- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#12
Ada saat, dimana hari.. begitu cepat, tanpa kita pernah berfikir.. kemana dan bagaimana esok hari. Seperti buih, yang terbawa arus air. Bedanya.. aku tak tau akan bermuara kemana dan seperti apa nanti.
Dan sampai detik ini, aku juga belum peduli. Peduliku satu, aku hanya ingin bahagia untuk hari ini. Bahagia tanpa apa dan bagaimana. Lagipula, titik bahagiaku berbeda dengan mereka.
Seperti sore ini, setelah mandi.. aku jalan-jalan, menyusuri jalan setapak.. sembari menikmati alam yang masih rupawan, banyak tanaman.. dan udara sore yang nggak begitu terang, mungkin.. nanti malam bakal turun hujan.
Entah kenapa, aku merasakan kedamaian di saat-saat seperti ini, mungkin.. karena suasana baru.. atau! Apa?. Entahlah. Dan tak terasa, aku di rumah juga sudah mau sepekan, meski kadang terselip rasa bosan, tapi.. rasa bahagia juga nggak kalah besarnya.
Entah apa pula, yang sebenarnya aku cari di kehidupan ini. Aku belum tau.
Masih dengan keadaan yang sama, semakin kesini.. nafas ini semakin berat, ngos-ngosan dan kaki terasa panas, capek. Dan ya, aku sampai di puncak bukit, sekedar untuk menyendiri dan menikmati suasana sore, beserta Sun set sebentarlagi.
Jika musim hujan, posisi matahari berada di titik 45⁰ antara selatan dan barat. Beda dengan musim kemarau, matahari hampir lurus dengan arah barat. Dan saat langit sedang cerah, mata kita akan dimanjakan dengan siluet gunung Merapi serta di sebelah utaranya gunung Lawu. Gunung yang ingin aku daki, meski masih sebatas ingin. Entah kapan bisa ndaki, semoga waktu yang akan menemani.
Semakin sore, langit semakin menguning, keemasan dan memerah. Kata orang dulu, warna merah keemasan seperti itu namanya Candik Kolo, atau bisa di ejawantahkan kalau beberapa hari kedepan akan atau tidak turun hujan?. Entah benar atau tidak, orang Jawa sanggat teliti memandang dan mencerna keadaan, menandakan juga.. kita dulu pernah punya peradaban yang begitu maju, meski saat ini sudah mulai terlupakan, apalagi.. infasi kebudayaan luar dan apa-apa yang menurut sebagian orang adalah kebenaran dan kesempurnaan akhlak. Seolah, kita sendiri miskin moral dan tata nilai luhur dari budaya luar.
Kenapa bisa seperti itu, terpingirkan dan musnah, ya semua itu tidak lain karena generasi yang sudah di putus pemahamanya, mulai dari jenjang pendidikan dan budaya yang kian kesini kian di anak tirikan, hingga hilang jati diri dan miskin identitas, siapa dan darimana kita sesunguhnya.
Apalagi, narasi-narasi kebangsaan, nasionalisme.. hampir nggak laku di pasar kita sendiri. Entah akan seperti apa anak cucu kita nanti.
Entahlah, aku hanya bisa memikirkan.. tanpa bisa menyumbang apa-apa. Harapanku Cuma satu, hargailah senama kata Indonesia. Mungkin, kita yang sudah hidup dan nyaman di negeri ini akan biasa saja, tapi.. saat kita jauh dari rumah, jauh dari bumi pertiwi.. kamu akan merasakan kagen, sedih dan segala hal yang kadang, mendengar lagu Indonesia raya saja.. air mata bisa mengalir begitu derasanya. Kenapa, ya kita punya ikatan batin. Mangkanya, kalau ada apa-apa sama bangsa, sama Negara.. kita duluan yang tersakiti.
Dan bersamaan dengan itupula, mentari sudah padam diantara senja, tinggal semburat yang semakin lama semakin memudar. Gelap.
Untuk mala mini, mungkin juga masih malam yang nggak jauh beda dengan malam-malam yang sudah atau yang akan datang. Bedanya, malam ini aku nggak merasakan kedinginan, mungkin sudah mandi atau apa.. aku juga tidak tau.
Sehabis magrib, kita makan.
Makan ya makan saja, adapun pembicaraan ya seperlunya saja. Aku.. memang sering diam meski kepalaku nggak pernah diam. Mungkin juga, aku klan Introvert sekarang. Atau gimana.. aku juga nggak peduli, toh.. aku masih bisa bahagia dan nyaman dengan caraku sendiri.
Setelah makan aku naik, nonton Tv sekaligus nyari signal. Cek apa-apa kalau ada yang penting. Semacam pesan dari Rania yang kadang absurd, HRD yang kagang galau dan dia yang besok sudah minta di jemput di pertigaan sebelum jalan naik ke rumahku.
Haragh..
Mau apa juga ini anak, meski teman, atau apalah itu, kadang aku juga sebal kalau mengangu. Apalagi besok hari Jumat, hari yang nggak enak buat ngapa-ngapain, terasa lebih cepat ini hari dari hari yang lain. Lantas gw balas pesan dia.
“Katanya sabtu, emang besok nggak ngajar?”
“Nggak mas, mangkanya aku mau main.. awas nek nggak di jemput, marah aku..”
“La.. marah kok bilang bilang,”
“Hahaha, ya nggak tau.. pokoknya jemput”
“Iya..”
“Asik..”
“Mas..” lanjutnya.
“Apa..”
“Gpp..”
Dasar, perempuan.. jurus “Gpp” masih saja di pake. Bilang ae kalau lagi suka, lagi bahagia, lagi seneng, lagi nggak mod, kan enak. Jaim kok berseri-seri, suka bilang suka.. nggak bilang nggak gitu lo. Biar jelas bahasan-nya.
Karena capek atau apa, gw ketiduran.
***
Sayup-sayup, suara adzan subuh berkumandang, saling sahut bersahutan. Antara kampong ini dan kampong itu, antara rt ini dan rt sana. Sekarang, hampir setiap RT punya masjid dan mushola sendiri-sendiri.
Ada yang masih suka puji-pujian, sholawatan khas nusantara.. ada juga yang nggak puji-pujian dan nggak sholawatan, gara-gara.. dana restorasi masjid dari pihak luar?. Dan banyak dari jamahnya pecah, entah itu pindah masjid atau nggak lagi ke masjid, gara-gara segelintir takmir yang ingin atau memang berhaluan seperti itu. Sangat di sayangkan. Ya kalau dasarnya kuat nggak masalah, tapi.. kalau Cuma gara-gara yang renovasi dari pihakk luar.. apa iya, membirakan perpecahan.
Belum lagi pemahaman-pemahaman yang membuang budaya-budaya kekeluargaan, gotong-royong, hajatan, syukuran dan banyak lainya.. meski aku bukan siapa-siapa, melihat kenyataan itu jadi miris. Dan semakin kesini, orang-orang semi individualis. Untung, keluargaku masih seperti dulu, missal.. kalau panen melimpah.. ya syukuran dengan tumpeng, nyembelih ayam dan makan-makan. Pun kalau punya Sapi lahiran, ya syukuran lagi. Ah.. alangkah hangatnya budaya seperti ini. Tapi sekarang, banyak juga yang mencibir. Sampai titik dimana agama dijadikan sumber permasalahan dan perpecahan.
Kan janc*k..
Mondok kagak.. bikin aturan seenak jidat.
Dan aku masih ingat, kira-kira beberapa tahun yang lalu.. saat gelora gerakan subuh mengema dimana-mana, itu sudah masuk sampai pelosok desa, tapi apa.. setelah di kota di beredel kedoknya, pun sampai sepanduk di deket perumahan apartemenku di turunkan. Seketika itu lenyap entah kemana mereka-mereka yang mengelorakan itu.
Ya iya, masa masjid digunakan untuk tempat profokasi, kalau nggak gitu.. untuk menyusupkan narasi-narasi kebencian, yaw ajar kalau di beredel. Dan sekarang, gerakan itu sudah nggak ada baunya.
Memang, kadar kesensitifan orang-orang kita akan sangat tajam kalu sudah menyangkut agama. Meski dia bajingan, kalau sekiranya dia nggak cocok kepada seseorang.. maka dia akan jadi agamis.. semata-mata untuk dijadikan benteng seranganya. Sudah bukan rahasia umum pola-pola seperti itu.
Dan sampai disini, agama seolah hanya tempat berteduh dan tameng untuk sesuatu yang nyatanya kadang nggak bisa di nalar, atas nama kekerasan ataupun penghilangan hak-hak.
Semoga, orang-orang yang kita anggap waras, dan mereka yang kita harapkan mengcounter kebodohan, segera unjuk gigi. Biar kita yang kritis nggak di labeli anti agama, anti ini dan ati itu.
Sudah seharusnya, jika ada masalah keagamaan.. yang menyelesaikan juga yang memiliki wewenang, entah itu organisasi dengan organisasi, atau apalah itu. Biar nggak adalagi intimidasi dan gorengan maha koplak lainya. Terlalu riskan dan ngawur untuk di pandang dari sudut maapun apalagi dari sisi kemanusiaan.
Jauh.. bak bumi dan langit.
Bertolak belakang dengan jargon-jargon agama itu sendiri.
Hayo, kamu-kamu yang agamis moderat, waktunya unjuk gigi, biar yang salah dan nggak bener kelihatan salah dan ketidakbenaranya. Sudah cukup mereka memakan korban.
Jaga hati, jaga nurani dan jaga kewarasan.
Dan sampai detik ini, aku juga belum peduli. Peduliku satu, aku hanya ingin bahagia untuk hari ini. Bahagia tanpa apa dan bagaimana. Lagipula, titik bahagiaku berbeda dengan mereka.
Seperti sore ini, setelah mandi.. aku jalan-jalan, menyusuri jalan setapak.. sembari menikmati alam yang masih rupawan, banyak tanaman.. dan udara sore yang nggak begitu terang, mungkin.. nanti malam bakal turun hujan.
Entah kenapa, aku merasakan kedamaian di saat-saat seperti ini, mungkin.. karena suasana baru.. atau! Apa?. Entahlah. Dan tak terasa, aku di rumah juga sudah mau sepekan, meski kadang terselip rasa bosan, tapi.. rasa bahagia juga nggak kalah besarnya.
Entah apa pula, yang sebenarnya aku cari di kehidupan ini. Aku belum tau.
Masih dengan keadaan yang sama, semakin kesini.. nafas ini semakin berat, ngos-ngosan dan kaki terasa panas, capek. Dan ya, aku sampai di puncak bukit, sekedar untuk menyendiri dan menikmati suasana sore, beserta Sun set sebentarlagi.
Jika musim hujan, posisi matahari berada di titik 45⁰ antara selatan dan barat. Beda dengan musim kemarau, matahari hampir lurus dengan arah barat. Dan saat langit sedang cerah, mata kita akan dimanjakan dengan siluet gunung Merapi serta di sebelah utaranya gunung Lawu. Gunung yang ingin aku daki, meski masih sebatas ingin. Entah kapan bisa ndaki, semoga waktu yang akan menemani.
Semakin sore, langit semakin menguning, keemasan dan memerah. Kata orang dulu, warna merah keemasan seperti itu namanya Candik Kolo, atau bisa di ejawantahkan kalau beberapa hari kedepan akan atau tidak turun hujan?. Entah benar atau tidak, orang Jawa sanggat teliti memandang dan mencerna keadaan, menandakan juga.. kita dulu pernah punya peradaban yang begitu maju, meski saat ini sudah mulai terlupakan, apalagi.. infasi kebudayaan luar dan apa-apa yang menurut sebagian orang adalah kebenaran dan kesempurnaan akhlak. Seolah, kita sendiri miskin moral dan tata nilai luhur dari budaya luar.
Kenapa bisa seperti itu, terpingirkan dan musnah, ya semua itu tidak lain karena generasi yang sudah di putus pemahamanya, mulai dari jenjang pendidikan dan budaya yang kian kesini kian di anak tirikan, hingga hilang jati diri dan miskin identitas, siapa dan darimana kita sesunguhnya.
Apalagi, narasi-narasi kebangsaan, nasionalisme.. hampir nggak laku di pasar kita sendiri. Entah akan seperti apa anak cucu kita nanti.
Entahlah, aku hanya bisa memikirkan.. tanpa bisa menyumbang apa-apa. Harapanku Cuma satu, hargailah senama kata Indonesia. Mungkin, kita yang sudah hidup dan nyaman di negeri ini akan biasa saja, tapi.. saat kita jauh dari rumah, jauh dari bumi pertiwi.. kamu akan merasakan kagen, sedih dan segala hal yang kadang, mendengar lagu Indonesia raya saja.. air mata bisa mengalir begitu derasanya. Kenapa, ya kita punya ikatan batin. Mangkanya, kalau ada apa-apa sama bangsa, sama Negara.. kita duluan yang tersakiti.
Dan bersamaan dengan itupula, mentari sudah padam diantara senja, tinggal semburat yang semakin lama semakin memudar. Gelap.
Untuk mala mini, mungkin juga masih malam yang nggak jauh beda dengan malam-malam yang sudah atau yang akan datang. Bedanya, malam ini aku nggak merasakan kedinginan, mungkin sudah mandi atau apa.. aku juga tidak tau.
Sehabis magrib, kita makan.
Makan ya makan saja, adapun pembicaraan ya seperlunya saja. Aku.. memang sering diam meski kepalaku nggak pernah diam. Mungkin juga, aku klan Introvert sekarang. Atau gimana.. aku juga nggak peduli, toh.. aku masih bisa bahagia dan nyaman dengan caraku sendiri.
Setelah makan aku naik, nonton Tv sekaligus nyari signal. Cek apa-apa kalau ada yang penting. Semacam pesan dari Rania yang kadang absurd, HRD yang kagang galau dan dia yang besok sudah minta di jemput di pertigaan sebelum jalan naik ke rumahku.
Haragh..
Mau apa juga ini anak, meski teman, atau apalah itu, kadang aku juga sebal kalau mengangu. Apalagi besok hari Jumat, hari yang nggak enak buat ngapa-ngapain, terasa lebih cepat ini hari dari hari yang lain. Lantas gw balas pesan dia.
“Katanya sabtu, emang besok nggak ngajar?”
“Nggak mas, mangkanya aku mau main.. awas nek nggak di jemput, marah aku..”
“La.. marah kok bilang bilang,”
“Hahaha, ya nggak tau.. pokoknya jemput”
“Iya..”
“Asik..”
“Mas..” lanjutnya.
“Apa..”
“Gpp..”
Dasar, perempuan.. jurus “Gpp” masih saja di pake. Bilang ae kalau lagi suka, lagi bahagia, lagi seneng, lagi nggak mod, kan enak. Jaim kok berseri-seri, suka bilang suka.. nggak bilang nggak gitu lo. Biar jelas bahasan-nya.
Karena capek atau apa, gw ketiduran.
***
Sayup-sayup, suara adzan subuh berkumandang, saling sahut bersahutan. Antara kampong ini dan kampong itu, antara rt ini dan rt sana. Sekarang, hampir setiap RT punya masjid dan mushola sendiri-sendiri.
Ada yang masih suka puji-pujian, sholawatan khas nusantara.. ada juga yang nggak puji-pujian dan nggak sholawatan, gara-gara.. dana restorasi masjid dari pihak luar?. Dan banyak dari jamahnya pecah, entah itu pindah masjid atau nggak lagi ke masjid, gara-gara segelintir takmir yang ingin atau memang berhaluan seperti itu. Sangat di sayangkan. Ya kalau dasarnya kuat nggak masalah, tapi.. kalau Cuma gara-gara yang renovasi dari pihakk luar.. apa iya, membirakan perpecahan.
Belum lagi pemahaman-pemahaman yang membuang budaya-budaya kekeluargaan, gotong-royong, hajatan, syukuran dan banyak lainya.. meski aku bukan siapa-siapa, melihat kenyataan itu jadi miris. Dan semakin kesini, orang-orang semi individualis. Untung, keluargaku masih seperti dulu, missal.. kalau panen melimpah.. ya syukuran dengan tumpeng, nyembelih ayam dan makan-makan. Pun kalau punya Sapi lahiran, ya syukuran lagi. Ah.. alangkah hangatnya budaya seperti ini. Tapi sekarang, banyak juga yang mencibir. Sampai titik dimana agama dijadikan sumber permasalahan dan perpecahan.
Kan janc*k..
Mondok kagak.. bikin aturan seenak jidat.
Dan aku masih ingat, kira-kira beberapa tahun yang lalu.. saat gelora gerakan subuh mengema dimana-mana, itu sudah masuk sampai pelosok desa, tapi apa.. setelah di kota di beredel kedoknya, pun sampai sepanduk di deket perumahan apartemenku di turunkan. Seketika itu lenyap entah kemana mereka-mereka yang mengelorakan itu.
Ya iya, masa masjid digunakan untuk tempat profokasi, kalau nggak gitu.. untuk menyusupkan narasi-narasi kebencian, yaw ajar kalau di beredel. Dan sekarang, gerakan itu sudah nggak ada baunya.
Memang, kadar kesensitifan orang-orang kita akan sangat tajam kalu sudah menyangkut agama. Meski dia bajingan, kalau sekiranya dia nggak cocok kepada seseorang.. maka dia akan jadi agamis.. semata-mata untuk dijadikan benteng seranganya. Sudah bukan rahasia umum pola-pola seperti itu.
Dan sampai disini, agama seolah hanya tempat berteduh dan tameng untuk sesuatu yang nyatanya kadang nggak bisa di nalar, atas nama kekerasan ataupun penghilangan hak-hak.
Semoga, orang-orang yang kita anggap waras, dan mereka yang kita harapkan mengcounter kebodohan, segera unjuk gigi. Biar kita yang kritis nggak di labeli anti agama, anti ini dan ati itu.
Sudah seharusnya, jika ada masalah keagamaan.. yang menyelesaikan juga yang memiliki wewenang, entah itu organisasi dengan organisasi, atau apalah itu. Biar nggak adalagi intimidasi dan gorengan maha koplak lainya. Terlalu riskan dan ngawur untuk di pandang dari sudut maapun apalagi dari sisi kemanusiaan.
Jauh.. bak bumi dan langit.
Bertolak belakang dengan jargon-jargon agama itu sendiri.
Hayo, kamu-kamu yang agamis moderat, waktunya unjuk gigi, biar yang salah dan nggak bener kelihatan salah dan ketidakbenaranya. Sudah cukup mereka memakan korban.
Jaga hati, jaga nurani dan jaga kewarasan.
tikusil dan i4munited memberi reputasi
4