- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.9K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#12
Malam itu, gw sama HRD ngopi di cafe daerah Bratang, tempatnya cukup sepi, dan enak buat ngobrol.
Setelah pesanan datang, baru kita serius, lebih tepatnya.. gw yang jadi pendengar. HRD gw juga mulai serius, tapi ya tetep lucu.
Awalnya, gw kira bakalan bertopik berat, semacam perusaahan mau dibawa kemana.. kan berat.
Eh ternyata dia sedang galau, ya ampun..
Sudah tua, galau.. MATIO AE PAK !!
Selesai dengan curhatnya, yang masih berbau cinta dan percintaan, baru dia menanyakan perihal gw.
"Kamu beneran masih seperti dulu?" tanya HRD datar.
"Seperti yang pernah kamu lihat,"
"Emang kenapa?" lanjut gw datar.
"Nggak, cuma tanya aja.."
Manusia itu kadang aneh, apa dan bagaimana.. kadang jadi rumit, padahal kita sudah tau cara dan jawabanya seperti apa. Hanya saja, kita butuh seseorang buat meyakinkan secara langsung. Sesimple itu sebenarnya. Misalnya gw mau menyelesaikan persoalan X, nah kita tau caranya seperti apa, dan kalau sudah selesai akan kemana kita paham betul, tapi.. kadang nyali kita yang luntur di tengah jalan, maka dari itu.. adanya seseorang kadang sangat penting. Enttah itu sekedar jadi pendengar, atau peyakin.
Dan malam itu, gw sempetin nganter HRD pulang, dia anak malang.. disini dia kos di sini.
"Thanks ya, maaf sudah ngerepotin.."
"Santai buk,"
"Bisa nggak pake nama doang, gw juga belum tua-tua amat.. tega!"
"Hahahaha, itu cara ku menghormati atasan ya"
"Kalau kamu bener hormat, aku punya permintaan.."
"Apa.?"
"Rahasia,"
"Merem tapi.." lanjutnya sumringah.
"Mau apa, mau cium gw kan..?!"
"JIJIK woe, emang gw apaan.."
Gw ngakak, auto dapet cubitan.
"Nuu e.."
"Apa?"
"Mau nggak lu cium gw, sekali ini aja.."
"He !!" gw kaget.
"Maksut kamu," gw masih nggak paham.
"Kayaknya, gw harus iklasin lu deh, meski.. sakit gw terima, toh.. lu juga gitu ke gw, yang jelas.. gw sudah bilang ke lu, kalau gw juga suka sama lu, lola juga dan mungkin masih ada yang sama kek kita ke lu, tadi.. gw sempet denger pembicaraan lu sama mamanya Lola, sedangkan gw.."
Tiba, tiba.. dia nagis.
Gw nggak tau harus gimana, posisi kita masih di halaman rumahnya HRD, lebih tepatnya ini rumah fasilitas dari kantor, jadi dia tinggal sendiri di sini. Dulu pernah ada yang tinggal selain HRD, tapi dia sedang di luar kota, buat buka cabang baru.
Saat bahunya masih bergetar, gw peluk dia. ini bukan soal suka nggak suka, cari kesempatan apalagi, gw adalah teman dan dia adalah teman gw. Jika temen gw sedih, gw juga nggak bisa biarin begitu saja. Akhirnya gw bawa kedalam, ngak enak kalau dilihat orang, di intip lebih tepatnya. Lagian, gerbang depan juga tinggi, mana ada yang mau macem-macem coba.
Rumahnya nggak gede-gede amat, tapi bersih dan rapi.
Kita duduk di ruang tamu, dia masih manyun-manyun nggak jelas, dan sesekali masih menyeka matanya yang berkaca-kaca. Tentu juga, masih sandaran bahu gw, mana tangan gw di peluk juga, Tuhan.. kuatkan iman hamba.
Malam itu gw nemenin HRD sampai dia tidur, terpaksa gw tidur di tempatnya. Tapi jangan pikir kita macem-macem, lagian kita sudah umur jadi tau.. ana yang sifatnya nafsu dan mana yang memang benar-benar nafsu. Eh.. bedanya apa yak? hahahaha. Intinya, dia cuma mau ada di samping gw saja, nggak lebih. Sekali dua kali dia mau ambil bibir gw, tapi gw nolak. Alasan gw belum gosok gigi, sama sariawan.
Awalnya aneh, dia nggak nerima tapi akhirnya ngakak juga.
Dan ya, paginya dia ikut gw ke apartemen, plus nungguin gw mandi, ganti sampai berangkat ngantor kita bareng.
Dan apa yang terjadi, kantor jadi hening. Ah, mereka sih nggak tau siapa kita. Gkgkgkgkgk..
Kerja dulu bos...
Setelah pesanan datang, baru kita serius, lebih tepatnya.. gw yang jadi pendengar. HRD gw juga mulai serius, tapi ya tetep lucu.
Awalnya, gw kira bakalan bertopik berat, semacam perusaahan mau dibawa kemana.. kan berat.
Eh ternyata dia sedang galau, ya ampun..
Sudah tua, galau.. MATIO AE PAK !!
Selesai dengan curhatnya, yang masih berbau cinta dan percintaan, baru dia menanyakan perihal gw.
"Kamu beneran masih seperti dulu?" tanya HRD datar.
"Seperti yang pernah kamu lihat,"
"Emang kenapa?" lanjut gw datar.
"Nggak, cuma tanya aja.."
Manusia itu kadang aneh, apa dan bagaimana.. kadang jadi rumit, padahal kita sudah tau cara dan jawabanya seperti apa. Hanya saja, kita butuh seseorang buat meyakinkan secara langsung. Sesimple itu sebenarnya. Misalnya gw mau menyelesaikan persoalan X, nah kita tau caranya seperti apa, dan kalau sudah selesai akan kemana kita paham betul, tapi.. kadang nyali kita yang luntur di tengah jalan, maka dari itu.. adanya seseorang kadang sangat penting. Enttah itu sekedar jadi pendengar, atau peyakin.
Dan malam itu, gw sempetin nganter HRD pulang, dia anak malang.. disini dia kos di sini.
"Thanks ya, maaf sudah ngerepotin.."
"Santai buk,"
"Bisa nggak pake nama doang, gw juga belum tua-tua amat.. tega!"
"Hahahaha, itu cara ku menghormati atasan ya"
"Kalau kamu bener hormat, aku punya permintaan.."
"Apa.?"
"Rahasia,"
"Merem tapi.." lanjutnya sumringah.
"Mau apa, mau cium gw kan..?!"
"JIJIK woe, emang gw apaan.."
Gw ngakak, auto dapet cubitan.
"Nuu e.."
"Apa?"
"Mau nggak lu cium gw, sekali ini aja.."
"He !!" gw kaget.
"Maksut kamu," gw masih nggak paham.
"Kayaknya, gw harus iklasin lu deh, meski.. sakit gw terima, toh.. lu juga gitu ke gw, yang jelas.. gw sudah bilang ke lu, kalau gw juga suka sama lu, lola juga dan mungkin masih ada yang sama kek kita ke lu, tadi.. gw sempet denger pembicaraan lu sama mamanya Lola, sedangkan gw.."
Tiba, tiba.. dia nagis.
Gw nggak tau harus gimana, posisi kita masih di halaman rumahnya HRD, lebih tepatnya ini rumah fasilitas dari kantor, jadi dia tinggal sendiri di sini. Dulu pernah ada yang tinggal selain HRD, tapi dia sedang di luar kota, buat buka cabang baru.
Saat bahunya masih bergetar, gw peluk dia. ini bukan soal suka nggak suka, cari kesempatan apalagi, gw adalah teman dan dia adalah teman gw. Jika temen gw sedih, gw juga nggak bisa biarin begitu saja. Akhirnya gw bawa kedalam, ngak enak kalau dilihat orang, di intip lebih tepatnya. Lagian, gerbang depan juga tinggi, mana ada yang mau macem-macem coba.
Rumahnya nggak gede-gede amat, tapi bersih dan rapi.
Kita duduk di ruang tamu, dia masih manyun-manyun nggak jelas, dan sesekali masih menyeka matanya yang berkaca-kaca. Tentu juga, masih sandaran bahu gw, mana tangan gw di peluk juga, Tuhan.. kuatkan iman hamba.
Malam itu gw nemenin HRD sampai dia tidur, terpaksa gw tidur di tempatnya. Tapi jangan pikir kita macem-macem, lagian kita sudah umur jadi tau.. ana yang sifatnya nafsu dan mana yang memang benar-benar nafsu. Eh.. bedanya apa yak? hahahaha. Intinya, dia cuma mau ada di samping gw saja, nggak lebih. Sekali dua kali dia mau ambil bibir gw, tapi gw nolak. Alasan gw belum gosok gigi, sama sariawan.
Awalnya aneh, dia nggak nerima tapi akhirnya ngakak juga.
Dan ya, paginya dia ikut gw ke apartemen, plus nungguin gw mandi, ganti sampai berangkat ngantor kita bareng.
Dan apa yang terjadi, kantor jadi hening. Ah, mereka sih nggak tau siapa kita. Gkgkgkgkgk..
Kerja dulu bos...
tikusil dan 2 lainnya memberi reputasi
3