- Beranda
- Stories from the Heart
CloudLove (TeenFiction)
...
TS
ayahnyabinbun
CloudLove (TeenFiction)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua beranak dua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis tentang cinta.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus aja ya.
Ini cerita kedua ayahBinBun, sempat dilirik penerbit indie … namun, yah gitulah, hanya berujung PHP, daripada galau enggak jelas mending ayahBinBun gelar disini, enggak usah lama-lama mending langsung aja dibaca.
Spoiler for Index:
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
[URL=]
CHAPTER 6
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 7
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 8
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 9
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 10
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 11
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 12
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 13
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 14
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 15
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 16
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 17
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 18
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 19
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 20
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 21
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 22
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 23
[/URL]
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
Spoiler for prolog:
Hari senin di SMA Sinar jaya para murid mulai bersiap melakukan upacara pagi, di luar gerbang riuh anak murid yang terlambat datang.
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
Diubah oleh ayahnyabinbun 13-05-2019 21:02
iamzero dan 8 lainnya memberi reputasi
9
15.5K
Kutip
131
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#49
Chapter 26
Spoiler for bukan rahasia:
."Maaf jika aku terlalu lama menyadari cinta mu."
Selang sejam Agni sudah berada di depan rumah Renvil, ia berdiri terdiam di depan pagar rumah berpagar putih tersebut, arah mata Agni tertuju ke arah garasi, disana tersender motor Renvil yang sudah ringsek, bekas-bekas kecelakaan kemarin masih terlihat jelas di badan motor tersebut bahkan bercak darah masih ada dan mengering dibagian ban motor tersebut.
"Hei Agni ayo masuk," panggil ibu.
"Engh … iya bu," seru Agni sembari membuka pintu pagar.
Agni pun memasuki rumah, "assalamualaikum" seru Agni di depan pintu.
"Waalaikumsalam, ayo sini duduk dulu ibu lagi nunggu Rendra buat jemput, kamu mau minum dulu enggak?" tanya ibu ke Agni.
"Enggak usah ibu, ngerepotin, lagian biar pas om Rendra dateng kita bisa langsung jalan."
Agni duduk di sofa ia menaruh tas miliknya yang berisikan keperluan menginap di rumah sakit.
"Besok pagi kamu berangkat ke sekolah dari rumah sakit ya? Maaf ya ibu jadi ngerepotin kamu Agni, bi Imah enggak bisa nemenin ibu, dia enggak kuat dinginnya AC rumah sakit."
"Enggak kenapa-napa kok ibu, lagian semua salah Agni Renvil jadi seperti ini."
"Hush! ngomong apa kamu, yang minta ajarin Renvil naik motor itu ibu, yang minta dia antar jemput kamu itu ibu, karena bagi ibu kamu tuh sudah ibu anggap anak perempuan ibu, jangan pernah berfikiran seperti itu lagi ya Agni sayang."
"Iya bu," angguk Agni.
"Bener kata ayah kamu, nasib jelek bisa datang kapan aja, yang penting sekarang kita bersyukur Renvil masih ada bersama kita," seru ibu.
"Iya bu," jawab Agni kembali.
"Eh kata Galih Renvil peluk kamu ya pas anter pulang kamu? Ih so sweet," tanya ibu mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Ih ayah ember banget mulutnya, engh enggak kok bu, itu … engh … waktu itu Agni enggak sengaja dipeluk Renvil," gerutu Agni gugup.
"Hihi, ibu restuin kok kalian berdua," seru ibu sembari tersenyum.
"Ih apaan sih ibu, Renvil kan sahabat Agni bu," jawab Agni.
"Sahabat apa sahabat?" goda ibu.
"Sa-sahabat bu, beneran deh," jawab Agni terbata-bata.
"Ibu kasih tau satu rahasia, tapi jangan kasih tau Renvil ya pas dia sudah sadar?" seru Ibu.
"Ra-rahasia apa?" tanya Agni penasaran.
-Tin-
-Tin-
-Tin-
"Eh Rendra sudah datang, yuk ke mobil, Imah jaga rumah ya!?"
"Iya bu," seru bi Imah dari dalam rumah dapur.
"Ibu rahasia apa tadi?" tanya Agni penasaran sembari mengangkat tas miliknya dan mengambil koper milik ibu.
"Ibu enggak jadi ngasih tau, biar kamu penasaran terus sama Renvil, hihi," seru ibu sembari berlalu ke arah mobil Rendra.
"Iiih ibu nyebelin!" cebik Agni.
Mobil Rendra membelah jalanan Jakarta siang itu, macetnya jalanan menemani mereka seiring berputarnya roda diatas aspal hitam.
"Kepolisian lagi mengusut siapa orang yang celakain Renvil pas dia naik motor semalam, saksi mata juga sudah ditanyai jadi tinggal nunggu waktu aja kita ketemu pelakunta," seru Rendra memecah keheningan.
"Kamu urus saja Dra, mbak cuman ingin Renvil sadar dan sehat sekarang," kata ibu.
"Agni kamu enggak sekolah dong sekarang?" tanya Rendra.
"Engh iya om … bolos," jawab Agni.
"Duh demi Renvil sampai ngebolos, beruntung amat ntu anak," goda Rendra.
Agni terdiam dengan pipi yang memanas mendengar kata-kata Rendra.
"Makanya cari istri cepet-cepet, Renvil aja udah dua gadis yang rela bolos demi jagain dia, kamu meriang yang jagain malah satpam." ketus Ibu
"Halah … kagak anak kagak ibunya sama aja, ngatain kesinglean gua mulu, kalau Renvil disini habis nih gua di cengin ibu sama anak." seru Rendra.
"Single kok bangga sih kamu Dra, lagian pilah pilih perempuan melulu sih kamu, Renvil udah pengen banget gendong keponakan tau, kamu tau sendiri dia sayang banget sama anak kecil." jelas ibu.
"Dih, suruh aja Renvil yang bikin anak, kenapa jadi nyuruh-nyuruh gua, lagian calon Renvil kan udah ada, iya kan Agni?" goda Rendra kembali.
Wajah Agni sekarang yang memanas mendengar godaan Rendra.
"Agni, mau nikah enggak sama om?" tanya Rendra bercanda.
"Makasih om … om udah ketuaan," balas Agni ketus.
"Nah denger sendiri kan mba, para gadis yang nolak Rendra, Rendra enggak pilah pilih perempuan."
"Pilih sih gadis, ya ogah mereka sama kamu, cari janda aja sih, laki-laki macam kamu janda pada ngantri buat dinikahin," seru Ibu antusias.
Rendra hanya terdiam jengah mendengar wejangan sesat kakak iparnya tersebut.
"Gimana Dra, temen mba banyak loh yang kepincut sama kamu, kok kamu malah diam aja sih!?"
"Agni, kalau kamu nikah sama Renvil mau enggak?" tanya Rendra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hah!?" pekik Agni kebingungan dengan pertanyaan Rendra.
"Hush! Mereka masih terlalu muda Dra, lagian masih sekolah, ntar kalau sudah cukup umur mereka juga nikah," terang Ibu.
Wajah Agni semakin memerah bagai tomat ceri mendengar kata-kata ibu.
"Ya enggak kenapa-napa kan, lagi jaman nikah muda, emang mba mau anak mba senasib sama omnya, ketuaan untuk menjalin cinta."
"Ya jangan samain sama kamu lah Dra, gantengan Renvil," jawab ibu.
"Hhe sialan lu mba, eh mba nanya dong."
"Nanya apaan?"
"Sebenarnya gadis yang jagain Renvil sekarang di rumah sakit ada hubungan apa sama Renvil? Dia pacarnya?" tanya Rendra.
Agni menundukkan kepalanya, ia kembali teringat kata-kata bening tadi pagi.
