TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Kamen Rider Blitzer
![[FanFic] Kamen Rider Blitzer](https://dl.kaskus.id/ic.pics.livejournal.com/arielmatsuyama/83052924/5659/5659_900.png)
Kamen Rider Blitzer (仮面ライダー ブリッツァー)
Genre:Action | Drama | Adventure
Quote:
ATTENTION:
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Spoiler for List Episode:
Episode 1: Hobi Membunuh
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
Spoiler for Realms:
*Theme Song
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
Quote:
Cerita ini juga diterbitkan di: WATTPAD
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 08-02-2020 18:50
0
12.2K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•359Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#11
Spoiler for Episode 2 Act 2:
Sementara itu, di sebuah pom bensin Kota Zippon, terlihat banyak sekali polisi tengah berkelahi dengan lima orang berpakaian serba hitam yang menamakan diri mereka 'Gerombolan Raja Minyak'. Mereka memakai ikat kepala berwarna hitam dan bertuliskan 'Gerombolan Raja Minyak' berwarna merah. Meski jumlah polisi tersebut lebih banyak, namun mereka nampak kuwalahan menghadapi Gerombolan Raja Minyak yang kemampuan beladirinya sangat hebat. Para polisi tidak menggunakan pistol mereka karena bisa membuat pom bensin meledak.
Polisi-polisi tersebut dibuat roboh satu persatu dan pingsan, membuat pom bensin itu dipenuhi tubuh polisi dimana-mana.
"Hraaaa!!!" teriak salah seorang pria anggota Gerombolan Raja Minyak berambut 'mohawk' seraya melancarkan tendangan terbang dengan kaki kanan ke dada salah satu polisi.
Darah segar langsung menyembur dari mulut sang polisi begitu ia kena tendang. Ia pun terpental dan jatuh pingsan. Itu adalah yang terakhir, karena polisi yang lainnya sudah pingsan sebelum dia.
Si rambut mohawk berjalan ke arah pria berambut cepak, berbaju kemeja oranye lengkap dengan celana panjang berwarna senada yang merupakan satu-satunya pekerja di pom bensin itu. Pekerja yang lain sudah lari dari tempat tersebut.
Pria pekerja itu gemetaran tatkala ditatap dengan tajam oleh si rambut mohawk. Mulut lebar dan bibir tebalnya bergetar. Matanya yang sayu tak berani menatap mata si rambut mohawk lebih lama lagi.
"Cepat masukkan semua bensin yang ada disini ke jeriken yang ada di mobil kami!" perintah si rambut mohawk yang kemudian menunjuk mobil pick up hitam yang terparkir dekat pom bensin. Di mobil tersebut ada tujuh jeriken besar berwarna hijau lumut.
"B-b-baik!" balas si pekerja dengan terbata dan ketakutan. Ia pun lalu mengisi jeriken besar yang ada di dalam mobil pick up yang ditunjuk si rambut mohawk satu persatu.
Setelah semua derijen terisi penuh, Gerombolan Raja Minyak berpakaian serba hitam itu langsung naik ke mobil, dua orang di depan dan tiga orang lagi di bak mobil. Setelah itu, Gerombolan Raja Minyak dengan mobilnya pergi dari pom bensin tersebut.
Beberapa menit kemudian, Gerombolan Raja Minyak itu sampai di sebuah rumah besar yang ada di dalam hutan. Mobil pick up milik kelompok tersebut berhenti di depan rumah itu. Setelah Gerombolan Raja Minyak turun dari mobil, mereka menurunkan dua jeriken besar yang ada di bak mobil lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Yang membawa adalah si rambut mohawk dan seorang lagi yang berambut botak.
Selangkah demi selangkah akhirnya Gerombolan Raja Minyak itu sampai di sebuah ruangan dengan 'singgasana' berkursi putih corak merah. Di singgasana itu, duduklah seseorang berjubah dan bertudung hitam.
"Yang mulia, ini bensinnya!" ucap si botak seraya menaruh jeriken berisi bensin yang ia bawa ke depan singgasana orang berjubah hitam itu.
