- Beranda
- Stories from the Heart
Dia, Andini (Romance Story)
...
TS
robbyrhy
Dia, Andini (Romance Story)
Halo Semuanya, Kali ini saya mau memberikan sebuah cerita lagi nih. Tapi kali ini tentang Fiksi Remaja. School Romancegitu. Nah buat kalian yang penasaran bisa langsung di baca Prolognya ya.
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance
~~~💓💓💓💓💓~~~
Prolog

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Quote:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Quote:
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.
Cast :

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Happy Reading!
Diubah oleh robbyrhy 09-04-2019 18:54
bachtiar.78 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.8K
98
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robbyrhy
#59
Part 22
Bel pulang pun berbunyi.
“Eh Var, tadi kok kamu ke toilet lama banget sih?” tanya Via dengan wajah kesal.
“Oh… ya namanya boker, lama lah… kan mesti ngeden-ngeden dulu..” jawab Varo asal. Varo kali ini kembali berbohong padanya, ya mau tidak mau dia harus menyembunyikan masalah ini dari Via. tidak boleh ada yang mengetahui kecuali dirinya, Andini dan tuhan.
Via mengangkat alisnya, wajahnya terlihat memberikan ekspresi jijik saat Varo berbicara soal BAB, “jorok ih Varo, oh iya… kamu mau langsung pulang?” Via kembali bertanya.
Varo pun menenteng tasnya, “Iyalah emang mau kemana lagi…” jawabnya Singkat.
Varo pun berjalan lebih dahulu meninggalkan Via yang masih mau bicara.
“Var…” Via kembali membuka topik pembicaraan, menyusul Varo dan menyeimbangkan jalannya.
Varo menoleh singkat, lalu kembali lagi menatap lurus ke depan, “kenapa?”
“Varo gak mau jalan dulu gitu?? Via lagi mau makan Bakso nih Jalan Amper. mau ikut gak?” ajak Via dengan senyum miring yang di pancarkannya.
kedua bibir Varo terangkat, mencoba berpikir, “Ehmm… gak bisa deh Vi, aku capek banget hari ini…. mau langsung tidur..” jawab Varo memberi penjelasan.
Via berdecak sebal, “kamu mah gitu Var… sekali aja deh, gimana?” Via kembali memaksa.
Varo menghela berat, “gak bisa… aku mau pulang… mau tidur.” Varo tetap dengan pendiriannya.
Via pun angkat tangan dengan urusan ini. Sahabatnya ini memang susah sekali di ajak nongkrong, mau kalian bertekuk lutut pun, dia akan tetap pada Omongannya yang pertama. Tidak ya Tidak.
Via memutar bola matanya, “Yaudah deh…. aku makan sendiri aja, kalo gak aku ajakAndre!” sunggut Via kemudian berjalan mendahului Varo.
Varo pun mengerutkan dahinya, berhenti sejank lalu memutar bola matanya ke atas, “Via gak sakit kan?”
“Dia kenapa?”
“kaya ngasih kode-kode gitu?”
“apa ini strategi cewek?”
“buat bikin cowok cemburu?”
Varo hanya bisa mengobrol dengan dirinya sendiri. Ia pun kembali melupakan ucapan Via lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Seperti biasa Varo selalu menunggu busway. Belum memiliki kendaraan membuatnya sulit untuk berpergian. Apalagi ongkos yang harus ia keluarkan, seakan hanya habis untuk pulang - pergi dari Sekolah ke rumah.
Sekitar 10 menit Varo menunggu Busway, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang juga. Ia segera naik ke dalam Bus lalu duduk di pinggir jendela, ya memang itu sudah menjadi kebiasaannya. Sekitar 8 menitan Bus tersebut melajut, tiba-tiba mata Varo tertuju pada seorang gadis yang srdang berlari. Ia mempertajam pengelihatannya, “Itu kan Andini? mau kemana dia?” Varo menerka dalam hati. Kemudian ia segera memberhentikan bus yang sedang di naikinya, “Stop!” ucap Varo sambil memukul-mukul kecil bagian atas bus tersebut. Tak lama bus tersebut berhenti, mengikuti printah yang Varo ucapkan, setelah itu ia pun turun untuk mencari Andini yang baru saja di lihatnya.
“Aku yakin tadi itu Andini”
Varo segera berlari sambil memperhantikan kawasan sekitar, mencari kemana Andini pergi.
Matanya tersorot kepada plang Jalan.
“Jalan Amper”
Plang tersebut bertuliskan nama jalan yang sedang ia pijak.
“Jalan amper? ini kan mau ke arah rumah Daniel? Ah, pasti Andini ke sana… iya aku yakin.” terka Varo penuh keyakinan.
Setelah itu ia pun kembali berlari menuju ke arah Rumah Daniel.
***
Sementara itu Andini telah sampai di Rumah Daniel, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Tulisan besar terpapang jelas di gerbang rumah tersebut.
“Rumah ini di sewakan” Begitulah tulisan yang tertempel di gerbang Rumah Daniel.
Andini menutup mulutnya, ia begitu Shock. Melihat tulisan tersebut. Badannya pun seketika lemas. Kakinya tak mampu lagi untuk berdiri. Ia masih menahan Air matanya, berusaha tegar dan berharap ini cuma mimpi.
“Kenapa neng?”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
Andini masih mematung meratapi tulisan tersebut yang seakan menghipnotis matanya.
“Neng”
Suara tersebut terdengar kembali, kali ini Andini mencoba menoleh ke asal sumber suara.
Deg!
Ia terkaget, saat melihat seorang wanita tua berdiri di sampingnya.
“Kenapa neng?” wanita tua tersebut kembali bertanya.
Andini yang masih dengan keterkejutannya berusaha tegar. melapas kedua tangannya yang masih menutup erat mulut serta hidungnya itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya membernanikan diri untuk bicara.
“A...aku mau tanya, orang yang ada di rumah ini kemana ya?” tanya Andini sedikit gugup, sambil terus menahan air matanya agar tidak tumpah.
Wanita tua itu langsung mengacungkan tangannya, seraya menatap lurus ke arah Andini, seolah mengetahui keberadaan mereka.
“Oooo… si Rahman sama anaknya?” tanya Wanita tersebut memastikan.
Andini sedikit lega, “Iya… apa ibu tahu mereka kemana?” semangat Andini dengan mata penuh harap.
“Kalo mereka mah udah pindah nak….” jawab Wanita tua tersebut.
Saat mendengar jawaban itu, harapan Andini tiba-tiba pupus, jantungnya seakan berhenti berdetak, “Pindah kemana?” herannya penuh keterkejutan.
Wanita itu hanya menggeleng, “Yang saya denger-denger sih, kalo pak Hermannya itu merantau ke Luar Negri, karena usaha barunya hancur.”
Andini mentap serius wanita itu, “terus?” tanyanya lagi semakin penasaran.
“Hanya itu saja yang ibu tahu… memangnya ada urusan apa adik ke sini?” Wanita ibu berbalik tanya.
Andini menghela nafasnya, “Enggak ada apa-apa kok buk, makasih ya informasinya.” jawab Andini berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Oh gitu… yaudah ya nak, ibu duluan ya…” ujar Wanita itu lagi sambil menepuk pelan pundak Andini dan pergi meninggalkannya.
Andini pun membalikan badannya, menghela nafas panjang lalu berjalan pulang dengan hasil sia-sia.
Sementar itu akhirnya Alvaro melihat Andini dari kejauhan di sudut jalan. Ia belum berani mendekat, nafas Varo masih terasa berat dan tersenggal-senggal akibat berlarian mengejar Andini.
“Huftt…”
Andini masih dalam posisinya, ia berjalan cukup lambat dengan wajah lusuh dan tidak bersemangat.
“Apa aku telepon Daniel saja ya… semoga saja ada jawaban..” pikir Andini berharap.
Andini pun mengambil Handphonenya dan segera menelepon Daniel.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Namun nihil, Handphone Daniel kembali tidak aktif, sekarang Andini berusaha untuk pasrah. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jika memang Daniel dan Juga Ayahnya pindah ke luar negri, itu artinya hubungannya dengan Daniel kali ini benar-benar putus. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat, semuanya telah tertulis jelas di sebuh kertas.
“Aku harap kamu bisa melupakanku”..
Tulisan itu selalu terbayang di benak Andini, kali ini dirinya kembali harus menuangkan air matanya. Ia tak sanggup jika harus melupakan Daniel. Banyak kenangan indah yang sudah mereka ukir. Tidak akan bisa secepat kilat ia bisa lupa dengannya. Ini bukan seseorang yang Amnesia. tapi ini seseorang yang Patah hati. hanya ada satu cara untuk memperbaikinya, membuka hati lagi kepada orang yang berbeda. Tepatnya dengan jatuh cinta.
Andini berjalab menelusuri jalab dengan raut wajah yang terlihat sangatlah sedih, ia tidak bisa menutupi itu. Sampai pada akhirnya
Deg!
Seorang pria tiba-tiba hadir berada tepat di depannya.
Andini yang masih merunduk belum mau menoleh ke arah pria tersebut. Ia hana melihat bentuk sepatunya.
“Kamu menangis lagi?” Pria tersebut bertanya.
Andini yang mendengar suaranya itu langsung tahu seratus persen siapa orangnya, suaranya sudah tidak asing lagi di telinganya. Ia pun sedikit demi sedikit mendongakan kepalanya, sampai pada akhirnya matanya menatap lurus pria yang ada di hadapannya. Tak lain dan tak bukan adalah Alvaro.
“Va...ro?” panggil Andini gugup saat mengetahui dirinya kembali hadir di saat yang tepat.
Sontak saja Andini langsung kembali memeluk Alvaro dengan erat. Ia kembali menangis di pangkuan pundak Alvaro.
“Kamu kenapa lagi Andini?” tanya Alvaro berusaha menenangkan.
“Kenapa Daniel bisa sejahat ini sama aku, kenapa dia harus ninggalin aku… Aku yang masih mampu berjuang kenapa dia yang harus menyerah…” isak Andini tanpa henti.
Varo pun membelai lembut rambut Andini, “Ada cara lain yang akan Tuhan berikan kepada kamu… janganlah kamu meratapi nasib seperti ini Andini. Ingat, jika Daniel jodohmu pasti kamu akan bersama dengannya.” Varo mencoba menenangkan.
Andini masih menangis, ia terus mencengkram tubuh Alvaro sangat kuat, berusaha menahan sakit di hatinya yang semakin menusuk-nusuk.
“Varo? Andini?” Via terkejut tat kala melihat dua insan itu saling berpelukan. Via yang masih berada di ujung jalan hanya bisa manatap mereka dari kejauhan. tanpa ada niatan untuk berjalan menghampirinya.
“Katanya lo pulang? tapi kenapa lo ada di sini Var?” Via berbicara pada dirinya sendiri. Mencoba mengingat kata-kata Varo, “Lo udah bohong sama gue!” Via pun tak dapat lagi membendung air matanya. Setetes air mata pun akhirnya jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit di rasakan di sekujur tubuhnya dan yang paling sakit adalah hati. Badannya seakan sulit untuk di gerakan. Semua anggota tubuhnya terasa lemas tak mampu lagi untuk berjalan.
Ia pun akhirnya membalikan badannya enggan untuk melihat penampakan yang menyakitkan itu. serta mengurungkan niatnya untuk membeli bakso kesukaannya. Rasa sakit ini telah menghancurkan nafsu makannya, moodnya dan juga semuanya. Via tak mau melihat Varo dan Andini berlama-lama. Dengan sekuat tenaga ia pun berlari menuju ke halte lagi. Dengan air mata yang terus menerus jatuh tanpa henti. Via berusaha menahan suara tangisannya dengan menutup mulutnya, ia masih tidak menyangka dengan Varo yang bisa-bisanya berbohong. Via tidak keberatan jika Varo harus bilang akan jalan dengan Andini, kenapa mesti berbohong? Itulah pertanyaan yang ada di benak Via sekarang. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan ini. Via pun dengan tekadnya akan mengungkapkan perasaannya kepada Varo nanti. Saat waktu yang tepat. Agar dia bisa mengetahui perasaan Varo sebenarnya. Apakah dia memiliki perasaan yang sama seperti Via atau tidak?
