- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#49
Chapter 8
Begitu gue mendapati bahwa kini gue telah berada seorang diri di ruang keluarga, gue memutuskan untuk terlebih dahulu melihat keadaan nenek di dalam kamar, dan kini seiring dengan keberadaan gue yang telah berdiri di depan pintu kamar nenek, nampak terlihat nenek yang tengah tertidur dengan pulasnya di atas ranjang, mendapati hal tersebut, gue pun kini memilih untuk mengisi waktu dengan membaca beberapa surat kabar di ruang keluarga, hingga akhirnya disaat waktu kini telah menunjukan pukul dua belas malam, kehadiran dari suara riuh kawanan angsa yang berada di halaman rumah kini memancing rasa keingintahuan gue atas apa yang menyebabkan kawanan angsa tersebut menimbulkan suara riuh seperti itu, dan kini diantara rasa keingintahuan gue yang tinggi, gue pun segera berjalan menuju ke teras depan guna melihat keadaan kawanan angsa yang berada di halaman rumah
“ apa sebenarnya yang telah terjadi, apa mungkin angsa angsa itu telah melihat sesuatu....?” tanya gue dalam hati dengan pandangan mengarah ke kandang angsa, kini nampak dipandangan gue keberadaan dari kawanan angsa yang tengah bergerak di dalam kegelapan, hingga akhirnya diantara pergerakan yang dilakukan kawanan angsa tersebut, kawanan angsa itu kini terhenti pada sebuah titik yang berada di salah satu sisi kandang, dan secara bersamaan kini kawanan angsa tersebut kembali mengeluarkan suaranya yang terdengar riuh
“ sepertinya mereka tengah mengusir sesuatu...tapi apa...?” tanya gue kembali dalam hati seraya mengarahkan pandangan ke beberapa sudut di area kandang angsa yang terselimuti oleh kegelapan malam
“ sebaiknya gue periksa aja, yaa siapa tau angsa angsa itu telah melihat seseorang yang mempunyai niat enggak baik di rumah ini.....” ujar gue dengan keinginan untuk melangkah menuju ke kandang angsa, tapi kini baru saja beberapa langkah gue berjalan, langkah gue pun kini terhenti begitu telinga gue menangkap adanya keberadaan suara yang terdengar dari arah belakang tubuh ini
“ bukankah itu suara.....”
Dugaan gue yang mengatakan bahwa suara yang telah terdengar itu adalah suara yang di timbulkan oleh pergerakan dari daun pintu yang tertutup secara perlahan, kini telah mengantarkan pergerakan dari pandangan mata gue untuk menoleh ke arah belakang, dan sepertinya dugaan gue kini telah menjadi kenyataan, nampak terlihat keberadaan dari pintu rumah yang telah tertutup dengan tanpa adanya keberadaan seseorang yang menutup pintu rumah
“ apa mungkin pintu rumah itu tertutup karena.....”
Baru saja kini gue ingin meneruskan lanjutan dari perkataan yang sebenarnya ingin mengatakan bahwa kejadian yang ada di hadapan gue ini adalah ulah dari sesuatu yang sempat mengganggu gue sewaktu menjaga nenek, sepertinya terpaksa gue urungkan, karena saat ini gue merasakan adanya hembusan angin yang cukup kencang hingga menggoyang dedaunan dari pepohonan yang berada di halaman rumah, mendapati hal tersebut, gue pun berkesimpulan bahwa kejadian yang terjadi di pintu rumah adalah akibat dari hembusan angin yang tengah gue rasakan saat ini, dan kini setelah menarik kesimpulan tersebut entah mengapa keinginan gue untuk memeriksa penyebab dari suara riuh yang telah di timbulkan oleh kawanan angsa seperti sirna dengan sendirinya
“ sepertinya memang enggak ada apa apa, mungkin kawanan angsa itu tadi sempat melihat adanya hewan malam yang mendekati kandang...” gumam gue diantara pergerakan dari pandangan mata ini yang menatap ke beberapa sudut di halaman rumah, dan kini setelah gue merasa yakin bahwa memang tidak ada seorangpun yang berada di halaman rumah, gue memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dengan diiringi oleh menghilangnya suara riuh dari kawanan angsa
“ sial...gue enggak boleh selalu berpikiran yang bukan bukan seperti ini, walaupun gue memang yakin ada sesuatu yang enggak beres di rumah ini....”
