- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#15
Malam ini.. gw menitikan air mata..
Atas apa yang gw anggap benar beberapa tahun ini, Sampai-sampai, gw merampas pertemanan, sosial pun kewarasan yang gw anggap paling waras. Memang, kita sebagai manusia punya mimpi, harapan dan keyakinan.. atas apapaun itu, termasuk keberlanjutan dan kesuksesan Negeri ini dalam mengarungi lautan zaman. Meski gw seorang rakyat biasa, kecil dan apalah artinya. Meski gw punya harta, ternyata.. jiwa gw masih bisa luluh diantara mereka yang jumbo hartanya, Apalagi, harta itu hasil dari drama-drama awan yang membikin kita, gw dan siapapun yang sampai detik ini terseret kedalam drama para Anjing-anjing kapitalis.
Gw nangis tatkala tahun ini gw memutuskan untuk tidak Golput, dan itu artinya gw harus memilih dengan segenap konsekwensi yang akan terjadi nantinya, terlepas salah atu benar, semua itu tak bisa dipisahkan, terlalu rumit, berkaitan dan tak pernah bisa di urai, pun kalau di urai, pasti akan ada darah.. darah dan darah.
Kesimpulan dan kesadaran macam itu hanya akan muncul bagi mereka yang telah lepas dan bebas akan segala hal yang kadang teramat tanpa busana diantara nyata dan narasi.
Sekali lagi, gw nangis saat nonton Sexy killer.

Pun sampai filem dokumenter? itu selesai.. gw masih mengigil nyeri, entah karena apa. Yang jelas, tak peduli milih 01 atau 02, gw merasa bersalah telah mendukung salah satu dari mereka, meski.. gw juga masih punya keyakinan, harapan.. kalau salah satu dari mereka bisa memberikan solusi. Berkaca, mau memutus permasalahan yang saling berkaitan juga tidak mungkin, satu dijegal.. yang satu nggak terima, yang nggak terima di singkirkan, yang satunya lagi nggak terima. Sulit.
Jika melihat peta dan pemetaan siapa-siapa aktor utama dari adanya carutmarut itu, hampir salah dan bener bukan lagi sesuatu yang salah, apalagi bener.
Yang jelas, semua itu sudah setengah jalan, pun kalau mau di putus, pasti pecah ditengah jalan, lebih tepatnya bukan mereka-mereka yang terafeliasi, tapi.. rakyat bawah yang akan berdarah-darah.
Ibu pertiwi akan selalu di kebiri oleh putra-putrinya. Pun kalau ada satu sampai seribu yang buka suara, itu semua tak lebih dari guyonan, basi dan sampah. Apalagi, wawasan sejauh itu.. nisbi adanya. Apalagi, kita yang waras sampai yang nggak waras, terus disibukkan dengan narasi-narasi, isu-isu samai kita lupa, nggak tau, butaakan apa yang sebenarnya terjadi dan sedang di kerjakan di Negeri ini.
Kita mati-matian berebut tulang, kita mati-matian membele delusi, kita mati-matian berebut surga.. tapi nyatanya, surga di negeri ini disedot orang lain kita tak menyadarinya. Anak-anak Ibu pertiwi juga, mereka-mereka yang kita beri kepercayaan dan mereka-mereka yang kita anggap bisa, namun nyatanya, mereka sama saja. Masih tak jauh dari Udang dibalik Tepung.
Lantas, kita mau bagaimana? apa yang harus kita lakukan?
Ibarat kita mau memberedel Barat, tapi semua sumberdaya di miliki barat? bukankah kita hanya koar-koar yang semakin kesini hanya menimbulkan pro dan kontra diantara kita. Tanpa tau dan paham apa yang sebenarnya terjadi.
Kita !!
Maju tak bermuka, Berhenti tergilas dan mundurpun terasa dan memang akan mati, tergilas dan pecundang.
Ada banyak manusia yang empati, tergugah nuraninya, tapi.. di suatu jalan, nafasnya habis karena nafas manusia, kalah sama mereka yang bernafas ganda.
Lantas, Tuhanku kemana? apakah Tuhan ak mendengar kita yang kecil? setelah suara dan nalar kita di kebiri, digiring untuk sesuatu yang lain? sesuatu yang memang sudah di desingn, biar kita berfikir dan bergerak kesana?
Ya Tuhan..
Dosa gw tahun ini adalah dosa atas kecerobohan gw. Meski gw mewanti-wanti, tapi.. buaian dan keterbenturan itu membuat gw jadi orang pasaran.
Gw menyesal, namun gw tak akan menyesal kepada sebuah harapan, semoga.. gw masih diberi umur panjang, agar bisa melihat mereka.. bagaimana saat mereka meregang nyawa, melihat.. mereka mati. Atas dasar perbuatan dan perihnya Ibu pertiwi. Atas nama apapun, bener adanya.. namun, kebenaran yang ia peroleh untuk membenarkan pula, hal-hal yang seharusnya nggak mereka lakukan.
Tak peduli kiri atau kanan, mereka masih punya kait erat hubungan. Gimik mereka bertengkar, sampai kita yang dibawah ikut merasakan panasnya udara. Tanpa kita tau, kalau itu semua untuk membunuh kerasionalan kita, membunuh pola pikir dan nalar kemanusiaan kita.
Sampai kapan akan seperti ini?
Jika saja Tuhan masih ada dan mau, mungkin gw akan minta, BEREDEL-LAH mereka yang menyembunyikan bangkai dipungungnya. Macam sabda Gus Dur, mereka-mereka yang bajingan akan jadi gelandangan seumur hidupnya.
GUSS..
Kenapa hanya gelandangan? kenapa nggak Njenegan doakan mati bergelantungan, Tengelam dan musnah sekalian. Toh, kegelandangan mereka terus menyusahkan kita yang hidup dan berderma sebagai manusia biasa. Rakyat dan jelata.
STOP !!
Bicara agama, stop engkel-engkelan atas nama agama, suku, ras, dan hal-hal yang memang sudah di design untuk bahan pembusukan dan pemusnahan Rakyat jelata.
Alihkan pandangan, buka mata, jaga hati.. jaga kewarasan, keluar dari zona nyaman, dan perbanyak tanya kenapa? kok bisa? dan sebagainya.
Kita, hanya akan jadi tumbal dan bahan pengalih isu.
Sungguh, kewarasan gw tersakiti malam ini.
Atas apa yang gw anggap benar beberapa tahun ini, Sampai-sampai, gw merampas pertemanan, sosial pun kewarasan yang gw anggap paling waras. Memang, kita sebagai manusia punya mimpi, harapan dan keyakinan.. atas apapaun itu, termasuk keberlanjutan dan kesuksesan Negeri ini dalam mengarungi lautan zaman. Meski gw seorang rakyat biasa, kecil dan apalah artinya. Meski gw punya harta, ternyata.. jiwa gw masih bisa luluh diantara mereka yang jumbo hartanya, Apalagi, harta itu hasil dari drama-drama awan yang membikin kita, gw dan siapapun yang sampai detik ini terseret kedalam drama para Anjing-anjing kapitalis.
Gw nangis tatkala tahun ini gw memutuskan untuk tidak Golput, dan itu artinya gw harus memilih dengan segenap konsekwensi yang akan terjadi nantinya, terlepas salah atu benar, semua itu tak bisa dipisahkan, terlalu rumit, berkaitan dan tak pernah bisa di urai, pun kalau di urai, pasti akan ada darah.. darah dan darah.
Kesimpulan dan kesadaran macam itu hanya akan muncul bagi mereka yang telah lepas dan bebas akan segala hal yang kadang teramat tanpa busana diantara nyata dan narasi.
Sekali lagi, gw nangis saat nonton Sexy killer.

Pun sampai filem dokumenter? itu selesai.. gw masih mengigil nyeri, entah karena apa. Yang jelas, tak peduli milih 01 atau 02, gw merasa bersalah telah mendukung salah satu dari mereka, meski.. gw juga masih punya keyakinan, harapan.. kalau salah satu dari mereka bisa memberikan solusi. Berkaca, mau memutus permasalahan yang saling berkaitan juga tidak mungkin, satu dijegal.. yang satu nggak terima, yang nggak terima di singkirkan, yang satunya lagi nggak terima. Sulit.
Jika melihat peta dan pemetaan siapa-siapa aktor utama dari adanya carutmarut itu, hampir salah dan bener bukan lagi sesuatu yang salah, apalagi bener.
Yang jelas, semua itu sudah setengah jalan, pun kalau mau di putus, pasti pecah ditengah jalan, lebih tepatnya bukan mereka-mereka yang terafeliasi, tapi.. rakyat bawah yang akan berdarah-darah.
Ibu pertiwi akan selalu di kebiri oleh putra-putrinya. Pun kalau ada satu sampai seribu yang buka suara, itu semua tak lebih dari guyonan, basi dan sampah. Apalagi, wawasan sejauh itu.. nisbi adanya. Apalagi, kita yang waras sampai yang nggak waras, terus disibukkan dengan narasi-narasi, isu-isu samai kita lupa, nggak tau, butaakan apa yang sebenarnya terjadi dan sedang di kerjakan di Negeri ini.
Kita mati-matian berebut tulang, kita mati-matian membele delusi, kita mati-matian berebut surga.. tapi nyatanya, surga di negeri ini disedot orang lain kita tak menyadarinya. Anak-anak Ibu pertiwi juga, mereka-mereka yang kita beri kepercayaan dan mereka-mereka yang kita anggap bisa, namun nyatanya, mereka sama saja. Masih tak jauh dari Udang dibalik Tepung.
Lantas, kita mau bagaimana? apa yang harus kita lakukan?
Ibarat kita mau memberedel Barat, tapi semua sumberdaya di miliki barat? bukankah kita hanya koar-koar yang semakin kesini hanya menimbulkan pro dan kontra diantara kita. Tanpa tau dan paham apa yang sebenarnya terjadi.
Kita !!
Maju tak bermuka, Berhenti tergilas dan mundurpun terasa dan memang akan mati, tergilas dan pecundang.
Ada banyak manusia yang empati, tergugah nuraninya, tapi.. di suatu jalan, nafasnya habis karena nafas manusia, kalah sama mereka yang bernafas ganda.
Lantas, Tuhanku kemana? apakah Tuhan ak mendengar kita yang kecil? setelah suara dan nalar kita di kebiri, digiring untuk sesuatu yang lain? sesuatu yang memang sudah di desingn, biar kita berfikir dan bergerak kesana?
Ya Tuhan..
Dosa gw tahun ini adalah dosa atas kecerobohan gw. Meski gw mewanti-wanti, tapi.. buaian dan keterbenturan itu membuat gw jadi orang pasaran.
Gw menyesal, namun gw tak akan menyesal kepada sebuah harapan, semoga.. gw masih diberi umur panjang, agar bisa melihat mereka.. bagaimana saat mereka meregang nyawa, melihat.. mereka mati. Atas dasar perbuatan dan perihnya Ibu pertiwi. Atas nama apapun, bener adanya.. namun, kebenaran yang ia peroleh untuk membenarkan pula, hal-hal yang seharusnya nggak mereka lakukan.
Tak peduli kiri atau kanan, mereka masih punya kait erat hubungan. Gimik mereka bertengkar, sampai kita yang dibawah ikut merasakan panasnya udara. Tanpa kita tau, kalau itu semua untuk membunuh kerasionalan kita, membunuh pola pikir dan nalar kemanusiaan kita.
Sampai kapan akan seperti ini?
Jika saja Tuhan masih ada dan mau, mungkin gw akan minta, BEREDEL-LAH mereka yang menyembunyikan bangkai dipungungnya. Macam sabda Gus Dur, mereka-mereka yang bajingan akan jadi gelandangan seumur hidupnya.
GUSS..
Kenapa hanya gelandangan? kenapa nggak Njenegan doakan mati bergelantungan, Tengelam dan musnah sekalian. Toh, kegelandangan mereka terus menyusahkan kita yang hidup dan berderma sebagai manusia biasa. Rakyat dan jelata.
STOP !!
Bicara agama, stop engkel-engkelan atas nama agama, suku, ras, dan hal-hal yang memang sudah di design untuk bahan pembusukan dan pemusnahan Rakyat jelata.
Alihkan pandangan, buka mata, jaga hati.. jaga kewarasan, keluar dari zona nyaman, dan perbanyak tanya kenapa? kok bisa? dan sebagainya.
Kita, hanya akan jadi tumbal dan bahan pengalih isu.
Sungguh, kewarasan gw tersakiti malam ini.
tikusil dan 5 lainnya memberi reputasi
6