- Beranda
- Stories from the Heart
Jangan Salahkan Cinta
...
TS
duro06
Jangan Salahkan Cinta

السلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
setelah sekian lama menimbang, menelaah dan kemudian memutuskan (kek bikin apa aje ane yee..
) akhirnya ane berani membuat trit pertama ane.
Berhubung (yang dihubung hubungkan dengan hubungan yang ada
) ane newbi yang baru belajar nulis. dimohon dengan sangat jika ada hal-hal yang berkaitan dengan kejelekan tulisan ane, sudilah kiranya sesepuh sekalian berkenan memberikan saran kritik dan masukan. ( njiiir bosoq )
setelah sekian lama menimbang, menelaah dan kemudian memutuskan (kek bikin apa aje ane yee..
) akhirnya ane berani membuat trit pertama ane.Berhubung (yang dihubung hubungkan dengan hubungan yang ada
) ane newbi yang baru belajar nulis. dimohon dengan sangat jika ada hal-hal yang berkaitan dengan kejelekan tulisan ane, sudilah kiranya sesepuh sekalian berkenan memberikan saran kritik dan masukan. ( njiiir bosoq )
Spoiler for disclaimer:
Ini adalah cerita FIKSI tidak terkait dengan kejadian riil di luaran sana. jika ada kesamaan kisah, letak, nama atau yang lainnya tidak lain itu karena TS yang mainnya kurang jauh. jika ada pihak yang merasa ada kesamaan kisah dengan apa yang ada pada kisah ini, maka itu murni sebuah kebetulan (bukan kebenaran
)
Dalam cerita ini sangat dimungkinkan akan ada sudut pandang kebenaran dari salah satu agama yang di akui di Indonesia. Bukan maksud TS untuk menghakimi atau apapun itu, namun sudut pandang yang diambil dalam cerita ini adalah sudut pandang sesuai dengan apa yang TS yakini. Untuk itu mohon kepada pembaca sekalian untuk menyikapi setiap hal yang mungkin berbau-bau hal yang sensitif dalam cerita dengan bijak. Bukan maksud TS untuk mengangkat Isu SARA, hanya saja apa yang akan TS sajikan dalam bentuk cerita ini kemungkinan akan cukup kental dengan nilai agama yang TS percayai.
maafkan juga kalo TSnya rada-rada sableng yak.
) Dalam cerita ini sangat dimungkinkan akan ada sudut pandang kebenaran dari salah satu agama yang di akui di Indonesia. Bukan maksud TS untuk menghakimi atau apapun itu, namun sudut pandang yang diambil dalam cerita ini adalah sudut pandang sesuai dengan apa yang TS yakini. Untuk itu mohon kepada pembaca sekalian untuk menyikapi setiap hal yang mungkin berbau-bau hal yang sensitif dalam cerita dengan bijak. Bukan maksud TS untuk mengangkat Isu SARA, hanya saja apa yang akan TS sajikan dalam bentuk cerita ini kemungkinan akan cukup kental dengan nilai agama yang TS percayai.
maafkan juga kalo TSnya rada-rada sableng yak.

Spoiler for Rules:
- peraturan di Thread ini sama dengan peraturan umum yang berlaku di forum SFTH. jadi monggo dipatuhi aturannya.
(kalo TS yang melanggar mohon dimaafkan ye mod dan min
, minta maap duluan, takutnya salah beneran ntar, kan berabe broh kalo TSnya yang salah)
- boleh OOT asal ada anti OOTnya dan OOTnya jangan banyak-banyak biar ga di semprit momod
- dilarang kepo berlebihan (apa juga yang mau di kepoin, lah ceritanya fiksi jugak)
(kalo TS yang melanggar mohon dimaafkan ye mod dan min
, minta maap duluan, takutnya salah beneran ntar, kan berabe broh kalo TSnya yang salah)- boleh OOT asal ada anti OOTnya dan OOTnya jangan banyak-banyak biar ga di semprit momod
- dilarang kepo berlebihan (apa juga yang mau di kepoin, lah ceritanya fiksi jugak)
Spoiler for sepatah kata:
Spoiler for penasaran ye?:
patah (sepatah kata doang kan ye?
)
)
Spoiler for serius nih:
ada yang percaya bahwa cinta itu harus memiliki. ada juga yang percaya bahwa cinta itu tak harus memiliki. namun sejatinya sang pemilik cinta menanamkan cinta pada hati manusia dengan satu tujuan. apa itu?
Spoiler for Jawaban:
yaitu sebagai ujian bagi hamba-hamba yang beriman. siapa yang hamba itu cintai? makluk kah ataukah sang pencipta?
mudah bagi yang punya hati untuk membolak balikkan hati seseorang. mudah bagiNya untuk menanamkan cinta atau mencabutnya seketika.
mudah bagi yang punya hati untuk membolak balikkan hati seseorang. mudah bagiNya untuk menanamkan cinta atau mencabutnya seketika.
Diubah oleh duro06 25-05-2019 05:14
anton2019827 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
17.6K
Kutip
199
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
duro06
#14
Tentang Andra bagian 1
Part 2
Quote:
Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat kental dalam urusan agama. Konservatif kah? Menurut ku kurang pas jika dikatakan konservatif, sebab ada sisi demokratis disana. Meskipun tidak benar-benar bebas. Nilai agama telah tertanam sejak aku masih kecil. Orang tua ku berusaha agar nilai agama benar-benar tertanam dalam jiwa ku. Aku pernah sekali dipukul oleh ayah, sebab tak mau bangun untuk sholat subuh. Sekali saja. Setelah itu tak pernah lagi. Ayah ku tipe orang yang irit bicara. Namun, sekali keluar kata hhmmm. Pedas? Kurang, kasar? Tidak juga, kalo bahasa jawanya nyelekit. Pernah suatu ketika ada tetangga ku sakit hati. Karena sepatah kata dari ayah. Aku? Sudah terlatih dengan kata-kata “nyelekit” dari ayah. Ibu yang melatih ku memahami maksud dari kata yang terucap oleh ayah. Ibu ku setipe dengan ibu-ibu yang lain di luaran sana. Cerewet, dan tentu saja mendidik.
Pernah suatu ketika ibu marah besar, sekali saja. Aku diusir nya dari rumah. Sebab seharian tak pulang. Dari pagi, sampai maghrib. Nah, ketika itu, ayah yang menghibur ku. Lucu juga jika mengingat waktu itu. Ayah ku yang irit bicara, yang kata-katanya “nyelekit” ternyata bisa juga menerangkan, memberikan pengertian kepada ku mengapa ibu marah. Intinya, ketika orang tua marah, mereka sayang pada anak nya. Jika seorang anak melakukan kesalahan tapi orang tua nya tidak marah, patut dipertanyakan rasa cinta dan sayang orang tua tersebut. Ini dari sudut pandang keluarga ku lho ya. Aku tak pernah membandingkan dengan keluarga yang lain. Mungkin mereka memiliki bahasa kasih sayang yang berbeda.
Ketika aku beranjak dewasa, dan mulai mengenal lawan jenis. Orang tua ku mulai memberikan wejangan dan sudut pandang mengenai bagaimana cara memilih jodoh yang baik, menurut versi beliau. Terutama ayah, sering sekali memberikan nasehat tentang bagaimana seharusnya seorang mencari pasangan hidup sesuai tuntunan agama. Jujur saja, aku agak minder jika berurusan dengan wanita. Lingkungan tempat ku tumbuh juga tidak mendukung adanya kisah cinta antar remaja. Yap, sejak lulus sekolah dasar, ayah menitipkan ku di pesantren. Letak pesantren dengan rumah ku tidak begitu jauh. Jika ditempuh dengan sepeda motor yang berjalan santai, mungkin hanya butuh waktu 30 menit. Namun begitu, tetap pulang hanya setahun 2 kali. Libur puasa dan libur kenaikan kelas. Jika diangkat menjadi pengurus pesantren, maka naik juga liburan nya. Dari libur puasa menjadi libur lebaran. Naik kan ya? hehehehe
Dengan situasi semacam itu, sangat kecil kemungkinan untuk menjalin asmara. Ditambah dengan tidak adanya alat komunikasi kekinian. Jaman ku sekolah dulu, jangankan handphone, punya telepon rumah pun sudah sangat mewah. Satu RT ditempat ku hanya ada satu orang yang memiliki telepon rumah, itu pun sering tidak aktif sebab kabel telepon nya sangat menggoda bagi tangan-tangan jahil untuk sekedar menambah uang belanja. Dengan situasi yang sangat tidak memungkinkan seperti itu, jadilah aku dari kecil sampai lulus SMA tak pernah punya pacar. Beda dengan anak jaman sekarang, yang dari SD sudah cinta-cintaan.
