Kaskus

Story

sun81Avatar border
TS
sun81
Mistery : Kasus Sleep Ever After
Mistery : Kasus Sleep Ever After




Sudah lama banget nggak nulis di siniemoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment

Ini karya terbaru saya, Fiksi Mistery.............................................Mohon dibaca hingga selesai yaemoticon-Kiss (S)emoticon-Kiss (S)




Dalam setiap kisah, akan ada kisah lainnya. Ada kisah yang ditinggalkan, ada kisah yang berlanjut. Ada kisah yang dibicarakan, ada kisah yang disembunyikan. Ada kisah yang dikenang, ada kisah yang dilupakan. Ada kisah yang diingat dan ada kisah yang dipendam.

Ada saatnya nanti setiap kisah akan bercerita. Bercerita dengan caranya sendiri-sendiri, tapi dari kacamata yang berbeda.































PS : Akan diupdate secepatnyaemoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2

Lanjut ke GWP


Spoiler for Karya-karyaku yang lain di Kaskus, mohon kunjungannya juga :
Diubah oleh sun81 29-06-2025 00:35
0
4.3K
36
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
sun81Avatar border
TS
sun81
#32
Bab VI B

Ryan melihat Joana menghapus air mata ketika Marc mulai menyinggung kembali kasus per kasus yang dianggap kepolisian masuk sebagai bagian dari kasus Sleep ever after, sedangkan istri Vabio semakin menunduk kepalanya menekur kuku-kuku jarinya yang terpelihara sangat baik.
Tiga tahun lalu ketika Pedro menghilang, Ryan merasa sangat terbebani. Kapten yang dengan gegabah mengambil keseimpulan bahwa dia cukup mengenal keluarga Vabio menyerahkan kasus itu padanya.

Ryan sebenarnya cenderung setuju dengan semua rumor yang beredar bahwa Pedro menghilang karena keinginannya sendiri ataupun rumor bahwa Pedro kemungkinan celaka karena kecerobohannya sendiri dan meninggal di suatu tempat tersembunyi di kota mereka. Dengan demikian tidak perlu ada penyelidikan berlebihan dan membuat seakan-akan itu adalah hal yang sangat menghebohkan untuk kota kecil mereka.

Tapi Marc dengan trauma masa lalunya yang terus-terusan bercerita tentang kemungkinan penculikan, mulai menyebarkan aura ketidaknyamanan baginya. Mau tak mau, dia mulai serius melakukan penyelidikan. Setidaknya itu juga dapat meredakan sedikit amarah Vabio yang menyebarkan bahwa kepolisian daerah mereka tidak becus dan sangat malas.

Ryan tidak dapat menyalahkan jika selama masa penyelidikan kasus Pedro yang ditemuinya bukanlah kekhawatiran masyarakat melainkan rasa syukur. Orang-orang yang sudah mengenal Ryan dengan baik, selalu bersikap jujur padanya, termasuk tanggapan mereka terhadap hilangnya anak Vabio.

Pedro adalah primadona di kalangan remaja. Dengan ketampanan wajahnya, entah sudah berapa banyak gadis-gadis seusianya atau bahkan di bawah umurnya yang terjebak. Dia sebagai pimpinan dari sekelompok remaja pria yang berlatar belakang dari keluarga terpandang di kota ini, sering mengadakan pesta yang meresahkan. Bahkan seminggu sebelum menghilang, Pedro dianggap menjadi penyebab kebakaran di salah satu penginapan terkenal di kota mereka. Penyelidikan tidak dilanjutkan karena adanya kesepakatan antara Vabio dan pemilik penginapan.
Saat itu Ryan sangat kesal. Dia berharap andaikan penyelidikan dilanjutkan, maka setidaknya dia dapat menghidarkan Lucy dari Pedro untuk sementara waktu.

Lucy sudah berusia enam belas tahun dan bukan gadis bodoh. Tapi selayaknya gadis remaja lainnya yang masih dipenuhi rasa penasaran, Ryan sangat khawatir ketika melihat Pedro dan anak gadisnya bercerita akrab di salah satu toko sembako. Pedro bahkan dengan lancangnya menyentuh hidung Lucy pada saat dia hanya berjarak tiga meter dari mereka.

Dia masih ingat apa yang terjadi dengan Serline, tetangganya yang dihamili Vabio dua puluh tahun lalu. Gadis itu kehilangan masa depan, kehilangan semangat dan bahkan seluruh keluarganya kehilangan kehormatan karena Vabio dan keluarga besarnya melecehkan mereka.

Mereka hanya meminta pertanggung jawaban. Tapi yang didapat justru cemoohan, dan caci maki serta proses hukum yang tidak adil. Keluarga itu akhirnya pindah ke Australia setelah Serline mengalami keguguran dan hampir meninggal.

Ryan mengamati Vabio. Yah, pria itu terlihat tidak terlalu menderita kehilangan Pedro. Begitu juga dengan istrinya yang seperti model. Setidaknya berita tentang asuransi dengan jumlah yang sangat besar yang dibayarkan setelah seminggu Pedro ditemukan itu benar. Uang asuransi itu lebih dari cukup untuk menyelamatkan bisnis mobil bekasnya yang mulai terpuruk karena persaingan.

Joana melirik jam tangannya dengan sengaja. Ibu dari Elica yang menghilang di malam Halloween dua tahun lalu itu terlihat jauh lebih kurus. Seorang perempuan yang menderita, itulah yang diceritakan wajahnya.
Ryan tersenyum getir. Dia masih ada hubungan dengan Joana. Nenek Joana dan kakeknya adalah sepupu. Hubungan yang cukup jauh dan dia bersyukur karenanya.
Joana adalah salah satu rentenir di kota ini. Dia bergerak terang-terangan, dan seluruh penduduk kota ini maupun penduduk di kota-kota sebelah sangat mengenalnya. Dengan bunga yang mencekik, para peminjamnya jarang dapat menebus kembali jaminan mereka.

Usaha ini telah digeluti Joana sejak kecil. Mengikuti jejak ibunya, yang juga mengikuti jejak neneknya, Joana kecil sudah memeras teman-teman semasa sekolahnya. Kelly adalah salah satu korban.

Ryan mencibir. Kelly sudah melewati begitu banyak cobaan hingga mencapai posisi detektif saat ini. Sejak kecil hanya dibesarkan neneknya, Kelly menjadi mandiri. Itu sebabnya ketika neneknya sakit, Kelly kecil yang masih polos meminjam uang ke Joana kecil yang telah sangat lihai.

Dengan jaminan sepeda kesayangannya, Kelly mendapatkan beberapa lembar uang untuk mengobati neneknya. Sepedanya disita, sakit neneknya belum sembuh.

Sekali lagi Kelly mencari Joana. Gadis itu menjadi lebih hina dari pembantu selama lebih dari dua tahun karena menggadaikan jasa pikiran dan tenaganya untuk kesembuhan neneknya. Bila memikirkan nasib Cinderella, maka itulah yang terjadi pada Kelly.

Selain disuruh mengerjakan berbagai tugas sekolah hingga pekerjaan rumah tangga, Kelly juga menjadi partner tanding bagi Joana muda yang sedang tergila-gila dengan tinju. Enam bulan setelah neneknya meninggal, Kelly masih terperangkap menjadi sasaran empuk kemarahan dan kekesalan Joana.
Untung saja saat itu keluarga Mironice pindah ke kota ini. Saat masyarakat lain hanya dapat merasa kasihan, dan tidak dapat berbuat banyak, keluarga Mironice menebus Kelly dari Joana. Tidak mudah, tapi yang pasti tidak sesulit jika orang awam melakukannya.

“Sambungan ke Frank Sowyge sudah siap” Pete masuk dan meletakkan sebuah laptop di atas meja.

Marc mengatur meja agar bersandar di salah satu dinding dan yang lain bisa melihatnya. Semua orang masih dengan kemuraman yang sama mengatur kursi masing-masing. Pete dengan cekatan mencolok beberapa kabel, mengetik beberapa kata, dan mengatur layar.

“Marc, mungkin kau bisa meminta Frank untuk menghadirkan Aldo”

“Dia masih keberatan?”

Pete mengangguk pelan.

Setelah menunggu beberapa detik lagi, wajah lancip Frank muncul bersama wajah istrinya di sampingnya. Tidak senang, itulah ekspresi yang terlihat pertama kali.

“Frank, apakah Aldo bersamamu?” Marc bertanya sebijak mungkin namun langsung ke inti masalah.

“Untuk apa? Tidak, Marc. Sudah kukatakan pada temanmu itu bahwa aku tidak akan membiarkan masalah ini kembali mengganggu Aldo. Sudah cukup yang kami alami…..”

“Ini anakku,Frank. Kali ini anakku, Nella. Tidakkan kau sedikit saja berbaik hati, Frank” teriak Celda histeris. Suaminya menahan bahu Celda, ketika wanita itu seakan-akan hendak menyerang laptop di hadapannya.

Ryan dan Pete sigap bersiaga.

“Aldo sudah memberikan keterangan panjang lebar kepada pihak kepolisian, silahkan gunakan itu”

“Rizha benar. Gunakan itu dan berhentilah ganggu kami, terutama Aldo. Apa yang tidak kalian mengerti dari kepindahan kami dari kota terkutuk itu? Kami sudah tidak ingin dihantui kejadian itu. Aldo akhirnya setelah sekian lama bisa tidur tenang kembali. Maaf dan semoga beruntung. Hanya itu yang dapat kami katakan”

Sambungan terputus. Wajah Frank dan Istrinya menghilang, dan sedetik kemudian sebuah tas tangan meluncur menghantam laptop.

Marc menunduk. Pete bergegas menyelamatkan laptop kantor yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan kesal dikembalikannya tas itu ke suami Celda, sementara istrinya sedang menangis tersedu-sedu.

“Apakah kalian dapat mengeluarkan surat atau perintah khusus agar Aldo bisa memberikan keterangan lagi atau berbincang langsung dengan kami?” Tanya suami Celda pelan.

Marc menggeleng sebagai tanda ‘tidak mungkin’ dan menjelaskan berbagai hal teknis dan hukum yang rumit yang harus ditempuh untuk mewujudkan itu.

“Dari dulu dia memang brengsek. Tapi tidak kusangka dia akan setega ini. Keterlaluan kau Frank” Celda meremas tas tangannya.

Vabio dan Frank adalah sahabat dekat. Mungkin Frank tidak separah Vabio, tapi Ryan tahu Frank pun terlibat dengan berbagai kenakalan yang dulu dilakukan Vabio.

Ryan masih ingat ketika sepuluh sapi yang sedang mengikuti kompetisi mati keracunan saat dia masih remaja. Sepuluh sapi yang tadinya sangat sehat ketika dibawa ke arena lomba, mati lemas tanpa jelas beberapa jam kemudian. Seorang nenek tua penjual jus dan seorang anak kecil bersumpah bahwa mereka melihat Vabio, Frank, dan lima orang pemuda lain berkeliaran di sekitar kandang-kandang sapi yang mati. Keterangan yang disangkal habis-habisan.

Ryan memandang Celda dengan dingin.
Celda dulu adalah pacar Frank. Dan dia - saat kejadian sapi-sapi keracunan, dengan sangat baik menyediakan alibi bagi ketujuh pemuda nakal itu. Celda bukan hanya menyelamatkan ketujuh pemuda itu dari penjara, tapi juga dari ganti rugi yang sangat besar.

“Harga sapi-sapi ini bisa mencapai harga satu mobil pick up. Apalagi kalau menang lomba. Kakek akan membawamu jalan-jalan ke Swiss jika salah satu dari mereka menang dan terjual besok” Begitu kata kakeknya bersemangat, sehari sebelum kejadian itu.

Tiga dari sepuluh sapi itu adalah milik kakeknya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.