- Beranda
- Stories from the Heart
Boy & Ibu [MEMOHON RESTU]
...
TS
aksaka
Boy & Ibu [MEMOHON RESTU]
![Boy & Ibu [MEMOHON RESTU]](https://s.kaskus.id/images/2019/04/08/10569723_20190408105909.jpg)
Quote:
Boy, mencari restu hidup kepada ibunya, namun telat. Sehebat apapun engkau, orang tua adalah tempat terbaik untuk kembali.
Hai agan dan sista yang bersahaja 

Ane izin mau share cerita ini, kurang atau lebihnya mohon dimaafkan ya gan

SELAMAT MEMBACA! 

Quote:
Quote:
Original Posted By Ibu (1)Pagi dikala fajar mulai hadir dengan perlahan-lahan, ketika manusia-manusia pinggiran kota tengah bersiap dengan semangat, semangat mencari nafkah, berhamburan di halaman stasiun kereta listrik. Anak-anak sekolah dengan tampang masih mengantuk dan menenteng tas, sedang bersiap ketika kereta di ujung rel telah terlihat.
“Prit! Prit!” Suara pluit petugas berbunyi dan menghimbau kepada para calon penumpang agar tetap berada di belakang garis kuning. Garis kuning yang berarti jarak teraman bagi para calon penumpang agar tidak tersambar kereta yang datang dengan sigapnya.
Kereta telah tiba di stasiun, ramai? Sudah pasti. Suasana gerbong sungguh pengap walaupun pendingin udara di dalamnya telah disetel pada angka yang paling dingin. Para penumpang ada yang kembali melanjutkan mimpinya entah itu duduk ataupun berdiri, ada yang sedang membaca berita melalui gawainya, ada yang sedang menonton film, bermain game, dan mendengarkan musik.
Pintu tiap-tiap gerbong pun tertutup. Membawa tiap-tiap individu ke tujuannya. Tidak peduli mereka sedang semangat atau tidak hari ini. Yang penting, kereta itu harus datang dan pergi tepat sesuai waktu yang telah dijadwalkan.
Beberapa jam sebelum kegiatan di stasiun ramai oleh para calon penumpang. Ibu Nur sudah berada di stasiun itu untuk mempersiapkan dagangannya. Lebih tepatnya di ujung stasiun, tepat para calon penumpang kereta listrik berjalan menuju ke pintu masuk stasiun.
Baginya, datang sepagi itu ketika jarum di jam menunjuk pada angka tiga bukanlah hal yang berat. Seakan gelap sudah menjadi sahabat menemani awal harinya. Ibu Nur sudah dua puluh tahun melakukan rutinitas itu. Menjajakan kue-kue jajanan pasar yang ia beli di pasar induk di sudut kota.
Rutinitasnya setiap pagi gelap adalah bangun untuk berbelanja di Pasar Induk, lalu langsung menuju stasiun untuk menyiapkan gerobak, gerobak tua peninggalan almarhum suaminya. Gerobak sudah dipersiapkan kemudian dilanjutkan dengan menyusun dagangannya. Setelah semua rapih, ketika adzan subuh berkumandang maka Ibu Nur akan segera bergegas menuju mushola di ujung stasiun. Sehabis dari mushola, ibu Nur kembali ke gerobaknya dan sudah siap menjajakan dagangannya.
Dua puluh tahun sudah Ibu Nur berjualan di stasiun. Karena sudah lama berjualan di stasiun itu, maka para penumpang kereta seakan sudah kenal dengan ibu Nur. Wajahnya yang menunjukan kegigihan seorang wanita, senyumnya yang penuh keikhlasan ketika melayani para pembeli. Ah, senyuman tanpa rekayasa. Lihatlah, senyuman itu amat sangat menunjukan menunjukan kelembutan hatinya.
Maka tak heran apabila Ibu Nur memiliki banyak pelanggan setia. Karena selain murah senyum, kue-kue dagangannya sangat membantu mereka yang tak sempat sarapan di rumah ataupun yang tak terbiasa makan berat untuk mengawali hari.
Masalah kejujuran Ibu Nur tidak usah diragukan lagi. Pernah suatu hari ada pembelikuenya membeli dengan selembar uang lima puluh ribu. Karena terburu-buru yang membuatnya tidak fokus, ketika ibu Nur sedang mencari-cari uang kembalian. Entah tiba-tiba pembeli itu dengan cepat telah menghilang.
Lantas, Ibu Nur mencari pembeli itu dengan mengarahkan matanya ke arah stasiun. Betul saja, pembeli terlihat sudah masuk ke dalam stasiun. Dengan cepat bagai sambaran kilat, Ibu Nur berlari mengejar dan masuk ke dalam stasiun untuk menyerahkan uang kembalian pembeli itu.
”Nona! Nona! Ini uang kembalianmu.” Teriak Ibu Nur sambil berlari kecil
Pembeli itu masih belum menyadari bahwa ada yang memanggilnya.
“Non, ini uang kembaliannya. Kenapa tadi langsung pergi saja.” Ibu Nur menyodorkan uang itu dihadapannya.
“Oh, iya. Terima kasih bu. Maaf tadi saya buru-buru.” Saut pembeli sambil melempar senyum.
Dengan nafas yang setengah ngos-ngosan. Ibu Nur pamit kepada pembeli itu untuk kembali ke gerobak dagangannya.
Ah, betapa jujurnya bukan Ibu Nur? Padahal kalau saja ia tidak mengejarnya dan memberikan uang kembalian itu, bukan sepenuhnya salah ia, atau bisa saja Ibu Nur menunggu esok hari ketika si pembeli itu lewat lagi hendak menuju stasiun.
Namun, tidak seperti itu. Baginya apabila dapat segera dilakukan sekarang juga, maka ia akan segera melakukannya. Takut juga kalau ia lupa nantinya setelah berjualan melayani banyak pembeli.
Pembeli hari ini cukup ramai, mungkin karena hari ini Senin. Orang-orang bangun agak sedikit telat, karena semalam baru pulang larut setelah menghabiskan weekend bersama keluarga. Jalanan semalam macet menggurita akibat dari proyek jalanan yang sebahagian menutup jalan.
Pukul delapan, suasana di stasiun tidak seheboh jam-jam sebelumnya. Orang-orang telah tiba di tujuannya masing-masing. Entah itu kantor atau sekolah. Waktu yang tepat bagi Ibu Nur untuk sedikit beristirahat walaupun sesekali ada pembeli yang masih membeli dagangannya.
Tiba waktu siang, waktunya Ibu Nur untuk merapihkan dagangannya dan kembali ke rumah. Sebelum kembali ke rumah, Ibu Nur menyempatkan diri untuk kembali datang ke mushola untuk beribadah. Setelah selesai dan dagangannya telah rapih, Ibu Nur pulang ke rumah.
“Prit! Prit!” Suara pluit petugas berbunyi dan menghimbau kepada para calon penumpang agar tetap berada di belakang garis kuning. Garis kuning yang berarti jarak teraman bagi para calon penumpang agar tidak tersambar kereta yang datang dengan sigapnya.
Kereta telah tiba di stasiun, ramai? Sudah pasti. Suasana gerbong sungguh pengap walaupun pendingin udara di dalamnya telah disetel pada angka yang paling dingin. Para penumpang ada yang kembali melanjutkan mimpinya entah itu duduk ataupun berdiri, ada yang sedang membaca berita melalui gawainya, ada yang sedang menonton film, bermain game, dan mendengarkan musik.
Pintu tiap-tiap gerbong pun tertutup. Membawa tiap-tiap individu ke tujuannya. Tidak peduli mereka sedang semangat atau tidak hari ini. Yang penting, kereta itu harus datang dan pergi tepat sesuai waktu yang telah dijadwalkan.
Beberapa jam sebelum kegiatan di stasiun ramai oleh para calon penumpang. Ibu Nur sudah berada di stasiun itu untuk mempersiapkan dagangannya. Lebih tepatnya di ujung stasiun, tepat para calon penumpang kereta listrik berjalan menuju ke pintu masuk stasiun.
Baginya, datang sepagi itu ketika jarum di jam menunjuk pada angka tiga bukanlah hal yang berat. Seakan gelap sudah menjadi sahabat menemani awal harinya. Ibu Nur sudah dua puluh tahun melakukan rutinitas itu. Menjajakan kue-kue jajanan pasar yang ia beli di pasar induk di sudut kota.
Rutinitasnya setiap pagi gelap adalah bangun untuk berbelanja di Pasar Induk, lalu langsung menuju stasiun untuk menyiapkan gerobak, gerobak tua peninggalan almarhum suaminya. Gerobak sudah dipersiapkan kemudian dilanjutkan dengan menyusun dagangannya. Setelah semua rapih, ketika adzan subuh berkumandang maka Ibu Nur akan segera bergegas menuju mushola di ujung stasiun. Sehabis dari mushola, ibu Nur kembali ke gerobaknya dan sudah siap menjajakan dagangannya.
Dua puluh tahun sudah Ibu Nur berjualan di stasiun. Karena sudah lama berjualan di stasiun itu, maka para penumpang kereta seakan sudah kenal dengan ibu Nur. Wajahnya yang menunjukan kegigihan seorang wanita, senyumnya yang penuh keikhlasan ketika melayani para pembeli. Ah, senyuman tanpa rekayasa. Lihatlah, senyuman itu amat sangat menunjukan menunjukan kelembutan hatinya.
Maka tak heran apabila Ibu Nur memiliki banyak pelanggan setia. Karena selain murah senyum, kue-kue dagangannya sangat membantu mereka yang tak sempat sarapan di rumah ataupun yang tak terbiasa makan berat untuk mengawali hari.
Masalah kejujuran Ibu Nur tidak usah diragukan lagi. Pernah suatu hari ada pembelikuenya membeli dengan selembar uang lima puluh ribu. Karena terburu-buru yang membuatnya tidak fokus, ketika ibu Nur sedang mencari-cari uang kembalian. Entah tiba-tiba pembeli itu dengan cepat telah menghilang.
Lantas, Ibu Nur mencari pembeli itu dengan mengarahkan matanya ke arah stasiun. Betul saja, pembeli terlihat sudah masuk ke dalam stasiun. Dengan cepat bagai sambaran kilat, Ibu Nur berlari mengejar dan masuk ke dalam stasiun untuk menyerahkan uang kembalian pembeli itu.
”Nona! Nona! Ini uang kembalianmu.” Teriak Ibu Nur sambil berlari kecil
Pembeli itu masih belum menyadari bahwa ada yang memanggilnya.
“Non, ini uang kembaliannya. Kenapa tadi langsung pergi saja.” Ibu Nur menyodorkan uang itu dihadapannya.
“Oh, iya. Terima kasih bu. Maaf tadi saya buru-buru.” Saut pembeli sambil melempar senyum.
Dengan nafas yang setengah ngos-ngosan. Ibu Nur pamit kepada pembeli itu untuk kembali ke gerobak dagangannya.
Ah, betapa jujurnya bukan Ibu Nur? Padahal kalau saja ia tidak mengejarnya dan memberikan uang kembalian itu, bukan sepenuhnya salah ia, atau bisa saja Ibu Nur menunggu esok hari ketika si pembeli itu lewat lagi hendak menuju stasiun.
Namun, tidak seperti itu. Baginya apabila dapat segera dilakukan sekarang juga, maka ia akan segera melakukannya. Takut juga kalau ia lupa nantinya setelah berjualan melayani banyak pembeli.
Pembeli hari ini cukup ramai, mungkin karena hari ini Senin. Orang-orang bangun agak sedikit telat, karena semalam baru pulang larut setelah menghabiskan weekend bersama keluarga. Jalanan semalam macet menggurita akibat dari proyek jalanan yang sebahagian menutup jalan.
Pukul delapan, suasana di stasiun tidak seheboh jam-jam sebelumnya. Orang-orang telah tiba di tujuannya masing-masing. Entah itu kantor atau sekolah. Waktu yang tepat bagi Ibu Nur untuk sedikit beristirahat walaupun sesekali ada pembeli yang masih membeli dagangannya.
Tiba waktu siang, waktunya Ibu Nur untuk merapihkan dagangannya dan kembali ke rumah. Sebelum kembali ke rumah, Ibu Nur menyempatkan diri untuk kembali datang ke mushola untuk beribadah. Setelah selesai dan dagangannya telah rapih, Ibu Nur pulang ke rumah.
Diubah oleh aksaka 08-04-2019 11:38
0
732
Kutip
12
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aksaka
#4
Quote:
Original Posted By Ujian Nasional 1 (3)Keesokan hari, Boy mengabarkan kepada teman-temannya mengenai harga kunci jawaban itu. Setelah teman-temannya mengetahui harganya, mereka akhirnya sepakat untuk membelinya. Dan mulailah patungan yang diadakan seperti pengumpulan dana untuk bakti sosial itu dikumpulkan, ada yang menyicil ada juga yang langsung lunas.
Seminggu sebelum Ujian Nasional itu berlangsung, demi berjaga-jaga apabila kunci jawaban itu tidak bocor. Boy belajar setidaknya agar tidak semua jawabannya nanti bersumber dari kunci jawaban.
Sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung, uang untuk membayar kunci jawaban itu sudah terkumpul sempurna. Boy menghubungi Burhan untuk bertemu kembali di Warung Kopi dekat pertigaan sekolah. Hari itu libur karena sehari sebelum ujian adalah hari Minggu.
Langit sore hari itu sangat mendukung, tidak panas dan juga tidak hujan. Suasana sejuk menyelimuti kota di pinggiran Ibukota ini. Sesampai di Warung Kopi, Boy melihat Burhan telah menunggunya sambil menyeruput segelas susu putih.
“Hey han! Sudah lama kau menunggu?” Menepuk bahu Burhan yang kaget.
“Belum, santai saja. Bagaimana kau jadi bayar hari ini?” Tanya Burhan.
“Tentu teman. Ini sudah kubawa uangnya” Menyerahkan segepok uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu.
“Oke baik, besok kau dan teman-temanmu hubungi nomor ini. SMS saja kau dapat paket soal apa, nanti akan ada yang membalas untuk memberi kunci jawabannya” menyerahkan kertas yang berisi nomor handphone, entah nomor siapa.
Setelah mereka berdua berbincang panjang lebar sampai malam. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Burhan menyiapkan peralatan untuk besok menyebarkan kunci jawaban kepada pelanggannya, sedangkan Boy menyiapkan mental dan juga handphone yang baterainya terisi penuh.
Sampai pukul sebelas malam Boy belum juga dapat tidur. Ia merasakan bahwa hari esok adalah penentuannya apakah dia akan lulus atau tidak. Apabila lulus apakah nilainya akan bagus? Sambil bengong di atas kasurnya, akhirnya Boy terlelap dalam tidurnya.
Alarm pagi berbunyi sangat kencang, sengaja Boy atur dengan volume yang paling besar agar tidak kesiangan pagi ini. Setelah bersiap-siap, Boy menuju sekolah dengan perasaan yang menegangkan. Dalam hatinya selalu bertanya-tanya “Apakah kunci jawaban hari ini akan tembus?”.
Seminggu sebelum Ujian Nasional itu berlangsung, demi berjaga-jaga apabila kunci jawaban itu tidak bocor. Boy belajar setidaknya agar tidak semua jawabannya nanti bersumber dari kunci jawaban.
Sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung, uang untuk membayar kunci jawaban itu sudah terkumpul sempurna. Boy menghubungi Burhan untuk bertemu kembali di Warung Kopi dekat pertigaan sekolah. Hari itu libur karena sehari sebelum ujian adalah hari Minggu.
Langit sore hari itu sangat mendukung, tidak panas dan juga tidak hujan. Suasana sejuk menyelimuti kota di pinggiran Ibukota ini. Sesampai di Warung Kopi, Boy melihat Burhan telah menunggunya sambil menyeruput segelas susu putih.
“Hey han! Sudah lama kau menunggu?” Menepuk bahu Burhan yang kaget.
“Belum, santai saja. Bagaimana kau jadi bayar hari ini?” Tanya Burhan.
“Tentu teman. Ini sudah kubawa uangnya” Menyerahkan segepok uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu.
“Oke baik, besok kau dan teman-temanmu hubungi nomor ini. SMS saja kau dapat paket soal apa, nanti akan ada yang membalas untuk memberi kunci jawabannya” menyerahkan kertas yang berisi nomor handphone, entah nomor siapa.
Setelah mereka berdua berbincang panjang lebar sampai malam. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Burhan menyiapkan peralatan untuk besok menyebarkan kunci jawaban kepada pelanggannya, sedangkan Boy menyiapkan mental dan juga handphone yang baterainya terisi penuh.
Sampai pukul sebelas malam Boy belum juga dapat tidur. Ia merasakan bahwa hari esok adalah penentuannya apakah dia akan lulus atau tidak. Apabila lulus apakah nilainya akan bagus? Sambil bengong di atas kasurnya, akhirnya Boy terlelap dalam tidurnya.
Alarm pagi berbunyi sangat kencang, sengaja Boy atur dengan volume yang paling besar agar tidak kesiangan pagi ini. Setelah bersiap-siap, Boy menuju sekolah dengan perasaan yang menegangkan. Dalam hatinya selalu bertanya-tanya “Apakah kunci jawaban hari ini akan tembus?”.
Diubah oleh aksaka 08-04-2019 11:29
0
Kutip
Balas