Lama kini gue kembali terdiam di dalam kebimbangan untuk memilih menuju ke kamar nenek atau membuat kopi panas terlebih dahulu, hingga akhirnya setelah melalui pertimbangan yang matang, gue memutuskan untuk membuat kopi panas terlebih dahulu, dan keputusan gue tersebut di dasari oleh rasa trauma gue atas kejadian yang pernah gue alami sewaktu menjaga nenek pada malam sebelumnya, dan kini selepas dengan kopi panas yang telah terbuat, gue memutuskan untuk segera beranjak pergi meninggalkan dapur guna menuju ke kamar nenek
“ darma datang nek...” gumam gue diantara pergerakan dari langkah kaki ini yang berjalan memasuki kamar, dan kini begitu melihat keberadaan nenek yang tengah terbaring diatas ranjang, gue mendapati nenek yang tengah terbaring dengan kedua kelopak matanya yang masih terbuka
” wahhh nenek kok belum tidur....pasti nenek sengaja menunggu darma datang ya...” canda gue seraya meletakan gelas yang berisikan kopi panas diatas meja, dan seiring dengan keberadaan gelas kopi yang telah berada diatas meja, nampak pula keberadaan dari beberapa lembar kertas kosong serta sebuah pensil gambar yang pada malam sebelumnya memang telah gue persiapkan untuk menemani kesendirian gue dalam menjaga nenek
“ ya udah...sebaiknya sekarang nenek istirahat aja, biar darma yang menjaga nenek malam ini...” mendengar perkataan gue itu, nenek hanya memperlihatkan ekspresi wajahnya yang datar, ketiadaan kata yang terucap dari mulutnya kini telah membuat gue memutuskan untuk mengambil sebuah selimut hangat guna melindungi tubuh nenek dari dinginnya udara malam
“ mungkin nenek memang masih belum bisa tidur....” gumam gue dalam hati begitu melihat nenek yang hanya terdiam dengan tatapan matanya yang kosong menatap ke langit kamar, mendapati apa yang tengah dilakukan oleh nenek saat ini, sejujurnya gue sama sekali tidak merasa khawatir, hal ini dikarenakan gue merasakan adanya perbedaan antara apa yang tengah dilakukan nenek saat ini dengan apa yang telah dilakukannya kemarin malam, untuk kali ini gue hanya mendapati sebuah tatapan kosong yang terpancar dari kedua bola mata nenek tanpa disertai dengan adanya ekspresi ketakutan ataupun kalimat racauan yang terucap dari mulutnya, mendapati kenyataan ini, entah sebuah pemikiran yang datang darimana, tiba tiba saja kini terlintas di dalam pikiran gue ini untuk melanjutkan kembali sebuah pertanyaan yang sempat gue tanyakan kepada nenek kemarin malam dan hanya terjawab oleh genggaman tangan nenek yang begitu terasa erat
“ tapi gue harus mencari cara untuk mendapatkan jawaban dari nenek tanpa gue harus mengulang ulang pertanyaan kepada nenek....” pikir gue dalam hati seraya memikirkan berbagai macam alternatif cara yang bisa gue pergunakan untuk memuluskan rencana gue ini, hingga akhirnya diantara beberapa alternatif cara yang bisa gue lakukan untuk menggali keterangan dari nenek, gue pun memutuskan untuk mengambil sebuah cara yang sekiranya akan dapat memberikan sebuah jawaban yang bisa memuaskan hati gue ini, dan seiring dengan sebuah cara yang kini telah terputuskan, gue segera berjalan keluar dari dalam kamar guna mengambil kekurangan kertas kosong yang akan gue pergunakan sebagai media dalam rencana yang akan gue jalankan ini
“ semoga rencana yang akan gue jalankan ini akan berhasil....”
Seiring dengan sebuah harapan yang telah terucap di hati ini, gue pun segera kembali memasuki kamar dengan turut serta membawa beberapa lembar kertas kosong serta sebuah isolatif, dan kini diantara pergerakan gue yang telah menutup pintu kamar, satu persatu dari lembaran kertas kosong yang telah gue persiapkan, mulai gue tempelkan pada dinding kamar yang berada tepat di hadapan nenek, hingga akhirnya disaat kini lembaran kertas yang tertempel di dinding telah membentuk sebuah ukuran persegi panjang, gue menghentikan semua aktifitas ini, guna memperkirakan bahwa hamparan kertas yang tertempel di dinding telah memenuhi keinginan gue untuk menggambarkan sebuah bentuk yang mungkin telah dilihat oleh nenek sewaktu mengalami kejadian buruk kemarin malam
“ sepertinya ini udah cukup....” gumam gue diantara tatapan mata nenek yang memandang ke arah gue serta ke arah hamparan kertas yang tertempel di dinding
“ nek...tolong bantu darma ya, darma hanya ingin mengetahui tentang apa yang telah nenek lihat, andai memang gambar yang nanti darma buat hampir menyerupai dengan apa yang telah nenek lihat, tolong nenek memberikan isyarat kepada darma....” ujar gue seraya menatap ke wajah nenek dan berbalas dengan kebisuan, mendapati hal tersebut, gue segera mengambil pensil yang berada di atas meja guna menggambarkan sesuatu yang ada di dalam pikiran gue saat ini
Detik demi detik yang terus berjalan kini mengiringi pergerakan tangan gue yang mulai menorehkan goresan hitam diatas kertas, dan entah mengapa kini seiring dengan goresan tangan gue yang mulai membentuk sebuah pola gambar yang sesuai dengan apa yang ada di imajinasi gue ini, keberadaan dari gambar bayangan hitam yang telah mengisi lembaran kertas kosong, kini seperti menghadirkan nuansa yang berbeda di dalam ruangan kamar
“ kok kamar ini jadi terasa dingin ya...apa mungkin rasa dingin yang gue rasakan ini adalah pertanda dari kehadiran sesuatu yang telah mengganggu gue kemarin malam....?” gumam gue diantara rasa dingin yang tengah gue rasakan, dan kini belum sempat gue mendapatkan jawaban atas pertanyaan gue itu, tiba tiba saja adrenalin gue serasa dihentakan tinggi begitu kini gue mendengar adanya suara deritan yang bersumber dari arah tempat tidur nenek, mendapati hal tersebut, pandangan mata gue pun kini terarah kepada nenek yang tengah terbaring di atas tempat tidur, dan di saat inilah kini gue bisa melihat serta merasakan adanya perubahan gestur tubuh nenek yang menunjukan rasa ketidaknyamanannya atas gambar yang telah gue buat
“ apa enggak sebaiknya gue hentikan aja pembuatan gambar ini....”
Diantara rasa bimbang yang tengah berkecamuk di dalam pikiran gue ini, keinginan gue untuk menghentikan aktifitas yang tengah gue lakukan saat ini, kini seperti terbentur oleh keteringatan gue atas beberapa kejadian aneh yang telah terjadi dalam beberapa hari belakangan ini, dan dari semua kejadian aneh yang telah terjadi itu, gue merasakan semua gangguan aneh itu mulai terasa mengganggu secara personal ke beberapa anggota keluarga gue yang lain, dan atas pertimbangan inilah kini gue merasa sudah selayaknya bagi gue untuk mencari tahu tentang latar belakang serta penyebab dari gangguan aneh yang telah terjadi itu
“ maafkan darma nek....darma terpaksa harus melanjutkan semuanya ini...” gumam gue seraya memalingkan pandangan mata ini dari wajah nenek, hingga akhirnya setelah kini gue kembali melanjutkan untuk menorehkan goresan hitam di atas kertas yang menempel di dinding kamar, goresan goresan tersebut secara perlahan mulai membentuk sebuah gambaran dari bayangan hitam seperti apa yang ada di dalam pikiran gue ini...tapi kini baru saja gue hendak menyelesaikan kesempurnaan dari gambar bayangan hitam tersebut, tiba tiba saja pensil gambar yang tengah gue pergunakan untuk mengarsir gambar tersebut dalam balutan arsiran warna hitam, mengalami patah pada bagian mata pensil, mendapati hal itu, gue pun memutuskan untuk segera mengambil pensil pengganti yang tersimpan di dalam laci meja belajar yang terdapat di kamar gue, dan kini tanpa adanya keinginan untuk menunda nunda lagi atas penyempurnaan dari gambar yang telah gue buat ini, gue segera bergegas meninggalkan kamar guna mengambil pensil pengganti
“ tinggal selangkah lagi...dan semuanya akan beres, mudah mudahan nanti nenek akan bisa memberikan isyarat kepada gue akan kesesuaian dari gambar yang telah gue buat itu dengan apa yang telah dilihatnya....” ujar gue begitu mengambil pensil yang akan gue pergunakan untuk menyempurnakan dari gambar gue itu, dan kini dengan diiringi oleh suara dengkuran kecil yang terdengar dari mulut angga, gerakan kaki gue yang telah berjalan keluar dari dalam kamar, perlahan mulai melangkah menuju ke kamar nenek dengan turut serta membawa sebuah keyakinan akan bahwa nenek akan memberikan sebuah jawaban yang sekiranya akan memuaskan rasa keingintahuan gue ini
Terpaku dalam rasa tidak percaya....ya itulah sebuah kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaan gue disaat kini gue harus menemui sebuah kenyataan akan kondisi kamar nenek yang terselimuti oleh kegelapan, bagi gue apa yang tengah gue lihat saat ini kini seperti sebuah layar lebar yang tengah mempertunjukan sebuah adegan pengulangan dari sebuah kejadian menyeramkan yang telah gue alami kemarin malam
“ sadar dar...sadar...semuanya ini pasti hanya tipuan mata lu aja...sebenarnya lampu kamar itu menyala....lu enggak boleh tertipu lagi.....”
Lama gue kembali terdiam dalam kebimbangan untuk melangkahkan kaki ini memasuki kamar nenek, ketidakinginan gue untuk mengalami sesuatu seperti apa yang telah gue alami, kini telah membuat gue menggerakan tangan ini untuk mengusap usap kedua belah kelopak mata guna meyakinkan atas apa yang tengah gue lihat saat ini, hingga akhirnya setelah beberapa kali gue melakukan hal tersebut, keberadaan dari lampu kamar yang terlihat masih belum menyala, kini menempatkan gue pada sebuah posisi diantara rasa percaya dan tidak percaya dengan apa yang tengah gue lihat
“ sialll.....ini benar benar sial.....gue enggak mungkin meninggalkan nenek di dalam kamar itu, andai sampai terjadi sesuatu pada nenek, gue pasti akan menjadi orang yang paling bers......”
....krettt.....krettt......
“ nenekkk....!”
Bagi gue kini, suara deritan yang terdengar secara tiba tiba dari arah dalam kamar nenek, kini telah berubah menjadi sebuah alarm peringatan, agar gue segera menentukan sikap dalam menghadapi situasi ini, dan kini tanpa berpikir panjang lagi, seiring dengan teriakan kecil yang terlontar dari mulut gue, gue segera melangkahkan kaki ini menuju ke arah kamar nenek guna mencari tahu akan kondisi nenek sekarang ini, hingga akhirnya ketika langkah kaki gue kini terhenti tepat di pintu kamar, gue mendapati keberadaan nenek yang tengah terbaring di atas tempat tidur dalam selimut kegelapan ruangan kamar, pergerakan tubuhnya yang terlihat liar kini menjadi sebuah petunjuk bagi gue akan sumber suara dari suara deritan yang tadi telah gue dengar, mendapati situasi yang kurang baik ini, gue masih mencoba untuk tetap berpikir tenang walaupun sejujurnya saat ini gue berada dalam situasi tertekan oleh rasa panik yang pada akhirnya membuat gue merasa bingung untuk melakukan sebuah tindakan, dan kini diantara kekosongan pikiran gue untuk melakukan sebuah tindakan, pergerakan dari tangan gue yang meraih keberadaan dari saklar lampu kamar yang berada tidak jauh dari tempat gue berdiri, kini telah menghadirkan sebuah keajaiban yang ditunjukan dengan menyalanya lampu kamar
“ nenek...” gumam gue begitu sinar terang dari cahaya lampu kamar memperlihatkan keberadaan nenek yang berada di atas tempat tidur, diantara pergerakan tubuhnya yang liar, nampak nenek mengarahkan tatapan matanya ke arah kertas yang menempel di dinding kamar, dan sepertinya reaksi negatif yang diperlihatkan oleh nenek saat ini adalah efek dari keberadaan gambar bayangan yang tergambar di kertas tersebut, mendapati kenyataan ini, gue pun segera berlari menghampiri nenek setelah terlebih dahulu menutup pintu kamar, karena gue khawatir apa yang tengah terjadi malam ini akan kembali memancing kehadiran dari anggota keluarga gue yang lain di kamar ini
“ nek...ini darma nek...nenek jangan takut...yang nenek lihat itu hanya gambaran yang darma buat....” ucap gue seraya memeluk tubuh nenek guna menenangkannya, tapi sepertinya usaha yang gue lakukan tersebut kini berakhir dengan kegagalan, gue tetap mendapati tubuh nenek yang bergerak liar dengan tatapan matanya yang masih tertuju pada kertas yang menempel di dinding kamar
“ ya tuhan nek...kalau nenek memang takut....darma akan segera mencopot gambar itu....”
Sebuah perkataan yang gue bisikan di telinga nenek kini mengantarkan pergerakan gue untuk mencopot kertas yang menempel di dinding kamar, tapi baru saja kini tangan gue hendak menyentuh keberadaan kertas yang tertempel di dinding kamar, suara racauan yang terlontar dari mulut nenek, kini telah menghentikan laju dari pergerakan tangan gue, dan berganti dengan pergerakan pandangan mata gue yang menatap ke arah nenek
“ argggg...arrhhhh....” racau nenek diantara kedua bola matanya yang besar dan menatap ke arah gue
“ iya nek...sabar, ini baru aja akan darma lepas....”
“ arrrrrrr....arrrrhhhhh.....”
“ ya tuhan...apa sih yang sebenarnya ingin diucapkan nenek...” gumam gue dalam rasa keberputusasaan karena merasa tidak mengerti dengan apa yang kini tengah di ucapkan oleh nenek, dan kini tanpa berkeinginan untuk memperdulikan suara racauan yang terlontar dari mulut nenek, gue memutuskan untuk melanjutkan pergerakan gue dalam usaha melepaskan lembaran kertas yang tertempel di dinding kamar walaupun saat ini gue berada dalam bayang bayang suara racauan nenek yang terdengar semakin keras, tapi kini baru saja gue meletakan jari tangan ini pada lembaran kertas yang hendak gue lepaskan, entah mengapa gue kembali merasakan adanya keanehan yang lain, dan keanehan yang lain itu ditunjukan dengan perubahan suhu kamar yang menjadi dingin, serta munculnya aroma bau busuk yang entah dari mana datangnya, mendapati keanehan ini, gue pun kini berusaha untuk mempercepat pergerakan tangan gue dalam melepas lembar demi lembar kertas yang menempel di dinding kamar, hingga akhirnya disaat kini pergerakan tangan gue mulai melepaskan lembaran awal dari kertas yang berisikan gambar bayangan hitam, gue kembali menemukan adanya keanehan yang lain
“ astagfirullah....ini enggak mungkin....” ujar gue dengan suara yang bergetar begitu mendapati bahwa gambar bagian kepala dari sosok bayangan hitam yang telah gue gambar ini, kini telah meninggalkan bekas di dinding kamar berupa gambaran yang sama persis dengan apa yang telah gue gambar di atas kertas, mendapati hal ini, perasaan takut gue pun kini seperti menyeruak masuk ke dalam pikiran ini, hingga berefek pada menebalnya bulu kuduk yang ada di tubuh gue ini
“ arrrrggg....aarrr...arrrrr....”
Diantara lecutan adrenalin yang mulai menaikan irama dari detakan jantung ini, gue kini hanya bisa terdiam dalam rasa tidak percaya dengan apa yang telah gue lihat, tapi keterdiaman gue itu tidaklah berlangsung lama, disaat kini gue menyadari bahwa suara racauan yang terlontar dari mulut nenek terdengar semakin tidak terkendali, gue memutuskan untuk kembali melanjutkan melepas lembar demi lembar kertas yang masih menempel di dinding...hingga akhirnya....
“ ya tuhannn.....”
meizhaa dan 6 lainnya memberi reputasi
7