- Beranda
- Stories from the Heart
Dia, Andini (Romance Story)
...
TS
robbyrhy
Dia, Andini (Romance Story)
Halo Semuanya, Kali ini saya mau memberikan sebuah cerita lagi nih. Tapi kali ini tentang Fiksi Remaja. School Romancegitu. Nah buat kalian yang penasaran bisa langsung di baca Prolognya ya.
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance
~~~💓💓💓💓💓~~~
Prolog

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Quote:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Quote:
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.
Cast :

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Happy Reading!
Diubah oleh robbyrhy 09-04-2019 18:54
bachtiar.78 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
19K
98
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robbyrhy
#58
Part 21
Setelah Andini memenangkan juara ke satu dari kompetisi menggambar di Sekolahnya, ia segera mengurus segala keperluan beasiswanya ke Jepang. Andini pun sudah mendapatkan jadwal keberangkatannya. Tanggal 27, April 2017 itulah tanggal Kepergian Andini dari Indonesia.
Keesokan harinya ia kembali ke sekolah, semua murid yang ada di Sekolah Harapan Pelita memberikan ucapan selamat kepadanya. Setiap kali Andini melangkah, ia selalu di sapa layaknya aktris yang baru terkenal.
Andini hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam kelas. Hari ini ia tidak melihat Daniel, Andini pun berusaha menghubungi pacarnya, Namun handphonenya tidak aktif. Sampai pada akhirnya Jam pelajaran pertama pun di mulai.
Bel Istirahat berbunyi, Alvaro dan Via segera bergegas pergi ke Kantin.
“Varo…. kalau Andini ke Jepang, kamu bakal kangen gak?” Celetuk Via tiba-tiba.
Alvaro yang mendengar ucapan Via pun langsung menjawab pertanyaannya dengan cepat, “pasti” jawabnya.
Via memutar bola matanya, “kalo aku yang menang, terus pergi ke Jepang… Varo kangen gak?”
“Engga” jawab lagi Varo cepat.
Via mengerutkan dahinya, berhenti sejenak lalu mendengus kesal, “kok gitu?”
Varo menoleh ke arahnya, “Lagi kamu nanyanya aneh-aneh, ya namanya temen kalo pergi jauh, lama kelamaan pasti kangen Via… gimana sih?” gemas Varo lalu mencubit pelan kedua pipi Via.
Mata Via berbinar tat kala Varo menyentuh kedua pipinya dengan lembut, ia tidak merasa sakit namun malah menikmati.
“Via, kok gak sakit sih?” tanya Varo semakin kencang mencubit.
Via tersenyum lebar, “kan Varo yang nyubit.” gumamnya.
Varo melepas cubitannya, “Gombal deh, orang mah cowok yang gombal ini malah cewek…” melas Varo. Via tertawa lepas, “lagi Varo gak pernah gombal…” gerutuk Via halus.
Varo memalingkan wajahnya, “udah ah laper …” pekiknya lalu berjalan cepat menuju Kantin.
Via dan Alvaro pun sampai di Kantin, mereka memesan makanan seperti biasa. Kalau enggak nasi goreng ya mie goreng. Setelah menunggu beberapa menit makanan mereka pun sampai di mejanya. Varo melahap habis mie goreng miliknya… “Kok pedes banget ya?” cetus Varo.
“Pedes-pedes tapi habis.” jawab Via sinis.
“jadi pengen boker deh..” keluh Varo.
“Ihh jorokkk… Via kan belum kelar makan.” kesal Via.
Varo pun hanya menyengir layaknya kuda, “Aku ke toilet dulu ya…” ucap Varo dengan tergesa-gesa.
Via hanya mengangguk ringan, lalu menghibaskan tangannya menyuruh Varo segera pergi ke kamar mandi. Lalu kembali menyantap Nasi gorengnya yang belum habis di makannya.
Saat hendak menuju ke kamar mandi, Langkah Varo terhenti ketika melihat Andini yang sedang sibuk menelpon seseorang. Raut wajahnya mempetlihatkan kekhawatiran. Andini terus menerus mondar-mandir di depan gerbang sekolah. Rasa cemas semakin terlihat tat kala Andini menggigit salah satu kukunya. Varo yang melihat hal tersebut segera bergegas jalan ke arahnya. Ia tidak berniat untuk langsung bertemu Andini, melainakan bersembunyi di balik tembok lalu menguping pembicaraannya lewat telpon.
