IV. Rumahku Jalur Jin
Maafkan aku teman2 agan2 sista2 yag baru bisa nyambung cerita lagi u.u
Ternyata jadi dewasa itu melelahkan ya hahaha
Oke, tanpa basa basi, kita lanjutin ceritanya aja yak.. Jadi ini cerita ttg pengalaman horor yang dialami aku g keluarga di rumah yg udah aku tinggalin dari th 1997 - 2014 lalu.
Let's check this out, and enjoy the story..
Quote:
Pernah denger nggak, kalau setiap perbatasan suatu daerah, entah itu negara, provinsi, atau bahkan sekadar perbatasan RT satu dengan RT lainnya, pasti bakal ada yang namanya jalur jin. Aku dengar hal ini dari tetua desa sebelah. Katanya di setiap perbatasan itu pasti ada yang menjaga atau sekadar jadi jalur lalulintas jin. Begitu yang kudengar dari beliau.
Saat itu aku masih tinggal di perumahan. Rumornya, perumahan tempat tinggalku ini adalah bekas kuburan. Masuk akal juga sih, karena jarak tiga rumah ke kanan dari rumahku adalah TPU yang tadinya tidak berpagar. Alias kalau aku keluar rumah dan nengok ke kanan, batu2 nisan di pemakaman itu dah kelihatan kok. Dan rumah2an tempat nyimpen keranda juga kelihatan. Tapi sekarang udah dipagerin pake tembok, kok. Jadi dah nggak kelihatan lagi.
Selain itu, rumahku ini terletak di pojok selatan - barat perumahanku. Dan perumahanku ada di ujung pojok selatan - barat kecamatanku. Pokoknya kalau di peta tuh udah yang paling pojok ujung gitu.. Udah ada di putjuk garis terluar peta. Udah gitu, rumahku ada di deretan paling belakang dan terluar dari perumahanku. Yak! Rumahku ada di jalur perbatasan daerah.
Terus apa aja yang pernah aku & keluargaku alami di rumah itu?
Buaanyak gan sis?
Nggak cuma aku dan keluarga, tetangga2 juga banyak kena imbasnya, diantaranya :
1. Laki-laki hitam di depan kamar
Aku anak tertua dari 3 bersaudara. Aku diberi kamar terpisah dengan orang tuaku mulai aku duduk di kelas 3 SD. Kamarku ada di rumah, bagian depan, sedangkan kamar orangtua dan adikku ada di belakang.
Suatu malam, aku terbangun dari tidurku gegara kebelet pipis. Turunlah aku dari tempat tidurku. Aku jalan dengan gontai karen nyawa belum kumpul semua. Tanpa pikiran aneh2, ku buka pintu kamarku. Pas aku buka pintu kamar, alangkah kagetnya aku, karena yang ku lihat tidak seperti biasanya. Harusnya, kalau aku buka pintu kamar, aku langsung berhadapan dengan televisi yang ada di ruang tengah. Tapi, pada saat itu bukanlah televisi abu2 yang kulihat, melainkan sosok hitam legam, tinggi menjulang ke atas, menembus atap rumahku dan menghalangi pintu keluarku. Seketika aku diam terpaku. Otakku bekerja keras mengumpulkan informasi yang masih terpencar, karena baru bangun tidur.
Setelah aku sadar dari kantukku, aku tidak bisa keluar dari kamarku karena terhalang sosok hitam itu. Dia hanya meninggalkan celah sebesar lengan di sisi kanan kiri pintu kamarku. Tak cukup untuk aku keluar meninggalkan dia.
Setelah 100% sadar, dan otakku bisa mencerna jika ada yang tidak beres saat itu, aku reflek menutup pintu, trus aku jalan perlahan kembali naik ke tempat tidur, tarik selimut, peluk guling, memejamkan mata erat2 dan sekuat mungkin menahan kebelet. Sampai akhirnya aku ketiduran.
Bangun2 aku diomelin emak gegara ngompol šš¤£
*itu kejadian aku kelas 3 SD
2. Pohon randu & tante
Yang nggak tahu pohon randu, pohon randu itu pohon kapas. Bukan kapas yang bisa dipakai langsung untuk wajah, tapi kapas kapuk yang biasa dipakai untuk isi kasur.
Ini cerita sewaktu aku masih kelas 4 SD, aku pernah nanem biji randu di depan rumah. Tiap hari aku siramin, aku ajak main, aku ajak ngobrol juga, karena aku sayang dia. š
Akhirnya pohon itu pun tumbuh subur, trus tumbuh cabangnya juga. Nah, salah satu cabang pohon itu ngelewatin pagar rumah, dan masuk ke halaman tetangga sebelah rumahku.
Disinilah awal mula gangguan yang diterima tetanggaku (mampus) šš
Jadi tu ceritanya, tetangga samping rumahku punya anak seumuran aku, namanya Via. Di suatu malam, dia kebangun pas tengah malam gegara denger suara mbak2 ketawa di depan jendela kamarnya. Karena dia masih kecil, as a curious girl, dia buka gorden jendela kamarnya, dan ternyata disana ada tante2 rambut panjang, berwajah pucat pasi, dengan mata yang hitam legam, mengenakan berdaster putih lagi duduk sambil ayun2in kakinya. Si tante ini duduk tepat di batang pohon randuku yang masuk ke halaman rumah Via.
Paginya, ibu Via dateng ke rumahku, dan minta sama papahku buat nebang pohon randu itu. Dia menceritakan apa yang dialami Via, anaknya, ke papahku. Karena papahku tau aku yang nanem, jadi papahku nggak berani nebang tanpa seijinku.
Sore sepulang sekolah, papahku bilang kalau mau nebang pohon itu tanpa bilang alasannya kenapa. Dan aku nolak permintaan papah sambil nangis. Akhirnya papah nggak jadi nebang.
Selang beberapa hari, ibu Via dateng lagi ke rumah dan langsung nemuin aku. Minta tolong sama aku buat nebang pohon itu. Katanya dia udah nggak tahan sama terornya "si tante". Ibunya Via cerita, si Via nggak berani tidur sendiri lagi setelah kejadian dia lihat si tante pertama kali. Jadi ibunya Via nemenin Via tiap mau tidur. Tapi terornya si tante nggak berhenti di situ. Tiap malem tante pasti ngeganggu mereka tidur. Dari suara ketawa, suara nangis yang berujung ketawa, sampai suara langkah kaki mondar - mandir di halaman rumahnya.
Kian hari, teror yang di alami Via dan keluarganya semakin menjadi. Bukan cuma Via yang diganggu kalau pas tidur di kamar itu. Adik2 Via juga ikut diganggu.
Ibunya Via cerita, kalau semalem si tante ngetuk2 jendela kamar Via atau garuk2in kaca jendelanya dia. -Tau kan, kalau kaca di garuk bakal nimbulin bunyi "criiit criiit" yang bikin ngilu gitu-. Beliau khawatir kalau pohon itu terus dibiarin tumbuh, bakal semakin banyak yang tinggal di sana dan teror si tante bakal hadir terus gangguin hidup mereka.
Setelah dengerin cerita Ibunya Via, aku ijinin deh kalo pohonku mau ditebang, walaupun dg berat hati. Karena waktu itu, pohonku sudah mulai berbunga banyak.
Setelah pohonku di tebang, si tante udah nggak pernah datengin Via dan ibunya lagi.
*teror ini cuma datengin keluarga Via, sedangkan keluargaku nggak dapat gangguan sama sekali.
3. Nenek di ruang makan
Aku punya dua Adik laki2. Namanya Rian dan Mana. Disini adek pertamaku yang ngalamin. Namanya Rian. Rian 3 tahun lebih muda dariku. Sedangkan Mana 9th lebih muda dariki. Si Rian ini, waktu kecil bandeeel banget, tapi penakut.
Kalau nggak salah kejadiannya pas Rian kelas 5/6 SD gitu, jadi aku dah masuk SMP (di part selanjutnya akan kuceritakan pengalamanku Persami waktu SMP).
Karena si Rian dah gede, jadi orang tuaku minta Rian buat tidur sendiri. Dia dibuatin kamar di sebelah kamar orang tuaku (yang tadinya kamarku di cerita nomor 1 š, trus aku kamarku pindah ke belakang, bekas kamar ortuku, tukeran gitu. Katanya bapak khawatir anak cewek satu2nya ditaruh di kamar paling depan š¤£).
Setelah negosiasi puuaaanjang dg ortu, si Rian akhirnya mau tidur sendiri di kamar barunya. Dengan syarat, lampu kamar nggak boleh mati. Dan dia tu kalau tidur nggak mau pintunya ditutup, karena kalo2 dia ketakutan bisa langsung pindah ke kamar ortu.
Akhirnya Rian terbiasa tidur sendiri. Sampai pada akhirnya, di suatu malam, dia susah tidur. Dia putuskan buat bangun dari tempat tidur, dan nutup pintu kamarnya. Pas dia mau nutup pintu, dia ngelihat dg jelas, di depan kamar dia, berdiri seorang nenek kurus, berbadan bungkuk, berambut abu2, berkebaya warna hijau lumut, dengan bawahan jarit (kain batik yang biasa buat bawahan kebaya) coklat, menatap adikku, Rian sambil tersenyum. -For your information, she is not my grandmas. My dad's mother, nggak bungkuk, dan pawakannya kecil. Sedangkan my mom's mother, berperawakan gendut dan tinggi-.
Karena adikku masih polos dan babdel, dia nggak ngerasa ketakutan. Dia nggak jadi nutup pintu kamarnya, malahan dia bales senyum si nenek & menundukkan kepalanya sopan, sambil bilang "Mbah, mpun ndalu deneng dereng sare?" (-Nek, dah malem kok belum tidur?-). Tapi si nenek nggak jawab apa2. Sambil senyum, dia jalan menuju ruang tamu yang gelap.
Untung si Rian nggak curious dan ngikutin si nenek. Dia malah buka kamar ortuku, ngebangunin papah, trus bilang "Pah, niko mbah2 sinten sih?" (-Pah, itu nenek2 siapa sih?-). Papahku yang masih setengah sadar bingung dengan pertanyaan adikku. Dia akhirnya duduk , dan balik bertanya pada adikku, "Mbah2 sinten, nang? Teng pundi enten mbah2?" (Nenek2 siapa, nak? Dimana ada nenek2?)
Adikku jawab, "Wau enten mbah2 teng ruang makan ngajeng kamar kulo, terus kulo taken kok dereng sare, mbah e malah tindak teng ruang tamu." (Tadi ada nenek2 di ruang makan depan kamarku, terus pas aku tanya kok belum tidur, dia malah pergi ke ruang tamu)
Penasaran lah papahku, akhirnya papah keluar kamar dan jalan ke ruang tamu untuk mengechek apakah ada orang di ruang tamu. Dan ternyata, ada!! Ada sosok hitam di dekat jendela ruang tamu! Lalu bapakku menyalakan lampu ruang tamu, ternyata, itu adalah GORDEN permis
*jangan tegang gan, sis wkwkwk
*back to story
Ternyata di ruang tamu tidak ada seorangpun. Karena masih tengah malam, akhirnya Rian dibawa tidur lagi bareng papahku, di kamar Rian.
4. Jangan panggil aku!
Dahulu kala, sebelum aku mengenal cinta, mamahku telah mengenalnya terlebih dahulu.. -ya iyalah -_-
Jadi ini cerita yang dialami mamahku, ketika dia sedang masak untuk sarapan.. Mamahku adalah gadis desa yang terbiasa bangun pagi dan mulai memasak untuk sarapan sebelum sholat subuh. Jadi kejadiannya dinihari, disaat orang2 rumah lainnya belum pada bangun.
Mamahku masak di dapur sendirian seperti biasanya, sambil menunggu adzan maghrib, eh subuh. š
Mamah masak cuma ditemenin suara jangkrik dan kodok dari sawah belakang rumahku. Jadi dulu pas rumahku masih bangunan asli (rumah type 21), keluar dari pintu belakang, langsung ngadep sawah dan kuburan yang ada di tengah sawah.
Ditengah2 kegiatan memasaknya, mamah kek sayup2 ada yang manggil namanya. "Wanda.. Tolong.. Wandaa.. Tolonggg.. Wanda.."
Pelan, lirih, seperti setengah berbisik...
Mamahku menajamkan pendengarannya, untuk memastikan, apakah benar ada yang memanggil namanya? Semakin lama, semakin keras dan jelas, suaranya. Mamahku berpikir, siapa pula yang manggil2. Mamah ngecek di kamar, siapa tau papah lagi iseng. Ternyata papah masih tidur pulas sambil meluk anak2ny. šØ
"Ah, mungkin aku salah denger"
Mamah balik lagi ke dapur, ngelanjutin masak. Baru aja dia mulai masak lagi, dia dikagetkan dengan suara jaritan perempuan!
"AAAAAAAAA!!!!"
Jeritannya keras banget dan melengking. Mamahku yang kaget banget langsung lari ke kamar, bangunin papah.
Singkat cerita papah bangun, nenangin mamah yang masih syok. Tak selang lama, mereka mencium bau, seperti sesuatu terbakar. ternyata mamah lupa sama masakannya. Akhirnya demi menyelesaikan masakan, mamah minta ditemenin papah masa.
Sekian dulu cerita ttg rumahku kali ini.
Nanti ku sambung lagi cerita2 horror & mitos2 yang tersebar di perumahanku.
-entah kapan š¤£š¤£
Atau ttg penerawangan beberapa tamu yang bisa lihat "begituan", ada apa aja di rumahku.
Atau langsung lompat ke cerita pengalaman persami yang mengundang teror disekolah karena keisenganku?
If you enjoy my stories, Coba kasi saran di komen dong, man ceman, ttg penulisanku atau cerita yg harus ku unggah nantinya.. Terima kasiiih..
Bye bye.
š