- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#1014
Finally...
Quote:
EPILOG
Barisan antrian mengular, mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi penyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu.
Berbagai celotehan itu samar - samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan. Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara seseorang mengalihkan perhatiannya. Medina bergegas menyeka air matanya, tak ingin ketahuan menangis di hari dimana semua orang tengah berbahagia melihatnya telah menjadi penulis hebat seperti keinginannya sejak lama.
" Tirta," sapa Medina mendapati cowok berambut ikal itu telah ada di hadapannya." Lo nggak punya kata - kata lain lagi ya?"
" Nggak," jawab Tirta dengan senyum puas sambil memberikan buku yang ia tenteng sejak tadi pada Medina.
" Lo emang pembaca setia novel gue ya, harus banget kayaknya lo beli novel ini lagi? Lo kan udah tahu isi ceritanya, bahkan cerita aslinya juga," tutur Medina sambil menandatangani buku yang di sodorkan Tirta.
" Ini buat adik sepupu gue."
" Kemarin buat kakak sepupu, sekarang adik sepupu, besok siapa lagi? Nenek lo?" Canda Medina kembali menyerahkan novel Tirta yang sudah ia tanda tangani.
Sekedar informasi, sejak novelnya di terbitkan empat tahun lalu. Novel yang ia tulis telah beberapa kali di cetak. Walau Medina sudah menulis beberapa judul novel, entah kenapa novel pertamanya ini tak pernah kehabisan peminat.
Alasannya, karena pembaca tertarik ingin mengenal tokoh Adam, cowok luar biasa bagi adiknya. Mereka tidak tahu saja jika Adam yang asli jauh lebih baik dan tampan daripada yang Medina tuangkan ke dalam karyanya.
Dan yang mereka tidak tahu, Medina telah kehilangan sosok kakak luar biasa dalam hidupnya. Sambungan telepon malam itu nyatanya tidak menghasilkan apa - apa. Ia tak mendapatkan informasi apapun tentang Adam. Pemilik apartemen hanya bilang, Adam tidak pernah datang ke sana, bahkan ia telah membatalkan niat untuk tinggal di apartemen itu. Medina hanya berharap dimana pun kakaknya berada, ia baik - baik saja.
" Gimana kabar Nando? Operasinya lancar?" tanya Tirta sambil bergeser ke sisi kanan meja, membiarkan yang lain mendapatkan tanda tangan Medina.
Medina mengedikkan bahu, " Nggak tahu, dia juga belum ngasih kabar ke gue," jawab Medina santai dan masih sibuk dengan kegiatannya meladeni penggemar.
" Lagian gaya banget sih tuh anak, mau operasi mata aja sampe harus terbang ke luar negeri segala. Di sini juga bisa kalik."
" Kemauan ayahnya, Tirta. Lagian pendonornya juga di sana."
" Nggak...nggak, gue rasa bukan cuma karena itu. Gue rasa dia mau cari calon bini di sana."
Medina terbahak, itu adalah kecurigaan terkonyol yang pernah ia dengar dari mulut Tirta." Kalaupun dia cari calon istri di sana, emang kenapa? Lo mau juga?"
" Yah bukan, kan kasian lo patah hati entar."
" Hahaha...ya udah sih. Biarin aja. Perhatian banget lo sama gue. Gue laporin Nina, tahu rasa lo. Batal nikah lo ntar, hahaha... ."
" Dih...janganlah, tabungan gue udah habis buat ngurus semuanya, masa' iya batal cuma karena mulut ember lo Na," pinta Tirta dengan wajah memelas dan kian sukses mengundang senyum lebar Medina.
Walau asyik bergurau dengan Tirta, Medina tetap fokus menandatangani buku yang sudah di beli penggemarnya sambil membubuhkan pesan-pesan singkat di sana.
" Kakak bangga sama kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini menghentikan kegiatannya.
Jantungnya berdetak cukup keras, nafasnya terdengar tak teratur, ia masih belum yakin dengan apa yang ia dengar, suara itu ... benarkah ia ada di sini? Saking gugup dan tak yakinnya, Medina bahkan takut untuk mengangkat wajahnya. Hingga tepukan keras dari Tirta tepat di pundaknya, membuat Medina terpancing juga melihat wajah itu.
Medina gamang, Tirta yang ada di sampingnya terlihat cukup shock dengan apa yang ia lihat di depan mata. Pelan tapi pasti senyum manis terukir di bibir Medina, bahkan tanpa sadar pelupuk matanya telah di banjiri air mata sekarang.
Dia kembali.
***
Aroma khas cappucino menyeruak, dan tanpa permisi menusuk indra penciuman Medina. Seorang perempuan dengan setelan hitam putihnya baru saja mengantarkan pesanannya.
"Selamat menikmati,"ucap perempuan itu ramah dan kemudian berlalu pergi.
Kehadiran pelayan kafe tadi, setidaknya mengurangi sedikit kecanggungan yang terjadi di antara ia dan Adam sejak pertemuan di toko buku tadi.
Medina memang sangat bahagia telah dipertemukan kembali dengan kakaknya. Dan, ia juga sangat bersyukur karena kakaknya dalam keadaan sangat baik. Tapi...ia juga bingung harus memulai pembicaraan darimana, mengingat pertemuan terakhir mereka yang tidak mengenakkan. Ia ragu,'apa benar Adam sudah memaafkannya?'.
" Kak, maafin Medina ya," ujar Medina, setelah tadi puas menghela nafas panjang demi menghilangkan kegugupannya.
Adam tersenyum sambil mengangguk pelan," Maafin kakak juga."
" Kakak kemana aja? Kenapa baru muncul sekarang? Banyak banget yang pengen aku ceritain sama kakak. Banyak banget hal penting yang terjadi di sini saat kakak nggak ada."
" Kakak pergi buat wujudin kebahagiaan kamu sama papa."
" Kebahagiaan aku dan papa?" tanya Medina tak mengerti. Atau mungkin ia sudah melupakan satu hal.
" Iya, kamu bilang, kamu akan bahagia kalau lihat kakak bahagia."
" Iya, itu udah pasti."
" Kakak berhasil wujudin mimpi kakak, jadi seorang dosen di salah satu kampus di Jerman."
" Kok Jerman? Harusnyakan, Harvard di US," protes Medina dengan wajah memelas. Rasa canggung yang tadi terus menggelayuti sepertinya sudah kabur entah kemana.
Adam tersenyum ringan mendapati adiknya seperti itu. Medina kembali pada sifat aslinya yang gemar protes.
" Kenapa Jerman? Karena itu bagian dari impian papa. Papa mau kakak dapatin salah satu beasiswa di kampus terkenal di sana."
" Jadi, keberangkatan kakak ke Jerman empat tahun lalu itu demi impian papa?"
Adam mengangguk mantap," Dan tentu saja buat kamu dan mama juga." Ok, stop bahas soal kakak. Bagaimana dengan kamu?"
" Aku? Ya ... seperti yang kakak lihat, aku berhasil wujudin mimpi aku, dan aku bahagia bisa ketemu kakak lagi."
" Tentang Nando?"
" Nando? Aku sama dia baik - baik aja. Tetap berteman baik, walau sekarang dia jauh lebih menyebalkan dari sebelumnya," ungkap Medina sambil sesekali tersenyum. Mengingat segala tingkah konyol Nando yang levelnya semakin parah.
" Kakak restuin kalian."
Ucapan Adam membuat Medina bingung. Apa yang di katakan Adam sangat-sangat tidak nyambung dengan apa yang ia ceritakan.
" Selesai operasi, Nando langsung terbang ke Jerman buat nemuin kakak, dia minta izin untuk ngelamar kamu."
" Nemuin kakak? Kok bisa?"
" Ya bisalah, karena ternyata kak Adam sempat kirim email ke gue dan ngasih alamatnya di Jerman. Tapi nggak pernah kebaca. Dan baru kebaca saat gue kirim email ke lo minggu lalu."
Itu Nando dan entah sejak kapan ia telah duduk di meja yang berada persis di belakang Medina. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi, lelaki ini datang tanpa kursi rodanya. Padahal bulan lalu, sebelum berangkat ke Singapura, ia masih duduk di kursi roda.
Tatapan Medina masih terfokus pada Nando yang kini telah berpindah duduk di samping Adam. Sejak kapan Nando bisa kembali berjalan?
" Lo kirim email ke gue? Kapan?" Tanya Medina penasaran.
" Waktu gue udah dapat ini," jawab Nando sambil mengarahkan telunjuk ke arah matanya. " Sibuk mulu' sih, sampe email dari calon imam nggak di baca," sindir Nando seenaknya.
Merasa disindir, Medina sangat ingin meng-keplak kepala pria itu dengan flatshoesnya. Nando kian menyebalkan. Tapi ia tidak punya waktu untuk melakukan itu, mengecek email dan memastikan jika Nando tidak berbohong itu jelas lebih baik.
" Sebelum kirim email ke Nando, kakak juga email kamu."
" Masa sih?!"
" Cek aja."
Medina menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia bergegas membuka email dan mendapati ada ratusan email yang tak terbaca di sana. Aahhhh ... haruskah ia mencari email Nando dan Adam yang mungkin terselip di sana. Itu pasti melelahkan dan membuang waktu.
" Iya, aku percaya." Medina menyerah, ia meletakkan kembali ponselnya dan urung mencari email yang di maksud Adam dan Nando.
" Jadi ... gimana? Lo terima lamaran gue?" tanya Nando tak mau banyak berbasa - basi.
" Lo sejak kapan bisa jalan lagi?" Medina malah balik bertanya.
" Sebelum berangkat, gue bertekad untuk sembuh total demi bisa jadi yang terbaik buat lo. Makanya, setelah operasi gue nggak langsung balik, gue ngejalanin terapi rutin di sana. And then, seperti yang lo lihat sekarang. Gue sembuh dan siap berdiri satu shaf di depan lo." Cerita Nando dengan sangat antusias.
Medina mengangguk tanda mengerti," Oh jadi gitu. Ya udah."
" Ya udah apa?"
" Kak Adam, ayo kita pulang. Mama pasti seneng banget ketemu sama kakak." Ajak Medina pada Adam, ia terlihat sengaja mengabaikan pertanyaan Nando.
Medina menarik Adam, untuk segera bergegas meninggalkan kafe. Dan tentu saja meninggalkan Nando yang masih menanti jawaban jelas dari Medina. Nando melangkah cepat mengekori Medina dan Adam yang kini telah berdiri di ambang pintu kafe.
" Na, ya udah apa?"
Medina membalikkan badannya, dan fokus memandangi wajah Nando yang sedang harap - harap cemas. Medina belum mengeluarkan sepatah katapun, hal itu memaksa Nando untuk berbicara lebih dulu.
" Gue tahu, gue tengil, gue nyebelin, gue seneng ngerusuhin lo dan bikin mood lo naik turun. Bahkan, gue sering bikin lo nangis. Gue sadar, ada banyak cowok yang lebih baik dari gue dan lebih pantes buat lo. But, please ... Let me be the first person to see you smile in the morning.
" ... "
" Gue nggak maksa lo harus bilang iya. Ta-."
" Nando," panggil Medina menghentikan ucapan Nando. "Bocah tengil nan menyebalkan. Yang punya hobi ngerusuhin hidup gue, menguji kesabaran gue dengan segala tingkah konyolnya. Tapi ... selalu berhasil bikin gue tersenyum. Dengan tulus gue bilang, 'aku mau nikah sama kamu'."
" Alhamdulillah!!" Seru Nando sambil melonjak kegirangan.
Medina yang menyaksikan hanya tersenyum. Ia lega satu persatu orang telah menemukan kebahagiaannya. Termasuk dirinya. Dan yang terpenting ia telah kembali bertemu dengan Adam. Seorang kakak yang selama ini selalu berjuang untuk membahagiakannya. Seorang kakak yang terkadang menyebalkan karena terlalu mementingkan adiknya daripada dirinya sendiri.
Terima kasih kak Adam, terima kasih karena telah mengajarkan Medina akan banyak hal. Tentang sabar, tentang saling memaafkan, dan tentang Allah yang tak pernah meninggalkan.
🍁🍁🍁
THE END
🍁🍁🍁🍁
THE END
🍁🍁🍁🍁
Diubah oleh riani14 17-03-2019 16:15
2
Kutip
Balas