- Beranda
- Stories from the Heart
TOPENG WARISAN SETAN
...
TS
breaking182
TOPENG WARISAN SETAN
TOPENG WARISAN SETAN

PROLOG
Quote:
Di atas langit sana, rembulan begitu pucat. Di sekeliling, kegelapan begitu hitam pekat melingkupi permukaan bumi. Kesunyian yang tadi menyergap mulai terusik dengan suara semak belukar dan rumput kering yang tersibak langkah –langkah kaki yang berlari dengan terburu –buru dan membabi buta. Lewat cahaya bulan pucat yang merembes terlihatlah seorang lelaki berpakaian serba gelap berlari seperti dikejar setan. Dalam kegelapan malam.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Tubuhnya beberapa kali membentur pohon, pakaiannya robek-robek terkait duri, bahkan kulitnya penuh dengan barut luka yang menjadi perih akibat teresap keringat. Namun semua itu tidak diperdulikannya. Dia lari terus sekencang yang bisa dilakukannya walau nafasnya mulai menyesak dan terengah -engah. Di tangan kirinya tampak membawa sebuah kotak berbentuk kubus yang besarnya tidak lebih dari sekepalan tangan orang dewasa. Sambil berlari dia berulang kali berpaling ke belakang seperti takut si pengejar telah sampai tepat di belakangnya.
“ Aku harus pergi !" ia merintih.
"Aku harus menjauhi tempat terkutuk ini. .. .! "
Udara sedingin es menusuk tubuhnya yang masih saja bercucuran keringat. Lelaki itu terus saja berlari dan berlari dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga maupun keberanian untuk menerobos kegelapan yang masih saja pekat menghadang di depannya.
"Mana jalan setapak itu! Mana jalan itu! Mana...!" , lelaki itu berlari sembari berteriak-teriak histeris. Tersaruk-saruk. Kakinya yang telanjang menginjak duri dan ranting-ranting patah, membentur akar-akar yang menyembul dari dalam tanah. Jatuh tunggang-langgang mencium tanah, tetapi segera bangkit lagi. Terdengar suara menggeram di dekatnya.
Lelaki itu sontak menghentikan larinya dan tertegun diam. Suara menggeram itu kian dekat.
Endusan napas yang berat disusul suara menggeram lagi. Lalu sepi sejenak. Tiba –tiba sesosok mahkluk hitam besar meloncat dari balik semak belukar. Terbang ke arahnya. Satu dua detik lelaki itu hanya terpana. Awalnya ia hanya melihat dua bintik hijau kemerahan di bagian depan mahkluk hitam tersebut. Detik kemudian baru ia melihat taring-taring putih. Berkilau tajam. Dan kini ia baru sadar, makhluk apa yang menerjangnya. Ia mencoba mengelak. Tetapi ia terlambat beberapa detik.
Dengan pekikan yang menyayat hati, lelaki tadi terhempas dengan mahkluk hitam besar dan berat itu berada di atas tubuhnya. Terdengar suara menggeram, suara mengaum. Kedua tangan lelaki itu meronta-ronta, mendorong-dorong tak terkendali saat telapak tangannya menyentuh benda kenyal, hangat, dan berbulu. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh makhluk itu. Ia jauhkan wajahnya dari pancaran mata hijau kemerahan itu, juga dari terkaman taring-taring yang mengancam buas.
Ia bertarung seperti orang gila yang kesurupan, mempertahankan nyawanya yang diancam maut. Kakinya menendang-nendang lalu dijejakkan sekuat-kuatnya ke tanah. Lutut dilipat, kemudian tubuhnya menggeliat untuk membebaskan diri dari impitan makhluk besar hitam itu. Kotak yang berada di genggaman tangannya juga dipukul –pukulkan berulang kali ke samping ke arah kepala mahkluk yang menghimpitnya itu.
Tetapi cakaran demi cakaran kuku mulai merobek bajunya, kulit dada serta perutnya. Ia mulai merasakan pedih dan hangat darah yang merembes dari balik baju. Tenaganya semakin berkurang. Perlawanannya pun semakin mengendur semakin lemah. Tangannya meluncur terkulai. Lehernya kini terbuka tanpa perlindungan, siap direngkah maut. Mata lelaki itu terpejam. Pasrah.
Tetapi maut itu tak pernah datang. Justru menjauh. Ia merasakan endusan napas hangat menerpa lehernya. Tubuh hitam besar yang mengimpitnya, terangkat pelan. Endusan napas makin menjauh, begitu pula suara dengus menggeram makin merendah. Secara perlahan –lahan lelaki itu membuka kelopak matanya. Menaikkan lehernya sedikit saja dan hati - hati.
Dan yang ia lihat justru keanehan. Raja hutan berbulu hitam berkilauan itu bergerak mundur menjauhinya. Sepasang matanya yang tadinya mencorong buas kini meredup tak berdaya. Seringai mulut yang tadinya buas, juga mengendur. Terdengar suara menggumam pelan dan lirih. Harimau kumbang berwarna hitam pekat itu bangkit di atas keempat kakinya yang kekar kukuh, bergerak memutar, lantas dengan suatu lompatan yang tangkas makhluk itu menghilang di balik pepohonan. Tak lama kemudian terdengar suara aumannya, sayup –sayup.
Lelaki tadi berusaha bangkit dengan susah payah akhirnya ia mampu juga untuk duduk. Meski dengan sekujur tubuhnya terasa remuk, persendian terasa mau rontok dan kaki hampir lumpuh. Di belakangnya. terdengar lagi suara menggumam pelan. Suara yang sangat ia kenali. Ia menarik nafas panjang dan pasrah menanti suara orang yang berdiri mungkin di belakangnya itu mendekat.
Diubah oleh breaking182 05-03-2021 17:08
tet762 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.3K
Kutip
66
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#30
PART 6
Quote:
Rumah yang dimasuki Lena terasa begitu sepi. Dan mati. Tetapi seakan-akan ada kekuatan gaib yang menariknya dari sebeiah dalam rumah, Lena terus juga melangkah masuk meski hati kecil menyuruhnya melarikan diri secepat dan sejauh mungkin. Hati kecil Lena itu bahkan seperti menceritakan kata-kata peringatan kepadanya. Lena melewati ruang depan yang gelap dan tiba di ruang duduk yang terang benderang. Tak ada siapa-siapa di dalam. Juga tidak tanda-tanda kehidupan. Namun udara sepertinya tercemar. Hidung Lena menangkap bau sesuatu. Bau yang tidak biasa dan tidak semestinya tercium di sebuah ruang duduk yang nyaman, berperalatan megah, serta terawat dengan baik.
Lena mengacuhkan bau asing itu dan meneruskan langkah ke pintu kamar nya yang menganga terbuka. Ada perasaan curiga yang menyergapnya. Mengapa pintu ini terbuka? Apakah Bi Nining lupa menutup pintu setelah merapikannya?
Perlahan Lena memasuki pintu kamarnya, kamar itu pun kosong, ranjang tampak rapi tertata. Meja kerjanya yang disudut pun sudah rapi. Tidak ada berkas –berkas yang berceceran semua sudah tertumpuk dengan rapi.
Sambil merebahkan diri ke ranjang pribadi nya, setelah sebelumnya hanya mencuci muka. Lena berusaha keras membuang perasaan yang terus mengusik itu. Dan mengingatkan pada diri sendiri bahwa ia telah dibuat ketakutan sendiri gara - gara pintu gerbang dibiarkan menganga terbuka tanpa dijaga, ia membayangkan kemungkinan terjadi perampokan berdarah.
Rumah yang dimasuki Lena tampak biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. “Ya, ampun!” Lena bersungut-sungut.
“Perampokan berdarah itu kan hanya ada dalam angan-anganku?”
Lena mulai hanyut di atas ranjang berkasur empuk dan nyaman. Seraya menenangkan diri, sepasang mata Lena mengawasi ke sekitar. Setiap benda yang dilihatnya, masih tetap benda yang sama dan juga masih di tempat yang sama pula. Kecuali sprei dan sarung –sarung bantal, yang tentunya telah diganti oleh bi Nining, begitu Lena meninggalkan rumah ini kemarin pagi minggu yang lalu. Jelas sudah, Lena ada di kamar tidurnya sendiri, di rumahnya sendiri pula, dan bersama orang-orang yang dikenalnya, la telah berpikir lantas melamun yang bukan-bukan. Kurang ajarnya, ia terpengaruh. Lantas ketakutan sendiri!
Saat kantuk datang menyergap tiba –tiba, bau yang mencemari udara ruang duduk itu tercium lagi. Lebih keras sekarang. Lena mengendus - endus untuk mengenali bau yang tidak lazim itu. Sepertinya bau kain terbakar, dan...
Di luar sana, terdengar suara sepeda motor meraung-raung. Seakan pengendaranya sedang memburu sesuatu. Tetapi Lena tidak perduli. Juga ketika terdengar raungan sepeda motor lainnya, menyusul yang pertama tadi. Baru setelah terdengar raungan sirene, Lena tertegun sejenak. Lantas berbisik. “Sirene itu…”
Matanya semakin berat seperti diganduli dengan bantalan besi yang berat. Gadis ini pun segera terlelap tidur. Tidak mampu lagi untuk membuka mata.
Lena mengacuhkan bau asing itu dan meneruskan langkah ke pintu kamar nya yang menganga terbuka. Ada perasaan curiga yang menyergapnya. Mengapa pintu ini terbuka? Apakah Bi Nining lupa menutup pintu setelah merapikannya?
Perlahan Lena memasuki pintu kamarnya, kamar itu pun kosong, ranjang tampak rapi tertata. Meja kerjanya yang disudut pun sudah rapi. Tidak ada berkas –berkas yang berceceran semua sudah tertumpuk dengan rapi.
Sambil merebahkan diri ke ranjang pribadi nya, setelah sebelumnya hanya mencuci muka. Lena berusaha keras membuang perasaan yang terus mengusik itu. Dan mengingatkan pada diri sendiri bahwa ia telah dibuat ketakutan sendiri gara - gara pintu gerbang dibiarkan menganga terbuka tanpa dijaga, ia membayangkan kemungkinan terjadi perampokan berdarah.
Rumah yang dimasuki Lena tampak biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. “Ya, ampun!” Lena bersungut-sungut.
“Perampokan berdarah itu kan hanya ada dalam angan-anganku?”
Lena mulai hanyut di atas ranjang berkasur empuk dan nyaman. Seraya menenangkan diri, sepasang mata Lena mengawasi ke sekitar. Setiap benda yang dilihatnya, masih tetap benda yang sama dan juga masih di tempat yang sama pula. Kecuali sprei dan sarung –sarung bantal, yang tentunya telah diganti oleh bi Nining, begitu Lena meninggalkan rumah ini kemarin pagi minggu yang lalu. Jelas sudah, Lena ada di kamar tidurnya sendiri, di rumahnya sendiri pula, dan bersama orang-orang yang dikenalnya, la telah berpikir lantas melamun yang bukan-bukan. Kurang ajarnya, ia terpengaruh. Lantas ketakutan sendiri!
Saat kantuk datang menyergap tiba –tiba, bau yang mencemari udara ruang duduk itu tercium lagi. Lebih keras sekarang. Lena mengendus - endus untuk mengenali bau yang tidak lazim itu. Sepertinya bau kain terbakar, dan...
Di luar sana, terdengar suara sepeda motor meraung-raung. Seakan pengendaranya sedang memburu sesuatu. Tetapi Lena tidak perduli. Juga ketika terdengar raungan sepeda motor lainnya, menyusul yang pertama tadi. Baru setelah terdengar raungan sirene, Lena tertegun sejenak. Lantas berbisik. “Sirene itu…”
Matanya semakin berat seperti diganduli dengan bantalan besi yang berat. Gadis ini pun segera terlelap tidur. Tidak mampu lagi untuk membuka mata.
Quote:
LENA terbangun dengan sekujur tubuh terasa lemas sekitar pukul sembilan pagi. Setelah membuka jendela kamar tidur , ia lihat Pak Maman tengah memotong rumput sembari menyiram bunga di halaman. Dihirupnya udara hangat segar yang berlimpah – limpah di luar jendela, sebanyak paru-parunya sanggup menerima.
