- Beranda
- Stories from the Heart
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
...
TS
wowonwae
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Sebelumnya : Part 1
Part 2

CUITAN DARI ATAS BALKON
Aku memang biasa dipanggil Aik, nama panggilan semenjak kecil yang diberikan orang tuaku. Sebetulnya itu diambil dari nama belakangku, Aji. Buat mudahnya bagi lidah jawa, huruf "j" dihilangkan dan diakhiri konsonan "k", jadilah Aik. Demikian aku berkenalan sama semua orang di sini, nggak dosen, senior, pegawai kampus, tukang parkir, junior sampai orang-orang kampung mengenalku dengan nama Aik.
Yang tampak saat kutolehkan wajahku adalah sebuah rumah besar yang terletak berseberangan dengan rumah kost yang baru akan kutempati. Tertutup pintunya, semacam pintu garasi lebar bersegmen-segmen terbuat dari bahan kayu kayak di senetron-sinetron atau FTV. Tidak tampak seorangpun di depan pintu itu. Kudongakkan kepalaku segera mengikuti sumber suara, ternyata ada dua gadis yang senyum-senyum memandangku di teras balkon lantai 2.
Ya, rumah besar itu memang susun bentuknya, hanya 2 lantai. Lantai pertama yang pintunya tertutup itu garasi buat nyimpen motor anak-anak kost, lantai kedua adalah kamar kost dengan teras balkon los, tak bersekat, memanjang di depan kamar-kamar kos. Empat orang senior cewek, setingkat di atasku memang tinggal di situ. Dan salah satunya itulah yang memanggilku, namanya Ica. Rupanya sejak tadi dia mengamati proses pemindahan barang-barangku dari pick-up ke kamar kost, bersama kawan kostnya.
"Hai !", jawabku setengah berteriak. "Ngapain Ca pagi-pagi nongkrong aja di atas? Nggak pada ngikut ngandong?" tanyaku kemudian. Ica memang setingkat di atasku, tapi tahun kelahiran kita sama, makanya aku takpernah memanggilnya Mbak atau Kak sebagaimana kawan seangkatannya yang lain.
"Lagi males, begadang semalem", jawabnya dengan seulas senyum. Kawan di sebelahnya juga ikut senyum-senyum, malah tampak serius mengamati wajahku meski terkesan jaga image. Senyumnya manis juga dengan deretan gigi yang rapi. Hidungnya mancung lebih mancung dari hidungku, sedang matanya lebar - jelas lebih lebar dari mataku yang sipit ini. Mata kami sejenak beradu, aku menangkap kesan seolah ingin mengajakku berkenalan.
Kualihkan lagi pandanganku ke Ica yang lebih dulu kukenal. Baik anaknya, tergolong pinter dan rajin di angkatannya, aku sering pinjam catatannya atau minta keterangan untuk pelajaran yang aku kurang mengerti. Sebagai anak pintar, Ica tidak egois seperti kebanyakan, dia tidak pernah menolak berbagi catatan dan pemahamannya pada siapa saja.
"Udah sarapan Ca? Yuk!" ajakku.
"Udah dong, pagi tadi kami masak berdua", kata Ica sambil melirik kawan di sebelahnya.
"Widiiih, masak apa? Boleh dong ngicipin...", sahutku berbasa-basi, masih dengan mendongakkan kepala.
Disenggollah dengan sikut kawan di sebelahnya, dua kali. Merah padam mukanya, tawanya lepas sambil memegangi lengan Ica dan mengguncangkannya. Kepalanya digeleng-gelengkan menatap Ica, bahasa isyarat agar masakannya jangan dibagikan. Ica juga tergelak tawanya melihat tingkah itu, dengan sigap lalu dialihkannya pandangan kembali ke bawah - ke arahku.
"Restu malu Ik, kami masih belajar memasaknya, masih agak hambar rasanya. Ini nih chefnya...," kata Ica menunjuk kawan di sebelahnya sambil menahan tawa geli. Sedang kawannya itu mengangguk-angguk, isyarat mengiyakan jawaban Ica dengan ekspresi malu.
"Yo wis ( ya sudah ). Aku pegel ndangak ( aku capek mendongak) terus. Kalau mau lanjut ngobrol sini turun ke bawah", celetukku kemudian.
"Udah kamu sarapan aja dulu !", jawabnya.
"Oke !", jawabku langsung berbalik badan menghampiri motor di depan kamar kostku.
Lupa mengunci pintu kamar, turunlah lagi aku dari motor yang terlanjur sudah kustarter. Setelah yakin aman terkunci, kembali kunaiki motor dan kulajukan mengikuti naluri perut yang sudah keroncongan sejak tadi.
Sepanjang jalan, ingatanku pada percakapan tadi masih mengiang, terutama kesan pada ekspresi spontan kawan kost Ica saat aku berbasa-basi pengin mencicipi masakan mereka.

Continue to part 3 ♡ part4 ♡ part5 ♡ part6 ♡ part7 ♡ part8 ♡ part9 ♡ part10 ♡ Interlog ♡ Part11 ♡ Part12 ♡ Part13 ♡ Part14 ♡ Part15 ♡ Part16 ♡ Part17 ♡ Part18 ♡ Part19 ♡ Part20 ♡ Part21 ♡ Part22 ♡ Part23 ♡ Part24 ♡ Part25 ♡ Selembar Testimoni ♡ Part26 ♡ Part27 ♡ Part28 ♡ Part29 ♡ Part30
Diubah oleh wowonwae 08-05-2019 13:00
yambu668 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
10.6K
63
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wowonwae
#16
Part 11

Racun Kopi Nikotinamida
Kantin di kampusku ada 3, satu di dekat gedung D - area kekuasaan anak jurusan Matematik, satu di dekat gedung E - area kekuasaan anak jurusan Fisika, dan satu lagi di dekat gedung B - area bebas karena dekat Dekanat (gedungnya Dekan Fakultas dan para pegawainya).
Area kekuasaan yang kumaksud bukanlah sebuah bentuk premanisme, hanya berarti mayoritas dipakai kuliah oleh mahasiswa jurusan tertentu yang kemudian menjadi tempat yang sering digunakannya untuk kegiatan non akademik.
Semua kantin terletak di lantai satu, berupa bangunan tersendiri yang dibikin sendiri, yang bersebelahan dengan gedung kampus. Seperti kantin yang hendak kutuju siang ini bersama Uya, bentuknya hanyalah ruang bersekat calciboard dan terletak tepat di sebelah turunan tangga gedung B lantai satu. Sangat sederhana, semacam bangunan minimalis memanfaatkan ruang yang ada saja secara efisien.
"Ada apa sih Ik kok tumben kamu ngejar-ngejar ketemuan Mbak Ica?" tanya Uya selepas Bu Kus mengakhiri kuliahnya siang ini.
"Ada deh...", jawabku sekenanya. "Yuk, cepetan!" ajakku sambil berdiri duluan. Uya segera mengemasi peralatannya lalu menyusulku bangkit dari bangkunya.
Kami segera melangkah keluar ruangan, Vita yang se-kost-an dengan Uya turut pula membuntuti kami berdua. Tak sia-sia kami melangkah cepat-cepat sebab kantin masih belum terlalu ramai. Kutemukan Ica seperti biasa di sudut ruang kantin, tempat favoritnya.
"Udah sana Ya' mo pesen apa! Aku es kopi aja segelas!", kusuruh Uya dan kutinggalkan dia berdua bersama Vita tanpa peduli mau pilih tempat duduk sebelah mana. Aku ngeloyor mendekati Ica, mengambil satu kursi yang masih tersisa di dekatnya. Dua kursi yang lain telah diduduki Anty dan Lista, kawan satu gank-nya Ica - satu angkatan.
"Asyiii...k, ada yang mau ntraktir nih!" seru Ica melihatku duduk berhadapan dengannya. Anty dan Lista ikut girang mendengarnya, tampak dari senyum dan mata mereka yang berbinar. Dasar cewek! Maunya ngirit pengeluaran aja... Gerutuku dalam hati.
"Wah, ada apa nih Ik? Tumben...", tanya Anty segera.
"Ulang tahun ya Ik?" susul tanya Lista.
Aku tersenyum tapi membisu, diberondong pertanyaan cewek-cewek yang terkenal ceriwis di angkatannya itu sebenernya paling males aku. Makanya aku sering heran sama bapaknya Yuna, tukang sayur keliling yang sering dikerubutin ibu-ibu kompleks. Kok bisa ya ngejalanin hidup begitu? Pikirku selalu.
"Wis ojo do ceriwis (udah jangan pada cerewet), pesen opo wae sakkarepmu (pesan apa saja sesuka kalian)!" kataku tegas.
"Aku perlu ngobrol karo (aku mau bicara sam) Ica berdua". Berhamburan Anty dan Lista beranjak dari tempat duduknya segera, menghampiri ibu kantin menambah pesan hidangan. Tinggal aku dan Ica berhadapan, terpisah meja kantin persegi bertaplak merah yang besarnya takseberapa.
"Piye (Gimana) Ik? Informasi tak akan kubagi kalau permintaanku kemarin belum diantar ke kost-an", kata Ica mendahuluiku. Aku mengatur nafas, berusaha menguasai diri agar kalimat yang mau kuucapkan tertata baik.
"Soal itu pasti kutepati Ca' tenang aja, asal nanti kausampaikan ke Restu kalau aku mau main", jawabku.
"Kok langsung begitu? Nggak mau tau informasi rahasiaku dulu?"
"Justru itu, kamu minta makanan kesukaan sebagai ganti informasimu. Lah aku kan gak weruh (nggak tau)... Aku pengin tau dari Restu".
"Kue bandung spesial coklat-keju. Udah gak usah perlu tanya Restu kan?!"
"Ah, sialan kamu Ca' !", kataku kecewa. Ica ketawa ngakak, rupanya dia sudah mencium alibi licikku.
Ica tak mau kebiasaanku menerobos nara sumber sendiri berhasil kali ini. Dia sudah hapal kelakuanku yang organisatoris ini keluar-masuk gedung Dekanat maupun Rektorat untuk memastikan informasi sendiri, tak pernah yakin dengan cerita yang beredar di kampus.
Jika sudah kudengar sendiri cerita dari Restu, informasi yang dipunya Ica tentu takkan jadi rahasia lagi, dan dia tak jadi bisa menikmati makanan favoritnya secara gratis. Begitu sebetulnya siasat yang ku utak-atik sedari tadi hingga tak sedikitpun penjelasan Bu Kus ada yang nyanthol, tapi ternyata Ica lebih cerdas dari perkiraanku.
"Oke, kue bandung akan sampai ke kostmu malam ini, asal aku bisa menemui Restu juga!" aku menawar.
"Bisa diatur....", kata Ica tersenyum bangga dengan kemenangannya.
"Kamu itu malas jadi mak comblang, malah sukanya jadi preman ternyata...", gerutuku.
"Bukan begitu Ik, wis tha (sudahlah)..., nanti kalau kamu sudah dengar ceritaku aku yakin pasti akhirnya bisa mengerti".
Obrolanku dan Ica sejenak terputus oleh pamit Uya dan Vita. "Ik, kami duluan ya... Beneran ditraktir kan? Semua sudah dicatat sama Ibu kantin."
"Lho, emang mau pada kemana? Praktikumnya kan masih lama?"
"Ke musholla dulu. Yuk Mbak Icaaa...!", pamit Uya dan Vita bersahutan sambil melambaikan tangan kepada Ica.
"Iya...iya, yuk....!" jawab Ica membalas lambaian tangan mereka.
Kami terdiam sejenak, Ica melanjutkan menikmati pisang coklatnya dan aku menyeruput es kopi yang sedari tadi kudiamkan setelah disuguhkan Mbak Pur asistennya Ibu Kantin. Nama Ibu kantin sendiri tidak pernah kita tau, sudah terlanjur nge-brandnya begitu, terwariskan dari generasi ke generasi.
Aku menoleh ke arah duduk Anty dan Lista, rupanya bertambah banyak saja kawan ngerumpinya. Yuna, Odik dan Agus tampak tertawa-tawa bersama mereka. Begitulah waktu jeda di kampus, bagi kita yang sudah terbiasa gak sarapan pagi, kantin akan menjadi tempat favorit buat ngisi perut sambil bercanda bersama.
"Kamu ditunggu Restu dari kemarin-kemarin, kenapa baru sekarang mau main Ik?", tanya Ica kembali mengawali obrolan. Aku tersenyum, pertanyaan ini sudah kuduga akan ditanyakan Ica.
"Durung kober (belum sempat) lah Ca, koyok gak tau (kayak nggak pernah) semester 5 wae (aja)", ucapku. Semester 5 adalah semester terpadat kegiatan kuliah maupun praktikum di jurusanku.
"Ah, kamunya aja yang kebanyakan urusan organisasi Ik! Apa untungnya sih?"
"Ye..., kamu ini berpikirnya untung-rugi aja Ca'! Jangan semua kamu analisa pake metode kuantitatif dong... Sekali-kali pakai kek analisis deskriptif..."
"Hemmm....gayamu Ik kayak mau cumlaude aja! IPK tuh dibenerin...!" balas Ica nyinyir. Ya, dia pernah lihat transkrip nilaiku di semester sebelumnya yang kayak rujak, mengandung nilai C, D dan 1 nilai E yang mutlak harus diulang.
Aku tertawa kecil lihat nyinyir khasnya Ica. Kusruput lagi kopiku lalu kulanjutkan lagi bicara : "Organisasi itu....".
"Wis hop! (Sudah, cukup!)", bentakan datar Ica memutus pembicaraan. Tanpa kuprediksi, Ica condongkan duduknya lebih ke depan dan ditatapnya aku serius.
"Yang mau kubocorkan ke kamu itu kisah masa lalunya Restu saat SMA, itu yang bikin dia belum mau berpacaran sampai sekarang! Dan kamu adalah lelaki pertama yang berhasil melepas belenggu trauma masa lalunya!", tegas Ica setengah berbisik.
Glek! Aku menelan ludah, mataku mendelik lalu jidatku mengkerut. Ica benar-benar menaikkan nilai informasinya jadi makin mahal. Ibarat media online yang sedang fokus pada kasus korupsi, apa yang dikatakan Ica seolah diucapkan oleh ketua KPK kepada wartawannya sebelum resmi jumpa pers.
"Kenapa nggak sekarang aja sih Ca....?!" rengekku.
"Heish...! Kamu bentar lagi meski praktikum dan aku ada janji sama dosen pembimbing. Kamu salahnya sendiri gak dari kemaren-kemaren....", tampik Ica atas rengekanku.
Aku menghela nafas, kuteguk segelas kopiku - tak lagi kusruput. Otakku makin butuh zat penenang seperti kafein, bahkan mungkin nikotin. Ica paham gelagatku, dia pastikan kalau aku sebentar lagi pasti menyulut rokok. Maka berpamitanlah dia, Anty dan Lista, kemudian meninggalkanku sendiri bersama semua kertas bon yang harus kubayar.
Prediksi Ica benar, kubayar semua bon ke Bu kantin plus kubeli sebungkus rokok, takperlu kusebut merknya. Lalu kuhampiri Yuna buat menemaniku merokok di tempat lain. Tak akan pernah ajakan merokok itu ditolaknya, kecuali sedang sibuk sekali dengan urusan pribadi.
"Tumben-tumbenan ada apa Ik?", tanya Yuna sepanjang perjalanan menuju lahan di sudut laboratorium yang ditumbuhi pohon liar tapi malah menyerupai taman. Lokasi paling aman buat merokok di kampus kami. Aman bukan terhadap larangan, tidak ada larangan merokok waktu itu. Tetapi aman dari cibiran dan penolakan dari para aktivis anti rokok di kampus yang kian hari kian bertambah saja jumlahnya, mayoritasnya mahasiswi.
"Ada urusan mendesak brother, aku kayaknya gak bisa menunda", jawabku sambil menghisap sebatang rokok perdana itu kuat-kuat. Perdana artinya yang pertama kali terambil dari bungkusnya, bukan merek.
Yuna semakin penasaran dan terus mendesak. Terpaksa kuceritakan sedikit kisah untuk mengurangi paling tidak 20 % beban pikiran di kepala. Dengan Yuna, aku yang tergolong introvert ini bisa terbuka. Yuna adalah anak sulung dengan 7 adik, cukup supel dan sabar berhadapan denganku yang notabene anak bungsu. Nasibnya tidak begitu baik, dia lahir di tengah keluarga yang minim penghasilan. Beruntunglah karena ada nikmat Ilahi yang begitu jelas tampak padanya, yaitu anugerah kecerdasan.
Yuna hanya perlu sekali membaca catatan untuk kemudian hafal dan siap mengikuti ujian. Kecerdasan itulah yang membuatnya tak perlu ketertiban waktu belajar sehingga jam berapapun siap jadi kawan ngobrol ataupun kawan keluyuran bagi kawan-kawan. Kecerdasan itu pula yang membuatnya tetap bertahan hidup selama ini dari ditraktir kawan-kawan yang dikasih contekan jawaban setiap ujian. Hampir tiap hari ada ujian di kampusku, mulai pre-test dan post-test (dalam praktikum laboratorium), ujian dadakan dari para dosen yang super sibuk, mid semester sampai ujian semester.

Continue to part 12

Racun Kopi Nikotinamida
Kantin di kampusku ada 3, satu di dekat gedung D - area kekuasaan anak jurusan Matematik, satu di dekat gedung E - area kekuasaan anak jurusan Fisika, dan satu lagi di dekat gedung B - area bebas karena dekat Dekanat (gedungnya Dekan Fakultas dan para pegawainya).
Area kekuasaan yang kumaksud bukanlah sebuah bentuk premanisme, hanya berarti mayoritas dipakai kuliah oleh mahasiswa jurusan tertentu yang kemudian menjadi tempat yang sering digunakannya untuk kegiatan non akademik.
Semua kantin terletak di lantai satu, berupa bangunan tersendiri yang dibikin sendiri, yang bersebelahan dengan gedung kampus. Seperti kantin yang hendak kutuju siang ini bersama Uya, bentuknya hanyalah ruang bersekat calciboard dan terletak tepat di sebelah turunan tangga gedung B lantai satu. Sangat sederhana, semacam bangunan minimalis memanfaatkan ruang yang ada saja secara efisien.
"Ada apa sih Ik kok tumben kamu ngejar-ngejar ketemuan Mbak Ica?" tanya Uya selepas Bu Kus mengakhiri kuliahnya siang ini.
"Ada deh...", jawabku sekenanya. "Yuk, cepetan!" ajakku sambil berdiri duluan. Uya segera mengemasi peralatannya lalu menyusulku bangkit dari bangkunya.
Kami segera melangkah keluar ruangan, Vita yang se-kost-an dengan Uya turut pula membuntuti kami berdua. Tak sia-sia kami melangkah cepat-cepat sebab kantin masih belum terlalu ramai. Kutemukan Ica seperti biasa di sudut ruang kantin, tempat favoritnya.
"Udah sana Ya' mo pesen apa! Aku es kopi aja segelas!", kusuruh Uya dan kutinggalkan dia berdua bersama Vita tanpa peduli mau pilih tempat duduk sebelah mana. Aku ngeloyor mendekati Ica, mengambil satu kursi yang masih tersisa di dekatnya. Dua kursi yang lain telah diduduki Anty dan Lista, kawan satu gank-nya Ica - satu angkatan.
"Asyiii...k, ada yang mau ntraktir nih!" seru Ica melihatku duduk berhadapan dengannya. Anty dan Lista ikut girang mendengarnya, tampak dari senyum dan mata mereka yang berbinar. Dasar cewek! Maunya ngirit pengeluaran aja... Gerutuku dalam hati.
"Wah, ada apa nih Ik? Tumben...", tanya Anty segera.
"Ulang tahun ya Ik?" susul tanya Lista.
Aku tersenyum tapi membisu, diberondong pertanyaan cewek-cewek yang terkenal ceriwis di angkatannya itu sebenernya paling males aku. Makanya aku sering heran sama bapaknya Yuna, tukang sayur keliling yang sering dikerubutin ibu-ibu kompleks. Kok bisa ya ngejalanin hidup begitu? Pikirku selalu.
"Wis ojo do ceriwis (udah jangan pada cerewet), pesen opo wae sakkarepmu (pesan apa saja sesuka kalian)!" kataku tegas.
"Aku perlu ngobrol karo (aku mau bicara sam) Ica berdua". Berhamburan Anty dan Lista beranjak dari tempat duduknya segera, menghampiri ibu kantin menambah pesan hidangan. Tinggal aku dan Ica berhadapan, terpisah meja kantin persegi bertaplak merah yang besarnya takseberapa.
"Piye (Gimana) Ik? Informasi tak akan kubagi kalau permintaanku kemarin belum diantar ke kost-an", kata Ica mendahuluiku. Aku mengatur nafas, berusaha menguasai diri agar kalimat yang mau kuucapkan tertata baik.
"Soal itu pasti kutepati Ca' tenang aja, asal nanti kausampaikan ke Restu kalau aku mau main", jawabku.
"Kok langsung begitu? Nggak mau tau informasi rahasiaku dulu?"
"Justru itu, kamu minta makanan kesukaan sebagai ganti informasimu. Lah aku kan gak weruh (nggak tau)... Aku pengin tau dari Restu".
"Kue bandung spesial coklat-keju. Udah gak usah perlu tanya Restu kan?!"
"Ah, sialan kamu Ca' !", kataku kecewa. Ica ketawa ngakak, rupanya dia sudah mencium alibi licikku.
Ica tak mau kebiasaanku menerobos nara sumber sendiri berhasil kali ini. Dia sudah hapal kelakuanku yang organisatoris ini keluar-masuk gedung Dekanat maupun Rektorat untuk memastikan informasi sendiri, tak pernah yakin dengan cerita yang beredar di kampus.
Jangan dikira sebelum ada medsos itu tak ada hoax, berbagai kabar burung itu sudah biasa beredar di kalangan mahasiswa waktu itu.
Jika sudah kudengar sendiri cerita dari Restu, informasi yang dipunya Ica tentu takkan jadi rahasia lagi, dan dia tak jadi bisa menikmati makanan favoritnya secara gratis. Begitu sebetulnya siasat yang ku utak-atik sedari tadi hingga tak sedikitpun penjelasan Bu Kus ada yang nyanthol, tapi ternyata Ica lebih cerdas dari perkiraanku.
"Oke, kue bandung akan sampai ke kostmu malam ini, asal aku bisa menemui Restu juga!" aku menawar.
"Bisa diatur....", kata Ica tersenyum bangga dengan kemenangannya.
"Kamu itu malas jadi mak comblang, malah sukanya jadi preman ternyata...", gerutuku.
"Bukan begitu Ik, wis tha (sudahlah)..., nanti kalau kamu sudah dengar ceritaku aku yakin pasti akhirnya bisa mengerti".
Obrolanku dan Ica sejenak terputus oleh pamit Uya dan Vita. "Ik, kami duluan ya... Beneran ditraktir kan? Semua sudah dicatat sama Ibu kantin."
"Lho, emang mau pada kemana? Praktikumnya kan masih lama?"
"Ke musholla dulu. Yuk Mbak Icaaa...!", pamit Uya dan Vita bersahutan sambil melambaikan tangan kepada Ica.
"Iya...iya, yuk....!" jawab Ica membalas lambaian tangan mereka.
Kami terdiam sejenak, Ica melanjutkan menikmati pisang coklatnya dan aku menyeruput es kopi yang sedari tadi kudiamkan setelah disuguhkan Mbak Pur asistennya Ibu Kantin. Nama Ibu kantin sendiri tidak pernah kita tau, sudah terlanjur nge-brandnya begitu, terwariskan dari generasi ke generasi.
Aku menoleh ke arah duduk Anty dan Lista, rupanya bertambah banyak saja kawan ngerumpinya. Yuna, Odik dan Agus tampak tertawa-tawa bersama mereka. Begitulah waktu jeda di kampus, bagi kita yang sudah terbiasa gak sarapan pagi, kantin akan menjadi tempat favorit buat ngisi perut sambil bercanda bersama.
"Kamu ditunggu Restu dari kemarin-kemarin, kenapa baru sekarang mau main Ik?", tanya Ica kembali mengawali obrolan. Aku tersenyum, pertanyaan ini sudah kuduga akan ditanyakan Ica.
"Durung kober (belum sempat) lah Ca, koyok gak tau (kayak nggak pernah) semester 5 wae (aja)", ucapku. Semester 5 adalah semester terpadat kegiatan kuliah maupun praktikum di jurusanku.
"Ah, kamunya aja yang kebanyakan urusan organisasi Ik! Apa untungnya sih?"
"Ye..., kamu ini berpikirnya untung-rugi aja Ca'! Jangan semua kamu analisa pake metode kuantitatif dong... Sekali-kali pakai kek analisis deskriptif..."
"Hemmm....gayamu Ik kayak mau cumlaude aja! IPK tuh dibenerin...!" balas Ica nyinyir. Ya, dia pernah lihat transkrip nilaiku di semester sebelumnya yang kayak rujak, mengandung nilai C, D dan 1 nilai E yang mutlak harus diulang.
Aku tertawa kecil lihat nyinyir khasnya Ica. Kusruput lagi kopiku lalu kulanjutkan lagi bicara : "Organisasi itu....".
"Wis hop! (Sudah, cukup!)", bentakan datar Ica memutus pembicaraan. Tanpa kuprediksi, Ica condongkan duduknya lebih ke depan dan ditatapnya aku serius.
"Yang mau kubocorkan ke kamu itu kisah masa lalunya Restu saat SMA, itu yang bikin dia belum mau berpacaran sampai sekarang! Dan kamu adalah lelaki pertama yang berhasil melepas belenggu trauma masa lalunya!", tegas Ica setengah berbisik.
Glek! Aku menelan ludah, mataku mendelik lalu jidatku mengkerut. Ica benar-benar menaikkan nilai informasinya jadi makin mahal. Ibarat media online yang sedang fokus pada kasus korupsi, apa yang dikatakan Ica seolah diucapkan oleh ketua KPK kepada wartawannya sebelum resmi jumpa pers.
"Kenapa nggak sekarang aja sih Ca....?!" rengekku.
"Heish...! Kamu bentar lagi meski praktikum dan aku ada janji sama dosen pembimbing. Kamu salahnya sendiri gak dari kemaren-kemaren....", tampik Ica atas rengekanku.
Aku menghela nafas, kuteguk segelas kopiku - tak lagi kusruput. Otakku makin butuh zat penenang seperti kafein, bahkan mungkin nikotin. Ica paham gelagatku, dia pastikan kalau aku sebentar lagi pasti menyulut rokok. Maka berpamitanlah dia, Anty dan Lista, kemudian meninggalkanku sendiri bersama semua kertas bon yang harus kubayar.
Prediksi Ica benar, kubayar semua bon ke Bu kantin plus kubeli sebungkus rokok, takperlu kusebut merknya. Lalu kuhampiri Yuna buat menemaniku merokok di tempat lain. Tak akan pernah ajakan merokok itu ditolaknya, kecuali sedang sibuk sekali dengan urusan pribadi.
"Tumben-tumbenan ada apa Ik?", tanya Yuna sepanjang perjalanan menuju lahan di sudut laboratorium yang ditumbuhi pohon liar tapi malah menyerupai taman. Lokasi paling aman buat merokok di kampus kami. Aman bukan terhadap larangan, tidak ada larangan merokok waktu itu. Tetapi aman dari cibiran dan penolakan dari para aktivis anti rokok di kampus yang kian hari kian bertambah saja jumlahnya, mayoritasnya mahasiswi.
"Ada urusan mendesak brother, aku kayaknya gak bisa menunda", jawabku sambil menghisap sebatang rokok perdana itu kuat-kuat. Perdana artinya yang pertama kali terambil dari bungkusnya, bukan merek.
Yuna semakin penasaran dan terus mendesak. Terpaksa kuceritakan sedikit kisah untuk mengurangi paling tidak 20 % beban pikiran di kepala. Dengan Yuna, aku yang tergolong introvert ini bisa terbuka. Yuna adalah anak sulung dengan 7 adik, cukup supel dan sabar berhadapan denganku yang notabene anak bungsu. Nasibnya tidak begitu baik, dia lahir di tengah keluarga yang minim penghasilan. Beruntunglah karena ada nikmat Ilahi yang begitu jelas tampak padanya, yaitu anugerah kecerdasan.
Yuna hanya perlu sekali membaca catatan untuk kemudian hafal dan siap mengikuti ujian. Kecerdasan itulah yang membuatnya tak perlu ketertiban waktu belajar sehingga jam berapapun siap jadi kawan ngobrol ataupun kawan keluyuran bagi kawan-kawan. Kecerdasan itu pula yang membuatnya tetap bertahan hidup selama ini dari ditraktir kawan-kawan yang dikasih contekan jawaban setiap ujian. Hampir tiap hari ada ujian di kampusku, mulai pre-test dan post-test (dalam praktikum laboratorium), ujian dadakan dari para dosen yang super sibuk, mid semester sampai ujian semester.
Quote:

Continue to part 12
Diubah oleh wowonwae 16-04-2019 04:19
kuahsayur dan 2 lainnya memberi reputasi
3