"Bening sayang Renvil lebih dari sekedar sahabat."
"Oh si Bening, dia teman masa kecilnya Renvil Dra, dia bukan tipe Renvil, kalau pacar sih dia belum punya, tapi kalau perempuan yang dia suka sih ada," seru ibu.
Agni memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut ibu dengan seksama.
"Renvil suka seseorang," gumam Agni didalam hati.
"wong mba udah suruh tembak perempuan yang dia suka malah cuman bilang sayang ke dia, eh keceplosan!" seru ibu sembari menutup mulutnya menatap Agni.
Sekarang Agni terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata ibu, di fikiran Agni berkecamuk ribuan prasangka.
"Siapa perempuan yang Renvil suka mba? Teman sekelasnya?" tanya Rendra penasaran dengan pandangan masih melihat ke jalanan di depannya.
Ibu tersenyum teduh kemudian mendekat wajahnya ke daun telinga Agni seraya berbisik, "ini rahasia Renvil."
"Bukan Dra, dia suka kakak kelasnya," jawab ibu ke Rendra sembari tersenyum menatap Agni.
"Hadeuh … sukanya yang lebih tua toh itu anak," seru Rendra.
Sedangkan dilain pihak Agni salah tingkah di buat ibu, deru jantungnya tak menentu mendengar pengakuan dari sang ibu tentang Renvil.
Sesampai di rumah sakit Rendra menurunkan Agni dan ibu di depan lobi rumah sakit.
"Maaf ya Rendra enggak bisa antar sampai kamar, Rendra harus ke kantor lagi, kalau ada apa-apa telepon Rendra aja ya mba Ratna," terang Rendra.
"Iya, hati-hati di jalan," balas ibu.
Rendra pun berlalu bersama mobil sport miliknya meninggalkan Agni dan ibu di depan rumah sakit.
"Agni kamu duluan dih, ibu mau ketemu dokter pribadi Renvil dulu, kamu bisa kan bawa koper ini ke kamar Renvil?" pinta ibu.
"Bisa kok bu, ini mah kecil bagi Agni," jawab Agni.
Agni berlalu berpisah dengan ibu di lobi rumah sakit, perlahan ia berjalan menuju kamar Renvil, di depan pintu kamar Agni terdiam melihat pemandangan di dalam kamar.
-Bruk-
Tas dan koper yang di genggam Agni terjatuh ke lantai, tangan Agni menutup mulutnya rapat-rapat, di dalam kamar rawat Renvil sudah terbangun sembari mencium bibir mungil milik Bening.
Bersambung..
Selang sejam Agni sudah berada di depan rumah Renvil, ia berdiri terdiam di depan pagar rumah berpagar putih tersebut, arah mata Agni tertuju ke arah garasi, disana tersender motor Renvil yang sudah ringsek, bekas-bekas kecelakaan kemarin masih terlihat jelas di badan motor tersebut bahkan bercak darah masih ada dan mengering dibagian ban motor tersebut.
"Hei Agni ayo masuk," panggil ibu.
"Engh … iya bu," seru Agni sembari membuka pintu pagar.
Agni pun memasuki rumah, "assalamualaikum" seru Agni di depan pintu.
"Waalaikumsalam, ayo sini duduk dulu ibu lagi nunggu Rendra buat jemput, kamu mau minum dulu enggak?" tanya ibu ke Agni.
"Enggak usah ibu, ngerepotin, lagian biar pas om Rendra dateng kita bisa langsung jalan."
Agni duduk di sofa ia menaruh tas miliknya yang berisikan keperluan menginap di rumah sakit.
"Besok pagi kamu berangkat ke sekolah dari rumah sakit ya? Maaf ya ibu jadi ngerepotin kamu Agni, bi Imah enggak bisa nemenin ibu, dia enggak kuat dinginnya AC rumah sakit."
"Enggak kenapa-napa kok ibu, lagian semua salah Agni Renvil jadi seperti ini."
"Hush! ngomong apa kamu, yang minta ajarin Renvil naik motor itu ibu, yang minta dia antar jemput kamu itu ibu, karena bagi ibu kamu tuh sudah ibu anggap anak perempuan ibu, jangan pernah berfikiran seperti itu lagi ya Agni sayang."
"Iya bu," angguk Agni.
"Bener kata ayah kamu, nasib jelek bisa datang kapan aja, yang penting sekarang kita bersyukur Renvil masih ada bersama kita," seru ibu.
"Iya bu," jawab Agni kembali.
"Eh kata Galih Renvil peluk kamu ya pas anter pulang kamu? Ih so sweet," tanya ibu mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Ih ayah ember banget mulutnya, engh enggak kok bu, itu … engh … waktu itu Agni enggak sengaja dipeluk Renvil," gerutu Agni gugup.
"Hihi, ibu restuin kok kalian berdua," seru ibu sembari tersenyum.
"Ih apaan sih ibu, Renvil kan sahabat Agni bu," jawab Agni.
"Sahabat apa sahabat?" goda ibu.
"Sa-sahabat bu, beneran deh," jawab Agni terbata-bata.
"Ibu kasih tau satu rahasia, tapi jangan kasih tau Renvil ya pas dia sudah sadar?" seru Ibu.
"Ra-rahasia apa?" tanya Agni penasaran.
-Tin-
-Tin-
-Tin-
"Eh Rendra sudah datang, yuk ke mobil, Imah jaga rumah ya!?"
"Iya bu," seru bi Imah dari dalam rumah dapur.
"Ibu rahasia apa tadi?" tanya Agni penasaran sembari mengangkat tas miliknya dan mengambil koper milik ibu.
"Ibu enggak jadi ngasih tau, biar kamu penasaran terus sama Renvil, hihi," seru ibu sembari berlalu ke arah mobil Rendra.
"Iiih ibu nyebelin!" cebik Agni.
Mobil Rendra membelah jalanan Jakarta siang itu, macetnya jalanan menemani mereka seiring berputarnya roda diatas aspal hitam.
"Kepolisian lagi mengusut siapa orang yang celakain Renvil pas dia naik motor semalam, saksi mata juga sudah ditanyai jadi tinggal nunggu waktu aja kita ketemu pelakunta," seru Rendra memecah keheningan.
"Kamu urus saja Dra, mbak cuman ingin Renvil sadar dan sehat sekarang," kata ibu.
"Agni kamu enggak sekolah dong sekarang?" tanya Rendra.
"Engh iya om … bolos," jawab Agni.
"Duh demi Renvil sampai ngebolos, beruntung amat ntu anak," goda Rendra.
Agni terdiam dengan pipi yang memanas mendengar kata-kata Rendra.
"Makanya cari istri cepet-cepet, Renvil aja udah dua gadis yang rela bolos demi jagain dia, kamu meriang yang jagain malah satpam." ketus Ibu
"Halah … kagak anak kagak ibunya sama aja, ngatain kesinglean gua mulu, kalau Renvil disini habis nih gua di cengin ibu sama anak." seru Rendra.
"Single kok bangga sih kamu Dra, lagian pilah pilih perempuan melulu sih kamu, Renvil udah pengen banget gendong keponakan tau, kamu tau sendiri dia sayang banget sama anak kecil." jelas ibu.
"Dih, suruh aja Renvil yang bikin anak, kenapa jadi nyuruh-nyuruh gua, lagian calon Renvil kan udah ada, iya kan Agni?" goda Rendra kembali.
Wajah Agni sekarang yang memanas mendengar godaan Rendra.
"Agni, mau nikah enggak sama om?" tanya Rendra bercanda.
"Makasih om … om udah ketuaan," balas Agni ketus.
"Nah denger sendiri kan mba, para gadis yang nolak Rendra, Rendra enggak pilah pilih perempuan."
"Pilih sih gadis, ya ogah mereka sama kamu, cari janda aja sih, laki-laki macam kamu janda pada ngantri buat dinikahin," seru Ibu antusias.
Rendra hanya terdiam jengah mendengar wejangan sesat kakak iparnya tersebut.
"Gimana Dra, temen mba banyak loh yang kepincut sama kamu, kok kamu malah diam aja sih!?"
"Agni, kalau kamu nikah sama Renvil mau enggak?" tanya Rendra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hah!?" pekik Agni kebingungan dengan pertanyaan Rendra.
"Hush! Mereka masih terlalu muda Dra, lagian masih sekolah, ntar kalau sudah cukup umur mereka juga nikah," terang Ibu.
Wajah Agni semakin memerah bagai tomat ceri mendengar kata-kata ibu.
"Ya enggak kenapa-napa kan, lagi jaman nikah muda, emang mba mau anak mba senasib sama omnya, ketuaan untuk menjalin cinta."
"Ya jangan samain sama kamu lah Dra, gantengan Renvil," jawab ibu.
"Hhe sialan lu mba, eh mba nanya dong."
"Nanya apaan?"
"Sebenarnya gadis yang jagain Renvil sekarang di rumah sakit ada hubungan apa sama Renvil? Dia pacarnya?" tanya Rendra.
Agni menundukkan kepalanya, ia kembali teringat kata-kata bening tadi pagi.
"Bening sayang Renvil lebih dari sekedar sahabat."
"Oh si Bening, dia teman masa kecilnya Renvil Dra, dia bukan tipe Renvil, kalau pacar sih dia belum punya, tapi kalau perempuan yang dia suka sih ada," seru ibu.
Agni memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut ibu dengan seksama.
"Renvil suka seseorang," gumam Agni didalam hati.
"wong mba udah suruh tembak perempuan yang dia suka malah cuman bilang sayang ke dia, eh keceplosan!" seru ibu sembari menutup mulutnya menatap Agni.
Sekarang Agni terdiam seribu bahasa mendengar kata-kata ibu, di fikiran Agni berkecamuk ribuan prasangka.
"Siapa perempuan yang Renvil suka mba? Teman sekelasnya?" tanya Rendra penasaran dengan pandangan masih melihat ke jalanan di depannya.
Ibu tersenyum teduh kemudian mendekat wajahnya ke daun telinga Agni seraya berbisik, "ini rahasia Renvil."
"Bukan Dra, dia suka kakak kelasnya," jawab ibu ke Rendra sembari tersenyum menatap Agni.
"Hadeuh … sukanya yang lebih tua toh itu anak," seru Rendra.
Sedangkan dilain pihak Agni salah tingkah di buat ibu, deru jantungnya tak menentu mendengar pengakuan dari sang ibu tentang Renvil.
Sesampai di rumah sakit Rendra menurunkan Agni dan ibu di depan lobi rumah sakit.
"Maaf ya Rendra enggak bisa antar sampai kamar, Rendra harus ke kantor lagi, kalau ada apa-apa telepon Rendra aja ya mba Ratna," terang Rendra.
"Iya, hati-hati di jalan," balas ibu.
Rendra pun berlalu bersama mobil sport miliknya meninggalkan Agni dan ibu di depan rumah sakit.
"Agni kamu duluan dih, ibu mau ketemu dokter pribadi Renvil dulu, kamu bisa kan bawa koper ini ke kamar Renvil?" pinta ibu.
"Bisa kok bu, ini mah kecil bagi Agni," jawab Agni.
Agni berlalu berpisah dengan ibu di lobi rumah sakit, perlahan ia berjalan menuju kamar Renvil, di depan pintu kamar Agni terdiam melihat pemandangan di dalam kamar.
-Bruk-
Tas dan koper yang di genggam Agni terjatuh ke lantai, tangan Agni menutup mulutnya rapat-rapat, di dalam kamar rawat Renvil sudah terbangun sembari mencium bibir mungil milik Bening.
Bersambung..
jembloengjava dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas