- Beranda
- Stories from the Heart
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING
...
TS
omboth
API DENDAM DI TANAH PRINGGADING

SELAMAT DATANG DI THREAD ANE


Terima kasih sebelumnya saya ucapkan bagi Agan-agan yang sudah membaca Mendung di Karang Jati
Berkat Agan semua, Thread tersebut pernah menjadi Hot Thread.
Sekali lagi Terima Kasih
Kini, seperti yang saya pernah tulis di thread tersebut, lanjutan kisah novel tersebut akan saya mulai.
Boleh di bilang ini semacam buku ke-2 setelah Mendung di Karang Jati.
1. Apakah ceritanya nyambung dengan MdKJ?
Nyambung kok, Gan.
2. Apakah tokoh-tokohnya sama?
Sama, dengan penambahan banyak tokoh baru.
3. Apakah ada sangkut pautnya dengan sejarah daerah tertentu?
Ngga. Sekali lagi saya katakan ngga.
4. Apakah ada waktu yang jelas tentang update?
Tergantung kesibukan RL ya Gan. Tapi yang pasti saya akan mencoba memberikan yang terbaik dengan update secara rutin.
5. Sampai berapa bab ini?
Lom tahu.
6. Apakah saya harus baca Mendung di Karang Jati dulu sebelum baca yang ini?
Terserah Agan sih. Nda ada kata wajib. Namun jauh lebih baik Agan sudah punya setting dasar bawaan dari novel Mendung di Karang Jati.
7. Ada link novel sebelumnya nda ?
Silahkan langsung aja ke TKP , Gan >>> Mendung di Karang Jati
Akhir kata,
Semoga apa yang saya coba persembahkan ini berkenan dan bisa diterima dengan baik.
Tolong jangan samakan dengan para sesepuh yang telah bertahun-tahun berkelana di dunia
per novel an
Karya saya ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan karya-karya mereka
Selamat Menikmati

Quote:
INDEX
Spoiler for Bab 1:
Diubah oleh omboth 04-04-2019 17:26
pulaukapok dan 16 lainnya memberi reputasi
17
8.2K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
omboth
#22
1.3
Wajah Ki Laksa tampak menegang. Sedari tadi pandangan nya tidak lepas dari bangunan yang ada di depannya. Bangunan yang baru saja beberapa hari yang lalu ia kunjungi kini sudah hampir rata dengan tanah. Bangunan yang dulu pernah menjadi tempat perlindungannya kala terluka parah akibat suatu pertempuran. Juga jadi tempat persembunyiannya sementara dari kejaran musuh-musuhnya kala ia masih menjabat sebagai perwira di Kademangan Pringgading. Kini bangunan bersejarah bagi dirinya itu tinggal kenangan. Tak lagi di lihatnya kesibukan para murid berlatih olah kanuragan di halaman. Tak lagi ada suara-suara penuh semangat. Semua berganti dengan suara-suara riuh penduduk yang berusaha memadamkan sisa-sisa api atau berusaha mencari mereka yang mungkin masih selamat.
Di sisi lain halaman padepokan terhampar pemandangan yang berbeda. Beberapa wanita terlihat menangis di depan tubuh-tubuh yang sudah tak berbentuk. Ada yang menangis sesegukan sembari memeluk suaminya yang berdiri tertunduk, ada yang duduk menangis histeris tak bisa menerima kenyataan kepergian putra mereka yang menjadi murid padepokan tersebut. Tak sedikit juga terlihat gadis-gadis yang menangis di depan tubuh kekasihnya. Tubuh yang dahulu tegap dan kekar karena ditempa oleh latihan setiap harinya itu, kini tinggal onggokan jasad menghitam yang mengerikan. Tak ada yang menyangka bahwa akhir hidup murid-murid padepokan Kiai Sentani akan sedemikian menyedihkan. Mati mengenaskan terbakar bersama padepokan mereka.
Ki Laksa menghembuskan napasnya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Hilangnya Kiai Sentani dari padepokan adalah salah satunya. Orang tua yang sudah ia anggap sebagai saudara nya sendiri itu hilang bagai di telan bumi. Ketiadaan akan kehadiran Kiai Sentani di padepokan memang bukan hal baru. Kiai Sentani adalah orang tua yang juga terkenal gemar pergi dari padepokan untuk menyepi. Namun kini jauh berbeda. Beberapa saksi mata melihat beberapa orang berkuda tak dikenal membawa tubuh orang tua itu pergi meninggalkan padepokan pagi itu.
Seorang pemuda tampak berlari mendekat ke arah Ki Laksa. Wajahnya kotor penuh dengan debu dan keringat. Rambutnya yang hitam sebahu tampak memutih oleh abu sisa-sisa pembakaran. Pakaiannya sudah tak lagi jelas warna aslinya karena basah oleh keringat dan noda-noda hitam akibat bersentuhan dengan arang.
"Ada apa?"
Pemuda tersebut menunduk hormat sebelum ia mulai berkata.
"Semua korban sudah kami temukan, Ki Laksa. Ada enambelas murid yang menjadi korban."
"Enambelas?"
"Betul, Ki."
Dahi Ki Laksa tampak berkerut.
"Bukankah jumlah murid padepokan ini ada duapuluh orang?" Bertanya Ki Laksa dengan suara pelan.
Salah seorang yang berdiri di dekat Ki Laksa berjalan mendekat dan berkata.
"Kalau tidak salah, beberapa hari yang lalu ada laporan bahwa empat orang murid utama Kiai Sentani pergi keluar dari Dukuh Brajan, Ki."
Ki Laksa memandang ke arah orang itu. Salah seorang sesepuh dukuh yang telah lama ia kenal.
"Kapan laporan itu kau terima, Ki Jarak?"
Ki Jarak tampak termenung berusaha mengingat.
"Kalau saya tidak salah ingat, sekitar lima hari yang lalu. Salah seorang pemuda yang sedang bertugas menjaga batas dukuh melihat Yuda dan tiga temannya pergi menggunakan kuda."
"Yuda?"
"Benar, Ki Laksa"
Ki Laksa tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengenal siapa Yuda. Murid paling utama dari padepokan Kiai Sentani itu adalah murid pertama dan yang paling sering terlibat dalam kegiatan membangun Dukuh Brajan. Banyak penduduk yang mengenal pemuda tersebut. Bahkan bisa dikatakan tak ada seorangpun yang tak mengenal wajah pemuda bernama Yuda.
"Apa ia mengatakan tujuan kepergiannya atau ke mana mereka akan pergi?"
"Yuda hanya mengatakan bahwa kepergiannya adalah perintah gurunya. Itu saja, Ki."
Ki Laksa menganggu-anggukan kepalanya. Ia lalu memandang ke arah pemuda yang masih berdiri di depannya.
"Segera kau atur pemakaman yang layak bagi mereka semua. Aku harap secepatnya kita bisa memakamkan mereka secara layak. Aku sendiri nanti yang akan memimpin upacara pemakaman nya. Temui aku di pendopo apabila semuanya sudah siap."
"Baik, Ki"
Pemuda itu menunduk hormat dan berlari kembali ke halaman padepokan. Menuju ke padepokan yang masih sedikit mengeluarkan asap tipis.
"Kita kembali."
"Baik, Ki Laksa."
Ki Laksa segera memutar kudanya di ikuti oleh beberapa sesepuh dukuh yang sedari tadi selalu
menemaninya. Sepanjang perjalanan, Ki Laksa tak banyak berbicara. Semua orang yang bergerak mengiringi kepala dukuh mereka juga tak ada yang bersuara. Seolah paham kalau perkataan mereka akan menambah beban pikiran kepala dukuh itu.
Ki Laksa tiba-tiba menghentikan laju kudanya. Ia melihat beberapa orang menunggang kuda bergerak ke arahnya dari arah depan.
"Mereka telah kembali ..." Ki Laksa berkata sembari menghembuskan nafas.
Beberapa orang tua yang berada di samping Ki Laksa tampak saling berpandangan. Perasaan iba tampak jelas dari raut wajah mereka. Mereka tahu bahwa rombongan berkuda di hadapan mereka yang bergerak semakin mendekat itu adalah empat murid utama padepokan Kiai Sentani.
"Salam, Ki Laksa."
Yuda menundukan kepalanya memberi hormat diikuti oleh tiga orang temannya.
"Apa kabar, Yuda?" Ki Laksa bertanya sembari tersenyum.
"Berkat doa dari semua orang dan lindungan dari Sang Pencipta, kami berempat dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun, Ki."
Ki Laksa tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu berkata.
"Apa kau hendak langsung kembali ke padepokan, Ngger?"
Beberapa orang tua tampak menundukan kepala mereka. Memberitahukan kabar yang kurang baik adalah pekerjaan yang berat. Dan tanggung jawab itu sekarang ada di pundak kepala dukuh di depan mereka.
"Iya, Ki Laksa. Berhubung tugas yang kami emban bisa kami selesaikan tanpa menemui kendala, kami ingin segera bertemu dengan guru."
Ki Laksa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maaf kalau saya bertindak tidak sopan. Tapi apa ada masalah selama kami tidak berada di dukuh, Ki?"
Perasaan Yuda yang tajam melihat ada yang mengganjal di dalam hati Ki Laksa. Terlebih ia secara tidak sengaja melihat beberapa sesepuh dukuh yang menunduk dan menghela nafas berat.
"Mungkin akan jauh lebih baik jika kabar ini kau dengar langsung dari mulutku."
Yuda merasa perasaannya bertambah gelisah. Sedari ia masuk ke daerah pedukuhan, ia melihat banyak mata penduduk yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang lain dari biasanya.
"Kabar apakah itu, Ki?"
ki Laksa tampak menghembuskan nafas berat. Seolah ingin mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Ia lalu menatap satu persatu para pemuda yang ada di hadapannya.
"Kiai Sentani diculik oleh beberapa orang pagi tadi."
Suara-suara terkejut terdengar dari mulut murid-murid utama padepokan Kiai Sentani.
"Apakah benar apa yang kau katakan itu, Ki?"
Salah seorang pemuda yang berada paling dekat dengan Yuda berkata setengah berteriak. Wajahnya tampak menegang. Suasana di tempat itu pun seketika berubah. Tiba--tiba, seorang pemuda yang berada paling belakang berteriak.
"Kakang ...! Ada asap tipis dari arah padepokan!!"
Yuda terperanjat kaget saat melihat asap putih tipis dari arah padepokan mereka. Tanpa berbicara, ia segera menggebrak kudanya melesat kearah padepokan diikuti oleh tiga pemuda yang lain.
Ki Laksa tampak menunduk. Namun raut wajahnya seketika berubah.
Di hadapannya berdiri seorang wanita muda berpakaian merah. Wajah wanita itu begitu cantik dengan rambut hitamnya yang panjang. Beberapa suara kaget juga terdengar dari sesepuh dukuh di belakang Ki Laksa.
"Apakah benar pemilik padepokan itu telah di culik?"
Ki Laksa diam tak menjawab. Ia tak mengenal siapa wanita muda yang berdiri dihadapannya itu. Sikap diam Ki Laksa lalu di sadari oleh wanita tersebut.
"Maafkan kelancangan diri ku jika aku belum memperkenalkan diri. Namaku Sri Wulan. Aku berasal dari Lembayung. Dan kedatangan ku ke dukuh ini ingin bertemu dengan Kiai Sentani, pendiri padepokan itu."
Ki Laksa mendengarkan penjelasan wanita di hadapannya dengan seksama. Nama Lembayung yang wanita itu sebutkan menarik perhatiannya.
"Ada maksud apa dirimu hendak bertemu dengan Kiai Sentani?"
Sri Wulan tampak diam. Enggan hatinya untuk mengutarakan tujuan mengapa dirinya datang jauh-jauh ke Dukuh Brajan. Dengan suara pelan ia lalu menjawab.
"Aku hanya ingin memastikan apakah benar Kiai Sentani adalah kakek ku."
Ki Laksa tak mampu menutupi perasaan terkejutnya.
Wajah Ki Laksa tampak menegang. Sedari tadi pandangan nya tidak lepas dari bangunan yang ada di depannya. Bangunan yang baru saja beberapa hari yang lalu ia kunjungi kini sudah hampir rata dengan tanah. Bangunan yang dulu pernah menjadi tempat perlindungannya kala terluka parah akibat suatu pertempuran. Juga jadi tempat persembunyiannya sementara dari kejaran musuh-musuhnya kala ia masih menjabat sebagai perwira di Kademangan Pringgading. Kini bangunan bersejarah bagi dirinya itu tinggal kenangan. Tak lagi di lihatnya kesibukan para murid berlatih olah kanuragan di halaman. Tak lagi ada suara-suara penuh semangat. Semua berganti dengan suara-suara riuh penduduk yang berusaha memadamkan sisa-sisa api atau berusaha mencari mereka yang mungkin masih selamat.
Di sisi lain halaman padepokan terhampar pemandangan yang berbeda. Beberapa wanita terlihat menangis di depan tubuh-tubuh yang sudah tak berbentuk. Ada yang menangis sesegukan sembari memeluk suaminya yang berdiri tertunduk, ada yang duduk menangis histeris tak bisa menerima kenyataan kepergian putra mereka yang menjadi murid padepokan tersebut. Tak sedikit juga terlihat gadis-gadis yang menangis di depan tubuh kekasihnya. Tubuh yang dahulu tegap dan kekar karena ditempa oleh latihan setiap harinya itu, kini tinggal onggokan jasad menghitam yang mengerikan. Tak ada yang menyangka bahwa akhir hidup murid-murid padepokan Kiai Sentani akan sedemikian menyedihkan. Mati mengenaskan terbakar bersama padepokan mereka.
Ki Laksa menghembuskan napasnya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Hilangnya Kiai Sentani dari padepokan adalah salah satunya. Orang tua yang sudah ia anggap sebagai saudara nya sendiri itu hilang bagai di telan bumi. Ketiadaan akan kehadiran Kiai Sentani di padepokan memang bukan hal baru. Kiai Sentani adalah orang tua yang juga terkenal gemar pergi dari padepokan untuk menyepi. Namun kini jauh berbeda. Beberapa saksi mata melihat beberapa orang berkuda tak dikenal membawa tubuh orang tua itu pergi meninggalkan padepokan pagi itu.
Seorang pemuda tampak berlari mendekat ke arah Ki Laksa. Wajahnya kotor penuh dengan debu dan keringat. Rambutnya yang hitam sebahu tampak memutih oleh abu sisa-sisa pembakaran. Pakaiannya sudah tak lagi jelas warna aslinya karena basah oleh keringat dan noda-noda hitam akibat bersentuhan dengan arang.
"Ada apa?"
Pemuda tersebut menunduk hormat sebelum ia mulai berkata.
"Semua korban sudah kami temukan, Ki Laksa. Ada enambelas murid yang menjadi korban."
"Enambelas?"
"Betul, Ki."
Dahi Ki Laksa tampak berkerut.
"Bukankah jumlah murid padepokan ini ada duapuluh orang?" Bertanya Ki Laksa dengan suara pelan.
Salah seorang yang berdiri di dekat Ki Laksa berjalan mendekat dan berkata.
"Kalau tidak salah, beberapa hari yang lalu ada laporan bahwa empat orang murid utama Kiai Sentani pergi keluar dari Dukuh Brajan, Ki."
Ki Laksa memandang ke arah orang itu. Salah seorang sesepuh dukuh yang telah lama ia kenal.
"Kapan laporan itu kau terima, Ki Jarak?"
Ki Jarak tampak termenung berusaha mengingat.
"Kalau saya tidak salah ingat, sekitar lima hari yang lalu. Salah seorang pemuda yang sedang bertugas menjaga batas dukuh melihat Yuda dan tiga temannya pergi menggunakan kuda."
"Yuda?"
"Benar, Ki Laksa"
Ki Laksa tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengenal siapa Yuda. Murid paling utama dari padepokan Kiai Sentani itu adalah murid pertama dan yang paling sering terlibat dalam kegiatan membangun Dukuh Brajan. Banyak penduduk yang mengenal pemuda tersebut. Bahkan bisa dikatakan tak ada seorangpun yang tak mengenal wajah pemuda bernama Yuda.
"Apa ia mengatakan tujuan kepergiannya atau ke mana mereka akan pergi?"
"Yuda hanya mengatakan bahwa kepergiannya adalah perintah gurunya. Itu saja, Ki."
Ki Laksa menganggu-anggukan kepalanya. Ia lalu memandang ke arah pemuda yang masih berdiri di depannya.
"Segera kau atur pemakaman yang layak bagi mereka semua. Aku harap secepatnya kita bisa memakamkan mereka secara layak. Aku sendiri nanti yang akan memimpin upacara pemakaman nya. Temui aku di pendopo apabila semuanya sudah siap."
"Baik, Ki"
Pemuda itu menunduk hormat dan berlari kembali ke halaman padepokan. Menuju ke padepokan yang masih sedikit mengeluarkan asap tipis.
"Kita kembali."
"Baik, Ki Laksa."
Ki Laksa segera memutar kudanya di ikuti oleh beberapa sesepuh dukuh yang sedari tadi selalu
menemaninya. Sepanjang perjalanan, Ki Laksa tak banyak berbicara. Semua orang yang bergerak mengiringi kepala dukuh mereka juga tak ada yang bersuara. Seolah paham kalau perkataan mereka akan menambah beban pikiran kepala dukuh itu.
Ki Laksa tiba-tiba menghentikan laju kudanya. Ia melihat beberapa orang menunggang kuda bergerak ke arahnya dari arah depan.
"Mereka telah kembali ..." Ki Laksa berkata sembari menghembuskan nafas.
Beberapa orang tua yang berada di samping Ki Laksa tampak saling berpandangan. Perasaan iba tampak jelas dari raut wajah mereka. Mereka tahu bahwa rombongan berkuda di hadapan mereka yang bergerak semakin mendekat itu adalah empat murid utama padepokan Kiai Sentani.
"Salam, Ki Laksa."
Yuda menundukan kepalanya memberi hormat diikuti oleh tiga orang temannya.
"Apa kabar, Yuda?" Ki Laksa bertanya sembari tersenyum.
"Berkat doa dari semua orang dan lindungan dari Sang Pencipta, kami berempat dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun, Ki."
Ki Laksa tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu berkata.
"Apa kau hendak langsung kembali ke padepokan, Ngger?"
Beberapa orang tua tampak menundukan kepala mereka. Memberitahukan kabar yang kurang baik adalah pekerjaan yang berat. Dan tanggung jawab itu sekarang ada di pundak kepala dukuh di depan mereka.
"Iya, Ki Laksa. Berhubung tugas yang kami emban bisa kami selesaikan tanpa menemui kendala, kami ingin segera bertemu dengan guru."
Ki Laksa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maaf kalau saya bertindak tidak sopan. Tapi apa ada masalah selama kami tidak berada di dukuh, Ki?"
Perasaan Yuda yang tajam melihat ada yang mengganjal di dalam hati Ki Laksa. Terlebih ia secara tidak sengaja melihat beberapa sesepuh dukuh yang menunduk dan menghela nafas berat.
"Mungkin akan jauh lebih baik jika kabar ini kau dengar langsung dari mulutku."
Yuda merasa perasaannya bertambah gelisah. Sedari ia masuk ke daerah pedukuhan, ia melihat banyak mata penduduk yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang lain dari biasanya.
"Kabar apakah itu, Ki?"
ki Laksa tampak menghembuskan nafas berat. Seolah ingin mengeluarkan segala sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Ia lalu menatap satu persatu para pemuda yang ada di hadapannya.
"Kiai Sentani diculik oleh beberapa orang pagi tadi."
Suara-suara terkejut terdengar dari mulut murid-murid utama padepokan Kiai Sentani.
"Apakah benar apa yang kau katakan itu, Ki?"
Salah seorang pemuda yang berada paling dekat dengan Yuda berkata setengah berteriak. Wajahnya tampak menegang. Suasana di tempat itu pun seketika berubah. Tiba--tiba, seorang pemuda yang berada paling belakang berteriak.
"Kakang ...! Ada asap tipis dari arah padepokan!!"
Yuda terperanjat kaget saat melihat asap putih tipis dari arah padepokan mereka. Tanpa berbicara, ia segera menggebrak kudanya melesat kearah padepokan diikuti oleh tiga pemuda yang lain.
Ki Laksa tampak menunduk. Namun raut wajahnya seketika berubah.
Di hadapannya berdiri seorang wanita muda berpakaian merah. Wajah wanita itu begitu cantik dengan rambut hitamnya yang panjang. Beberapa suara kaget juga terdengar dari sesepuh dukuh di belakang Ki Laksa.
"Apakah benar pemilik padepokan itu telah di culik?"
Ki Laksa diam tak menjawab. Ia tak mengenal siapa wanita muda yang berdiri dihadapannya itu. Sikap diam Ki Laksa lalu di sadari oleh wanita tersebut.
"Maafkan kelancangan diri ku jika aku belum memperkenalkan diri. Namaku Sri Wulan. Aku berasal dari Lembayung. Dan kedatangan ku ke dukuh ini ingin bertemu dengan Kiai Sentani, pendiri padepokan itu."
Ki Laksa mendengarkan penjelasan wanita di hadapannya dengan seksama. Nama Lembayung yang wanita itu sebutkan menarik perhatiannya.
"Ada maksud apa dirimu hendak bertemu dengan Kiai Sentani?"
Sri Wulan tampak diam. Enggan hatinya untuk mengutarakan tujuan mengapa dirinya datang jauh-jauh ke Dukuh Brajan. Dengan suara pelan ia lalu menjawab.
"Aku hanya ingin memastikan apakah benar Kiai Sentani adalah kakek ku."
Ki Laksa tak mampu menutupi perasaan terkejutnya.
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup