- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.6K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#48
Chapter 7
“ tadi itu...bibi sebenarnya ingin membangunkan kang darma, tapi melihat tidur kang darma sepulas itu...bibi jadi enggak enak untuk membangunkannya....” selepas dari perkataan bi idah tersebut, gue segera beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri nenek yang kini tengah tersibukan oleh sarapan paginya, dan baru saja kini gue hendak melontarkan pertanyaan kepada bi idah mengenai kondisi nenek pagi ini, terlihat nenek mengarahkan pandangannya ke wajah gue dengan ekspresi wajahnya yang terlihat menegang
“ nenek kenapa bi.....?” tanya gue diantara rasa canggung karena mendapati tatapan nenek yang seperti itu, tapi kini belum sempat bi idah menjawab pertanyaan gue tersebut, mulut nenek nampak mulai mengeluarkan racauannya, dan hal tersebut kini telah membuat bi idah meminta gue untuk segera menjauhi nenek
“ bi.....?” gumam gue diantara langkah gue yang mulai beranjak surut menjauh
“ bibi juga bingung kang......, baru kali ini mamih berlaku seperti ini...” selepas dari perkataan bi idah tersebut, gue pun memutuskan untuk kembali melangkah maju mendekati nenek, tapi baru saja beberapa langkah gue berjalan, isyarat tangan bi idah kini mengiringi perkataannya yang meminta agar gue untuk memberikan kesempatan kepada nenek untuk menenangkan dirinya
“ sebaiknya kang darma keluar dulu....mungkin mamih sedang enggak ingin diganggu...” mendapati permintaan bi idah tersebut, gue pun kini mengurungkan niat untuk menghampiri nenek dan memilih untuk beranjak keluar dari dalam kamar
“ sudah bangun kamu dar.....?” tanya mamah begitu gue keluar dari dalam kamar, mendapati pertanyaan mamah tersebut, gue hanya menganggukan kepala seraya mengambil posisi duduk di sisi mamah yang tengah membaca sebuah surat kabar
“ papah kemana mah....?”
“ lagi keluar rumah dar...tadi sih diajak oleh warga kampung untuk kerja bakti membersihkan lingkungan....”
“ kalau angga dan imas belum mulai sekolah kan mah....?” tanya gue kembali, dan sepertinya kini belum sempat mamah memberikan jawaban atas pertanyaan gue itu, sebuah suara yang terdengar dari arah halaman rumah kini melecut rasa keterkejutan gue atas keberadaan sesuatu yang seharusnya tidak berada di rumah ini
“ kamu kenapa dar....?” tanya mamah begitu melihat keterdiaman gue, dan kini tanpa memperdulikan pertanyaan mamah tersebut, gue pun segera berjalan menuju ke arah jendela rumah guna memastikan kalau suara yang telah gue dengar tadi memanglah sesuatu yang nyata
“ enggak mungkin.....gue pasti udah salah lihat....” gumam gue dengan ekspresi ketidakpercayaan begitu kini gue melihat keberadaan dari kawanan angsa yang tengah bermain main di dalam kandang angsa yang berada di sudut halaman rumah, dan kini tanpa gue sadari keberadaan mamah yang telah berada di sisi gue, nampak memperlihatkan kebingungannya begitu mendengar gumaman gue tersebut
“ kamu ini kenapa sih dar, kok jadi seperti orang aneh begitu.....?” selepas dengan pertanyaan itu, mamah terlihat melayangkan pandangannya ke arah halaman rumah, atau lebih tepatnya ke arah kandang angsa yang berada di sudut halaman rumah
“ angsa itu mah....angsa itu.....” diantara suara gue yang terdengar bergetar, gue pun menunjuk ke arah kandang angsa yang berada di sudut halaman rumah
“ iya itu angsa....memangnya kenapa...?”
“ hahhh...jadi mamah bisa melihatnya juga....?”
“ kamu ini ngomong apa sih dar, memangnya kamu pikir mamah kamu ini buta ya.....” ujar mamah dengan menunjukan rasa kesalnya
“ angsa angsa itu telah dibeli oleh papah kamu dari warga kampung, dan tadi pagi angsa angsa itu telah diantarkan ke rumah ini bersamaan dengan datangnya beberapa warga kampung yang bertujuan menjemput papah kamu untuk kerja bakti.......”
“ untuk apa papah membeli angsa angsa itu mah....?”
“ yaa mana mamah tau dar untuk apa papah membelinya, tapi papah bilang sih...itu adalah hewan peliharaan yang disukai oleh kakek kamu, bisa jadi papah ingin bernostalgia dengan masa lalunya....” seiring dengan penjelasan mamah tersebut, terlihat keberadaan angga yang tengah menuruni anak tangga
“ mah...sepertinya teh imas sakit deh....” ujar angga setibanya dilantai bawah, dan tanpa menunggu adanya jawaban dari mamah, angga terlihat berjalan menuju ke meja makan, lalu melahap sepotong pisang goreng yang tersaji di meja makan
“ imas sakit....?” ujar gue dan mamah hampir bersamaan
“ sepertinya sih begitu mah, badan teh imas dingin banget, dan sekarang teh nenden sedang menemani teh imas di dalam kamar....” selepas perkataan yang terucap dari mulut angga, dengan langkah yang tergesa mamah terlihat menaiki anak tangga guna melihat keadaan imas
“ bang...semalam itu abang rese banget sih, pasti abang niatnya mau nakut nakutin angga kan....” ucap angga dengan acuhnya, mulutnya terlihat sibuk dalam mengunyah pisang goreng
“ nakut nakutin....?”
“ ahhh enggak lucu bang....angga udah gede, enggak bakal takut...” ucap angga kembali dan berbalas dengan kegelisahan gue atas perkataan angga tersebut
“ ahhh semalam itu kan kamu tidur ga, mana mungkin kamu bisa tau abang takut takutin....” ujar gue dengan sebuah kalimat pancingan, sejujurnya saat ini gue memang sedang ingin mengetahui atas apa yang telah angga alami, dan kalimat pancingan yang telah gue lontarkan itu sepertinya sangatlah tepat guna membuat angga menganggap apa yang telah dialaminya itu adalah memang hasil dari perbuatan iseng gue
“ sebenarnya angga enggak sengaja bangun sih bang, kebetulan aja semalam itu disaat angga berusaha menarik selimut, angga seperti melihat seseorang yang tengah mengintip dari balik pintu, pada awalnya angga mengira seseorang itu adalah setan karena terlihat begitu gelap, ditambah lagi ruangan di depan kamar memang dimatikan...tapi begitu angga menyadari abang enggak ada di tempat tidur...ya angga berpikir bahwa seseorang yang tengah mengintip melalu pintu kamar itu adalah abang....karena itulah angga memutuskan untuk tidur kembali....”
“ sepertinya kamu jeli juga ya ngga...itu memang abang kok yang melakukannya, abang pikir kamu akan takut tapi ternyata enggak....” ujar gue seraya berusaha menyembunyikan rasa keterkejutan gue atas cerita yang keluar dari mulut angga, mendapati bahwa kini angga kembali acuh dan mulai terlihat sibuk dengan sarapan paginya, gue pun memutuskan untuk menuju ke lantai atas guna melihat keadaan imas
“ bagaimana keadaan imse mah....?” tanya gue begitu tiba di depan kamar, nampak kini terlihat keberadaan dari nenden dan mamah yang tengah berada di sisi imas
“ sepertinya imas sedang menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca di kampung ini dar....” jawab mamah sambil menyentuh tubuh imas
“ imas enggak kenapa napa bang....hanya saja semalam itu imas seperti merasakan dingin banget...” ujar imas yang menyadari adanya kekhawatiran gue atas kondisinya
“ semalam itu memang dingin ims, makanya semalam itu abang juga memakai baju hangat....”
“ ya udah...sekarang sebaiknya kalian segera ke bawah untuk sarapan, mamah enggak mau melihat kalian sakit dengan alasan karena pindah ke rumah baru ini...” selepas dari perkataannya itu, terlihat mamah mulai beranjak dari sisi imas hingga akhirnya mamah pun kini terlihat melangkahkan kakinya meninggalkan kamar
“ cepat masuk kesini dar....tutup pintunya...” pinta nenden dar berbalas dengan kesigapan gue dalam menutup pintu kamar
“ ada apa teh...sepertinya ada yang penting....” mendengar perkataan gue itu, nenden kini meminta kepada imas untuk menceritakan tentang apa yang telah dialaminya, seiring dengan imas yang mulai menceritakan peritiwa menyeramkan yang telah dialaminya, pikiran gue pun mulai kembali mencoba untuk menghubung hubungkan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya
“ jadi sekarang ini selain kamu bisa merasakan adanya bisikan, kamu juga bisa merasakan adanya sesuatu yang sedang mengawasi kamu....?” tanya gue dan berbalas dengan anggukan kepala imas
“ iya bang, semalam itu imas merasakannya seperti itu...imas takut bang dengan sesuatu yang mengawasi imas itu, karena imas merasa sesuatu yang mengawasi imas itu bukanlah sesuatu yang baik......”
“ apa yang kamu alami itu ada hubungannya dengan keberadaan sesuatu yang kamu lihat di kandang angsa...?”
“ imas enggak bisa memastikannya bang....tapi suara bisikan yang imas dengar itu seperti berusaha memberikan imas sebuah petunjuk akan adanya sesuatu atau sebuah kejadian yang terjadi atau tersimpan di area kandang angsa, tapi entah apa....” jawab imas dengan ekspresi wajah yang menunjukan rasa takut
“ ya tuhan imse...bahasa kamu itu ribet banget, yang kamu maksud dengan sesuatu atau sebuah kejadian itu apa...?” tanya gue penuh dengan rasa bingung
“ imas juga bingung bang....imas bingung..” seiring dengan perkataannya itu, nampak kini imas terlihat memegangi kepalanya
“ imse kamu kenapa, ya udah kalau kamu memang bingung untuk menceritakannya, sebaiknya enggak usah untuk memaksakan diri....” ucap nenden dengan sorot matanya yang tajam terarah ke wajah gue
“ abang minta maaf ims...abang enggak bermaksud....”
“ suara bisikan yang telah imas dengar itu adalah suara bisikan dari seorang anak wanita....” gumam imas memotong perkataan gue yang belum selesai terucapkan, dan selepas dari perkataannya itu, imas pun nampak kembali terdiam, mendapati hal tersebut, gue dan nenden kini hanya bisa menunggu lanjutan dari perkataan imas itu dengan rasa sabar
“ anak wanita itu menangis dan membisikan kata kata yang enggak imas mengerti akan maksud dan tujuannya, dia hanya membisikan tolong lindungi,....tolong jaga, jangan biarkan dia menyakiti...kandang angsa...kandang angsa...dan setelah semua bisikannya itu, imas enggak mendengar lagi adanya suara bisikan, yang imas rasakan justru seperti ada sesuatu yang tengah mengawasi imas...” kini selepas dari perkataan imas itu, gue bisa melihat adanya perubahan ekspresi di wajah nenden, dan sepertinya nenden kini mulai terpengaruh dengan apa yang telah diceritakan oleh imas
“ sebentar dar....” ujar nenden seraya menarik tangan gue untuk keluar dari dalam kamar
“ ada apa teh...?” tanya gue diantara pergerakan tangan nenden yang telah menutup pintu kamar
“ entahlah dar...sepertinya firasat gue mengatakan, apa yang telah dialami oleh imse itu bukan lagi sekedar gangguan mental....”
“ maksud teteh bagaimana....?” tanya gue memotong perkataan nenden
“ maksud gue dar, bisa jadi apa yang telah dialami oleh imse itu adalah salah bentuk gangguan dari sesuatu yang enggak kasat....”
“ setan...maksud teteh setan kan, ahhh apa yang udah gue bilang teh....dari kemarin itu teteh enggak percaya sih, kalau gue sih jujur aja...semenjak pertama kali imse mengatakan sesuatu yang aneh tentang photo tua itu, firasat gue langsung mengatakan bahwa imse tengah mengalami sebuah gangguan dari sesuatu yang enggak kasat mata, ditambah lagi kemarin itu imse mengatakan sesuatu yang aneh tentang kandang angsa....semuanya itu semakin membuat gue bertambah yakin, kalau imse itu tengah mengalami gangguan dari kakaknya papah yang telah meninggal itu....” ujar gue dengan penuh rasa percaya diri, sejujurnya saat ini gue sangat merasa bersukur karena nenden telah mempercayai dengan apa yang telah gue duga selama ini
“ ya enggak gitu juga dar, dengan gue mengatakan sesuatu yang enggak kasat mata itu bukan berarti gue menuduh apa yang telah menimpa imse alami itu ada hubungannya dengan kakaknya papah yang telah meninggal itu....bisa jadi....”
“ bisa jadi apa teh....?”
“ apa lu masih ingat dengan perkataan imse yang mengatakan tentang wanita desa...?”
“ iya gue masih ingat teh, tapi apa hubungannya dengan kejadian yang menimpa imse itu....?” jawab gue seraya balik bertanya kepada nenden
“ apa mungkin wanita desa yang telah dilihat oleh imse itu telah mati, dan kematiannya itu terjadi karena penyiksaan yang dilakukan oleh tentara belanda yang bertugas di rumah ini....”
“ jadi menurut teteh, wanita desa itu menjadi hantu penasaran karena mengalami kematian yang tragis....?”
“ ya kira kira seperti itulah....tapi itu hanya dugaan gue aja dar....” jawab nenden dengan ekspresi wajah yang serius
“ lantas teh mengenai bisikan yang mengatakan tolong lindungi, tolong jaga, jangan biarkan dia menyakiti, kandang angsa..., semuanya itu maksudnya apa....?” tanya gue kembali dan berbalik dengan pergerakan bahu nenden yang mengisyaratkan bahwa nenden tidak mengerti dengan arti dari semua perkataan imas itu, kini untuk sesaat lamanya gue dan nenden hanya bisa terdiam, hingga akhirnya setelah keterdiaman kami itu, gue pun kini seperti mendapatkan sebuah kata kunci yang sekiranya dapat menghubungkan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya
“ kandang angsa....yaa kandang angsa teh....” gumaman kecil yang terucap dari mulut gue itu kini telah kembali menghadirkan ekspresi kebingungan di wajah nenden
“ ada apa dengan kandang angsa dar....?”
“ sepertinya kandang angsa itu adalah kata kunci yang bisa menjadi penghubung antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya, karena dari beberapa pristiwa yang telah terjadi baik yang telah dialami oleh imse maupun mang kohar, serta didukung juga oleh cerita teh nenden mengenai peristiwa meninggalnya kakaknya papah....semuanya itu merujuk kepada satu kata yaitu kandang angsa....”
“ sepertinya perkataan lu itu masuk akal juga dar....” ucap nenden seraya mengangguk anggukan kepalanya
“ apa enggak sebaiknya kita memeriksa kandang angsa itu teh, yaa siapa tau kita bisa mendapatkan sebuah petunjuk yang bisa memperkuat dugaan gue itu....”
“ boleh dar....tapi kita harus menunggu waktu yang tepat, karena gue enggak mau kalau apa yang akan kita lakukan itu berimbas pada kecurigaan papah dan mamah....” seiring dengan perkataan nenden tersebut, terlihat pergerakan pada daun pintu kamar yang diiringi dengan kehadiran imas, mendapati hal tersebut, pikiran gue pun kembali teringat akan sebuah pertanyaan gue kepada mamah yang belum terjawab...yaa sebuah pertanyaan yang menanyakan kapan angga dan imas akan memulai kembali sekolahnya
“ ehh imse, ims abang mau tanya sesuatu nih....” ujar gue dan berbalas dengan pergerakan imas dalam menutup pintu kamar
“ mau bertanya apa bang...?”
“ kamu dan angga itu kapan akan mulai sekolah lagi....?”
“ kalau enggak salah sih besok bang, karena semalam itu mamah mengatakan kalau papah dan mamah akan ikut serta mengantarkan angga dan imas ke sekolah yang baru....”
Mungkin apa yang telah dikatakan oleh imas ini adalah arti dari sebuah pribahasa yang mengatakan bahwa pucuk dicinta ulam pun tiba, karena sejujurnya pada awalnya gue hanya berharap akan ketiadaan papah disaat kami melakukan proses pemeriksaan di kandang angsa nanti, tapi begitu kini imas mengatakan bahwa mamah pun akan ikut serta dalam mengantarkan angga dan imas ke sekolahnya yang baru, hal ini berarti melebihi dari sesuatu yang gue harapkan...dan itu merupakan sebuah kabar yang baik
“ memangnya kenapa sih bang...?”
“ enggak ims...enggak kenapa napa, abang hanya bertanya aja...” seiring dengan jawaban yang terlontar dari mulut gue itu, sebuah isyarat mata yang gue berikan kepada nenden sepertinya sudah cukup untuk mewakili sebuah perkataan gue yang akan mengatakan bahwa rencana yang akan kami lakukan ini akan berjalan dengan baik dan lancar
“ ya udah...sebaiknya kita sarapan pagi dulu yuks, mamah dan angga pasti udah menunggu di meja makan...” ajak nenden seraya merangkul imas untuk menuju ke lantai bawah, begitu mendapati hal tersebut, gue pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar guna melanjutkan tidur pulas gue yang belum terpuaskan
Detik waktu yang terus berlalu kini kembali mengantarkan selimut kegelapan yang menyelimuti bumi, kebersamaan keluarga gue yang kini tengah asik dalam menikmati siaran televisi, perlahan mulai terusik dengan terdengarnya suara dentangan jam yang menandakan bahwa waktu telah menunjukan pukul sembilan malam, mendapati hal tersebut kini tanpa harus diperintahkan lagi, angga dan imas pun segera beranjak ke lantai atas untuk beristirahat
“ bagaimana dar dengan hari pertama kamu dalam menjaga nenek semalam...pasti kamu enggak merasa kesulitan kan....?” tanya papah dan berbalas dengan senyuman mamah, mendapati pertanyaan tersebut gue pun menceritakan tentang pengalaman gue sewaktu menjaga nenek semalam dan itupun tanpa dibumbui dengan cerita atas apa yang telah gue alami semalam
“ tuh benar kan apa kata papah, semuanya enggak sesulit seperti apa yang telah kamu pikirkan....makanya kamu jangan berpikir yang enggak enggak dulu....”
“ iya pah, hanya saja semalam itu darma merasa bosan dalam menjaga nenek, karena darma enggak biasa jika harus duduk dan berdiam diri dalam kesunyian....” ujar gue diantara pergerakan papah yang menghisap asap rokok melalui congklong kesayangannya
“ yaaa...kamu kan bisa mensiasati semua kebosanan yang kamu rasakan itu dar, lagi pula kamu enggak harus selamanya kok berada di dalam kamar nenek, jadi jika kamu sedang merasakan bosan...yaa..kamu lakukan aja kegiatan yang lain di luar kamar...yang penting kamu harus tetap selalu awas jika sewaktu saat nenek membutuhkan bantuan kamu....” ujar papah memberikan saran, dan sepertinya saran papah tersebut kini telah menimbulkan beberapa alternatif kegiatan yang terlintas di dalam pikiran gue ini, hingga akhirnya setelah beberapa saat kami kembali terlibat dalam beberapa topik pembicaraan, papah, mamah dan nenden pun memutuskan untuk beristirahat karena waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam....
meizhaa dan 5 lainnya memberi reputasi
6