Si rambut mohawk juga menaruh bensin yang dibawanya itu ke depan singgasana si jubah hitam. "Sesuai permintaan anda yang mulia, dua jeriken kami bawa ke hadapan anda, dan beberapa jeriken lagi dijual dengan harga mahal oleh anggota yang lain yang punya tugas khusus menjual bensin."
Orang berjubah hitam itu mengangguk. Ia lalu berdiri dari singgasananya dan membuka tutup salah satu jeriken, mengangkat jeriken tersebut dengan kedua tangannya, menempelkan mulutnya di lubang jeriken tersebut kemudian meminum isinya hingga tinggal setengah. Setelah itu ia menaruh kembali jeriken berisi bensin tersebut.
"Apakah kami boleh pergi sekarang?" tanya si rambut mohawk dan si botak bersamaan.
Orang berjubah hitam itu mengangguk.
"Terimakasih, yang mulia!!" ujar si mohawk dan si botak seraya membungkukkan badannya.
=***=
Kembali ke Aizawa University.
Ketika jam istirahat tiba, Izumi, Fumiko, dan satu orang perempuan lagi bernama Shizuno duduk-duduk di tangga keramik. Mereka bertiga asyik sekali mengobrol dan sesekali terlihat tertawa karena obrolan yang lucu.
Shizuno merapihkan rambut kuncir duanya, lalu membentulkan kacamatanya yang miring. Matanya yang besar dan berwarna biru terlihat indah dibalik kacamatanya. Wajahnya bulat dengan hidung mancung, daun telinga agak besar, dan bibir 'sensual berbalut lipstik.
"Aku salut padamu, Izumi," ucap Shizuno. Ia mengenakan t-shirt putih yang dibalut jaket hijau. Celana panjang katunnya yang juga berwarna hijau membungkus kakinya yang jenjang walau diantara Izumi dan Fumiko dialah yang paling pendek.
"Salut karena apa??" Izumi mengangkat alisnya.
"Karena kau dinobatkan menjadi mahasiswi tercantik di kelas kita," jawab Shizuno.
Semburat merah langsung muncul di kedua pipi Izumi. "Ah, kau membuatku malu."
"Tapi kau memang sangat cantik kok," timpal Fumiko. "Bukan hanya dosen yang menilai seperti itu, tapi hampir semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas."
"Hehe... Terimakasih." Semburat merah kembali muncul di kedua pipi Izumi.
Tiba-tiba, ketika Izumi melihat sekelilingnya, matanya menangkap sosok laki-laki yang pernah ia temui sebelumnya tengah berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bagian samping kanan dan kirinya ke arah yang sama dengan tempat Izumi duduk. Laki-laki itu ialah Ariel Matsuyama.
"Ada apa?" tanya Fumiko pada Izumi yang daritadi memelototi sesuatu.
"Ada yang kenal dengan laki-laki itu?" Tunjuk Izumi pada laki-laki tersebut.
Fumiko pun melihat arah tunjukan Izumi. "Ohh... Dia. Namanya Ariel. Ariel Matsuyama. Sebenarnya dia satu kelas dengan kita, tapi dia dapat dispensasi dari kampus untuk mewakili Jepang dalam turnamen catur sedunia. Makanya, dia baru datang jam segini."
"Apa dia sehebat itu??" tanya Izumi dengan dahi mengernyit
"Tentu saja," jawab Fumiko. "Dia itu jenius dan mampu melakukan hampir segala hal secara sempurna. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kampus dan sering mewakili Jepang dalam banyak olimpiade. Karena hal itu ia pernah beberapa kali tampil di televisi dan koran. Dan dia itu teman dekatku."
"Teman dekatmu?? Wah aku ketinggalan berita ternyata. Maklum, jarang nonton televisi apalagi membaca koran," ucap Izumi dengan ekspresi malu. "Dan dapat melakukan hampir segala hal secara sempurna?? Aku baru tahu ada orang seperti itu di dunia ini."
"Dia memang ada. Dan semenjak ada dia di kampus ini, tindakan bullying semakin berkurang. Ia sangat membenci tindakan bullying dan selalu membela kaum yang lemah dan suka dibully. Para pelaku bullying di kampus ini dibuat kapok olehnya, hingga banyak orang yang takut. Karena hal itu dia mendapat julukan 'Jagoan Anti Bully'." Fumiko menjelaskan.