Awal masuk kuliah, barulah aku cukup dekat dengan yang namanya wanita. Bukan dekat yang menjurus pada hal-hal yang berbau asmara. Bukaaaaaaaaan. Tapi tiap ada kelas, ada lah teman sekelas wanita. Lebih dekat kan? Dari pada jaman SMP dan SMA, sekolah nya saja beda lokasi. Memang waktu masih SD ada teman sekelas wanita. Tapi jaman itu, shit-netron masih tidak seperti sekarang. Jadi aman lah kami dari virus-virus cinta sesa-at.
Pertengahan kuliah, baru lah bisa dikatakan lebih dekat dengan sosok wanita. Bukan faktor kesengajaan sebenarnya. Tapi tugas negara mengenyangkan adik-adik satu pesantren. Aku mendapat tugas mengelola keuangan konsumsi santri. Sebenarnya konsumsi santri putra dan putri terpisah. Tapi dalam pembuatan laporan untuk yayasan dijadikan satu. Jadi lah kami sering bertemu untuk mengerjakan laporan keuangan. Dan ehm, kadang berdua saja di kantor yayasan. Kadang kikuk juga kalau sedang berdua. Apalagi dia cantik. Ada rasa deg-deg gimana gitu kalo dekat dengan gadis cantik. Serius, aku belum pernah lho bertemu dengan gadis tampan, hehehehe. Apakah ada kisah asmara disana? Jawaban nya tentu saja,
Setelah lulus kuliah dan bekerja, barulah aku nantinya diperkenalkan dengan sosok yang akan menjadi calon pendamping hidup ku. Apakah aku tak pernah berpikiran, atau setidaknya membayangkan bagaimana nantinya ketika aku memulai kisah asmara? Tentu saja pernah.
Aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita. Paras nya menawan. Jilbab nya panjang. Wajah nya tertutup niqob, namun meski hanya melihat mata nya saja sudah mampu membuat dada ku bergemuruh kencang. Mata nya indah. Laksana senja di sore hari. Tak terlalu terang, tak terlalu redup. Penuh cahaya, namun tidak membakar. Ia berbinar, menghangatkan hati yang membeku. Suara nya merdu, mengalun indah, seindah kicau burung di pagi hari yang sejuk. Dan aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ketika sudah menikah, ia akan menunggu ku pulang, dan menyambut ku dengan hangat. Mencium punggung tangan ku. Ketika di dalam rumah, dia menjadi sosok istri yang sangat hangat. Hormat pada suami, tapi tidak menjadi kaku. Manja tapi tidak kurang ajar. Selalu tersenyum teduh dan tulus. Cerdas tapi taat. Sabar dan penuh kasih sayang.
Jika aku pulang kerja dan pintu sudah tertutup dia akan melompat dan memeluk penuh rindu. Meski hanya terpisah selama beberapa jam saja, kerinduan nya mengalir lewat pelukan yang tulus. Kemudian dia akan berkata,
“maaaaaaas aku kangen” dengan suara manja penuh rindu. Kemudian aku akan menjawab,
“iya adinda ku sayaaaang, mas juga rindu” dengan suara renyah tone rendah mendekati bass penuh rindu, sambil membalas pelukan nya dengan hangat.
Aaaaaaaah… alangkah bahagia nya hidup ku.
Yang namanya bermimpi boleh dan sah saja bukan? jika dia terlihat begitu sederhana dan sempurna. Barangkali ketika aku bermimpi seperti itu, ada malaikat yang sedang lewat dan mengamini mimpi ku.
Cukup lah dengan mimpi ku tentang kisah asmara ku, biarlah Tuhan yang menuliskan kisah cintaku. Aku sepenuhnya percaya bahwa kisah cintaku adalah kisah cinta yang terbaik yang pasti akan Dia berikan untuk ku nanti. Sekarang, setelah lulus kuliah aku harus mencari pekerjaan. Jika tidak, bagaimana aku akan menafkahi istri ku nanti? Bukan aku tak mengimani bahwa rejeki ku sudah dituliskan di Lauh Mahfudz, dan tidak akan pernah tertukar. Tapi bukankah manusia memang diwajibkan untuk berusaha? Bukankah berusaha itu adalah bentuk rasa syukur sebab nikmat sehat yang telah Tuhan berikan? Meskipun tidak akan cukup untuk membayar nikmat itu. Tapi setidaknya sudah ada tindakan untuk mensyukuri nya.
Awalnya aku ingin menjadi salah satu pengajar di kampus tempat ku menuntut ilmu, namun seperti nya bukan jalan ku di situ. Memang jika Tuhan sudah menggariskan, sekeras apapun berusaha, tidak akan kesampaian juga. Yah, paling tidak aku sudah berusaha. Akhirnya salah satu kenalan ibu ku menawarkan pekerjaan padaku di sebuah pabrik tidak jauh dari rumah ku. Sebab aku menang sedang butuh pekerjaan, aku mau saja. Dan mulai lah aku bekerja.
Selang enam bulan setelah aku mulai bekerja. Mulai lah ibu ku menyinggung-nyinggung tentang pasangan hidup.
Pernah suatu ketika ibu marah besar, sekali saja. Aku diusir nya dari rumah. Sebab seharian tak pulang. Dari pagi, sampai maghrib. Nah, ketika itu, ayah yang menghibur ku. Lucu juga jika mengingat waktu itu. Ayah ku yang irit bicara, yang kata-katanya “nyelekit” ternyata bisa juga menerangkan, memberikan pengertian kepada ku mengapa ibu marah. Intinya, ketika orang tua marah, mereka sayang pada anak nya. Jika seorang anak melakukan kesalahan tapi orang tua nya tidak marah, patut dipertanyakan rasa cinta dan sayang orang tua tersebut. Ini dari sudut pandang keluarga ku lho ya. Aku tak pernah membandingkan dengan keluarga yang lain. Mungkin mereka memiliki bahasa kasih sayang yang berbeda.
Ketika aku beranjak dewasa, dan mulai mengenal lawan jenis. Orang tua ku mulai memberikan wejangan dan sudut pandang mengenai bagaimana cara memilih jodoh yang baik, menurut versi beliau. Terutama ayah, sering sekali memberikan nasehat tentang bagaimana seharusnya seorang mencari pasangan hidup sesuai tuntunan agama. Jujur saja, aku agak minder jika berurusan dengan wanita. Lingkungan tempat ku tumbuh juga tidak mendukung adanya kisah cinta antar remaja. Yap, sejak lulus sekolah dasar, ayah menitipkan ku di pesantren. Letak pesantren dengan rumah ku tidak begitu jauh. Jika ditempuh dengan sepeda motor yang berjalan santai, mungkin hanya butuh waktu 30 menit. Namun begitu, tetap pulang hanya setahun 2 kali. Libur puasa dan libur kenaikan kelas. Jika diangkat menjadi pengurus pesantren, maka naik juga liburan nya. Dari libur puasa menjadi libur lebaran. Naik kan ya? hehehehe
Dengan situasi semacam itu, sangat kecil kemungkinan untuk menjalin asmara. Ditambah dengan tidak adanya alat komunikasi kekinian. Jaman ku sekolah dulu, jangankan handphone, punya telepon rumah pun sudah sangat mewah. Satu RT ditempat ku hanya ada satu orang yang memiliki telepon rumah, itu pun sering tidak aktif sebab kabel telepon nya sangat menggoda bagi tangan-tangan jahil untuk sekedar menambah uang belanja. Dengan situasi yang sangat tidak memungkinkan seperti itu, jadilah aku dari kecil sampai lulus SMA tak pernah punya pacar. Beda dengan anak jaman sekarang, yang dari SD sudah cinta-cintaan.
Awal masuk kuliah, barulah aku cukup dekat dengan yang namanya wanita. Bukan dekat yang menjurus pada hal-hal yang berbau asmara. Bukaaaaaaaaan. Tapi tiap ada kelas, ada lah teman sekelas wanita. Lebih dekat kan? Dari pada jaman SMP dan SMA, sekolah nya saja beda lokasi. Memang waktu masih SD ada teman sekelas wanita. Tapi jaman itu, shit-netron masih tidak seperti sekarang. Jadi aman lah kami dari virus-virus cinta sesa-at.