Tidak berapa lama kemudian Lena meninggalkan jendela untuk mengambil training nya dari lemari pakaian. Sedikit berolah raga akan memulihkan tenaganya kembali. Lalu ia siap memulai hari-harinya kembali setelah berita pembunuhan tempo hari telah tayang dan menjadi headline di surat kabarnya. Dan seperti yang dibayangkan penjualan media cetak itu meningkat pesat hingga empat kali lipat!
Kemudian suara Bi Nining terdengar menyapa Lena dengan ramah.
“Nyenyak tidurnya, Mbak?” , Bi Nining yang sedang menata ruang tengah langsung menyapa begitu sang majikan keluar dari pintu kamar tidur.
“Nyenyak banget, Bi Nining!”
“Syukurlah. Mau sarapan sekarang?”
“Nanti sajalah. Aku jogging dulu sebentar.”
Bi Nining memperhatikan dengan pandangan serius. Lalu, “Tak biasanya Mbak Lena sesantai ini. Pastilah Mbak Lena belum mendengar.”
Lena yang sudah akan berjalan ke pintu depan, seketika membalikkan tubuh.
Bertanya tertarik, “Mendengar apa, Bi?”
“Ada anjing dimakan... eh, terbalik,” Bi Nining berujar serius.
“Maksud saya, Mbak. Ada orang dimakan anjing. Tak jauh dari sini!”
Lena membelalak. “Yang benar!”
“Semua orang sekampung juga sudah pada tahu, Mbak. Kalau tidak percaya, tanyai saja mereka.
Subuh tadi...”
Subuh tadi!
Ribut-ribut yang mengganggu, ambulan, mobil patroli polisi! Lena melupakan niatnya berolahraga pagi. La langsung bergegas ke meja telepon. Sempat keliru memutar nomor-nomor kantor kepolisian wilayah Bantul tetapi segera sadar lalu membatalkannya, la kemudian memutar nomor telepon lainnya. Begitu dapat sambungan, Lena bertanya tak sabar.
“Hallo. Dengan Polsek Sewon?”
“Betul,” terdengar suara-berat dan sedikit kasar di seberang sana.
“Bisa bicara sebentar dengan pak Sabran?”
“Kapten sedang keluar. Ini siapa?”
Lena menyebut identitas dirinya. Lengkap dengan nama surat kabar tempatnya bernaung. Suara di seberang sana telepon seketika berubah ramah.
“Oh. Kau rupanya, Lena. Kapten barusan pergi ke Polres. Ini aku, Badrol. Apa yang dapat kami bantu, Lena?”
Lena mengutarakan maksudnya. Tidak lupa menambahkan.”... dan aku sepenuhnya percaya, Sersan. Bahwa Bi Nining bukan sedang bergurau!”
Sepi sejenak. Baru setelahnya, terdengar suara yang bernada heran. “Jadi kau sedang di rumah? Mengapa sampai tidak tahu...”
“Katakanlah, aku kecolongan,” sahut Lena ringkas.
“Nah, Sersan?”
“Ya, memang benar ada mayat seseorang di sana. Hanya saja informasi yang kau dengar sedikit
berlebihan!”
“Pasnya?”
“Sewaktu ditemukan, kulit wajahnya yang masih segar meneteskan darah sedang diperebutkan oleh dua ekor anjing,” Badrol memberitahu dengan kalem.
Perut Lena mendadak terasa mual. Pikirannya sontak tertuju pada kasus sehari yang lalu. Korban meninggal dengan kulit wajah yang terkelupas. Lena menguasai diri dan buru-buru meneruskan. “Ada di mana mayat itu sekarang?”
“Pertanyaan apa pula itu?” Badrol mendengus.
“Tentu saja sudah dikirim ke Rumah Sakit Pusat. Malah aku yakin, mereka pun sudah mulai menjagalnya!”
Mayat korban sudah dikirim ke meja otopsi rumah sakit. Untuk dapat memotretnya, Lena terpaksa menunggu. Dan itu akan makan tempo. Memang masih ada pilihan lain. Meminjam hasil pemotretan bagian indentifikasi polisi, atau rekan seprofesi yang sudah bergerak mendahului Lena. Pilihan yang sungguh sangat ia benci. Karena Lena sangat tidak suka kedahuluan oleh orang lain sehingga berita yang diutlusnya sudah tidak lagi eksklusif.
“Nyawamu masih di situ, Lena?”
Lena menyeringai. “Masih.”
“Kalau begitu, datanglah kemari. Siapa tahu ada informasi yang teman-temanmu belum pada tahu!”
Itu salah satu segi baik pada diri sersan Badrol maupun rekan-rekannya satu korps di banyak tempat: tahu betul apa yang dikehendaki Lena.
Lena berujar tulus.
“Terimakasih, Sersan. Aku akan ke sana nanti.”
“Kami tunggu, cantik!”
Setelah menyimpan gagang telepon di tempatnya, Lena bergegas masuk ke kamarnya kembali. Niat untuk jogging sudah terlupakan, ia langsung mandi, berpakaian buru-buru lalu berdandan seadanya saja. Celana jeans dipadu dengan kemeja flanel berwarna biru. Bergegas dari dalam lemari ia keluarkan kamera cadangan dan sekotak negatip film yang memang sengaja disimpan bila sewaktu-waktu diperlukan. Dengan menenteng tas berisi perlengkapan memotret, tidak berapa lama kemudian Lena keluar dari kamarnya.
Pelayannya segera mendatangi. “Sarapan sudah tersedia, Mbak.”
Lena terus saja melangkah menuju pintu keluar. “Belum lapar. Habiskan saja oleh Bibi!”
Dengan pandangan maklum, Bi Nining mengantar majikannya sampai ke serambi depan. Sambil mengawasi mobil merah sang majikan yang sedang meluncur ke pintu gerbang, Bi Nining kemudian geleng-geleng kepala. Lantas bergumam kagum... namun juga sekaligus prihatin.
“Apa kubilang! Pantang ada berita bagus, langsung melompat seketika. Bagaimana tak sulit mendapatkan jodoh...!”
Tidak berapa lama kemudian Lena meninggalkan jendela untuk mengambil training nya dari lemari pakaian. Sedikit berolah raga akan memulihkan tenaganya kembali. Lalu ia siap memulai hari-harinya kembali setelah berita pembunuhan tempo hari telah tayang dan menjadi headline di surat kabarnya. Dan seperti yang dibayangkan penjualan media cetak itu meningkat pesat hingga empat kali lipat!
Kemudian suara Bi Nining terdengar menyapa Lena dengan ramah.
“Nyenyak tidurnya, Mbak?” , Bi Nining yang sedang menata ruang tengah langsung menyapa begitu sang majikan keluar dari pintu kamar tidur.
“Nyenyak banget, Bi Nining!”
“Syukurlah. Mau sarapan sekarang?”
“Nanti sajalah. Aku jogging dulu sebentar.”
Bi Nining memperhatikan dengan pandangan serius. Lalu, “Tak biasanya Mbak Lena sesantai ini. Pastilah Mbak Lena belum mendengar.”
Lena yang sudah akan berjalan ke pintu depan, seketika membalikkan tubuh.
Bertanya tertarik, “Mendengar apa, Bi?”
“Ada anjing dimakan... eh, terbalik,” Bi Nining berujar serius.
“Maksud saya, Mbak. Ada orang dimakan anjing. Tak jauh dari sini!”
Lena membelalak. “Yang benar!”
“Semua orang sekampung juga sudah pada tahu, Mbak. Kalau tidak percaya, tanyai saja mereka.
Subuh tadi...”
Subuh tadi!
Ribut-ribut yang mengganggu, ambulan, mobil patroli polisi! Lena melupakan niatnya berolahraga pagi. La langsung bergegas ke meja telepon. Sempat keliru memutar nomor-nomor kantor kepolisian wilayah Bantul tetapi segera sadar lalu membatalkannya, la kemudian memutar nomor telepon lainnya. Begitu dapat sambungan, Lena bertanya tak sabar.
“Hallo. Dengan Polsek Sewon?”
“Betul,” terdengar suara-berat dan sedikit kasar di seberang sana.
“Bisa bicara sebentar dengan pak Sabran?”
“Kapten sedang keluar. Ini siapa?”
Lena menyebut identitas dirinya. Lengkap dengan nama surat kabar tempatnya bernaung. Suara di seberang sana telepon seketika berubah ramah.
“Oh. Kau rupanya, Lena. Kapten barusan pergi ke Polres. Ini aku, Badrol. Apa yang dapat kami bantu, Lena?”
Lena mengutarakan maksudnya. Tidak lupa menambahkan.”... dan aku sepenuhnya percaya, Sersan. Bahwa Bi Nining bukan sedang bergurau!”
Sepi sejenak. Baru setelahnya, terdengar suara yang bernada heran. “Jadi kau sedang di rumah? Mengapa sampai tidak tahu...”
“Katakanlah, aku kecolongan,” sahut Lena ringkas.
“Nah, Sersan?”
“Ya, memang benar ada mayat seseorang di sana. Hanya saja informasi yang kau dengar sedikit
berlebihan!”
“Pasnya?”
“Sewaktu ditemukan, kulit wajahnya yang masih segar meneteskan darah sedang diperebutkan oleh dua ekor anjing,” Badrol memberitahu dengan kalem.
Perut Lena mendadak terasa mual. Pikirannya sontak tertuju pada kasus sehari yang lalu. Korban meninggal dengan kulit wajah yang terkelupas. Lena menguasai diri dan buru-buru meneruskan. “Ada di mana mayat itu sekarang?”
“Pertanyaan apa pula itu?” Badrol mendengus.
“Tentu saja sudah dikirim ke Rumah Sakit Pusat. Malah aku yakin, mereka pun sudah mulai menjagalnya!”
Mayat korban sudah dikirim ke meja otopsi rumah sakit. Untuk dapat memotretnya, Lena terpaksa menunggu. Dan itu akan makan tempo. Memang masih ada pilihan lain. Meminjam hasil pemotretan bagian indentifikasi polisi, atau rekan seprofesi yang sudah bergerak mendahului Lena. Pilihan yang sungguh sangat ia benci. Karena Lena sangat tidak suka kedahuluan oleh orang lain sehingga berita yang diutlusnya sudah tidak lagi eksklusif.
“Nyawamu masih di situ, Lena?”
Lena menyeringai. “Masih.”
“Kalau begitu, datanglah kemari. Siapa tahu ada informasi yang teman-temanmu belum pada tahu!”
Itu salah satu segi baik pada diri sersan Badrol maupun rekan-rekannya satu korps di banyak tempat: tahu betul apa yang dikehendaki Lena.
Lena berujar tulus.
“Terimakasih, Sersan. Aku akan ke sana nanti.”
“Kami tunggu, cantik!”
Setelah menyimpan gagang telepon di tempatnya, Lena bergegas masuk ke kamarnya kembali. Niat untuk jogging sudah terlupakan, ia langsung mandi, berpakaian buru-buru lalu berdandan seadanya saja. Celana jeans dipadu dengan kemeja flanel berwarna biru. Bergegas dari dalam lemari ia keluarkan kamera cadangan dan sekotak negatip film yang memang sengaja disimpan bila sewaktu-waktu diperlukan. Dengan menenteng tas berisi perlengkapan memotret, tidak berapa lama kemudian Lena keluar dari kamarnya.
Pelayannya segera mendatangi. “Sarapan sudah tersedia, Mbak.”
Lena terus saja melangkah menuju pintu keluar. “Belum lapar. Habiskan saja oleh Bibi!”
Dengan pandangan maklum, Bi Nining mengantar majikannya sampai ke serambi depan. Sambil mengawasi mobil merah sang majikan yang sedang meluncur ke pintu gerbang, Bi Nining kemudian geleng-geleng kepala. Lantas bergumam kagum... namun juga sekaligus prihatin.
“Apa kubilang! Pantang ada berita bagus, langsung melompat seketika. Bagaimana tak sulit mendapatkan jodoh...!”
Quote:
Lena tidak langsung pergi ke kantor polisi melainkan lebih dulu mendatangi tempat kejadian peristiwa, la tidak merasa perlu bertanya di mana. Tidak sampai seperempat jam berikutnya, Lena sudah menemukan tempat yang dicari, bahkan juga orang-orang yang ia kehendaki. Karena memang sudah mengenal siapa Lena, si penemu mayat dengan senang hati menceritakan apa yang sebelumnya telah ia ceritakan pada polisi.
Setelah merasa cukup memperoleh keterangan yang ia inginkan, Lena kemudian memotret tempat mayat ditemukan dan masih ada sisa-sisa tanda yang dibuat sebelumnya oleh polisi. Rerumputan di bagian tersebut nyaris berselimut taburan pasir yang dipergunakan untuk menutupi ceceran darah di sana sini. Begitu pula bekas-bekas ban mobil yang tampak diputar paksa sebelum meninggalkan tempat kejadian, tak luput dipotret. Si penemu mayat pun ikut dipotret.
Saking otaknya asyik memilah-milih bagian mana dari keterangan tadi yang patut ditulis dan sekaligus juga menarik untuk dibaca, siang hari itu juga Lena langsung masuk ke kantor kepolisian sektor Bantul. Kapten Sabran Sumadikun sudah pula kembali ke tempat. Lena disambut ramah bahkan disuguhi minuman segar oleh perwira yang juga teman dekat keluarga itu.
“Omong-omong, kapan kita terakhir bertemu, Lena?”
“Kalau tidak salah, pada waktu Kak Mira melangsungkan pernikahan, Om.”
“Ah ya, betul. Ternyata sudah lumayan lama juga “
“ Dulu sewaktu Om, masih sering main ke rumah untuk ketemu Bapak mu. Kau masih sangat kecil Lena. Masih berlari –larian tanpa memakai celana dan bertelanjang ria kesana kemari “
“ Eh, astaga! Kok aku jadi melantur begini ya?” sang kapten menepuk-nepuk jidat sendiri. Dengan wajah menyesal.
Lalu, “Beginilah kalau laki-laki sudah mulai ubanan, Lena ”
Lena tertawa renyah.
“Om masih terlihat muda kok, masih seperti remaja!”
Kapten Sabran tersenyum dikulum. “Sebaiknya kupanggil Hartoyo untuk bergabung...”
Letnan dua Hartoyo berusia sekitar 35 tahun. Posturnya kurus kecil dan tinggi. Wajah lelaki itu bersih untuk ukuran seorang pria serta memiliki sorot mata lembut persis guru mengaji atau pendeta. Sungguh penampilan yang bisa menipu, mengingat reputasi maupun unit yang dibawahinya: rampok dan bunuh. Tetapi jangan ditanya tentang kepercayaan diri serta bobot setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
“Mengapa korban ditelanjangi? Jelas untuk melenyapkan petunjuk atau barang bukti pakaian serta identitas lainnya! Dan yang terpenting korban sepertinya dirudapaksa terlebih dahulu karena terlihat pada kemaluan korban rusak parah. Tapi anehnya tidak ada ceceran sperma. Itu secara kasat mata”
“Robekan menganga di lambung korban adalah penyebab ajal datang menjemput. Adapun wajah yang dirusak dengan cara menguliti kulit muka... dimaksudkan agar korban sulit dikenali.”
Lena segera menyahut, “ Sepertinya kasus ini berhubungan dengan pembunuhan seorang wanita di daerah Umbulharjo Letnan. Kemungkinan pelakunya sama karena modus operandinya yang ditinggalkan sama, menguliti wajah korban “
Letnan Hartoyo tersenyum penuh arti sembari berkata, “ Betul Lena, saya sepakat. Memang kasus ini sangat erat hubungannya dengan pembunuhan tempo hari “
“Kesimpulannya?”
“ Mungkin si pembunuh ada hubungan dekat dengan korban. Dan tidak mau mengambil resiko diketahui. Atau mungkin ini memang pembunuhan acak. Kita bisa memastikan dengan penyelidikan yang lebih lanjut”
“Motivasi pembunuhan?”
“Nanti saja. Setelah korban diketahui, siapa.”
“Ada petunjuk?”
“Masih menunggu hasil otopsi nanti siang.”
Setelah merasa cukup memperoleh keterangan yang ia inginkan, Lena kemudian memotret tempat mayat ditemukan dan masih ada sisa-sisa tanda yang dibuat sebelumnya oleh polisi. Rerumputan di bagian tersebut nyaris berselimut taburan pasir yang dipergunakan untuk menutupi ceceran darah di sana sini. Begitu pula bekas-bekas ban mobil yang tampak diputar paksa sebelum meninggalkan tempat kejadian, tak luput dipotret. Si penemu mayat pun ikut dipotret.
Saking otaknya asyik memilah-milih bagian mana dari keterangan tadi yang patut ditulis dan sekaligus juga menarik untuk dibaca, siang hari itu juga Lena langsung masuk ke kantor kepolisian sektor Bantul. Kapten Sabran Sumadikun sudah pula kembali ke tempat. Lena disambut ramah bahkan disuguhi minuman segar oleh perwira yang juga teman dekat keluarga itu.
“Omong-omong, kapan kita terakhir bertemu, Lena?”
“Kalau tidak salah, pada waktu Kak Mira melangsungkan pernikahan, Om.”
“Ah ya, betul. Ternyata sudah lumayan lama juga “
“ Dulu sewaktu Om, masih sering main ke rumah untuk ketemu Bapak mu. Kau masih sangat kecil Lena. Masih berlari –larian tanpa memakai celana dan bertelanjang ria kesana kemari “
“ Eh, astaga! Kok aku jadi melantur begini ya?” sang kapten menepuk-nepuk jidat sendiri. Dengan wajah menyesal.
Lalu, “Beginilah kalau laki-laki sudah mulai ubanan, Lena ”
Lena tertawa renyah.
“Om masih terlihat muda kok, masih seperti remaja!”
Kapten Sabran tersenyum dikulum. “Sebaiknya kupanggil Hartoyo untuk bergabung...”
Letnan dua Hartoyo berusia sekitar 35 tahun. Posturnya kurus kecil dan tinggi. Wajah lelaki itu bersih untuk ukuran seorang pria serta memiliki sorot mata lembut persis guru mengaji atau pendeta. Sungguh penampilan yang bisa menipu, mengingat reputasi maupun unit yang dibawahinya: rampok dan bunuh. Tetapi jangan ditanya tentang kepercayaan diri serta bobot setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
“Mengapa korban ditelanjangi? Jelas untuk melenyapkan petunjuk atau barang bukti pakaian serta identitas lainnya! Dan yang terpenting korban sepertinya dirudapaksa terlebih dahulu karena terlihat pada kemaluan korban rusak parah. Tapi anehnya tidak ada ceceran sperma. Itu secara kasat mata”
“Robekan menganga di lambung korban adalah penyebab ajal datang menjemput. Adapun wajah yang dirusak dengan cara menguliti kulit muka... dimaksudkan agar korban sulit dikenali.”
Lena segera menyahut, “ Sepertinya kasus ini berhubungan dengan pembunuhan seorang wanita di daerah Umbulharjo Letnan. Kemungkinan pelakunya sama karena modus operandinya yang ditinggalkan sama, menguliti wajah korban “
Letnan Hartoyo tersenyum penuh arti sembari berkata, “ Betul Lena, saya sepakat. Memang kasus ini sangat erat hubungannya dengan pembunuhan tempo hari “
“Kesimpulannya?”
“ Mungkin si pembunuh ada hubungan dekat dengan korban. Dan tidak mau mengambil resiko diketahui. Atau mungkin ini memang pembunuhan acak. Kita bisa memastikan dengan penyelidikan yang lebih lanjut”
“Motivasi pembunuhan?”
“Nanti saja. Setelah korban diketahui, siapa.”
“Ada petunjuk?”
“Masih menunggu hasil otopsi nanti siang.”
Diubah oleh breaking182 05-05-2019 00:00
MontanaRivera dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas