- Beranda
- Stories from the Heart
TOPENG WARISAN SETAN
...
TS
breaking182
TOPENG WARISAN SETAN
TOPENG WARISAN SETAN

PROLOG
Quote:
Di atas langit sana, rembulan begitu pucat. Di sekeliling, kegelapan begitu hitam pekat melingkupi permukaan bumi. Kesunyian yang tadi menyergap mulai terusik dengan suara semak belukar dan rumput kering yang tersibak langkah –langkah kaki yang berlari dengan terburu –buru dan membabi buta. Lewat cahaya bulan pucat yang merembes terlihatlah seorang lelaki berpakaian serba gelap berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Diubah oleh breaking182 05-03-2021 17:08
tet762 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.3K
Kutip
66
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#32
PART 7
Quote:
Lena menyandarkan punggungnya di sebuah bangku panjang di koridor rumah sakit. Jumlah pengunjung sudah sangat berkurang drasts, hanya sesekali terlihat suster yang mondar –mandir keluar masuk ruangan untuk mengecek ataupun memberikan obat untuk para pasien. Suasana terkesan lengang, Lena bahkan sudah akan nyaris terpejam mata manakala terdengar suara sapaan itu.
“Hai, cantik!”
Bahkan sebelum berpaling, Lena sudah dapat menebak siapa orang yang menyapa. Sersan satu Badrol tampak mendatangi dari arah koridor dengan satu senyuman lebar.
“Menunggu siapa, Lena?” ia bertanya enteng sambil membuang putung rokok ke dalam bak sampah.
“ Yang pasti bukan kekasih hati ataupun calon suami !” jawab Lena sembari tersenyum lebar.
“Anda sendiri habis dari mana Sersan?”
“Kamar mayat, menunggu hasil otopsi dari dokter Johan. Aku takut ia sudah sangat pikun sehingga mayatnya dibiarkan begitu saja bisa –bisa hidup kembali ”
“Mayat yang mana?”
“Yang ditemukan subuh tadi. Memangnya ada berapa mayat yang ingin kau ambil gambarnya hari ini ?”
Lena mengangkat bahu, ia sudah hafal benar dengan sifat Sersan Badrol yang kadang –kadang suka bercanda kelewatan.
Lalu “.. . apakah otopsinya sudah selesai?”
“Laporan lengkap belum. Lebih tepatnya nyaris selesai!”
Lena langsung tertarik. “Mau mengantarkan aku ke sana, Sersan?”
Badrol garuk-garuk kepala. Berpikir-pikir. Tetapi Lena sudah keburu bangkit dari duduknya. “Ayolah, Sersan “
Badrol menyeringai lebar. Lantas mengikuti Lena yang terlebih dahulu berjalan menyusuri koridor menuju kamar mayat rumah sakit.
“Hai, cantik!”
Bahkan sebelum berpaling, Lena sudah dapat menebak siapa orang yang menyapa. Sersan satu Badrol tampak mendatangi dari arah koridor dengan satu senyuman lebar.
“Menunggu siapa, Lena?” ia bertanya enteng sambil membuang putung rokok ke dalam bak sampah.
“ Yang pasti bukan kekasih hati ataupun calon suami !” jawab Lena sembari tersenyum lebar.
“Anda sendiri habis dari mana Sersan?”
“Kamar mayat, menunggu hasil otopsi dari dokter Johan. Aku takut ia sudah sangat pikun sehingga mayatnya dibiarkan begitu saja bisa –bisa hidup kembali ”
“Mayat yang mana?”
“Yang ditemukan subuh tadi. Memangnya ada berapa mayat yang ingin kau ambil gambarnya hari ini ?”
Lena mengangkat bahu, ia sudah hafal benar dengan sifat Sersan Badrol yang kadang –kadang suka bercanda kelewatan.
Lalu “.. . apakah otopsinya sudah selesai?”
“Laporan lengkap belum. Lebih tepatnya nyaris selesai!”
Lena langsung tertarik. “Mau mengantarkan aku ke sana, Sersan?”
Badrol garuk-garuk kepala. Berpikir-pikir. Tetapi Lena sudah keburu bangkit dari duduknya. “Ayolah, Sersan “
Badrol menyeringai lebar. Lantas mengikuti Lena yang terlebih dahulu berjalan menyusuri koridor menuju kamar mayat rumah sakit.
Quote:
Meski bukan sekali dua saja melihat mayat sehingga lama-kelamaan menjadi terbiasa, namun setelah peti penyimpanan jenazah ditarik keluar dari tempatnya, Lena dibuat merinding juga. Apa yang dilihatnya memang benar adalah perawakan seorang perempuan muda jika di lihat dari bentuk badan. Berambut tebal dan ikal. Berdegup jantung Lena manakala melihat keadaan wajah mayat itu. Seperti mayat yang dilihatnya tempo hari menjelang pagi, kulit wajahnya lenyap seperti direnggut paksa hingga menyisakan muka memerah agak membiru itu adalah seraut wajah yang nyaris kehilangan bentuk.
Lambung mayat keadaannya lebih parah lagi. Jahitan setelah dibedah simpang siur dan jelas dipaksakan. Agar kulit serta daging-daging lambung dapat menyatu, walau tidak lagi kembali pada bidang maupun bentuknya semula. Tidak tahan melihat berlama-lama, Lena buru – buru mengajak Badrol keluar dari kamar mayat.
Badrol menurut saja.
Namun tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Lho tidak jeprat-jepret?”
Seraya berjuang keras untuk menahan perutnya tidak sampai teraduk, Lena menjawab dengan nafas tersengah-sengal.
“Dipotret pun tidak akan dimuat. Terlalu sadis. Aku akan pinjam sketsa yang bapak punya saja...”
“Akan kukopi seberapa banyak kau ingin!”
Badrol berjanji. Lalu berdiri diam, memperhatikan Lena yang menyandar ke salah satu tiang koridor di luar kamar mayat. Tampak jelas gadis itu sedang berusaha mengatur nafas serta peredaran darahnya yang mendadak kacau balau. Setelah melihat Lena sudah mulai bisa menguasai diri, Sersan Badrol memecah keheningan yang beberapa menit yang lalu sungguh terasa kaku.
“ Seperti yang aku janjikan tadi pagi di telepon bahwa kau akan mendapatkan informasi eksklusif “
“Sangat eksklusif. Bila dimuat, kujamin koran kalian akan laku keras.”
“ Terima kasih, Sersan! Tetapi kalau memang masih mau membantu, tolong aku dipertemukan dengan dokter Johan yang telah mengotopsi mayat tadi!”
Semangat Lena kembali dengan cepat.
“ Sebagai informasi pembuka aku akan memberitahu sesuatu. Tadi sebelum meninggalkan kantor, aku bertemu seorang rekan sejawat dari resort Gunungkidul. la menyempatkan singgah dalam perjalanan tugas ke Kulon Progo. Biasa. Untuk saling tukar informasi. Dan tahu apa yang ku peroleh, Lena? Mereka menemukan sebuah mobil sedan misterius terbakar di dasar jurang, sekitar Patuk Gunungkidul…”
“Misteriusnya?”
Sambil belok kiri di pertigaan koridor berikut Badrol menjelaskan “Seumpama mobil itu terjerumus, pasti ada penumpang, paling tidak pengemudi. Entah itu terbakar atau sebelumnya sempat melompat keluar. Tetapi setelah diperiksa dengan cermat, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pada dua kemungkinan itu !”
“ Biarkan aku menebak,” Lena menukas
“Mobil itu dijerumuskan untuk menutupi sesuatu!”
“Begitu pula dugaan kami,” Badrol mengangguk sependapat.
“Nah, kau dapat menangkap arah pembicaraanku sekarang? Aku percaya, kau pasti sudah pergi ke lokasi mayat itu ditemukan...”
Lena seketika teringat pada jejak-jejak ban mobil yang ia lihat. la pun sudah mempelajari berkat laporan penemuan mayat, yang diperlihatkan oleh Letnan Dua Hartoyo. Dalam berkas itu dicantumkan bahwa dokter pemeriksa mayat di tempat kejadian menyatakan dengan yakin, bahwa korban diperkira kan meninggal antara pukul satu dan pukul dua dini hari.
“Mobil misterius itu!” gumam Lena “Pukul berapa ditemukan?
“Menurut penduduk setempat sekitar pukul dua dini hari,” Badrol memberitahu.
“Tetapi tidak lebih dari pukul setengah tiga!”
“Mungkinkah...”
Badrol tak sabar juga akhirnya, la langsung memotong, dengan bernafsu. “Bukan lagi mungkin, Lena. Aku malah merasa pasti! Ada dua petunjuk yang menguatkan. Pertama, jarak tempuh berkendaraan dari daerah Umbulharjo ke Patuk... apalagi pada dini hari, tidak akan lebih dari seperempat jam. Petunjuk lainnya: wajah yang dikelupas, pakaian, pasti juga plus surat-surat pengenal, dipereteli. Berikutnya, mobil, pasti mobil milik korban dan si pembunuh tidak berniat memiliki. Karena, jika hanya sekedar untuk menghilangkan jejak masih banyak cara yang dapat ditempuh. Tidak harus dengan membakarnya !”
“Hem, baiklah,” Lena manggut-manggut.
“Misalkan itu benar mobil milik si terbunuh. Dan bisa dipakai sebagai petunjuk untuk mengetahui siapa. Lantas, apa maksud Sersan tadi menyebut-nyebut semua itu sebagai informasi pembuka?”
“Karena Lena,” Badrol menjawab dengan suara pelan.
“Orang yang kita hadapi, tampaknya bukan hanya punya otak. Dia pun, bukan sekedar pembunuh biasa!”
“Maksud Sersan?”
“Persiapkan saja catatanmu.” Badrol menurun kan tekanan suaranya.
“Kita sudah sampai.”
Lambung mayat keadaannya lebih parah lagi. Jahitan setelah dibedah simpang siur dan jelas dipaksakan. Agar kulit serta daging-daging lambung dapat menyatu, walau tidak lagi kembali pada bidang maupun bentuknya semula. Tidak tahan melihat berlama-lama, Lena buru – buru mengajak Badrol keluar dari kamar mayat.
Badrol menurut saja.
Namun tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Lho tidak jeprat-jepret?”
Seraya berjuang keras untuk menahan perutnya tidak sampai teraduk, Lena menjawab dengan nafas tersengah-sengal.
“Dipotret pun tidak akan dimuat. Terlalu sadis. Aku akan pinjam sketsa yang bapak punya saja...”
“Akan kukopi seberapa banyak kau ingin!”
Badrol berjanji. Lalu berdiri diam, memperhatikan Lena yang menyandar ke salah satu tiang koridor di luar kamar mayat. Tampak jelas gadis itu sedang berusaha mengatur nafas serta peredaran darahnya yang mendadak kacau balau. Setelah melihat Lena sudah mulai bisa menguasai diri, Sersan Badrol memecah keheningan yang beberapa menit yang lalu sungguh terasa kaku.
“ Seperti yang aku janjikan tadi pagi di telepon bahwa kau akan mendapatkan informasi eksklusif “
“Sangat eksklusif. Bila dimuat, kujamin koran kalian akan laku keras.”
“ Terima kasih, Sersan! Tetapi kalau memang masih mau membantu, tolong aku dipertemukan dengan dokter Johan yang telah mengotopsi mayat tadi!”
Semangat Lena kembali dengan cepat.
“ Sebagai informasi pembuka aku akan memberitahu sesuatu. Tadi sebelum meninggalkan kantor, aku bertemu seorang rekan sejawat dari resort Gunungkidul. la menyempatkan singgah dalam perjalanan tugas ke Kulon Progo. Biasa. Untuk saling tukar informasi. Dan tahu apa yang ku peroleh, Lena? Mereka menemukan sebuah mobil sedan misterius terbakar di dasar jurang, sekitar Patuk Gunungkidul…”
“Misteriusnya?”
Sambil belok kiri di pertigaan koridor berikut Badrol menjelaskan “Seumpama mobil itu terjerumus, pasti ada penumpang, paling tidak pengemudi. Entah itu terbakar atau sebelumnya sempat melompat keluar. Tetapi setelah diperiksa dengan cermat, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pada dua kemungkinan itu !”
“ Biarkan aku menebak,” Lena menukas
“Mobil itu dijerumuskan untuk menutupi sesuatu!”
“Begitu pula dugaan kami,” Badrol mengangguk sependapat.
“Nah, kau dapat menangkap arah pembicaraanku sekarang? Aku percaya, kau pasti sudah pergi ke lokasi mayat itu ditemukan...”
Lena seketika teringat pada jejak-jejak ban mobil yang ia lihat. la pun sudah mempelajari berkat laporan penemuan mayat, yang diperlihatkan oleh Letnan Dua Hartoyo. Dalam berkas itu dicantumkan bahwa dokter pemeriksa mayat di tempat kejadian menyatakan dengan yakin, bahwa korban diperkira kan meninggal antara pukul satu dan pukul dua dini hari.
“Mobil misterius itu!” gumam Lena “Pukul berapa ditemukan?
“Menurut penduduk setempat sekitar pukul dua dini hari,” Badrol memberitahu.
“Tetapi tidak lebih dari pukul setengah tiga!”
“Mungkinkah...”
Badrol tak sabar juga akhirnya, la langsung memotong, dengan bernafsu. “Bukan lagi mungkin, Lena. Aku malah merasa pasti! Ada dua petunjuk yang menguatkan. Pertama, jarak tempuh berkendaraan dari daerah Umbulharjo ke Patuk... apalagi pada dini hari, tidak akan lebih dari seperempat jam. Petunjuk lainnya: wajah yang dikelupas, pakaian, pasti juga plus surat-surat pengenal, dipereteli. Berikutnya, mobil, pasti mobil milik korban dan si pembunuh tidak berniat memiliki. Karena, jika hanya sekedar untuk menghilangkan jejak masih banyak cara yang dapat ditempuh. Tidak harus dengan membakarnya !”
“Hem, baiklah,” Lena manggut-manggut.
“Misalkan itu benar mobil milik si terbunuh. Dan bisa dipakai sebagai petunjuk untuk mengetahui siapa. Lantas, apa maksud Sersan tadi menyebut-nyebut semua itu sebagai informasi pembuka?”
“Karena Lena,” Badrol menjawab dengan suara pelan.
“Orang yang kita hadapi, tampaknya bukan hanya punya otak. Dia pun, bukan sekedar pembunuh biasa!”
“Maksud Sersan?”
“Persiapkan saja catatanmu.” Badrol menurun kan tekanan suaranya.
“Kita sudah sampai.”
Quote:
Tanpa disadari Lena, rupanya mereka sudah tiba di tempat yang dituju, bagian bedah forensik.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, mereka berdua langsung berhadapan dengar seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun. Posturnya gemuk, dengan rambut beruban dan wajah tampak seperti orang baru bangun dari tidur. Lusuh dan tidak ramah. Duduk santai di belakang meja sambil menikmati minumannya yang berada di dalam gelas.
“Eh, kau lagi Sersan!” ia menyambut dengan suara berat dan serak.
“Apa ada yang masih kurang pada keteranganku tadi?”
“Lebih dari cukup, dokter Johan'“ jawab Badrol disertai seringai lebar.
“Hanya saja aku kuatir salah menjelaskan pada temanku ini…”
Lena kemudian diperkenalkan. Jabatan tangan yang ia terima ternyata lembut dan hangat.
“ Ayo, silakan duduk. Rileks saja.”
Lena melirik ke samping karena pintu tembut ke ruangan sebelah dalam keadaan setengah terbuka. Memang dari tempat Lena duduk tidak terlihat apapun kecuali lantai yang tampak balas menatap dengan pandangan dingin. Namun dari pintu itu tercium bau keras formalin. Dan mengingat siapa tuan rumahnya, pastilah yang di balik pintu itu ruang bedah mayat.
Sialnya lagi, sewaktu memalingkan muka dari pintu setengah terbuka itu, ekor mata Lena secara tidak disengaja memandang ke sebuah gelas besar di atas meja. Meja itu berukuran sangat besar di bandingkan dengan gelas pada umumnya. Mungkin kapasitasnya bisa mencapai satu liter air. Bukan ukuran gelas itu yang membuat Lena sedikit merinding akan tetapi apa yang tersimpan di dalam gelas.
Sebuah cairan kental pekat berwarna merah darah. Dokter Johan rupanya menangkap arah lirikan ekor mata tamunya. Maka sebagai tuan rumah yang baik, gelas besar itu ia dorongkan lebih dekat ke depan Badrol dan Lena.
Sambil berkata, gembira. “Jangan kuatir. Aku tidak meminum darah para pasien ku ...”
Ia gerakkan dagu ke arah pintu ruang bedah.
“Ini minuman orang desa, minuman khas untuk stamina biar kuat melek. Ini wedang secang butan istriku di rumah jadi lebih keras daripada yang dijual di luar. Silakan dicoba. Enak kok”
Badrol menanggapi dengan seringai lebar.
Lena, dengan suara setengah menggigil: “... terima kasih.”
Karena tidak ada yang menyentuh, dokter Johan menarik kembali gelas besar itu itu ke dekatnya. Dengan sekali teguk cairan merah pekat itu telah berpindah ke lambung sang dokter.
“Nah, apa yang bisa kubantu ?”
Karena wajah Lena tampak seperti tidak enak badan, Badrol segera memaklumi. Sersan polisi itu batuk-batuk kecil sebentar. Lantas mengambil inisiatip.
“Begini, Dokter. Seperti tadi kukatakan...”
Dan pembicaraan santai pun berlangsung. Diseling sejumlah istilah kedokteran forensik, yang oleh Lena beberapa kali minta dieja atau diulangi tuan rumah, agar Lena tidak sampai salah tulis. Buntut dari pembicaraan akhirnya tiba juga pada urusan senjata yang dipergunakan oleh si pembunuh. Di situlah sikap santai dokter Johan menghilang perlahan-lahan.
“... bagian yang ini, terus terang sifatnya, rahasia...!” ia berkata dengan wajah serius.
“Alasannya?” tanya Lena. Tidak mau langsung main terima begitu saja.
“Bila dimuat oleh media cetak, masyarakat umum akan terganggu. Dan aku akan dijagal bukan lagi sebagai penjagal!”
Lena terpaksa menyerah. “Aku siap mendengar, Dokter...”
“Apa yang kami perkirakan semula, ternyata keliru!” dokter Johan berkata dengan wajah murung.
“Alat yang dipergunakan mencacah wajah dan merobek lambung korban, bukanlah senjata tajam biasa atau sudah umum dikenal. Melainkan semacam cakar!”
“Cakar? Apakah maksud dokter, anjing-anjing itu…”
“Memang ada kemiripannya Hanya, yang ini berlipat ganda lebih besar dan lebih tajam dari cakar anjing. Dengan kemampuan merobek atau merenggut bertenaga luar biasa kuat. Apa atau siapa pun pemilik cakar mengerikan itu. Satu hal kami merasa pasti. Bukan anjing-anjing itu, melainkan si pembunuh lah yang telah mengambil isi perut dan jantung korban beserta kulit wajahnya. Soal luka di organ intim korban seperti habis dirudapaksa ada kerusakan disana. Hanya saja tidak satu pun ditemukan ceceran sperma. Dibagian itu yang masih membuatku bertanya -tanya “
Lena tidak bisa menahan diri mengajukan pertanyaan yang sama pada dokter Johan.
“Untuk diapakan, Dokter?”
Wajah yang ditanya tampak bertambah murung. Dan nada suaranya sungguh-sungguh, sewaktu ia berujar getir.
“Andai kata kami tahu ...” menarik nafas panjang sejenak, ia kemudian meneruskan.
“Pernah dengar tentang penganut ilmu hitam ataupun sekte sesat ? Yang memakan bagian tertentu dari tubuh sesama manusia... untuk melengkapi sebuah upacara ritual?”
Lena diam. Kerongkongannya seperti tersumbat.
“Itulah yang kumaksudkan tadi, Lena...”
Terdengar Badrol bergumam. Lirih.
“... pemuja setan!”
Dari arah pintu ruang bedah, bau formalin tercium semakin keras. Bau yang sangat tajam dan menusuk.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, mereka berdua langsung berhadapan dengar seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun. Posturnya gemuk, dengan rambut beruban dan wajah tampak seperti orang baru bangun dari tidur. Lusuh dan tidak ramah. Duduk santai di belakang meja sambil menikmati minumannya yang berada di dalam gelas.
“Eh, kau lagi Sersan!” ia menyambut dengan suara berat dan serak.
“Apa ada yang masih kurang pada keteranganku tadi?”
“Lebih dari cukup, dokter Johan'“ jawab Badrol disertai seringai lebar.
“Hanya saja aku kuatir salah menjelaskan pada temanku ini…”
Lena kemudian diperkenalkan. Jabatan tangan yang ia terima ternyata lembut dan hangat.
“ Ayo, silakan duduk. Rileks saja.”
Lena melirik ke samping karena pintu tembut ke ruangan sebelah dalam keadaan setengah terbuka. Memang dari tempat Lena duduk tidak terlihat apapun kecuali lantai yang tampak balas menatap dengan pandangan dingin. Namun dari pintu itu tercium bau keras formalin. Dan mengingat siapa tuan rumahnya, pastilah yang di balik pintu itu ruang bedah mayat.
Sialnya lagi, sewaktu memalingkan muka dari pintu setengah terbuka itu, ekor mata Lena secara tidak disengaja memandang ke sebuah gelas besar di atas meja. Meja itu berukuran sangat besar di bandingkan dengan gelas pada umumnya. Mungkin kapasitasnya bisa mencapai satu liter air. Bukan ukuran gelas itu yang membuat Lena sedikit merinding akan tetapi apa yang tersimpan di dalam gelas.
Sebuah cairan kental pekat berwarna merah darah. Dokter Johan rupanya menangkap arah lirikan ekor mata tamunya. Maka sebagai tuan rumah yang baik, gelas besar itu ia dorongkan lebih dekat ke depan Badrol dan Lena.
Sambil berkata, gembira. “Jangan kuatir. Aku tidak meminum darah para pasien ku ...”
Ia gerakkan dagu ke arah pintu ruang bedah.
“Ini minuman orang desa, minuman khas untuk stamina biar kuat melek. Ini wedang secang butan istriku di rumah jadi lebih keras daripada yang dijual di luar. Silakan dicoba. Enak kok”
Badrol menanggapi dengan seringai lebar.
Lena, dengan suara setengah menggigil: “... terima kasih.”
Karena tidak ada yang menyentuh, dokter Johan menarik kembali gelas besar itu itu ke dekatnya. Dengan sekali teguk cairan merah pekat itu telah berpindah ke lambung sang dokter.
“Nah, apa yang bisa kubantu ?”
Karena wajah Lena tampak seperti tidak enak badan, Badrol segera memaklumi. Sersan polisi itu batuk-batuk kecil sebentar. Lantas mengambil inisiatip.
“Begini, Dokter. Seperti tadi kukatakan...”
Dan pembicaraan santai pun berlangsung. Diseling sejumlah istilah kedokteran forensik, yang oleh Lena beberapa kali minta dieja atau diulangi tuan rumah, agar Lena tidak sampai salah tulis. Buntut dari pembicaraan akhirnya tiba juga pada urusan senjata yang dipergunakan oleh si pembunuh. Di situlah sikap santai dokter Johan menghilang perlahan-lahan.
“... bagian yang ini, terus terang sifatnya, rahasia...!” ia berkata dengan wajah serius.
“Alasannya?” tanya Lena. Tidak mau langsung main terima begitu saja.
“Bila dimuat oleh media cetak, masyarakat umum akan terganggu. Dan aku akan dijagal bukan lagi sebagai penjagal!”
Lena terpaksa menyerah. “Aku siap mendengar, Dokter...”
“Apa yang kami perkirakan semula, ternyata keliru!” dokter Johan berkata dengan wajah murung.
“Alat yang dipergunakan mencacah wajah dan merobek lambung korban, bukanlah senjata tajam biasa atau sudah umum dikenal. Melainkan semacam cakar!”
“Cakar? Apakah maksud dokter, anjing-anjing itu…”
“Memang ada kemiripannya Hanya, yang ini berlipat ganda lebih besar dan lebih tajam dari cakar anjing. Dengan kemampuan merobek atau merenggut bertenaga luar biasa kuat. Apa atau siapa pun pemilik cakar mengerikan itu. Satu hal kami merasa pasti. Bukan anjing-anjing itu, melainkan si pembunuh lah yang telah mengambil isi perut dan jantung korban beserta kulit wajahnya. Soal luka di organ intim korban seperti habis dirudapaksa ada kerusakan disana. Hanya saja tidak satu pun ditemukan ceceran sperma. Dibagian itu yang masih membuatku bertanya -tanya “
Lena tidak bisa menahan diri mengajukan pertanyaan yang sama pada dokter Johan.
“Untuk diapakan, Dokter?”
Wajah yang ditanya tampak bertambah murung. Dan nada suaranya sungguh-sungguh, sewaktu ia berujar getir.
“Andai kata kami tahu ...” menarik nafas panjang sejenak, ia kemudian meneruskan.