Pertengahan kuliah, baru lah bisa dikatakan lebih dekat dengan sosok wanita. Bukan faktor kesengajaan sebenarnya. Tapi tugas negara mengenyangkan adik-adik satu pesantren. Aku mendapat tugas mengelola keuangan konsumsi santri. Sebenarnya konsumsi santri putra dan putri terpisah. Tapi dalam pembuatan laporan untuk yayasan dijadikan satu. Jadi lah kami sering bertemu untuk mengerjakan laporan keuangan. Dan ehm, kadang berdua saja di kantor yayasan. Kadang kikuk juga kalau sedang berdua. Apalagi dia cantik. Ada rasa deg-deg gimana gitu kalo dekat dengan gadis cantik. Serius, aku belum pernah lho bertemu dengan gadis tampan, hehehehe. Apakah ada kisah asmara disana? Jawaban nya tentu saja,
Spoiler for Jawaban:
Tidak, mana berani aku. Memang ada sedikit rasa penasaran. Tapi aku terlalu takut untuk melangkah. Jadilah hanya sebatas kenal saja. Dekat karena tugas. Sampai akhirnya aku lulus kuliah, tak pernah sekalipun terlibat hubungan asmara dengan siapapun.
Setelah lulus kuliah dan bekerja, barulah aku nantinya diperkenalkan dengan sosok yang akan menjadi calon pendamping hidup ku. Apakah aku tak pernah berpikiran, atau setidaknya membayangkan bagaimana nantinya ketika aku memulai kisah asmara? Tentu saja pernah.
Spoiler for Impian kisah asmara Andra:
Aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita. Paras nya menawan. Jilbab nya panjang. Wajah nya tertutup niqob, namun meski hanya melihat mata nya saja sudah mampu membuat dada ku bergemuruh kencang. Mata nya indah. Laksana senja di sore hari. Tak terlalu terang, tak terlalu redup. Penuh cahaya, namun tidak membakar. Ia berbinar, menghangatkan hati yang membeku. Suara nya merdu, mengalun indah, seindah kicau burung di pagi hari yang sejuk. Dan aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ketika sudah menikah, ia akan menunggu ku pulang, dan menyambut ku dengan hangat. Mencium punggung tangan ku. Ketika di dalam rumah, dia menjadi sosok istri yang sangat hangat. Hormat pada suami, tapi tidak menjadi kaku. Manja tapi tidak kurang ajar. Selalu tersenyum teduh dan tulus. Cerdas tapi taat. Sabar dan penuh kasih sayang.
Jika aku pulang kerja dan pintu sudah tertutup dia akan melompat dan memeluk penuh rindu. Meski hanya terpisah selama beberapa jam saja, kerinduan nya mengalir lewat pelukan yang tulus. Kemudian dia akan berkata,
“maaaaaaas aku kangen” dengan suara manja penuh rindu. Kemudian aku akan menjawab,
“iya adinda ku sayaaaang, mas juga rindu” dengan suara renyah tone rendah mendekati bass penuh rindu, sambil membalas pelukan nya dengan hangat.
Aaaaaaaah… alangkah bahagia nya hidup ku.
Yang namanya bermimpi boleh dan sah saja bukan? jika dia terlihat begitu sederhana dan sempurna. Barangkali ketika aku bermimpi seperti itu, ada malaikat yang sedang lewat dan mengamini mimpi ku.
Cukup lah dengan mimpi ku tentang kisah asmara ku, biarlah Tuhan yang menuliskan kisah cintaku. Aku sepenuhnya percaya bahwa kisah cintaku adalah kisah cinta yang terbaik yang pasti akan Dia berikan untuk ku nanti. Sekarang, setelah lulus kuliah aku harus mencari pekerjaan. Jika tidak, bagaimana aku akan menafkahi istri ku nanti? Bukan aku tak mengimani bahwa rejeki ku sudah dituliskan di Lauh Mahfudz, dan tidak akan pernah tertukar. Tapi bukankah manusia memang diwajibkan untuk berusaha? Bukankah berusaha itu adalah bentuk rasa syukur sebab nikmat sehat yang telah Tuhan berikan? Meskipun tidak akan cukup untuk membayar nikmat itu. Tapi setidaknya sudah ada tindakan untuk mensyukuri nya.
Awalnya aku ingin menjadi salah satu pengajar di kampus tempat ku menuntut ilmu, namun seperti nya bukan jalan ku di situ. Memang jika Tuhan sudah menggariskan, sekeras apapun berusaha, tidak akan kesampaian juga. Yah, paling tidak aku sudah berusaha. Akhirnya salah satu kenalan ibu ku menawarkan pekerjaan padaku di sebuah pabrik tidak jauh dari rumah ku. Sebab aku menang sedang butuh pekerjaan, aku mau saja. Dan mulai lah aku bekerja.
Selang enam bulan setelah aku mulai bekerja. Mulai lah ibu ku menyinggung-nyinggung tentang pasangan hidup.
Diubah oleh duro06 15-04-2019 19:50
i4munited dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas