- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#3
Dengan malas, aku coba membuka mata.. mulai udara yang sudah mendingin dan sappan samar.. yang aku tau itu adalah Bapak.
“Jam berapa mas, dateng,”
Dan ya, itu Bapak. Sesosok tua yang halus sikap dan tutur katanya, meski.. saat aku kecil suka ringan tangan. Tapi sekarang, semakin menunduk laksana padi, entah ke anaknya atau ke orang lain. Satu yang aku kagumi sekaligus aku nggak suka dari Bapak, “neriman” yang bisa diartikan, sebuah sikap yang selalu menerima, apapun dan bagaimanapun kehidupan berjalan.
Dan secara nalar, kadang aku mikir.. orang yang banyak menerima, hanya akan jadi gedibal mereka-mereka yang haus akan dunia, kalau dasarnya nggak kuat.. manusia seperti ini hanya akan jadi orang suruhan, orang rendah dan segala jenis manusia yang saling sikut, tak peduli keluarga atau apa.
Macam warisan, orang yang ngalah.. kadang nggak akan dapet apa-apa, secara hidup seperti itu realitanya, tapi.. secara kehidupan yang masih bersingungan dengan adanya kekuasaan Tuhan, semua itu Cuma recehan belaka, mungkin nggak dapet warisan. Tapi hidup akan ebih nyaman.. hidup akan lebih gampang dan keturunan akan jadi orang sebenar-benarnya orang.
Manusia kan seperti itu, tumbuh dan besar.. tergantung asupanya, kalau besar karena makanan nggak barokah.. ya bisa nggak barokah hidupnya, begitujuga sebaliknya.
Percaya nggak percaya, memang kita terlahir di bumi yang dari dulu sudah menganut kepercayaan secara mutlak. Hanya saja, hari ini.. kepercayaan jadi kapitalis kebaikan, kapitalis moral dan kapitalis ketuhanan, hingga kapitalis doktrin kekuasaan. Hingga muncul sekte ini, sekte itu, kelompok ini.. kelompok itu.. ya kalau kelompok itu untuk membentengi dari hal-hal yang buruk ngak masalah, tapi.. kalau kelompok-kelompok itu Cuma jadi biang masalah, sudah seharusnya.. introspeksi kelompok.
Jika kelompok kepercayaan itu.. sayap kanan dari agama, ya paling nggak harus mencerminkan agama itu sendiri, bukan malah jadi biangkerok kekacauan, biangkerok pemberontakan, permusuhan, kerusakan, peperangan dan seribu satu masalah basi lainya. So, mereka yang koar-koar agama itu.. memang ngerti agama atau Cuma tim sorak?.
Sebagai manusia, aku miris dengan keadan yang sekarang. Bukankah, manusia itu.. dengan segenap kemanusiaan yang dimiliki, sudah seharusnya memanusiakan manusia tanpa pandang suku.. ras.. maupun agama? Pun kalau ada oknum yang keluar dari norma, hokum social.. hukum karma bakalan bekerja, belum sanksi hukum.
Ah sudahalah.. percuma mikir begituan, yang ada.. kita akan ikut-ikutan jadi pembenci, padahal setan akan sangat suka jika hati kita jadi pembenci, iri-an dan pendengki. Jaga hati, jaga kewarasan.. untuk NKRI dan untuk generasi yang akan datang.
“Siang tadi..”
“Darimana pak,”
“Ini, baru dari kebun ***, sudah kering ya panen..”
“Oalah, la sawah ditanami apa pak?”
“Padi sama jagung. Jagungnya juga udah waktunya panen”
“Oh..”
Datar, adalah apa yang memang begitu adanya. Sebenarnya.. aku ingin hahahihi, tapi.. aku terlalu gengsi, ngelangit dan apapun itu, aku memang salah.. tapi aku tak mau jadi recehan.
Satu hal yang sudah umum kalau di desa, meski anak-anaknya sudah jadi orang besar, orang mampu.. tapi.. orangtuanya akan tetap dengan kehidupanya, ya berkebun.. ya berladang.. ya bercocok tanam, bukan jadi OKB dengan sok-nya. Mungkin, aku kelak ya akan seperti mereka, bedanya.. kalau orang desa tulen, nggak akan berani sama yang namnya main utang kalau nggak kepepet. Beda sama mereka yang tau dan paham perihal utang.
Missal, saat mau musim tanam.. kebanyakan susah dan kurang di sisi modal, dengan perhitungan yang matang.. apa salahnya pinjam ke Bank, toh itu buat modal, bukan buat konsumsi. Meski hasil nggak sebayak kalau kita modal sendiri, kan paling tidak bisa menghemat waktu, tenaga dan hal-hal yang kadang membuat petani susah.
Yah.. sebenarnya, program-program pinjaman itu sudah bertebaran, hanya saja.. sosialisasi dari pemerintah yang kurang. Semacam Kartu Tani yang di daerah lain sudah jalan, sedangkan di daerah lain.. nggak ngerti buat apa itu Kartu Tani.
Mungkin, aku adalah salah satu orang yang mau cari informasi sana-sini, meskipun aku bukan siapa-siapa, apalagi mata-mata. Bukan apa dan untuk apa, Cuma memuaskan naluri saja. Mungkin.. alam bawah sadar saat masih menjadi orang social, terbawa sampai sekarang. Mangkanya, aku cukup kritis perihal kesenjangan dan apa-apa yang berbelit, termasuk birokrasi.
So, orang-orang ini memang harus di revolusi mentalnya, apalagi.. zaman ini adalah zaman yang menitikberatkan akan kecepatan, ketepatan.. kenapa? Ya karena itu sistemnya. Macam kita, kamu, mereka yang dengan sok idealism au develop ini, mau ngecreat ini.. tak jamin, kalau kamu nggak kuat bakalan gila. Kenapa.. ya kita butuh uang sekarang, dan inverstasi macam itu nggak ada jaminan.
Hahahaha..
Dah lupakan, rencananya.. sore ini aku mau masak, tapi.. masak apa.. aku juga masih bingung. Mentok.. masak Mie. Hahahaha.
Karena cukup cerah, dan lagi nggak ngapa-ngapain, aku ke belakang ambil selang. Mending nyuci mobil daripada nggak ada kerjaan. Ya.. sesuatu hal yang paling aku suka, pokoknya.. aku ada aktifitas, maka.. jaminan kewarasan pikir akan tetap terjaga.
Selama nyuci si Ford-y, tak kurang-kurang para tetangga dekat, jauh saling nyapa, kalau nggak gitu aku yang nyapa.
Saat hari semakin sore, anak-anak mulai keluar, dari yang bocah, remaja, jomblo, emak-emak, mama muda dan cewek-cewek pamer senyum semua. Karena memang, rumahku tetap di jantung desa, deket pertokoan.. jadi ya akan selalu rame. Entah orang mau belanja atau kemana. Yang pasti akan lewat depan rumah. Rumahku yang berhalaman luas dan pagarnya dari bonsai bunga bougenvile.
Dulu, saat aku masih kecil.. rumahku jadi tempat orang, entah Cuma main atau sok pacaran, jaman dulu.. kalau pacaran itu lucu, paling ya saling suka, nggak menye-menye macam anak sekarang. Dulu juga, kan belum ada alat komunikasi, mentok radio dan tv hitam putih, yang tayang Cuma Dunia Dalam Berita. Nah, Bapak kan suka elektro, so.. dirumah ada pemancar, namanya “brikk” sistemnya.. kita mencari frekuensi yang sama di radio, nah.. setelah sama kita bisa ngobrol antara gelombang satu dan yang lainya. Cuma.. beberapa tahun seelah itu, jaringan radio di beredel aparat. Illegal katanya?. Hahahaha.
Bicara gadis desa, teruntuk desaku sudah elit semua, beda dari desa-desa lainya, kenapa? Ya karena.. tingkat pendidikan sudah bagus semua, minim SMA, pun sekarang sudah banyak yang sekolah di kota, malah sudah banyak yang kuliah, kalau dulu boro-boro, kalau nggak salah.. awalnya orang desa meledak sekolah di kota.. setelah aku sekolah di kota, padahal.. secara staus social, keluargaku juga bukan keluarga kaya, saat itu Ibuku masih merantau, bapak juga masih sama, kadang merantau juga, kan zaman dulu parah desaku, mangkanya banyak yang merantau, nggak seperti sekarang, semua gampang.. jadi, nyari ekonomi juga gampang. Kalaupun masih ada yang susah, itu Cuma pemalas doang.
Entah kenapa, aku jadi tersenyum.. terutama melihat mereka-mereka yang penapilanya sudah nggak kalah sama orang kota, gadisnya bersih-bersih, putih dan natural gerak-geriknya. Dulu.. sebagian mash kecil dan kalau sekolah masih di anter ibunya, di gendong.. eh.. sekarang sudah gede, cantik-cantik pula. Serasa tua beneran gw. Hahahaha.
Entahlah, memang begitu adanya. Toh, mereka-mereka yang sekolahnya seanggakatan sama gw, juga sudah banyak yang nikah, punya anak, malah ada yang sudah SD anaknya. Lah gw..
Haraghhh..
Gw menghembuskan nafas dengan sangat kasar, mencoba mengirup kesegaran yang lain.
Mungkin, aku harus berubah.. agar, mereka bisa melihatku bukan lagi sosok yang melangit, tapi.. aku sebagaimana aku yang dulu. Manusia biasa, hangat dan selalu ceria lahir batin. Tidak seperti sekarang, suka di lahir.. pahit dan garing di batin.
Oh ya, saat aku di rumah.. apa-apa yang menjadi becksoud kehidupanku di kota, lenyap dengan sederhana. Karena memang, apa yang bisa menghidupiku di kota, nggak bisa aku jalankan di desa. So, kalau kamu merasa aku berubah yak arena keadan semata. Mohon maklum, aku kan bunglon, hahahaha.
“Mas, tadi aku masak terong, nyambal juga… nasinya juga sudah matang,”
“Iya pak,”
Memang, dari dulu bapak sudah jadi Ibu di rumah, kalau Ibuku nggak ada di rumah, terus aku pulang ya akan selalu di masakin, tapi aku ya kadang masak sendiri, entah nggak suka atau nggak selera, itu hal yang sangat sumir. Kamu kan tau mod ku kek gimana.
***
Hingga tak terasa, senja pun datang dengan sangat sederhana. Seperti yang kamu lihat, di ujung barat sana ada deretan pegunungan yang sangat eksotis, kemilau dan mengangumkan saat senja datang. Kalau langit sedang bersahabat, kamu akan melihat Sun set, dan kalau pagi.. kamu akan merasa seperti diatas awan.
Dengan nafas lega, mungkin si Ford-y juga sudah kece, bersih soalnya. Gw masukin garasi, yang tadi ada Angkong, cangul, karung.. sudah di bereskan Bapak.
Gw, mungkin seminguan di rumah, tapi ya nggak tau.. lihat sikon juga. Kalau sekiranya sudah ngak mod ya balik lagi ke Surabaya, meski gw sudah nggak lagi kerja, tapi.. yam au bagaimana, hidupku sidah tertambat disana, mungkin juga.. suatu saat nanti gw bakal balik, memulai kehidupan baru dan melanjutkan keturunan.
Yang jadi pertanyaan, siapa yang mau jadi tempat aku nitipin seperma. Hahaha.
Bodo lah, selesai sama diri sendiri saja belum, mikirin dimana seperma akan bersarang.
Dah lupakan, sudah mau magrib..
Aku masuk dulu.

“Jam berapa mas, dateng,”
Dan ya, itu Bapak. Sesosok tua yang halus sikap dan tutur katanya, meski.. saat aku kecil suka ringan tangan. Tapi sekarang, semakin menunduk laksana padi, entah ke anaknya atau ke orang lain. Satu yang aku kagumi sekaligus aku nggak suka dari Bapak, “neriman” yang bisa diartikan, sebuah sikap yang selalu menerima, apapun dan bagaimanapun kehidupan berjalan.
Dan secara nalar, kadang aku mikir.. orang yang banyak menerima, hanya akan jadi gedibal mereka-mereka yang haus akan dunia, kalau dasarnya nggak kuat.. manusia seperti ini hanya akan jadi orang suruhan, orang rendah dan segala jenis manusia yang saling sikut, tak peduli keluarga atau apa.
Macam warisan, orang yang ngalah.. kadang nggak akan dapet apa-apa, secara hidup seperti itu realitanya, tapi.. secara kehidupan yang masih bersingungan dengan adanya kekuasaan Tuhan, semua itu Cuma recehan belaka, mungkin nggak dapet warisan. Tapi hidup akan ebih nyaman.. hidup akan lebih gampang dan keturunan akan jadi orang sebenar-benarnya orang.
Manusia kan seperti itu, tumbuh dan besar.. tergantung asupanya, kalau besar karena makanan nggak barokah.. ya bisa nggak barokah hidupnya, begitujuga sebaliknya.
Percaya nggak percaya, memang kita terlahir di bumi yang dari dulu sudah menganut kepercayaan secara mutlak. Hanya saja, hari ini.. kepercayaan jadi kapitalis kebaikan, kapitalis moral dan kapitalis ketuhanan, hingga kapitalis doktrin kekuasaan. Hingga muncul sekte ini, sekte itu, kelompok ini.. kelompok itu.. ya kalau kelompok itu untuk membentengi dari hal-hal yang buruk ngak masalah, tapi.. kalau kelompok-kelompok itu Cuma jadi biang masalah, sudah seharusnya.. introspeksi kelompok.
Jika kelompok kepercayaan itu.. sayap kanan dari agama, ya paling nggak harus mencerminkan agama itu sendiri, bukan malah jadi biangkerok kekacauan, biangkerok pemberontakan, permusuhan, kerusakan, peperangan dan seribu satu masalah basi lainya. So, mereka yang koar-koar agama itu.. memang ngerti agama atau Cuma tim sorak?.
Sebagai manusia, aku miris dengan keadan yang sekarang. Bukankah, manusia itu.. dengan segenap kemanusiaan yang dimiliki, sudah seharusnya memanusiakan manusia tanpa pandang suku.. ras.. maupun agama? Pun kalau ada oknum yang keluar dari norma, hokum social.. hukum karma bakalan bekerja, belum sanksi hukum.
Ah sudahalah.. percuma mikir begituan, yang ada.. kita akan ikut-ikutan jadi pembenci, padahal setan akan sangat suka jika hati kita jadi pembenci, iri-an dan pendengki. Jaga hati, jaga kewarasan.. untuk NKRI dan untuk generasi yang akan datang.
“Siang tadi..”
“Darimana pak,”
“Ini, baru dari kebun ***, sudah kering ya panen..”
“Oalah, la sawah ditanami apa pak?”
“Padi sama jagung. Jagungnya juga udah waktunya panen”
“Oh..”
Datar, adalah apa yang memang begitu adanya. Sebenarnya.. aku ingin hahahihi, tapi.. aku terlalu gengsi, ngelangit dan apapun itu, aku memang salah.. tapi aku tak mau jadi recehan.
Satu hal yang sudah umum kalau di desa, meski anak-anaknya sudah jadi orang besar, orang mampu.. tapi.. orangtuanya akan tetap dengan kehidupanya, ya berkebun.. ya berladang.. ya bercocok tanam, bukan jadi OKB dengan sok-nya. Mungkin, aku kelak ya akan seperti mereka, bedanya.. kalau orang desa tulen, nggak akan berani sama yang namnya main utang kalau nggak kepepet. Beda sama mereka yang tau dan paham perihal utang.
Missal, saat mau musim tanam.. kebanyakan susah dan kurang di sisi modal, dengan perhitungan yang matang.. apa salahnya pinjam ke Bank, toh itu buat modal, bukan buat konsumsi. Meski hasil nggak sebayak kalau kita modal sendiri, kan paling tidak bisa menghemat waktu, tenaga dan hal-hal yang kadang membuat petani susah.
Yah.. sebenarnya, program-program pinjaman itu sudah bertebaran, hanya saja.. sosialisasi dari pemerintah yang kurang. Semacam Kartu Tani yang di daerah lain sudah jalan, sedangkan di daerah lain.. nggak ngerti buat apa itu Kartu Tani.
Mungkin, aku adalah salah satu orang yang mau cari informasi sana-sini, meskipun aku bukan siapa-siapa, apalagi mata-mata. Bukan apa dan untuk apa, Cuma memuaskan naluri saja. Mungkin.. alam bawah sadar saat masih menjadi orang social, terbawa sampai sekarang. Mangkanya, aku cukup kritis perihal kesenjangan dan apa-apa yang berbelit, termasuk birokrasi.
So, orang-orang ini memang harus di revolusi mentalnya, apalagi.. zaman ini adalah zaman yang menitikberatkan akan kecepatan, ketepatan.. kenapa? Ya karena itu sistemnya. Macam kita, kamu, mereka yang dengan sok idealism au develop ini, mau ngecreat ini.. tak jamin, kalau kamu nggak kuat bakalan gila. Kenapa.. ya kita butuh uang sekarang, dan inverstasi macam itu nggak ada jaminan.
Hahahaha..
Dah lupakan, rencananya.. sore ini aku mau masak, tapi.. masak apa.. aku juga masih bingung. Mentok.. masak Mie. Hahahaha.
Karena cukup cerah, dan lagi nggak ngapa-ngapain, aku ke belakang ambil selang. Mending nyuci mobil daripada nggak ada kerjaan. Ya.. sesuatu hal yang paling aku suka, pokoknya.. aku ada aktifitas, maka.. jaminan kewarasan pikir akan tetap terjaga.
Selama nyuci si Ford-y, tak kurang-kurang para tetangga dekat, jauh saling nyapa, kalau nggak gitu aku yang nyapa.
Saat hari semakin sore, anak-anak mulai keluar, dari yang bocah, remaja, jomblo, emak-emak, mama muda dan cewek-cewek pamer senyum semua. Karena memang, rumahku tetap di jantung desa, deket pertokoan.. jadi ya akan selalu rame. Entah orang mau belanja atau kemana. Yang pasti akan lewat depan rumah. Rumahku yang berhalaman luas dan pagarnya dari bonsai bunga bougenvile.
Dulu, saat aku masih kecil.. rumahku jadi tempat orang, entah Cuma main atau sok pacaran, jaman dulu.. kalau pacaran itu lucu, paling ya saling suka, nggak menye-menye macam anak sekarang. Dulu juga, kan belum ada alat komunikasi, mentok radio dan tv hitam putih, yang tayang Cuma Dunia Dalam Berita. Nah, Bapak kan suka elektro, so.. dirumah ada pemancar, namanya “brikk” sistemnya.. kita mencari frekuensi yang sama di radio, nah.. setelah sama kita bisa ngobrol antara gelombang satu dan yang lainya. Cuma.. beberapa tahun seelah itu, jaringan radio di beredel aparat. Illegal katanya?. Hahahaha.
Bicara gadis desa, teruntuk desaku sudah elit semua, beda dari desa-desa lainya, kenapa? Ya karena.. tingkat pendidikan sudah bagus semua, minim SMA, pun sekarang sudah banyak yang sekolah di kota, malah sudah banyak yang kuliah, kalau dulu boro-boro, kalau nggak salah.. awalnya orang desa meledak sekolah di kota.. setelah aku sekolah di kota, padahal.. secara staus social, keluargaku juga bukan keluarga kaya, saat itu Ibuku masih merantau, bapak juga masih sama, kadang merantau juga, kan zaman dulu parah desaku, mangkanya banyak yang merantau, nggak seperti sekarang, semua gampang.. jadi, nyari ekonomi juga gampang. Kalaupun masih ada yang susah, itu Cuma pemalas doang.
Entah kenapa, aku jadi tersenyum.. terutama melihat mereka-mereka yang penapilanya sudah nggak kalah sama orang kota, gadisnya bersih-bersih, putih dan natural gerak-geriknya. Dulu.. sebagian mash kecil dan kalau sekolah masih di anter ibunya, di gendong.. eh.. sekarang sudah gede, cantik-cantik pula. Serasa tua beneran gw. Hahahaha.
Entahlah, memang begitu adanya. Toh, mereka-mereka yang sekolahnya seanggakatan sama gw, juga sudah banyak yang nikah, punya anak, malah ada yang sudah SD anaknya. Lah gw..
Haraghhh..
Gw menghembuskan nafas dengan sangat kasar, mencoba mengirup kesegaran yang lain.
Mungkin, aku harus berubah.. agar, mereka bisa melihatku bukan lagi sosok yang melangit, tapi.. aku sebagaimana aku yang dulu. Manusia biasa, hangat dan selalu ceria lahir batin. Tidak seperti sekarang, suka di lahir.. pahit dan garing di batin.
Oh ya, saat aku di rumah.. apa-apa yang menjadi becksoud kehidupanku di kota, lenyap dengan sederhana. Karena memang, apa yang bisa menghidupiku di kota, nggak bisa aku jalankan di desa. So, kalau kamu merasa aku berubah yak arena keadan semata. Mohon maklum, aku kan bunglon, hahahaha.
“Mas, tadi aku masak terong, nyambal juga… nasinya juga sudah matang,”
“Iya pak,”
Memang, dari dulu bapak sudah jadi Ibu di rumah, kalau Ibuku nggak ada di rumah, terus aku pulang ya akan selalu di masakin, tapi aku ya kadang masak sendiri, entah nggak suka atau nggak selera, itu hal yang sangat sumir. Kamu kan tau mod ku kek gimana.
***
Hingga tak terasa, senja pun datang dengan sangat sederhana. Seperti yang kamu lihat, di ujung barat sana ada deretan pegunungan yang sangat eksotis, kemilau dan mengangumkan saat senja datang. Kalau langit sedang bersahabat, kamu akan melihat Sun set, dan kalau pagi.. kamu akan merasa seperti diatas awan.
Dengan nafas lega, mungkin si Ford-y juga sudah kece, bersih soalnya. Gw masukin garasi, yang tadi ada Angkong, cangul, karung.. sudah di bereskan Bapak.
Gw, mungkin seminguan di rumah, tapi ya nggak tau.. lihat sikon juga. Kalau sekiranya sudah ngak mod ya balik lagi ke Surabaya, meski gw sudah nggak lagi kerja, tapi.. yam au bagaimana, hidupku sidah tertambat disana, mungkin juga.. suatu saat nanti gw bakal balik, memulai kehidupan baru dan melanjutkan keturunan.
Yang jadi pertanyaan, siapa yang mau jadi tempat aku nitipin seperma. Hahaha.
Bodo lah, selesai sama diri sendiri saja belum, mikirin dimana seperma akan bersarang.
Dah lupakan, sudah mau magrib..
Aku masuk dulu.

tikusil dan 5 lainnya memberi reputasi
6