sama keluarganya almarhumah, ini saya terima, tapi mbaknya ga perlu bayar lagi. Saya anggap lunas saja" katanya
"Yang bener pak?" tanya Andin tak percaya
"Iya, lagipula dulu almarhum pak Dito ayahnya Danar pernah membantu saya juga" ucap beliau
"Terima kasih banyak pak" ucap Andin
"Kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum" ucap beliau
"Waalaikumussalam" jawab kami
"Lima ratus ribu" jawab beliau
"Emm kalau begitu, emm ini saya ada uang meski belum semua tapi boleh kan pak?" tanyaku
"Gimana yah, saya ga enak sebenarnya. Kalau tahu, saya ga akan menagih. Tapi ya..." ucap beliau terbata
"Yasudah ini bapak ambil saja. Biar nanti sisanya saya yang bayar" ucapku sambil memberikan uang dua ratus limapuluh ribu
"Begini saja. Karena saya memang sedang butuh, dan saya ga enak sama keluarganya almarhumah, ini saya terima, tapi mbaknya ga perlu bayar lagi. Saya anggap lunas saja" katanya
"Yang bener pak?" tanya Andin tak percaya
"Iya, lagipula dulu almarhum pak Dito ayahnya Danar pernah membantu saya juga" ucap beliau
"Terima kasih banyak pak" ucap Andin
"Kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum" ucap beliau
"Waalaikumussalam" jawab kami
Sejujurnya aku tak mempermasalahkan hal tadi. Aku hanya ingin membantu meringankan beban Danar. Tapi sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah, keberadaan Danar. Sedari tadi tak ada jawaban dari dalam. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk keliling daerah sini mencari Danar. Kami bertanya dan bertanya tetapi banya yang tidak tahu. Mereka mengatalan semenjak ibunya meninggal, rumah Danar terlihat sepi.
"Kita pulang aja ya Din. Kayanya Danar lagi ga dirumah" ucapku
"Aku khawatir" katanya
"Danar pasti baik-baik aja. Kamu kan tau dia itu laki-laki yang kuat" ucapku
"Aku khawatir" katanya
"Danar pasti baik-baik aja. Kamu kan tau dia itu laki-laki yang kuat" ucapku
Andin mengiyakan ajakanku. Nanti malam, aku akan menghadiri kajian yang diselenggarakan oleh madrasah yang merupakan tempat mengajarku. Pesertanya kebanyakan mahasiswi dan ada juga yang usianya mungkin diatasku. Setidaknya itulah info yang aku dapatkan dari kak Hana. Setelah shalat isya aku bersiap-siap ditemani kak Hana dengan panitia lainnya. Aku benar-benar bingung apakah aku akan bisa menyampaikan amanah yang diberikan padaku untuk mereka. Memang bukanlah kajian yang besar seperti pada umumnya, namun tanggung jawab tetaplah besar.
"Antum siap?" tanya kak Hana
"InsyaAllah" jawabku
"InsyaAllah" jawabku
Aku teringat ucapan abiku sebelum aku mulai masuk kuliah dan kami terpisah jarak. Abi berkata 'jika berdakwah, sampaikan dari hati, bukan dari ucapan'. Tapi apakah aku bisa menjalani ini? Aku harus bisa.
Menikah dan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah (QS. Ar-Rum: 21) adalah dambaan semua orang. Siapapun yang menikah dan membentuk bahtera rumah tangga, berharap akan bisa memiliki keluarga yang harmonis. Kata harmonis memiliki makna keselarasan dan keserasian antara suami, istri dan seluruh anggota keluarga. Selaras dan serasi, menunjukkan suatu kesamaan tujuan dan cita-cita atau visi, walaupun kondisinya tidak selalu sama. Mungkin saja ada hal yang berbeda, namun perbedaan terbingkai dalam keselarasan dan keserasian.
Allah menciptakan manusia dalam wujud yang indah (QS. At-Tin: 4), dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya (QS. An-Nisa: 1). Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada pasangan jenisnya. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan terhadap laki-laki (QS. Ali Imran: 14).
Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Tuhan memberikan tuntunan pernikahan (QS. An-Nisa’: 3). Pernikahanlah yang menyebabkan keserasian laki-laki dan perempuan tersusun dalam kerangka yang bijak dan manusiawi. Tanpa melalui pernikahan, hubungan dan ketertarikan antara lelaki dan perempuan tidak akan mendapatkan penyaluran secara bermartabat. Ekspresi dari kecenderungan hubungan lelaki dan perempuan akan menjadi liar dan destruktif.
Mencari pasangan hidup hendaklah berdasarkan pertimbangan keagamaan. Bukan semata kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedudukan, dan lain sebagainya. Pondasi agama harus sangat kuat melandasi pemilihan calon suami maupun calon istri, agar tidak terjebak dalam kubangan pilihan syahwat dan nafsu sesaat.
Di atas landasan kriteria agama ini, bisa dibangun kriteria lainnya yang bercorak fisik. Tentu saja boleh memilih suami tampan dan kaya, tentu saja boleh memilih istri yang cantik dan seksi, namun itu bukan pertimbangan utama. Kriteria fisik dan materi hanyalah tambahan nilai, dari nilai dasar yang sudah ditetapkan, yaitu kebaikan agama. Maka laki-laki dan perempuan harus memperbaiki kualitas keagamaan masing-masing, agar mereka layak mendapatkan jodoh yang baik pula kualitas agamanya.
