- Beranda
- Stories from the Heart
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)
...
TS
wowonwae
Cinta Tak Bisa Disalahkan (Part 2)

Sebelumnya : Part 1
Part 2

CUITAN DARI ATAS BALKON
Aku memang biasa dipanggil Aik, nama panggilan semenjak kecil yang diberikan orang tuaku. Sebetulnya itu diambil dari nama belakangku, Aji. Buat mudahnya bagi lidah jawa, huruf "j" dihilangkan dan diakhiri konsonan "k", jadilah Aik. Demikian aku berkenalan sama semua orang di sini, nggak dosen, senior, pegawai kampus, tukang parkir, junior sampai orang-orang kampung mengenalku dengan nama Aik.
Yang tampak saat kutolehkan wajahku adalah sebuah rumah besar yang terletak berseberangan dengan rumah kost yang baru akan kutempati. Tertutup pintunya, semacam pintu garasi lebar bersegmen-segmen terbuat dari bahan kayu kayak di senetron-sinetron atau FTV. Tidak tampak seorangpun di depan pintu itu. Kudongakkan kepalaku segera mengikuti sumber suara, ternyata ada dua gadis yang senyum-senyum memandangku di teras balkon lantai 2.
Ya, rumah besar itu memang susun bentuknya, hanya 2 lantai. Lantai pertama yang pintunya tertutup itu garasi buat nyimpen motor anak-anak kost, lantai kedua adalah kamar kost dengan teras balkon los, tak bersekat, memanjang di depan kamar-kamar kos. Empat orang senior cewek, setingkat di atasku memang tinggal di situ. Dan salah satunya itulah yang memanggilku, namanya Ica. Rupanya sejak tadi dia mengamati proses pemindahan barang-barangku dari pick-up ke kamar kost, bersama kawan kostnya.
"Hai !", jawabku setengah berteriak. "Ngapain Ca pagi-pagi nongkrong aja di atas? Nggak pada ngikut ngandong?" tanyaku kemudian. Ica memang setingkat di atasku, tapi tahun kelahiran kita sama, makanya aku takpernah memanggilnya Mbak atau Kak sebagaimana kawan seangkatannya yang lain.
"Lagi males, begadang semalem", jawabnya dengan seulas senyum. Kawan di sebelahnya juga ikut senyum-senyum, malah tampak serius mengamati wajahku meski terkesan jaga image. Senyumnya manis juga dengan deretan gigi yang rapi. Hidungnya mancung lebih mancung dari hidungku, sedang matanya lebar - jelas lebih lebar dari mataku yang sipit ini. Mata kami sejenak beradu, aku menangkap kesan seolah ingin mengajakku berkenalan.
Kualihkan lagi pandanganku ke Ica yang lebih dulu kukenal. Baik anaknya, tergolong pinter dan rajin di angkatannya, aku sering pinjam catatannya atau minta keterangan untuk pelajaran yang aku kurang mengerti. Sebagai anak pintar, Ica tidak egois seperti kebanyakan, dia tidak pernah menolak berbagi catatan dan pemahamannya pada siapa saja.
"Udah sarapan Ca? Yuk!" ajakku.
"Udah dong, pagi tadi kami masak berdua", kata Ica sambil melirik kawan di sebelahnya.
"Widiiih, masak apa? Boleh dong ngicipin...", sahutku berbasa-basi, masih dengan mendongakkan kepala.
Disenggollah dengan sikut kawan di sebelahnya, dua kali. Merah padam mukanya, tawanya lepas sambil memegangi lengan Ica dan mengguncangkannya. Kepalanya digeleng-gelengkan menatap Ica, bahasa isyarat agar masakannya jangan dibagikan. Ica juga tergelak tawanya melihat tingkah itu, dengan sigap lalu dialihkannya pandangan kembali ke bawah - ke arahku.
"Restu malu Ik, kami masih belajar memasaknya, masih agak hambar rasanya. Ini nih chefnya...," kata Ica menunjuk kawan di sebelahnya sambil menahan tawa geli. Sedang kawannya itu mengangguk-angguk, isyarat mengiyakan jawaban Ica dengan ekspresi malu.
"Yo wis ( ya sudah ). Aku pegel ndangak ( aku capek mendongak) terus. Kalau mau lanjut ngobrol sini turun ke bawah", celetukku kemudian.
"Udah kamu sarapan aja dulu !", jawabnya.
"Oke !", jawabku langsung berbalik badan menghampiri motor di depan kamar kostku.
Lupa mengunci pintu kamar, turunlah lagi aku dari motor yang terlanjur sudah kustarter. Setelah yakin aman terkunci, kembali kunaiki motor dan kulajukan mengikuti naluri perut yang sudah keroncongan sejak tadi.
Sepanjang jalan, ingatanku pada percakapan tadi masih mengiang, terutama kesan pada ekspresi spontan kawan kost Ica saat aku berbasa-basi pengin mencicipi masakan mereka.

Continue to part 3 ♡ part4 ♡ part5 ♡ part6 ♡ part7 ♡ part8 ♡ part9 ♡ part10 ♡ Interlog ♡ Part11 ♡ Part12 ♡ Part13 ♡ Part14 ♡ Part15 ♡ Part16 ♡ Part17 ♡ Part18 ♡ Part19 ♡ Part20 ♡ Part21 ♡ Part22 ♡ Part23 ♡ Part24 ♡ Part25 ♡ Selembar Testimoni ♡ Part26 ♡ Part27 ♡ Part28 ♡ Part29 ♡ Part30
Diubah oleh wowonwae 08-05-2019 13:00
yambu668 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
10.6K
63
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wowonwae
#5
Part 7

GAYUNG BERSAMBUT
"Kamu mau mandi dulu?" tanyaku.
Tanpa kusangka, diangkat wajahnya dan ditatapnya tajam mataku dengan matanya yang lebar itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Lhah kok malah melotot?
"Kamu nggak suka ya ngelihatnya? Laki-laki itu maunya perempuan harus selalu tertib ya?!" jawabnya tiba-tiba dan sekali lagi membuatku terkejut. Rupanya Restu ini tergolong perempuan yang punya jiwa pemberontak, menuntut kebebasan.
"Bukan begitu...", jawabku sabar, mencoba menenangkan. "Justru aku yang merasa bersalah kalau kedatanganku mengganggu waktumu untuk urusan pribadi", terangku kemudian.
Restu kembali tertawa kecil sambil memandangiku, membuat heran saja. Bagaimana mungkin keseriusanku itu justru membuatnya geli. Ah, dasar perempuan! Umpatku dalam hati.
"Aku jadi lega, kamu bukan tipe cowok yang selalu menuntut penampilan perempuan", jelas Restu kemudian.
"Aku itu tidak mau seperti ibuku yang suka diatur-atur. Bapak selalu menuntutku agar sama seperti Ibu yang penurut dan mudah diatur-atur penampilannya semau bapak," jelasnya panjang lebar.
"Ma'af ya, kalau kamu tidak suka ngobrol sama perempuan dekil, kita bisa cukupkan saja obrolan sampai di sini", katanya menggertak - bercanda. Mungkin sedang menyusun kembali rasa pe-de nya yang tadi memudar. Sebagai lelaki yang berpengalaman pacaran dua kali, aku hapal sekali reaksi seperti ini.
"Di kampusku juga sama, kegiatannya kadang menuntut kita tanpa kecuali, laki - perempuan untuk pulang larut. Apa kamu nggak pernah lihat si Ica pulang dari kampus malam-malam?"
"Iya pernah. Tapi kan aku belum kenal kamu? Aku pengin tahu kamu itu tipe lelaki seperti ap..." kalimat Restu diputus dengan dua telapak tangannya ditutupkan ke mulut. Mukanya merona, tampak jelas sekali buat gadis yang berkulit kuning langsat. Ditatapnya mataku dengan pandangan takut menyelidik.
Aku terdiam dan membalas tatapannya. Jidatku mengernyit tanda belum paham pada kejadian yang tengah terjadi.
"Aku kebablasan ya...?" tanyanya kemudian.
"Res..., eh! Gimana sih manggil kamu? Kalau takpanggil "tu" nggak pantes kayaknya." kataku kemudian mengambil alih lagi suasana.
Restu tersenyum, rona wajahnya mulai memudar. Aku memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Wajahnya kembali menunduk. Kulanjutkan kalimatku.
"Kamu kenal akrab ya sama si Ano?"
Restu senyumnya melebar.
"Kita kan tetanggaan kost dari sejak pertama jadi mahasiswa. Ano itu suka menggoda dari dulu. Bawaan darah keturunan Sumatera kali ya? Suka tidak tahan kalau lihat perempuan yang dianggapnya menarik".
"Bukan cuma aku saja yang sering digodain, semua kawan kost dan kawan kampusku yang main ke sini, asal bagi dia terlihat menarik, digodain deh habis habisan!".
Sebetulnya tidak usah Restu jelaskan juga aku sudah paham betul karakter kawanku yang satu itu.
"Iya, aku tau sifatnya Ano. Kami berkawan sejak awal kegiatan daftar ulang di kampus".
"Aku sering kok main ke kost-an Ano dari semenjak awal semester. Aku juga sering melihat Ano menggoda cewek-cewek yang melintasi jalan gang ini. Tapi baru kali ini aku melihatnya menggoda kamu seperti tadi. Maksudku, kenapa dari dulu aku nggak pernah melihatmu ya Res...?"
Restu menciutkan lagi senyumnya, didongakkan lagi kepalanya. Nafasnya dihela, lalu menatapku kembali dengan matanya yang lebar.
"Itulah yang membuatku pengin kenal kamu, mmm...maksudnya penasaran aja. Kamu tidak seperti cowok kebanyakan yang kujumpai."
"Rata-rata cowok yang kujumpai begitu cepat tertarik dari sejak kesan awal bertemu. Sebagian besarnya langsung menggoda atau malah merayu. Ano hanya salah satu dari sekian persen.
"Om om sampai kakek-kakek di terminal ataupun di bis sudah biasa merayuku. Aku tuh dari ngerasa risih sampai akhirnya terbiasa".
"Eh, kok jadi sombong banget aku ya? Mm..maksudku bukan begitu. Aduh...gimana ya njelasinnya?"
"Pantes aja kamu tadi gampang banget ngusir si Ano. Jadi kayak udah punya list (daftar) jurus-jurus penangkal rayuan lelaki gitu ya?!" kataku menanggapi penjelasan Restu sambil gantian ketawa kecil.
"Ano itu dulu sering ngapel ke sini. Pernah nembak aku buat jadi pacarnya".
"O ya? Jadi kalian pernah pacaran?"
"Enggak!" jawabnya tegas sambil melotot. Matanya yang sudah lebar semakin melebar ditambah menonjol.
"Aku nggak suka sama cowok perayu!".
"Lho kenapa? Bukannya perempuan itu suka dirayu?" tanyaku, teringat pengalaman pacaran dulu.
"Lagian si Ano itu sifatnya terlalu kekanak-kanakan bagiku. Jadi ya langsung kutolak saja sewaktu dia menembakku. Dan bener, setelah kutolak itu si Ano nggak pernah lagi ngapel ke sini".
"Jadi maksudmu kekanak-kanakan itu tidak gigih begitu ya?"
"Bukan cuman itu...", jawab Restu menurunkan nada bicara.
Tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan jam 9 malam. Jam berkunjung di kost Restu dibatasi hanya sampai jam 1/2 10 malam. Pak kostnya sudah terlihat melintasi jalan gang di depan kami, tanda peringatan lampu kuning bagi siapapun yang menjadi tamu anak-anak kostnya. Restu yang melihat makanya mulai menurunkan nada bicaranya.
Aku mencoba memilah lagi kalimat untuk menutup pembicaraan kami. Agar tidak terkesan buru-buru tapi juga jangan sampai diusir pak kostnya Restu. Jeda waktu yang tinggal 1/2 jam itu harus aku manfaatkan dengan baik. Rupanya terhadap Restu, aku mulai tertarik. Seru juga diajak ngobrol.
"Res, aku sebetulnya belum sedikitpun mencicipi rotimu tadi. Ma'af ya...", kataku membuka lagi pembicaraan.
"Lho, kenapa?!" katanya sewot, tapi sudah kuantisipasi sedari tadi.
"Kayak nggak tau kost cowok aja kamu... Ya nggak kebagianlah, biasa...", jawabku menimpakan kesalahan pada kawan-kawan kost.
Restu tertawa kecil lagi tapi kali ini dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa.
"Sudahlah, hitung saja jadi amal kamu. Yang penting kita sudah berkenalan malam ini. Itu kan yang kamu mau?"
Restu menunduk, entah malu atau sudah menduga kalau aku mau mengakhiri obrolan. Dan dia enggan.
"Kamu tadi sengaja nungguin aku ngambil motor Res...?" pancing tanyaku
"Nggak lah, aku cuman masih males naik ke atas tadi. Emang aku tukang parkir...", jawabnya ngeles tanpa bisa sembunyikan malu.
"Aku memang sering lupa kalau bawa motor. Beberapa kali bahkan motorku kutinggal di kampus taktinggal pulang kost jalan kaki."
"Masih muda udah pikun kamu! Gimana kalau pacarmu yang ketinggalan?" Giginya yang rapi saat tertawa meringis membuatku sejenak tertegun.
"Ah, aku kan free nggak punya pacar", kataku disambut binar mata Restu. Tapi tak berapa lama disimpannya kembali.
"Kamu?" tanyaku sekalian karena dia sudah lebih dulu memancing.
Tak menjawab Restu, hanya menggelengkan kepala.
"Masak sih? Tadi kamu cerita banyak yang naksir... sampai om-om dan kakek-kakek! Jangan-jangan....", godaku dengan kalimat yang tak kulanjutkan. Aku yakin pasti Restu sudah paham.
"Jangan-jangan apa? Aku normal tau..!", jawabnya membela diri seperti yang kuduga. Kali ini urat lehernya yang melotot.
"Aku cuma sedikit tomboy", lanjutnya.
"Tomboy? Menurutku, kamu itu cuma pengin terlihat tomboy saja Res. Bentuk sikap adaptifmu karena keseringan digoda kali...", tangkasku sambil tertawa.
"Kalau aku sih melihatnya kamu itu masih anggun, masih tampak jelas feminin. Menurutku juga, ekspresi wajah kamu itu sebenernya yang bikin menarik buat digoda Res", lanjutku polos.
Kepada kawan-kawan perempuan aku memang suka kasih komentar atas penampilannya, apa adanya. Tidak peduli apakah akan menyinggung perasaannya atau tidak. Tapi juga tanpa ada maksud merendahkan. Jadinya sering kawan-kawan minta testimoniku karena mereka anggap aku lebih fair.
"Kok kamu nggak pernah nggoda?"
Glek! Aku menelan ludah. Ini pertanyaan yang lolos dari prediksi. Kugaruk-garuk kepalaku, bingung mau jawab apa. Mau terus terang, nanti menyinggung perasaan. Mau nggak terus terang, kenyataannya memang begitu. Hadewh...! Gumamku dalam hati.
Tanpa dinyana pula Restu bicara : "Kamu memang beda, dan baru sekarang aku jumpai". Syukurlah, Restu bisa mengerti, gumamku lega.
"E...aku pamit dulu ya. Bapak kostmu bentar lagi bakal lewat nih", kataku sambil menunjuk arah jam dinding dengan kepalaku. Restu mengerti.
"Iya. Kapan-kapan kalau aku bikin roti lagi kamu masih mau?", tanyanya. Pertanyaan yang lucu buatku, tapi jelas itu pertanyaan cek & ricek atas ceritaku tadi. Dia mungkin masih beranggapan aku bohong, dia masih yakin kalau aku tidak mau memakan rotinya karena kurang enak. Bukti bahwa ia butuh dihargai, sudah bosan untuk hanya sekedar dikagumi.
Aku sengaja tak menjawab, hanya berdiri sambil mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. Restu membalas dengan terpaksa dengan ekspresi penasaran berbungkus senyum yang dikulum. Lalu kubalikkan badanku kembali menuju kost yang hanya perlu sekitar 25 langkah saja. Taklupa kubungkukkan sedikit badanku sebagai tanda hormat saat berpapasan dengan Bapak Kostnya yang berdiri agak jauh di arah jam 3.
Dibalasnya salam hormatku dengan senyum lebar, tanda bahwa beliau respek sama pemuda yang sopan. Pengalaman sebagai pengusaha kost khusus cewek selama 5 tahun tentu cukup memberi beliau referensi tentang berbagai kharakter tamu anak-anak kostnya.

Continue to Part 8

GAYUNG BERSAMBUT
"Kamu mau mandi dulu?" tanyaku.
Tanpa kusangka, diangkat wajahnya dan ditatapnya tajam mataku dengan matanya yang lebar itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Lhah kok malah melotot?
"Kamu nggak suka ya ngelihatnya? Laki-laki itu maunya perempuan harus selalu tertib ya?!" jawabnya tiba-tiba dan sekali lagi membuatku terkejut. Rupanya Restu ini tergolong perempuan yang punya jiwa pemberontak, menuntut kebebasan.
"Bukan begitu...", jawabku sabar, mencoba menenangkan. "Justru aku yang merasa bersalah kalau kedatanganku mengganggu waktumu untuk urusan pribadi", terangku kemudian.
Restu kembali tertawa kecil sambil memandangiku, membuat heran saja. Bagaimana mungkin keseriusanku itu justru membuatnya geli. Ah, dasar perempuan! Umpatku dalam hati.
"Aku jadi lega, kamu bukan tipe cowok yang selalu menuntut penampilan perempuan", jelas Restu kemudian.
"Aku itu tidak mau seperti ibuku yang suka diatur-atur. Bapak selalu menuntutku agar sama seperti Ibu yang penurut dan mudah diatur-atur penampilannya semau bapak," jelasnya panjang lebar.
"Ma'af ya, kalau kamu tidak suka ngobrol sama perempuan dekil, kita bisa cukupkan saja obrolan sampai di sini", katanya menggertak - bercanda. Mungkin sedang menyusun kembali rasa pe-de nya yang tadi memudar. Sebagai lelaki yang berpengalaman pacaran dua kali, aku hapal sekali reaksi seperti ini.
"Di kampusku juga sama, kegiatannya kadang menuntut kita tanpa kecuali, laki - perempuan untuk pulang larut. Apa kamu nggak pernah lihat si Ica pulang dari kampus malam-malam?"
"Iya pernah. Tapi kan aku belum kenal kamu? Aku pengin tahu kamu itu tipe lelaki seperti ap..." kalimat Restu diputus dengan dua telapak tangannya ditutupkan ke mulut. Mukanya merona, tampak jelas sekali buat gadis yang berkulit kuning langsat. Ditatapnya mataku dengan pandangan takut menyelidik.
Aku terdiam dan membalas tatapannya. Jidatku mengernyit tanda belum paham pada kejadian yang tengah terjadi.
"Aku kebablasan ya...?" tanyanya kemudian.
"Res..., eh! Gimana sih manggil kamu? Kalau takpanggil "tu" nggak pantes kayaknya." kataku kemudian mengambil alih lagi suasana.
Restu tersenyum, rona wajahnya mulai memudar. Aku memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Wajahnya kembali menunduk. Kulanjutkan kalimatku.
"Kamu kenal akrab ya sama si Ano?"
Restu senyumnya melebar.
"Kita kan tetanggaan kost dari sejak pertama jadi mahasiswa. Ano itu suka menggoda dari dulu. Bawaan darah keturunan Sumatera kali ya? Suka tidak tahan kalau lihat perempuan yang dianggapnya menarik".
"Bukan cuma aku saja yang sering digodain, semua kawan kost dan kawan kampusku yang main ke sini, asal bagi dia terlihat menarik, digodain deh habis habisan!".
Sebetulnya tidak usah Restu jelaskan juga aku sudah paham betul karakter kawanku yang satu itu.
"Iya, aku tau sifatnya Ano. Kami berkawan sejak awal kegiatan daftar ulang di kampus".
"Aku sering kok main ke kost-an Ano dari semenjak awal semester. Aku juga sering melihat Ano menggoda cewek-cewek yang melintasi jalan gang ini. Tapi baru kali ini aku melihatnya menggoda kamu seperti tadi. Maksudku, kenapa dari dulu aku nggak pernah melihatmu ya Res...?"
Restu menciutkan lagi senyumnya, didongakkan lagi kepalanya. Nafasnya dihela, lalu menatapku kembali dengan matanya yang lebar.
"Itulah yang membuatku pengin kenal kamu, mmm...maksudnya penasaran aja. Kamu tidak seperti cowok kebanyakan yang kujumpai."
"Rata-rata cowok yang kujumpai begitu cepat tertarik dari sejak kesan awal bertemu. Sebagian besarnya langsung menggoda atau malah merayu. Ano hanya salah satu dari sekian persen.
"Om om sampai kakek-kakek di terminal ataupun di bis sudah biasa merayuku. Aku tuh dari ngerasa risih sampai akhirnya terbiasa".
"Eh, kok jadi sombong banget aku ya? Mm..maksudku bukan begitu. Aduh...gimana ya njelasinnya?"
"Pantes aja kamu tadi gampang banget ngusir si Ano. Jadi kayak udah punya list (daftar) jurus-jurus penangkal rayuan lelaki gitu ya?!" kataku menanggapi penjelasan Restu sambil gantian ketawa kecil.
"Ano itu dulu sering ngapel ke sini. Pernah nembak aku buat jadi pacarnya".
"O ya? Jadi kalian pernah pacaran?"
"Enggak!" jawabnya tegas sambil melotot. Matanya yang sudah lebar semakin melebar ditambah menonjol.
"Aku nggak suka sama cowok perayu!".
"Lho kenapa? Bukannya perempuan itu suka dirayu?" tanyaku, teringat pengalaman pacaran dulu.
"Lagian si Ano itu sifatnya terlalu kekanak-kanakan bagiku. Jadi ya langsung kutolak saja sewaktu dia menembakku. Dan bener, setelah kutolak itu si Ano nggak pernah lagi ngapel ke sini".
"Jadi maksudmu kekanak-kanakan itu tidak gigih begitu ya?"
"Bukan cuman itu...", jawab Restu menurunkan nada bicara.
Tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan jam 9 malam. Jam berkunjung di kost Restu dibatasi hanya sampai jam 1/2 10 malam. Pak kostnya sudah terlihat melintasi jalan gang di depan kami, tanda peringatan lampu kuning bagi siapapun yang menjadi tamu anak-anak kostnya. Restu yang melihat makanya mulai menurunkan nada bicaranya.
Aku mencoba memilah lagi kalimat untuk menutup pembicaraan kami. Agar tidak terkesan buru-buru tapi juga jangan sampai diusir pak kostnya Restu. Jeda waktu yang tinggal 1/2 jam itu harus aku manfaatkan dengan baik. Rupanya terhadap Restu, aku mulai tertarik. Seru juga diajak ngobrol.
"Res, aku sebetulnya belum sedikitpun mencicipi rotimu tadi. Ma'af ya...", kataku membuka lagi pembicaraan.
"Lho, kenapa?!" katanya sewot, tapi sudah kuantisipasi sedari tadi.
"Kayak nggak tau kost cowok aja kamu... Ya nggak kebagianlah, biasa...", jawabku menimpakan kesalahan pada kawan-kawan kost.
Restu tertawa kecil lagi tapi kali ini dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa.
"Sudahlah, hitung saja jadi amal kamu. Yang penting kita sudah berkenalan malam ini. Itu kan yang kamu mau?"
Restu menunduk, entah malu atau sudah menduga kalau aku mau mengakhiri obrolan. Dan dia enggan.
"Kamu tadi sengaja nungguin aku ngambil motor Res...?" pancing tanyaku
"Nggak lah, aku cuman masih males naik ke atas tadi. Emang aku tukang parkir...", jawabnya ngeles tanpa bisa sembunyikan malu.
"Aku memang sering lupa kalau bawa motor. Beberapa kali bahkan motorku kutinggal di kampus taktinggal pulang kost jalan kaki."
"Masih muda udah pikun kamu! Gimana kalau pacarmu yang ketinggalan?" Giginya yang rapi saat tertawa meringis membuatku sejenak tertegun.
"Ah, aku kan free nggak punya pacar", kataku disambut binar mata Restu. Tapi tak berapa lama disimpannya kembali.
"Kamu?" tanyaku sekalian karena dia sudah lebih dulu memancing.
Tak menjawab Restu, hanya menggelengkan kepala.
"Masak sih? Tadi kamu cerita banyak yang naksir... sampai om-om dan kakek-kakek! Jangan-jangan....", godaku dengan kalimat yang tak kulanjutkan. Aku yakin pasti Restu sudah paham.
"Jangan-jangan apa? Aku normal tau..!", jawabnya membela diri seperti yang kuduga. Kali ini urat lehernya yang melotot.
"Aku cuma sedikit tomboy", lanjutnya.
"Tomboy? Menurutku, kamu itu cuma pengin terlihat tomboy saja Res. Bentuk sikap adaptifmu karena keseringan digoda kali...", tangkasku sambil tertawa.
"Kalau aku sih melihatnya kamu itu masih anggun, masih tampak jelas feminin. Menurutku juga, ekspresi wajah kamu itu sebenernya yang bikin menarik buat digoda Res", lanjutku polos.
Kepada kawan-kawan perempuan aku memang suka kasih komentar atas penampilannya, apa adanya. Tidak peduli apakah akan menyinggung perasaannya atau tidak. Tapi juga tanpa ada maksud merendahkan. Jadinya sering kawan-kawan minta testimoniku karena mereka anggap aku lebih fair.
"Kok kamu nggak pernah nggoda?"
Glek! Aku menelan ludah. Ini pertanyaan yang lolos dari prediksi. Kugaruk-garuk kepalaku, bingung mau jawab apa. Mau terus terang, nanti menyinggung perasaan. Mau nggak terus terang, kenyataannya memang begitu. Hadewh...! Gumamku dalam hati.
Tanpa dinyana pula Restu bicara : "Kamu memang beda, dan baru sekarang aku jumpai". Syukurlah, Restu bisa mengerti, gumamku lega.
"E...aku pamit dulu ya. Bapak kostmu bentar lagi bakal lewat nih", kataku sambil menunjuk arah jam dinding dengan kepalaku. Restu mengerti.
"Iya. Kapan-kapan kalau aku bikin roti lagi kamu masih mau?", tanyanya. Pertanyaan yang lucu buatku, tapi jelas itu pertanyaan cek & ricek atas ceritaku tadi. Dia mungkin masih beranggapan aku bohong, dia masih yakin kalau aku tidak mau memakan rotinya karena kurang enak. Bukti bahwa ia butuh dihargai, sudah bosan untuk hanya sekedar dikagumi.
Aku sengaja tak menjawab, hanya berdiri sambil mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. Restu membalas dengan terpaksa dengan ekspresi penasaran berbungkus senyum yang dikulum. Lalu kubalikkan badanku kembali menuju kost yang hanya perlu sekitar 25 langkah saja. Taklupa kubungkukkan sedikit badanku sebagai tanda hormat saat berpapasan dengan Bapak Kostnya yang berdiri agak jauh di arah jam 3.
Dibalasnya salam hormatku dengan senyum lebar, tanda bahwa beliau respek sama pemuda yang sopan. Pengalaman sebagai pengusaha kost khusus cewek selama 5 tahun tentu cukup memberi beliau referensi tentang berbagai kharakter tamu anak-anak kostnya.

Continue to Part 8
Diubah oleh wowonwae 01-04-2019 12:43
mmuji1575 dan 3 lainnya memberi reputasi
4