“Eh Var, tadi kok kamu ke toilet lama banget sih?” tanya Via dengan wajah kesal.
“Oh… ya namanya boker, lama lah… kan mesti ngeden-ngeden dulu..” jawab Varo asal. Varo kali ini kembali berbohong padanya, ya mau tidak mau dia harus menyembunyikan masalah ini dari Via. tidak boleh ada yang mengetahui kecuali dirinya, Andini dan tuhan.
Via mengangkat alisnya, wajahnya terlihat memberikan ekspresi jijik saat Varo berbicara soal BAB, “jorok ih Varo, oh iya… kamu mau langsung pulang?” Via kembali bertanya.
Varo pun menenteng tasnya, “Iyalah emang mau kemana lagi…” jawabnya Singkat.
Varo pun berjalan lebih dahulu meninggalkan Via yang masih mau bicara.
“Var…” Via kembali membuka topik pembicaraan, menyusul Varo dan menyeimbangkan jalannya.
Varo menoleh singkat, lalu kembali lagi menatap lurus ke depan, “kenapa?”
“Varo gak mau jalan dulu gitu?? Via lagi mau makan Bakso nih Jalan Amper. mau ikut gak?” ajak Via dengan senyum miring yang di pancarkannya.
kedua bibir Varo terangkat, mencoba berpikir, “Ehmm… gak bisa deh Vi, aku capek banget hari ini…. mau langsung tidur..” jawab Varo memberi penjelasan.
Via berdecak sebal, “kamu mah gitu Var… sekali aja deh, gimana?” Via kembali memaksa.
Varo menghela berat, “gak bisa… aku mau pulang… mau tidur.” Varo tetap dengan pendiriannya.
Via pun angkat tangan dengan urusan ini. Sahabatnya ini memang susah sekali di ajak nongkrong, mau kalian bertekuk lutut pun, dia akan tetap pada Omongannya yang pertama. Tidak ya Tidak.
Via memutar bola matanya, “Yaudah deh…. aku makan sendiri aja, kalo gak aku ajakAndre!” sunggut Via kemudian berjalan mendahului Varo.
Varo pun mengerutkan dahinya, berhenti sejank lalu memutar bola matanya ke atas, “Via gak sakit kan?”
“Dia kenapa?”
“kaya ngasih kode-kode gitu?”
“apa ini strategi cewek?”
“buat bikin cowok cemburu?”
Varo hanya bisa mengobrol dengan dirinya sendiri. Ia pun kembali melupakan ucapan Via lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Seperti biasa Varo selalu menunggu busway. Belum memiliki kendaraan membuatnya sulit untuk berpergian. Apalagi ongkos yang harus ia keluarkan, seakan hanya habis untuk pulang - pergi dari Sekolah ke rumah.
Sekitar 10 menit Varo menunggu Busway, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang juga. Ia segera naik ke dalam Bus lalu duduk di pinggir jendela, ya memang itu sudah menjadi kebiasaannya. Sekitar 8 menitan Bus tersebut melajut, tiba-tiba mata Varo tertuju pada seorang gadis yang srdang berlari. Ia mempertajam pengelihatannya, “Itu kan Andini? mau kemana dia?” Varo menerka dalam hati. Kemudian ia segera memberhentikan bus yang sedang di naikinya, “Stop!” ucap Varo sambil memukul-mukul kecil bagian atas bus tersebut. Tak lama bus tersebut berhenti, mengikuti printah yang Varo ucapkan, setelah itu ia pun turun untuk mencari Andini yang baru saja di lihatnya.
“Aku yakin tadi itu Andini”
Varo segera berlari sambil memperhantikan kawasan sekitar, mencari kemana Andini pergi.
Matanya tersorot kepada plang Jalan.
“Jalan Amper”
Plang tersebut bertuliskan nama jalan yang sedang ia pijak.
“Jalan amper? ini kan mau ke arah rumah Daniel? Ah, pasti Andini ke sana… iya aku yakin.” terka Varo penuh keyakinan.
Setelah itu ia pun kembali berlari menuju ke arah Rumah Daniel.
***
Sementara itu Andini telah sampai di Rumah Daniel, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Tulisan besar terpapang jelas di gerbang rumah tersebut.
“Rumah ini di sewakan” Begitulah tulisan yang tertempel di gerbang Rumah Daniel.
Andini menutup mulutnya, ia begitu Shock. Melihat tulisan tersebut. Badannya pun seketika lemas. Kakinya tak mampu lagi untuk berdiri. Ia masih menahan Air matanya, berusaha tegar dan berharap ini cuma mimpi.
“Kenapa neng?”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
Andini masih mematung meratapi tulisan tersebut yang seakan menghipnotis matanya.
“Neng”
Suara tersebut terdengar kembali, kali ini Andini mencoba menoleh ke asal sumber suara.
Deg!
Ia terkaget, saat melihat seorang wanita tua berdiri di sampingnya.
“Kenapa neng?” wanita tua tersebut kembali bertanya.
Andini yang masih dengan keterkejutannya berusaha tegar. melapas kedua tangannya yang masih menutup erat mulut serta hidungnya itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya membernanikan diri untuk bicara.
“A...aku mau tanya, orang yang ada di rumah ini kemana ya?” tanya Andini sedikit gugup, sambil terus menahan air matanya agar tidak tumpah.
Wanita tua itu langsung mengacungkan tangannya, seraya menatap lurus ke arah Andini, seolah mengetahui keberadaan mereka.
“Oooo… si Rahman sama anaknya?” tanya Wanita tersebut memastikan.
Andini sedikit lega, “Iya… apa ibu tahu mereka kemana?” semangat Andini dengan mata penuh harap.
“Kalo mereka mah udah pindah nak….” jawab Wanita tua tersebut.
Saat mendengar jawaban itu, harapan Andini tiba-tiba pupus, jantungnya seakan berhenti berdetak, “Pindah kemana?” herannya penuh keterkejutan.
Wanita itu hanya menggeleng, “Yang saya denger-denger sih, kalo pak Hermannya itu merantau ke Luar Negri, karena usaha barunya hancur.”
Andini mentap serius wanita itu, “terus?” tanyanya lagi semakin penasaran.
“Hanya itu saja yang ibu tahu… memangnya ada urusan apa adik ke sini?” Wanita ibu berbalik tanya.
Andini menghela nafasnya, “Enggak ada apa-apa kok buk, makasih ya informasinya.” jawab Andini berusaha menyembunyikan masalahnya.
“Oh gitu… yaudah ya nak, ibu duluan ya…” ujar Wanita itu lagi sambil menepuk pelan pundak Andini dan pergi meninggalkannya.
Andini pun membalikan badannya, menghela nafas panjang lalu berjalan pulang dengan hasil sia-sia.
Sementar itu akhirnya Alvaro melihat Andini dari kejauhan di sudut jalan. Ia belum berani mendekat, nafas Varo masih terasa berat dan tersenggal-senggal akibat berlarian mengejar Andini.
“Huftt…”
Andini masih dalam posisinya, ia berjalan cukup lambat dengan wajah lusuh dan tidak bersemangat.
“Apa aku telepon Daniel saja ya… semoga saja ada jawaban..” pikir Andini berharap.
Andini pun mengambil Handphonenya dan segera menelepon Daniel.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Namun nihil, Handphone Daniel kembali tidak aktif, sekarang Andini berusaha untuk pasrah. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jika memang Daniel dan Juga Ayahnya pindah ke luar negri, itu artinya hubungannya dengan Daniel kali ini benar-benar putus. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat, semuanya telah tertulis jelas di sebuh kertas.
“Aku harap kamu bisa melupakanku”..