Mengenal calon pasangan bisa dilakukan melalui sebuah proses ta’aruf (saling mengenal) antara laki-laki dan perempuan yang berproses menuju jenjang pernikahan. Ta’aruf dimaksudkan dalam rangka saling mengenali dan menjajagi kecocokan untuk meneruskan proses berikutnya. Hendaknya ta’aruf dilakukan dengan cara yang baik dan benar, menghindarkan diri dari jebakan syahwat, menghindarkan diri dari berbagai aktivitas yang terlarang menurut ketentuan agama.
Dalam proses ta’aruf, laki-laki dan perempuan bisa mendiskusikan visi kehidupan berumah tangga, agar keduanya bisa mendapatkan kesesuaian. Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan bukanlah halangan, karena hal itu tidak bisa dihindarkan, sebab mereka memiliki kejiwaan dan struktur otak yang tidak sama. Perbedaan latar belakang keluarga juga bukan halangan. Demikian pula perbedaan kultur dan suku atau etnis, bukanlah penghalang kebahagiaan berumah tangga.
Yang paling utama adalah kesediaan untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling memberikan yang terbaik, saling menerima apa adanya, saling berkomunikasi dengan nyaman, saling mendialogkan permasalahan, saling mengalah, saling mencintai dan menyayangi dalam segala kondisi dan situasi.
Selesai aku mengisi materi, aku kembali keruangan briefing. Aku menghela nafas seraya aku duduk dikursi. Tiba-tiba ada seorang akhwat yang juga bercadar menghampiriku. Tetapi aku tak mengenalnya.
"Assalamualaikum" ucapnya
"Waalaikumussalam" jawabku
"Gimana tadi jadi pemateri?" ucapnya
"Nano-nano hehe" Jawabku
"Kalau ga ada ukhty gatau deh bisa lanjut atau engga" katanya
"Memangnya kenapa?" tanyaku
"Seharusnya ana yang isi, tapi tadi ada keperluan mendadak jadi terlambat. Karena waktu ya ana baru bisa datang sekarang" katanya
"Eh masyaAllah. Ternyata antum yang isi?" tanyaku
"Iya, tapi makasih sudah mau bantu" katanya
"Afwan" jawabku
"Waalaikumussalam" jawabku
"Gimana tadi jadi pemateri?" ucapnya
"Nano-nano hehe" Jawabku
"Kalau ga ada ukhty gatau deh bisa lanjut atau engga" katanya
"Memangnya kenapa?" tanyaku
"Seharusnya ana yang isi, tapi tadi ada keperluan mendadak jadi terlambat. Karena waktu ya ana baru bisa datang sekarang" katanya
"Eh masyaAllah. Ternyata antum yang isi?" tanyaku
"Iya, tapi makasih sudah mau bantu" katanya
"Afwan" jawabku
Sepulangnya aju mengisi kajian, aku teringat kembali tentang apa yang aku sampaikan tadi. Bagaimana jika aku menikah? Ah tetapi aku merasa belum bisa membahagiakan abi sama ummi. Mungkin untuk sekarang aku hanya akan fokus pada kuliahku. Namun tetap akan butuh persiapan untuk menuju kearah sana. Aku tiba dirumah. Kulihat Andin sedang duduk disofa sambil membaca buku.
"Assalamualaikum" ucapku
"Waalaikumussalam" jawab Andin
"Waalaikumussalam" jawab Andin
Aku duduk disamping Andin seraya aku membuka cadarku. Andin melihat kearahku ketika aku membuka tali cadarku.
"Gimana sih rasanya pake cadar?" tanya Andin
"Nyaman, Din" jawabku
"Ga risih sama orang-orang?" tanya lagi
"Engga Din" jawabku singkat
"Nanti sama orang dibilang ninja lah, teroris lah, dan sebagainya" kata Andin
"Ya biarin hehe, kan kata Allah muslimah" jawabku
"Emm gitu" katanya
"Kenapa?" tanyaku
"Engga kok. Aku bahkan ga pernah kepikiran untuk pakai cadar" kata Andin
"Ya gapapa Din, setidaknya kamu pakai jilbab aja udah bagus kok" ucapku pada Andin
"Emm iya. Perintah Allah untuk seorang muslimah mengenakan hijab" kata Andin
"Tepat" ucapku
"Emm boleh coba pake cadar? tanya Andin
"Boleh" jawabku tersenyum gembira
"Nyaman, Din" jawabku
"Ga risih sama orang-orang?" tanya lagi
"Engga Din" jawabku singkat
"Nanti sama orang dibilang ninja lah, teroris lah, dan sebagainya" kata Andin
"Ya biarin hehe, kan kata Allah muslimah" jawabku
"Emm gitu" katanya
"Kenapa?" tanyaku
"Engga kok. Aku bahkan ga pernah kepikiran untuk pakai cadar" kata Andin
"Ya gapapa Din, setidaknya kamu pakai jilbab aja udah bagus kok" ucapku pada Andin
"Emm iya. Perintah Allah untuk seorang muslimah mengenakan hijab" kata Andin
"Tepat" ucapku
"Emm boleh coba pake cadar? tanya Andin
"Boleh" jawabku tersenyum gembira
Kebetulan Andin belum melepas hijabnya, aku memakaikannya niqab yang dipakai tanpa perlu melepas khimarnya. Setelah memakaikannya cadar, ia melihat cermin kecil yang selalu ia bawa. Aku tersenyum pada Andin. Andin melihat kearahku dan langsung memelukku.
“Makasih yah” kata Andin
“Untuk?” tanyaku
“Udah jaga aku selama ini” katanya
“Sama-sama” ucapku
“Untuk?” tanyaku
“Udah jaga aku selama ini” katanya
“Sama-sama” ucapku
Diubah oleh cwhiskeytango 11-05-2019 19:11
nuryadiari dan 4 lainnya memberi reputasi
5