"Waw!!" seru Izumi.
"Memang kenapa? Kau suka padanya yaa...," goda Fumiko.
Izumi memasang raut wajah serius. "Bukan hanya suka, tapi cinta," ucapnya pelan.
"Hmm ..." Fumiko memegangi dagunya. "Yaa ... Wajar sih. Banyak sekali gadis di kampus ini yang tergila-gila padanya. Bahkan ada gadis yang menciptakan fansclub bernama 'Arielholic' yang isinya gadis-gadis yang cinta mati pada Ariel. Jangankan itu, pesona Ariel saja mampu mencuri hati para gadis."
"Aku tidak suka dengannya karena hal itu. Tapi karena hal lain yang tidak bisa aku ceritakan. Yang terpenting sekarang, aku harus mendapatkan hatinya!" ucap Izumi.
"Kalau menurutku lebih baik jangan," kata Shizuno.
Izumi menaikkan alisnya dan menatap Shizuno. "Kenapa??"
"Dia itu sering menolak cinta gadis-gadis yang suka padanya dengan kata-kata yang dingin sedingin es, sampai gadis-gadis itu menangis, depresi, bahkan bunuh diri," jawab Shizuno.
Izumi beranjak tempat ia duduk dan berkata, "Kalau begitu, akulah yang akan mencairkan es di dalam hatinya!" Setelah itu ia berjalan ke arah Ariel tanpa mempedulikan Shizuno dan Fumiko yang berusaha menghentikannya.
Begitu tiba dihadapan Ariel, air mata Izumi langsung tumpah. "Arai...," ucapnya lirih.
Tapi Ariel hanya diam dan memandang Izumi dengan tatapan datar dan ekspresi wajah yang dingin.
Setelah saling tatap, Izumi langsung memeluk Ariel sambil menangis. Meski Ariel sangat dingin, tapi tubuhnya mampu memberi kehangatan pada Izumi dan membuat gadis itu merasa nyaman.
Tentu saja hal tersebut membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar situ.
Namun meski begitu, Ariel tetap tidak bergeming. Ia hanya diam dan menatap datar ke depan.
Tak jauh dari sana, sepasang mata biru kecil dari seorang gadis berambut panjang ikal berwarna cokelat tengah menatap Izumi yang sedang memeluk Ariel dengan tatapan penuh kebencian. Ia memiliki wajah oval, alis mata tipis menyambung, bulu mata lentik, hidung mancung ke bawah, mulit kecil serta bibir tipis, daun telinga yang besar, dan kulit putih bersih. Baju yang dikenakannya adalah kaos ketat lengan pendek warna biru dibalut dengan rompi ungu tanpa lengan, rok mini berwarna hitam tidak ketinggalan menghiasi bagian bawah tubuhnya, sepatu hak tinggi warna merah mempercantik kaki gadis tersebut. Disamping gadis itu, ada dua gadis lagi, satu di kanan dan satu di kiri. Yang di sebelah kanan rambutnya dikuncir ke belakang dan mengenakan topi ungu bergambar anjing di bagian tengahnya, berkulit putih bersih pula, berwajah bundar, beralis tebal, berbulu mata biasa, bermata sipit nan sayu, berhidung pipih, dan mulut kecil serta bibir tipis. Sementara yang di sebelah kiri rambutnya tergerai panjang dan lurus, wajahnya segitiga, alis dan bulu matanya tipis, matanya bulat lebar, hidungnya pipih, serta mulutnya kecil dengan bibir yang cukup tebal, kulitnya juga putih bersih. Uniknya, mereka bertiga memiliki tubuh langsing dengan ukuran dada serta bokong yang besar dan mengenakan pakaian serta sepatu yang sama, warna rambut yang sama, dan tinggi tubuh yang sama pula yakni 168 sentimeter.
"Yamanaka, berani benar anak baru di kelas kita itu memeluk Ariel!" ujar gadis yang dikuncir ke belakang dan mengenakan topi pada gadis berambut ikal.
"Ya, Haku. Dia tidak bisa kuampuni!" ucap Yamanaka, membalas perkataan gadis dikuncir dan bertopi itu.
