- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
200.3K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#359
Part 42 - Klise
Putri berdiri didepan gue sambil megang kue cheesecake dengan hiasan lilin angka 16 diatasnya dengan api yang menyala. disebelah putri ada rico sama bobby lagi megang konfeti yang baru aja dinyalain dengan tampang cengengesannya kaya orang ga punya dosa. sementara itu ada nyokap bokapnya putri dibelakang, begitu pula dengan adeknya.
perasaan gue waktu itu campur aduk, mulai dari sisaan kesel tadi siang gara-gara pada langsung balik. apalagi putri yang gue ga tau balik bareng siapa. ditambah lagi kabar putri kecelakaan di hari spesia gue bikin pengen nampol komuknya bobby sama rico gara-gara boongin gue. untung bukan gue yang kecelakaan gara-gara buru-buru kerumah putri
ngeliat orang yang gue sayang ternyata ga kenapa-kenapa, malahan lagi ketawa-ketawa karena sukses ngasih kejutan buat gue bikin kaki gue lemes. gue langsung duduk dilantai karena masih ga percaya kalo abis dikerjain. gue nunduk sambil ngeliatin dengkul gue, tangan gue malah masih gemeteran kalo-kalo emang putri kenapa-kenapa.
jujur aja, gue ga pernah di surprisin sampe segininya. gue malah lebih suka kalo rico sama bobby langsung nodong gue buat minta traktiran dari pada harus diginiin. mau marah tapi gabisa, jadinya malah kesel sendiri. apalagi ini udah pasti atas persetujuan putri.
ngeliat gue yang terduduk, putri langsung naro kue ulang tahun di meja dan ngamperi gue, "Kenapa tre?"
mata gue bertatapan langsung dengan mata putri dengan jarak kurang dari sepuluh senti meter waktu dia nunduk ngeliatin gue. rambutnya ngejuntai hampir nutupin setengah mata kirinya, tapi buru-buru dia benerin waktu turun. dari wajah putri, gue bisa ngeliat kekhawatiran. gue yang awalnya khawatirin putri kenapa-kenapa malah jadi dikhawatirin balik.
entah reflek atau gimana, gue langsung peluk putri tanpa memperhatikan sekitar lagi. saat itu gue bahkan ga peduli kalau ada nyokap bokapnya ngeliatin. setidaknya gue bersyukur kalo ga terjadi apa-apa sama dia.
ada sekitar sepuluh detik gue meluk putri. gue dekap kepala putri di pundak gue, begitu pula gue yang berlindung di balik punggung dia, ga mau orang lain yang ada didepan gue ngeliat komuk gue sekarang. gue bahkan bisa ngerasain detak jantung putri langsung.
begitu sadar ada orang lain yang ngeliatin, gue langsung ngelepasin pelukan gue ke putri tanpa berani ngeliat putri secara langsung. gue langsung buang muka begitu putri ngambil jarak. putri sendiri ga langsung bangun begitu gue ngelepas pelukannya. kayanya dia juga masih shok waktu gue peluk
"Lo.... ga kenapa-kenapa kan?" tanya gue sambil berusaha untuk berani menatap kearah putri.
"gapapa kok tre..., tuh badan gue ga kenapa-kenapa." jawab putri dengan sedikit gelagapan.
ngedenger jawaban putri, gue langsung menatap putri dengan tatapan sinis. jujur aja, kalo misalkan rico yang dikabarin kecelakaan dan ternyata boongan, udah pasti langsung gue maki-maki tuh anak. tapi karena putri yang ngerjain, gue malah ga bisa marah. kesel doang sih sedikit
"becanda lo jelek." kata gue pura-pura ngambek.
tanpa gue duga, reaksi putri malah ketawa sambil bangun dari duduknya. satu hal yang selalu gue suka ketika putri ketawa adalah, dia selalu nutupin mulutnya, dan putri keliatan manis banget kalo kagi senyum sama setawa.
"lo juga dulu becandanya jelek, pake setan-setanan segala." sahut putri.
"tapi kan gue ga bawa-bawa kecelakaan."
"kalo kemaren gue jantungan gimana?"
"udah-udah, kamu ambil kuenya lagi gih sana." kata nyokapnya putri yang nyamperin untuk menyelesaikan perdebatan ga penting kita.
putri dateng lagi dengan kue ditangannya yang sebelumnya dia taro diatas meja. sementara itu orang-orang dibelakangnya nyuruh gue tiup lilin. apalagi bobby yang ngucapinnya paling semangat, dia mah emang paling semangat kalo soal makanan.
sebelum tiup lilin, gue sempet berdoa. bukan doa yang gimana-gimana sih. waktu itu gue cuman berharap kebersamaan gue dengan orang-orang terdekat gue bisa berlangsung lama.
setelah proses tiup lilin, selanjutnya adalah potong kue. gue ambil pisau plastik yang didapet satu paket dengan kuenya, kemudian gue potong perlahan sampe buntuk segi tiga.
potongan pertama tentu gue kasih ke putri. sesosok perempuan yang udah deket sama gue selama hampir satu tahun. putri adalah sosok yang spesial buat gue, meskipun bukan cinta pertama, tapi putri adalah perempuan pertama yang deket dan peduli dengan gue, tentunya selain nyokap dan kak vio. eh kalo kak vio peduli beneran ga ya
"sorry yaa tre udah bikin lo panik." kata putri dengan wajah sendunya waktu nerima piring pertama dari gue.
gue sendiri cuman bales putri dengan senyuman, abis itu ngelus-ngelus kepala putri pertanda kalo gue gapapa. kayanya itu pertama kalinya gue ngeelus kepalanya putri deh.
selanjutnya orang yang gue kasih adalah bokap nyokapnya putri, sambil cium tangan pastinya. maklum belum salam dari pertama kali dateng. bukannya apa-apa, tapi masa iya kaga gue kasih. apalagi abis meluk anaknya didepan mereka sendiri
nyokapnya putri cuman bilang terima kasih waktu gue kasih, sementara bokapnya putri ngasih wejangan-wejangan layaknya seorang ayah ke anak laki-lakinya. kaya belajar yang rajin, jangan bolos sekolah. sama satu hal yang selalu gue inget buat jagain putri.
setelah itu gue kasih ke si kerry adeknya putri, dia seneng banget waktu gue kasih rada gedean potongannya.
giliran ke rico sama bobby. duuuh sebenernya males banget gue ngasih ke ni dua mahkluk. kalo bukan karena temen deket, udah gue bentar satu-satu.
"Selamat yee cuuuy..." kata rico ngejulurin tangannya buat salaman sambil cengar-cengir.
"baik lo yee, kalo gue kenapa-kenapa dijalan gimane?" jawab gue ketus, tapi tetep ngebales jabat tangan dia.
"yeee, jangan salahin gue, gue mah cuman ngejalanin rencana
." sumpah ni anak kayanya puas banget ngerjain gue
"buruan dong tre, laper nih gue." saut si gendat tiba-tiba.
"lo lagi bob, bukannya ngasih selamat dulu atau apa kek gitu."
"yaelah tre, kaga ada iklas iklasnya lo. yaudah yee selamat."
emgna yee si gendat pikirannya makan mulu.
setelah semuanya kebagian kue, tinggal giliran gue yang belom kedapetan. sementara kue di meja masih ada setengah. sebenrnya gue niatnya mau motong sendiri, tapi tiba-tiba putri nyamperin gue terus ngasih potongan kue baru.
"nih tre buat lo." kata putri dengan sepotong kue diatas piring kertas.
"suapin put, suapin." teriak rico tiba-tiba.
"apaan sh lo elah." gerutu gue.
ngedenger omongan rico, putri cuman bisa senyum-senyum tanpa menatap kearah gue.
"makasih put...."
baru aja mau ngambil piring kuenya, tiba-tiba ditarik lagi sama putri. "gue suapin aja tre..."
karena gue emang ga curiga sama sekali, yaudah gue turutin aja maunya putri sambil nunggu dia nyuapin gue.
"tutup mata dulu." buset dah, nyuapin daong ribet banget
gue yang ga mau ribet cuman nurutin maunya putri tanpa nanya-nanya lagi.
gue udah buka mulut gue secukupnya biar bisa disuapin. lima detik kemudian, komuk gue berasa dingin. iya sih kerasa manis dari cheesecakenya, tapi kenapa manisnya kemuka-muka.
"WOY ANJIR...."
waktu gue buka mata, gue bisa ngeliat semuanya lagi ngetawain gue. rico ketawanya paling kenceng ngeliat komuk gue di templokin pake kue. udah pasti dia yang punya ide. putri ga mungkin tega templokin gue, si bobby? dia mah sibuk makan.
sejak saat itu gue punya dendam yang harus dibayak ke rico
sekitar jam sembilan, rico sama bobby udah balik kerumahnya masing-masing. tentu aja dengan catetan kalau gue harus neraktir mereka besok pas disekolah.
sebenernya mereka udah minta traktiran hari ini dengan janji ga ngasih tau kalo gue ulang tahun, tapi traktirannya dibanyakin. kalo traktiran besok dia bakalan ngasih tau satu kelas kalo gue ulang tahun. emang gue ga pernah omongin ulang tahun gue di kelas, jadi mungkin pada ga tau.
tapi gue ga percaya begitu aja, dari pada tuh dua orang minta jatah lagi besok mending sekalian aja sama yang lain.
gue sendiri lagi duduk di teras rumahnya putri. harusnya gue udah pulang dari beberapa menit yang lalu, tapi ditahan sama putri. katanya mau dikasih kado.
beberapa menit kemudian, putri keluar dengan satu bingkisan yang lumayan gede. waktu gue pegang setelah putri ngasih, gue bisa ngeduga-duga kalo barang itu adalah sweater atau hoodie. tapi gue ngerasa ada benda kecil padit didalemnya.
"gue buka yaa..." kata gue sambil angkat bingkisan yang dikasih putri.
"buka aja."
waktu gue buka, ternyata sesuai dengan dugaan gue. putri ngasih gue hoodie hitam. tapi gue baru sadar kalo didepannya ada logo slayer yang gambar burung elang dan pentagram. gue tau ini bukan barang murah bagi anak sma. apalagi waktu itu masih jarang toko online yang jualan barang palsu. ketau gue cuman ada satu toko yang terkenal di daerah kemang yang jual merch band luar, yaitu quickening.
satu barang lagi yang sangat spesial buat gue, putri ngasih gue pick bass yang udah dijadiin kalung. jadi gue ga perlu lagi nyari pick yang nyelip, dan gue bisa pake setiap saat.
"Suka ga?" tanya putri sambil menatap gue.
"baget."
"pake coba."
gue pake kalung pick bass yang dipake putri. "yang ini nanti aja yaa pakenya, males ngerapihin lagi." maksud gue hoodienya. putri cuman bisa ketawa gue ngomong begitu.
selama beberapa saat, ga ada yang ngomong sama sekali dari kita berdua. gue kuga bingung harus ngomong apa. sempet mau nembak putri tapi masih bimmbang. akhirnya terlintas satu hal yang bikin gue penasaran.
"tadi siang balik bareng siapa put?"
putri ga langsung jawab, tapi malah ngeliatin gue dengan tatapan jail. "Kenapa? cemburu yaaaa?" goda putri.
"hah? cemburu? enggak kok, biasa aja." kata gue berusaha nutupi salah tingkah gue.
"bukan siapa-siapa kok, cuman tukang ojek."
"ooooo...."
"Tre..."
"hhmmm...."
"kalau misalkan gue jadian sama orang gimana?"
"Yaaa jangan lah." sumpah, tuh kata-kata langsung keluar begitu aja dari mulut gue.
"emang kenapa?"
"yaaa.... yaaaa, yaaa masa iya sih gue harus ngasih tau sesuatu yang lo udah tau."
"kenapa lo ga pernah minta tre? gue kira lo lagi suka sama seseorang."
"emang."
putri langsung ngeliat gue dengan tatapan shok "Siapa tre?"
gue bales tatapan mata putri. "harus banget gue ngasih tau orangnya ke lo yang udah jelas siapa orangnya?"
"tapi kenapa tre? lo tinggal minta doang, pasti gue terima."
gue menghela nafas sejenak sebelum ngelanjutin ngomong. "gue takut put."
"takut kenapa?"
"gue takut kalo semuanya bakal berubah secara mendadak aja. mungkin lo bisa bilang gue terlalu idealis. tapi gue belom siap sama perubahan itu. lo bisa aja jadi protektif begitu juga sebaliknya, yang bikin hubungan kita ga nyaman. apa lagi gue belom pernah pacaran sebelumnya, gue cuman takut aja put."
"lo bisa buang semua takut lo dan percaya ke gue, begitu juga gue yang percaya ke lo." mata putri sedikit berkaca-kaca waktu ngomong kaya begitu.
"put, satu hal yang lo harus tau, gue sayang sama lo. dengan lo ngebales perasaan gue dengan perhatian lo selama ini aja gue udah cukup." ANJIR, keceplosan lagi. itu jatohnya udah nembak apa belom yaaa
kalo diinget-inget kejadian itu, kata-kata gue lebih mirip kaya seorang bajingan biar bisa seneng-seneng sama wanita lain. tapi kenyataannya, buat gue ga ada wanita lain selain putri.
ngedenger penjelasan gue, putri sedikit lebih tenang dari sebelumnya. mungkin karena gue udah utarain perasaan gue secara langsung meskipun belum minta dia jadi pacar gue.
"Tre, gue boleh senderan di pundah lo ga?"
gue ga jawab pertanyaan putri dengan kalimat, melainkan dengan sekedar anggukan.
selama beberapa saat, gue berharap kalo sikap putri masih seperti biasanya ke gue. dan gue juga berharap malam-malam seperti ini akan terus hadir dikehidupan gue. dimana gue bisa berduaan bareng putri.
Putri berdiri didepan gue sambil megang kue cheesecake dengan hiasan lilin angka 16 diatasnya dengan api yang menyala. disebelah putri ada rico sama bobby lagi megang konfeti yang baru aja dinyalain dengan tampang cengengesannya kaya orang ga punya dosa. sementara itu ada nyokap bokapnya putri dibelakang, begitu pula dengan adeknya.
perasaan gue waktu itu campur aduk, mulai dari sisaan kesel tadi siang gara-gara pada langsung balik. apalagi putri yang gue ga tau balik bareng siapa. ditambah lagi kabar putri kecelakaan di hari spesia gue bikin pengen nampol komuknya bobby sama rico gara-gara boongin gue. untung bukan gue yang kecelakaan gara-gara buru-buru kerumah putri
ngeliat orang yang gue sayang ternyata ga kenapa-kenapa, malahan lagi ketawa-ketawa karena sukses ngasih kejutan buat gue bikin kaki gue lemes. gue langsung duduk dilantai karena masih ga percaya kalo abis dikerjain. gue nunduk sambil ngeliatin dengkul gue, tangan gue malah masih gemeteran kalo-kalo emang putri kenapa-kenapa.
jujur aja, gue ga pernah di surprisin sampe segininya. gue malah lebih suka kalo rico sama bobby langsung nodong gue buat minta traktiran dari pada harus diginiin. mau marah tapi gabisa, jadinya malah kesel sendiri. apalagi ini udah pasti atas persetujuan putri.
ngeliat gue yang terduduk, putri langsung naro kue ulang tahun di meja dan ngamperi gue, "Kenapa tre?"
mata gue bertatapan langsung dengan mata putri dengan jarak kurang dari sepuluh senti meter waktu dia nunduk ngeliatin gue. rambutnya ngejuntai hampir nutupin setengah mata kirinya, tapi buru-buru dia benerin waktu turun. dari wajah putri, gue bisa ngeliat kekhawatiran. gue yang awalnya khawatirin putri kenapa-kenapa malah jadi dikhawatirin balik.
entah reflek atau gimana, gue langsung peluk putri tanpa memperhatikan sekitar lagi. saat itu gue bahkan ga peduli kalau ada nyokap bokapnya ngeliatin. setidaknya gue bersyukur kalo ga terjadi apa-apa sama dia.
ada sekitar sepuluh detik gue meluk putri. gue dekap kepala putri di pundak gue, begitu pula gue yang berlindung di balik punggung dia, ga mau orang lain yang ada didepan gue ngeliat komuk gue sekarang. gue bahkan bisa ngerasain detak jantung putri langsung.
begitu sadar ada orang lain yang ngeliatin, gue langsung ngelepasin pelukan gue ke putri tanpa berani ngeliat putri secara langsung. gue langsung buang muka begitu putri ngambil jarak. putri sendiri ga langsung bangun begitu gue ngelepas pelukannya. kayanya dia juga masih shok waktu gue peluk
"Lo.... ga kenapa-kenapa kan?" tanya gue sambil berusaha untuk berani menatap kearah putri.
"gapapa kok tre..., tuh badan gue ga kenapa-kenapa." jawab putri dengan sedikit gelagapan.
ngedenger jawaban putri, gue langsung menatap putri dengan tatapan sinis. jujur aja, kalo misalkan rico yang dikabarin kecelakaan dan ternyata boongan, udah pasti langsung gue maki-maki tuh anak. tapi karena putri yang ngerjain, gue malah ga bisa marah. kesel doang sih sedikit
"becanda lo jelek." kata gue pura-pura ngambek.
tanpa gue duga, reaksi putri malah ketawa sambil bangun dari duduknya. satu hal yang selalu gue suka ketika putri ketawa adalah, dia selalu nutupin mulutnya, dan putri keliatan manis banget kalo kagi senyum sama setawa.
"lo juga dulu becandanya jelek, pake setan-setanan segala." sahut putri.
"tapi kan gue ga bawa-bawa kecelakaan."
"kalo kemaren gue jantungan gimana?"
"udah-udah, kamu ambil kuenya lagi gih sana." kata nyokapnya putri yang nyamperin untuk menyelesaikan perdebatan ga penting kita.
putri dateng lagi dengan kue ditangannya yang sebelumnya dia taro diatas meja. sementara itu orang-orang dibelakangnya nyuruh gue tiup lilin. apalagi bobby yang ngucapinnya paling semangat, dia mah emang paling semangat kalo soal makanan.
sebelum tiup lilin, gue sempet berdoa. bukan doa yang gimana-gimana sih. waktu itu gue cuman berharap kebersamaan gue dengan orang-orang terdekat gue bisa berlangsung lama.
setelah proses tiup lilin, selanjutnya adalah potong kue. gue ambil pisau plastik yang didapet satu paket dengan kuenya, kemudian gue potong perlahan sampe buntuk segi tiga.
potongan pertama tentu gue kasih ke putri. sesosok perempuan yang udah deket sama gue selama hampir satu tahun. putri adalah sosok yang spesial buat gue, meskipun bukan cinta pertama, tapi putri adalah perempuan pertama yang deket dan peduli dengan gue, tentunya selain nyokap dan kak vio. eh kalo kak vio peduli beneran ga ya
"sorry yaa tre udah bikin lo panik." kata putri dengan wajah sendunya waktu nerima piring pertama dari gue.
gue sendiri cuman bales putri dengan senyuman, abis itu ngelus-ngelus kepala putri pertanda kalo gue gapapa. kayanya itu pertama kalinya gue ngeelus kepalanya putri deh.
selanjutnya orang yang gue kasih adalah bokap nyokapnya putri, sambil cium tangan pastinya. maklum belum salam dari pertama kali dateng. bukannya apa-apa, tapi masa iya kaga gue kasih. apalagi abis meluk anaknya didepan mereka sendiri
nyokapnya putri cuman bilang terima kasih waktu gue kasih, sementara bokapnya putri ngasih wejangan-wejangan layaknya seorang ayah ke anak laki-lakinya. kaya belajar yang rajin, jangan bolos sekolah. sama satu hal yang selalu gue inget buat jagain putri.
setelah itu gue kasih ke si kerry adeknya putri, dia seneng banget waktu gue kasih rada gedean potongannya.
giliran ke rico sama bobby. duuuh sebenernya males banget gue ngasih ke ni dua mahkluk. kalo bukan karena temen deket, udah gue bentar satu-satu.
"Selamat yee cuuuy..." kata rico ngejulurin tangannya buat salaman sambil cengar-cengir.
"baik lo yee, kalo gue kenapa-kenapa dijalan gimane?" jawab gue ketus, tapi tetep ngebales jabat tangan dia.
"yeee, jangan salahin gue, gue mah cuman ngejalanin rencana
." sumpah ni anak kayanya puas banget ngerjain gue"buruan dong tre, laper nih gue." saut si gendat tiba-tiba.
"lo lagi bob, bukannya ngasih selamat dulu atau apa kek gitu."
"yaelah tre, kaga ada iklas iklasnya lo. yaudah yee selamat."
emgna yee si gendat pikirannya makan mulu.
setelah semuanya kebagian kue, tinggal giliran gue yang belom kedapetan. sementara kue di meja masih ada setengah. sebenrnya gue niatnya mau motong sendiri, tapi tiba-tiba putri nyamperin gue terus ngasih potongan kue baru.
"nih tre buat lo." kata putri dengan sepotong kue diatas piring kertas.
"suapin put, suapin." teriak rico tiba-tiba.
"apaan sh lo elah." gerutu gue.
ngedenger omongan rico, putri cuman bisa senyum-senyum tanpa menatap kearah gue.
"makasih put...."
baru aja mau ngambil piring kuenya, tiba-tiba ditarik lagi sama putri. "gue suapin aja tre..."
karena gue emang ga curiga sama sekali, yaudah gue turutin aja maunya putri sambil nunggu dia nyuapin gue.
"tutup mata dulu." buset dah, nyuapin daong ribet banget
gue yang ga mau ribet cuman nurutin maunya putri tanpa nanya-nanya lagi.gue udah buka mulut gue secukupnya biar bisa disuapin. lima detik kemudian, komuk gue berasa dingin. iya sih kerasa manis dari cheesecakenya, tapi kenapa manisnya kemuka-muka.
"WOY ANJIR...."
waktu gue buka mata, gue bisa ngeliat semuanya lagi ngetawain gue. rico ketawanya paling kenceng ngeliat komuk gue di templokin pake kue. udah pasti dia yang punya ide. putri ga mungkin tega templokin gue, si bobby? dia mah sibuk makan.
sejak saat itu gue punya dendam yang harus dibayak ke rico
*****
sekitar jam sembilan, rico sama bobby udah balik kerumahnya masing-masing. tentu aja dengan catetan kalau gue harus neraktir mereka besok pas disekolah.
sebenernya mereka udah minta traktiran hari ini dengan janji ga ngasih tau kalo gue ulang tahun, tapi traktirannya dibanyakin. kalo traktiran besok dia bakalan ngasih tau satu kelas kalo gue ulang tahun. emang gue ga pernah omongin ulang tahun gue di kelas, jadi mungkin pada ga tau.
tapi gue ga percaya begitu aja, dari pada tuh dua orang minta jatah lagi besok mending sekalian aja sama yang lain.
gue sendiri lagi duduk di teras rumahnya putri. harusnya gue udah pulang dari beberapa menit yang lalu, tapi ditahan sama putri. katanya mau dikasih kado.
beberapa menit kemudian, putri keluar dengan satu bingkisan yang lumayan gede. waktu gue pegang setelah putri ngasih, gue bisa ngeduga-duga kalo barang itu adalah sweater atau hoodie. tapi gue ngerasa ada benda kecil padit didalemnya.
"gue buka yaa..." kata gue sambil angkat bingkisan yang dikasih putri.
"buka aja."
waktu gue buka, ternyata sesuai dengan dugaan gue. putri ngasih gue hoodie hitam. tapi gue baru sadar kalo didepannya ada logo slayer yang gambar burung elang dan pentagram. gue tau ini bukan barang murah bagi anak sma. apalagi waktu itu masih jarang toko online yang jualan barang palsu. ketau gue cuman ada satu toko yang terkenal di daerah kemang yang jual merch band luar, yaitu quickening.
satu barang lagi yang sangat spesial buat gue, putri ngasih gue pick bass yang udah dijadiin kalung. jadi gue ga perlu lagi nyari pick yang nyelip, dan gue bisa pake setiap saat.
"Suka ga?" tanya putri sambil menatap gue.
"baget."
"pake coba."
gue pake kalung pick bass yang dipake putri. "yang ini nanti aja yaa pakenya, males ngerapihin lagi." maksud gue hoodienya. putri cuman bisa ketawa gue ngomong begitu.
selama beberapa saat, ga ada yang ngomong sama sekali dari kita berdua. gue kuga bingung harus ngomong apa. sempet mau nembak putri tapi masih bimmbang. akhirnya terlintas satu hal yang bikin gue penasaran.
"tadi siang balik bareng siapa put?"
putri ga langsung jawab, tapi malah ngeliatin gue dengan tatapan jail. "Kenapa? cemburu yaaaa?" goda putri.
"hah? cemburu? enggak kok, biasa aja." kata gue berusaha nutupi salah tingkah gue.
"bukan siapa-siapa kok, cuman tukang ojek."
"ooooo...."
"Tre..."
"hhmmm...."
"kalau misalkan gue jadian sama orang gimana?"
"Yaaa jangan lah." sumpah, tuh kata-kata langsung keluar begitu aja dari mulut gue.
"emang kenapa?"
"yaaa.... yaaaa, yaaa masa iya sih gue harus ngasih tau sesuatu yang lo udah tau."
"kenapa lo ga pernah minta tre? gue kira lo lagi suka sama seseorang."
"emang."
putri langsung ngeliat gue dengan tatapan shok "Siapa tre?"
gue bales tatapan mata putri. "harus banget gue ngasih tau orangnya ke lo yang udah jelas siapa orangnya?"
"tapi kenapa tre? lo tinggal minta doang, pasti gue terima."
gue menghela nafas sejenak sebelum ngelanjutin ngomong. "gue takut put."
"takut kenapa?"
"gue takut kalo semuanya bakal berubah secara mendadak aja. mungkin lo bisa bilang gue terlalu idealis. tapi gue belom siap sama perubahan itu. lo bisa aja jadi protektif begitu juga sebaliknya, yang bikin hubungan kita ga nyaman. apa lagi gue belom pernah pacaran sebelumnya, gue cuman takut aja put."
"lo bisa buang semua takut lo dan percaya ke gue, begitu juga gue yang percaya ke lo." mata putri sedikit berkaca-kaca waktu ngomong kaya begitu.
"put, satu hal yang lo harus tau, gue sayang sama lo. dengan lo ngebales perasaan gue dengan perhatian lo selama ini aja gue udah cukup." ANJIR, keceplosan lagi. itu jatohnya udah nembak apa belom yaaa

kalo diinget-inget kejadian itu, kata-kata gue lebih mirip kaya seorang bajingan biar bisa seneng-seneng sama wanita lain. tapi kenyataannya, buat gue ga ada wanita lain selain putri.
ngedenger penjelasan gue, putri sedikit lebih tenang dari sebelumnya. mungkin karena gue udah utarain perasaan gue secara langsung meskipun belum minta dia jadi pacar gue.
"Tre, gue boleh senderan di pundah lo ga?"
gue ga jawab pertanyaan putri dengan kalimat, melainkan dengan sekedar anggukan.
selama beberapa saat, gue berharap kalo sikap putri masih seperti biasanya ke gue. dan gue juga berharap malam-malam seperti ini akan terus hadir dikehidupan gue. dimana gue bisa berduaan bareng putri.
mmuji1575 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Tutup