Tulisan itu selalu terbayang di benak Andini, kali ini dirinya kembali harus menuangkan air matanya. Ia tak sanggup jika harus melupakan Daniel. Banyak kenangan indah yang sudah mereka ukir. Tidak akan bisa secepat kilat ia bisa lupa dengannya. Ini bukan seseorang yang Amnesia. tapi ini seseorang yang Patah hati. hanya ada satu cara untuk memperbaikinya, membuka hati lagi kepada orang yang berbeda. Tepatnya dengan jatuh cinta.
Andini berjalab menelusuri jalab dengan raut wajah yang terlihat sangatlah sedih, ia tidak bisa menutupi itu. Sampai pada akhirnya
Deg!
Seorang pria tiba-tiba hadir berada tepat di depannya.
Andini yang masih merunduk belum mau menoleh ke arah pria tersebut. Ia hana melihat bentuk sepatunya.
“Kamu menangis lagi?” Pria tersebut bertanya.
Andini yang mendengar suaranya itu langsung tahu seratus persen siapa orangnya, suaranya sudah tidak asing lagi di telinganya. Ia pun sedikit demi sedikit mendongakan kepalanya, sampai pada akhirnya matanya menatap lurus pria yang ada di hadapannya. Tak lain dan tak bukan adalah Alvaro.
“Va...ro?” panggil Andini gugup saat mengetahui dirinya kembali hadir di saat yang tepat.
Sontak saja Andini langsung kembali memeluk Alvaro dengan erat. Ia kembali menangis di pangkuan pundak Alvaro.
“Kamu kenapa lagi Andini?” tanya Alvaro berusaha menenangkan.
“Kenapa Daniel bisa sejahat ini sama aku, kenapa dia harus ninggalin aku… Aku yang masih mampu berjuang kenapa dia yang harus menyerah…” isak Andini tanpa henti.
Varo pun membelai lembut rambut Andini, “Ada cara lain yang akan Tuhan berikan kepada kamu… janganlah kamu meratapi nasib seperti ini Andini. Ingat, jika Daniel jodohmu pasti kamu akan bersama dengannya.” Varo mencoba menenangkan.
Andini masih menangis, ia terus mencengkram tubuh Alvaro sangat kuat, berusaha menahan sakit di hatinya yang semakin menusuk-nusuk.
“Varo? Andini?” Via terkejut tat kala melihat dua insan itu saling berpelukan. Via yang masih berada di ujung jalan hanya bisa manatap mereka dari kejauhan. tanpa ada niatan untuk berjalan menghampirinya.
“Katanya lo pulang? tapi kenapa lo ada di sini Var?” Via berbicara pada dirinya sendiri. Mencoba mengingat kata-kata Varo, “Lo udah bohong sama gue!” Via pun tak dapat lagi membendung air matanya. Setetes air mata pun akhirnya jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit di rasakan di sekujur tubuhnya dan yang paling sakit adalah hati. Badannya seakan sulit untuk di gerakan. Semua anggota tubuhnya terasa lemas tak mampu lagi untuk berjalan.
Ia pun akhirnya membalikan badannya enggan untuk melihat penampakan yang menyakitkan itu. serta mengurungkan niatnya untuk membeli bakso kesukaannya. Rasa sakit ini telah menghancurkan nafsu makannya, moodnya dan juga semuanya. Via tak mau melihat Varo dan Andini berlama-lama. Dengan sekuat tenaga ia pun berlari menuju ke halte lagi. Dengan air mata yang terus menerus jatuh tanpa henti. Via berusaha menahan suara tangisannya dengan menutup mulutnya, ia masih tidak menyangka dengan Varo yang bisa-bisanya berbohong. Via tidak keberatan jika Varo harus bilang akan jalan dengan Andini, kenapa mesti berbohong? Itulah pertanyaan yang ada di benak Via sekarang. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan ini. Via pun dengan tekadnya akan mengungkapkan perasaannya kepada Varo nanti. Saat waktu yang tepat. Agar dia bisa mengetahui perasaan Varo sebenarnya. Apakah dia memiliki perasaan yang sama seperti Via atau tidak?
To Be Continued
hariss1989 dan 2 lainnya memberi reputasi
3