Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
amron7497170Avatar border
aryanti.storyAvatar border
nightstory770Avatar border
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#63
Chapter 9






yaa...hanya kata inilah yang bisa terucap dari mulut gue begitu kini gue telah melepaskan lembaran kertas terakhir yang menempel pada dinding kamar, keberadaan dari gambaran bayangan hitam yang terlihat menempel di dinding kamar kini telah membuat langkah kaki gue ini beranjak surut ke belakang, dan entah mengapa seiring dengan rasa takut yang mulai menguasai pikiran gue ini, gue merasakan suhu di ruangan kamar ini semakin terasa dingin, bahkan rasa dingin yang tengah gue rasakan ini semakin diperparah dengan keberadaan dari aroma bau busuk yang terasa semakin menyengat...sungguh..apa yang tengah gue rasakan saat ini bagaikan sebuah kombinasi yang sempurna guna menghadirkan imajinasi negatif gue akan keberadaan gambaran bayangan hitam yang kini terkesan mempunyai jiwa
“ bagaimana mungkin gambar yang telah gue buat di kertas itu bisa meninggalkan bekas yang sangat mirip seperti ini, andaikan memang gambar yang ada di dinding kamar ini adalah efek dari terlalu kerasnya gue dalam menekan pensil gambar, sudah pasti kertas ini akan rusak....tapi ini....”
Pandangan gue pun kini terarah pada beberapa lembar kertas yang masih berada di dalam genggaman tangan ini, keberadaan dari lembaran kertas yang terlihat utuh tanpa memperlihatkan adanya kerusakan dari goresan mata pensil, kini telah membuat gue terdiam sejenak dalam bayang bayang ketidakpastian atas apa yang saat ini tengah terjadi, dan kini diantara rasa keengganan gue untuk kembali menolehkan pandangan mata ini ke arah gambar bayangan hitam yang berada di dinding kamar, keengganan gue itu perlahan mulai terusik seiring dengan terdengarnya suara racauan nenek yang saling bersahutan dengan suara deritan ranjang, mendapati hal tersebut, mau tidak mau, kini gue harus mempunyai keberanian sikap dalam memutuskan langkah guna memastikan atas apa yang sebenarnya kini tengah terjadi, hingga akhirnya seiring dengan keputusan yang telah gue ambil, gue pun mulai mengadahkan kepala ini secara perlahan ke arah gambar bayangan hitam yang berada di dinding kamar, dan sepertinya keputusan yang telah gue ambil ini adalah sebuah keputusan yang keliru, karena di saat kini pandangan mata gue telah menatap ke arah gambar bayangan hitam, entah mengapa kini gue melihat keberadaan dari gambar bayangan hitam itu seolah olah hendak bergerak maju, dan hal tersebut diperlihatkan dengan tersembulnya gambar bayangan hitam itu dari dalam dinding secara perlahan
“ aaaaaa.......”
Entah gue harus merespon dengan kalimat apa atas fenomena keanehan ini, dan kini diantara pergerakan gue yang beranjak surut ke belakang, gue bisa merasakan pergerakan gue ini seolah olah seperti mengiringi pergerakan dari gambar bayangan hitam yang terus menyembul keluar dari dalam dinding, hingga akhirnya disaat kini keberadaan gue sudah menjauhi dinding kamar, gue mendapati keberadaan dari bayangan hitam itu sudah nyaris seluruhnya keluar dari dalam dinding...hingga akhirnya seiring dengan ketidakberdayaan gue untuk memaling pandangan mata ini dari bayangan hitam, tiba tiba saja lampu kamar mendadak padam, dan sepertinya padamnya lampu kamar ini, kini menjadi awal dari kehadiran seuatu yang tengah mengarahkan wajahnya tepat dihadapan wajah gue ini
“ ya tuhann....jangan ambil nyawa gue sekarang, gue masih ingin hidup....” gumam gue dalam hati, seraya memohon adanya sebuah keajaiban yang akan membebaskan gue dari situasi ini, tapi sepertinya seiring dengan tarikan nafas gue yang merasakah adanya hawa dingin yang bercampur dengan aroma bau busuk, kini harapan gue atas keajaiban yang datang itu telah berganti dengan kesulitan gue untuk bernafas diantara keberadaan dari hawa dingin yang bercampur dengan aroma bau busuk tersebut, hingga akhirnya kini diantara tarikan nafas gue yang semakin banyak menghirup hawa dingin yang bercampur dengan aroma bau busuk tersebut, pandangan gue pun mulai terasa nanar....dan tanpa gue sadari, gue kini telah terjerembab jatuh dalam ketidaksadaran
“ kang darma....bangun kang udah pagi....”
Diantara suara yang kini terdengar, bisa gue rasakan adanya guncangan halus yang menyentuh tubuh gue ini, mendapati hal tersebut, gue segera membuka pejaman mata ini dan mendapati keberadaan bi idah yang tengah bersimpuh di sisi gue
“ astagfirullah kang.....kang darma kenapa....?” tanya bi idah dengan nada panik dan berbalas dengan keterdiaman gue yang tengah merasakan rasa perih di bagian kepala ini
“ ayo bangun kang...sebaiknya kang darma memeriksakan luka yang ada di kepala kang darma itu ke rumah sakit...” selepas dari perkataan bi idah tersebut, bi idah kini membantu gue untuk beranjak bangun dari lantai, dan di saat itulah gue melihat adanya bercak darah yang mengotori lantai
“ saya enggak kenapa napa bi...ini hanya luka kecil...” ujar gue, lalu meminta kepada bi idah untuk membersihkan bercak darah yang mengotori lantai
“ bibi tau kang itu hanya luka kecil...yang bibi heran kenapa kang darma sampai bisa tertidur di lantai, bahkan dengan kepala terluka seperti itu....”
“ sepertinya semalam itu saya terpele......”
“ ahhh sepertinya kang darma mau bohongin bibi nih....” ujar bi idah memotong perkataan gue, dan seiring dengan perkataannya tersebut, terlihat bi idah telah selesai membersihkan bercak darah yang ada di lantai
“ maksud bi idah apa dengan mengatakan saya berbohong seperti itu....?” tanya gue yang berbalas dengan isyarat mata bi idah yang tertuju pada tumpukan lembaran kertas di atas meja
“ gambar itu pasti kang darma yang buat.....”
“ iya bi, memang saya yang buat....tapi itu hanya untuk sekedar iseng aja...”
“ sekedar iseng....?, maaf kang...sepertinya ada sesuatu yang ingin bibi ceritakan sama kang darma.....” selepas dari perkataannya tersebut, bi idah terlihat menutup pintu kamar, lalu kembali berjalan menghampiri gue dengan ekspresi wajah yang menegang
“ bi idah mau bercerita apa....?” tanya gue dengan perasaan tidak nyaman begitu melihat ekspresi ketegangan di wajah bi idah
“ bibi pernah melihat sesuatu yang sama persis dengan apa yang kang darma gambar itu...”
“ hahhh...yang benar bi..bi idah udah pernah melihat bayangan hitam ini.....?”
“ benar kang....hanya saja, bibi sengaja untuk enggak menceritakan kejadian yang telah bibi alami itu kepada orang lain terutama kepada keluarga kang darma, karena bibi takut...apabila bibi menceritakan semuanya itu, pasti keluarga kang darma akan merasa enggak nyaman tinggal di rumah ini...” jawab bi idah diantara pergerakan tangannya yang menggulung bagian lengan dari pakaiannya yang berlengan panjang, dan kini selepas bi idah menggulung lengan pakaiannya tersebut, gue bisa melihat keberadaan dari luka lebam di tangan bi idah
“ ya tuhan bi....itu luka apa...?”
Mendapati pertanyaan gue itu, bi idah nampak terdiam, dan kini diantara keterdiamannya tersebut, bi idah kembali memperlihatkan keberadaan dari luka lebam yang terdapat pada bagian lutut
“ bi...apa sebenarnya yang telah bi idah alami di rumah ini....?” tanya gue dengan sebuah keyakinan bahwa bi idah telah mengalami sebuah kejadian aneh di rumah ini, dan kini begitu mendapati pertanyaan gue tersebut, bi idah mulai menceritakan tentang awal dari perjumpaan bi idah dengan sosok bayangan hitam di rumah ini
“ jadi bi idah udah mengalami gangguan itu ketika pertama kali menginjakan kaki di rumah ini...?”
“ iya kang, kebetulan kan bibi tiba dua hari lebih awal di rumah ini, pada hari pertama sih bibi menganggap semuanya itu biasa aja, walaupun sempat beberapa kali bibi melihat adanya sekelebatan bayangan hitam di rumah ini, tapi....karena rasa lelah yang bibi rasakan setelah seharian merapihkan rumah ini, bibi jadi enggak begitu memperdulikan akan keberadaan dari bayangan hitam tersebut, bahkan bibi menganggap kehadiran dari bayangan hitam tersebut hanyalah efek dari rasa lelah bibi karena telah seharian merapihkan rumah ini....” untuk sejenak bi idah kini menghentikan perkataannya, diantara tatapan matanya yang menatap ke arah nenek yang tengah tertidur, terdengar suara azan subuh yang menandakan hari mulai berganti pagi
“ tapi kang...pada hari kedua bibi di rumah ini, bibi udah enggak bisa lagi menganggap kalau kehadiran dari bayangan hitam tersebut adalah efek dari rasa lelah yang bibi rasakan, hal ini dikarenakan pada hari kedua itu bibi mengalami sebuah gangguan yang begitu nyata, dan kebetulan pada pada saat bibi mengalami gangguan itu, mamih udah berada di rumah ini...”
“ gangguan nyata seperti apa bi....?” tanya gue memotong perkataan bi idah
“ pada hari itu kalau enggak salah sekitar jam empat sore, bibi mengajak mamih ke halaman belakang guna menikmati hangatnya sinar matahari sore, hingga akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam lamanya bibi berada di halaman belakang, bibi memutuskan untuk mengajak mamih masuk ke dalam rumah karena hari mulai beranjak gelap, ditambah lagi keberadaan angin pada sore itu terasa cukup kencang...tapi baru saja bibi membawa mamih masuk ke dalam rumah, dan hendak berjalan menuju ke kamar mamih, bibi terpaksa menghentikan langkah kaki bibi ini, begitu mendapati keberadaan dari pintu rumah yang menuju ke halaman belakang dalam keadaan terbuka, padahal bibi sangat yakin kang kalau pintu tersebut udah bibi tutup, tapi karena pada saat itu bibi enggak mau untuk berpikir macam macam, bibi memutuskan untuk menutup pintu itu kembali, dan melanjutkan mendorong kursi mamih menuju ke kamar.....”
“ kenapa bi....?” tanya gue begitu melihat bi idah yang menghentikan ceritanya
“ duhhh bibi jadi merinding lagi kang.......” jawab bi idah seraya memegangi tengkuknya
“ merinding...?, memangnya pada saat itu bibi melihat apa....?”
“ pada saat itu bibi merasakan seperti ada sesuatu yang mengikuti bibi dari arah belakang, tapi entah apa....hingga akhirnya karena bibi takut akan adanya seseorang yang tengah mengikuti bibi dari belakang, bibi memutuskan untuk menoleh kembali ke arah belakang....dan disaat itu bibi hanya mendapati keberadaan pintu rumah yang tertutup rapat serta keberadaan dari bayangan tubuh bibi yang berada di lantai, mendapati hal tersebut, bibi akhirnya memutuskan untuk kembali mendorong kursi nenek menuju ke kamar, tapi lagi lagi langkah kaki bibi harus terhenti begitu bibi merasakan perasaan yang kuat, akan adanya keberadaan seseorang yang tengah mengikuti bibi dari arah belakang....”
“ apa yang bibi lihat....?” tanya gue kembali memotong perkataan bi idah, sungguh apa yang kini tengah di ceritakan oleh bi idah saat ini, telah membuat gue merasa yakin kalau sosok yang telah di lihat oleh bi idah saat itu adalah sosok yang dalam dua hari belakangan ini telah mengganggu gue, nenek dan mang kohar
“ kembali lagi kang...bibi enggak melihat apa apa....hanya keberadaan dari pintu yang tertutup rapat yang bisa bibi lihat, tapi......tapi..ada satu yang membedakan pengelihatan bibi saat itu dengan pengelihatan bibi sebelumnya, disaat itu bibi mendapati keberadaan bayangan bibi yang berada di lantai nampak terlihat seperti memanjang....”
“ memanjang...” ujar gue dengan rasa terkejut
“ iya kang memanjang.... hal itu bisa bibi pastikan begitu bibi melihat keberadaan dari bayangan bibi yang memperlihat bayangan dari kepala bibi masih berada di tempat yang sama seperti pada saat pertama kali bibi melihat keberadaan bayangan bibi tersebut di lantai, karena mendapati keanehan yang enggak wajar itu, bibi memutuskan untuk kembali mendorong kursi mamih menuju ke kamar, tapi semakin bibi mempercepat langkah kaki ini untuk menuju ke kamar mamih, rasa takut yang bibi rasakan seperti membuat langkah kaki bibi ini terasa semakin berat, hingga akhirnya disaat bibi tetap memaksakan diri untuk melangkah lebih cepat menuju ke kamar mamih, rasa berat yang bibi rasakan pada kedua kaki ini telah membuat bibi terjatuh ke lantai...dan melepaskan genggaman tangan bibi dari kursi mamih, dan untung aja kang....pada saat bibi melepaskan genggaman tangan bibi dari kursi mamih, mamih enggak mengalami sesuatu yang buruk...karena pada saat bibi melepaskan genggaman tangan bibi dari kursi mamih, kursi tersebut terdorong dengan sangat kencang dan baru terhenti disaat kursi tersebut menabrak dinding rumah.....”
Entah gue harus merespon dengan kalimat apa begitu bi idah kini telah menyelesaikan ceritanya, tapi satu hal yang pasti, gue kini bisa memastikan bahwa sosok bayangan hitam yang mendiami rumah ini adalah sosok energi negatif yang mungkin telah terusik oleh kehadiran kami di rumah ini
“ apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah ini ya bi, apa mungkin sosok bayangan hitam itu enggak suka dengan kehadiran kita di rumah ini.....tapi kenapa....” gumam gue dan berbalas dengan keterdiaman bi idah, hingga akhirnya diantara keterdiaman bi idah tersebut, terlihat pergerakan pada gagang pintu kamar, dan seiring dengan pintu kamar yang telah terbuka, nampak terlihat keberadaan mamah yang tengah berdiri di depan pintu kamar
“ loh kalian sedang apa disini...?” tanya mamah diantara langkah kakinya yang berjalan masuk ke dalam kamar
“ enggak sedang apa apa mah, kebetulan aja darma baru bangun karena dibangunin oleh bi idah...” jawab gue beralasan, kini begitu mendapati jawaban gue tersebut, mamah terlihat mengarahkan pandangannya ke arah nenek yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur
“ nahh gitu dong dar....mamah senang kalau kamu bisa menjaga nenek seperti ini...” ujar mamah seraya mengembangkan senyumnya, dan kini untuk menghindari perkataan mamah lebih lanjut, gue memutuskan untuk segera beranjak pergi meninggalkan kamar setelah terlebih dahulu mengambil lembaran kertas yang tergeletak di atas meja
“ kertas apa itu dar....?” tanya mamah begitu kini gue hendak melangkah keluar dari dalam kamar
“ ohhh...ini hanya kertas gambar mah, dari pada darma kesepian dalam menunggu nenek, yaa lebih baik darma menggambar seperti ini....” jawab gue dan berbalas dengan senyuman mamah
“ ya udah kalau begitu mah, darma mau istirahat dulu di kamar...”
“ iya dar, tapi jangan lupa untuk membangunkan adik adik kamu, karena hari ini mereka harus memulai sekolahnya...”
“ iya mah....”
Selepas dari jawaban gue tersebut, gue segera berjalan menuju ke lantai atas guna mengistirahatkan tubuh ini di kamar, tapi baru saja kini gue hendak membuka pintu kamar, rasa perih yang gue rasakan di kepala ini, kini telah membuat gue memilih untuk terlebih dahulu ke kamar mandi, guna memeriksakan luka yang ada di kepala gue ini
“ perihnya.....” gumam gue diantara pergerakan tangan gue yang membuka pintu kamar mandi, tapi baru saja kini gue hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi, gue mendapati adanya keanehan di lantai kamar mandi yaitu berupa kotoran tanah merah yang ada di beberapa bagian lantai kamar mandi
“ kenapa jadi banyak kotoran tanah yaa.?” tanya gue dalam rasa bingung, hingga akhirnya diantara kebingungan gue tersebut, gue menyimpulkan bahwa ada seseorang yang telah menggunakan kamar mandi ini, dan seseorang itu tidak sempurna dalam menyiram kotoran tanah yang ada di lantai kamar mandi
Kini dengan tanpa menaruh rasa curiga atas kotoran tanah yang telah gue temui tersebut, gue segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tapi kini baru saja gue mengarahkan pandangan mata ini pada lubang toilet, gue mendapati adanya keanehan yang lain yaitu berupa keberadaan dari genangan air yang terdapat di dalam lubang toilet terlihat berwarna merah keruh
“ apa itu.....?” tanya gue dalam hati begitu melihat sebuah benda yang tersembunyi dalam keruhnya air toilet, mendapati hal itu, gue pun segera mencari cara untuk mengambil benda tersebut, hingga akhirnya seiring dengan terpikirkannya sebuah cara untuk mengambil benda tersebut dari genangan air yang terdapat dalam lubang toilet, keberadaan dari pensil gambar yang masih tersimpan di dalam saku celana ini, kini gue pergunakan untuk mengambil benda tersebut, dan alangkah terkejutnya gue begitu kini mendapati adanya sebuah silet yang tersangkut pada mata pensil
" ya tuhan....apa maksud dari semua ini....?”
Dengan seksama kini gue memperhatikan keberadaan silet yang telah gue letakan di telapak tangan, hingga akhirnya diantara ketiadaan jawaban atas apa yang telah gue temui saat ini, gue segera membersihkan keberadaan dari kotoran tanah yang mengotori lantai kamar mandi, segayung air bersih yang gue siramkan pada lubang toilet kini telah menggantikan keberadaan dari air toilet yang berwara merah keruh dengan air yang berwarna jernih
“ sebenarnya siapa yang telah melakukan tindakan sekonyol ini.....” gumam gue seraya menuntaskan keinginan gue untuk buang air kecil, dan kini setelah gue menuntaskan keinginan gue tersebut, tanpa berkeinginan lagi untuk memeriksakan luka yang ada di kepala gue ini, gue segera beranjak pergi meninggalkan kamar mandi, guna mencari tahu akan sosok yang telah melakukan tindakan sekonyol ini, dan sesampainya kini gue di dalam kamar, gue hanya mendapati keberadaan angga yang tengah terlelap dalam tidur pulasnya, mendapati hal tersebut, gue pun berusaha untuk mencari keberadaan luka yang mungkin terdapat pada tubuh angga
“ bang....ada apa bang.....” tanya angga dengan tatapan mata yang nanar, sepertinya apa yang telah gue lakukan ini, kini telah mengusik tidur lelap angga
“ wahhh kamu udah bangun ga, enggak ada apa apa kok, abang hanya ingin membangunkan kamu aja....bukannya hari ini kan kamu harus memulai sekolah” jawab gue beralasan, kini begitu mendengar alasan gue tersebut, terlihat angga beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari dalam kamar
“ bukan angga....kalau bukan angga berarti....”
Mendapati bahwa pikiran gue kini terarah pada sosok imas dan nenden, gue segera bergegas menuju ke kamar yang di tempati oleh imas dan nenden, dan sesampainya kini gue di depan pintu kamar, nampak terlihat keberadaan dari pintu kamar yang masih tertutup rapat, hal ini menunjukan bahwa imas dan nenden masih terbuai dalam mimpi indahnya
“ teh nenden....!”
Diantara ketukan yang gue lakukan pada daun pintu kamar, gue tidak mendengar adanya jawaban dari dalam kamar, mendapati hal tersebut, kini timbul kecurigaan gue atas sesuatu yang mungkin telah terjadi di dalam kamar
“ teh nenden....” tegur gue kembali, dan untuk teguran yang gue lakukan kali ini, gue mengiringinya dengan memutar gagang pintu kamar, hingga akhirnya seiring dengan putaran yang gue lakukan pada gagang pintu kamar, gue mendapati keadaan pintu kamar yang tidak terkunci dari dalam, mendapati hal tersebut, dengan perlahan gue pun mulai berjalan memasuki kamar, keberadaan dari gorden jendela kamar yang masih tertutup rapat, kini telah menghalangi sinar dari cahaya matahari pagi yang hendak memasuki kamar
“ imse...teh nenden...! kok belum pada bangun sih....mamah udah menunggu dibawah tuh....” tegur gue seraya menyingkap gorden jendela kamar, dan kini diantara gorden jendela kamar yang telah tersingkap, sinar terang dari cahaya matahari pagi, nampak mulai masuk dan menerangi ruangan kamar

namakuve
meizhaa
rassof
rassof dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.