Selamat malam, agan-agan. Meski mungkin gak banyak yang ingat dengan thread ini, tapi ane mau menyampaikan permohonan maaf, setidaknya untuk diri ane di masa lalu. Dunia kerja benar-benar sudah menguras waktu dan minat ane buat nulis. Setiap kali buka laptop atau note, sama sekali gak ada kata-kata yang keluar. Macet total. Ya... singkatnya selama setahun kemarin, gairah buat menulis bener-bener drop total.
Dan malam kemarin (24/3/2019), berbagai hal terjadi, dan akhirnya ane mencoba memaksakan diri untuk menulis lagi. Semoga agan-agan bersedia membaca, dan mungkin jika layak, memberi sedikit apresiasi melalui komen-komen yang membangun.
Berikut adalah sepotong cerita yang ane coba tulis seharian ini. Monggo disimak :
Dua Denyut
Tak ada air mata yang mengalir dari mataku, karena kemarahan serta merta menundukan kesedihan begitu telingaku mendengar kabar tentang Arga, saudara kembarku, menjadi korban tabrak lari oleh pemuda mabuk. Manusia biadab itu sendiri telah meringkup di tahanan untuk menunggu sidang pengadilan. Namun, pengadilan apapun tidak akan mengembalikan separuh diriku yang telah terkubur. Aku hanya pasrah mengamati setiap detik mengalir menggerus keberadaan Arga.
Ketika Kyai mulai memimpin doa terakhir, aku mengangkat wajahku dan mulai memperhatikan para pelayat. Saat itulah, tanpa sengaja mata kami bertemu. Sepasang mata yang tampak merah, sembab, dan juga gelap; kegelapan yang mungkin sama denganku. Aku kenal dengan siapa pemilik sepasang mata tersebut; namanya Chyntia, dia adalah kisah cinta pertama Arga hingga maut merenggutnya. Aku sendiri hampir tidak pernah berinteraksi langsung dengan Chyntia, namun aku merasa sangat mengenal dirinya, melalui setiap potong cerita yang dikelakarkan Arga nyaris setiap hari.
Setelah pemakaman selesai, aku tak lagi melihat sosok Chyntia. Dan pada waktu itu, kukira kami tidak akan pernah bertemu lagi.
"Bisa kita ketemuan besok setelah kamu pulang kerja?"
Pesan singkat itu tiba-tiba muncul di handphone ku. Seperti angin, ia seakan memberi firasat. Dapat kurasakan sesuatu menyelinap masuk dalam rongga dadaku yang kosong separuh. Sudah tiga bulan berlalu sejak pemakaman Arga. Aku menjalani hari-hariku seperti meniti jembatan gantung lapuk, yang di bawahnya mengalir arus deras nan pekat menuju dunia lain. Aku melangkah tertatih, karena satu saja salah langkah, aku akan jatuh ke dunia sana.
Atau mungkin memang sebaiknya seperti itu? Toh, separuh diriku sudah di sana.
" Bagaimana kabar ayah dan ibu? Sehat?", pertanyaan ringan itu mengetuk kesadaranku. Sejenak aku berusaha menyusun kembali realitas. Aku dan Chyntia tengah duduk berhadapan di sebuah meja kayu bergaya klasik di dalam sebuah kafe di tengah kota. Saat itu, matahari bersiap untuk beranjak tidur.
Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. Dalam hati, mau tidak mau aku terus bertanya apa yang diinginkan Chyntia. Seharusnya sudah tidak lagi bab di mana kisah kami akan bertemu. Namun gadis bertubuh mungil itu tak juga berbicara apapun yang bermakna setelah nyaris setengah jam berlalu di kafe tersebut. Hingga kemudian, suaranya menghilang seperti kapal yang berangsur-angsur tenggelam. Dia menatap mataku dengan cara yang membuatku tidak nyaman, seakan perempuan itu tengah mencari sesuatu dalam mataku.
" Arya, kamu punya pacar?"
Aku berusaha menyembunyikan rasa terkejut dengan menyesap kopi perlahan. "Tidak, untuk sekarang..."
" Ada perempuan yang kau sukai sekarang...?"
Ada, kataku dalam hati. Namun entah kenapa kepalaku menggeleng. Perempuan itu bernama Arla. Dia adalah satu-satunya kisah cintaku, sejak pertama kali kami bertemu sepuluh tahun lalu, hingga sekarang. Ya... kisah yang tak pernah diceritakan, termasuk pada Arla.
Chyntia tetap menatap mataku lekat-lekat. Dia kemudian mengangkat cangkir kopi, dan menyesapnya. Sejenak, kami kembali saling terdiam. Dia mengalihkan pandangannya pada jendela lebar kafe, memandangi mobil dan sepeda motor yang merangkak di jalanan petang. Lalu tanpa pernah kuduga, dia mengambil sebungkus rokok mild dari tas kecilnya, menjumput sebatang, dan menyalakannya. Asap putih tipis mulai menguap putus asa di udara kafe. Aku tertegun melihatnya.
"Kamu perokok?"
Dia menghembuskan kepulan asap tipis ke udara sebelum menjawabku. "Sejak tiga bulan lalu..."
Sejak kematian Arga. Kini aku sadar, kematian saudara kembarku tak hanya mengambil sesuatu dalam diriku, namun juga dari diri Chyntia. Jika kuperhatikan baik-baik, ia memang telah berubah banyak. Ia lebih kurus, pipinya juga lebih tirus. Namun untungnya, wajah cantiknya yang lugu itu masih ada.
" Dia adalah cinta pertamaku...." Ujar Chyntia sambil menekan ujung rokok pada asbak. Aku diam. Aku tahu.
" Sebelum bertemu dengannya, aku cuma gadis penakut. Kurasa kamu pernah dengar soal kedua orang tuaku dari Arga. Sejak lahir hingga separuh fase remaja, aku menjalani hari dengan pikiran bahwa aku tidak bisa berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Aku berangkat dan pulang sekolah dengan supir keluarga. Aku mengikuti les piano, biola, dan pelajaran tambahan dengan tutor yang dipanggil khusus ke rumah. Karena nya, aku tidak membayangkan bisa melangkah di bawah matahari, tanpa seseorang memayungiku...."
Aku diam mendengarkan ceritanya.
" Semua laki-laki yang kukenal...yang diijinkan oleh orang tua ku untuk datang ke rumah, datang dengan niat untuk melindungiku. Mereka semua menawarkan diri untuk menjadi pelindungku. Dan orang tuaku hanya perlu memilih di antara mereka, siapa yang layak untuk melanjutkan tugas mereka."
Chyntia menjeda ceritanya dengan menyesap kopi sekali lagi. Saat dia letakkan cangkir ke atas meja, matanya mulai berkaca-kaca.
"Lalu dia datang. Saudaramu, Arga. Dia seperti angin. Aku tak pernah tahu ada manusia yang kehadirannya bisa mengubah kehidupan orang lain seperti dirinya. Seperti angin pula, kupikir dia akan berlalu. Namun dia terus berhembus padaku. Dan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dengan segala energi dan ketekunannya, ia mampu menggerakkan kincir angin tua yang selama ini kukira akan terus diam dengan angkuh."
Sesuatu berdenyut dalam rongga dadaku. Bukan denyut jantung, kukira. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing, sekaligus familiar. Namun aku memilih untuk kembali fokus pada Chyntia. Pada detik itulah, aku menyadari tubuh mungilnya gemetar.
" Dan kukira aku pun menjelma menjadi angin. Aku menjadi sesuatu yang bisa terbang dan berada di ma napun aku inginkan, berhembus bersamanya... Tapi..."
