- Beranda
- Stories from the Heart
Dia, Andini (Romance Story)
...
TS
robbyrhy
Dia, Andini (Romance Story)
Halo Semuanya, Kali ini saya mau memberikan sebuah cerita lagi nih. Tapi kali ini tentang Fiksi Remaja. School Romancegitu. Nah buat kalian yang penasaran bisa langsung di baca Prolognya ya.
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.
JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance
~~~💓💓💓💓💓~~~
Prolog

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?
Apakah dengan tersenyum?
Apakah dengan tertawa?
atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiamdan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?
Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.
Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.
Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.
Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........
Quote:
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End
Quote:
Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.
Cast :

*Alvaro

*Andini

*Via

*Daniel

*Cayla
Happy Reading!
Diubah oleh robbyrhy 09-04-2019 18:54
bachtiar.78 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
18.8K
98
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robbyrhy
#44
Part 16

“Serius ini untukku?” Tanya Via tak menyangka.
Aku yang masih ada di sisinya hanya bisa melongo melihat seseorang layaknya Malaikat tiba-tiba hadir dan membuat harapan Via yang tadinya gugur mulai kembali bersemi.
Andre hanya mengangguk, “Aku harap kamu bisa mengingatku…” Ujar Andre seadanya.
Via masih tak menyangka, air matanya kini berubah menjadi Air mata bahagia, “Sumpah, aku gak mimpi kan Var,?” Tanya Via kepadaku.
“Mimpi darimana? sini aku cubit.!”
“Aww, ishh sakit”
Aku hanya tertawa ringan, sementara Via masih dengan ekspresinya.
“Sebentar aku akan mencoba mengingatmu?” Cetus Via sambil menatap wajah Andre dalam-dalam.
Andre tersenyum kecil, memperlihatkan wajah terbaiknya di hadapan Via.
“Sudah bisa menebak?” Ledek Andre sambil terus tersenyum.
Via terus menerka, aku hanya bisa berdiam di tengah mereka yang sedang Asik saling tanya.
“Ah… aku sedikit ingat! K-kamu Andre teman SMP ku bukan?” Terka Via sambil mangut-mangut.
Andre tersenyum lebar kemudian menjawab Terkaan Via, “100 buat kamu!” Pekiknya keras.
“Ya ampun kamu beneran Andre? Wajah kamu kok berubah ya?” Puji Via kesenengan.
Aku berusaha ikut berbicara, agar tidak di kira kambing conge, “Oh, dia teman mu Vi?” Tanyaku yang mencoba masuk ke obrolan mereka.
“Iya Var, dia teman SMP ku.. eh ngomong-ngomong sejak kapan kamu sekolah disini?” Tanya Via penasaran.
“Baru 2 hari yang lalu, sebelumnya aku sekolah di Yogya. yahh… karena aku melihat ada Kompetisi menggambar dengan hadiah ke Jepang membuat kaki ku ingin melangkah ke sini deh… heheh..” Jawab Andre dengan senyum kecil di bibirnya.
“Eh, jangan bilang Formulir ini kamu berikan ke aku, biar aku jawab pernyataan cintamu waktu itu” Ledek Via dengan wajah yang sedikit cemberut.
Aku yang mendengar ucapan Via sedikit terkejut. Pernyataan Cinta? apakah Andre menyukai Via? Pertanyaan itu pun langsung tercetus begitu saja.
Andre tertawa lepas, “Eh, eh, eh tidak dong… kamu masih ingat saja hal itu.. aku saja sudah lupa, aku ngasih kamu itu…. karena aku pikir kamu pasti menang! Kamu kan jago banget gambar Vi, dari smp! aku tahu banget kamu.” Puji Andre di hadapanku.
“Noh Var, kaya Andre dong…. Sudah pasti dukung aku.” Celetuk Via sambil menyenggol lenganku dengan sikutnya.
“Iah, kok jadi aku?” Jawabku polos.
Via pun tidak menjawab pertanyaanku dan langsung mengganti topiknya.
“Andre… ini Varo, sahabatku…” Ucap Via yang berusaha mengenaliku kepada teman lamanya.
“Andre” Ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Aku sedikit canggung untuk berjabat tangan dengannya, entah grogi atau apa, yang pasti rasanya itu, sedikit membuat jantungku berdetak lebih kencang.
“Va-varoo…” Jawabku sedikit terbata.
Kami berjabat. Andre tersenyum simpul ke arahku, “Ku kira dia ini pacarmu Vi.” Cetus Andre asal.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, “Bukan, kami hanya teman dekat, bisa di bilang sahabat.” Jawabku memastikan.
Via hanya terdiam, ia kembali menatap Andre, “Kalau Varo pacarku mah, sudah ku kenalin ke mamah-papah ku kali dre, sama kayak waktu kamu ngenalin aku ke mamah-papah mu dulu…. hahha, tapi maaf aku menolakmu” Celetuk Via dengan nada meledek.
Andre hanya menyengir menahan malu, “Tidak usah di bahas lagi Vi,,” Pintanya kaku.
Via pun hanya tertawa mendegar ucapan yang di lontarkan oleh Andre, sementara aku masih belum bisa mencerna maksud perkataan Via tadi kepadanya.
“Eh, aku masuk duluan ya” Ujar Andre yang tiba-tiba langsung berdiri.
Via hanya menatapnya singkat, “Eh, Kok buru-buru sih dre? kita belum ngobrol lama loh… aku masih mau bahas masa lalu kita yang lucu dan seru itu….” Rengek Via seolah menahan Andre untuk pergi.
“Sambung lagi pas istirahat saja ya Via, bye!” Jawabnya seadanya kemudian berjalan pergi meninggalkan aku dan Via.
Aku masih bingung dengan perteman mereka, Rasa penasaranku masih membelenggu di dalam otak. Ingin rasanya aku tahu sebenarnya Andre itu siapa? Apakah dia pernah mengisi hati Via? Entah kenapa pikiran ku jadi kacau seperti ini. Sungguh Labil.
“Var, gak masuk?” Tanya Via mengaggetkanku.
Aku tersentak, “Eh, iya-iya ayo masuk.” Jawabku singkat.
Via berusaha menahan rasa penasarannya terhadap ku, “Aku seneng banget deh dapet Formulir ini…. Sungguh Andre adalah Malaikat penyelematku dari dulu sampai sekarang…” Puji Via terus-menerus di hadapanku sambil memeluk secarik kertas formulir di dadanya.
Entah kenapa Via seperti sedang memancingku, aku menerka bahwa semua pujiannya kepada Andre hanya untuk mengujiku. Apakah aku cemburu atau tidak. Jelasnya itu tidak akan mempan, karena pada dasarnya hatiku hanyalah untuk Andini seorang.
Sesampainya di kelas Via masih memancarkan senyum lebarnya. Hingga membuat wajah Cayla terlihat geram akan kebahagian yang sedang Via rasakan.
Via pun kembali duduk di bangkunya semula, dekat dengan Cayla. Sangat dekat.
“Eh, kenapa lo cengengesan gitu? Ngeledek gue lo?” Kesal Cayla.
Via menoleh ka arahnya, mencoba menatap Cayla dengan sinis dan membuang rasa takutnya jauh-jauh, “Ke geeran lo! Jangan so akrab sama gue deh…” Jawab Via berani.
Cayla semakin gemas akan tingkah Via yang mulai melunjak, “Berani lo sama gue? mau gue bikin hidup lo tambah hancur!” Ancam Cayla dengan tatapan tajam.
Via mengepal tangannya kuat-kuat, berusaha menahan emosinya yang kian memuncak. Ia hanya mengehela nafas berat, kemudian memalingkan wajahnya jauh-jauh dari Cayla.
“Kenapa ha? takut lo?” Cayla mulai berani, ia mendorong keras bahu Via. mencoba untuk memulai peperangan. Via masih dengan posisinya, enggan untuk meladeni Cayla yang sudah mulai naik darah.
Karena cukup emosi, semuanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Kemarahan Via pun pecah seketika, “Bisa diem ga sih lo!” Bentak Via keras di depan wajah Cayla.
Teriakan Via yang begitu keras membuat semua mata tertuju kepadanya, tak terkecuali dengan ku.
Aku yang melihat Via semarah itu sedikit terkejut mendengarnya. Wajah Cayla sedikit tersentak. Ekspresinya berubah sedikit takut. Matanya terbelalak, dan badannya sedikit bergemetar. Bentakan Via terhadapnya membuat nyali Cayla sedikit menciut.
Cayla enggan melawan. Matanya mulai memerah menatap Via dengan tajam. Tanganya mengepal dan siap memukul Via kapan saja ia mau.
Cayla mendengus pelan, ia akan membuka mulutnya lagi, sementara Via masih dengan tatapan sinisnya. Menunggu kata-kata apa lagi yang akan di keluarkan dari mulut kotor milik Cayla. Saat mereka berdua saling tatap penuh amarah, tiba-tiba Pak Adi datang dan masuk ke dalam kelas. Semua tatapan itu buyar seketika. Cayla dan Via kembali ke posisi paling rapih. Menyembunyikan pertengkaiannya dengan tersusun tanpa ada jejak dan keanehan yang dapat tercium oleh Pak Adi, selaku wali kelas.
“Permisi Anak-anak… Oke… saya tidak akan berlama-lama disini.” Cetus Pak Adi dengan puluhan kertas formulir yang sedang di genggamnya.
Semua murid pun terfokus kepadanya, “Jadi saya mau mengumpulkan kembali formulir yang sudah kalian isi.” Tegas Pak Adi.
Sontak saja mata Via membara, Via belum mengisi formulirnya.
“Baiklah bagi yang sudah mengisi, silahkan berikan kepada bapak.” Tambah Pak Adi.
Beberapa Murid pun maju untuk memberikan formulir kompetisi gambar yang sudah di isi begitu pula dengan Cayla.
“Apa sudah semua?” Tanya Pak Adi.
“Tunggu pak, Saya baru mengisinya…. sebentar!” Teriak Via menahan.
Mata Cayla pun terbelalak melihat Via mendapat Formulir yang ia lihat tadi, padahal sudah habis.
“Eh, Via nyolong dari mana tuh formulir? bukannya lo gak dapet ya?” Cetus Cayla tajam.
Via menoleh sebentar, sambil tangannya yang sibuk mengisi lembar kosong berupa data diri, “Bukan urusan lo Cay, jadi jangan asal tuduh!” Jawab Via membantah tuduhannya.
Cayla berusaha menghasut Pak Adi, mulutnya komat-kamit bergibah dan berbisik kepadanya. Wajah Pak Adi terlihat serius mendengarkan Cayla, sementara Via masih sibuk dengan formulirnya.
Aku yang melihat Via di tindas, tidak akan secuek itu. Jikalau sampai Cayla memulai peperangan lagi. Aku akan maju paling depan membela Via dari manusia durjanah macam Cayla.
Entah setan apa yang masuk ke dalam tubuh Cayla, hasutannya pun berhasil membuat Pak Adi masuk dalam ilusi kata-katanya.
“Via, memangnya kamu dapat formulir? bukankah hanya Cayla?” Tanya Pak Adi bingung.
Via selesai menulis data dirinya, kini formulir kosong yang di pegangnya telah tercoret nama serta Identitasnya. Via melangkah maju menghampiri Pak Adi yang sudah siap mengambil formulir setiap murid yang mengikuti kompetisi gambar.
“Saya dapat formulir ini dari teman saya pak, saya tidak pernah curang. Apalagi melakukan hal-hal yang melanggar peraturan.” Sahut Via sambil menaruh lembaran formulir yang sudah terisi ke tangan Pak Adi. Sorotan mata Via tajam ke arah Cayla. Via berusaha melawan setiap tindakan yang di lakukan olehnya. Sepertinya ia sudah mulai berani. Karena mungkin Via sudah paham, sesama manusia yang di lahirkan sama dan makan nasi juga kenapa harus takut? mungkin itu yang ada di pikiran Via sekarang. Aku yang melihatnya Via seperti itu semakin kagum padanya. Via berusaha menjadi wanita kuat, dan tidak ingin hidupnya selalu di tindas. Tapi siapa yang bisa membuat Via menjadi seperti ini? aku masih belum bisa menebaknya.
Via kembali ke bangkunya. Sementara Cayla masih berdiri di samping Pak Adi dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Mungkin dia masih tidak menyangka. Orang yang dianggapnya lemah bisa sekuat itu.
“Cayla, kamu tidak kembali duduk?” Kaget Pak Adi sambil menepuk Pundaknya.
Cayla terkejut, wajahnya terlihat bingung, dia seperti sedang memikirkan sesuatu, “Oh iya pak.” Jawab Cayla seadanya, setelah itu kembali ke tempat duduknya, tepat di samping Via.
Wajah Via masih memperlihatkan Kepercayaan diri yang kuat. Cayla enggan untuk menatapnya lagi.
Setelah semua murid mengumpulkan Formulir pendaftaran kompetisi menggambar, Pak Adi pun akhirnya pergi meninggalkan Kelas dan di gantikan oleh Pak Mamat, Selaku guru bahasa yang akan mengajar di jam pertama ini.
✴✴✴
Bel Istirahat pun berbunyi. Aku segera merapihkan semua buku dan peralatan lainnya.
“Via, ke kantin yuk” Ajak ku kepadanya.
Via menoleh ke arahku, kemudian berjalan di depan wajah Cayla tanpa berkata permisi sedikit pun. Wajah Cayla menahan Kesal, namun apa daya dia tahu dirinya akan kalah.
“Maaf Var, aku mau ketemu Andre dulu deh… aku masih mau ngobrol banyak sama dia…. Aku duluan ya.” Jawab Via kepadaku.
Aku hanya tersenyum simpul kepadanya, “ Oh ok… aku akan ke Kantin sendirian.” Ucapku lagi sambil manggut-manggut.
Via balik tersenyum, kemudian berjalan cepat meninggalkanku. Entah kenapa ada rasa cemburu sedikit di hatiku. Apakah aku menyukai dua orang wanita? Tidak mungkin. Pertanyaan itu langsung tercetus begitu saja.
Lemas sekali rasanya jika harus ke kantin sendirian, makan sendiri, tidak ada teman ngobrol. Begitulah gerutukku dalam hati. Saat aku hendak melangkah, tiba-tiba sayup-sayup suara perempuan kembali memanggil namaku.
“Varo… tunggu.” Panggilnya.
Aku agak mengenali suaranya, tanpa pikir panjang aku pun langsung menoleh ke belakang.
“Cayla?” Pekik ku dalam hati. “Mau apa dia?” Tanyaku lagi.
Cayla terseyum kepadaku, tidak biasanya dia tiba-tiba bersikap ramah seperti itu. Apakah akan ada niat busuk? Aku yang masih menerka-nerka hanya bisa diam dan berbicara dalam pikiran.
Cayla menghampiriku, “Ke kantin bareng yuk!” Ajaknya dengan senyum merekah yang di tampilkannya.
Sontak saja aku sedikit terkejut, “Ada angin apa dia?” Aku berpikir. Mencari tahu niat terselubung apa yang sedang di rencanakannya.
“Eh, tumben lo ngajak gue?” Tanya ku seadanya.
Cayla masih tetap tersenyum, “Gue mau minta maaf soal sebelumnya. Kayaknya gue terlalu kasar ya sama lo dan yang lainnya. Ya mungkin kali ini gue mau mencoba berubah? gue seakan kaya gak punya temen. ” Jawabnya. Entah sandiwara atau bukan. Permintaan maaf Cayla terkesan begitu mendadak. padahal ia baru saja memperlakukan Via layaknya budak. Sekarang? dia mencoba belaga alim dan ingin memulai kebaikan? Aku tidak bisa menerka isi pikirannya.
“Bagimana?” Tanya Cayla lagi dengan senyum miring yang di lontarkannya.
Aku masih berpikir, meng iyakan atau men tidakan. Aku mencoba untuk berpikir positif, barang kali apa yang ia katakan memang sungguh dari hatinya. Akhirnya dengan terpaksa aku mengiyakan ajakannya.
Aku dan Cayla pun ke kantin bersama. Sesampainya di sana aku melihat Andini sedang memakan roti sedangkan, Daniel sedang menyantap bakso dengan lahapnya. “Apakah aku bergabung dengan mereka saja ya?” Pikirku dalam hati. Belum sempat aku memberi usulan itu, tiba-tiba Cayla sepemikiran denganku, “Kita duduk bareng Daniel dan Andini saja yu….” Ajak Cayla sambil menepuk pelan pundaku. Aku tidak menjawab, kepalaku hanya mengangguk lalu dengan cepat Cayla berjalan menghampiri Andini dan juga Daniel.
“Hallo?!!” Sapa Cayla sok Akrab.
Aku yang ada di belakangnya, hanya bisa menatap raut wajah Andini dan Daniel yang kebingungan. Raut wajah Daniel terilihat terkejut dan sedikit menandakan sebuah kekhawatiran. Keringat menyucur dari balik dahinya, entah keringat karena kedatangan Cayla atau karena bakso yang sedang ia santap.
Daniel menatap sinis ke arahku, “Kalian mau ngapain?” Tanya Daniel dengan nada tingginya.
Belum sempat aku membuka mulut, Cayla tiba-tiba nyerocos membalas pertanyaan Daniel, “Aku dan Varo boleh kan makan bersama kalian?” Sikap Cayla berubah. Raut wajah senang dan gembira berusaha di tampilkan olehnya.
Andini masih melongo sambil menggigit sepotong roti yang belum habis.
Daniel masih terlihat kesal, ia berusaha membuang mukanya dari Cayla, aku yang ada di belakang Cayla berusaha maju kedepan untuk buka suara.
“Maaf sebelumnya niel, din… tadi Cayla mengajakku ke kantin dan karena melihat kalian, jadi kami memutuskan untuk bergabung. bolehkan? Cayla ini juga teman kita, jadi aku harap kita bisa memaafkannya… mungkin Cayla berusaha untuk merubah attitudenya.” Jelasku berusaha menenangkan Andini dan Daniel yang terlihat sudah hampir emosi.
Daniel menatap Cayla tajam, dua bola matanya tak dapat menghindar, “Bagimana?” Tanyaku lagi. Daniel hanya mengangguk pelan di ikuti oleh Andini yang mangut-mangut di hadapannya.
Setelah mendapat persetujuan Aku dan Cayla pun akhirnya duduk.
“Terima kasih Andini dan Daniel sudah mau memaafkanku, oh iya… sebenarnya aku juga ingin memberitahu kalian, bahwa nanti malam aku mau mengundang kalian semua ke Acara makan malam di rumah baruku. Itung-itung syukuran… apa kalian mau?” Tanya Cayla memulai pembicaraan dengan Daniel dan Andini.
Andini menatap dalam-dalam wajah Cayla, mencari celah. Apakah ada niatan lain di baik niat baiknya? mungkin itu yang sedang di cari Andini dari balik raut wajahnya.
“Tumben sekali kamu jadi baik seperti ini? kamu gak cemburu liat aku sama Daniel?” Sindir Andini halus.
Daniel hanya menaikan alisnya seolah mengiyakan pertanyaan Andini barusan.
Cayla menghela nafasnya, “Mungkin aku salah, jadi mulai sekarang aku minta maaf kepada kalian ya..” Jawab Cayla dengan senyum merekah yang di pancarkannya.
Andini masih menatapnya dengan sinis, begitu pula dengan Daniel.
“Aku tidak janji tapi aku akan usahakan datang.” Ucap Andini sambil memakan kembali rotinya yang belum habis.
“Oh iya, aku juga minta maaf ya Daniel… soal ayahmu, kalau kamu mau… Ayahmu bisa bekerja lagi di tempat ibuku?” Ucap Cayla memberi tawaran kepada Daniel.
Daniel terdiam, mungkin sedikit terkejut atas tawaran itu, “Maaf Cay, sampah yang sudah di buang, tidak perlu di pungut lagi.” Jawab Daniel dengan sikap yang dingin dan menolak tawaran Cayla mentah-mentah, kepadanya.
Aku yang melihat percakapan mereka hanya bisa diam dan menjadi penonton geratis di depannya.
“Ohh, baiklah… hanya itu saja sih… aku harap kalian semua bisa datang, jangan lupa kamu ajak Via juga Var, aku juga minta maaf dengannya. terutama soal formulir.”
Aku hanya mengangguk, malas sekali rasanya mengeluarkan kata-kata. Semua memori tentang Cayla hanya ada keburukan di dalam otakku dan saat melihat Cayla berubah seperti ini, aku seperti bermimipi bahkan seperti melihat seseorang sedang berlatih akting. Entahlah.. aku masih belum bisa cukup percaya kepadanya.
Setelah itu Aku dan Cayla pun memesan makanan dan makan bersama dengan mereka.
To Be Continued...
Diubah oleh robbyrhy 22-03-2019 13:11
hariss1989 dan 3 lainnya memberi reputasi
4