“Apa? ketaman? kenapa kamu tidak masuk sekolah hari ini?”
Begitulah kiranya percakapan yang Varo dengar dari jarak kurang lebih 4 meter. Varo terus menguping, Ia menerka bahwa Andini sedang berbicara dengan Daniel. Tak lama kemudian, tiba-tiba Andini menutup telponnya lalu berjalan keluar gerbang sekolah. Varo yang mengintip dari celah tembok segera membuntuti Andini.
Andini mengarah ketaman, Varo memelankan langkahnya. Mencoba tidak memberikan suara dari langkah kakiknya supaya Andini tidak menyadari akan kehadirannya.
Sesampainya di taman terlihat seorang Pria berjaket Hitam sedang berdiri di dekat kolam ikan. Wajahnya di tutupi masker. Varo pun perlahan mendekat untuk memastikan Pria tersebut dan dapat mendengar percakapan mereka berdua.
Varo mengumpat di balik pohon teh-tehan. Ia berupaya menguping dengan baik. Saat Varo mengintip dari balik celah dedaunan, ia melihat pria tersebut membuka maskernya. Benar saja, itu Daniel. Varo segera mendekatkan kupingnya. Mata Varo pun terus menyorot ke arah mereka. Melihat gerak-gerik serta pembicaraan apa yang sedang mereka omongi.
“Sekarang jawab! kenapa kamu gak masuk sekolah hari ini.” kesal Andini dengan tatapan tajam ke arah Daniel.
Daniel menghela nafasnya, berusaha tenang menjawab pertanyaan Andini yang dengan cepat di lontarkan kepadanya.
“Maaf… Andini aku harus memberitahu ini kepadamu…” ucap Daniel lembut. Matanya menyorot lurus ke arah Andini. tidak berkedip dan memfokuskan wajahnya untuk terus menatapnya.
“Maaf untuk apa?” tanya Andini kembali dengan raut wajah yang bingung.
Daniel memberikan sebuah Amplop ke tangan Andini, “pegang ini” pinta Daniel sambil menempelkan Ampop tersebut.
Andini tersentak, “ini apa?” dirinya kembali bertanya.
Daniel pun masih menatap wajah Andini, melihat setiap kecantikannya dan semua kelebihan yang ada pada wajahnya.
“Jawab… niel, ini apa?” Andini semakin kesal, namun Daniel masih tetap dengan posisinya.
“Nanti kamu akan mengetahuinya, Sekarang aku harus pergi….”
“Ta..”
Belum sempat Andini berkata, tiba-tiba Daniel langsung mengecup kening Andini. Deg! Jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak yakin bahwa Daniel bisa malakukan ini kepadanya. Andini tidak melawan, ia menikmati kecupan hangat yang tepat berbekas di keningnya. Matanya terpejam, menghentikan semua rasa penasaran yang ada di dalam dirinya.
Sementara itu Varo yang mengintip Adegan tersebut dari balik dedaunan hanya bisa menelan ludah. Jantungnya di buat tak memompa kala itu. Matanya menyipit melihat adegan panas yang sedang di lakukan oleh Daniel terhadap Andini. Cium kening doang, segala adegan panas. Matanya terus terfokus tanpa berkedip sekai pun.
Usai mencium keningnya, Daniel pun pamit kepada Andini. Tanpa ada kata-kata lagi, ia langsung menjauh dan hanya meninggalkan sebuah umplop yang di berikan tadi olehnya.
“Kamu yakin kan gak kemana-mana??” teriak Andini dari kejauhan untuk memastikan.
Daniel hanya tersenyum simpul lalu kembali berlari kecil meninggalkan Andini. Setelah itu mata Andini kembali menyorot amplop yang di berikan oleh Danie. “Apa ya isinya?” Andini penasaran. Ia pun membuka Amplop tersebut. “Hanya kertas? ta… pi ada tulisannya?” ia pun bertanya-tanya. Tanpa pikir panjang Andini mengambil kertas tersebut lalu membukannya.
Untuk Andini.
Deg! Saat membuka kalimat pertama kata-kata itu sudah tidak mengenakan untuknya. Seperti ada makna yang lebih besar lagi di bawahnya. ia pun membuka sedikit demi sedikit kertas tersebut. Sampai akhirnya semuanya terpapang nyata di hadapannya.
Mata Andini pun langsung terfokus membaca kata demi kata dari surat tersebut yang berbunyi..
Aku sangat meminta maaf untuk ini. Aku sendiri bingung harus melakukan apa? aku seperti sudah hilang arah, buntu dan tidak punya masa depan. Ayah ku kali ini mendapatkan hal buruk lagi…Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi kali ini. Cayla dan Tante Anggun sudah seperti Ancaman untukku dan keluargaku, mereka kembali menghancurkan pekerjaan Ayahku yang kedua kalinya. Ayahku mengalami stres dan deperesi. Hidupnya seakan di ganggu oleh manusia yang melebihi Iblis. Dengan ini aku Daniel ingin memberitahu kepadamu, Andini bahwa hubungan kita sudah cukup sampai disini. aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku melanjutkan hubungan ini. Aku mohon kamu mengerti aku, percuma saja kita tetap mempertahankan hubungan ini karena orang tuamu saja pasti tidak akan merestui. Aku juga minta maaf berbicara soal ini lewat surat, karena aku tidak yakin bibirku dapat berbicara hal-hal menyakitkan seperti ini di hadapanmu. Jangan cari aku lagi Andini, aku akan melupakanmu… aku harap kamu juga bisa melupakanku dan ambilah satu tanda kenang-kenangan dariku, yang ada di dalam amplop ini. Aku mencintaimu Andini.
Daniel
Saat membaca surat tersebut air mata Andini langsung turun tanpa di suruh. “Daniel” lirihnya. Andini pun menengok kembali isi Amplopnya dan ia menemukan sebuah cincin bertanda huruf D. ia pun langsung menggenggam cincin tersebut. Hatinya semakin sakit, ia terus menangis di kesunyian Taman Sekolah. Alvaro yang melihat Andini menangis usai membaca surat tersebut, Semakin penasaran. Matanya ikut berlinang.ia pun segera menghampiri Andini tanpa pikir panjang.
“Andini… kamu kenapa?” teriak Varo dari kejauhan.
Tanpa di minta tiba-tiba Andini langsung berlari menuju Varo, memeluk tubuhnya dengan erat lalu menangis dengan sejadi-jadinya. Andini masih memegang surat di tangannya. Tanpa di sengaja Varo pun membaca isi surat tersebut dari kejauhan. Betapa terkejutnya Varo tatkala membaca isi surat tersebut, “Daniel memutuskanmu ni?” bisik Varo.
Andini masih menangis ia belum menjawab pertanyaan Varo yang padahal ia sudah mengetahuinya. Setelah beberapa detik, Andini melepas pelukannya, “Daniel jahat…. kenapa dia harus melakukan ini padaku?” jawab Andini sambil terus menangis.
Alvaro menatapnya dalam-dalam, “Kamu gak perlua bersedih Andini, ingat… Jika Daniel adalah jodohmu, pasti tuhan akan memberikannya untukmu.” ucap Varo memberi penenangan kepadanya. Namun tetap saja Andini masih larut dalam kesedihan, ia pun melipat suratnya lalu menaruh ke sakunya. “Cincin itu?” tanya Varo.
“Daniel yang memberikannya untukku, dia bilang ini sebagai tanda kenang-kenangan. Aku akan kerumahnya usai pulang sekolah, Aku harus tau sebenarnya apa yang terjadi padanya. Apa cayla mengancamnya lagi?”
“Tapi An…”
Tet Tet Tet
Belum sempat Varo berkata, tiba-tiba bel masuk memotong pembicaraan Varo kepada Andini.
“Udah masuk... kamu usap dulu airmata mu.” pinta Varo sambil memberikan sebuah tissue dari sakunya. Ia mengganti topik pembicaraan dan mengabaikan omongan sebelumnya.
Andini terkejut, “sejak kapan kamu suka membawa tissue?” tanya Andini sambil mengambil satu buah tissue yang di berikan oleh Varo.
Alvaro hanya terdiam, ia sedikit kikuk dan sesekali berdeham. sebenarnya sejak lama ia selalu menyiapkan tissue untuknya, karena baru kali ini Varo kembali lagi melihat Andini menangis. Sebelumnya ia menangis karena Daniel dan sekarang karena dia juga. Memang cinta bisa membutakan hati seseorang. Tidak mengenal rasa sakit dan seakan menjadi manusia yang kebal. sama halnya seperti Alvaro, yang mencintaimu Andini. apakah ini adalah waktu yang tepat untuk Varo mengungkapkan perasaannya kepada Andini? Di saat Andini sedang patah hati? apakah Andini akan langsung menerimanya? atau malah menolaknya?
Keesokan harinya ia kembali ke sekolah, semua murid yang ada di Sekolah Harapan Pelita memberikan ucapan selamat kepadanya. Setiap kali Andini melangkah, ia selalu di sapa layaknya aktris yang baru terkenal.
Andini hanya tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam kelas. Hari ini ia tidak melihat Daniel, Andini pun berusaha menghubungi pacarnya, Namun handphonenya tidak aktif. Sampai pada akhirnya Jam pelajaran pertama pun di mulai.
Bel Istirahat berbunyi, Alvaro dan Via segera bergegas pergi ke Kantin.
“Varo…. kalau Andini ke Jepang, kamu bakal kangen gak?” Celetuk Via tiba-tiba.
Alvaro yang mendengar ucapan Via pun langsung menjawab pertanyaannya dengan cepat, “pasti” jawabnya.
Via memutar bola matanya, “kalo aku yang menang, terus pergi ke Jepang… Varo kangen gak?”
“Engga” jawab lagi Varo cepat.
Via mengerutkan dahinya, berhenti sejenak lalu mendengus kesal, “kok gitu?”
Varo menoleh ke arahnya, “Lagi kamu nanyanya aneh-aneh, ya namanya temen kalo pergi jauh, lama kelamaan pasti kangen Via… gimana sih?” gemas Varo lalu mencubit pelan kedua pipi Via.
Mata Via berbinar tat kala Varo menyentuh kedua pipinya dengan lembut, ia tidak merasa sakit namun malah menikmati.
“Via, kok gak sakit sih?” tanya Varo semakin kencang mencubit.
Via tersenyum lebar, “kan Varo yang nyubit.” gumamnya.
Varo melepas cubitannya, “Gombal deh, orang mah cowok yang gombal ini malah cewek…” melas Varo. Via tertawa lepas, “lagi Varo gak pernah gombal…” gerutuk Via halus.
Varo memalingkan wajahnya, “udah ah laper …” pekiknya lalu berjalan cepat menuju Kantin.
Via dan Alvaro pun sampai di Kantin, mereka memesan makanan seperti biasa. Kalau enggak nasi goreng ya mie goreng. Setelah menunggu beberapa menit makanan mereka pun sampai di mejanya. Varo melahap habis mie goreng miliknya… “Kok pedes banget ya?” cetus Varo.
“Pedes-pedes tapi habis.” jawab Via sinis.
“jadi pengen boker deh..” keluh Varo.
“Ihh jorokkk… Via kan belum kelar makan.” kesal Via.
Varo pun hanya menyengir layaknya kuda, “Aku ke toilet dulu ya…” ucap Varo dengan tergesa-gesa.
Via hanya mengangguk ringan, lalu menghibaskan tangannya menyuruh Varo segera pergi ke kamar mandi. Lalu kembali menyantap Nasi gorengnya yang belum habis di makannya.
Saat hendak menuju ke kamar mandi, Langkah Varo terhenti ketika melihat Andini yang sedang sibuk menelpon seseorang. Raut wajahnya mempetlihatkan kekhawatiran. Andini terus menerus mondar-mandir di depan gerbang sekolah. Rasa cemas semakin terlihat tat kala Andini menggigit salah satu kukunya. Varo yang melihat hal tersebut segera bergegas jalan ke arahnya. Ia tidak berniat untuk langsung bertemu Andini, melainakan bersembunyi di balik tembok lalu menguping pembicaraannya lewat telpon.
“Apa? ketaman? kenapa kamu tidak masuk sekolah hari ini?”
Begitulah kiranya percakapan yang Varo dengar dari jarak kurang lebih 4 meter. Varo terus menguping, Ia menerka bahwa Andini sedang berbicara dengan Daniel. Tak lama kemudian, tiba-tiba Andini menutup telponnya lalu berjalan keluar gerbang sekolah. Varo yang mengintip dari celah tembok segera membuntuti Andini.
Andini mengarah ketaman, Varo memelankan langkahnya. Mencoba tidak memberikan suara dari langkah kakiknya supaya Andini tidak menyadari akan kehadirannya.
Sesampainya di taman terlihat seorang Pria berjaket Hitam sedang berdiri di dekat kolam ikan. Wajahnya di tutupi masker. Varo pun perlahan mendekat untuk memastikan Pria tersebut dan dapat mendengar percakapan mereka berdua.
Varo mengumpat di balik pohon teh-tehan. Ia berupaya menguping dengan baik. Saat Varo mengintip dari balik celah dedaunan, ia melihat pria tersebut membuka maskernya. Benar saja, itu Daniel. Varo segera mendekatkan kupingnya. Mata Varo pun terus menyorot ke arah mereka. Melihat gerak-gerik serta pembicaraan apa yang sedang mereka omongi.
“Sekarang jawab! kenapa kamu gak masuk sekolah hari ini.” kesal Andini dengan tatapan tajam ke arah Daniel.
Daniel menghela nafasnya, berusaha tenang menjawab pertanyaan Andini yang dengan cepat di lontarkan kepadanya.
“Maaf… Andini aku harus memberitahu ini kepadamu…” ucap Daniel lembut. Matanya menyorot lurus ke arah Andini. tidak berkedip dan memfokuskan wajahnya untuk terus menatapnya.
“Maaf untuk apa?” tanya Andini kembali dengan raut wajah yang bingung.
Daniel memberikan sebuah Amplop ke tangan Andini, “pegang ini” pinta Daniel sambil menempelkan Ampop tersebut.
Andini tersentak, “ini apa?” dirinya kembali bertanya.
Daniel pun masih menatap wajah Andini, melihat setiap kecantikannya dan semua kelebihan yang ada pada wajahnya.
“Jawab… niel, ini apa?” Andini semakin kesal, namun Daniel masih tetap dengan posisinya.
“Nanti kamu akan mengetahuinya, Sekarang aku harus pergi….”
“Ta..”
Belum sempat Andini berkata, tiba-tiba Daniel langsung mengecup kening Andini. Deg! Jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak yakin bahwa Daniel bisa malakukan ini kepadanya. Andini tidak melawan, ia menikmati kecupan hangat yang tepat berbekas di keningnya. Matanya terpejam, menghentikan semua rasa penasaran yang ada di dalam dirinya.
Sementara itu Varo yang mengintip Adegan tersebut dari balik dedaunan hanya bisa menelan ludah. Jantungnya di buat tak memompa kala itu. Matanya menyipit melihat adegan panas yang sedang di lakukan oleh Daniel terhadap Andini. Cium kening doang, segala adegan panas. Matanya terus terfokus tanpa berkedip sekai pun.
Usai mencium keningnya, Daniel pun pamit kepada Andini. Tanpa ada kata-kata lagi, ia langsung menjauh dan hanya meninggalkan sebuah umplop yang di berikan tadi olehnya.
“Kamu yakin kan gak kemana-mana??” teriak Andini dari kejauhan untuk memastikan.
Daniel hanya tersenyum simpul lalu kembali berlari kecil meninggalkan Andini. Setelah itu mata Andini kembali menyorot amplop yang di berikan oleh Danie. “Apa ya isinya?” Andini penasaran. Ia pun membuka Amplop tersebut. “Hanya kertas? ta… pi ada tulisannya?” ia pun bertanya-tanya. Tanpa pikir panjang Andini mengambil kertas tersebut lalu membukannya.
Untuk Andini.
Deg! Saat membuka kalimat pertama kata-kata itu sudah tidak mengenakan untuknya. Seperti ada makna yang lebih besar lagi di bawahnya. ia pun membuka sedikit demi sedikit kertas tersebut. Sampai akhirnya semuanya terpapang nyata di hadapannya.
Mata Andini pun langsung terfokus membaca kata demi kata dari surat tersebut yang berbunyi..
