- Beranda
- Stories from the Heart
Misteri Suara Tanpa Wujud
...
TS
evywahyuni
Misteri Suara Tanpa Wujud
Kisah Misteri Bagian Pertama
Happy reading

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga.
Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil.
Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam.
Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu.
Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudnya. Membawa mangkuk ke wastafel dapur, mencucinya dengan beberapa perabot yang tadi kupakai memasak.
Suara keran air mengisi keheningan dapur, air mengucur pelan membasuh semua perabotan yang terlebih dulu sudah kusabuni. Lalu meletakkannya di dalam keranjang tempat menitiskan sisa-sisa air bilasan.
Aku tak menyadari seiring dengan bunyi air keran ternyata ada suara lain yang ikut memecah hening. Bulu kudukku tiba-tiba merinding, tetapi kupikir itu hanya desir angin yang masuk di celah-celah ventilasi.
Setelah menyelesaikan aktifitas mencuci piring dan teman-temannya. Aku segera mematikan keran dan ke luar dari ruang dapur. Mumpung sendiri, tak lupa kuraih toples cemilan di atas meja dapur. Berisi kerupuk bawang kiriman saudara-kakak laki-lakiku dari pulau seberang.
Melangkah menuju ruang tengah, tetiba aku mendengar suara dengkuran! Aku menoleh ke belakang, ishh ... suara siapa itu? Bukankah aku cuma sendiri di rumah? Tak habis pikir, kembali kulangkahkan kaki.
Suara itu terdengar lagi, mungkin gesekan sendal jepitku di lantai yang mengeluarkan bunyi itu. Toh tadi waktu menoleh ke belakang tak ada apapun yang mencurigakan. Jendela dan pintu telah kututup rapat, malah sudah kukunci dobel. Biar lebih aman!
Aku tak menghiraukan bunyi-bunyi itu lagi, masa bodoh! Masa aku harus takut? Ini kan rumahku? Lagi pula itu cuma suara gesekan sendal bertemu lantai, kenapa pula harus membuatku takut? Iya gak?
Kulirik jam di dinding, di sana tertera pukul 20.30 WITA, ah masih terlalu dini buat masuk kamar. Mending cari hiburan dulu, kuraih remote TV menyalakan benda pipih berukuran besar itu. Mencari channel sinetron favorit, ah kebetulan lagi iklan.
Sengaja volume TV kubesarin, biar hilang rasa takut yang mengundang itu. Namun, ada yang aneh kurasa. Suara dengkuran itu masih saja bisa kudengar, meski volume TV sudah kubesarin.
Wah, ini tak bisa kudiamkan begitu saja. Kukecilin suara TV, bahkan hampir tak terdengar. Menajamkan indra pendengaran, mencoba mendengar dan melacak sumber suara mirip dengkuran itu. Sekaligus mencoba meredam rasa takut, semoga bukan hal-hal mistis, harapku.
Nah! Suara itu kembali terdengar. Kutelisik penjuru rumah, nihil! Tak ada siapa pun. Gemas rasa hati ini, tak sadar akhirnya kukeluarkan suara.
"Siapa itu!"
Tak ada jawaban, hening seperti biasa. Hanya suaraku yang memantul di dinding rumah, apakah aku berhalusinasi? Entah. Suara itu terdengar jelas, tetapi tak berwujud. Sayangnya, aku tak punya indra keenam yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu.
Kunyalakan saklar lampu utama, ruangan seketika terang benderang. Cuma ada aku mematung di dekat tombol saklar lampu, di depan, di belakang, di samping, tak ada siapa-siapa kecuali aku sendiri!
Daripada terpenjara oleh ketakutan sendiri akhirnya TV kumatikan saja sekalian agar dapat kucermati suara itu berasal dari mana. Kututup rapat toples camilanku yang terbiar di atas meja. Kuputuskan masuk ke kamar saja, setelah terlebih dahulu mematikan lampu saklar utama. Setidaknya di dalam kamar, ada rasa aman yang terasa.
Aku lalu merapal ayat kursi. Subehanallah. Suara mirip dengkuran itu tak lagi terdengar, entah itu tadi hanya sebuah ilusi atau hanya sebuah suara di alam bawah sadarku atau apa, aku tak mau tahu lagi. Setidaknya, dengan berbekal keyakinan hanya kepada Allah semata itulah yang membuatku yakin dan berani.
Di dalam kamar, kuraih ponsel di atas nakas. Kucari nama ayahku dan langsung menghubunginya. Bukan hendak melaporkan keganjilan yang kurasakan, tetapi ingin mengetahui kabar mereka di sana. Panggilan itu pun tersambung.
Setelah berbalas salam, aku pun ke pokok tanya. " Ayah, gimana keadaan kak Aty? Kalian di sana, baik-baik saja, 'kan?"
"Iya, alhamdulillah. Kami semua di sini baik-baik saja, kamu di rumah gimana? Tidak takut sendiri, 'kan?"
"Tidak kok, Yah. Ini sudah di kamar, mau tidur. Salam buat semuanya ya, Yah?"
Kuakhiri percakapan via ponsel itu dengan salam. Tak lupa tadi ayah mengingatkan untuk membaca doa agar tidur tidak terganggu.
Alhamdulillah, hingga pagi menjelang, tak ada suara-suara yang kudengar menganggu itu lagi. Sebelum tidur kubaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan surah An-Naas sebanyak tiga kali. Lalu, setelahnya membaca ayat kursi, dengan mengulang tiga kali pada bacaan akhirnya. Kemudian, tak lupa membaca doa tidur dan menyapu seluruh badan.
Tak lupa pada malam selanjutnya, setelah sholat Isya, kulantunkan ayat-ayat Al-qur'an, selembar demi selembar. Menambah sugesti keberanianku akan sesuatu yang berbau mistis.
Itulah yang membuatku berani tinggal di rumah, meski sendiri. Berani tidur sendiri, tanpa takut dengan apapun, karena aku hanya berserah diri pada Sang Ilahi, pencipta semesta alam.
Tamat.***
Kisah ini masih ada di benakku, meski telah lama berumah tangga. Suara mirip dengkuran itu masih menjadi misteri hingga saat ini. Tak ingin bertanya pada ayah dan ibu, hanya kusimpan sendiri, dan kini kubagikan pada kalian pembaca setiaku.
Semoga ada sesuatu yang bisa kalian simpulkan dari kisahku ini. Jika kalian penyuka kisah-kisah horor, jangan lupa beri like 'cendol'
, subscribe thread ini
, dan jangan lupa beri bintang
Tunggu kisah-kisah misteri selanjutnya, karena dalam file-ku masih tersimpan beberapa kisah misteri yang nyata kuhadapi sendiri dan akan kubagikan pada kalian dengan suka cita. Itupun jika ada yang menyukainya, sih. Hehehe ....
Wassalam.
Quote:
Happy reading


Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga.
Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil.
Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam.
Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu.
Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudnya. Membawa mangkuk ke wastafel dapur, mencucinya dengan beberapa perabot yang tadi kupakai memasak.
Suara keran air mengisi keheningan dapur, air mengucur pelan membasuh semua perabotan yang terlebih dulu sudah kusabuni. Lalu meletakkannya di dalam keranjang tempat menitiskan sisa-sisa air bilasan.
Aku tak menyadari seiring dengan bunyi air keran ternyata ada suara lain yang ikut memecah hening. Bulu kudukku tiba-tiba merinding, tetapi kupikir itu hanya desir angin yang masuk di celah-celah ventilasi.
Setelah menyelesaikan aktifitas mencuci piring dan teman-temannya. Aku segera mematikan keran dan ke luar dari ruang dapur. Mumpung sendiri, tak lupa kuraih toples cemilan di atas meja dapur. Berisi kerupuk bawang kiriman saudara-kakak laki-lakiku dari pulau seberang.
Melangkah menuju ruang tengah, tetiba aku mendengar suara dengkuran! Aku menoleh ke belakang, ishh ... suara siapa itu? Bukankah aku cuma sendiri di rumah? Tak habis pikir, kembali kulangkahkan kaki.
Suara itu terdengar lagi, mungkin gesekan sendal jepitku di lantai yang mengeluarkan bunyi itu. Toh tadi waktu menoleh ke belakang tak ada apapun yang mencurigakan. Jendela dan pintu telah kututup rapat, malah sudah kukunci dobel. Biar lebih aman!
Aku tak menghiraukan bunyi-bunyi itu lagi, masa bodoh! Masa aku harus takut? Ini kan rumahku? Lagi pula itu cuma suara gesekan sendal bertemu lantai, kenapa pula harus membuatku takut? Iya gak?
Kulirik jam di dinding, di sana tertera pukul 20.30 WITA, ah masih terlalu dini buat masuk kamar. Mending cari hiburan dulu, kuraih remote TV menyalakan benda pipih berukuran besar itu. Mencari channel sinetron favorit, ah kebetulan lagi iklan.
Sengaja volume TV kubesarin, biar hilang rasa takut yang mengundang itu. Namun, ada yang aneh kurasa. Suara dengkuran itu masih saja bisa kudengar, meski volume TV sudah kubesarin.
Wah, ini tak bisa kudiamkan begitu saja. Kukecilin suara TV, bahkan hampir tak terdengar. Menajamkan indra pendengaran, mencoba mendengar dan melacak sumber suara mirip dengkuran itu. Sekaligus mencoba meredam rasa takut, semoga bukan hal-hal mistis, harapku.
Nah! Suara itu kembali terdengar. Kutelisik penjuru rumah, nihil! Tak ada siapa pun. Gemas rasa hati ini, tak sadar akhirnya kukeluarkan suara.
"Siapa itu!"
Tak ada jawaban, hening seperti biasa. Hanya suaraku yang memantul di dinding rumah, apakah aku berhalusinasi? Entah. Suara itu terdengar jelas, tetapi tak berwujud. Sayangnya, aku tak punya indra keenam yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu.
Kunyalakan saklar lampu utama, ruangan seketika terang benderang. Cuma ada aku mematung di dekat tombol saklar lampu, di depan, di belakang, di samping, tak ada siapa-siapa kecuali aku sendiri!
Daripada terpenjara oleh ketakutan sendiri akhirnya TV kumatikan saja sekalian agar dapat kucermati suara itu berasal dari mana. Kututup rapat toples camilanku yang terbiar di atas meja. Kuputuskan masuk ke kamar saja, setelah terlebih dahulu mematikan lampu saklar utama. Setidaknya di dalam kamar, ada rasa aman yang terasa.
Aku lalu merapal ayat kursi. Subehanallah. Suara mirip dengkuran itu tak lagi terdengar, entah itu tadi hanya sebuah ilusi atau hanya sebuah suara di alam bawah sadarku atau apa, aku tak mau tahu lagi. Setidaknya, dengan berbekal keyakinan hanya kepada Allah semata itulah yang membuatku yakin dan berani.
Di dalam kamar, kuraih ponsel di atas nakas. Kucari nama ayahku dan langsung menghubunginya. Bukan hendak melaporkan keganjilan yang kurasakan, tetapi ingin mengetahui kabar mereka di sana. Panggilan itu pun tersambung.
Setelah berbalas salam, aku pun ke pokok tanya. " Ayah, gimana keadaan kak Aty? Kalian di sana, baik-baik saja, 'kan?"
"Iya, alhamdulillah. Kami semua di sini baik-baik saja, kamu di rumah gimana? Tidak takut sendiri, 'kan?"
"Tidak kok, Yah. Ini sudah di kamar, mau tidur. Salam buat semuanya ya, Yah?"
Kuakhiri percakapan via ponsel itu dengan salam. Tak lupa tadi ayah mengingatkan untuk membaca doa agar tidur tidak terganggu.
Alhamdulillah, hingga pagi menjelang, tak ada suara-suara yang kudengar menganggu itu lagi. Sebelum tidur kubaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan surah An-Naas sebanyak tiga kali. Lalu, setelahnya membaca ayat kursi, dengan mengulang tiga kali pada bacaan akhirnya. Kemudian, tak lupa membaca doa tidur dan menyapu seluruh badan.
Tak lupa pada malam selanjutnya, setelah sholat Isya, kulantunkan ayat-ayat Al-qur'an, selembar demi selembar. Menambah sugesti keberanianku akan sesuatu yang berbau mistis.
Itulah yang membuatku berani tinggal di rumah, meski sendiri. Berani tidur sendiri, tanpa takut dengan apapun, karena aku hanya berserah diri pada Sang Ilahi, pencipta semesta alam.
Tamat.***
Kisah ini masih ada di benakku, meski telah lama berumah tangga. Suara mirip dengkuran itu masih menjadi misteri hingga saat ini. Tak ingin bertanya pada ayah dan ibu, hanya kusimpan sendiri, dan kini kubagikan pada kalian pembaca setiaku.
Semoga ada sesuatu yang bisa kalian simpulkan dari kisahku ini. Jika kalian penyuka kisah-kisah horor, jangan lupa beri like 'cendol'
, subscribe thread ini
, dan jangan lupa beri bintang
Tunggu kisah-kisah misteri selanjutnya, karena dalam file-ku masih tersimpan beberapa kisah misteri yang nyata kuhadapi sendiri dan akan kubagikan pada kalian dengan suka cita. Itupun jika ada yang menyukainya, sih. Hehehe ....
Quote:
Spoiler for Kisah Misteri Selanjutnya:
Wassalam.
Diubah oleh evywahyuni 16-07-2020 15:17
emineminna dan 69 lainnya memberi reputasi
70
31.2K
546
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThreadβ’52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
evywahyuni
#133
Misteri Sekelebat Sosok Tanpa Bayangan
Kisah Misteri Bagian Kedua

π±π±π±***π±π±π±***π±π±π±
Kala itu aku sedang berada di rumah Ifa, sepupuku. Dimintai datang oleh Om Abdul untuk menemani anaknya karena Om Abdul dan Tante Mia akan pergi ke acara kenduri teman kantor Om Abdul.
Rumah Om Abdul tidaklah terlalu besar, hanya berisi 4 kamar dengan 1 kamar sebagai gudang. Ifa, asyik bermain puzzle sementara aku hanya asyik menonton tv sambil makan cemilan yang tersedia di atas meja.
Pintu depan telah kukunci, begitupun pintu belakang. Mengantisipasi agar Ifa tidak terjadi apa-apa jika aku tertidur saat menonton.
Gadis remaja itu masih duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama, dia paling malas mengikuti acara-acara orang tuanya, jadi bila Om Abdul dan Tante Mia keluar rumah maka akulah yang selalu dihubunginya agar datang menemani Ifa di rumah.
Jarak rumahku dengan rumah Om Abdul agak jauhan, sekitar 2 kiloan. Jadi, kalo bermalam setelah sholat subuh aku sudah harus pamitan pulang.
Kembali ke awal lagi ya, saat keasyikan menonton tv tak terasa waktu Mahgrib telah tiba, kuajak Ifa untuk mengambil wudhu biar bisa bareng sholat Maghribnya.
Ifa masuk ke kamar mandi di ruang tengah, aku tanpa perasaan apapun langsung menuju kamar mandi belakang, tetapi β¦ tiba-tiba ada sekelebat sosok melintas di depanku!
***π±π±π±***
Kuikuti ke mana perginya, kalo tak salah sosok itu tadi berlari ke arah dapur! Akhirnya perasaanku menjadi tak tenang! Takut ada apa-apa dengan Ifa.
Kuraih vas bunga dekat lemari, lalu berjalan mengendap-endap menuju dapur. Hati-hati, aku harus waspada.
Sesampainya di dapur, kosong! Tak ada siapa pun di sana! Hei β¦ apa aku sudah salah lihat tadi?
Vas bunga kuletakkan di atas meja makan, mungkin itu tadi hanyalah ilusi belaka. Segera menuju kamar mandi, aku harus segera mengambil wudhu. Waktu Maghrib sangat pendek, aku tak mau sholat di akhir waktu.
Begitu ingin berbelok ke arah kamar mandi, lagi-lagi perasaan menjadi merinding! Seperti ada yang sedang mengawasiku!
Aku berbalik menatap meja makan, tak ada siapa-siapa, tapi kenapa seperti ada seseorang yang sedang menatapku sekarang?
Astaghfirullah al adziim! Ada yang sedang mempermainkanku kayaknya. Tak peduli dengan itu, aku langsung masuk kamar mandi.
Gubraaaak!
βAduuuuh!β
Aku seperti terdorong, terpeleset dan terjatuh, aduuh bokongku sakit sekali!
Ifa berlari mendatangiku, βKenapa Kak? Kok bisa terpeleset begitu? Lantai kamar mandi tidak licin, kok?β ujarnya sambil menolongku.
βEntahlah, Ifa. Begitu mau masuk tadi, Kakak seperti di dorong, akhirnya terpeleset dan jatuh. Makasih, ya?β
Ifa mengangguk dan keluar, dengan menahan rasa sakit segera kuambil wudhu. Mungkin aku terjatuh karena lupa membaca doa masuk kamar mandi tadi.
π±π±π±***πΏπΏπΏ***π±π±π±
Setelah sholat Maghrib berjamaah dengan Ifa, gadis itu langsung membuka buku pelajarannya. Belajar. Sementara aku, kembali ke dapur untuk membuat makanan andalan, merebus mi kaldu, hehehe.
Eiitss! Apa pula itu?
Saat hendak masuk dapur, sekelebat sosok tanpa bayangan itu kembali melintas! Dan kini menuju kamar mandi!
Ya Allah, apa ini?
Aku bergegas ke arah kamar mandi, ingin menangkap basah sosok itu! Kuraih gagang sapu, bersiap hendak menggebuk kiranya sosok tadi itu adalah pencuri!
Pintu kamar mandi memang terbuka tadi, waktu selesai wudhu aku lupa menutupnya kembali. Jadi, bisa saja sosok itu berlari masuk ke sana untuk sembunyi.
Gagang sapu kumajukan ke depanku, bersiap memukul. Namun, apa yang terjadi? Di dalam kamar mandi tak ada siapa-siapa juga!
Celingak celinguk seperti orang kebingungan, akhirnya kuhentikan aksi memburu pencuriku. Kuletakkan sapu di sisi kamar mandi. Lalu menyalakan kompor dan merejang air. Tak lupa dua bungkus mie kaldu kuambil dari dalam lemari. Untuk Ifa juga dong.
Sambil menunggu air mendidih, kusiapkan piring dan mangkuk. Tengkukku merinding, seperti di tiup-tiup dari belakang. Aku segera menoleh! Tak ada siapa-siapa. Ifa masih di kamarnya, jadi siapa yang berbuat usil ini?
Kembali kuacuhkan. Air telah mendidih, aku kembali konsen merebus mi.
Grrrrh β¦ ggrrrh β¦ ggrrrh
Ada suara menggeram! Kumatikan kompor tiba-tiba, sosok itu benar adanya! Kini suaranya jelas terdengar di telingaku! Aku berbalik!
βSiapa di situ!β seruku.
Suara itu berhenti menggeram. Kutelisik setiap sudut di dapur Om Abdul, sayangnya mata biasaku ini tak mampu menangkap penampakan sosok itu.
βAda apa, Kak?β
Aku tersentak tiba-tiba, Ifa menepuk bahuku, rupanya ia Β sudah ada di belakangku.
βAh tidak apa-apa, Ifa. Kakak hanya mendengar suara tadi, mungkin suara tikus di belakang rumah.β
βOh, mie-nya sudah jadi ya, Kak? Ifa udah laper nih.β
βOh iya, udah jadi nih tinggal dimasukin ke dalam mangkuk, ini bumbunya, Ifa.β
Mie yang sudah masak kubagi ke dalam dua mangkuk, Ifa lalu mencampur bumbunya sendiri. Kalau aku sih harus tambah cabe lagi, karena tak lengkap makan mie tanpa cabe,
Kami pun makan dengan lahapnya, aku menemani Ifa yang sedang mencuci piring dan mangkuk yang tadi dipakai makan.
Tak terasa malam itu, Om Abdul dan Tante Mia pulang cepat. Jadi, aku masih bisa pulang ke rumah. Pengalaman malam itu tak bisa kulupa. Aku juga tidak memberitahu kejadian apa yang menimpaku pada Ifa, Om Abdul dan Tante Mia juga kepada orangtuaku.




Homeπ»

π±π±π±***π±π±π±***π±π±π±
Kala itu aku sedang berada di rumah Ifa, sepupuku. Dimintai datang oleh Om Abdul untuk menemani anaknya karena Om Abdul dan Tante Mia akan pergi ke acara kenduri teman kantor Om Abdul.
Rumah Om Abdul tidaklah terlalu besar, hanya berisi 4 kamar dengan 1 kamar sebagai gudang. Ifa, asyik bermain puzzle sementara aku hanya asyik menonton tv sambil makan cemilan yang tersedia di atas meja.
Pintu depan telah kukunci, begitupun pintu belakang. Mengantisipasi agar Ifa tidak terjadi apa-apa jika aku tertidur saat menonton.
Gadis remaja itu masih duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama, dia paling malas mengikuti acara-acara orang tuanya, jadi bila Om Abdul dan Tante Mia keluar rumah maka akulah yang selalu dihubunginya agar datang menemani Ifa di rumah.
Quote:
Jarak rumahku dengan rumah Om Abdul agak jauhan, sekitar 2 kiloan. Jadi, kalo bermalam setelah sholat subuh aku sudah harus pamitan pulang.
Kembali ke awal lagi ya, saat keasyikan menonton tv tak terasa waktu Mahgrib telah tiba, kuajak Ifa untuk mengambil wudhu biar bisa bareng sholat Maghribnya.
Ifa masuk ke kamar mandi di ruang tengah, aku tanpa perasaan apapun langsung menuju kamar mandi belakang, tetapi β¦ tiba-tiba ada sekelebat sosok melintas di depanku!
Quote:
***π±π±π±***
Kuikuti ke mana perginya, kalo tak salah sosok itu tadi berlari ke arah dapur! Akhirnya perasaanku menjadi tak tenang! Takut ada apa-apa dengan Ifa.
Kuraih vas bunga dekat lemari, lalu berjalan mengendap-endap menuju dapur. Hati-hati, aku harus waspada.
Sesampainya di dapur, kosong! Tak ada siapa pun di sana! Hei β¦ apa aku sudah salah lihat tadi?
Vas bunga kuletakkan di atas meja makan, mungkin itu tadi hanyalah ilusi belaka. Segera menuju kamar mandi, aku harus segera mengambil wudhu. Waktu Maghrib sangat pendek, aku tak mau sholat di akhir waktu.
Begitu ingin berbelok ke arah kamar mandi, lagi-lagi perasaan menjadi merinding! Seperti ada yang sedang mengawasiku!
Aku berbalik menatap meja makan, tak ada siapa-siapa, tapi kenapa seperti ada seseorang yang sedang menatapku sekarang?
Astaghfirullah al adziim! Ada yang sedang mempermainkanku kayaknya. Tak peduli dengan itu, aku langsung masuk kamar mandi.
Gubraaaak!
βAduuuuh!β
Aku seperti terdorong, terpeleset dan terjatuh, aduuh bokongku sakit sekali!
Ifa berlari mendatangiku, βKenapa Kak? Kok bisa terpeleset begitu? Lantai kamar mandi tidak licin, kok?β ujarnya sambil menolongku.
βEntahlah, Ifa. Begitu mau masuk tadi, Kakak seperti di dorong, akhirnya terpeleset dan jatuh. Makasih, ya?β
Ifa mengangguk dan keluar, dengan menahan rasa sakit segera kuambil wudhu. Mungkin aku terjatuh karena lupa membaca doa masuk kamar mandi tadi.
π±π±π±***πΏπΏπΏ***π±π±π±
Setelah sholat Maghrib berjamaah dengan Ifa, gadis itu langsung membuka buku pelajarannya. Belajar. Sementara aku, kembali ke dapur untuk membuat makanan andalan, merebus mi kaldu, hehehe.
Eiitss! Apa pula itu?
Saat hendak masuk dapur, sekelebat sosok tanpa bayangan itu kembali melintas! Dan kini menuju kamar mandi!
Ya Allah, apa ini?
Aku bergegas ke arah kamar mandi, ingin menangkap basah sosok itu! Kuraih gagang sapu, bersiap hendak menggebuk kiranya sosok tadi itu adalah pencuri!
Pintu kamar mandi memang terbuka tadi, waktu selesai wudhu aku lupa menutupnya kembali. Jadi, bisa saja sosok itu berlari masuk ke sana untuk sembunyi.
Gagang sapu kumajukan ke depanku, bersiap memukul. Namun, apa yang terjadi? Di dalam kamar mandi tak ada siapa-siapa juga!
Celingak celinguk seperti orang kebingungan, akhirnya kuhentikan aksi memburu pencuriku. Kuletakkan sapu di sisi kamar mandi. Lalu menyalakan kompor dan merejang air. Tak lupa dua bungkus mie kaldu kuambil dari dalam lemari. Untuk Ifa juga dong.
Sambil menunggu air mendidih, kusiapkan piring dan mangkuk. Tengkukku merinding, seperti di tiup-tiup dari belakang. Aku segera menoleh! Tak ada siapa-siapa. Ifa masih di kamarnya, jadi siapa yang berbuat usil ini?
Kembali kuacuhkan. Air telah mendidih, aku kembali konsen merebus mi.
Grrrrh β¦ ggrrrh β¦ ggrrrh
Ada suara menggeram! Kumatikan kompor tiba-tiba, sosok itu benar adanya! Kini suaranya jelas terdengar di telingaku! Aku berbalik!
βSiapa di situ!β seruku.
Suara itu berhenti menggeram. Kutelisik setiap sudut di dapur Om Abdul, sayangnya mata biasaku ini tak mampu menangkap penampakan sosok itu.
βAda apa, Kak?β
Aku tersentak tiba-tiba, Ifa menepuk bahuku, rupanya ia Β sudah ada di belakangku.
βAh tidak apa-apa, Ifa. Kakak hanya mendengar suara tadi, mungkin suara tikus di belakang rumah.β
βOh, mie-nya sudah jadi ya, Kak? Ifa udah laper nih.β
βOh iya, udah jadi nih tinggal dimasukin ke dalam mangkuk, ini bumbunya, Ifa.β
Mie yang sudah masak kubagi ke dalam dua mangkuk, Ifa lalu mencampur bumbunya sendiri. Kalau aku sih harus tambah cabe lagi, karena tak lengkap makan mie tanpa cabe,
Kami pun makan dengan lahapnya, aku menemani Ifa yang sedang mencuci piring dan mangkuk yang tadi dipakai makan.
Tak terasa malam itu, Om Abdul dan Tante Mia pulang cepat. Jadi, aku masih bisa pulang ke rumah. Pengalaman malam itu tak bisa kulupa. Aku juga tidak memberitahu kejadian apa yang menimpaku pada Ifa, Om Abdul dan Tante Mia juga kepada orangtuaku.
Quote:




Spoiler for Pembaca dan Pemberi Komentar :
Homeπ»
Diubah oleh evywahyuni 14-07-2019 18:01
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup




