Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
amron7497170Avatar border
aryanti.storyAvatar border
nightstory770Avatar border
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
61K
271
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#71
Chapter 10






“ tutup jendelanya dar...gue masih ngantuk nih...” ujar nenden begitu mendapati sinar cahaya matahari pagi yang menyinari wajahnya, dan kini tanpa menunggu adanya perkataan yang terucap dari mulut gue, nenden terlihat menutupi wajahnya dengan selimut yang dikenakannya
“ iya teh maaf....gue disuruh sama mamah untuk membangunkan imse, karena hari ini dia harus memulai sekolahnya.....”
Tanpa merespon perkataan gue tersebut, nenden nampak hanya menggeliatkan tubuhnya
“ ahhh aneh banget sih nih orang...” gerutu gue begitu melihat perilaku nenden yang terlihat tidak seperti biasanya, hingga akhirnya setelah gue terdiam sejenak, gue memutuskan untuk segera membangunkan imas, karena hari terlihat mulai beranjak semakin siang
“ ims bangun....mamah udah menunggu dibawah tuh....” ujar gue sambil menyentuh tubuh imas guna membangunkannya, tapi begitu kini tangan gue menyentuh tubuh imas, gue merasa terkejut, begitu kini gue mendapati tubuh imas yang terasa dingin
“ kamu sakit ims.....?”
Kini bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan gue tersebut, dari kedua belah kelopak mata imas yang terpejam nampak terlihat butiran air mata yang mulai mengalir keluar dan membasahi pipinya
“ kamu kenapa ims, jawab abang....kamu sakit...?” tanya gue kembali dan berbalas dengan pecahnya isak tangis imas, mendapati hal tersebut, gue pun kini meminta kepada imas untuk membuka pejaman matanya, tapi sepertinya permintaan gue itu dianggap sebagai angin lalu oleh imas, karena imas tetap bersikeras untuk tidak membuka pejaman matanya
“ teh nendennn....ini imse kenapa....?” teriak gue dengan penuh kepanikan karena gue yakin saat ini imas tengah menunjukan sesuatu yang tidak biasanya dia lakukan
“ berisik banget sih dar, mungkin imse hanya sedang pusing....” jawab nenden dengan acuhnya dan tanpa merubah keberadaan nenden yang tengah bersembunyi di dalam selimut hangatnya
“ brengsekkk....lu kenapa sih teh....!” maki gue dalam rasa emosi karena mendapati ketidakperdulian nenden atas kondisi imas saat ini, dan sepertinya kalimat makian yang telah gue lontarkan itu, kini telah membuat rasa emosi yang gue rasakan ini terasa semakin membesar, hal ini dikarenakan nenden terlihat sama sekali tidak terpengaruh dengan kalimat makian yang gue lontarkan itu, kini diantara rasa kesal yang gue rasakan di hati ini, gue memutuskan untuk memberitahukan kepada mamah mengenai kondisi imas saat ini, tapi baru saja kini gue memijakan kaki di lantai bawah, gue mendapati adanya keramaian di halaman depan...entah apa yang sedang terjadi, tapi yang pasti keramaian itu terlihat melibatkan mamah, papah dan mang kohar
“ ada apa bi....?” tanya gue begitu melihat bi idah yang tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan memandang ke halaman rumah, seiring dengan keberadaan gue yang telah berada di sisi bi idah, nampak terlihat keberadaan mamah, papah dan mang kohar tengah berada di area kandang angsa
“ itu kang...patung angsa yang ada kandang angsa itu hancur....entah siapa yang menghancurkannya...” jawab bi idah dengan tatapannya yang masih memandang ke arah kandang angsa
“ hahh...hancur...” gumam gue seraya berlari menuju ke arah kandang angsa, dan benar saja, setibanya gue kini di kandang angsa, nampak terlihat keberadaan dari patung angsa yang telah hancur dan hanya menyisakan sebuah lubang besar yang berada tepat di bawah patung angsa itu berada, sedangkan di sisi yang lain dan masih berada dalam area kandang angsa, gue mendapati adanya keberadaan cangkul serta hamparan kain lusuh yang berukuran cukup besar dan terkotori oleh pekatnya tanah merah
“ ada apa pah.....?” tanya gue diantara ekspresi wajah papah yang terlihat kesal
“ entah orang sinting mana yang telah menghancurkan patung angsa ini....” jawab papah sambil berkacak pinggang, dan kini diantara kekesalan yang tengah diperlihatkan oleh papah, gue memilih untuk mendekati mang kohar yang tengah mengais ngais sesuatu dari dalam lubang besar
“ itu apa ya kang....?” tanya mang kohar begitu melihat sebuah kain lusuh yang tertimbun dalam tanah, mendapati perkataan mang kohar tersebut, nampak papah dan mamah kini ikut mengarahkan pandangannya ke dalam lubang
“ coba terus gali mang....” perintah papah kepada mang kohar, dan berbalas dengan pergerakan mang kohar yang mencoba untuk mengeluarkan kain tersebut dari timbunan tanah, hingga akhirnya disaat kini golok yang dipergunakan oleh mang kohar untuk menggali tanah menyentuh bagian dari kain lusuh, gue mendengar adanya suara letupan kecil yang terdengar dari arah kain lusuh, dan seiring dengan letupan yang telah terdengar, keberadaan dari kain lusuh tersebut terlihat basah, dan kini diantara keinginan gue yang ingin memberikan komentar atas kejadian yang baru saja terjadi tadi, sepertinya keinginan gue itu terpaksa gue urungkan begitu kini gue mendapati adanya aroma bau busuk yang tercium dari dalam lubang, mendapati hal tersebut, kami pun segera beranjak pergi menjauhi keberadaan lubang
“ sebaiknya mamah jangan disini.....” pinta gue begitu melihat mamah yang memuntahkan isi perutnya di tanah, mendapati perkataan gue tersebut, mamah terlihat memberikan isyarat tangannya yang menandakan mamah menolak permintaan gue itu
“ bi idah...!!, tolong ambilkan selendang yang ada di lemari....”
Mendengar teriakan mamah tersebut, nampak bi idah segera berjalan memasuki rumah guna memenuhi permintaan mamah, hingga akhirnya setelah beberapa saat menghilang di dalam rumah, bi idah terlihat keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah selendang di tangannya
“ ini bu.....” ucap bi idah lalu menyerahkan selendang yang dibawanya kepada mamah, aroma bau busuk yang masih tercium menyengat di area kandang angsa, kini telah membuat bi idah menutupi hidungnya dengan kedua telapak tangannya
“ mamih sedang apa bi....?”
“ mamih masih tidur bu....sepertinya tidur mamih lelap sekali....” jawab bi idah dan berbalas dengan pergerakan mamah yang menutupi hidungnya dengan selendang
“ ya udah sebaiknya bi idah menemani mamih aja, saya masih penasaran dengan apa yang ada di dalam lubang itu....” selepas dari perkataan mamah tersebut, bi idah terlihat beranjak pergi memasuki rumah, dan kini diantara ketidakpastian atas apa yang telah kami temukan ini, dengan menahan rasa mual yang di tengah dirasakannya, mang kohar mulai kembali menggali tanah guna mengeluarkan kain lusuh tersebut dari dalam tanah
“ ini dia.....akhirnya bisa terangkat juga....” teriak mang kohar seraya mengeluarkan kain lusuh tersebut dari dalam tanah...dan kini seiring dengan pergerakan tangan mang kohar yang mencoba untuk membersihkan kain tersebut dari tanah merah yang menempel, aroma bau busuk pun tercium semakin menyengat
“ sepertinya kain itu bersimpul, apa sebenarnya yang ada didalam kain itu....?” tanya bapak diantara pergerakan pendangan gue yang tengah mengamati keberadaan simbol yang tersamarkan dalam pekatnya tanah merah yang menutupi kain tersebut
“ iya..ya..pah, kok aneh banget..”
Selepas dari perkataan gue tersebut, mang kohar nampak mulai membuka simpul ikatan yang ada pada kain lusuh, hingga akhirnya diantara simpul ikatan pada kain lusuh yang telah terbuka, kini gue bisa melihat keberadaan dari sebuah telur yang telah pecah dan hanya meninggalkankan cangkang telur yang basah
“ hahhh telur....” ujar gue dan mamah hampir bersamaan
“ sepertinya itu telur angsa mang.....” ucap papah diantara pergerakan tangannya yang memegang cangkang telur, mendapati perkataan papah tersebut, nampak mang kohar menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa mang kohar menyetujui atas apa yang telah dikatakan oleh papah
“ sepertinya memang telur angsa pak....tapi untuk apa ya telur angsa ini di tanam tepat di bawah patung angsa ini......” gumam mang kohar dalam rasa bingung, hingga akhirnya diantara kebingungan yang tengah dirasakan oleh mang kohar, gue pun mengutarakan rasa keanehan gue atas apa yang telah kami temukan ini, dan keanehan yang gue rasakan itu adalah bagaimana mungkin telur serta kain yang telah kami temukan ini bisa bertahan selama itu di dalam tanah, karena kalau menurut logika gue, seharusnya keberadaan dari kain dan telur tersebut, sudah hancur termakan oleh usia
“ kamu benar juga dar....seharusnya memang seperti itu jika mengingat keberadaan dari patung angsa ini telah ada semenjak kakek kamu belum menikah dengan nenek, dengan kata lain usia dari patung angsa ini sudah teramat tua, jadi sangatlah enggak mungkin jika kain dan telur ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.....” ucap papah dan berbalas dengan pergerakan gue yang memungut kain lusuh tersebut dari atas tanah, dan untuk sesaat lamanya, gue pun kini hanya terdiam seraya mengamati kain lusuh tersebut
“ sebenarnya ini gambar apa ya mang....?” tanya gue begitu melihat simbol akan keberadaan dari sebuah telur dan kain yang berada dalam lingkaran aksara, sejujurnya baru kali ini gue melihat bentuk aksara yang seaneh itu
“ entahlah kang....tapi kalau simbol simbol seaneh itu, biasanya orang kampung mengenalnya sebagai rajah, dan rajah tersebut biasanya dipergunakan untuk hal hal yang berhubungan dengan sesuatu yang ghaib.....” jawab mang kohar dan berbalas dengan tawa kecil papah
“ ahhh itu omong kosong mang, yang kita lihat ini sebenarnya hanyalah simbol biasa.....bisa jadi pada masa kakek dan nenek kamu masih muda dar..., simbol tersebut adalah salah satu bentuk motif kain yang ada pada saat itu, yaaa...kurang lebih seperti batiklah....”
Sebuah kalimat sanggahan yang terucap dari mulut papah itu, kini seperti melecut rasa keingintahuan gue atas simbol yang telah kami temukan ini, dan kini dengan berbekal oleh rasa keingintahuan gue tersebut, gue segera mengambil kain lusuh yang lain, yang ada di area kandang angsa
“ kalau ini kain apa ya pah...?” tanya gue dan berbalas dengan penjelasan papah yang menerangkan bahwa kain tersebut ditemukan telah berada di atas tanah pada saat mang kohar melaporkan kejadian hancurnya patung angsa
“ coba lihat ini pah.....” ujar gue seraya menunjukan keberadaan noda merah yang telah tersamar oleh pekatnya tanah merah, selain itu gue juga menunjukan keberadaan sebuah simbol yang tergambar pada kain lusuh,yaa...sebuah simbol dengan bentuk yang berbeda tapi masih dengan aksara yang sama seperti apa yang telah kami temukan pada kain lusuh yang pertama, yang menjadi pembeda antara simbol yang kami lihat saat ini dengan simbol yang kami lihat sebelumnya adalah keberadaan sebuah lingkaran aksara, dimana di dalam lingkaran tersebut tergambar keberadaan sebuah kain serta sebuah gambar yang menyerupai organ tubuh atau lebih tepatnya gambar jantung
“ sebenarnya apa makna dari simbol yang telah kita temukan ini ya pah....?” tanya gue dan berbalas dengan pergerakan papah yang mengerutkan dahinya, dan kini diantara ketiadaan jawaban yang terucap dari mulut papah, terdengar suara panggilan angga yang memanggil mamah dari kejauhan, mendapati panggilan angga tersebut, secara serentak kami pun menolehkan pandangan ke arah angga, dan kini secara tidak sengaja, pada saat gue menolehkan pandangan mata ini ke arah angga, gue seperti menangkap adanya keberadaan seseorang yang tengah mengintip melalui kaca jendela kamar nenden, entah siapa yang telah mengintip...karena setelah kini gue berusaha meyakinkan atas apa yang telah gue lihat itu, keberadaan dari seseorang yang mengintip itu kini sudah tidak terlihat lagi di kaca jendela
“ apakah yang mengintip tadi itu nenden....?” tanya gue dalam hati dengan pandangan yang masih menatap ke arah jendela kamar nenden, dan selepas dari pertanyaan yang terucap di hati gue itu, terlihat mamah meminta kepada papah untuk bersiap siap guna mengantarkan imas dan angga ke sekolahnya yang baru
“ mah...” teriak gue begitu melihat papah dan mamah mulai berjalan menuju ke pintu rumah, kini begitu mendapati panggilan gue tersebut, terlihat mamah menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah gue
“ ada apa dar....?” tanya mamah diantara pergerakan langkah kaki papah yang ikut terhenti begitu melihat mamah yang menghentikan langkahnya, mendapati hal tersebut, mamah pun kini meminta kepada papah untuk melanjutkan langkah kakinya yang telah terhenti itu, dan kini seiring dengan keberadaan papah yang telah memasuki rumah, nampak mamah kembali mengarahkan pandangannya ke arah gue
“ ada apa dar...?” tanya mamah kembali
“ imse sepertinya sakit mah, tadi darma udah mencoba untuk membangunkannya, tapi imse malah menangis...”
“ hahh...menangis...” ujar mamah dengan rasa tidak percaya
“ iya mah imse menangis, tapi kalau mamah enggak percaya, mamah bisa membuktikannya sendiri sekarang....”
“ bukannya mamah enggak percaya dar, tapi semalam itu kan imas baik baik aja....ya udah kalau begitu mamah mau melihat imas dulu...”
Selepas dari menghilangnya mamah yang telah memasuki rumah, keinginan mang kohar yang hendak menimbun kembali kain lusuh serta cangkang telur di dalam lubang, kini terpaksa gue hentikan, entah mengapa gue merasa bahwa kain lusuh serta cangkang telur yang telah kami temukan itu, dapat berguna bagi gue dalam menelusuri misteri yang tersembunyi di rumah ini
“ sebenarnya untuk apa sih kang...kain dan cangkang telur ini kang darma simpan...?” tanya mang kohar dan berbalas dengan keterdiaman gue
“ entahlah mang, tapi sebaiknya sekarang ini mang kohar menyimpan benda benda itu di dalam kantong kresek, karena nanti saya akan memerlukannya untuk sesuatu....” seiring dengan perkataan yang terlontar dari mulut gue itu, kini terdengar suara panggilan mamah yang memanggil gue dari arah dalam rumah
“ ya udah mang, saya mau ke dalam dulu.....jangan lupa untuk menyimpan benda itu di dalam kantong kresek....” ujar gue seraya beranjak pergi meninggalkan mang kohar, dan kini seiring dengan irama langkah kaki gue yang telah berjalan guna memenuhi panggilan mamah, entah mengapa firasat gue mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres tengah menimpa imas, dan sepertinya firasat gue itu kini telah berubah menjadi sebuah kenyataan, nampak terlihat di pandangan gue keberadaan dari mamah, papah, angga serta nenden tengah mengelilingi tubuh imas yang masih terbaring di atas tempat tidur
“ kamu benar dar....sepertinya imas sakit...tapiii....” belum sempat mamah mengakhiri perkataannya tersebut, kini nampak mamah menghentikan perkataannya, dari ekspresi kesedihan yang diperlihatkan oleh mamah, sepertinya mamah merasa sangat terpukul atas kondisi imas saat ini
“ ya udah kalau begitu, papah mau mengantar angga dulu ke sekolahnya...dan kamu dar, sebaiknya kamu memanggil dokter sekarang, biar nanti mang kohar yang mengantarkan kamu untuk memanggil dokter....” usul papah dan berbalas dengan anggukan kepala mamah
“ tapi pah....mana ada dokter yang sudah buka praktek sepagi ini, lagi pula darma merasa, imas bukan sakit karena....”
“ karena apa dar...lu mau menghubungkan sakit imas ini dengan bayangan hitam yang ada di imajinasi lu itu....”
Terkejut....mungkin rasa itulah yang kini begitu mendominasi pikiran gue ini, begitu nenden melontarkan perkataannya itu, sungguh...gue sama sekali tidak menyangka kalau nenden akan mengatakan sesuatu yang terkesan menyudutkan gue seperti itu di depan papah dan mamah, andai saja saat ini gue sudah tidak lagi memandang keberadaan papah dan mamah yang ada dihadapan gue ini, sudah pasti gue akan membalas perkataan nenden tersebut dengan kalimat sumpah serapah
“ bayangan hitam....maksud kamu dengan bayangan hitam apa nden...?” tanya papah dengan rasa bingung, dan kini begitu mendapati pertanyaan papah tersebut, dengan penuh antusiasnya, nenden mulai menceritakan tentang awal mula perjumpaan gue dengan bayangan hitam, yaitu pada saat gue melihat album photo yang berisikan photo tua, hingga akhirnya setelah nenden kini mengakhiri cerita tentang awal mula perjumpaan gue dengan bayangan hitam tersebut, cerita nenden pun berlanjut pada cerita mengenai kecurigaan gue terhadap kakaknya papah yang telah meninggal, dan di dalam cerita tersebut nenden mengatakan bahwa gue telah mencurigai kakaknya papah yang telah meninggal sebagai sosok dari bayangan hitam, dan kini begitu nenden telah mengakhiri semua rangkaian ceritanya itu, bisa gue lihat ekspresi kemarahan yang terpancar di wajah papah
“ siallll....teh nenden ini kenapa ya, kenapa dia jadi seperti ini...baik...benar benar baiktt...” maki gue dalam hati diantara pandangan papah yang menatap wajah gue dengan sorot mata yang tajam
“ apa benar dar...kamu telah mencurigai kakak papah yang telah meninggal itu sebagai sosok bayangan hitam yang ada di imajinasi kamu itu....?” tanya papah dengan suara bergetar, kini begitu merasakan adanya emosi yang mengiringi perkataan papah tersebut, terlihat mamah mencoba meredakan emosi papah dengan cara menggenggam erat jari jemari papah
“ darma.....darma enggak bermaksud seperti itu pah, darma hanya menduga aja...”
“ apa bedanya menduga dengan mencurigai dar, papah benar benar enggak menyangka kalau kamu sekurang ajar itu dengan uwa kamu sendiri....papah kecewa dar...” selepas dari perkataannya itu, terlihat papah mengajak angga untuk pergi meninggalkan kamar, dan juga meninggalkan gue yang masih terdiam dalam rasa bersalah
“ sudahlah dar....lebih baik kamu sekarang pergi mencari dokter, mamah yakin disaat papah pulang nanti, pasti papah sudah akan bisa untuk memaafkan kamu.....” ujar mamah dengan bijaknya, tapi sepertinya perkataan mamah yang sarat dengan kebijaksanaannya itu, tidaklah dengan serta merta meredakan emosi yang kini tengah gue rasakan, dan hal ini terbukti, begitu kini mamah telah menyelesaikan perkataannya itu, gue segera menghampiri nenden guna menanyakan akan maksud dari perkataannya tadi
“ darma....!” tegur mamah begitu melihat keberadaan gue yang telah berdiri dalam posisi berhadapan wajah dengan nenden
“ maksud lu apa sih teh berkata seperti itu kepada papah....” tanya gue kepada nenden dan berbalas dengan cibiran nenden
“ maksud gue apa...?, memang benar kan dengan apa yang telah gue katakan tadi, lantas kalau gue menceritakan semuanya itu kepada papah kenapa...lu enggak suka...?”
“ brengsek...lu benar benar brengsek teh, gue sama sekali enggak menyangka kalau lu seperti ini.....” ujar gue dengan rasa geram, dan kini diantara rasa amarah yang mulai menggetarkan tubuh gue ini, terlihat mamah mencoba meredakan kemarahan yang gue rasakan ini melalui genggaman tangannya pada pergelangan tangan gue, mendapati hal tersebut, gue pun kini tersadar dan urung untuk melakukan sesuatu yang mungkin nantinya akan gue sesali
“ sebaiknya kamu sekarang pergi dar....tolong mamah, kasihan adik kamu....”


dimasaryo1985
namakuve
meizhaa
meizhaa dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.