Aku sangat meminta maaf untuk ini. Aku sendiri bingung harus melakukan apa? aku seperti sudah hilang arah, buntu dan tidak punya masa depan. Ayah ku kali ini mendapatkan hal buruk lagi…Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi kali ini. Cayla dan Tante Anggun sudah seperti Ancaman untukku dan keluargaku, mereka kembali menghancurkan pekerjaan Ayahku yang kedua kalinya. Ayahku mengalami stres dan deperesi. Hidupnya seakan di ganggu oleh manusia yang melebihi Iblis. Dengan ini aku Daniel ingin memberitahu kepadamu, Andini bahwa hubungan kita sudah cukup sampai disini. aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku melanjutkan hubungan ini. Aku mohon kamu mengerti aku, percuma saja kita tetap mempertahankan hubungan ini karena orang tuamu saja pasti tidak akan merestui. Aku juga minta maaf berbicara soal ini lewat surat, karena aku tidak yakin bibirku dapat berbicara hal-hal menyakitkan seperti ini di hadapanmu. Jangan cari aku lagi Andini, aku akan melupakanmu… aku harap kamu juga bisa melupakanku dan ambilah satu tanda kenang-kenangan dariku, yang ada di dalam amplop ini. Aku mencintaimu Andini.
Daniel
Saat membaca surat tersebut air mata Andini langsung turun tanpa di suruh. “Daniel” lirihnya. Andini pun menengok kembali isi Amplopnya dan ia menemukan sebuah cincin bertanda huruf D. ia pun langsung menggenggam cincin tersebut. Hatinya semakin sakit, ia terus menangis di kesunyian Taman Sekolah. Alvaro yang melihat Andini menangis usai membaca surat tersebut, Semakin penasaran. Matanya ikut berlinang.ia pun segera menghampiri Andini tanpa pikir panjang.
“Andini… kamu kenapa?” teriak Varo dari kejauhan.
Tanpa di minta tiba-tiba Andini langsung berlari menuju Varo, memeluk tubuhnya dengan erat lalu menangis dengan sejadi-jadinya. Andini masih memegang surat di tangannya. Tanpa di sengaja Varo pun membaca isi surat tersebut dari kejauhan. Betapa terkejutnya Varo tatkala membaca isi surat tersebut, “Daniel memutuskanmu ni?” bisik Varo.
Andini masih menangis ia belum menjawab pertanyaan Varo yang padahal ia sudah mengetahuinya. Setelah beberapa detik, Andini melepas pelukannya, “Daniel jahat…. kenapa dia harus melakukan ini padaku?” jawab Andini sambil terus menangis.
Alvaro menatapnya dalam-dalam, “Kamu gak perlua bersedih Andini, ingat… Jika Daniel adalah jodohmu, pasti tuhan akan memberikannya untukmu.” ucap Varo memberi penenangan kepadanya. Namun tetap saja Andini masih larut dalam kesedihan, ia pun melipat suratnya lalu menaruh ke sakunya. “Cincin itu?” tanya Varo.
“Daniel yang memberikannya untukku, dia bilang ini sebagai tanda kenang-kenangan. Aku akan kerumahnya usai pulang sekolah, Aku harus tau sebenarnya apa yang terjadi padanya. Apa cayla mengancamnya lagi?”
“Tapi An…”
Tet Tet Tet
Belum sempat Varo berkata, tiba-tiba bel masuk memotong pembicaraan Varo kepada Andini.
“Udah masuk... kamu usap dulu airmata mu.” pinta Varo sambil memberikan sebuah tissue dari sakunya. Ia mengganti topik pembicaraan dan mengabaikan omongan sebelumnya.
Andini terkejut, “sejak kapan kamu suka membawa tissue?” tanya Andini sambil mengambil satu buah tissue yang di berikan oleh Varo.
Alvaro hanya terdiam, ia sedikit kikuk dan sesekali berdeham. sebenarnya sejak lama ia selalu menyiapkan tissue untuknya, karena baru kali ini Varo kembali lagi melihat Andini menangis. Sebelumnya ia menangis karena Daniel dan sekarang karena dia juga. Memang cinta bisa membutakan hati seseorang. Tidak mengenal rasa sakit dan seakan menjadi manusia yang kebal. sama halnya seperti Alvaro, yang mencintaimu Andini. apakah ini adalah waktu yang tepat untuk Varo mengungkapkan perasaannya kepada Andini? Di saat Andini sedang patah hati? apakah Andini akan langsung menerimanya? atau malah menolaknya?
To Be Continued
hariss1989 dan 4 lainnya memberi reputasi
5