- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.8K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#5
Chapter 4 : A Bargain
Spoiler for :
Pyotr Titov menghela nafas saat melihat layar sonar dalam kapal selam Rusia SS Colossus. Sebelum pembantaian manusia besar-besaran ini terjadi, yang disebut oleh dunia sebagai wabah Undead, dia adalah sebuah juru kemudi sebuah kapal perang. Sebuah karir yang diyakininya akan membawanya nanti, mungkin sebuah kapal perang miliknya pribadi suatu hari nanti. Ayahnya adalah seorang komandan angkatan laut dengan reputasi yang tidak bisa dibilang kecil, yang sangat bangga ketika anaknya lulus dari akademi, dan telah berjanji akan membelikan sebuah rumah untuknya jika ia menikah nanti. Bukan hadiah yang kecil, meskipun ayahnya mendapat julukan sebagai orang yang sangat pelit.
Namun, sekarang, mimpi-mimpi itu seolah lenyap. Kini ia berada di dalam kapal selam yang lembab dan suram, mengawasi kapal Amerika apapun yang mencoba untuk kabur dari Tanah Pemakaman, nama baru yang diberikan kepada dulu yang disebut United States of Amerika.
Setelah semuanya yakin bahwa zombie hanya berasal dari penduduk U.S., para sekutu mulai membentuk barikade di sekitar wilayah negara tersebut. Wabah itu harus di cegah dengan cara apapun, meskipun harus meledakkan kapal yang penuh berisi warga sipil yang tak bersalah.
Pada hari-hari awal pembantaian massal ini terjadi, lautan dipenuhi oleh kapal-kapal yang berasal dari Amerika, merasa putus asa untuk kabur dari serangan undead. Mereka memohon kepada negara lain, menawarkan makanan, barang berharga, dan pelayanan yang tidak layak untuk disebutkan. Meskipun kapal mereka telah terbakar dan mulai tenggelam, mereka tetap memohon, sambil menyaksikan anggota keluarga mereka tewas di depan mata mereka sendiri. Pada awalnya, hal tersebut menggugah hati para prajurit yang ditugaskan untuk melakukannya. Namun langkah drastis harus dilakukan ketika banyak anggota angkatan laut yang memutuskan untuk bunuh diri di dalam kapal karena tekanan batin yang mereka alami.
Terkadang, hanya dengan menenggelamkan kapal-kapal itu tidaklah cukup. Entah bagaimana, setiap warga Amerika membawa bibit virus zombie di dalam tubuh mereka, yang menggiring opini bahwa mereka terkena virus dari sumber air yang mungkin telah terkontaminasi. Bagaimanapun caranya, hasilnya akan tetap selalu sama. Jika tidak ditembak tepat di kepala, setiap warga Amerika akan kembali sebagai salah satu dari 'mereka'. Tidak lama lagi dasar lautan akan dipenuhi oleh zombie, jutaan zombie, dan mereka semua berjalan ke arah yang sama. .
Tempat dimana mereka dapat melakukan pembantaian besar-besaran.
Sekali lagi, keputusan harus sudah dibuat. Ranjau darat telah diletakkan di dasar lautan, dan kapal-kapal perang tidak pernah meninggalkan pelabuhan tanpa terisi penuh dengan senjata bawah air.
Para penyelam pun dilapisi dengan plat besi, untuk melindungi mereka saat mereka menyelam diantara zombie, membunuh sebanyak yang mereka bisa, sebelum oksigen di dalam tangki habis.
Meskipun sudah dapat dimaklumi setelah terdengar suara ledakan yang samar, sedikit membuat Pyotr khawatir. Tapi setelah ada bunyi ping di radar sonar, menandakan adanya benda di atas permukaan laut, ia pun terkesiap. "Kapten!" serunya.
Sang Kapten kapal, seorang pria dengan wajah yang sedang menunjukkan rasa bosan, bernama Stepan Federov, berjalan menuju ruang kemudi. Sudah banyak dari para pelaut yang harus menelan pil pahit rasa bersalah mereka, karena telah membunuh banyak keluarga yang tak bersalah, dan berakhir seperti para pendahulu mereka. Berakhir dengan peluru yang bersarang di kepala. Untuk orang seperti Stepan dan Pyotr, hal itu hanyalah sebuah bagian dari tugas. Melihat kapal-kapal lain yang mereka tenggelamkan, seperti melihat sebuah sarang tawon yang hancur.
Kapten kapal lalu memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan periskop. Ia lalu melihat di permukaan, dan benar aaja. Terdapat sebuah kapal laut yang berisi wanita, anak-anak, dan beberapa orang manula. Mereka mengenakan baju kumal yang lebih mirip seperti kain keset, dan terlihat beberapa koper dan tas besar yang mungkin berisi barang-barang kebutuhan. Stepan sering menemukan mayat orang yang sudah mati dalam tas-tas besar itu daripada baju atau makanan. Tapi tidak sedikit juga yang membawa uang dan perhiasan, mencoba untuk membeli sebuah kebebasan.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan sedih, seolah membiarkan dirinya untuk merasa kasihan pada mereka yang akan segera mati. "Dasar orang Amerika bodoh," ucapnya, moment rasa sedih pun hilang seketika. "Mengapa mereka tidak mati saja di tempat asal mereka, jadi tidak harus merepotkan kami."
"Kemungkinan mereka tidak ingin berubah menjadi monster tanpa jiwa, yqng membuat mereka kabur menuju lautan." Ucap Alexander, seorang komandan kapal.
Stepan menggelengkan lagi kepalanya, kali ini dengan rasa sebal. "Kalau begitu mereka bisa menembak diri mereka sendiri di kepala, dan dengan begitu dapat menjauhkan kita dari masalah."
"Kapten..." Ucap Pyotr, dengan nada yang meninggi.
"Ya, ya." Jawab Stepan, sambil melambaikan tangannya. "Helm, bawa kita ke permukaan. Ruang torpedo, bersiap untuk menembak."
Suara jawaban tanda perintah siap dilaksanakan terdengar melalui intercom, saat sang kapten tengah melihat melalui periskop. Memastikan bahwa kapal-kapal itu tepat berada di jalur tembak. Lebih dari sekali, kapal selam itu salah menembak, karena mengira kapal yang mereka tembak adalah kapal patroli, dan bukan kapal dari Amerika.
Tetapi kali ini takkan ada kesalahan. Kapal itu mirip seperti perahu yang telah usang, lebih cocok untuk disimpan di museum daripada harus berada di laut. Perahu itu menghembuskan asap hitamnya ke langit pagi yang kelabu. Pelat yang menutupi badan kapal sudah berkarat dan rusak disana-sini. Jika keadaan itu bukan merupakan bahaya bagi para penumpangnya, mungkin akan menjadi pertaruhan yang menarik, apakah perahu itu dapat berhasil mendarat atau tidak.
"Sayang sekali." Ucap sang kapten. "Aku bertaruh kapal itu akan tenggelam kali ini."
"Kapten?" Tanya Alexander.
Namun Stepan tidak dapat mendengarnya, pikirannya tertuju kepada perahu penumpang yang sudah usang itu. Ada sekitar tiga puluh orang disana. Pakaian mereka kumal dan basah, sepertinya mereka sudah tidak pernah mandi selama beberapa hari. Kebanyakan dari mereka mengenakan topeng penolakan dan kesedihan, namun beberapa dari mereka, yang kebanyakan anak-anak, menyiratkan senyum yang penuh pengharapan. Penuh rasa percaya bahwa orang tua mereka akan tetap menjaga diri mereka dalam rasa aman. Sungguh indah jika kau memiliki mimpi.
Sang Kapten baru saja akan memberi perintah untuk melakukan penembakan, ketua ia melihat salah satu dari penumpang mengibarkan bendera putih. Biasanya tanda itu menunjukkan bahwa mereka telah menyerah, tetapi dalam kondisi ini juga menunjukkan tanda bahwa mereka ingin melakukan negosiasi. Stephan lalu memerintahkan juru kemudi untuk naik ke permukaan dan membuka palka. Ia tahu hai ini tidak akan pernah mudah, tapi rasa kemanusiaannya tiba-tiba muncul.
Orang yang melambaikan bendera putih itu adalah seorang wanita, yang berusia sekitar empat puluh tahun, memanggil sang kapten untuk mendekat. Stepan lalu memerintahkan juru kemudi untuk mendekat ke samping perahu tersebut, berharap ia berada di tempat lain dan bukan disini. Menenggelamkan sebuah kapal warga sipil yang tidak bersalah adalah hal sulit baginya. Pada kasus ini, memerintahkan perahu yang berisi wanita, anak-anak, dan orang tua untuk berlayar menjauh atau ditembak, adalah seperti menancapkan pisau tumpul pada jantungnya.
Melihat ekspresi memohon yang ditunjukkan oleh wajah mereka, sang kapten pun mencoba untuk tetap bersikap tegar. "Maafkan saya. Tapi kapal-kapal Amerika dilarang berlayar di perairan ini. Kalian diharuskan untuk berputar arah secepatnya. Kami akan memberikan pengawalan agar tidak ada kapal selam lain yang akan menenggelamkan kapal kalian. Kalian tidak diterima untuk memasuki perairan ini, sekali lagi maafkan saya."
"Kami tidak dapat kembali pulang." Kata wanita yang tadi melambaikan bendera putih. "Kau tidak tahu seperti apa rasanya. Kami tidak dapat tidur selama berhari-hari, kami juga kekurangan makanan. Aku harus menembak kepala suamiku ketika ia tergigit. Putra ku, dia..." Tangis dari wanita itu pun pecah, ia menangis sesegukan.
"Jika kami mengizinkan anda untuk mendarat di pantai kami, kalian hanya akan membawa wabah itu kesini." Kata Stepan mencoba untuk tetap tegas. "Bahkan meskipun kalian tidak terkena gigitan, tapi virus itu sudah bersarang di dalam tubuh kalian. Masih Ingatkah kalian pada apa yang telah terjadi di Irlandia?"
Stepan mengingat kembali pada apa yang terjadi di Irlandia. Dengan keinginan untuk menyelamatkan para penduduk Amerika, mereka membuka pos perbatasan agar para pengungsi yang merupakan warga Amerika untuk dapat masuk. Meyakinkan diri mereka sendiri bawa mereka akan berhasil menyelamatkan para pengungsi, dan mencegah wabah itu menyebar.
Hanya butuh kurang lebih tiga jam untuk negara itu hancur. Semua penduduknya mati mengenaskan menjadi santapan segar para makhluk jahanam.
Stepan menyaksikan melalui televisi saat beberapa rudal nuklir lintas benua diluncurkan dari negaranya. Menghabisi seluruh penduduk di negara itu dan penduduk pulau-pulau kecil disekitanya. Termasuk juga saudara laki-laki nya yang ikut menjadi korban yang saat itu bertugas di palang merah internasional. Ia bertugas menjadi sukarelawan untuk menolong para korban. Tidak sehari pun bagi Stepan yang terlewatkan tanpa meneteskan air mata, mengharapkan pertolongan tuhan agar dapat menyelamatkan nyawa adiknya. Semua itu masih teringat jelas dalam ingatannya, seperti baru saja terjadi kemarin.
Tanpa ragu-ragu, wanita itu menyerahkan sebuah keranjang kecil yang didalam ya berisikan uang, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya. Federov bahkan sempat melihat sebuah salib yang terbuat dari emas dan bertahtakan permata, yang dapat dipastikan benda itu adalah warisan keluarga yang tidak dapat dinilai harganya. Bukan kali pertama Stepan ditawari benda berharga semacam ini agar mereka dapat berlabuh dengan aman, meskipun ia sempat terkejut bahwa kapten dari kapal usang ini belum merampok para penumpangnya. Bagi sebagian orang, kejadian seperti pembunuhan massal oleh monster ini merupakan salah satu cara yang mudah dan cepat untuk memperkaya diri.
Stepan mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, tapi perintah dari saya sudah jelas. Jika anda tidak berputar arah dan pergi sekarang juga, saya terpaksa akan memerintahkan anak buah saya untuk menenggelamkan kapal anda."
Wanita itu pun menjatuhkan keranjang yang berisi barang berharga, lalu pergi kedalam kapal seperti sedang mencari sesuatu. Stepan berpikir bahwa wanita itu akan menyogoknya dengan penawaran lain. Tapi yang terjadi malah mengejutkan dirinya.
Bukan berupa uang ataupun perhiasan, tapi wanita itu membawa seorang anak kecil, berusia tiga tahun, sedang meringkuk dalam sebuah selimut di dalam keranjang bayi. Dengan tatapan pasrah, wanita itu berkata. "Kalau begitu tolong bawalah bayi kecilku ini. Dia berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ini. Tolonglah..."
Moment rasa kasihan kepada para pengungsi menyentuh hati kapten berkali-kali lipat. Ia sendiri memiliki dua orang anak, dan Stephan juga telah mengalami keadaan dimana ia tidak dapat tidur selama berhari-hari. Memikirkan apa yang dapat ia lakukan untuk anak-anaknya jika saja wabah ini sampai menyebar di negaranya.
Bayi perempuan mungil itu tersenyum senang, lalu tertawa saat mengetahui ibunya sedang menggendongnya. Senang sekali rasanya, pikir Stepan, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada dunia ini. Seperti sebuah pepatah Amerika lama yang mengatakan, ketidaktahuan adalah kebahagiaan.
Menerima barang hasil menyogok dapat dikenakan hukuman berat di pengadilan militer. Membawa masuk anak kecil dari 'tanah pemakaman' ke dalam negaranya? Stepan mengusap lehernya, membayangkan apa yang terjadi padanya jika ia ketahuan melakukan kejahatan seperti itu.
Wanita itu tetap menggendongnya bayinya sambil menangis meraung-raung. Stepan tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain meraih bayi mungil itu.
Saat ia mendekat, ia menyadari ada benjolan aneh pada kedua kaki bayi itu. Ia dapat mendengar suara rendah besi yang beradu, yang ia sadari bahwa itu adalah suara rantai. Kedua tangan dan kaki bayi itu terikat. Stepan dapat melihat bulir-bulir besar keringat dari dahi bayi itu, kulitnya pun pucat, dengan urat biru yang terlihat menonjol. Bayi perempuan itu telah terkena infeksi, tidak seperti lainnya yang di dalam tubuhnya telah mengandung virus, tapi bayi perempuan ini lain. Ia telah terkena gigitan.
Dengan melihat raut muka ketakutan dari wajah sang kapten kapal, wanita itu sadar bahwa usahanya sia-sia. Tanpa ragu wanita itu melemparkan bayinya yang malang ke laut, rantai yang mengikat kedua kaki dan tangannya dengan cepat menarik bayi itu tenggelam ke dasar laut. Wanita itu lalu meraih kedalam pakaian yang dikenakan, lalu dengan cepat mengeluarkan sebuah pistol yang berukuran kecil, lalu menodongkannya kearah sang kapten. Penumpang kapal yang lain pun juga ikut menodongkan senjata mereka masing-masing. Hanya dalam sekejap, Stepan Federov, tewas seketika, dengan tubuh yang berlubang ditembus oleh peluru-peluru panas.
Tanpa membuang waktu, para pengungsi itu berkerumun untuk masuk kedalam kapal selam SS Colossus melalui lubang palka. Para kru kapal selam, tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Mereka pun terbunuh dengan cepat oleh para penduduk Amerika yang bersenjata.
Di dalam kapal, Pyotr telah menutup ruang kemudi dan tengah bersiap untuk melakukan penyelaman. Suara ledakan lalu terdengar dan pintu pun hancur oleh peledak plastik rakitan. Pyotr dengan sigap mengeluarkan senjatanya dan bersiap untuk melakukan tembakan, ketika ia terjatuh dan terdorong ke belakang oleh sebuah ledakan peluru shotgun. Ia terjatuh ke lantai yang dingin, dan sempat menatap ke arah dua orang anak kecil berusia sekitar dua belas tahun yang memegang senjata shotgun. Dari mata mereka terpancar tatapan yang penuh kebencian.
Teriakan kemenangan para pengungsi seketika berubah menjadi tangisan kematian. Kapal selam itu telah berangsur-angsur tenggelam dengan perlahan. Kecerobohan mereka karena terburu-buru masuk ke dalam kapal selam, tapi tidak ada satupun yang peduli untuk menutup pintu palka nya kembali. Air asin dengan cepat memenuhi kapal. Hanya dalam beberapa menit, seluruh ruangan telah dipenuhi dengan air. Dengan cepat, kapal selam itu menyentuh dasar lautan.
Hanya untuk sesaat, hanya terdengar kesunyian. Terdengar samar suara teriakan dari dalam air, suara mereka yang tenggelam, dan suara gelembung. Tidak salah lagi.
Erangan.
Dasar laut, yang kita kenal tenang dan damai, kini berubah menjadi ramai dipenuhi oleh ribuan zombie, para pengungsi yang tenggelam seperti yang terjadi pada SS Colossus. Para pasukan kematian itu pun menuju ke arah kapal yang baru saja tenggelam, mereka berkerumun menjadi satu dan masuk kedalam kapal. Ketiadaan udara dan suhu yang membeku tidak membuat mereka berhenti untuk melakukan apa yang sudah menjadi di dalam diri mereka.
Air di dalam kapal seketika berubah menjadi merah, saat para undead dengan keji mengoyak-oyak korbannya. Dalam beberapa menit, hanya terlihat potongan baju dan tulang-belulang para korban. Sebuah tempat penanda kematian para kru SS Colossus.
Salah satu zombie, seorang bayi berusia tiga tahun yang tertutup selimut, seolah sedang tersenyum, sambil mengunyah wajah ibunya dengan tenang.
kudo.vicious dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas