TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.2K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
muselimah
#146
Pembukuan
Quote:
12 April 2019
Barusan ada kabar tentang Gempa di Sumsel
semoga tidak ada korban jiwa
Baik, seperti yang sudah dijelaskan tadi oleh moderator, nama saya Yudi lengkapnya Yudi Sudarmadi. Lahir, besar dan berdomisili di Bandung. Tempat dimana Industri Tekstil dan Produk Tekstil ( garment ) berkembang. Tempat saya menempa ilmu Pendidikan di Bidang Teknologi Tesktil, Tempat saya memulai bekerja di bidang Tekstil garment sampai memiliki 2 usaha sendiri yang berhubungan dengan dunia Tekstil garment.
Karena kebutuhan dan ketertarikan mendalam tentang dunia keuangan
sejak tahun April 2018 saya mendirikan perusahaan baru yang bergerak di bidang software keuangan dan pajak
Harapannya menjadi ERP utk UMKM. Dilanjutkan dengan membuat platform yang menghubungkan industry kecil hulu dengan industry bahan baku lengkap dengan fintech-nya.
Namun bukan tentang itu yang mau saya sharing, tetapi tentang pentingnya system tata kelola keuangan yang baik agar memastikan eksekusi Branding kita berjalan sustain
Berdasarkan pengamatan, sering kita temui Usaha Mikro Kecil tidak mengurus perizinan dan pencatatan atau pembukuan.
Padahal, jarang perusahaan yang bisa membesar tanpa comply dengan regulasi, perizinan dasar maupun pajak
bahkan mungkin hampir mustahil perusahaan membesar tanpa melakukan pencatatan / pembukuan keuangan.
Pencatatan atau pembukuan transaksi keuangan suatu usaha itu sifatnya bukan pilihan tapi WAJIB.
Karena Wajib, tentu ada konsekwensi hukumnya dari mulai sangsi administratif mapun Pidana
Bagi beberapa UKM yang sudah memiliki laporan keuangan pun, banyak yang masih belum mengoptimalkan manfaatnya
Tidak melakukan Analisa laporan keuangan. Tidak mengukur seberapa efektif tindakan tindakan di dalam organisasi terhadap kinerja keuangan
Rencana dan eksekusi bisnis termasuk eksekusi Branding, tidak pernah di ukur profitabilitasnya. Seberapa effisien Sales yang kita ciptakan dari eksekusi Branding yang sudah di jalankan
Padahal dengan bantuan software akuntansi semua pekerjaan itu, relative mudah dilakukan.
setelah kulgram ini selesai, diharapkan ada kesadaran yang lebih tentang pentingnya management keuangan yang baik agar memastikan Aktifitas branding yang kita lakukan bisa sustain. Tanpa perencanaan dan tata kelola keuangan yang baik bagaimana mungkin eksekusi Brand activation yang sudah kita buat bisa berjalan baik.
Mengapa tata kelola keuangan penting untuk memastikan agar eksekusi branding-nya sustain ?
Berangkat dari Premis bahwa Bisnis yang Branding-nya Baik dihasilkan dari Tata kelola keuangan yang rapih, sedangkan kebanyakan UMKM tidak rapih tata kelola keuangan-nya
Itulah mengapa Branding dari UKM tidak terbangun dengan baik dan tidak bisa sustain.
Branding yang sustain yang dimaksud adalah Aktifitas branding yang terus berkelanjutan untuk mencapai Visi perusahaan
sekarang mari kita lihat bagan berikut
Setiap bisnis tujuan utamanya itu adalah Profit, Growth dan Sustain. Semua sepakat ya ?
Tentu saja selain kontribusi sosial
Profit, Growth dan Sustain ini merupakan dampak langsung dari Business Process
Bahkan ini adalah kriteria dasar pada saat kita membangun bisnis
Business Process ( Proses Bisnis ) adalah satu atau lebih aktivitas yang memberikan nilai tambah untuk mengubah input menjadi output (barang atau jasa) kepada customer dengan mengkombinasikan orang, metoda, dan tools yang digunakan
Proses bisnis terdiri dari :
1. Proses bisnis inti atau utama (core process) : Proses-proses yang diselenggarakan untuk melayani pengguna jasa/produk
2. Proses bisnis pendukung (supporting process): proses-proses yang diselenggarakan untuk melayani pelanggan internal yaitu karyawan. Proses ini bersifat mendukung proses bisnis inti atau utama.
Michael Porter menggambarkan aktifitas di dalam organisasi sebagai “Value Chain” ( Rantai Nilai ) untuk menghadirkan Value yang akan dibayar oleh Pasar untuk kemudian menghasilkan Profit Margin bagi Perusahaan.
seperti yang terlihat pada bagan berikut ;
Profit Margin itu adalah Selisih dari Value dan Biaya yang harus dibayar oleh Customer
Biaya bisa berupa moneter, waktu dan Upaya ( effort ) untuk mendapatkan produk
Nilai (value) adalah perkiraan konsumen atas seluruh kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhannya
Ini biasa di sebut dengan Nilai persepsi Pelanggan ( Customer Perceived Value =)
Customer Perceived Value yang baik adalah ketika Nilai Manfaat Jauh lebih besar dari biaya perolehan, pemilikan, dan penggunaan
Baik Manfaat Fisik ( fungsional ) & Manfaat Sosial Emosional atau Nilai Manfaat Produk, Nilai Pelayanan, Nilai Personil, Nilai Citra & Brand
Sementara biaya adalah Harga Moneter, Ongkos Waktu, Ongkos Psikis dan Ongkos energi
Kalau boleh Value Chain nya porter disederhanakan, saya akan membagi berbagai aktifitas didalam organisasi itu menjadi 4 fungsi besar sebagai pondasi seperti yang kebanyakan kita liat di organisasi UKM :
1. Fungsi menghadirkan produk, baik produknya barang atau jasa, baik produk nya di buat internal In-house ataupun eksternal / sub-contract. Fungsi ini di organisai biasa kita sebut bagian operasional atau Produksi.
2. Fungsi yang kedua adalah fungsi men-deliver produk, biasa kita menamainya sebagai bagian atau department Marketing, termasuk fungsi branding di dalamnya.
3. Ketiga, fungsi management team biasa kita sebut HRD atau sekarang bagi Organisasi besar banyak yang sudah bertransformasi menjadi Human Capital Management yang biasanya juga menyatu dengan pengelolaan General Affair.
4. Keempat, Fungsi pengelolaan keuangan, Accounting, Finance & Tax. Ketiga sub fungsi ini di UKM bisa jadi satu atau terpisah. Terkadang bagian ini ada fungsi purchasing.
Semua fungsi yang saya sebutkan diatas merupakan satu rangkaian sinergi didalam bisnis apapun. Oleh karena itu selayaknya kita memberi perhatian yang proporsional pada setiap fungsi tersebut
Semua aktifitas transaksional didalam fungsi organisasi ini di kelola dengan system pembukuan atau Akuntansi
Proses akuntansi disini berperan dalam Perhitungan biaya pekerja, perhitungan biaya produksi sehingga dapat mementukan standar target keuntungan perusahaan, memperhitungkan berapakah harga yang seharusnya ditetapkan untuk menjual produk perusahaan yang dapat menarik konsumen dengan memaksimalkan keuntungan perusahaan melalui langkah branding tertentu.
Data keuangan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperhitungkan apakah di tahun ini organisasi usaha kita mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan melalui peningkatan upah pekerja atau tidak, cukup untuk membayar dividen kepada para pemegang saham perusahaan atau tidak.
Tidak kalah pentingnya adalah, Data keuangan ini akan membantu apakah modal kerja yang kita miliki ini mampu membiayai Target penjualan yang ditetapkan atau tidak, sehingga kita bisa mengambil keputusan jika perlu, mencari sumber pendanaan eksternal, bisa berupa pinjaman, kerjasama usaha temporer atau penyertaan modal yang bersifat jangka Panjang
Selama ini kebanyakan kita lebih berfocus pada pertumbuhan perusahaan melalui aktifitas Marketing, tanpa begitu memperhatikan management keuangan. Padahal tidak sedikit perusahaan banyak yang bangkrut bukan karena merugi tetapi karena tidak mampu mengelola keuangan dengan baik.
Dalam konteks Branding disini, tata kelola keuangan yang baik itu akan memastikan eksekusi Branding kita akan lebih terjamin keberlangsungannya. Membuat organisasi bisnis menjadi sustain, bertahan dalam jangka waktu yang lama untuk mengejar visi perusahaan.
Dengan tata kelola keuangan yang baik, kita bisa mengevaluasi kinerja bisnis secara lebih bisa dipertanggung jawabkan. Setiap tindakan didalam organisasi juga bisa di ukur melalui kinerja keuangan.
Branding merupakan tindakan yang terus menerus harus perusahaan lakukan selama perusahaan tersebut berdiri. Jika berhenti bisa dikatakan berhenti pula perusahaan tersebut. Dan market akan segera melupakan Brand kita.
Jangan berharap konsumen bisa loyal ? dan biaya untuk mengaktivasi lagi mungkin akan sama mahalnya ketika brand di perkenalkan pada masyarakat.
Lalu pertanyaan nya bagaimana strategi agar tata kelola keuangan kita baik.
Dimulai dari pemahaman bahwa semua aktifitas transaksi harus di catat.
Yang pada dasarnya hanya ada dua jenis transaksi di semua organisasi perusahaan. Transaksi Masuk dan Transaksi Keluar.
Baik perusahaan besar maupun kecil, yang membedakan hanya volumenya yang di dihasilkan dari frekwensi dan nilai per transaksi.
Secara system akuntansi, hanya ada 3 jenis perusahaan yaitu Jasa, Dagang dan Manufaktur.
Perbedaan utama perusahaan jasa dengan dagang terletak pada apakah ada aktifitas pembelian barang dagangan atau tidak.
Sedangkan perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memproduksi barang dagangannya.
Setelah semua hal itu jelas, kita mulai langkah pertama :
1. Tentukan Tujuan Keuangan dengan cara membuat target keuangan yang ingin dicapai
Dari sini kita akan mengetahui kebutuhan modal kerja yang diperlukan untuk mencapai Target yang telah di tentukan tersebut
Apakah kita mengandalkan sumber pendanaan sendiri dari organisasi usaha kita atau diperlukan sumber pendanaan dari pihak luar organisasi.
Apakah bentuknya hutang, Kerjasama usaha temporer atau bahkan membuat keputusan strategis dengan mengundang pemodal baru.
2. Buat Rencana Aksi ( Action Plan )
Tindakan apa yang perlu dilakukan agar perusahaan bisa mendapatkan hati konsumen dengan men-deliver value yag Sudah kita tetapkan.
Apa yg dilakukan?
Kapan?
Berapa lama?
Siapa penanggung jawabnya?
Berapa budgetnya?
Dan kapan dievaluasinya ?
Peran Branding sangat vital pada saat perusahaan men-deliver value proposition tersebut
dimulai sejak Perkenalan (Pre-sales activity )
saat produk sedang di konsumsi dan After Sales activiy ( After Sales Service ).
Anda bisa bayangkan tanpa perencanaan keuangan yang baik, Eksekusi branding hampir “mustahil” mendapatkan hasil yang baik. Bahkan bisa jadi GATOT. Alias Gagal Total.
3. Tahap Eksekusi :
Pada tahap eksekusi menata keuangan perusahaan yang baik, Kata kuncinya adalah DISIPLIN mencatat SETIAP transaksi masuk dan transaksi keluar.
4. Evaluasi : Tahap terakhir dari strategi agar management keuangan tertata baik adalah menentukan evaluasi kinerja keuangan
Hasil dari pencatatan dari setiap transaksi adalah Laporan Keuangan berupa Laporan laba rugi, Laporan Neraca, dan Laporan Arus Kas. Dari berbagai laporan keuangan ini, kita bisa meliat seberapa baik tindakan yang sudah kita lakukan.
a. Hal yang menjadi acuan utama tentu saja tingkat profitabilitas usaha kita. Seberapa besar Profit yang dihasilkan dari Modal yang kita keluarkan untuk men deliver Value yang sudah kita buat. Dalam Ilmu keuanga ini biasa di sebut sebaga Return On Equity ( ROE )
b. Seberapa Produktif Aset yang ada bisa menghasilkan Profit ( ROA = Return On Asset ).
c. Produktifitas Aset di tentukan oleh seberapa Efektif Aset berputar menghasilkan Sales Revenue ( ATO = Asset Turn Over ) ini juga menunjukan operational efficiency
d. Kemudian dari laporan keuangan kita bisa juga bisa melihat seberapa baik Brand Value proposition dari produk kita bisa di terima oleh pasar. Dalam Ilmu keuangan ini di tunjukan dengan tingkat Effisiensi Sales menghasilkan Profit ( ROS = Return On Sales ) atau umum biasa mengenal dengan Net Profit Margin.
Dari berbagai Analisa laporan keuangan ini kita bisa tahu tingkat kesehatan bisnis kita
Saya ingin menekankan pada tindakan Apa yang perlu dilakukan agar strategi tata kelola keuangan berjalan baik.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, perlu untuk mempersiapkan siapa melakukan apa dengan alat bantu apa.
Orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan perusahaan perlu memahami ilmu akutansi agar bisa menghasilkan laporan keuangan yang bisa di pertanggung jawabkan sehingga kita tidak salah membaca menterjemahkan dan mengambil tindakan berdasarkan laporan keuangan tersebut
Beruntungnya sekarang sudah lumayan banyak software akutansi yang memudahkan kita membuat laporan keuangan.
Penting bagi kita untuk mendapatkan laporan keuangan yang akurat dan real time bisa dihasilkan agar kita bisa segera mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk perbaikan.
Selain bisa mengontrol kapanpun, penting bagi owner untuk bisa meliat kinerja perusahaan dimanapun dia berada.
Tanpa bantuan software secara cloud computing ( Web-based ), rasanya sulit hal ini bisa tercapai.
Untuk memperjelas dengan apa yang telah dijelaskan diatas, tadinya saya ingin membuat study kasus, tapi rasanya tidak akan cukup waktu... mungkin dilain kesempatan saya akan coba melakukannya
Sekedar bahan referensi, kami baru saja meluncurkan software akutansi keuangan yang bisa sekaligus bisa melakukan setor lapor pajak. yang di lengkapi dengan kemampuan diagnosa kesehatan bisnisnya.
Barusan ada kabar tentang Gempa di Sumsel
semoga tidak ada korban jiwa
Baik, seperti yang sudah dijelaskan tadi oleh moderator, nama saya Yudi lengkapnya Yudi Sudarmadi. Lahir, besar dan berdomisili di Bandung. Tempat dimana Industri Tekstil dan Produk Tekstil ( garment ) berkembang. Tempat saya menempa ilmu Pendidikan di Bidang Teknologi Tesktil, Tempat saya memulai bekerja di bidang Tekstil garment sampai memiliki 2 usaha sendiri yang berhubungan dengan dunia Tekstil garment.
Karena kebutuhan dan ketertarikan mendalam tentang dunia keuangan
sejak tahun April 2018 saya mendirikan perusahaan baru yang bergerak di bidang software keuangan dan pajak
Harapannya menjadi ERP utk UMKM. Dilanjutkan dengan membuat platform yang menghubungkan industry kecil hulu dengan industry bahan baku lengkap dengan fintech-nya.
Namun bukan tentang itu yang mau saya sharing, tetapi tentang pentingnya system tata kelola keuangan yang baik agar memastikan eksekusi Branding kita berjalan sustain
Berdasarkan pengamatan, sering kita temui Usaha Mikro Kecil tidak mengurus perizinan dan pencatatan atau pembukuan.
Padahal, jarang perusahaan yang bisa membesar tanpa comply dengan regulasi, perizinan dasar maupun pajak
bahkan mungkin hampir mustahil perusahaan membesar tanpa melakukan pencatatan / pembukuan keuangan.
Pencatatan atau pembukuan transaksi keuangan suatu usaha itu sifatnya bukan pilihan tapi WAJIB.
Karena Wajib, tentu ada konsekwensi hukumnya dari mulai sangsi administratif mapun Pidana
Bagi beberapa UKM yang sudah memiliki laporan keuangan pun, banyak yang masih belum mengoptimalkan manfaatnya
Tidak melakukan Analisa laporan keuangan. Tidak mengukur seberapa efektif tindakan tindakan di dalam organisasi terhadap kinerja keuangan
Rencana dan eksekusi bisnis termasuk eksekusi Branding, tidak pernah di ukur profitabilitasnya. Seberapa effisien Sales yang kita ciptakan dari eksekusi Branding yang sudah di jalankan
Padahal dengan bantuan software akuntansi semua pekerjaan itu, relative mudah dilakukan.
setelah kulgram ini selesai, diharapkan ada kesadaran yang lebih tentang pentingnya management keuangan yang baik agar memastikan Aktifitas branding yang kita lakukan bisa sustain. Tanpa perencanaan dan tata kelola keuangan yang baik bagaimana mungkin eksekusi Brand activation yang sudah kita buat bisa berjalan baik.
Mengapa tata kelola keuangan penting untuk memastikan agar eksekusi branding-nya sustain ?
Berangkat dari Premis bahwa Bisnis yang Branding-nya Baik dihasilkan dari Tata kelola keuangan yang rapih, sedangkan kebanyakan UMKM tidak rapih tata kelola keuangan-nya
Itulah mengapa Branding dari UKM tidak terbangun dengan baik dan tidak bisa sustain.
Branding yang sustain yang dimaksud adalah Aktifitas branding yang terus berkelanjutan untuk mencapai Visi perusahaan
sekarang mari kita lihat bagan berikut
Setiap bisnis tujuan utamanya itu adalah Profit, Growth dan Sustain. Semua sepakat ya ?
Tentu saja selain kontribusi sosial
Profit, Growth dan Sustain ini merupakan dampak langsung dari Business Process
Bahkan ini adalah kriteria dasar pada saat kita membangun bisnis
Business Process ( Proses Bisnis ) adalah satu atau lebih aktivitas yang memberikan nilai tambah untuk mengubah input menjadi output (barang atau jasa) kepada customer dengan mengkombinasikan orang, metoda, dan tools yang digunakan
Proses bisnis terdiri dari :
1. Proses bisnis inti atau utama (core process) : Proses-proses yang diselenggarakan untuk melayani pengguna jasa/produk
2. Proses bisnis pendukung (supporting process): proses-proses yang diselenggarakan untuk melayani pelanggan internal yaitu karyawan. Proses ini bersifat mendukung proses bisnis inti atau utama.
Michael Porter menggambarkan aktifitas di dalam organisasi sebagai “Value Chain” ( Rantai Nilai ) untuk menghadirkan Value yang akan dibayar oleh Pasar untuk kemudian menghasilkan Profit Margin bagi Perusahaan.
seperti yang terlihat pada bagan berikut ;
Profit Margin itu adalah Selisih dari Value dan Biaya yang harus dibayar oleh Customer
Biaya bisa berupa moneter, waktu dan Upaya ( effort ) untuk mendapatkan produk
Nilai (value) adalah perkiraan konsumen atas seluruh kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhannya
Ini biasa di sebut dengan Nilai persepsi Pelanggan ( Customer Perceived Value =)
Customer Perceived Value yang baik adalah ketika Nilai Manfaat Jauh lebih besar dari biaya perolehan, pemilikan, dan penggunaan
Baik Manfaat Fisik ( fungsional ) & Manfaat Sosial Emosional atau Nilai Manfaat Produk, Nilai Pelayanan, Nilai Personil, Nilai Citra & Brand
Sementara biaya adalah Harga Moneter, Ongkos Waktu, Ongkos Psikis dan Ongkos energi
Kalau boleh Value Chain nya porter disederhanakan, saya akan membagi berbagai aktifitas didalam organisasi itu menjadi 4 fungsi besar sebagai pondasi seperti yang kebanyakan kita liat di organisasi UKM :
1. Fungsi menghadirkan produk, baik produknya barang atau jasa, baik produk nya di buat internal In-house ataupun eksternal / sub-contract. Fungsi ini di organisai biasa kita sebut bagian operasional atau Produksi.
2. Fungsi yang kedua adalah fungsi men-deliver produk, biasa kita menamainya sebagai bagian atau department Marketing, termasuk fungsi branding di dalamnya.
3. Ketiga, fungsi management team biasa kita sebut HRD atau sekarang bagi Organisasi besar banyak yang sudah bertransformasi menjadi Human Capital Management yang biasanya juga menyatu dengan pengelolaan General Affair.
4. Keempat, Fungsi pengelolaan keuangan, Accounting, Finance & Tax. Ketiga sub fungsi ini di UKM bisa jadi satu atau terpisah. Terkadang bagian ini ada fungsi purchasing.
Semua fungsi yang saya sebutkan diatas merupakan satu rangkaian sinergi didalam bisnis apapun. Oleh karena itu selayaknya kita memberi perhatian yang proporsional pada setiap fungsi tersebut
Semua aktifitas transaksional didalam fungsi organisasi ini di kelola dengan system pembukuan atau Akuntansi
Proses akuntansi disini berperan dalam Perhitungan biaya pekerja, perhitungan biaya produksi sehingga dapat mementukan standar target keuntungan perusahaan, memperhitungkan berapakah harga yang seharusnya ditetapkan untuk menjual produk perusahaan yang dapat menarik konsumen dengan memaksimalkan keuntungan perusahaan melalui langkah branding tertentu.
Data keuangan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperhitungkan apakah di tahun ini organisasi usaha kita mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan melalui peningkatan upah pekerja atau tidak, cukup untuk membayar dividen kepada para pemegang saham perusahaan atau tidak.
Tidak kalah pentingnya adalah, Data keuangan ini akan membantu apakah modal kerja yang kita miliki ini mampu membiayai Target penjualan yang ditetapkan atau tidak, sehingga kita bisa mengambil keputusan jika perlu, mencari sumber pendanaan eksternal, bisa berupa pinjaman, kerjasama usaha temporer atau penyertaan modal yang bersifat jangka Panjang
Selama ini kebanyakan kita lebih berfocus pada pertumbuhan perusahaan melalui aktifitas Marketing, tanpa begitu memperhatikan management keuangan. Padahal tidak sedikit perusahaan banyak yang bangkrut bukan karena merugi tetapi karena tidak mampu mengelola keuangan dengan baik.
Dalam konteks Branding disini, tata kelola keuangan yang baik itu akan memastikan eksekusi Branding kita akan lebih terjamin keberlangsungannya. Membuat organisasi bisnis menjadi sustain, bertahan dalam jangka waktu yang lama untuk mengejar visi perusahaan.
Dengan tata kelola keuangan yang baik, kita bisa mengevaluasi kinerja bisnis secara lebih bisa dipertanggung jawabkan. Setiap tindakan didalam organisasi juga bisa di ukur melalui kinerja keuangan.
Branding merupakan tindakan yang terus menerus harus perusahaan lakukan selama perusahaan tersebut berdiri. Jika berhenti bisa dikatakan berhenti pula perusahaan tersebut. Dan market akan segera melupakan Brand kita.
Jangan berharap konsumen bisa loyal ? dan biaya untuk mengaktivasi lagi mungkin akan sama mahalnya ketika brand di perkenalkan pada masyarakat.
Lalu pertanyaan nya bagaimana strategi agar tata kelola keuangan kita baik.
Dimulai dari pemahaman bahwa semua aktifitas transaksi harus di catat.
Yang pada dasarnya hanya ada dua jenis transaksi di semua organisasi perusahaan. Transaksi Masuk dan Transaksi Keluar.
Baik perusahaan besar maupun kecil, yang membedakan hanya volumenya yang di dihasilkan dari frekwensi dan nilai per transaksi.
Secara system akuntansi, hanya ada 3 jenis perusahaan yaitu Jasa, Dagang dan Manufaktur.
Perbedaan utama perusahaan jasa dengan dagang terletak pada apakah ada aktifitas pembelian barang dagangan atau tidak.
Sedangkan perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memproduksi barang dagangannya.
Setelah semua hal itu jelas, kita mulai langkah pertama :
1. Tentukan Tujuan Keuangan dengan cara membuat target keuangan yang ingin dicapai
Dari sini kita akan mengetahui kebutuhan modal kerja yang diperlukan untuk mencapai Target yang telah di tentukan tersebut
Apakah kita mengandalkan sumber pendanaan sendiri dari organisasi usaha kita atau diperlukan sumber pendanaan dari pihak luar organisasi.
Apakah bentuknya hutang, Kerjasama usaha temporer atau bahkan membuat keputusan strategis dengan mengundang pemodal baru.
2. Buat Rencana Aksi ( Action Plan )
Tindakan apa yang perlu dilakukan agar perusahaan bisa mendapatkan hati konsumen dengan men-deliver value yag Sudah kita tetapkan.
Apa yg dilakukan?
Kapan?
Berapa lama?
Siapa penanggung jawabnya?
Berapa budgetnya?
Dan kapan dievaluasinya ?
Peran Branding sangat vital pada saat perusahaan men-deliver value proposition tersebut
dimulai sejak Perkenalan (Pre-sales activity )
saat produk sedang di konsumsi dan After Sales activiy ( After Sales Service ).
Anda bisa bayangkan tanpa perencanaan keuangan yang baik, Eksekusi branding hampir “mustahil” mendapatkan hasil yang baik. Bahkan bisa jadi GATOT. Alias Gagal Total.
3. Tahap Eksekusi :
Pada tahap eksekusi menata keuangan perusahaan yang baik, Kata kuncinya adalah DISIPLIN mencatat SETIAP transaksi masuk dan transaksi keluar.
4. Evaluasi : Tahap terakhir dari strategi agar management keuangan tertata baik adalah menentukan evaluasi kinerja keuangan
Hasil dari pencatatan dari setiap transaksi adalah Laporan Keuangan berupa Laporan laba rugi, Laporan Neraca, dan Laporan Arus Kas. Dari berbagai laporan keuangan ini, kita bisa meliat seberapa baik tindakan yang sudah kita lakukan.
a. Hal yang menjadi acuan utama tentu saja tingkat profitabilitas usaha kita. Seberapa besar Profit yang dihasilkan dari Modal yang kita keluarkan untuk men deliver Value yang sudah kita buat. Dalam Ilmu keuanga ini biasa di sebut sebaga Return On Equity ( ROE )
b. Seberapa Produktif Aset yang ada bisa menghasilkan Profit ( ROA = Return On Asset ).
c. Produktifitas Aset di tentukan oleh seberapa Efektif Aset berputar menghasilkan Sales Revenue ( ATO = Asset Turn Over ) ini juga menunjukan operational efficiency
d. Kemudian dari laporan keuangan kita bisa juga bisa melihat seberapa baik Brand Value proposition dari produk kita bisa di terima oleh pasar. Dalam Ilmu keuangan ini di tunjukan dengan tingkat Effisiensi Sales menghasilkan Profit ( ROS = Return On Sales ) atau umum biasa mengenal dengan Net Profit Margin.
Dari berbagai Analisa laporan keuangan ini kita bisa tahu tingkat kesehatan bisnis kita
Saya ingin menekankan pada tindakan Apa yang perlu dilakukan agar strategi tata kelola keuangan berjalan baik.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, perlu untuk mempersiapkan siapa melakukan apa dengan alat bantu apa.
Orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan perusahaan perlu memahami ilmu akutansi agar bisa menghasilkan laporan keuangan yang bisa di pertanggung jawabkan sehingga kita tidak salah membaca menterjemahkan dan mengambil tindakan berdasarkan laporan keuangan tersebut
Beruntungnya sekarang sudah lumayan banyak software akutansi yang memudahkan kita membuat laporan keuangan.
Penting bagi kita untuk mendapatkan laporan keuangan yang akurat dan real time bisa dihasilkan agar kita bisa segera mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk perbaikan.
Selain bisa mengontrol kapanpun, penting bagi owner untuk bisa meliat kinerja perusahaan dimanapun dia berada.
Tanpa bantuan software secara cloud computing ( Web-based ), rasanya sulit hal ini bisa tercapai.
Untuk memperjelas dengan apa yang telah dijelaskan diatas, tadinya saya ingin membuat study kasus, tapi rasanya tidak akan cukup waktu... mungkin dilain kesempatan saya akan coba melakukannya
Sekedar bahan referensi, kami baru saja meluncurkan software akutansi keuangan yang bisa sekaligus bisa melakukan setor lapor pajak. yang di lengkapi dengan kemampuan diagnosa kesehatan bisnisnya.
1
Kutip
Balas