- Beranda
- Stories from the Heart
Bintang Itu Bersinar
...
TS
kurniawanjack
Bintang Itu Bersinar

Tentang Jack dan tentang masa remajanya
Cowok SMK yang gak jauh-jauh dari kata:
-Nyebelin
-Rusuh
-Brengsek
-Absurd
-Trouble maker
Karna moto hidupnya waktu SMK adalah
" Mumpung masih sekolah. Cari warna! Soalnya kalo udah gede di tuntut cari duit terus, gak ada waktu buat cari warnanya. Kalo bisa pun, gak jauh-jauh dari cari warna buat istri sama anak"
Moto yang aneh bukan? Memang, dan jack baru sadar saat dia sudah dewasa.
Quote:
Semoga kalian juga mendapatkan Bintang kalian sendiri
Quote:
Quote:
Silahkan dibaca ya
Diubah oleh kurniawanjack 16-01-2022 02:40
nona212 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
6.2K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kurniawanjack
#32
Eps 12 Surat Dari Guru
Gue sama riko duduk di sofa yang berada didalam ruang bk.
Suhu dingin dari AC membuat gue sedikit tenang.
Namun saat gue menatap riko, suasana menjadi panas terutama jika dia menatap balik gue.
Beberapa menit kemudian pak udin datang dan langsung duduk di sofa di depan kami.
"Sekarang masalahnya apa lagi?" Pak udin menatap gue dan suaranya sedikit merendah.
"cuma main-main kok pak. Iya gak rik?" Gue senggol tangan riko dan dia mengerutkan alisnya seperti tidak suka terhadap perkataan gue.
Kemudian dia menunduk dan mengepalkan tangannya.
"Jawab Yang jujur. Kalian kenapa berantem?" pak udin menatap kami.
Riko diam tak berkata apa pun dia hanya menunduk dan sesekali meraba mulutnya yang berdarah.
Sementara gue. Gue hanya menatap riko tajam-tajam selama beberapa menit sampai pak udin memukul meja di depan kami sehingga kami terkejut.
Kami menatap pak udin dengan perasaan was-was sampai kemudian beliau menarik nafas dan muiai bicara dengan nada rendah.
"Oke. Bapak akan skorsing kalian selama tiga hari dan bapak minta, berikan surat ini ke orang tua kalian" pak udin mengambil dua surat yang berada di meja belakangnya lalu memberikan surat itu kepada kami.
Jam 11:15 siang. Gue sedang di kelas. duduk, sambil memandangi surat pemberian pak udin.
Gue gak tau apa yang harus gue jelaskan ke orang tua gue. Gue sering buat masalah dan gue cerita itu ke orangtua gue, mereka hanya bilang "yaudah besok lagi jangan di ulangin" tapi kali ini gue udah di skorsing dan nasib gue ada di surat ini sementara gue gak tau apa isi sebenernya.
Gue terus memikirkan itu sampai dana menepuk pundak gue dan menunjuk ke arah pintu. Di sana berdiri cowok, anak osis dan dia masih terengah-engah mungkin karena habis berlari. Gue hampiri dia dan dia menepuk pundak gue.
"Anu...Jack..Lo…dipanggil ketua sama pembina di ruang osis" Dia berbicara dengan nafas yang tidak karuan.
Sesampainya di ruang osis, gue langsung di persilahkan duduk oleh ahmad yang menjabat sebagai ketua osis.
Kemudian ahmad duduk di depan gue dan di sampingnya ada pak fata selaku pembina osis.
Pak fata
"Gini ya jack. Bapak paham, pahaaam banget. Kamu dulu masuk osis karena di hukum sama pak udin dan bapak tau kalo kamu tidak berniat masuk osis" lalu pak fata mengulurkan kertas pengunduran diri dari osis.
Pak fata
"Bawa dulu, besok berikan ini ke saya. Kalo kamu masih berniat mengikuti osis, kamu harus janji merubah sikap kamu dan besok berikan ini ke saya tanpa tanda tangan. Tapiii, kalo kamu dari awal memang tidak berniat mengikuti osis, berikan ini ke saya dengan tanda tangan kamu di sini" pak fata meletakkan kertas itu di meja depan gue.
Pak fata
"Baiklah. Bapak hanya mau bilang itu. Kamu mau ngomong?" bertanya ke ahmad.
Ahmad
"Iya pak. Jack, lo memang banyak membantu dan lo juga sangat aktif di osis. Tapi perilaku lo itu yang mengurangi nilai di mata kami. Kami ingin lo berubah, entah di sekolah maupun di luar. Kalupun lo masih pingin tetep di osis, mungkin semua udah berubah. Karena kejadian tadi. Mungkin anak-anak yang lain akan berfikir 'kok anak kayak dia bisa masuk osis'. Jadi kami harap agar lo bisa berubah " ahmad menatap gue tapi gue diem.
Pak fata
"Udah?. Kalo udah…jack, silahkan keluar. Bapak tunggu jawaban kamu besok"
Gue ambil itu kertas dan kemudian keluar dari ruang osis.
Sesampainya di kelas. Gue hanya melihat dana yang sedang bermain handphonenya di temani sebotol minuman soda. Ternyata udah pada pulang.
Dana
:"Wey bro" dana melambaikan tangan.
Dana
:"Di cariin lo, sama riska. Nih lagi chattingan sama gue sekarang. Hp lo di tinggal di tas kan?. Mangkannya gue jagain" dia menepuk-nepuk tas gue.
Gue
:"Oke. Thanks" gue duduk di samping dana sambil mencari hp gue di tas.
Dana
:"Widih widih. Lo mau keluar osis?. Gue ikut deh. Males gue kalo gak ada lo" dana mengambil kertas yang tadi gue bawa.
Gue
:"Gue juga belum pasti. Kayaknya sih…gue keluar aja, soalnya kita kan jarang ikut rapat osis"
Dana
:"Kalo gitu. Gue keluar aja deh, bosen"
Akhirnya gue nemuin hp gue, dan gue langsung gendong tas kemudian keluar.
"Ye malah ninggal. Udah di tungguin lama sekarang malah ninggal" dana ngomong sambil beresin barang-barangnya. Kemudian kita berdua pulang tanpa ngobrol-ngobrol.
Sesampainya di rumah. Gue langsung menuju kamar, ganti baju, kemudian mengambil surat pemberian pak udin lalu menuju dapur.
Gue lihat di dapur cuman ada bi imah dan gue langsung mendekat ke dia.
Gue
:"Bi!. Mama kemana?" gue duduk di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.
Bi imah
:"Tadi bibi liat ada di ruang tamu sambil bawa laptop, den. Apa perlu bibi panggilin"
Gue
:"Tapi tadi jack pulang kok liat mama di ruang tamu. Yaudah tolong cariin ya bi"
Bi imah
:"Iya den"
Sementara bi imah pergi nyari nyokap, gue ke dapur dan langsung menuju ke kulkas untuk mencari harta karun.
Kemudian gue kembali ke meja makan sambil membawa sebotol minuman soda.
Gak lama setelah itu bi imah muncul dan meminta gue untuk ke halaman belakang rumah. Gue pun menuju kesana dengan membawa surat tadi.
Sesampainya di sana. Gue liat nyokap lagi nyiramin bunga kesayangannya.
Suhu dingin dari AC membuat gue sedikit tenang.
Namun saat gue menatap riko, suasana menjadi panas terutama jika dia menatap balik gue.
Beberapa menit kemudian pak udin datang dan langsung duduk di sofa di depan kami.
"Sekarang masalahnya apa lagi?" Pak udin menatap gue dan suaranya sedikit merendah.
"cuma main-main kok pak. Iya gak rik?" Gue senggol tangan riko dan dia mengerutkan alisnya seperti tidak suka terhadap perkataan gue.
Kemudian dia menunduk dan mengepalkan tangannya.
"Jawab Yang jujur. Kalian kenapa berantem?" pak udin menatap kami.
Riko diam tak berkata apa pun dia hanya menunduk dan sesekali meraba mulutnya yang berdarah.
Sementara gue. Gue hanya menatap riko tajam-tajam selama beberapa menit sampai pak udin memukul meja di depan kami sehingga kami terkejut.
Kami menatap pak udin dengan perasaan was-was sampai kemudian beliau menarik nafas dan muiai bicara dengan nada rendah.
"Oke. Bapak akan skorsing kalian selama tiga hari dan bapak minta, berikan surat ini ke orang tua kalian" pak udin mengambil dua surat yang berada di meja belakangnya lalu memberikan surat itu kepada kami.
Jam 11:15 siang. Gue sedang di kelas. duduk, sambil memandangi surat pemberian pak udin.
Gue gak tau apa yang harus gue jelaskan ke orang tua gue. Gue sering buat masalah dan gue cerita itu ke orangtua gue, mereka hanya bilang "yaudah besok lagi jangan di ulangin" tapi kali ini gue udah di skorsing dan nasib gue ada di surat ini sementara gue gak tau apa isi sebenernya.
Gue terus memikirkan itu sampai dana menepuk pundak gue dan menunjuk ke arah pintu. Di sana berdiri cowok, anak osis dan dia masih terengah-engah mungkin karena habis berlari. Gue hampiri dia dan dia menepuk pundak gue.
"Anu...Jack..Lo…dipanggil ketua sama pembina di ruang osis" Dia berbicara dengan nafas yang tidak karuan.
Sesampainya di ruang osis, gue langsung di persilahkan duduk oleh ahmad yang menjabat sebagai ketua osis.
Kemudian ahmad duduk di depan gue dan di sampingnya ada pak fata selaku pembina osis.
Pak fata
"Gini ya jack. Bapak paham, pahaaam banget. Kamu dulu masuk osis karena di hukum sama pak udin dan bapak tau kalo kamu tidak berniat masuk osis" lalu pak fata mengulurkan kertas pengunduran diri dari osis. Pak fata
"Bawa dulu, besok berikan ini ke saya. Kalo kamu masih berniat mengikuti osis, kamu harus janji merubah sikap kamu dan besok berikan ini ke saya tanpa tanda tangan. Tapiii, kalo kamu dari awal memang tidak berniat mengikuti osis, berikan ini ke saya dengan tanda tangan kamu di sini" pak fata meletakkan kertas itu di meja depan gue. Pak fata
"Baiklah. Bapak hanya mau bilang itu. Kamu mau ngomong?" bertanya ke ahmad. Ahmad
"Iya pak. Jack, lo memang banyak membantu dan lo juga sangat aktif di osis. Tapi perilaku lo itu yang mengurangi nilai di mata kami. Kami ingin lo berubah, entah di sekolah maupun di luar. Kalupun lo masih pingin tetep di osis, mungkin semua udah berubah. Karena kejadian tadi. Mungkin anak-anak yang lain akan berfikir 'kok anak kayak dia bisa masuk osis'. Jadi kami harap agar lo bisa berubah " ahmad menatap gue tapi gue diem. Pak fata
"Udah?. Kalo udah…jack, silahkan keluar. Bapak tunggu jawaban kamu besok"Gue ambil itu kertas dan kemudian keluar dari ruang osis.
Sesampainya di kelas. Gue hanya melihat dana yang sedang bermain handphonenya di temani sebotol minuman soda. Ternyata udah pada pulang.
Dana
:"Wey bro" dana melambaikan tangan. Dana
:"Di cariin lo, sama riska. Nih lagi chattingan sama gue sekarang. Hp lo di tinggal di tas kan?. Mangkannya gue jagain" dia menepuk-nepuk tas gue. Gue
:"Oke. Thanks" gue duduk di samping dana sambil mencari hp gue di tas. Dana
:"Widih widih. Lo mau keluar osis?. Gue ikut deh. Males gue kalo gak ada lo" dana mengambil kertas yang tadi gue bawa. Gue
:"Gue juga belum pasti. Kayaknya sih…gue keluar aja, soalnya kita kan jarang ikut rapat osis" Dana
:"Kalo gitu. Gue keluar aja deh, bosen"Akhirnya gue nemuin hp gue, dan gue langsung gendong tas kemudian keluar.
"Ye malah ninggal. Udah di tungguin lama sekarang malah ninggal" dana ngomong sambil beresin barang-barangnya. Kemudian kita berdua pulang tanpa ngobrol-ngobrol.
Sesampainya di rumah. Gue langsung menuju kamar, ganti baju, kemudian mengambil surat pemberian pak udin lalu menuju dapur.
Gue lihat di dapur cuman ada bi imah dan gue langsung mendekat ke dia.
Gue
:"Bi!. Mama kemana?" gue duduk di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Bi imah
:"Tadi bibi liat ada di ruang tamu sambil bawa laptop, den. Apa perlu bibi panggilin" Gue
:"Tapi tadi jack pulang kok liat mama di ruang tamu. Yaudah tolong cariin ya bi" Bi imah
:"Iya den"Sementara bi imah pergi nyari nyokap, gue ke dapur dan langsung menuju ke kulkas untuk mencari harta karun.
Kemudian gue kembali ke meja makan sambil membawa sebotol minuman soda.
Gak lama setelah itu bi imah muncul dan meminta gue untuk ke halaman belakang rumah. Gue pun menuju kesana dengan membawa surat tadi.
Sesampainya di sana. Gue liat nyokap lagi nyiramin bunga kesayangannya.
1