Gadis berambut tergerai panjang dan lurus menatap Yamanaka. "Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran? Agar dia tahu siapa kita."
"Ide yang bagus, Sasame." Yamanaka tersenyum sinis.
Di siang hari, dimana bel berbunyi menandakan kuliah telah berakhir. Para mahasiswa dan mahasiswi Aizawa University bergerombol keluar dari kampus untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Izumi. Karena Yamanaka dan teman-temannya menyeret a ke tempat sepi.
"Apa-apaan ini?? Lepaskan aku!" teriak Izumi sembari berusaha memberontak dari kedua teman Yamanaka yaitu Haku dan Sasame yang memeganginya walau itu percuma karena tenaga Haku dan Sasame jauh lebih kuat.
Yamanaka menghampiri Izumi lalu memegang pipinya dengan kasar hingga pipi Izumi mengempot. "Hei, anak baru! Kuperingatkan kau, jangan coba-coba dekati Ariel, apalagi sampai memeluknya seperti tadi pagi!"
"Memangnya kau siapa melarang-larangku seperti itu, hah?!" bentak Izumi setelah Yamanaka melepaskan cengkraman dari pipinya.
"Beraninya kau membentakku seperti itu!?" gertak Yamanaka sambil menunjuk batang hidung Izumi. "Di kampus ini, akulah orang yang pantas bersanding dengan Ariel, mengerti?!"
"Apa??? Enak saja! Akulah orang yang akan mencairkan es di dalam hati Ariel!" Izumi terlihat ngotot.
"Kurang ajar kau!!!" maki Yamanaka. "Haku, Sasame, seret dia ke belakang kampus! Kita habisi dia!"
Sesuai permintaan Yamanaka, Izumi pun diseret ke belakang kampus oleh Haku dan Sasame. Setelah itu, mereka mengikat Izumi di sebuah tiang. Tak hanya itu, mereka juga mengikatkan botol kaca di kepala Izumi dengan dua utas tali rafia merah. Tali tersebut diikatkan berjejer dari atas ke bawah.
"Kau akan menyesal atas perbuatanmu!" ucap Yamanaka sambil memegang sebuah batu besar dan bundar. Setelah itu ia membidik sasarannya yakni botol yang diikat di kepala Izumi.
Sayangnya, begitu Yamanaka melemparkan batu tersebut, tembakannya meleset ke samping kiri.
"Sial!" keluh Yamanaka. "Haku, bawa batunya kesini!"
Haku pun melakukan apa yang diperintahkan Yamanaka.
Ketika batu sudah di tangannya, Yamanaka kembali membidik sasarannya. Akan tetapi, tembakan Yamanaka kembali meleset dan miring ke samping kanan.
Haku mengambil lagi batu itu dan diberikan pada Yamanaka.
Sekali lagi, Yamanaka membidik sasarannya. Namun, tetap saja meleset. Bahkan dicoba berulang kali pun hasilnya tetap sama.
"Yang lebih teliti lagi, Yamanaka! Kau harus lebih fokus dan lebih berkonsentrasi!" saran Sasame.
Yamanaka kembali berkonsentrasi. Kali ini konsentrasinya lebih tajam dan lebih fokus. Merasa semuanya telah cukup, Yamanaka pun kembali melemparkan batu di tangannya.
Kali ini lemparan Yamanaka melaju lurus ke arah botol yang terikat di kepala Izumi.
Akan tetapi, ketika batu itu tinggal berjarak beberapa inchi saja dari kepala Izumi, tiba-tiba batu tersebut dihantam oleh sebuah batu dari arah lain hingga terlempar jauh.
Yamanaka terkejut. Ia lalu menoleh ke arah batu itu berasal. Gadis itu langsung membelalak begitu melihat sosok laki-laki yang sangat dikenalnya tengah berdiri menatapnya. "A-A-Ariel?" ucapnya dengan nada gugup.
Izumi yang juga melihat ke arah yang sama dengan Yamanaka langsung tersenyum lega.
Ariel berjalan menghampiri tempat Yamanaka dan dua orang kawannya berdiri, lalu berkata, "Tindakan yang sangat aku benci. Pergi kalian dari sini!!"
"T-tapi ..." Yamanaka tampak gugup dan berkeringat dingin.
"Pergi!!" perintah Ariel sekali lagi, dengan tatapan tajam yang menusuk.
Yamanaka dan teman-temannya pun langsung beranjak dari tempat mereka berpijak dan meninggalkannya.
Ariel kemudian menghampiri Izumi. Ia melepas ikatan yang mengikat tubuh gadis itu dan juga yang mengikat kepalanya.
Izumi menatap Ariel dalam-dalam.
Ariel pun membalas tatapan itu, kemudian berkata, "Pergi! Pulanglah."
Izumi mengangguk pelan, kemudian berdiri dan berlalu pergi dari tempat itu.
Polisi-polisi tersebut dibuat roboh satu persatu dan pingsan, membuat pom bensin itu dipenuhi tubuh polisi dimana-mana.
"Hraaaa!!!" teriak salah seorang pria anggota Gerombolan Raja Minyak berambut 'mohawk' seraya melancarkan tendangan terbang dengan kaki kanan ke dada salah satu polisi.
Darah segar langsung menyembur dari mulut sang polisi begitu ia kena tendang. Ia pun terpental dan jatuh pingsan. Itu adalah yang terakhir, karena polisi yang lainnya sudah pingsan sebelum dia.
Si rambut mohawk berjalan ke arah pria berambut cepak, berbaju kemeja oranye lengkap dengan celana panjang berwarna senada yang merupakan satu-satunya pekerja di pom bensin itu. Pekerja yang lain sudah lari dari tempat tersebut.
Pria pekerja itu gemetaran tatkala ditatap dengan tajam oleh si rambut mohawk. Mulut lebar dan bibir tebalnya bergetar. Matanya yang sayu tak berani menatap mata si rambut mohawk lebih lama lagi.
"Cepat masukkan semua bensin yang ada disini ke jeriken yang ada di mobil kami!" perintah si rambut mohawk yang kemudian menunjuk mobil pick up hitam yang terparkir dekat pom bensin. Di mobil tersebut ada tujuh jeriken besar berwarna hijau lumut.
"B-b-baik!" balas si pekerja dengan terbata dan ketakutan. Ia pun lalu mengisi jeriken besar yang ada di dalam mobil pick up yang ditunjuk si rambut mohawk satu persatu.
Setelah semua derijen terisi penuh, Gerombolan Raja Minyak berpakaian serba hitam itu langsung naik ke mobil, dua orang di depan dan tiga orang lagi di bak mobil. Setelah itu, Gerombolan Raja Minyak dengan mobilnya pergi dari pom bensin tersebut.
Beberapa menit kemudian, Gerombolan Raja Minyak itu sampai di sebuah rumah besar yang ada di dalam hutan. Mobil pick up milik kelompok tersebut berhenti di depan rumah itu. Setelah Gerombolan Raja Minyak turun dari mobil, mereka menurunkan dua jeriken besar yang ada di bak mobil lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Yang membawa adalah si rambut mohawk dan seorang lagi yang berambut botak.
Selangkah demi selangkah akhirnya Gerombolan Raja Minyak itu sampai di sebuah ruangan dengan 'singgasana' berkursi putih corak merah. Di singgasana itu, duduklah seseorang berjubah dan bertudung hitam.
"Yang mulia, ini bensinnya!" ucap si botak seraya menaruh jeriken berisi bensin yang ia bawa ke depan singgasana orang berjubah hitam itu.
Si rambut mohawk juga menaruh bensin yang dibawanya itu ke depan singgasana si jubah hitam. "Sesuai permintaan anda yang mulia, dua jeriken kami bawa ke hadapan anda, dan beberapa jeriken lagi dijual dengan harga mahal oleh anggota yang lain yang punya tugas khusus menjual bensin."
Orang berjubah hitam itu mengangguk. Ia lalu berdiri dari singgasananya dan membuka tutup salah satu jeriken, mengangkat jeriken tersebut dengan kedua tangannya, menempelkan mulutnya di lubang jeriken tersebut kemudian meminum isinya hingga tinggal setengah. Setelah itu ia menaruh kembali jeriken berisi bensin tersebut.
"Apakah kami boleh pergi sekarang?" tanya si rambut mohawk dan si botak bersamaan.
Orang berjubah hitam itu mengangguk.
"Terimakasih, yang mulia!!" ujar si mohawk dan si botak seraya membungkukkan badannya.
=***=
Kembali ke Aizawa University.
Ketika jam istirahat tiba, Izumi, Fumiko, dan satu orang perempuan lagi bernama Shizuno duduk-duduk di tangga keramik. Mereka bertiga asyik sekali mengobrol dan sesekali terlihat tertawa karena obrolan yang lucu.
Shizuno merapihkan rambut kuncir duanya, lalu membentulkan kacamatanya yang miring. Matanya yang besar dan berwarna biru terlihat indah dibalik kacamatanya. Wajahnya bulat dengan hidung mancung, daun telinga agak besar, dan bibir 'sensual berbalut lipstik.
"Aku salut padamu, Izumi," ucap Shizuno. Ia mengenakan t-shirt putih yang dibalut jaket hijau. Celana panjang katunnya yang juga berwarna hijau membungkus kakinya yang jenjang walau diantara Izumi dan Fumiko dialah yang paling pendek.
"Salut karena apa??" Izumi mengangkat alisnya.
"Karena kau dinobatkan menjadi mahasiswi tercantik di kelas kita," jawab Shizuno.
Semburat merah langsung muncul di kedua pipi Izumi. "Ah, kau membuatku malu."
"Tapi kau memang sangat cantik kok," timpal Fumiko. "Bukan hanya dosen yang menilai seperti itu, tapi hampir semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas."
"Hehe... Terimakasih." Semburat merah kembali muncul di kedua pipi Izumi.
Tiba-tiba, ketika Izumi melihat sekelilingnya, matanya menangkap sosok laki-laki yang pernah ia temui sebelumnya tengah berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bagian samping kanan dan kirinya ke arah yang sama dengan tempat Izumi duduk. Laki-laki itu ialah Ariel Matsuyama.
"Ada apa?" tanya Fumiko pada Izumi yang daritadi memelototi sesuatu.
"Ada yang kenal dengan laki-laki itu?" Tunjuk Izumi pada laki-laki tersebut.
Fumiko pun melihat arah tunjukan Izumi. "Ohh... Dia. Namanya Ariel. Ariel Matsuyama. Sebenarnya dia satu kelas dengan kita, tapi dia dapat dispensasi dari kampus untuk mewakili Jepang dalam turnamen catur sedunia. Makanya, dia baru datang jam segini."
"Apa dia sehebat itu??" tanya Izumi dengan dahi mengernyit
"Tentu saja," jawab Fumiko. "Dia itu jenius dan mampu melakukan hampir segala hal secara sempurna. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kampus dan sering mewakili Jepang dalam banyak olimpiade. Karena hal itu ia pernah beberapa kali tampil di televisi dan koran. Dan dia itu teman dekatku."
"Teman dekatmu?? Wah aku ketinggalan berita ternyata. Maklum, jarang nonton televisi apalagi membaca koran," ucap Izumi dengan ekspresi malu. "Dan dapat melakukan hampir segala hal secara sempurna?? Aku baru tahu ada orang seperti itu di dunia ini."
"Dia memang ada. Dan semenjak ada dia di kampus ini, tindakan bullying semakin berkurang. Ia sangat membenci tindakan bullying dan selalu membela kaum yang lemah dan suka dibully. Para pelaku bullying di kampus ini dibuat kapok olehnya, hingga banyak orang yang takut. Karena hal itu dia mendapat julukan 'Jagoan Anti Bully'." Fumiko menjelaskan.
"Waw!!" seru Izumi.
"Memang kenapa? Kau suka padanya yaa...," goda Fumiko.
Izumi memasang raut wajah serius. "Bukan hanya suka, tapi cinta," ucapnya pelan.
"Hmm ..." Fumiko memegangi dagunya. "Yaa ... Wajar sih. Banyak sekali gadis di kampus ini yang tergila-gila padanya. Bahkan ada gadis yang menciptakan fansclub bernama 'Arielholic' yang isinya gadis-gadis yang cinta mati pada Ariel. Jangankan itu, pesona Ariel saja mampu mencuri hati para gadis."
"Aku tidak suka dengannya karena hal itu. Tapi karena hal lain yang tidak bisa aku ceritakan. Yang terpenting sekarang, aku harus mendapatkan hatinya!" ucap Izumi.
"Kalau menurutku lebih baik jangan," kata Shizuno.
Izumi menaikkan alisnya dan menatap Shizuno. "Kenapa??"
"Dia itu sering menolak cinta gadis-gadis yang suka padanya dengan kata-kata yang dingin sedingin es, sampai gadis-gadis itu menangis, depresi, bahkan bunuh diri," jawab Shizuno.
Izumi beranjak tempat ia duduk dan berkata, "Kalau begitu, akulah yang akan mencairkan es di dalam hatinya!" Setelah itu ia berjalan ke arah Ariel tanpa mempedulikan Shizuno dan Fumiko yang berusaha menghentikannya.
Begitu tiba dihadapan Ariel, air mata Izumi langsung tumpah. "Arai...," ucapnya lirih.
Tapi Ariel hanya diam dan memandang Izumi dengan tatapan datar dan ekspresi wajah yang dingin.
Setelah saling tatap, Izumi langsung memeluk Ariel sambil menangis. Meski Ariel sangat dingin, tapi tubuhnya mampu memberi kehangatan pada Izumi dan membuat gadis itu merasa nyaman.
Tentu saja hal tersebut membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar situ.
Namun meski begitu, Ariel tetap tidak bergeming. Ia hanya diam dan menatap datar ke depan.
Tak jauh dari sana, sepasang mata biru kecil dari seorang gadis berambut panjang ikal berwarna cokelat tengah menatap Izumi yang sedang memeluk Ariel dengan tatapan penuh kebencian. Ia memiliki wajah oval, alis mata tipis menyambung, bulu mata lentik, hidung mancung ke bawah, mulit kecil serta bibir tipis, daun telinga yang besar, dan kulit putih bersih. Baju yang dikenakannya adalah kaos ketat lengan pendek warna biru dibalut dengan rompi ungu tanpa lengan, rok mini berwarna hitam tidak ketinggalan menghiasi bagian bawah tubuhnya, sepatu hak tinggi warna merah mempercantik kaki gadis tersebut. Disamping gadis itu, ada dua gadis lagi, satu di kanan dan satu di kiri. Yang di sebelah kanan rambutnya dikuncir ke belakang dan mengenakan topi ungu bergambar anjing di bagian tengahnya, berkulit putih bersih pula, berwajah bundar, beralis tebal, berbulu mata biasa, bermata sipit nan sayu, berhidung pipih, dan mulut kecil serta bibir tipis. Sementara yang di sebelah kiri rambutnya tergerai panjang dan lurus, wajahnya segitiga, alis dan bulu matanya tipis, matanya bulat lebar, hidungnya pipih, serta mulutnya kecil dengan bibir yang cukup tebal, kulitnya juga putih bersih. Uniknya, mereka bertiga memiliki tubuh langsing dengan ukuran dada serta bokong yang besar dan mengenakan pakaian serta sepatu yang sama, warna rambut yang sama, dan tinggi tubuh yang sama pula yakni 168 sentimeter.
"Yamanaka, berani benar anak baru di kelas kita itu memeluk Ariel!" ujar gadis yang dikuncir ke belakang dan mengenakan topi pada gadis berambut ikal.
"Ya, Haku. Dia tidak bisa kuampuni!" ucap Yamanaka, membalas perkataan gadis dikuncir dan bertopi itu.
Gadis berambut tergerai panjang dan lurus menatap Yamanaka. "Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran? Agar dia tahu siapa kita."
"Ide yang bagus, Sasame." Yamanaka tersenyum sinis.
Di siang hari, dimana bel berbunyi menandakan kuliah telah berakhir. Para mahasiswa dan mahasiswi Aizawa University bergerombol keluar dari kampus untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Izumi. Karena Yamanaka dan teman-temannya menyeret a ke tempat sepi.
"Apa-apaan ini?? Lepaskan aku!" teriak Izumi sembari berusaha memberontak dari kedua teman Yamanaka yaitu Haku dan Sasame yang memeganginya walau itu percuma karena tenaga Haku dan Sasame jauh lebih kuat.
Yamanaka menghampiri Izumi lalu memegang pipinya dengan kasar hingga pipi Izumi mengempot. "Hei, anak baru! Kuperingatkan kau, jangan coba-coba dekati Ariel, apalagi sampai memeluknya seperti tadi pagi!"
"Memangnya kau siapa melarang-larangku seperti itu, hah?!" bentak Izumi setelah Yamanaka melepaskan cengkraman dari pipinya.
"Beraninya kau membentakku seperti itu!?" gertak Yamanaka sambil menunjuk batang hidung Izumi. "Di kampus ini, akulah orang yang pantas bersanding dengan Ariel, mengerti?!"
"Apa??? Enak saja! Akulah orang yang akan mencairkan es di dalam hati Ariel!" Izumi terlihat ngotot.
"Kurang ajar kau!!!" maki Yamanaka. "Haku, Sasame, seret dia ke belakang kampus! Kita habisi dia!"
Sesuai permintaan Yamanaka, Izumi pun diseret ke belakang kampus oleh Haku dan Sasame. Setelah itu, mereka mengikat Izumi di sebuah tiang. Tak hanya itu, mereka juga mengikatkan botol kaca di kepala Izumi dengan dua utas tali rafia merah. Tali tersebut diikatkan berjejer dari atas ke bawah.
"Kau akan menyesal atas perbuatanmu!" ucap Yamanaka sambil memegang sebuah batu besar dan bundar. Setelah itu ia membidik sasarannya yakni botol yang diikat di kepala Izumi.
Sayangnya, begitu Yamanaka melemparkan batu tersebut, tembakannya meleset ke samping kiri.
"Sial!" keluh Yamanaka. "Haku, bawa batunya kesini!"
Haku pun melakukan apa yang diperintahkan Yamanaka.
Ketika batu sudah di tangannya, Yamanaka kembali membidik sasarannya. Akan tetapi, tembakan Yamanaka kembali meleset dan miring ke samping kanan.
Haku mengambil lagi batu itu dan diberikan pada Yamanaka.
Sekali lagi, Yamanaka membidik sasarannya. Namun, tetap saja meleset. Bahkan dicoba berulang kali pun hasilnya tetap sama.
"Yang lebih teliti lagi, Yamanaka! Kau harus lebih fokus dan lebih berkonsentrasi!" saran Sasame.
Yamanaka kembali berkonsentrasi. Kali ini konsentrasinya lebih tajam dan lebih fokus. Merasa semuanya telah cukup, Yamanaka pun kembali melemparkan batu di tangannya.
Kali ini lemparan Yamanaka melaju lurus ke arah botol yang terikat di kepala Izumi.
Akan tetapi, ketika batu itu tinggal berjarak beberapa inchi saja dari kepala Izumi, tiba-tiba batu tersebut dihantam oleh sebuah batu dari arah lain hingga terlempar jauh.
Yamanaka terkejut. Ia lalu menoleh ke arah batu itu berasal. Gadis itu langsung membelalak begitu melihat sosok laki-laki yang sangat dikenalnya tengah berdiri menatapnya. "A-A-Ariel?" ucapnya dengan nada gugup.
Izumi yang juga melihat ke arah yang sama dengan Yamanaka langsung tersenyum lega.
Ariel berjalan menghampiri tempat Yamanaka dan dua orang kawannya berdiri, lalu berkata, "Tindakan yang sangat aku benci. Pergi kalian dari sini!!"
"T-tapi ..." Yamanaka tampak gugup dan berkeringat dingin.
"Pergi!!" perintah Ariel sekali lagi, dengan tatapan tajam yang menusuk.
Yamanaka dan teman-temannya pun langsung beranjak dari tempat mereka berpijak dan meninggalkannya.
Ariel kemudian menghampiri Izumi. Ia melepas ikatan yang mengikat tubuh gadis itu dan juga yang mengikat kepalanya.
Izumi menatap Ariel dalam-dalam.
Ariel pun membalas tatapan itu, kemudian berkata, "Pergi! Pulanglah."
Izumi mengangguk pelan, kemudian berdiri dan berlalu pergi dari tempat itu.
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 12-12-2019 19:26
0
Kutip
Balas