- Beranda
- Stories from the Heart
NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]
...
TS
robbyrhy
NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]
Holla~ Bagi Kalian yang mau tahu kelanjutan dari Cerita Gerbang Iblis, saya akan memberikan Spin-off setelahnya. Jadi untuk Judulnya kali ini beda namun, dari segi cerita sama.
Buat kalian yang suka bilang...
Kak ini kok mirip film munafik ya?
Jawaban : Mungkin dari segi hal yang di bahas itu sama, ya Gerbang Iblis kan membahas tentang seseorang yang di rasuki jin terus di ruqyah, nah film munafik juga sama, tapi dari segi alur cerita sangatlah berbeda jadi anda tidak bisa bilang kalau ini sama. Jelaskan?.
Oke dari pada berlama-lama, langsung aja di baca Prolognya agak panjang sih untuk sekedar prolog hehehe,,,, 😁
Bagi yang belum baca cerita sebelumnya, bisa langsung cek Di Sini
![NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]](https://s.kaskus.id/images/2019/04/17/10518562_201904171033040876.png)
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari an-naar (neraka). Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisa : 145)
5 Bulan setelah kematian Zaki Abdul Ikhsan.
“Bang, apa abang yakin mau mengikuti jejak Zaki?” Tanya Aminah sambil memberikan secangkir teh manis kepadanya.
Adam menyeruput teh manis hangat tersebut, kemudian menjawab pertanyaan istrinya.
“Abang yakin aminah, kalau bukan abang siapa lagi?”
“Tapi setelah kejadian beberapa bulan yang lalu itu, masih sangat jelas teringat di kepala Aminah bang,” Serunya lagi.
Adam pun terdiam, ia tahu bahwa Aminah tak menginginkan kejadian Beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Ia takut jin yang akan di hadapi oleh Adam kali ini lebih jahat dari sebelumnya.
“Kita punya Allah Aminah, semua yang telah di takdirkan telah tertulis di lauh mahfudz, Jadi apa yang perlu kita takutkan.” Jawab Adam meyakinkan sang istri.
Wajah Aminah terlihat begitu gelisah. Ia tahu sang suami akan mengerjakan Tugas besar lagi kali ini.
Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara gedoran pintu yang sangat kencang.
“Brak! Brak! Bark!”
“Assalamualaikum..... Ustad Adam,,,, pak ustad!” Begitulah kedengarannya. Sumber suara tersebut semakin kencang memanggil namanya.
Mereka pun segera bergegas, untuk membukakan pintu Rumahnya.
“Ya allah, Zainal….. Ada apa ini, malam-malam begini gerasak-gerusuk gitu kaya di kejar binatang aja kamu ini” Pekik Adam kemudian menyuruh zainal masuk ke rumahnya.
“Duduk-duduk…” Serunya lagi.
Zainal pun kemudian duduk, mengehela nafas panjang dan sedikit menenangkan pikirannya.
“Oke… oke tenang… tenang coba jelaskan ada apa?” Tanya Adam kepada Zainal.
Wajah Zainal yang masih terlihat panik, berusaha untuk tenang.
“Ja-ja-di… gini pak ustad, usai sholat isya saya dan istri saya sedang makan malam. Nah pada saat sedang makan, tiba-tiba istri saya muntah-muntah. Saya Kira dia hanya muntah biasa namun, lama kelamaan Istri saya memuntahakan darah, paku , jarum dan juga lintah dari mulutnya pak ustad. saya takut terjadi sesuatu padanya. Apa mungkin dia di guna-guna?. Tolong bantu saya…” Jelasnya.
Saat mendengar cerita Zainal, Adam pun berpikir. Apa mungkin ada sesuatu lagi yang terjadi padanya, sama seperti Keluarga zaki dulu. Saat Adam sedang berpikir tiba-tiba Aminah langsung berbicara.
“Bang? mungkinkah ini sama kejadiannya seperti keluarga zaki dulu?”
Entah kenapa Aminah bisa sepemikiran dengan Adam.
“Aku akan menemui istri mu sekarang!” Ujar Adam tiba-tiba.
Aminah yang melihat suaminya akan berurusan lagi dengan musuh Allah, moncoba sedikit menahannya.
“Bang, aminah gak mau abang kenapa-kenapa… kali ini aminah melarang abang untuk pergi.” Pekik aminah dengan cukup keras.
Melihat sang istri tidak merestui kepergiannya untuk menolong seseorang, Adam berusaha menenangkannya.
“Abang bersama Allah, jadi aminah tidak perlu risau. Semua akan baik-baik saja.” Jawabnya.
Aminah masih dengan muka yang cemas. Antara menginzinkan atau tidak. Ia tidak berbicara usai Adam memberinya jawaban.
“Apakah aminah bisa ijinkan abang? Semua akan lancar dengan restu istri. Abang tidak akan pergi jika aminah tidak mengijinkan.”
“Aminah, aku mohon kepadamu, biarlah adam membantu Istriku aminah. Kalian sesama wanita, pasti kamu paham apa yang aku rasakan kan? bagaimana kalau kamu ada di posisi istriku?!” Zainal memohon.