“Pernah dengar tentang penganut ilmu hitam ataupun sekte sesat ? Yang memakan bagian tertentu dari tubuh sesama manusia... untuk melengkapi sebuah upacara ritual?”
Lena diam. Kerongkongannya seperti tersumbat.
“Itulah yang kumaksudkan tadi, Lena...”
Terdengar Badrol bergumam. Lirih.
“... pemuja setan!”
Dari arah pintu ruang bedah, bau formalin tercium semakin keras. Bau yang sangat tajam dan menusuk.
Quote:
SEBUAH hotel berbintang empat di kawasan Jogja yang mempunyai tujuh lantai sebentar lagi akan diresmikan. Selain dilengkapi dengan fasilitas olah raga dan fitness hall, hotel itu juga menyediakan sarana hiburan dari diskotik, cafe, karaoke, sauna, massage dan sebagainya. Hotel itu membutuhkan beberapa karyawan dan karyawati untuk bagian-bagian tertentu.
Maka berdatanganlah para pelamar kerja dari berbagal lulusan SD sampai sarjana S1. Tentu saja mereka membawa lamaran kerja yang dilengkapi dengan ijazah terakhir beserta berkas - berkas lainnya. Tidak peduli untuk bagi resepsionis, roomboy, waitress cafe, security, massage girl, bargirl guide dan yang lainnya. Semua harus melengkapi berkas lamaran yang sudah ditentukan.
Tapi pada kenyataannya ada seorang pelamar yang menyerahkan berkas lamarannya tanpa disertai ijazah terakhir dan berkas lainnya. Pelamar itu hanya menyerahkan dua lembar pas foto, surat lamaran untuk bagian cleaning service dan fotocopy ijazah. Semuanya berada dalam map berharga murah, dan diserahkan sendiri pada saat lowongan kerja itu dinyatakan telah ditutup.
“ Ada seorang pelamar lagi yang mendesak agar permohonannya dipertimbangkan " kata Vera seorang staf personalia kepada atasannya.
" Kan sudah ditutup sejak 5 hari yang lalu, tolong katakan pada orang itu. Sudah sudah sangat terlambat !"
"Tapi dia mendesak Bu. Sudah saya sampaikan berkali –kali. Akan teteapi, orang itu ngotot dan tidak mau pergi. Dan lagi..... sepertinya memang perlu dipertimbangkan. Yang ini lain daripada yang lain, Bu"
"Ah, bisa saja kamu, Ver, " kepala personalia itu tertawa kecil.
"Coba Ibu perhatikan dulu fotonya."
Kepala personalia itu memperhatikan pas foto yang diselipkan dalam surat lamaran orang tersebut.
"Hmmm. .." ia pun manggut-manggut sesaat.
" Oh, dia mau melamar sebagai cleaning service?"
"Memang, Bu."
"Kalau begitu, kau serahkan saya pada Nancy. karena dia nanti yang akan menjadi manager untuk bagian itu "
Berkas lamaran yang sangat sederhana an berkesan nekat itu akhirnya sampai di tangan seorang perempuan paruh baya akan tetapi masih terlihat muda sangat bertolak belakang dengan umurnya yang sudah berkepala empat itu. Nancy Aksana namanya. Ia sudah lama menjanda dengan dua anak yang kini telah bekerja di luar negeri. Setelah mendengar penuturan Vera dan melihat foto si pelamar. Cepat dengan pandangan mata tak mau berpindah ke arah lain. Senyum Nancy pun terasa kaku dan agak salah tingkah sewaktu menyuruh pelamar itu duduk di bangku depannya.
Dia adalah seorang pria yang masih muda memiliki perawakan tinggi dengan wajah tidak terlalu kekar namun tegap. Wajahnya sangat tampan. Hidungnya mancung tapi tidak terlalu panjang. Wajahnya yang semi oval mempunyai bibir sedikit tebal. Tapi sangat sensual. Ranum menyegarkan. Matanya bening, agak lebar, tapi punya daya pesona yang memukau dan memaksa lawan jenisnya berdecak mengaguminya. Pria muda berambut ikal itu memiliki senyum yang begitu indah menawan hati, bahkan sanggup membuat Nancy menahan napas selama 10 detik hanya untuk menikmati senyuman tersebut.
"Baru sekarang kulihat seorang pria yang begini menarik dan mempesonanya dan punya daya tarik luar biasa besarnya. Dia seperti menyimpan magnit pemikat yang membuat setiap perempuan selalu berhasrat untuk dapat kencan dengannya "
"Ah, gila! Napasku jadi sesak meredam emosi keindahanku sendiri," pikir Nancy sambil berusaha menenangkan diri dan tetap menjaga sikap baiknya.
"Ketenangannya dalam menatapku menandakan bahwa ia punya mental cukup kuat. Cahaya matanya yang bening tapi tajam itu menunjukkan bahwa ia adalah lelaki yang genius, setidaknya cerdas. Ia punya kharisma tersendiri. Tapi kenapa dalam daftar riwayat hidupnya ia mengaku hanya tamat SMP saja.
" Apa tidak salah ini"
Melihat sikap duduknya saja udah seperti seorang yang berpengalaman dalam bidang pekerjaan yang bonafit atau seorang public relation yang handal dalam melobby rekan bisnis. Masa' iya cuma tamatan SMP?"
Pertanyaan batin Nancy itu akhirnya dinyatakan dalam kata-kata.
"Anda tidak salah tulis?"
“ Di sini anda menyebutkan pendidikan terakhir adalah SMP. Apa benar begitu?"
"Benar. Memang ijazah yang saya miliki cuma ijazah SMP. Masa' harus bilang tamat SMU, kan tidak lucu itu?", sambil ia tertawa kecil dalam bentuk senyum tipis.
Senyum indah yang sangat mahal nilainya. Dan sekali lagi Nancy tertegun mengagumi senyum itu sambil manggut-manggut. Diam-diam napasnya ditarik dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh dalam dada yang ditimbulkan akibat rasa gemas ingin menggigit bibir itu.
"Anda juga tidak salah melamar?"
“ Benar benar mau menjadi cleaning servicedi sini?"
"Ya, karena memang hanya beres –beres dan bersih -bersih kebiasaan saya," jawabnya lagi dengan nada tenang, ringan dan santai. Bahkan cenderung berkesan masa bodoh.
"Padahal menurut saya... Anda pantas menjadi seorang resepsionis atau di bagian publik relation, atau kasir atau di bagian manager marketing...."
"Apakah masih ada kesempatan di bidang itu?" potongnya dengan tatapan mata masih tertuju lurus ke wajah Nancy. Yang dipandang menjadi serba salah lagi dalam senyuman kakunya.
"Kalau... kalau memang anda berminat di bagian lain, saya akan usahakan. Sebab menurut saya, alangkah sayangnya anda bekerja sebagai tukang bersih -bersih sementara anda mempunyai wajah dan penampilan... sangat lumayan. Saya yakin anda pasti bukan hanya tamatan SMP. Sikap Anda sangat berbeda jauh dengan sikap sesorang lulusan SMP yang sering saya jumpai "
"ltu terserah saja... mau dikatakan lulusan SMU atau SMK... terserah Ibu. Yang jelas saya sudah mengaku apa adanya. Itu pun nggak bisa saya buktikan karena ijazah saya ada di kampung. Kalau memang dibutuhkan akan saya ambil. Tapi itu berarti saya harus pulang kampung dulu."
"Coba saya mau cocokkan data yang ada di sini dengan jawaban anda secara lisan. Saya ingin tahu, berapa usia Anda?"
"Dua puluh delapan tahun."
Nancy mencocokkan dengan data yang ditulis dalam berkas lamaran tersebut. Ternyata memang benar.
"Tanggal dan bulan lahir?"
'"Dua puluh delapan Februari."
"Tinggi badan?"
"Seratus delapan puluh centimeter "
"Hmm...ya... benar juga. Lalu nama lengkap Anda, tolong sebutkan seperti yang Anda tulis di sini “
"Prakoso Sasmita"
Sampai di situ Nancy diam tertegun kagum nama itu sangat indah, menurutnya seakan -akan punya pengaruh sendiri dalam hati orang yang mendengarnya.
Maka berdatanganlah para pelamar kerja dari berbagal lulusan SD sampai sarjana S1. Tentu saja mereka membawa lamaran kerja yang dilengkapi dengan ijazah terakhir beserta berkas - berkas lainnya. Tidak peduli untuk bagi resepsionis, roomboy, waitress cafe, security, massage girl, bargirl guide dan yang lainnya. Semua harus melengkapi berkas lamaran yang sudah ditentukan.
Tapi pada kenyataannya ada seorang pelamar yang menyerahkan berkas lamarannya tanpa disertai ijazah terakhir dan berkas lainnya. Pelamar itu hanya menyerahkan dua lembar pas foto, surat lamaran untuk bagian cleaning service dan fotocopy ijazah. Semuanya berada dalam map berharga murah, dan diserahkan sendiri pada saat lowongan kerja itu dinyatakan telah ditutup.
“ Ada seorang pelamar lagi yang mendesak agar permohonannya dipertimbangkan " kata Vera seorang staf personalia kepada atasannya.
" Kan sudah ditutup sejak 5 hari yang lalu, tolong katakan pada orang itu. Sudah sudah sangat terlambat !"
"Tapi dia mendesak Bu. Sudah saya sampaikan berkali –kali. Akan teteapi, orang itu ngotot dan tidak mau pergi. Dan lagi..... sepertinya memang perlu dipertimbangkan. Yang ini lain daripada yang lain, Bu"
"Ah, bisa saja kamu, Ver, " kepala personalia itu tertawa kecil.
"Coba Ibu perhatikan dulu fotonya."
Kepala personalia itu memperhatikan pas foto yang diselipkan dalam surat lamaran orang tersebut.
"Hmmm. .." ia pun manggut-manggut sesaat.
" Oh, dia mau melamar sebagai cleaning service?"
"Memang, Bu."
"Kalau begitu, kau serahkan saya pada Nancy. karena dia nanti yang akan menjadi manager untuk bagian itu "
Berkas lamaran yang sangat sederhana an berkesan nekat itu akhirnya sampai di tangan seorang perempuan paruh baya akan tetapi masih terlihat muda sangat bertolak belakang dengan umurnya yang sudah berkepala empat itu. Nancy Aksana namanya. Ia sudah lama menjanda dengan dua anak yang kini telah bekerja di luar negeri. Setelah mendengar penuturan Vera dan melihat foto si pelamar. Cepat dengan pandangan mata tak mau berpindah ke arah lain. Senyum Nancy pun terasa kaku dan agak salah tingkah sewaktu menyuruh pelamar itu duduk di bangku depannya.
Dia adalah seorang pria yang masih muda memiliki perawakan tinggi dengan wajah tidak terlalu kekar namun tegap. Wajahnya sangat tampan. Hidungnya mancung tapi tidak terlalu panjang. Wajahnya yang semi oval mempunyai bibir sedikit tebal. Tapi sangat sensual. Ranum menyegarkan. Matanya bening, agak lebar, tapi punya daya pesona yang memukau dan memaksa lawan jenisnya berdecak mengaguminya. Pria muda berambut ikal itu memiliki senyum yang begitu indah menawan hati, bahkan sanggup membuat Nancy menahan napas selama 10 detik hanya untuk menikmati senyuman tersebut.
"Baru sekarang kulihat seorang pria yang begini menarik dan mempesonanya dan punya daya tarik luar biasa besarnya. Dia seperti menyimpan magnit pemikat yang membuat setiap perempuan selalu berhasrat untuk dapat kencan dengannya "
"Ah, gila! Napasku jadi sesak meredam emosi keindahanku sendiri," pikir Nancy sambil berusaha menenangkan diri dan tetap menjaga sikap baiknya.
"Ketenangannya dalam menatapku menandakan bahwa ia punya mental cukup kuat. Cahaya matanya yang bening tapi tajam itu menunjukkan bahwa ia adalah lelaki yang genius, setidaknya cerdas. Ia punya kharisma tersendiri. Tapi kenapa dalam daftar riwayat hidupnya ia mengaku hanya tamat SMP saja.
" Apa tidak salah ini"
Melihat sikap duduknya saja udah seperti seorang yang berpengalaman dalam bidang pekerjaan yang bonafit atau seorang public relation yang handal dalam melobby rekan bisnis. Masa' iya cuma tamatan SMP?"
Pertanyaan batin Nancy itu akhirnya dinyatakan dalam kata-kata.
"Anda tidak salah tulis?"
“ Di sini anda menyebutkan pendidikan terakhir adalah SMP. Apa benar begitu?"
"Benar. Memang ijazah yang saya miliki cuma ijazah SMP. Masa' harus bilang tamat SMU, kan tidak lucu itu?", sambil ia tertawa kecil dalam bentuk senyum tipis.
Senyum indah yang sangat mahal nilainya. Dan sekali lagi Nancy tertegun mengagumi senyum itu sambil manggut-manggut. Diam-diam napasnya ditarik dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh dalam dada yang ditimbulkan akibat rasa gemas ingin menggigit bibir itu.
"Anda juga tidak salah melamar?"
“ Benar benar mau menjadi cleaning servicedi sini?"
"Ya, karena memang hanya beres –beres dan bersih -bersih kebiasaan saya," jawabnya lagi dengan nada tenang, ringan dan santai. Bahkan cenderung berkesan masa bodoh.
"Padahal menurut saya... Anda pantas menjadi seorang resepsionis atau di bagian publik relation, atau kasir atau di bagian manager marketing...."
"Apakah masih ada kesempatan di bidang itu?" potongnya dengan tatapan mata masih tertuju lurus ke wajah Nancy. Yang dipandang menjadi serba salah lagi dalam senyuman kakunya.
"Kalau... kalau memang anda berminat di bagian lain, saya akan usahakan. Sebab menurut saya, alangkah sayangnya anda bekerja sebagai tukang bersih -bersih sementara anda mempunyai wajah dan penampilan... sangat lumayan. Saya yakin anda pasti bukan hanya tamatan SMP. Sikap Anda sangat berbeda jauh dengan sikap sesorang lulusan SMP yang sering saya jumpai "
"ltu terserah saja... mau dikatakan lulusan SMU atau SMK... terserah Ibu. Yang jelas saya sudah mengaku apa adanya. Itu pun nggak bisa saya buktikan karena ijazah saya ada di kampung. Kalau memang dibutuhkan akan saya ambil. Tapi itu berarti saya harus pulang kampung dulu."
"Coba saya mau cocokkan data yang ada di sini dengan jawaban anda secara lisan. Saya ingin tahu, berapa usia Anda?"
"Dua puluh delapan tahun."
Nancy mencocokkan dengan data yang ditulis dalam berkas lamaran tersebut. Ternyata memang benar.
"Tanggal dan bulan lahir?"
'"Dua puluh delapan Februari."
"Tinggi badan?"
"Seratus delapan puluh centimeter "
"Hmm...ya... benar juga. Lalu nama lengkap Anda, tolong sebutkan seperti yang Anda tulis di sini “
"Prakoso Sasmita"
Sampai di situ Nancy diam tertegun kagum nama itu sangat indah, menurutnya seakan -akan punya pengaruh sendiri dalam hati orang yang mendengarnya.
Diubah oleh breaking182 05-05-2019 00:09
MontanaRivera dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas