- Beranda
- Stories from the Heart
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
...
TS
omboth
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
KARENA AKU TULUS MENCINTAI MU

Prolog
Dengarkan aku ...
Aku tidak sedang bercanda. Aku juga tidak sedang berkhayal. Meskipun kau anggap aku gila karena apa yang akan kau dengar adalah sesuatu hal yang jauh dari logika manusia biasa. Logika yang justru malah mengurung dan membuat aku semakin tersiksa. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang apa yang seharusnya ku lakukan. Tentang apa yang mungkin akan kau katakan. Dan semua ketakutan akan pikiran itulah yang membuat ku selalu hidup dalam kebohongan. Hanya supaya agar aku bisa terus melihat senyum mu. Untuk bisa terus mendengar keluh mu. Menerima semua emosi sesaat mu kala kau masih belum bisa menerima kenyataan kecil hidup yang berbeda. Kenyataan hidup yang bagiku justru ku syukuri. Karena memberi ruang untuk semakin mendekatkan aku pada dirimu. Ya, aku mungkin telah memanfaatkan semua kelemahan mu. Tanpa pernah sedikit pun ku sesali. Bahkan jujur aku menikmati dan merindukan nya. Hanya pada saat-saat seperti itu, aku bisa bebas memandang wajah mu, mendengar suara mu.
Percayalah ...
Tak akan pernah aku paksakan hatiku pada mu. Tak juga akan kupaksakan agar kau mau menerima ku. Ku akui sulit bagi mu untuk menerima segala ucapan ku. Mencerna dan memahami maksud perkataan ku. Sebuah kalimat yang tak pernah kau bayangkan akan keluar dari mulut ku. Mulut yang selau berbicara tentang hal-hal duniawi. Hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu penting buat hidup mu.
Lihat aku ...
Bukan sebagai sosok keseharian ku. Yang tak lebih hanya memberi sedikit warna dalam hari mu. Sosok yang hadir bukan karena suatu kewajiban. Rutinitas tak terbantah yang harus aku dan kau jalani. Cukup bagi ku jika kau sadar bahwa aku juga sama seperti mereka. Lawan jenis mu yang punya rasa. Yang juga tak berdaya melawan kuatnya batas tak terlihat. Batas yang tercipta akibat status kita yang berbeda. Yang membuat semua nya semakin rumit. Yang selalu berujung pada aturan tak tertulis. Yang aku yakin akan semakin membuat mu ragu untuk bergerak.
Kalau memang rasa itu ada ...
Tak akan lagi aku perduli pada dunia. Terserah mereka akan berkata apa. Aku tak perduli. Mereka mungkin akan mengucilkan aku. Menjauhkan aku dari semua kegiatan ku. Melemparku kembali ke dasar pencarian. Bahkan, mereka mungkin juga tak akan menganggap aku ada. Tapi tetap aku tak perduli. Selama rasa itu ada dalam hati mu. Cukup buat ku.
Karena aku tulus mencintaimu sebagai seorang lelaki.
Spoiler for Lihat yuk ...:
INDEX
Quote:
Diubah oleh omboth 02-04-2019 05:49
rens09 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
4.1K
22
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
omboth
#2
Seno
"Udah kau beres in semuanyo? Dak ado lagi yang ketinggalan?"
"Idak, Bu."
Tangan Ibu tampak sibuk memasukan barang-barang terakhir ke dalam koper hitam tua milik Bapak. Dari arah luar, Bapak dan adik perempuan ku satu-satunya, Inggrit, tampak masuk ke dalam rumah setelah memasukan kardus-kardus ke dalam bagasi mobil.
"Tiket kek mano? Jangan pulak dah nyampe bandara kau suruh aku balik ngambik ..."
"Idak lah, Pak. Tiket tu dah aman di tas depan."
Sahut ku sembari menepuk bagian depan tas punggung. Tas yang setia menemaniku selama beberapa tahun terakhir. Dari samping Inggrit mendekat dan duduk di sebelahku. Sebelah tangan ku dipeluk nya.
"Jangan pulak lupo pesenan aku yo, Bang" Matanya mengerling manja ke arahku yang hanya membalas dengan senyuman.
"Kau ni! Abang kau ni belum lah lagi nak pegi dah macam-macam pulak mintak nyo."
Sembari menutup koper hitam tua yang akan aku bawa, Ibu pura-pura memukul kepala Inggrit.
"Dak ado aku mintak macam-macam. Aku cuman mintak kaos biaso yang ado tulisan nyo Jogja bae."
"Yaela, Ibu bae lom lagi dapat apo-apo, kau lah nak minta aneh-aneh."
"Nah ... ngapo Ibu dak minta mumpung orangnya belum pegi."
Aku tertawa mendengar percakapan mereka. Perasaan kehangatan keluarga yang bertahun-tahun aku rasakan, dalam beberapa jam kedepan mungkin akan aku rindukan.
"Dah ... sudah. Ibu samo anak samo bae. Ribut bebalak manjang. Tapi jangan lupa yo, Sen. Pesenan Bapak. Dompet kulit."
"Bapak samo bae ..."
Ibu dan Inggrit kompak tanpa di komando berteriak sambil memajukan mulut mereka.
Hari itu hari keberangkatan ku. Hari di mana aku akan memulai hidup baru di tanah Jogja. Sebuah kota yang katanya ramah orang-orangnya. Murah harga barang-barangnya. Namun panas udaranya. Aku diterima bekerja di suatu sekolah swasta yang ada di kota pelajar tersebut. Ya, sebagai seorang guru. Lebih tepatnya, Guru Bahasa Inggris. Empat tahun aku menimba ilmu di salah satu universitas di kota kelahiranku, dua tahun belajar mengajar di suatu instansi bahasa asing, dan kini aku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang guru. Sebenar-benarnya guru. Bukan seorang instruktur, bukan pula seorang guru private. Tapi benar-benar guru. Suatu profesi yang mungkin tidak pernah aku mau memilihnya karena sadar betapa besar dosa-dosaku saat sekolah dulu pada semua guru-guru.
Mobil sudah masuk area parkir bandara. Agak susah juga mencari tempat yang enak buat parkir. Bukan karena tidak ada tempat kosong, tapi lebih karena mencari tempat parkir yang lumayan teduh itu yang rada susah. Akhirnya Bapak menyerah setelah muter-muter dua kali dan hasilnya sama. Mobil di parkir di tempat yang paling dekat dengan terminal.
"Kau ambik dulu sano troli nyo. Biak enak bawak barang-barang di bagasi ni."
Tanpa di suruh dua kali oleh Bapak, aku langsung bergegas ke tempat di mana troli-troli di parkirkan.
Setelah semua barang berada di atas troli, aku mulai mendorongnya di ikuti rombongan keluarga ku. Mungkin seperti ini rasanya kalo naik haji diantar sama keluarga.
"Inget pesen Ibu. Jangan nak macam-macam di tempat orang. Jago baek namo keluargo."
Ucapan yang sama saat di dalam mobil pun terjadi lagi.
"Terserah kalo kau nak pacaran. Tapi jangan ambik sembarangan anak orang. Pilih yang bener."
Aku mengangguk. Nda usah di jawab ntar malah tambah panjang.
"Sampe sano telepon yo, Bang"
Aku menoleh ke Inggrit. Tumben nih anak melow.
"Ngapo? Dah kangen samo Abang po?" Tangan ku memegang kepala Inggrit dan mengacak-acak rambutnya.
"Beh, ... dak lah. Man mau ngingetin jangan lupo pesenan aku be ..."
"Udah ... udah. Siapin tiket kau. Bentar lagi dah di suruh boarding itu."
Suara Bapak menghentikan tanganku yang mencoba meraih Inggrit yang lari sembunyi di balik Ibu.
"Seno pamit, Pak, Bu."
Kucium tangan kedua orang tua ku.
"Abang berangkat yo, Nggrit ..."
Tangan ku di cium oleh Inggrit.
Aku lalu melangkah ke arah petugas. Memberikan boarding pass ku lalu berjalan masuk ke arah dalam bandara.
Tanpa sadar aku berbalik. Melihat ke arah mereka.
Bapak tersenyum sambil melambaikan tangan nya.
Ibu dan Inggrit tampak menangis.
"Udah kau beres in semuanyo? Dak ado lagi yang ketinggalan?"
"Idak, Bu."
Tangan Ibu tampak sibuk memasukan barang-barang terakhir ke dalam koper hitam tua milik Bapak. Dari arah luar, Bapak dan adik perempuan ku satu-satunya, Inggrit, tampak masuk ke dalam rumah setelah memasukan kardus-kardus ke dalam bagasi mobil.
"Tiket kek mano? Jangan pulak dah nyampe bandara kau suruh aku balik ngambik ..."
"Idak lah, Pak. Tiket tu dah aman di tas depan."
Sahut ku sembari menepuk bagian depan tas punggung. Tas yang setia menemaniku selama beberapa tahun terakhir. Dari samping Inggrit mendekat dan duduk di sebelahku. Sebelah tangan ku dipeluk nya.
"Jangan pulak lupo pesenan aku yo, Bang" Matanya mengerling manja ke arahku yang hanya membalas dengan senyuman.
"Kau ni! Abang kau ni belum lah lagi nak pegi dah macam-macam pulak mintak nyo."
Sembari menutup koper hitam tua yang akan aku bawa, Ibu pura-pura memukul kepala Inggrit.
"Dak ado aku mintak macam-macam. Aku cuman mintak kaos biaso yang ado tulisan nyo Jogja bae."
"Yaela, Ibu bae lom lagi dapat apo-apo, kau lah nak minta aneh-aneh."
"Nah ... ngapo Ibu dak minta mumpung orangnya belum pegi."
Aku tertawa mendengar percakapan mereka. Perasaan kehangatan keluarga yang bertahun-tahun aku rasakan, dalam beberapa jam kedepan mungkin akan aku rindukan.
"Dah ... sudah. Ibu samo anak samo bae. Ribut bebalak manjang. Tapi jangan lupa yo, Sen. Pesenan Bapak. Dompet kulit."
"Bapak samo bae ..."
Ibu dan Inggrit kompak tanpa di komando berteriak sambil memajukan mulut mereka.
Hari itu hari keberangkatan ku. Hari di mana aku akan memulai hidup baru di tanah Jogja. Sebuah kota yang katanya ramah orang-orangnya. Murah harga barang-barangnya. Namun panas udaranya. Aku diterima bekerja di suatu sekolah swasta yang ada di kota pelajar tersebut. Ya, sebagai seorang guru. Lebih tepatnya, Guru Bahasa Inggris. Empat tahun aku menimba ilmu di salah satu universitas di kota kelahiranku, dua tahun belajar mengajar di suatu instansi bahasa asing, dan kini aku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang guru. Sebenar-benarnya guru. Bukan seorang instruktur, bukan pula seorang guru private. Tapi benar-benar guru. Suatu profesi yang mungkin tidak pernah aku mau memilihnya karena sadar betapa besar dosa-dosaku saat sekolah dulu pada semua guru-guru.
Mobil sudah masuk area parkir bandara. Agak susah juga mencari tempat yang enak buat parkir. Bukan karena tidak ada tempat kosong, tapi lebih karena mencari tempat parkir yang lumayan teduh itu yang rada susah. Akhirnya Bapak menyerah setelah muter-muter dua kali dan hasilnya sama. Mobil di parkir di tempat yang paling dekat dengan terminal.
"Kau ambik dulu sano troli nyo. Biak enak bawak barang-barang di bagasi ni."
Tanpa di suruh dua kali oleh Bapak, aku langsung bergegas ke tempat di mana troli-troli di parkirkan.
Setelah semua barang berada di atas troli, aku mulai mendorongnya di ikuti rombongan keluarga ku. Mungkin seperti ini rasanya kalo naik haji diantar sama keluarga.
"Inget pesen Ibu. Jangan nak macam-macam di tempat orang. Jago baek namo keluargo."
Ucapan yang sama saat di dalam mobil pun terjadi lagi.
"Terserah kalo kau nak pacaran. Tapi jangan ambik sembarangan anak orang. Pilih yang bener."
Aku mengangguk. Nda usah di jawab ntar malah tambah panjang.
"Sampe sano telepon yo, Bang"
Aku menoleh ke Inggrit. Tumben nih anak melow.
"Ngapo? Dah kangen samo Abang po?" Tangan ku memegang kepala Inggrit dan mengacak-acak rambutnya.
"Beh, ... dak lah. Man mau ngingetin jangan lupo pesenan aku be ..."
"Udah ... udah. Siapin tiket kau. Bentar lagi dah di suruh boarding itu."
Suara Bapak menghentikan tanganku yang mencoba meraih Inggrit yang lari sembunyi di balik Ibu.
"Seno pamit, Pak, Bu."
Kucium tangan kedua orang tua ku.
"Abang berangkat yo, Nggrit ..."
Tangan ku di cium oleh Inggrit.
Aku lalu melangkah ke arah petugas. Memberikan boarding pass ku lalu berjalan masuk ke arah dalam bandara.
Tanpa sadar aku berbalik. Melihat ke arah mereka.
Bapak tersenyum sambil melambaikan tangan nya.
Ibu dan Inggrit tampak menangis.
3