Aminah pun hanya mengangguk, Namun tidak bicara.
“Abang akan segera kembali,, percayalah” Ujar Adam sambil mengelus pelan kepala aminah yang tertutupi oleh hijab yang di kenakannya.
Setelah itu Aminah pun masuk ke kamarnya, sedangkan Adam pergi bersama Zainal untuk menemui istrinya.
Sesampainya di Halaman rumah Zainal. tiba-tiba seluruh lampu yang ada di rumahnya padam. Suasana menjadi begitu gelap dan menyeramkan.
“Kenapa gelap sekali?” tanya Adam yang belum berani melangkahkan kakinya untuk melangkah lebih dalam, karena rumahnya yang terlihat sangat gelap.
“Tapi tidak mati listrik? hanya rumah mu saja nal?” Ujarnya lagi.
Zainal-pun kebingungan. Mencoba berpikir sejenak lalu melangkah sedikit demi sedikit untuk mengecek apa yang terjadi.
“Saat aku meninggalkan rumah, listrik dan lampu masih menyala pak ustad.” Jawab Zainal.
Sambil terus memperhatikan kondisi di luar rumah yang begitu gelap, Adam mulai mencoba masuk ke dalamnya.
“Sepertinya, Jin yang ada di dalam tubuh istrimu yang membuat semua ini.”
Zainal pun sudah melangkah lebih dulu, dan sampai di depan pintu rumahnya. Saat itu tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu tersebut. Terlihat tangan zainal yang sedikit bergemetar tat kala menyentuh gagang pintu rumahnya.Namun, saat ia ingin memutar gagang pintu tersebut, tiba-tiba Adam menahannya.
“Tunggu” Teriak Adam.
“Jangan di buka.” Ujarnya lagi.
Zainal-pun menoleh ke belakang, melihat Adam dan kembali bertanya.
“Kenapa?”
Adam hanya menggelengkan kepalanya.
“Jin itu, ada di balik pintu.”
“Maksudmu?” Zainal kembali bertanya.
Adam pun tidak menggubris pertanyaan yang terakhir, kemudian ia pun langsung membacakan surah Al-An’aam ayat 130 sambil mengulurkan tangannya kedepan dengan tasbih yang masih melilit di jari jemarinya tersebut.
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.”
Setelah surah itu di bacakan, tiba-tiba keluarlah Adinda, istri Zainal dari balik pintu rumahnya. Ia menjebolkan Pintu rumah tersebut dengan badannya, tenaganya terlihat sangat begitu kuat, kemudian ia berlari sangat cepat layaknya kuda sehingga menabrak Zainal dan membuatnya terpental beberapa meter dari posisi sebelumnya. Adam yang berjarak kurang lebih beberapa meter dari pintu tersebut, langsung di hadapkan dengan Wajah Adinda yang sangat buruk. Kelopak matanya yang menghitam, Mulutnya yang penuh darah, dan wajahnya yang terlihat sangat keriput. Itulah gambaran kondisi Adinda kala itu. Jin tersebut sudah menguasai tubuhnya. Maka ia bisa melakukan apa pun kepadanya, tak terkecuali juga dengan membunuhnya.
Wajah Adinda dan Adam saling bertatapan. Adam kemudian kembali membacakan surah tersebut, dan Tidak lama kemudian tiba-tiba, dinda memuntahkan Darah serta seekor ular ke wajah Adam. Mendapatkan sebuah serangan, membuat Adam harus mundur dan membersihkan semua darah yang tertempel di wajahnya itu.
“Astagfirullahaladzim” Adam beristigfar.
Tak lama setelah ular itu keluar dari mulutnya, tiba-tiba Adinda langsung terjatuh lemah tak berdaya dan membuatnya tergeletak di halaman rumahnya.
Sepertinya Jin itu keluar dan menjelma menjadi seekor ular. Pikir Adam.
Inilah Awal mula dari masalah baru yang harus segera di selesaikan~
صُمۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uun
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (Al-Baqarah : 18)
Note : Untuk Episode 1 dan seterusnya belum saya pastikan kapan akan di update, mudah-mudahan bisa cepat sesuai kesibukan saya. Terima Kasih sudah membaca Prolognya. 😉
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18
![NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]](https://s.kaskus.id/images/2019/03/01/10518562_201903011029540985.gif)
Buat kalian yang suka bilang...
Kak ini kok mirip film munafik ya?
Jawaban : Mungkin dari segi hal yang di bahas itu sama, ya Gerbang Iblis kan membahas tentang seseorang yang di rasuki jin terus di ruqyah, nah film munafik juga sama, tapi dari segi alur cerita sangatlah berbeda jadi anda tidak bisa bilang kalau ini sama. Jelaskan?.
Oke dari pada berlama-lama, langsung aja di baca Prolognya agak panjang sih untuk sekedar prolog hehehe,,,, 😁
Bagi yang belum baca cerita sebelumnya, bisa langsung cek Di Sini
Quote:
Happy Reading!