"Setelah dia meninggal, kau kembali menjadi manusia..." ujarku tanpa sadar. Chyntia berpaling padaku dengan ekspresi sedikit terkejut. Dia tahu, dari Arga, aku adalah tipe pendiam dan lebih banyak mendengar. Mungkin dia tak menyangka aku akan memilih untuk berbicara dalam timing tersebut. Namun sejurus kemudian, dia mengulas senyum. Senyum yang serupa mendung di siang hari.
" Tidak.... Mungkin lebih tepatnya, aku sadar tidak pernah menjadi angin." Ujarnya sembari meletakkan kedua siku di atas meja dan mengaitkan jemari kedua tangannya. Chyntia kembali menatap mataku lekat-lekat. Bening matanya yang berkaca-kaca masih dapat kulihat. Semakin lama tatapannya membuatku sadar ada yang aneh dalam diriku; sebuah objek asing seperti tumbuh berkembang dalam rongga dadaku.
" Aku ingin merasakannya lagi..." Ujar Chnytia memecah lamunanku.
"Hah?"
"Aku ingin menjelma menjadi angin sekali lagi. Tak perduli meski itu hanya ilusi..." Chyntia melepaskan kaitan kedua tangannya. "Karena itu..." dan jemari itu kini merambat pelan, meraih tanganku.
Sontak aku terkejut. Namun entah kenapa, aku tidak bisa menarik tanganku darinya. Jemari kecilnya menyentuhku dengan lembut dan menghantarkan semacam getaran ke dalam rongga dadaku. Di sana, objek asing itu berdenyut kembali. Apapun itu, objek tersebut kini semakin terasa, seakan menegaskan keberadaannya dalam diriku. Ia tumbuh semakin kuat, dan semakin nyata.
"Maaf... tapi, aku bukan angin. " Ujarku dalam ketidakberdayaan menarik tanganku dari sentuhannya.
" Kamu adalah angin. Aku tahu itu."
" Bukan! Bagaimana kau bisa merasa tahu? Kita bahkan..."
" Dari matamu. Aku tahu kamu adalah angin yang sama..." sela Chyntia.
" Bukan..." Aku kehilangan kekuatan untuk menolak. Objek asing dalam rongga dadaku semakin nyata. Rongga dada yang kosong separuh sepeninggal Arga, kini terasa penuh dan utuh. Aku beranikan diri memandang wajah Chyntia. Saat itulah aku mulai menyadari kencatikannya yang lugu telah menjelma menjadi pusaran pesona yang berusaha menyeretku ke dalamnya.
Aku tahu sesuatu sedang terjadi. Sejak mata kami bertemu di pemakaman Arga, aku telah merasakan sesuatu merayap ke dalam diriku. Aku memusatkan mata pada kepekatan kopi hitam, menelusuri seluruh kejadian dalam tiga bulan terakhir. Meraba-raba dalam kegelapan, hingga akhirnya kusadari perasaan ini sudah menyelinap masuk seenaknya dalam rongga dadaku sejak jasadnya terkubur dalam bumi. Sejak siang itu, ia bersemedi dalam kehampaan ruang yang telah dia tinggalkan. Dia mengumpulkan energi kehidupan sedikit demi sedikit melalui tubuhku, dan sebagai gantinya, dia memberikan seluruh keberadaannya padaku; seluruh perasaan, memori, dan kepribadian.
Kini dengan kemunculan Chyntia dan sentuhannya, ia mendapatkan segala yang ia perlukan untuk hidup seutuhnya. Ia mendesak dengan daya hidup yang luar biasa, mengalahkan aku yang memang tak memiliknya.
" Arya?"
Suara lembut Chyntia tak ubahnya mantra yang memperkuat keberadaannya dalam diriku. Ia sudah sempurna, dan yang tersisa baginya adalah ijinku sebagai pemilik tubuh untuk mengijinkannya muncul ke permukaan. Di luar kendali, tanganku balas menggengam lembut tangan Chyntia. Dapat kulihat perempuan itu sedikit tersentak. Namun segera digantinya dengan tatapan mata syahdu dan berkaca-kaca. Matanya memancarkan kerinduan yang mengiris.
Ah... sudahlah. Mungkin ini yang terbaik. Aku bukanlah angin, bukan siapa-siapa. Mungkin untuk saat seperti inilah tujuan dari seluruh keberadaanku. Sebagai jaminan. Wadah. Kenapa harus memadamkan daya hidup yang bergelora dan berjuang sedemikian kuat untuk aku yang bahkan tak punya alasan untuk memperjuangkan diri sendiri? Aku menarik nafas panjang dan mengenang Arga. Seluruh kenangan dengan lelaki itu merupakan episode kehidupan yang menarik untuk ditonton. Akan kuhadirkan kembali Arga dalam kehiduapn ini. Sementara aku akan lenyap, entah kemana.
Tiba-tiba, di tengah seluruh episode kehidupanku dan Arga, sekelebat memori muncul. Ingatan sepuluh tahun lalu saat pertama kali aku melihat senyuman Arla, dan jatuh cinta. Ingatan tentang Arla muncul seperti potongan adegan yang tak berkaitan di tengah-tengah alur ingatanku bersama Arga. Di setiap ingatan tentangnya muncul, yang bisa kulihat hanyalah adegan saat Arla melempar senyumannya padaku; di kantin, di perjalanan gerbang sekolah, di acara kelulusan, di acara reuni, termasuk pertemuan tanpa sengaja di sebuah taman hiburan saat dia menggandeng tangan lelaki yang tak kukenal.
Objek di dadaku berdenyut semakin pelan tiap kali memori tentang Arla muncul. Sementara, kekuatanku berangsur-angsur kembali. Kutarik pelan tanganku dari sentuhan Chyntia yang sedari tadi terus memandangiku.
Matahari telah beranjak tidur sepenuhnya saat aku kembali ke bangku di dalam kafe tengah kota itu. Langit masih menyisakan warna biru gelap setelah lembayung senja digulung. Aku menghela nafas panjang sekali lagi.
"Maaf... beri aku waktu..." ujarku sambil bangkit dari kursi dan melangkah menuju kasir untuk membayar kopi kami berdua. Chyntia hanya diam memandangiku dengan sepasang matanya yang redup.
"Aku mohon...." Itu ucapan terakhirnya yang bisa kudengar sebelum aku melangkah pergi dari Kafe. Aku tidak lagi melihat matanya, namun dapat kubayangkan mereka masih memantulkan cahaya bening dari air mata dan kerinduan penuh harap. Aku berjalan di trotoar mengikuti arus para pejalan kaki yang mulai ramai. Objek di dadaku kembali berdenyut, meski tak lagi sekuat tadi.
" Terima kasih, Ga..." Aku bergumam pelan sambil meremas pelan ulu hatiku dari balik kemeja. Aku bukan angin, dan aku bukanlah Arga, setidaknya untuk saat ini. Kuraih telepon genggamku dari kantung celana kain, membuka kontak telepon, dan mencari nomor lama yang tak pernah kuhubungi sejak kelulusan SMP. Sempat kuragu untuk menekan nomor tersebut. Berbagai rasa takut, cemas, dugaan, dan harapan menggantung di ibu jariku. Namun kuputuskan untuk mulai mencarinya sekali lagi; ingatan yang mungkin memberiku alasan untuk hidup.
Beberapa detik terlewati, dan nada sambung, dengan penuh rasa syukur, masih berbunyi. Sesuatu berdeyut dalam dadaku, dan kuyakin kali ini, denyut itu berasal dari jantungku sendiri.
"Halo." Sebuah suara terdengar dari seberang telepon. Seorang perempuan. Mendengarnya, degup jantungku berdenyut lebih keras dan kencang. Segenap memori itu kembali mengalir.
Ah... suaranya, masih seperti yang kuingat.