~~~~~👻👻👻👻👻👻👻~~~~~
![NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]](https://s.kaskus.id/images/2019/04/17/10518562_201904171033040876.png)
Quote:
Prolog
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari an-naar (neraka). Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisa : 145)
5 Bulan setelah kematian Zaki Abdul Ikhsan.
“Bang, apa abang yakin mau mengikuti jejak Zaki?” Tanya Aminah sambil memberikan secangkir teh manis kepadanya.
Adam menyeruput teh manis hangat tersebut, kemudian menjawab pertanyaan istrinya.
“Abang yakin aminah, kalau bukan abang siapa lagi?”
“Tapi setelah kejadian beberapa bulan yang lalu itu, masih sangat jelas teringat di kepala Aminah bang,” Serunya lagi.
Adam pun terdiam, ia tahu bahwa Aminah tak menginginkan kejadian Beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Ia takut jin yang akan di hadapi oleh Adam kali ini lebih jahat dari sebelumnya.
“Kita punya Allah Aminah, semua yang telah di takdirkan telah tertulis di lauh mahfudz, Jadi apa yang perlu kita takutkan.” Jawab Adam meyakinkan sang istri.
Wajah Aminah terlihat begitu gelisah. Ia tahu sang suami akan mengerjakan Tugas besar lagi kali ini.
Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara gedoran pintu yang sangat kencang.
“Brak! Brak! Bark!”
“Assalamualaikum..... Ustad Adam,,,, pak ustad!” Begitulah kedengarannya. Sumber suara tersebut semakin kencang memanggil namanya.
Mereka pun segera bergegas, untuk membukakan pintu Rumahnya.
“Ya allah, Zainal….. Ada apa ini, malam-malam begini gerasak-gerusuk gitu kaya di kejar binatang aja kamu ini” Pekik Adam kemudian menyuruh zainal masuk ke rumahnya.
“Duduk-duduk…” Serunya lagi.
Zainal pun kemudian duduk, mengehela nafas panjang dan sedikit menenangkan pikirannya.
“Oke… oke tenang… tenang coba jelaskan ada apa?” Tanya Adam kepada Zainal.
Wajah Zainal yang masih terlihat panik, berusaha untuk tenang.
“Ja-ja-di… gini pak ustad, usai sholat isya saya dan istri saya sedang makan malam. Nah pada saat sedang makan, tiba-tiba istri saya muntah-muntah. Saya Kira dia hanya muntah biasa namun, lama kelamaan Istri saya memuntahakan darah, paku , jarum dan juga lintah dari mulutnya pak ustad. saya takut terjadi sesuatu padanya. Apa mungkin dia di guna-guna?. Tolong bantu saya…” Jelasnya.
Saat mendengar cerita Zainal, Adam pun berpikir. Apa mungkin ada sesuatu lagi yang terjadi padanya, sama seperti Keluarga zaki dulu. Saat Adam sedang berpikir tiba-tiba Aminah langsung berbicara.
“Bang? mungkinkah ini sama kejadiannya seperti keluarga zaki dulu?”
Entah kenapa Aminah bisa sepemikiran dengan Adam.
“Aku akan menemui istri mu sekarang!” Ujar Adam tiba-tiba.
Aminah yang melihat suaminya akan berurusan lagi dengan musuh Allah, moncoba sedikit menahannya.
“Bang, aminah gak mau abang kenapa-kenapa… kali ini aminah melarang abang untuk pergi.” Pekik aminah dengan cukup keras.
Melihat sang istri tidak merestui kepergiannya untuk menolong seseorang, Adam berusaha menenangkannya.
“Abang bersama Allah, jadi aminah tidak perlu risau. Semua akan baik-baik saja.” Jawabnya.
Aminah masih dengan muka yang cemas. Antara menginzinkan atau tidak. Ia tidak berbicara usai Adam memberinya jawaban.
“Apakah aminah bisa ijinkan abang? Semua akan lancar dengan restu istri. Abang tidak akan pergi jika aminah tidak mengijinkan.”
“Aminah, aku mohon kepadamu, biarlah adam membantu Istriku aminah. Kalian sesama wanita, pasti kamu paham apa yang aku rasakan kan? bagaimana kalau kamu ada di posisi istriku?!” Zainal memohon.
Aminah pun hanya mengangguk, Namun tidak bicara.
“Abang akan segera kembali,, percayalah” Ujar Adam sambil mengelus pelan kepala aminah yang tertutupi oleh hijab yang di kenakannya.
Setelah itu Aminah pun masuk ke kamarnya, sedangkan Adam pergi bersama Zainal untuk menemui istrinya.
Sesampainya di Halaman rumah Zainal. tiba-tiba seluruh lampu yang ada di rumahnya padam. Suasana menjadi begitu gelap dan menyeramkan.
“Kenapa gelap sekali?” tanya Adam yang belum berani melangkahkan kakinya untuk melangkah lebih dalam, karena rumahnya yang terlihat sangat gelap.
“Tapi tidak mati listrik? hanya rumah mu saja nal?” Ujarnya lagi.
Zainal-pun kebingungan. Mencoba berpikir sejenak lalu melangkah sedikit demi sedikit untuk mengecek apa yang terjadi.
“Saat aku meninggalkan rumah, listrik dan lampu masih menyala pak ustad.” Jawab Zainal.
Sambil terus memperhatikan kondisi di luar rumah yang begitu gelap, Adam mulai mencoba masuk ke dalamnya.
“Sepertinya, Jin yang ada di dalam tubuh istrimu yang membuat semua ini.”
Zainal pun sudah melangkah lebih dulu, dan sampai di depan pintu rumahnya. Saat itu tangannya sudah bersiap untuk membuka pintu tersebut. Terlihat tangan zainal yang sedikit bergemetar tat kala menyentuh gagang pintu rumahnya.Namun, saat ia ingin memutar gagang pintu tersebut, tiba-tiba Adam menahannya.
“Tunggu” Teriak Adam.
“Jangan di buka.” Ujarnya lagi.
Zainal-pun menoleh ke belakang, melihat Adam dan kembali bertanya.
“Kenapa?”
Adam hanya menggelengkan kepalanya.
“Jin itu, ada di balik pintu.”
“Maksudmu?” Zainal kembali bertanya.
Adam pun tidak menggubris pertanyaan yang terakhir, kemudian ia pun langsung membacakan surah Al-An’aam ayat 130 sambil mengulurkan tangannya kedepan dengan tasbih yang masih melilit di jari jemarinya tersebut.
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.”
Setelah surah itu di bacakan, tiba-tiba keluarlah Adinda, istri Zainal dari balik pintu rumahnya. Ia menjebolkan Pintu rumah tersebut dengan badannya, tenaganya terlihat sangat begitu kuat, kemudian ia berlari sangat cepat layaknya kuda sehingga menabrak Zainal dan membuatnya terpental beberapa meter dari posisi sebelumnya. Adam yang berjarak kurang lebih beberapa meter dari pintu tersebut, langsung di hadapkan dengan Wajah Adinda yang sangat buruk. Kelopak matanya yang menghitam, Mulutnya yang penuh darah, dan wajahnya yang terlihat sangat keriput. Itulah gambaran kondisi Adinda kala itu. Jin tersebut sudah menguasai tubuhnya. Maka ia bisa melakukan apa pun kepadanya, tak terkecuali juga dengan membunuhnya.
Wajah Adinda dan Adam saling bertatapan. Adam kemudian kembali membacakan surah tersebut, dan Tidak lama kemudian tiba-tiba, dinda memuntahkan Darah serta seekor ular ke wajah Adam. Mendapatkan sebuah serangan, membuat Adam harus mundur dan membersihkan semua darah yang tertempel di wajahnya itu.
“Astagfirullahaladzim” Adam beristigfar.
Tak lama setelah ular itu keluar dari mulutnya, tiba-tiba Adinda langsung terjatuh lemah tak berdaya dan membuatnya tergeletak di halaman rumahnya.
Sepertinya Jin itu keluar dan menjelma menjadi seekor ular. Pikir Adam.
Inilah Awal mula dari masalah baru yang harus segera di selesaikan~
صُمۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uun
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (Al-Baqarah : 18)
-To be Continued-
Note : Untuk Episode 1 dan seterusnya belum saya pastikan kapan akan di update, mudah-mudahan bisa cepat sesuai kesibukan saya. Terima Kasih sudah membaca Prolognya. 😉
Quote:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18
THANKS FOR READING!
![NIFAQ (Horor Story) [Spin-off Gerbang Iblis]](https://s.kaskus.id/images/2019/03/01/10518562_201903011029540985.gif)
Diubah oleh robbyrhy 13-06-2019 15:24
bruno95 dan 28 lainnya memberi reputasi
29
24.7K
71
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robbyrhy
#25
Episode 10 - Akankah Terungkap?
Raut wajah Adam semakin panik. Tubuhnya tak bisa diam berlari kesana kemari. Mencari keberadaan istrinya yang hilang secara misterius.
Sementara Zainal hanya terdiam melihat Adam. Ia tak tahu apa yang harus di lakukannya, sampai akhirnya ia teringat dengan Adinda.
"Adinda?" dengan raut wajah yang berubah drastis tanpa pikir panjang, Zainal pun segera berlari menuju ke rumahnya. Ia merasakan hawa tak mengenakan, pikirannya lari kemana-mana.
"Jika Aminah saja bisa hilang bagaimana dengan Adinda?" batin Zainal yang terus berlari meninggalkan rumah Adam tampa pamit.
Saat itu Adzan Magrib berkumandang, Zainal dengan tergesa-gesa berlari dengan kencang. Suasana pedesaan yang dingin tat kala matahari akan tenggelam serta timbulnya kabut ringan yang membuat mata Zainal seakan tertutupi samar-samar.
"Ya Allah semoga saja Adinda tidak kenapa-kenapa...." Zainal terus berdoa seraya kakinya terus malangkah. Suara ranting pohon yang terinjak serta jalanan yang agak terjal ia lompati begitu saja. Rasa paniknya sudah membara, menyelimuti tubuhnya.
Saat sampai di depan halaman rumah, Zainal terkejut bukan kepalang. Pintu rumahnya terbuka, seakan ada sesuatu yang masuk atau keluar.
"Adinda?" dengan reflek Zainal berteriak, kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Saat berada di dalam rasa paniknya sama seperti saat Adam mencari Aminah, ia berlari ke setiap ruangan rumahnya. Mencari keberadaan Adinda yang sama-sama hilang secara misterius.
"Ya Allah..." Zainal mulai merasakan stres, kepalanya sedikit pening dengan masalah yang ia alami tak kunjung menemukan titik terang.
sesekali ia mengacak rambutnya, membuat tenang dengan caranya sendiri. "Aku harus kasih tahu Adam juga..." batin Zainal. Kemudian kembali keluar rumah dan menuju ke rumah Adam.

Saat itu suasana di pedesaan memang sangatlah sepi. Rumah Zainal dan juga rumah Adam termasuk lokasi yang jarang sekali di lewati oleh para warga. Kadang hanya beberapa orang yang melewati kawasan ini. Yang bertujuan untuk mencari sesuatu di sebrang hutan.
Meski Desa Bedjo termasuk Desa yang sudah mengalami kemajuan dalam teknologi, namun tak jarang warga di sini enggan untuk memanfaatkannya. Mereka masih senang menggunakan barang-barang tradisional.
Sekitar 10 menit Zainal berlari menuju ke rumah Adam, ia pun dengan nafas yang tersenggal-senggal langsung nyelonong masuk tanpa ijin. Ya karena pintu rumah Adam yang sudah rusak akibat di dobrak olehnya.
Zainal pun dengan tergesa-gesa segera menuju Kamar Adam, saat ia sampai di ambang pintu Adam sedang melaksanakan sholat magrib.
"Ya Allah, aku sampai lupa denganmu..." ucap Zainal, hatinya kembali mengingat Allah.
"Ternyata dengan cepat setan bisa membuat ku lupa akan engkau ya Allah... maaf kan aku... aku memang manusia penuh dosa, aku seharusnya sholat saat keadaan sedang genting seperti ini.." air mata Zainal keluar sedikit demi sedikit. Ia pun segera bergegas ke kamar mandi setelah itu berwudhu dan ikut bergabung melaksanakan sholat magrib bersama Adam.
Usai melaksanakan sembahyang magrib, Adam duduk bersila dan membalikan tubuhnya menjadi berhadap-hadapan dengan Zainal. Adam terlihat sangatlah tenang dalam menghadapi masalah ini. Mungkin dengan cara seperti itu setan jadi tidak akan mudah untuk menghasut dirinya.
"Kenapa kamu tergesah-gesah seperti itu Nal?" tanya Adam penasaran.
"Adinda juga menghilang Dam..." keluh Zainal menjawab pertanyaan Adam dengan wajah lesuh tertunduk.
Adam menghela nafas berat, "Aku juga bingung, kenapa Adinda dan Aminah bisa menghilang secara bersamaan..." ucap Adam.
Bekas-bekas air mata masih menggenang di bawah kelopak mata Zainal, Ia memegang kepalanya yang tak pusing, "Siapa yang melakukan semua ini Dam?" Zainal menahan emosinya sendiri. Seolah berat untuk di luapkan.
Adam hanya bisa terdiam dengan pertanyaan yang Zainal lontarkan, "Jalan satu-satunya hanya dengan berdoa, Dan kita harus mencari mereka. Bagaimana kalau kita tanya satu persatu warga Desa, apakah ada yang melihat Aminah atau Adinda?" cetus Adam memberi solusi terbaiknya.
Zainal berpikir sejenak, "Baiklah... mungkin hanya itu jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini." pasrah Zainal menyetujui solusi yang Adam berikan. Tanpa pikir panjang mereka pun segera menuju kawasan padat penduduk yang tidak begitu jauh dari rumah Adam.
Dengan motor yang selalu dibawanya Adam dan Zainal pun segera menuju kesana. Sesampainya di sana, tiba-tiba mereka telah di kejutkan dengan segerombolan warga yang berkerumbun.
"Ada apa ya Dam? ramai sekali itu." tanya Zainal.
"Ya Allah siapa yang membunuhnya??" Samar-samar mereka mendengar suara warga yang saling berbisik dari kejauhan.
Bahkan terlihat salah satu dari mereka tiba-tiba memundurkan badannya usai masuk ke dalam segerombolan warga itu.
Adam dan Zainal yang penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh warga bedjo, segera menghampiri sekumpulan warga tersebut.
"Assalamualaikum..." ucap Adam dan Zainal bersamaa membuat sekumpulan warga kini menengok ke arahnya.
"Walaikumsalam ... Eh, ustad Adam.. Alhamdulilah ustad datang di waktu yang tepat. Baru aja kami mau ke rumah pak ustad.." jawab Seorang warga di sana dengan wajah yang masih terlihat panik dan was-was. Entah apa yang sedang terjadi.
"Iya pak ustad ini ada mayat gak di kenal..." sunggut seorang wanita paruh baya dengan kencangnya.
Adam dan Zainal pun terkejut bukan kepalang, matanya melebar tat kala wanita tersebut berkata seperti itu. mereka pun segera masuk ke dalam gerombolan warga yang menghalangi sosok mayat di dalam sana.

"Astagfirullahaladzim..." Adam beristigfar tat kala ia melihat sosok mayat tersebut. Ternyata mayat itu berjenis kelamin laki-laki, Berperawakan kurus serta dengan luka lebam di bagian punggunya.
"Sepertinya dia mati karena di bunuh Dam dan Mayatnya di buang ke saluran air, bisa di lihat dari tubuhnya yang membiru.." timpal Zainal menerka penyebab kematian dari jasad yang sedang di lihatnya.
Mayat tersebut pun di gulirkan ke samping oleh Adam, dan saat melihat sosok wajahnya Adam pun semakin terkaget-kaget. Ia hanya bisa mengelus dada dengan mata membulat sempurna. Wajahnya terlihat tegang dengan mata yang menyorot tajam ke arah mayat itu.
Ia segera mengehala nafasnya, berusaha tenang, "Apa kamu tahu dia siapa Dam?" tanya Zainal penasaran setelah melihat ekspresi Adam yang mencurigakan.
Adam masih terdiam lemas, menelan ludahnya sendiri berusaha ingin menjawab pertanyaan Zainal namun seakan masih tak mampu.
"Apa pak Ustad tahu orang ini?" kembali lagi salah seorang warga bertanya. Mengulang pertanyaan Zainal.
Adam masih menatap mayat tersebut, "Aku tahu, dia Pak Samit..." jawab Adam setelah sekian menit seperti terhipnotis dengan jasad yang ada di depannya.
Zainal hanya bisa menganga tak percaya, sementara seluruh warga Desa bergeleng tidak mengenalnya. Suara bisik membisik terjadi si situ. Mempertanyakan siapa pak Samit, dan dari mana dia?
"Aku mohon kepada warga desa untuk kerja samanya, agar kalian semua bisa mengurus jasad Pak Samit malam ini... Aku sendiri akan pergi ke rumah Syifa, anak dari pak Samit ini." seru Adam kepada para warga di sekitarnya.
"Baik Pak Ustad..." jawab Salah seorang warga di situ.
Adam mengatur nafasnya lagi, masih dalam keadaan tak percaya semua pertanyaan tentang Pak Samit kini terbayang dalam pikirannya.
"Saya pergi dulu ya, Assalamualaikum..." ucap Adam kemudian berlari kecil menuju motor miliknya.
Zainal yang melihat Adam sebegitu paniknya segera mengekori dirinya, ia pun sesekali berteriak kepada Adam bahwa dirinya juga ingin ikut membantu.
Adam tidak menggubris panggilan Zainal sampai ia berada di atas motornya, Zainal pun berteriak sangat keras, "Tunggu Adam..." Ia segera menahan Adam, kali ini Adam baru menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak usah ikut Nal, ini tidak ada hubungannya dengan kamu... Aku takut kamu malah akan mendapatkan masalah lebih banyak lagi..." jawab Adam yang sudah siap memutar pedal gas motornya.
Zainal masih terkekeh, "Tidak Dam, tentu ini masih ada urusannya dengan ku, Adinda hilang?! mungkin saja ini bisa menjadi petunjuk... Aku mau kita selesaikan masalah ini bersama-sama.. Aku sangat khawatir dengan keberadaan istriku sekarang. Aku tahu kau pasti juga khawatir dengan Aminah kan?" kata Zainal
Adam menghela pasrah, "Baiklah.. Aku mohon kita bisa berkerja sama dengan baik dalam masalah kali ini ya Nal," kata Adam.
Zainal mengangguk, kemudian mainaiki Motor Adam. Lalu mereka pun segera bergegas menuju ke rumah Syifa untuk memberi tahu perihal pak Samit yang mati terbunuh. Jam menunjukan pukul dua puluh lewat delapan, Mereka memperkirakan akan sampai ke rumah Syifa tepat pukul sembilan malam.
"Semoga tidak ada sesuatu lagi yang menghalangi jalan kita ya Dam.." ucap Zainal sambil menepuk pelan pundak Adam.
"Amiiin" balas Adam dalam hatinya.
Dengan sigap Adam pun segera memutar pedal gasnya. Segera mengendarai motornya menuju ke kediaman rumah Syifa(Anak Pak Samit).
Sementara Zainal hanya terdiam melihat Adam. Ia tak tahu apa yang harus di lakukannya, sampai akhirnya ia teringat dengan Adinda.
"Adinda?" dengan raut wajah yang berubah drastis tanpa pikir panjang, Zainal pun segera berlari menuju ke rumahnya. Ia merasakan hawa tak mengenakan, pikirannya lari kemana-mana.
"Jika Aminah saja bisa hilang bagaimana dengan Adinda?" batin Zainal yang terus berlari meninggalkan rumah Adam tampa pamit.
Saat itu Adzan Magrib berkumandang, Zainal dengan tergesa-gesa berlari dengan kencang. Suasana pedesaan yang dingin tat kala matahari akan tenggelam serta timbulnya kabut ringan yang membuat mata Zainal seakan tertutupi samar-samar.
"Ya Allah semoga saja Adinda tidak kenapa-kenapa...." Zainal terus berdoa seraya kakinya terus malangkah. Suara ranting pohon yang terinjak serta jalanan yang agak terjal ia lompati begitu saja. Rasa paniknya sudah membara, menyelimuti tubuhnya.
Saat sampai di depan halaman rumah, Zainal terkejut bukan kepalang. Pintu rumahnya terbuka, seakan ada sesuatu yang masuk atau keluar.
"Adinda?" dengan reflek Zainal berteriak, kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Saat berada di dalam rasa paniknya sama seperti saat Adam mencari Aminah, ia berlari ke setiap ruangan rumahnya. Mencari keberadaan Adinda yang sama-sama hilang secara misterius.
"Ya Allah..." Zainal mulai merasakan stres, kepalanya sedikit pening dengan masalah yang ia alami tak kunjung menemukan titik terang.
sesekali ia mengacak rambutnya, membuat tenang dengan caranya sendiri. "Aku harus kasih tahu Adam juga..." batin Zainal. Kemudian kembali keluar rumah dan menuju ke rumah Adam.

Saat itu suasana di pedesaan memang sangatlah sepi. Rumah Zainal dan juga rumah Adam termasuk lokasi yang jarang sekali di lewati oleh para warga. Kadang hanya beberapa orang yang melewati kawasan ini. Yang bertujuan untuk mencari sesuatu di sebrang hutan.
Meski Desa Bedjo termasuk Desa yang sudah mengalami kemajuan dalam teknologi, namun tak jarang warga di sini enggan untuk memanfaatkannya. Mereka masih senang menggunakan barang-barang tradisional.
Sekitar 10 menit Zainal berlari menuju ke rumah Adam, ia pun dengan nafas yang tersenggal-senggal langsung nyelonong masuk tanpa ijin. Ya karena pintu rumah Adam yang sudah rusak akibat di dobrak olehnya.
Zainal pun dengan tergesa-gesa segera menuju Kamar Adam, saat ia sampai di ambang pintu Adam sedang melaksanakan sholat magrib.
"Ya Allah, aku sampai lupa denganmu..." ucap Zainal, hatinya kembali mengingat Allah.
"Ternyata dengan cepat setan bisa membuat ku lupa akan engkau ya Allah... maaf kan aku... aku memang manusia penuh dosa, aku seharusnya sholat saat keadaan sedang genting seperti ini.." air mata Zainal keluar sedikit demi sedikit. Ia pun segera bergegas ke kamar mandi setelah itu berwudhu dan ikut bergabung melaksanakan sholat magrib bersama Adam.
Usai melaksanakan sembahyang magrib, Adam duduk bersila dan membalikan tubuhnya menjadi berhadap-hadapan dengan Zainal. Adam terlihat sangatlah tenang dalam menghadapi masalah ini. Mungkin dengan cara seperti itu setan jadi tidak akan mudah untuk menghasut dirinya.
"Kenapa kamu tergesah-gesah seperti itu Nal?" tanya Adam penasaran.
"Adinda juga menghilang Dam..." keluh Zainal menjawab pertanyaan Adam dengan wajah lesuh tertunduk.
Adam menghela nafas berat, "Aku juga bingung, kenapa Adinda dan Aminah bisa menghilang secara bersamaan..." ucap Adam.
Bekas-bekas air mata masih menggenang di bawah kelopak mata Zainal, Ia memegang kepalanya yang tak pusing, "Siapa yang melakukan semua ini Dam?" Zainal menahan emosinya sendiri. Seolah berat untuk di luapkan.
Adam hanya bisa terdiam dengan pertanyaan yang Zainal lontarkan, "Jalan satu-satunya hanya dengan berdoa, Dan kita harus mencari mereka. Bagaimana kalau kita tanya satu persatu warga Desa, apakah ada yang melihat Aminah atau Adinda?" cetus Adam memberi solusi terbaiknya.
Zainal berpikir sejenak, "Baiklah... mungkin hanya itu jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini." pasrah Zainal menyetujui solusi yang Adam berikan. Tanpa pikir panjang mereka pun segera menuju kawasan padat penduduk yang tidak begitu jauh dari rumah Adam.
Dengan motor yang selalu dibawanya Adam dan Zainal pun segera menuju kesana. Sesampainya di sana, tiba-tiba mereka telah di kejutkan dengan segerombolan warga yang berkerumbun.
"Ada apa ya Dam? ramai sekali itu." tanya Zainal.
"Ya Allah siapa yang membunuhnya??" Samar-samar mereka mendengar suara warga yang saling berbisik dari kejauhan.
Bahkan terlihat salah satu dari mereka tiba-tiba memundurkan badannya usai masuk ke dalam segerombolan warga itu.
Adam dan Zainal yang penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh warga bedjo, segera menghampiri sekumpulan warga tersebut.
"Assalamualaikum..." ucap Adam dan Zainal bersamaa membuat sekumpulan warga kini menengok ke arahnya.
"Walaikumsalam ... Eh, ustad Adam.. Alhamdulilah ustad datang di waktu yang tepat. Baru aja kami mau ke rumah pak ustad.." jawab Seorang warga di sana dengan wajah yang masih terlihat panik dan was-was. Entah apa yang sedang terjadi.
"Iya pak ustad ini ada mayat gak di kenal..." sunggut seorang wanita paruh baya dengan kencangnya.
Adam dan Zainal pun terkejut bukan kepalang, matanya melebar tat kala wanita tersebut berkata seperti itu. mereka pun segera masuk ke dalam gerombolan warga yang menghalangi sosok mayat di dalam sana.

"Astagfirullahaladzim..." Adam beristigfar tat kala ia melihat sosok mayat tersebut. Ternyata mayat itu berjenis kelamin laki-laki, Berperawakan kurus serta dengan luka lebam di bagian punggunya.
"Sepertinya dia mati karena di bunuh Dam dan Mayatnya di buang ke saluran air, bisa di lihat dari tubuhnya yang membiru.." timpal Zainal menerka penyebab kematian dari jasad yang sedang di lihatnya.
Mayat tersebut pun di gulirkan ke samping oleh Adam, dan saat melihat sosok wajahnya Adam pun semakin terkaget-kaget. Ia hanya bisa mengelus dada dengan mata membulat sempurna. Wajahnya terlihat tegang dengan mata yang menyorot tajam ke arah mayat itu.
Ia segera mengehala nafasnya, berusaha tenang, "Apa kamu tahu dia siapa Dam?" tanya Zainal penasaran setelah melihat ekspresi Adam yang mencurigakan.
Adam masih terdiam lemas, menelan ludahnya sendiri berusaha ingin menjawab pertanyaan Zainal namun seakan masih tak mampu.
"Apa pak Ustad tahu orang ini?" kembali lagi salah seorang warga bertanya. Mengulang pertanyaan Zainal.
Adam masih menatap mayat tersebut, "Aku tahu, dia Pak Samit..." jawab Adam setelah sekian menit seperti terhipnotis dengan jasad yang ada di depannya.
Zainal hanya bisa menganga tak percaya, sementara seluruh warga Desa bergeleng tidak mengenalnya. Suara bisik membisik terjadi si situ. Mempertanyakan siapa pak Samit, dan dari mana dia?
"Aku mohon kepada warga desa untuk kerja samanya, agar kalian semua bisa mengurus jasad Pak Samit malam ini... Aku sendiri akan pergi ke rumah Syifa, anak dari pak Samit ini." seru Adam kepada para warga di sekitarnya.
"Baik Pak Ustad..." jawab Salah seorang warga di situ.
Adam mengatur nafasnya lagi, masih dalam keadaan tak percaya semua pertanyaan tentang Pak Samit kini terbayang dalam pikirannya.
"Saya pergi dulu ya, Assalamualaikum..." ucap Adam kemudian berlari kecil menuju motor miliknya.
Zainal yang melihat Adam sebegitu paniknya segera mengekori dirinya, ia pun sesekali berteriak kepada Adam bahwa dirinya juga ingin ikut membantu.
Adam tidak menggubris panggilan Zainal sampai ia berada di atas motornya, Zainal pun berteriak sangat keras, "Tunggu Adam..." Ia segera menahan Adam, kali ini Adam baru menoleh ke arahnya.
"Kamu tidak usah ikut Nal, ini tidak ada hubungannya dengan kamu... Aku takut kamu malah akan mendapatkan masalah lebih banyak lagi..." jawab Adam yang sudah siap memutar pedal gas motornya.
Zainal masih terkekeh, "Tidak Dam, tentu ini masih ada urusannya dengan ku, Adinda hilang?! mungkin saja ini bisa menjadi petunjuk... Aku mau kita selesaikan masalah ini bersama-sama.. Aku sangat khawatir dengan keberadaan istriku sekarang. Aku tahu kau pasti juga khawatir dengan Aminah kan?" kata Zainal
Adam menghela pasrah, "Baiklah.. Aku mohon kita bisa berkerja sama dengan baik dalam masalah kali ini ya Nal," kata Adam.
Zainal mengangguk, kemudian mainaiki Motor Adam. Lalu mereka pun segera bergegas menuju ke rumah Syifa untuk memberi tahu perihal pak Samit yang mati terbunuh. Jam menunjukan pukul dua puluh lewat delapan, Mereka memperkirakan akan sampai ke rumah Syifa tepat pukul sembilan malam.
"Semoga tidak ada sesuatu lagi yang menghalangi jalan kita ya Dam.." ucap Zainal sambil menepuk pelan pundak Adam.
"Amiiin" balas Adam dalam hatinya.
Dengan sigap Adam pun segera memutar pedal gasnya. Segera mengendarai motornya menuju ke kediaman rumah Syifa(Anak Pak Samit).
BERSAMBUNG....
tet762 dan 4 lainnya memberi reputasi
5